cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
KEANEKARAGAMAN JENIS KELELAWAR (Chiroptera) DI HUTAN TEMBAWANG DESA SETUNTUNG KECAMATAN BELITANG KABUPATEN SEKADAU Erianto Erianto; steven marcell steven; Hafiz Ardian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.55678

Abstract

Bats have an important role for the environment, apart from being a counterweight to the environment, the presence of bats also functions in the dispersal of plant seeds. The Tembawang Forest of Setuntung Village is a forest formed from former fields planted with various types of trees to meet the needs of the Setuntung Village community and as a sign of ownership. The purpose of this study was to examine the diversity of bat species (chiroptera) found in the Tembawang Forest, Setuntung Village, Belitang District, Sekadau Regency. The method used is the loose catch method using 12 mist nets measuring 14 x 3 m. The placement of the mist net was carried out purposively. Based on the research that has been carried out, it was found that there were 5 types of bats, 2 types of fruit eaters (Megachiroptera) and 3 types of insect eaters (Microchiroptera). The results of data analysis showed that the species diversity index was classified as moderate with an index value of (H'=1.26), evenness index was in the high category with an index value (e=0.78), while the dominance index was (C=0.36). which means that there was no dominant bat species found and a similarity index of (IS=66.67%) indicated a similarity between the location of the riverbank and the oil palm plantations. This shows that the Tembawang forest is sufficient to support the existence of bats in itKeywords: bats, diversity, tembawang forestAbstrakKelelawar memiliki peran yang penting bagi lingkungan, selain sebagai penyeimbang lingkungan, keberadaan kelelawar juga berfungsi dalam penyebaran biji tumbuhan. Hutan Tembawang Desa Setuntung merupakan hutan yang terbentuk dari lahan-lahan bekas ladang yang ditanami berbagai jenis pohon untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Setuntung dan sebagai tanda kepemilikan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji keanekaragaman jenis kelelawar (chiroptera) yang ditemukan di Hutan Tembawang Desa Setuntung Kecamatan Belitang Kabupaten Sekadau. Metode yang digunakan yaitu metode tangkap lepas dengan menggunakan jaring kabut (mist net) berukuran  14 x 3 m sebanyak 12 buah. Untuk penempatan jaring kabut (mist net) dilakukan secara purposive. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan didapatkan sebanyak 5 jenis kelelawar, 2 jenis pemakan buah (Megachiroptera) dan 3 jenis pemakan serangga (Microchiroptera). Hasil analisis data menunjukan indeks keanekaragaman jenis tergolong sedang dengan nilai indeks sebesar (H’=1,26), indeks kemerataan berada dalam kategori tinggi dengan nilai indeks (e=0,78), sementara indeks dominansi sebesar (C=0,36) yang mengartikan bahwa tidak ditemukan jenis kelelawar yang dominan dan indeks kesamaan jenis sebesar (IS=66,67%) yang menunjukan adanya kesamaan pada lokasi tepi sungai dengan kebun sawit. Hal ini menunjukan bahwa di hutan Tembawang tersebut cukup menunjang keberadaan kelelawar di dalamnya.Kata kunci : hutan tembawang, keanekaragaman, kelelawar
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN HUTAN MANGROVE DI DESA SEJAHTERA KECAMATAN SUKADANA KABUPATEN KAYONG UTARA Elok Susilawati; Iskandar A M; Iswan Dewantara
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.55238

Abstract

Mangrove forests are natural forests that grow and develop on sloping areas at the mouth of rivers and coasts that are affected by the tides of the sea. The purpose of the study describe the perception of the people of Sejahtera Village towards the mangrove ecosystem of Sukadana District of North Kayong Regency and analyze the factors that affect the perception of the people of Sejahtera Village towards the existence of Mangrove Forest in Sukadana District of North Kayong Regency. The study used survey methods with interview techniques of 87 respondents with questionnaire guidance, and observation techniques were conducted in three hamlets namely Belit River, Melinsum, and Tanjung Gunung. The results of descriptive analysis showed that 87 respondents showed that the level of perception of prosperous villages towards the existence of mangrove forests as a whole was at a positive level of understanding with 42 respondents (48%) indicating that the perception of prosperous village communities was positive about the existence of mangrove forests in their area, 30 respondents (34%) had a neutral perception, and 15 respondents (17%) had a negative perception. There is an insignificant relationship between the level of knowledge and people's perception of the existence of mangrove forests, so the relationship between knowledge level and perception is weak. There is a significant relationship between income level factors and people's perception of the existence of mangrove forests shows a strong relationship. There is a significant relationship between the level of dependence and people's perception of the existence of mangrove forests and shows a strong relationship of solidity.Keywords: Community, Mangrove Forest, Perception.AbstrakHutan mangrove merupakan hutan alam yang tumbuh dan berkembang pada daerah landai di muara sungai dan pesisir pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Tujuan penelitian mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap ekosistem mangrove di Desa Sejahtera Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat Desa Sejahtera terhadap keberadaan hutan mangrove di Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik wawancara terhadap 87 responden dengan panduan kuesioner, dan teknik observasi dilakukan di tiga dusun yaitu Sungai Belit, Melinsum, dan Tanjung Gunung. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa 87 responden menunjukkan bahwa tingkat persepsi masyarakat Desa Sejahtera terhadap keberadaan hutan mangrove secara keseluruhan berada pada tingkat pemahaman positif dengan 42 responden (48%) menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Desa Sejahtera positif terhadap keberadaan hutan mangrove yang ada di daerah mereka, 30 responden (34%) memiliki persepsi netral, dan 15 responden (17%) memiliki persepsi negatif. Terdapat hubungan tidak signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove maka hubungan keeratan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi adalah lemah. Terdapat hubungan signifikan antara faktor tingkat pendapatan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove menunjukan hubungan keeratan kuat. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat ketergantungan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove dan menunjukan hubungan keeratan kuat.Kata kunci: Masyarakat, Hutan Mangrove, Persepsi.
KARAKTERISTIK BRIKET ARANG AMPAS TEBU (Saccharum officinarum L) DAN SERBUK KAYU KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) DENGAN PEREKAT TEPUNG TAPIOKA Ayang Muriyani; Evi Wardenaar; Yuliati Indrayani
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.55109

Abstract

The purpose of this study was to determine the characteristic of bagasse (Saccharum officinarum) charcoal briquette and calliandra (Calliandra calothyrsus) wood powder with tapioca flour adhesives based on SNI 01-6235-2000. The study was analized using a Completely Randomized Design (CRD) with treatment compsition of bagasse charcoal briquettes and calliandra wood powder (A1 = 100:0%); (A2 = 80:20%); (A3 = 60%:40%); (A4 = 40:60%); (A5 = 20:80%) %); (A6 = 0:100%). The reaults of this study indicate that the variation of a mixture of bagasse charcoal briquettes and calliandra wood powder has a significant effect on water content, ash content, volatile matter content and fixed carbon content in the briquettes, but the calorific value no significant defference. Based on the research, the best treatment is composition of 60% bagasse charcoal briquettes and 40% calliandra wood powder with a water content 3,9693%, ash content 4,1193%, calorific value 5843,1644 cal/g-1and fixed carbon content 69,2921%.Keywords: Bagasse, charcoal briquettes, calliandra wood powder.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik briket arang dan komposisi optimum dari limbah ampas tebu (Saccharum officinarum L) dan serbuk kayu kaliandra (Calliandra calothyrsus) dengan menggunakan perekat tepung tapioka berdasarkan Standar Mutu SNI 01-6235-2000. Penelitian ini dianalisa menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan perbandingan arang ampas tebu dan arang serbuk kayu Kaliandra (A1 = 100:0%); (A2 = 80:20%); (A3 = 60%:40%); (A4 = 40:60%); (A5 = 20:80%) %); (A6 = 0:100%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi campuran briket arang dari ampas tebu dan serbuk kayu kaliandra berpengaruh signifikan terhadap kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap, dan kadar karbon terikat pada briket, namun nilai kalor tidak berpengaruh signifikan. Berdasarkan penelitian ini perlakuan yang memenuhi standar mutu SNI yaitu A3 dengan perbandingan pada komposisi 60% ampas tebu dan 40% serbuk kayu kaliandra dengan kadar air sebesar 3,9693%, kadar abu 4,1193%, nilai kalor 5843,1644 kal/g-1, dan kadar karbon terikat 69,2921%. Kata kunci: Ampas tebu, briket arang, kayu kaliandra.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN YANG DIMANFAATKAN OLEH PENGOBAT TRADISIONAL (BATTRA) DI DESA KUMPANG TENGAH KECAMATAN SEBANGKI KABUPATEN LANDAK Muflihati Muflihati; Yunie Yunie; Ahmad Yani
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.67426

Abstract

Medicinal plants are still an option for the community in treating diseases, especially people who work as traditional healers (Battra) in Kumpang Tengah Village, Landak Regency. The purpose of this study was to record the types of traditional medicinal plants used by Battra, record the parts of medicinal plants used for treatment, how to process, and how to use them. This research was conducted by interviewing Battra who utilize medicinal plants for treatment as a whole, which was determined using the census technique. There were 15 traditional healers (Battra) with 6 professions,  traditional birth attendants, jampi healers, bone fracture healers, skin disease and worms healers, pediatric healers and venereal disease healers. The results of interviews conducted with Battra obtained 30 types of medicinal plants from 21 families with the most commonly found family, namely the Arecaceae family, the highest habitus is herbaceous (36.7%), the most widely used plant parts are leaves (63.3%), the highest habitat found is in the yard (66.7%), and the highest plant status is cultivated (70%).Keywords: medicinal plants, traditional healers, local knowledge, Kumpang Tengah Village  AbstrakTumbuhan obat masih menjadi pilihan bagi masyarakat dalam mengobati penyakit khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai pengobat tradisional (Battra) yang ada di Desa Kumpang Tengah, Kabupaten Landak. Tujuan dari penelitian ini untuk mendata jenis-jenis tumbuhan obat tradisional yang dimanfaatkan oleh Battra, mendata bagian tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan untuk pengobatan, cara pengolahan dan cara penggunaannya. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai Battra yang memanfaatkan tumbuhan obat untuk pengobatan secara keseluruhan yang ditentukan menggunakan teknik sensus. Terdapat 15 orang pengobat tradisional (Battra) dengan 6 profesi yaitu dukun beranak, dukun jampi, dukun patah tulang, dukun penyakit kulit dan cacingan, dukun penyakit anak dan dukun penyakit kelamin. Hasil wawancara yang dilakukan terhadap Battra diperoleh 30 jenis tumbuhan obat dari 21 famili dengan famili yang paling banyak ditemukan yaitu famili Arecaceae, habitus tertinggi yaitu herba (36,7%), bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu daun (63,3%), habitat ditemukan tertinggi yaitu di pekarangan (66,7%), status tumbuhan tertinggi yaitu dibudidayakan (70%) Kata kunci: tumbuhan obat, pengobat tradisional, pengetahuan lokal, Desa Kumpang Tengah 
KAJIAN ASPEK TEKNIS DAN FINANSIAL USAHA ARANG BRIKET BIOMASSA SKALA RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU LIMBAH BUAH PINANG DAN TEMPURUNG KELAPA Gusti Hardiansyah; Ivan Sujana; Pepy Anggela
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.59981

Abstract

Komoditas perkebunan unggulan di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya  adalah tanaman kelapa dan tanaman pinang dengan produktivitas untuk tanaman kelapa pada tahun 2020 sebanyak 38.810 ton dari luas tanaman kelapa sebesar 32.284 Ha, dan kapasitas produksi pinang pada tahun 2021 sebanyak 652 ton dari luas perkebunan tanaman pinang sebesar 902 Ha. Limbah sabut pinang dan tempurung kelapa belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat untuk diolah menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah dan bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat. Limbah sabut pinang dan limbah tempurung kelapa hasil dari perkebunan hanya ditumpuk hingga membusuk, bahkan tidak jarang dibakar sehingga menyebabkan pencemaran udara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada aspek teknis diperoleh mutu arang briket terbaik dengan komposisi campuran bahan baku limbah sabut buah pinang dan tempurung kelapa dengan variasi campuran perekat tepung tapioka sebanyak 30%, yang menghasilkan nilai parameter kadar air sebesar 6,56%, nilai kadar abu sebesar 4,52%, nilai kadar zat mudah menguap sebesar 3,52% dan nilai kadar karbon terikat sebesar 5.238 Cal. Sedangkan pada aspek keuangan dapat disimpulkan bahwa usaha produksi arang briket ini dinilai layak untuk dilakukan. Pertimbangan kelayakan tersebut dilihat berdasarkan perhitungan break event point (BEP), dimana untuk mendapatkan modal kembali hanya dibutuhkan sebanyak 22.053 kg produk arang briket yang terjual dalam waktu sekitar 22 bulan pada pendapatan Rp.30.350.748. Dari perhitungan didapatkan nilai NPV sebesar Rp. 75.493.892 lebih besar dari nilai project cost sebesar 39.500.000 sehingga usaha dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Dari perhitungan IRR didapatkan hasil IRR sebasar 65%. Usaha dinilai layak apabila IRR > MARR dimana MARR=15%, karena IRR > 65% maka usaha produksi arang briket dinilai menguntungkan dan layak untuk dijalankan.
PEMANFAATAN NIRA AREN UNTUK BAHAN BAKU GULA AREN SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN MASYARAKAT DI DESA KUMPANG TENGAH KABUPATEN LANDAK Destiana Destiana; Desi Albinasari; Gusti Hardiansyah
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.61242

Abstract

Sugar palm is a type of forest plant with high economic value and is a source of income for rural communities; income from managing sugar palm alone can support the Kumpang Tengah village community economy, plus household income from farming and oil palm gardening. This study aims to identify the parts of palm oil that are utilized, find out the amount of income of people who use palm, and find out the contribution of palm oil income to the household income of palm oil farmers. The method used in this study is quantitative descriptive. The results of this study show that the part of palm oil currently widely used by the community is the sap part, which is used as palm sugar. The income obtained by the community from utilizing palm sugar is Rp. 5,584,864 per month with an average annual revenue of Rp. 67,183,780, or 39 percent of the total income of farmers. Keywords: Community Income, Sugar Palm, UtilizationAbstrakAren adalah salah satu jenis tumbuhan hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu sumber pencarian masyarakat pedesaan. Pendapatan dari mengelola aren saja sudah mampu untuk menunjang perekonomian dimasyarakat Desa Kumpang Tengah ditambah lagi dengan pendapatan rumah tangga hasil dari bertani dan berkebun kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagian aren yang dimanfaatkan, , mengetahui besaran pendapatan masyarakat yang memanfaatkan aren, dan mengetahui kontribusi pendapatan aren bagi pendapatan  rumah tangga petani aren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bagian aren yang saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu bagian niranya yang dijadikan sebagai gula aren, pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat dari memanfaatkan aren yaitu berjumlah Rp. 5.584.864 per bulan dengan rata-rata penerimaan per tahun sebesar Rp. 67.183.780 atau sebesar 39 persen dari pendapatan total petani. Kata kunci: Pendapatan Masyarakat, Aren, Pemanfaatan
PROFIL POHON PENGHASIL BUAH JENIS Artocarpus elasticus Reinw. Ex Blume, Artocarpus lanceifolius Roxb DAN Litsea garciae Vidal DI KHDTK DIKLAT KEHUTANAN FAHUTAN UNMUL Rita Diana; Mila Septiana; Paulus Matius; Sutedjo Sutedjo
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.62553

Abstract

Mulawarman University's Forest Area with Special Purpose for Forestry Education and Training is a tropical rainforest with various plant species such as meranti, understory species, lianas and herbs, and edible fruit tree species. The purpose of this study was to determine the profiles of three fruit-producing tree species: Terap, Keledang, and Kalangkala. Furthermore, to understand the relationship between tree diameter and total height and to determine the condition of healthy or deformed trunks. This study lasted approximately five months, from June 2022 to October 2022. The study used a transect sampling technique, with each transect having a width of 20 m and a length of 920 m for transect A, 1000 m for transect B and C, and 600 m for transect D. The analysis relies on data from three different species of fruit-bearing trees. With a diameter of 33.46 cm and a tree height of 19.50 m, Artocarpus elasticus has a high value for its diameter and total height. Artocarpus lanceifolius, with a diameter of 33.75 cm and a total height of 20.50 m, was the medium value. Litsea garciae had the smallest value, with a diameter of 34.90 cm and a full height of 15.60 m. The correlation value of the regression coefficient between the diameter and total height of the three types is medium. This indicates that the diameter of the tree has no effect on the crown's growth.Keywords: Artocarpus elasticus, Artocarpus lanceifolius, Edible fruit trees, Litsea garciae, Tree profileAbstrakKawasan Hutan dengan Tujuan Khusus DIKLAT Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda merupakan suatu kawasan hutan hujan tropis yang memiliki beragam jenis vegetasi diantaranya meranti-merantian, tumbuhan bawah, liana, herba serta jenis buah yang dapat dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui profil dari ke tiga jenis pohon penghasil buah terap, keledang, dan kalangkala, menganalisis korelasi antara diameter dan tinggi total pohon dari ke tiga jenis, serta untuk mengetahui kondisi batang yang sehat atau cacat. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih lima bulan dari bulan Juni 2022 sampai Oktober 2022. Objek penelitian ini adalah pohon terap, keledang, dan kalangkala. Pengambilan sampel untuk penelitian menggunakan transek dengan masing- masing transek mempunyai lebar 20 m dan panjang transek A 920 m, panjang transek B dan C 1000 m serta panjang transek D 600 m. Hasil pengukuran ke tiga jenis pohon penghasil buah jenis Artocarpuelasticus Reinw Ex Blume memiliki diameter rataan 33,46 cm dengan tinggi  total rata-rata 19,50 m. Jenis Artocarpus lanceifolius Roxb memiliki diameter rata-rata 33,75 cm dengan tinggi total rata-rata 20,50 m. Jenis Litsea garciae Vidal memiliki diameter rata-rata 34,90 cm dengan tinggi total rata-rata 15,60 m. Dari hasil analisis didapat nilai koefisien regresi antara diameter dengan tinggi total dari ke tiga jenis memiliki nilai korelasi sedang, hal ini mengindikasikan bahwa diameter pohon tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi pohon. Kata kunci: Terap, Keledang, Pohon penghasil buah, Kalangkala, Profil pohon
PENGELOLAAN MADU OLEH MASYARAKAT DESA MEKAR UTAMA DI AREA PT. HUTAN KETAPANG INDUSTRI KECAMATAN KENDAWANGAN KABUPATEN KETAPANG Karmadi madi; Yuliati Indrayani; Muflihati Muflihati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.55112

Abstract

Honey is one of the non-timber forest products used by the communities around the forest for consumption and as additional income. Honey management is not only to increase income but can be used as a sweetener or medicine for certain diseases. The purpose of this study is to record the honey management by the communities of  DesaMekarUtamaDusunSukaria and Kelukup Belantak in the area around PT HKI. The method used is qualitative descriptive and the data collection technique is snowball sampling by determining key informants and then determining other informants. The result of this study shows that honey could be used as a sweetener for coffee, a traditional drink, as a jam also as a medicine that can be applied to scars and used as a face mask.Keyword: PT. Ketapang Industrial Forest, Forest Honey, Honey KelulutAbstrakMadu merupakan salah satu produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan untuk dikonsumsi dan sebagai penghasilan tambahan. Pengelolaan madu tidak hanya untuk menambah penghasilan namun dapat dijadikan sebagai pemanis atau obat terhadap penyakit tertentu Tujuan penelitian ini untuk mendata pengelolaan madu oleh masyarakat Desa Mekar Utama Dusun Sukaria dan Kelukup Belantak di area sekitar PT. HKI. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data dilakukan secara snowball sampling dengan menentukan informan kunci untuk kemudian menentukan informan lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan madu oleh masyarakat Desa Mekar Utama Dusun Sukaria dan Kelukup Belantak di area sekitar PT. HKI diantaranya sebagai :campuran atau pemanis seperti kopi, jamu dan selai, dan juga sebagai obat yang dapat dioleskan pada bekas luka dan digunakan sebagai masker wajah.Kata Kunci: PT. Hutan Ketapang Industri, Madu Hutan, Madu Kelulut
ETNOZOOLOGI MASYARAKAT DAYAK KUBIN DESA MANGGALA KECAMATAN PINOH SELATAN KABUPATEN MELAWI UNTUK RITUAL ADAT DAN MISTIS Muhammad Fathurrahman; Ahmad Yani; Hafiz Ardian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.57597

Abstract

Indonesia is a country that has many islands and biological natural resources, one of which is on the island of Kalimantan. Kalimantan is famous for the existence of the Dayak tribe, which has a characteristic. The Dayak tribe also has diversity in the use of animals and can not be separated also in society still maintains ancestral values that still held fast since the days of their ancestors. The Dayak tribe uses animal parts for traditional and supernatural purposes. The purpose of this study was to record the types of animals used for traditional and mystical rituals and the meaning of the use of animals in the Dayak Kubin Community, Manggala Village, Pinoh Selatan District, Melawi Regency. This study uses survey methods and direct interviews, selecting respondents with side snowball for data collection with interviews aimed at people who are considered to have knowledge about the use of animals, by getting 17 types of animals that are used for traditional and mystical rituals, there are 4 types of animals that are used for traditional rituals and 19 traditional rituals carried out by using animals and there are 15 types of animals that are believed to be mystical signs by the Dayak Kubin Community, Manggala Village, Pinoh Selatan District, Melawi Regency.Keywords: Dayak Kubin, Etnozoologi, Mystical and Traditional Ritual.AbstrakIndonesia merupakan negara yang memiliki banyak pulau dan memiliki sumber daya alam hayati, salah satunya di pulau Kalimantan. Kalimantan terkenal dengan keberadaan suku Dayak yang memiliki ciri khas. Pada suku Dayak juga memiliki keragaman dalam memanfaatkan hewan dan tidak lepas juga dalam masyarakat masih mempertahankan nilai leluhur yang masih tetap memegang teguh sejak zaman nenek moyang. Suku Dayak memanfaatkan bagian-bagian hewan untuk keperluan adat dan supranatural. Tujuan dari penelitian ini adalah mendata jenis-jenis hewan yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis dan makna dari pemanfaatan hewan pada Masyarakat Dayak Kubin Desa Manggala Kecamatan Pinoh Selatan Kabupaten Melawi. Penelitian ini menggunakan metode survei dan wawancara secara langsung, pemilihan responden dengan snowball samping untuk pengumpulan data dengan wawancara ditujukan kepada orang yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan hewan, dengan mendapatkan 17 jenis hewan yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis, terdapat 4 jenis hewan yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan 19 ritual adat yang dilakukan dengan memanfaatkan hewan serta terdapat 15 jenis hewan yang dipercaya sebagai pertanda mistis oleh masyarakat Dayak Kubin Desa Manggala kecamatan Pinoh Selatan Kabupaten Melawi.Kata kunci: dayak kubin, Etnozoologi, ritual adat dan mistis
KEANEKARAGAMAN JENIS AMFIBI (ORDO ANURA) DI KAWASAN HUTAN RUMAH PELANGI SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROVINSI KALIMANTAN BARAT Slamet Rifanjani; Buhana Panjaitan; Erianto Erianto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.62954

Abstract

Rumah Pelangi forest area has an area of 105 ha, made to preserve and maintain the biodiversity in the surrounding environment including types of amphibians. The research aims to record the diversity of natural amphibian (Ordo Anura) species in Rumah Pelangi Forest area. Research using survey method and data collection techniques using Visual Encounter Survey (VES) combined with the transect method. Research results there are 12 species of amphibians (Ordo Anura) in the Rumah Pelangi forest area. Hylarana erythraea was the most common species with an index value of 26.9%. The level species of amphibian diversity (Ordo Anura) is in the medium category with a species diversity index value (H') of 2.07. The dominance index of amphibian spcies is in the low category with a value of 0.1604. The evenness species of amphibian is in the high category with a species evenness index (e) of 0.8330. The similarity species of amphibian is in the very high category with value of 95.6%. Chance ecounter in the Rumah Pelangi forest area with value 3,656 individuals per hour.Keywords: Amphibian, anura, species diversity.AbstrakKawasan hutan Rumah Pelangi memiliki luas 105 ha, dibuat untuk melestarikan dan memelihara keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitarnya termasuk jenis-jenis amfibi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman amfibi (Ordo Anura) di kawasan hutan Rumah Pelangi. Penelitian dengan metode survei dan teknik pengumpulan datanya menggunakan Survei Perjumpaan Visual (VES) dikombinasikan dengan metode jalur. Hasil penelitian terdapat 12 spesies amfibi (Ordo Anura) pada kawasan hutan Rumah Pelangi.  Hylarana erythraea merupakan jenis paling banyak dijumpai dengan nilai indeks kelimpahan sebesar 26,9%. Tingkat keanekaragaman jenis amfibi (Ordo Anura) termasuk kategori sedang dengan nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) sebesar 2,07. Indeks dominansi jenis amfibi masuk kategori rendah dengan nilai sebesar 0,1604. Kemerataan jenis amfibi masuk kategori tinggi dengan nilai Indeks kemerataan jenis (e) 0,8330.  Kesamaan jenis amfibi masuk kategori sangat tinggi dengan nilai sebesar 95,6%. Peluang perjumpaan Anura di kawasan hutan Rumah Pelangi dengan nilai sebesar 3,656 individu/jam.Kata kunci: Amfibi, anura, keanekaragaman jenis.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue