cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
PENGARUH MEDIA TANAM DENGAN PENAMBAHAN PUPUK KOTORAN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI NYAMPLUNG (Calophyllum Inophyllum LINN) Hafiz Ardian; Tuyuk Tuyuk; Burhanuddin Burhanuddin; Marwanto Marwanto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.58637

Abstract

Nyamplung is a plant that has economic and ecological benefits. The use of nyamplung seeds for biofuel has increased research attention. So that the propagation of nyamplung plants for cultivation also needs to be done. One method of nyamplung plant propagation is using the nursery technique. The selection of planting media for the nyamplung nursery was done using different media and adding organic fertilizer from cow dung to increase the nutrients in the planting medium. This study aimed to analyze the effect of planting media from sand, alluvial soil, and PMK added with cow manure on the growth of nyamplung seedlings. The results showed that the addition of cow dung affected the height and diameter of the nyamplung seedlings but not the number of leaf blades. Optimal treatment was found in alluvial soil and PMK growing media added with cow manure. This is caused by an increase in nutrients in the soil, thereby increasing the growth hormone activity in diameter and height in the nyamplung seedlings.Keywords: Alluvial, Cow manure, Nyamplung, Planting Media, Ultisol AbtractNyamplung adalah tanaman yang memiliki banyak manfaat secara ekologi dan ekonomi. Pemanfaatan biji nyamplung untuk biofuel telah meningkatkan perhatian penelitian. Sehingga perbanyakan tanaman nyamplung untuk dibudidayakan pun perlu dilakukan. Salah satu metode perbanyakan tanaman nyamplung adalah menggunakan teknik persemaian. Pemilihan media tanam untuk persemaian nyamplung dilakukan dengan menggunakan media yang berbeda dan dengan penambahan pupuk organik dari kotoran sapi untuk meningkatkan unsur hara pada media tanam. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh media tanam dari pasir, tanah aluvial dan PMK yang ditambahkan pupuk kotoran sapi terhadap pertumbuhan semai tanaman nyamplung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kotoran sapi berpengaruh terhadap peningkatan tinggi, diameter pada semai nyamplung tetapi tidak pada penambahan jumlah helaian daun. Perlakuan optimal ditemukan pada media tanam tanah aluvial dan PMK yang ditambahkan dengan pupuk kotoran sapi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan unsur hara dalam tanah sehingga meningkatkan aktivitas hormon pertumbuhan diameter dan tinggi pada semai nyamplung.Kata kunci: Alluvial, Media Tanam, Nyamplung, PMK, Pupuk Kotoran Sapi
ETNOZOOLOGI UNTUK RITUAL ADAT DAN MISTIS MASYARAKAT DAYAK MALI DI DESA ANGAN TEMBAWANG KECAMATAN JELIMPO KABUPATEN LANDAK M Dirhamsyah; Ahmad Yani; Yuliana Yuliana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53633

Abstract

Ethnozoology is a branch of ethnobiology, namely the relationship between humans and the use of animals in the surrounding environment and is a link between human culture and the animals in their environment. The Mali Dayak community in Angan Tembawang Village, Jelimpo District is one of the Dayak sub-tribes located in Landak Regency which has a characteristic that distinguishes it from other Dayak tribes, one of which is its language. The Malian Dayak people are also very closely related to nature, where their lives are very dependent on nature. The purpose of this study was to record the types of animals used for traditional and mystical rituals. This study uses a snowball sampling technique, which is a method for identifying, selecting and taking samples in a network or continuous chain of relationships. The number of people who became respondents as many as 10 people. The data presented in the form of qualitative descriptive. The results showed that there were 8 species from 8 families and 4 classes, namely mammals, aves, pisces and insects which were used for traditional and mystical rituals by the Mali Dayak community. The parts of animals that are used are flesh, blood, fur and the whole body. The parts that are used for mystical value are the voice and the whole body.Keywords: Dayak Mali, Ethnozoology, Traditional RitualsAbstrakEtnozoologi merupakan salah satu cabang ilmu etnobiologi, yaitu hubungan manusia dengan pemanfaatan satwa yang berada di lingkungan sekitarnya dan merupakan keterkaitan antara kebudayaan manusia dengan satwa-satwa di lingkungannya. Masyarakat Dayak Mali di Desa Angan Tembawang Kecamatan Jelimpo merupakan salah satu sub suku Dayak yang terletak di Kabupaten Landak yang memiliki ciri khas yang membedakan dengan suku Dayak lainnya salah satu bahasanya . Masyarakat Dayak Mali juga sangat erat hubungan nya dengan alam, dimana hidup mereka sangat tergantung pada alam. Tujuan penelitian ini mendata jenis-jenis satwa yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis. Penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling yaitu suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang terus menerus. Jumlah masyarakat yang dijadikan responden sebanyak 10 orang. Data yang disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif. Hasil penelitian terdapat 8 spesies dari 8 famili dan 4 kelas yaitu mamalia, aves, pisces dan insecta yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis oleh masyarakat Dayak Mali. Bagian satwa yang dimanfaatkan yaitu daging, darah, bulu dan seluruh badan. Bagian yang dimanfaatkan untuk nilai mistis adalah suara dan seluruh badan.Kata kunci: Dayak Mali, Etnozoologi, Ritual Adat
PENGETAHUAN MASYARAKAT DAYAK IBAN TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI PEWARNA ALAMI TENUN IKAT DI DUSUN KELAYAM DESA MANUA SADAP KABUPATEN KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Jeki Jeki; M Dirhamsyah; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53535

Abstract

Natural dyes are extracted from plants (such as leaves, flowers, and seeds), animals, and minerals. The purpose of this study was to explore the characteristics of the community of tie weavers by the Dayak Iban tribe in Kelayam, to collect data on plant species as natural dyes for Ikat weaving, to explore community knowledge in the process of natural dyes for ikat weaving. The research was conducted using the survey method with data collection techniques by observation and interviews. (observation) directly in the field. Weaving has a function as a means of introduction and kinship. The use of plants as natural dyes has long been carried out by the Dayak Iban people who live in Kelayam Hamlet. Most of the plants used are obtained from the forest where they live. There are seven types of plants used for the manufacture of natural dyes by the Dayak Iban tribe in the Kelayam Hamlet, such as Engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa lunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Keyword: Dayak Iban Trible, Natural Dye.AbstrakPewarna alami merupakan zat warna yang berasal dari ekstraksi tumbuhan (seperti bagian daun, bunga, biji), hewan dan mineral. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karekteristik masyarakat penenun ikat oleh suku Dayak Iban di Kelayam. mendata jenis tumbuhan sebagai pewarna alami Tenun Ikat, serta mengetahui pengetahuan masyarakat dalam proses pewarna alami untuk tenun ikat. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data secara observasi dan wawancara (pengamatan) langsung dilapangan. Tenun yang dihasilkan memiliki fungsi sebagai sarana memperkenalkan dan tali persaudaraan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami telah lama dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Iban berdomisisli di Dusun Kelayam. Sebagian besar tumbuhan yang dimanfaatkan diperoleh dari hutan disekitar tempat tinggal mereka.  Ada 7 jenis  tanaman yang digunakan untuk pembuatan pewarna alami oleh suku dayak iban di Dusun Kelayam seperti: engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa iunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Kata Kunci: Dayak Iban, Pewarna Alami
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN HUTAN TEMBAWANG DI DESA BILAYUK KECAMATAN MEMPAWAH HULU KABUPATEN LANDAK Adriana Yunita; Iswan Dewantara; Slamet Rifanjani; Marwanto Marwanto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53949

Abstract

The Tembawang forest is one of the cultures of the local community in utilizing land as a forest to meet their daily needs. One of the tembawang forests is still sustainable is managed by the indegenous people of Bilayuk Village, Mempawah Hulu District, Landak Regency. The aim of the study was to examine the community's perception of the existence of the Tembawang forest and to analyze the relationship between age, cosmopolitan and community income factors. The method used is a survey method with data collection carried out through direct interviews with respondents, data analysis using qualitative-quantitative descriptive analysis and inferential analysis. The results showed that people's perceptions of the existence of the Tembawang forest with respondents tended to be neutral with a frequency of 54 and a percentage of 70%. The relationship between the dependent variable and the independent variable is: cosmopolitan level with a correlation of 0.260 sig 0.023 significant, income with a correlation of 0.225 sig 0.049 significant while age level correlation 0.018 sig 0.873 not significant.Keywords: Bilayuk Village, public perception, age level, cosmopolitan, tembawang forest, income.AbstrakHutan tembawang merupakan salah satu budaya dari masyarakat lokal dalam memanfaatkan lahan sebagai hutan guna pemebuhan kebutuhan sehari-hari. Salah satu hutan tembawang yang masih lestari dikelola oleh masyarakat Desa Bilayuk Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak. Tujuan penelitian untuk mengkaji persepsi masayarakat terhadap keberadaan hutan tembawang dan menganalisis hubungan faktor tingkat umur, kosmopolitan dan pendapatan masyaraka. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan data dilakukan melalui melalui wawancara langsung terhadap responden, analisis data mengunakan analisis deskritif kualitatif-kuantitatif dan analisis inferensial. Hasil penelitian menunjukan persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan tembawang dengan responden cenderung netral dengan frekuensi 54 dan persentase 70%. Hubungan variable terikat dan variable bebas yaitu: tingkat kosmopolitan dengan correlation 0,260 sig 0,023 signifikan, pendapatan dengan correlation 0,225 sig 0,049 signifikan sedangakan tingkat umur corelasi 0,018 sig 0,873 tidak signifikan.Kata kunci: Desa Bilayuk, persepsi masyarakat, tingkat umur, kosmopolitan, pendapatan.
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU DI KAWASAN TAMAN KEHATI KABUPATEN SEKADAU Yuliati Indrayani; hari Prayogo; julius adi pajar
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53987

Abstract

Butterflies are one type of insect found in the Biodiversity Park (kehati) of Sekadau Regency. Kehati Park is a park managed by the local government, in this area there are also plants that can produce a source of food for butterflies. This insect has an important role in ecology, including as a good indicator of the environment due to the nature of butterflies which are very susceptible to degradation and climate change, as well as plant pollinators and can maintain the balance of the ecosystem. This study aims to record diversity, inventory and analyze butterfly species in the Kehati Park, Sekadau Regency. This study used the transect method, direct sampling with insect nets was carried out on the transect line. Butterflies were found as many as 32 types of butterflies with a total of 159 individuals from 6 families, namely Papilionidae (3 species), Nymphalidae (19 species), Pieridae (3 species), Lycaenidae (4 species), Riodinidae (2 species), and Uraniidae (1 species). The diversity index value is 3.42, the abundance index value is 0.99, the species richness index value is 6.11, the dominance index value is 0.04.Keywords: butterfly, diversity, Kehati ParkAbstrakKupu-kupu merupakan salah satu jenis serangga yang terdapat di taman keanekaragaman hayati (kehati) Kabupaten Sekadau. Taman Kehati merupakan taman yang dikelola oleh pihak pemerintah daerah, di dalam kawasan ini juga terdapat tumbuh tumbuhan yang dapat menghasilkan sumber pakan bagi kupu-kupu. Serangga ini memiliki peranan penting dalam ekologis diantaranya sebagai indikator yang baik pada lingkungan hidup karena sifat kupu-kupu yang sangat rentan terhadap degradasi dan perubahan iklim, juga sebagai penyerbuk tanaman serta dapat menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman, menginventarisasi serta menganalisis jenis kupu-kupu di Taman kehati Kabupaten Sekadau. Penelitian ini menggunakan metode transek, pengambilan sampel langsung dengan jaring serangga dilakukan pada jalur transek. Kupu-kupu yang ditemukan sebanyak 32 jenis kupu-kupu dengan total 159 individu dari 6 famili, yaitu Papilionidae (3 jenis), Nymphalidae (19 jenis), Pieridae (3 jenis), Lycaenidae (4 jenis), Riodinidae (2 jenis), dan Uraniidae (1 jenis). Nilai indeks keragaman 3,42, nilai indeks kelimpahan 0.99, nilai indeks kekayaan jenis 6.11, nilai indeks dominansi 0.04.Kata kunci : Keanekaragaman, Kupu-kupu, Taman Kehati
ETNOBOTANI PERNIKAHAN ADAT SUKU DAYAK PESAGUAN HULU KABUPATEN KETAPANG roberto siahaan; Togar Fernando Manurung; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53640

Abstract

The upstream Pesaguan Dayak tribe in Tanjung Beulang Village, Tumbang Titi District, Ketapang Regency is an ethnic pesaguan who is still strong in the tradition of traditional marriage which is divided into 2, namely the Donor and Non-Sumbang traditional marriage. In collecting data, this research uses survey methods with interview techniques (Key person and Proposive Sampling), observation and herbarium. the results of this study Tanjung Beulang Village has a traditional institution, namely traditional elders from a village (Demong) who know about the unwritten rules in the community and there are also people who think they have advantages who are named Pesaroh (shaman). The plants used in discordant marriages are 19 species and 9 families and 7 species are not discordant and 5 families are the same plant species in the discordant custom. There are 19 types of plants for discordant traditional weddings and 9 families have 3 meanings, namely as offerings to spirits in dispelling bad luck on the bride, as a concoction in traditional blessings and as snacks during the wedding procession, while traditional weddings are not discordant there are 7 types of plants 5 families have 3 meanings, namely giving souvenirs or providing guests who have been present at the wedding, as an ingredient in traditional blessings and as snacks during the wedding procession.Keywords: Ethnobotany, Dayak Pesaguan, Traditional Wedding.AbstrakSuku Dayak pesaguan hulu di Desa Tanjung Beulang Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang merupakan etnis pesaguan yang masih kental akan tradisi pernikahan adat yang terbagi menjadi 2 yaitu pernikahan adat Sumbang dan Tidak Sumbang. Pada pengambilan data penelian ini mengunakan metode survey dengan teknik wawacara (Key person dan Proposive Sampling), observasi dan herbarium. hasil penelitian ini Desa Tanjung Beulang mempunyai kelembagaan adat yaitu tetua adat dari suatu Desa (Demong) yang mengetahui tentang aturan-aturan tidak tertulis dimasyarakat dan ada juga orang yang anggap memiliki kelebihan yang diberi nama Pesaroh (dukun). Tumbuhan yang digunakan dalam pernikahan adat sumbang berjumlah 19 spesies dan 9 famili dan tidak sumbang berjumlah 7spesies dan 5 famili merupakan jenis tumbuhan yang sama dalam adat sumbang. Tumbuhan  untuk pernikahan adat sumbang ada 19 jenis dan 9 famili  mempunyai 3 makna yaitu sebagai  sesajen kepada roh halus dalam membuang sial pada pegantin, sebagai ramuan dalam pemberkatan adat dan sebagai cemilan pada saat prosesi pernikahan sedangkan pernikahan adat tidak sumbang terdapat 7 jenis tumbuhan 5 famili mempunyai 3 makna yaitu pemberian cindera mata atau membekali tamu yang telah hadir dalam pernikahan, sebagai ramuan dalam pemberkatan adat dan sebagai cemilan pada saat prosesi pernikahan. Kata Kunci: Etnobotani, Dayak Pesaguan, Pernikahan Adat.
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KELIMPAHAN KERANG KEPAH (Polymesoda erosa) DI HUTAN MANGROVE DESA SUNGAI NILAM KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS M Sofwan Anwari; Juliarti Juliarti; Ahmad Yani; Joko Nugroho Riyono
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.54229

Abstract

The purpose of this study was to examine the effect of physical environmental factors, namely soil texture, soil salinity, soil pH, soil organic matter content, soil temperature and soil moisture, air temperature and humidity and light intensity on the abundance of mussel shells (Polymesoda erosa) in the forest. mangrove in Sungai Nilam Village, Jawai District, Sambas Regency. This study used a survey method, soil and mussel sampling techniques were carried out by purposive sampling and descriptive data analysis was used. Soil samples were tested in the laboratory to observe several parameters such as soil texture and soil organic matter content. The abundance of mussel shells in the mangrove forest of Sungai Nilam Village is not affected by soil texture because the typical texture in that location is clay, dusty and sandy dust, while mussels can also live in sandy areas. Soil organic matter suitable for mussel shells with a value of 4.24. The light intensity is suitable for mussel shells with a value of 2692 Cd. The temperature and humidity ranged from 29.9°C-35.1°C and 66%-88% were still suitable for the presence of mussels. Soil temperature and humidity ranged between 28-30°C and 52-56% which were good values for the presence of mussels. Soil pH in the range of 5.5-7 is a suitable value for the presence of mussels. Salinity suitable for mussel shells with a value of 10.3 ppt. The number of mussels obtained is an average of 3/m². Another factor that affects the existence of mussel shells is human activities that take mussel shells and seasonal factors also determine the number of shellfish in the forest.Keywords: abundance, environmental factors, mangrove forest, sungai nilam village AbstrakTujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh faktor lingkungan fisik yaitu tekstur tanah, salinitas tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah, suhu tanah dan kelembaban tanah, suhu udara dan kelembaban udara dan intensitas cahaya terhadap kelimpahan kerang kepah (Polymesoda erosa) di hutan mangrove Desa Sungai Nilam Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas. Penelitian ini menggunakan metode survei, teknik pengambilan sampel tanah dan kerang kepah dilakukan secara purposive sampling dan analisis data menggunakan deskriptif. Sampel tanah diuji di laboratorium untuk melihat beberapa parameter yang diamati seperti tekstur tanah dan kandungan bahan organik tanah. Kelimpahan kerang kepah di hutan mangrove Desa Sungai Nilam tidak dipengaruhi oleh tekstur tanah dikarenakan khas tekstur yang ada dilokasi tersebut yaitu liat berdebu dan debu berpasir sedangkan kerang kepah juga bisa hidup di daerah berpasir. Bahan organik tanah yang cocok untuk kerang kepah dengan nilai 4,24. Intensitas cahaya yang cocok untuk kerang kepah dengan nilai 2692 Cd. Suhu dan kelembaban udara berkisar antara 29,9°C-35,1°C dan 66%-88% masih layak untuk keberadaan kerang kepah. Suhu dan kelembaban tanah berkisar antara 28-30°C dan 52-56% merupakan nilai yang baik bagi keberadaan kerang kepah. pH tanah pada kisaran 5,5-7 merupakan nilai yang cocok untuk keberadaan kerang kepah. Salinitas yang cocok untuk kerang kepah dengan nilai 10,3 ppt. Jumlah kerang kepah yang di dapat yaitu rerata 3/m². Faktor lain yang mempengaruhi keberadaan kerang kepah adalah  aktivitas manusia yang mengambil kerang kepah dan faktor musim juga menentukan jumlah kerang di hutan.Kata kunci : Desa Sungai Nilam, Faktor Lingkungan, Hutan Mangrove, Kerang kepah Kepah 
PENILAIAN DAYA TARIK WISATA ALAM BATU POSOK DI DESA PENYELADI KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU Satrio Fajar Wiguna; Sarma Siahaan; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.49900

Abstract

Sanggau is one of the regencies in West Kalimantan. Sanggau has a potential place to be used as a natural tourist area that is not widely known by many people, such as the Batu Posok natural tourism area located in Penyeladi Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The purpose of this study was to obtain the value of nature tourism attractions and characteristics of Batu Posok natural tourism visitors in Penyeladi Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The method used in this study is the descriptive method. The results of data analysis show that the tourist attraction in Penyeladi Village is 181.8, with a total value of 1,090.8 tourist attractions, the criteria for natural tourist attraction Batu Posok in Penyeladi Village are declared Good (A), which means the potential to be developed as a natural attraction.Keywords: Batu Posok, Sanggau, Nature TourismAbstrakSanggau merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Sanggau memiliki tempat yang potensial untuk dijadikan kawasan wisata alam yang belum banyak dikenal oleh banyak orang, seperti kawasan wisata alam Batu Posok yang terletak di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh nilai daya tarik wisata alam dan karakteristik pengunjung wisata alam Batu Posok di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan daya tarik wisata di Desa Penyeladi adalah 181,8, dengan nilai total 1.090,8 daya tarik wisata, kriteria daya tarik wisata alam Batu Posok di Desa Penyeladi dinyatakan Baik (A), yang berarti potensial untuk dikembangkan sebagai daya tarik alam.Kata Kunci: Batu Posak, Sanggau, Wisata Alam
IDENTIFIKASI POHON PENGHASIL BUAH KONSUMSI DI KAWASAN KEBUN RAYA SAMBAS KECAMATAN SUBAH KABUPATEN SAMBAS PROVINSI KALIMANTAN BARAT Riko Tampati; Gusti Eva Tavita; Evy Wardenaar
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.53521

Abstract

Plant identification means revealing or establishing the identity of a plant. There are trees that produce consumption fruit that can be consumed directly without having to be processed first and those that must be processed first before they can be consumed by humans. Sambas Botanical Gardens is a garden that was built with the aim of completing a number of ex-situ conservation areas of Botanical Gardens in Indonesia. The purpose of this study is to identify, and describe morphological characteristics and obtain architectural models of fruit-producing tree species in the Sambas Botanical Gardens, Subah District, Sambas Regency. The method used is exploration and flora collection by making 6 paths where each lane is 500 meters long and 20 meters wide. The results of this study found 30 types of consumption fruit trees consisting of 20 genera and 14 families. Three of them are endemic to Kalimantan, namely Bacaurea angulata (Belimbing Darah), Durio testudinarius (Durian Kura) and Shorea macrophylla (Tengkawang Tungkul).Keywords: Consumption Fruit-Producing Trees, Identification, Sambas Botanical GardenAbstrak Identifikasi tumbuhan berarti mengungkapkan atau menetapkan identitas suatu tumbuhan. Pohon penghasil buah konsumsi ada yang dapat dikonsumsi secara langsung tanpa harus diolah terlebih dahulu dan yang harus diolah terlebih dahulu baru dapat dikonsumsi oleh manusia. Kebun Raya Sambas merupakan kebun yang dibangun dengan tujuan untuk melengkapi jumlah kawasan konservasi ex-situ Kebun Raya di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan ciri-ciri morfologi dan mendapatkan model arsitektur jenis-jenis pohon penghasil buah konsumsi pada kawasan Kebun Raya Sambas Kecamatan Subah Kabupaten Sambas. Metode yang digunakan yaitu eksplorasi dan koleksi flora dengan membuat 6 jalur dimana masing-masing jalur berukuran panjang 500 meter dan lebar 20 meter. Hasil penelitian ini ditemukan 30 jenis pohon buah konsumsi yang terdiri dari 20 genus dan 14 famili. Tiga jenis diantaranya merupakan endemik Kalimantan, yaitu Bacaurea angulata (Belimbing Darah), Durio testudinarius (Durian Kura) dan Shorea macrophylla (Tengkawang Tungkul).Kata Kunci: Pohon penghasil buah konsumsi, identifikasi, kebun raya sambas 
IDENTIFIKASI JENIS TUMBUHAN PAKAN BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb.) DI KAWASAN HUTAN MANGROVE DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Susi Melati; Togar Fernando Manurung; Yanieta Arbiastutie
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.58843

Abstract

The existence of land clearing activities for the expansion of shrimp ponds, rice fields and plantations as well as tree cutting to take (Trigona sp) nests which are proboscis monkey feed plants carried out by the community. So it is necessary to do research to determine the type of forage plants in the location of eating proboscis monkeys so that these feed plants can be maintained. The purpose of this study was to obtain data on the type of feed in the proboscis monkey habitat and to obtain data on the parts of plants that feed proboscis monkeys. The method used is a survey with roaming data collection. The results of this study identified 9 types of mangrove plants as proboscis monkey feed, namely Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera parviflora, Sonneratia alba, Sonneratia ovata, Xylocarpus granatum, Ceriops tagal, Ceriops decandra, and Derris trifoliata. The part of the plant that proboscis monkeys eat is the shoot. The proboscis monkey's favorite food plant is S. alba and X. granatum.Keywords: Identification, Feed Plants, Proboscis Mongkey, Mangrove Forest, Sebubus VillageAbstrakKegiatan pembukaan lahan untuk perluasan tambak udang, persawahan dan perkebunan serta penebangan pohon untuk mengambil sarang kelulut (Trigona sp) yang juga merupakan tumbuhan sumber pakan bekantan yang dilakukan oleh masyarakat. Maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui jenis tumbuhan pakan di lokasi makan bekantan agar tumbuhan pakan ini bisa dipertahankan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data jenis pakan di habitat bekantan dan mendapatkan data bagian tumbuhan yang menjadi pakan bekantan. Metode yang digunakan yaitu survey dengan pengambilan data secara jelajah. Hasil penelitian ini dari identifikasi ditemukan 9 jenis tumbuhan mangrove sebagai pakan bekantan, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera parviflora, Sonneratia alba, Sonneratia ovata, Xylocarpus granatum, Ceriops tagal, Ceriops decandra, and Derris trifoliata. Bagian tumbuhan yang dimakan bekantan adalah pucuk. Tumbuhan pakan yang paling disukai bekantan adalah S. alba dan X. granatum.Kata kunci: Identifikasi, Tumbuhan Pakan, Bekantan, Hutan Mangrove, Desa Sebubus

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue