cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
STRUKTUR ANATOMI DAN SIFAT FISIK KAYU JATI (Tectona grandis L.f.) UNGGUL NUSANTARA TRUBUSAN PADA UMUR 8 TAHUN Tun Susdiyanti; kustin bintani meiganati; Ina Lidiawati; Angraini Abiksak
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.55115

Abstract

Teak (Tectona grandis L.f.) Unggul Nusantara is a superior seed yield and tissue culture propagation that was first developed in the laboratory and a good quality mother plant. This research aims to find out the characteristic of Anatomical Structure and Physical Properties of Jati Wood (Tectona grandis L.f.) Unggul Nusantara Copies at the age of 8 years. The study was carried out for approximately 6 months between May and October 2021. Anatomical structure data collection was made of triangle shape with latitude, tangential, and radial. Afterwards, the result of these observations are tabulated and analyzed descriptively and the Physical Properties of Copies Jati Unggul Nusantara Wood were carried out with reference to on British Standard (BS) 373:1957. It taken from one tree and then divided again into three segments, the tip, middle, and base with a thickness of 20 cm. Afterwards, divided again into five parts with a size of 3 cm x 3 cm x 3 cm for 3 parameters. Observations of anatomical structures, namely pore or vessel diameter 100-200 m, vessel frequency or pores 6 per mm2, the width of the radius is 96m and the frequency of the radius is 4-5 pieces / mm. Its physical properties are Fresh Water Content 52.30% while Air Dry Water Content 32.69%, Density 1.20 gr/cm3, Tangential Shrinkage 0.44%, Radial Shrinkage 0.42%, with an average T/R ratio 1.04%.Keywords: Anatomical Structure, Copies Wood, Physical Properties, Tectona grandis L.f.AbstrakJati (Tectona grandis L.f.) Unggul Nusantara merupakan bibit unggul hasil dan perbanyakan kultur jaringan yang dikembangkan pertama kali di Laboratorium dan tanaman induk yang berkualitas baik. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Universitas Nusa Bangsa, Bogor dan Pusat Standardisasi Instrumen Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Gunung Batu, Bogor. Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan antara bulan Mei sampai bulan Oktober 2021. Pengambilan data Struktur Anatomi dibuat dalam bentuk segitiga dengan bagian Lintang, Tangensial dan Radial lalu hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif, dan Sifat Fisik Kayu Trubusan Jati Unggul Nusantara dilakukan dengan mengacu pada British Standard 373:1957. Diambil dari 1 pohon kedalam tiga segmen ujung, tengah, dan pangkal dengan ketebalan 20 cm, kemudian menjadi lima bagian dengan ukuran 3 cm x 3 cm x 3 cm untuk 3 parameter dan diberikan 3x ulangan untuk 3 parameter. Hasil pengamatan Struktur Anatomi yaitu Diameter pori atau pembuluh 100 – 200 μm, Frekuensi pembuluh atau pori 6 per mm2, Lebar jari – jari 96 μm dan Frekuensi jari – jari berjumlah 4 – 5 buah/mm. Sifat Fisiknya yaitu Kadar Air Segar 52,30 % sedangkan Kadar Air Kering udara 32,69 %, Kerapatan 1,20 gr/cm3, Penyusutan Tangensial 0,44 %, Penyusutan Radial 0,42 %, dengan rata – rata T/R rasio 1,04 %. Kata kunci: Struktur Anatomi, Kayu Trubusan, Sifat Fisik, Tectona grandis L.f
KEANEKARAGAMAN JENIS SEMUT (Formicidae) DI ARBORETUM SYLVA PC UNTAN KOTA PONTIANAK Slamet Rifanjani; Fadtrisia Fadtrisia Irma; Herlina Darwati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.57495

Abstract

This study aims to obtain data on the diversity of ant species in the Sylva Untan Arboretum area. Data were collected in 5 blocks of 19 blocks in the Arboretum. Block selection is based on the location of the block plots in the Arboretum, namely, 1). Block B near Jalan Ayani, 2). Block I near camp, 3). Block K near Prof. Dr. H. Hadari Nawawi with a closed canopy, 4). Block S near agricultural campus with low canopy cover, 5). Block P near Al-Azhar Islamic Elementary School with medium canopy cover. The research was from 15 January – 4 February 2022. Data were taken using multiple plots on a 20m x 20m plot with 5 subplots measuring 2m x 2m. The ant collection method used the hand collecting method for tree ants (arboreal) and the leaf litter sifting method for ants on the ground (terrestrial). This study found 9 species from 3 subfamilies of ants. The subfamily formicinae found the species Oecophylla smaragdina, Prenolepis fishery, Polyrhachis dives and Polyrhachis bicolor. Subfamily Myrmicinae found Crematogaster aberrans, Monomorium pharaonis, and Chepalotes femoralis. The subfamily Ponerinae found the type Diacamma sp. and Leptogenys sp. The number of individuals for all species is 951 individuals. The index of ant diversity in the Arboretum was in the medium category with a value of H'=1.58, low species richness with a value of DMg=1.17, and the evenness of species with a value of 0.72. The dominance index in each block, namely blocks B high dominance, block I moderate dominance and in blocks K, S, and P, low dominance. Similarity index (IS) between 33%-50%.Keywords: Arboreal, Arboretum Untan, Diversity of ant, TerrestrialAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh data keanekaragaman jenis semut di kawasan Arboretum Sylva Untan. Data dikumpulkan sebanyak 5 blok dari 19 blok yang ada, untuk menggambarkan keadaan di Arboretum. Pemilihan blok didasar pada lokasi petak blok di Arboretum yaitu, 1). Blok B dekat jalan ayani, 2). Blok I dekat camp, 3). Blok K dekat jalan Prof. Dr. H. Hadari Nawawi dengan tutupan tajuk rapat, 4). Blok S dekat kampus pertanian dengan tutupan tajuk rendah, 5). Blok P dekat SD islam Al-Azhar dengan tutupan tajuk sedang.  Penelitian dilaksanakan dari 15 Jenuari - 4 Februari 2022. Data diambil menggunakan petak ganda pada plot berukuran 20m x 20m dengan 5 subplot berukuran 2m x 2m. Metode pengambilan semut menggunakan metode hand collecting untuk semut yang di pohon dan metode leaf litter sifting untuk semut yang di tanah. Penelitian ini ditemukan 9 spesies dari 3 subfamili semut. Subfamili formicinae ditemukan jenis Oecophylla smaragdina, Prenolepis fisheri, Polyrhachis dives dan Polyrhachis bicolor. Subfamili Myrmicinae ditemukan jenis  Crematogaster aberrans, Monomorium pharaonis, dan Chepalotes femoralis. Subfamili Ponerinae ditemukan jenis Diacamma sp. dan Leptogenys sp. Jumlah individu seluruh spesies 951 individu. Indeks keanekaragaman semut di Arboretum berkategori sedang dengan nilai =1,58, kekayaan jenis rendah dengan nilai DMg=1,17, dan kemerataan jenis merata nilai (E) sebesar 0,72. Indeks dominasi pada setiap blok, yaitu blok B dominasi tinggi, blok I dominasi sedang dan pada blok K, S, dan P, dominasi rendah. Indeks similaritas (IS) dengan nilai 33%-50%.Kata kunci: Arboreal, Arboretum Untan, Keanekaragaman semut, Terrestrial
PEMANFAATAN TUMBUHAN DALAM ACARA ADAT OLEH MASYARAKAT SUKU GAYO DI DESA PENOSAN SEPAKAT KECAMATAN BLANGJERANGO KABUPATEN GAYO LUES, ACEH Triaty Handayani; Ridwan Ridwan
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.59338

Abstract

Masyarakat suku gayo memiliki hubungan erat dengan alam dan lingkungan. Masyarakat memanfaatkan berbagai tumbuhan yang ada di sekitar dalam tradisi adat yang telah turun temurun dari para leluhur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upacara adat serta menjadi sumber tertulis bagi masyarakat terutama para generasi. Pengumpulan data dilakukan dengan survei lapangan, dokumentasi dan wawancara mendalam (in deft interview) dengan para tokoh adat, tokoh agama, tokoh orang tua dan tokoh masyarakat. Masyarakat mengenal tumbuhan adat yang digunakan dengan Dun kayu kul dan Dun kayu ucak, yang terdiri dari beberapa spesies tumbuhan dan beberapa upacara adat yang memiliki makna yang dipercaya oleh masyarakat suku Gayo. Jenis tumbuhan adat yang dimanfaatkan tidak bisa digantikan dengan jenis tumbuhan lain karena akan menghilangkan makna dan kesakralan pelaksanaan upacara adat. 
ANALISIS VEGETASI HUTAN MANGROVE PADA AREAL BEKAS TEBANGAN IUPHHK-HA PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA TAHUN 2016, 2017 DAN 2018 aini nur; Abdurrani Muin; Ratna Herawatiningsih
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.54974

Abstract

PT. BIOS Batu Ampar is one of the private companies in Kubu Raya Regency that utilizes mangrove forests by implementing a seed tree silviculture system so that later the area can still maintain its sustainability. The purpose of the study was to determine the number of species and the diversity and dominance of mangrove forest vegetation types in block logging in 2016, 2017 and 2018. The study used a survey method with a sampling technique in a line with a tide. On each observation plot, data collection of types of seedlings, stakes, and trees was carried out. The data obtained are then analyzed by the Diversity Index, Dominance Index and Evenness Index. The results showed that the seedling-level type diversity index in the three cutting years was 0.000- 1.250, and the stake rate was 0.000-1.073. The Dominance Index of the seedling level in all three cutting years is 0.415-1.000, and the stake rate is 0.316-1.000. Keme Index of the seedling level in all three cutting years is 0.000-0.773, and the stake rate is 0.000-0.902.Keywords: diversity, dominance, evenness, Mangrove Forest. Abstrak PT. BIOS Batu Ampar adalah salah satu perusahaan swasta di Kabupaten Kubu Raya yang memanfaatkan hutan mangrove dengan penerapan sistem silvikultur pohon induk (Seed Tree Method) agar nantinya kawasan tersebut tetap dapat mempertahankan kelestariannya. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan jumlah spesies dan keanekaragaman serta dominasi jenis vegetasi hutan mangrove pada penebangan blok pada tahun 2016, 2017 dan 2018. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara garis berpetak. Pada setiap plot pengamatan dilakukan pengumpulan data jenis semai, pancang, dan pohon. Data yang deperoleh kemudian di analisis Indeks Keanekaragaman, Indeks Dominasi dan Indeks Kemerataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman jenis tingkat semai pada ketiga tahun tebang adalah 0,000- 1,250, dan tingkat pancang adalah 0,000-1,073. Indeks Dominasi tingkat semai pada ketiga tahun tebang adalah 0,415-1,000, dan tingkat pancang adalah 0,316-1,000. Indeks Kemerataan tingkat semai pada ketiga tahun tebang adalah 0,000-0,773, dan tingkat pancang adalah 0,000-0,902.Kata Kunci: Keanekaragaman, dominasi, kemerataan, Hutan mangrove
KARAKTERISTIK DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA ENTIBAB TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN KRATOM (Mitragyna speciosa) DI KABUPATEN KAPUAS HULU Richa Syarma; Siti Masitoh Kartikawati; Dina Setyawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.60416

Abstract

Kratom (Mitragyna speciosa) is a type of plant that grows in the upstream Kapuas area and currently has a high economic value. This study aims to examine the characteristics of the people of Entibab Village about Kratom plants and describe knowledge about the use of Kratom plants in Entibab Village. The benefits of this research are expected to be able to provide information about community characteristics and public knowledge about the use of kratom plants. The method used is a survey method with a snowball sampling technique, namely determining key respondents. The gender of the community in Entibab Village itself is 18 men and 9 women. There are 2 types of kratom plants in Entibab Village, namely red kratom and white kratom. Kratom cultivation by the people of Entibab Village includes the stages of nursery preparation, land management, plant maintenance, harvest and post-harvest. Based on the criteria for gender characteristics, there are more men than women, 96% of whom are in the productive age category, meaning that almost all of the community is involved in the production process of kratom leaves.Keywords: Characteristics, Entibab Village, Kratom Plant, UtilizationAbstrakKratom (Mitragyna speciosa) merupakan jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah kapuas hulu dan saat ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik masyarakat Desa Entibab tentang tumbuhan Kratom dan mendeskripsikan pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan Kratom di Desa Entibab. Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai karakteristik masyarakat dan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan kratom Metode yang digunakan metode survei dengan teknik snowball sampling, yaitu menentukan responden kunci. Jenis kelamin masyarakat di Desa Entibab sendiri terdapat 18 orang laki laki dan 9 orang perempuan. Tumbuhan kratom di Desa Entibab sendiri terdapat 2 jenis kratom yaitu kratom merah dan kratom putih. Budidaya kratom oleh masyarakat Desa Entibab meliputi tahap persiapan pembibitan, pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, panen dan pasca panen. Berdasarkan kriteria karekteristik jenis kelamin, laki-laki lebih banyak daripada perempuan, berdasarkan usia 96% termasuk kategori usia produktif, artinya masyarakat hampir semuanya terlibat dalam proses produksi daun kratom.Kata Kunci: Desa Entibab, Karakteristik, Pemanfaatan, Tumbuhan Kratom
AKTIVITAS HARIAN ANAK ORANGUTAN (Pongo pygmaeus) DI PUSAT REHABILITASI SINTANG ORANGUTAN CENTER KALIMANTAN BARAT Achmad Edi Saputra Edi; Hari Prayogo; hafiz Ardian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.58663

Abstract

Indonesia is a country that is abundant with high biodiversity, has various types of fauna that are unique and one of them is the primate species, namely the orangutan (Pongo pygmaeus). Orangutans use tree branches to move from one tree to another. The activities of confiscated orangutans are usually held in captivity or from illegal trade. If they are kept in a cage for too long, it will affect the behavior patterns of these orangutans, because they are usually placed in relatively narrow cages, with no trees to climb on. The Sintang Orangutan Center (SOC) is one of the institutions that carries out rescue actions for orangutans either obtained from captivity or from trade illegal. This study aims to record the daily activities of the Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) who are in the Sintang Orangutan Center rehabilitation center. Observation of orangutan behavior is carried out using the method focal animal sampling or by observing and recording the behavior of an individual over a period of time provided that the individual is always visible. Behavioral data collection uses the "" method, which is the continuous observation of each behavior for a certain duration of time. Observations were made from the orangutan waking up in the morning until the orangutan sleeping and not doing any activities at night. In general, orangutans use the most time is eating (36.69%), moving activities by 26.42%, resting activities by 20.58%, resting activities by 11.74%, social activities 2.5% and making nesting activities for 2.04%. Keywords: Behavior, Orangutan, Pongo pygmaeus, Sintang Orangutan CenterAbstrakIndonesia merupakan negara yang dilimpahi keanekaragaman hayati begitu tinggi, memiliki berbagai jenis fauna yang unik dan khas salah satunya dari jenis primata yaitu orangutan (Pongo pygmaeus). Orangutan memanfaatkan dahan-dahan pohon untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Aktivitas Orangutan yang didapat dari hasil sitaan biasanya merupakan peliharaan orang, atau dari perdagangan liar.   Jika terlalu lama dipelihara dalam kandang akan mempengaruhi pola tingkah laku pada orangutan tersebut, karena biasanya mereka ditempatkan dikandang yang relatif lebih sempit, tidak ada pohon untuk memanjat. Sintang Orangutan Center (SOC) merupakan salah satu lembaga yang melakukan tindakan penyelamatan pada orangutan baik yang didapat dari peliharaan atau perdagangan illegal. Penelitian ini bertujuan untuk mendata aktivitas harian orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang berada di pusat rehabilitasi Sintang Orangutan Center. Pengamatan perilaku orangutan dilakukan menggunakan metode focal animal sampling atau dengan mengamati dan mencatat perilaku satu individu selama periode waktu tertentu dengan catatan individu selalu terlihat (Altmann, 1974). Pengumpulan data tingkah laku dengan menggunakan metode “continuous” yaitu pengamatan secara terus menerus pada setiap perilaku dalam durasi waktu tertentu. Pengamatan dilakukan mulai dari orangutan bangun dipagi hari sampai orangutan tidur dan tidak melakukan aktivitas di malam hari. secara umum orangutan menggunakan waktu terbesar adalah aktivitas makan (36,69%), aktivitas bergerak sebesar 26,42%, aktivitas istirahat sebesar 20,58% aktivitas istirahat sebesar 11,74%, aktivitas sosial 2,5% dan aktivitas membuat sarang sebesar 2,04%.Kata kunci:  Orangutan, Perilaku, Pongo pymaeus, Sintang Orangutan Center
KONDISI VEGETASI MANGROVE PADA HABITAT KERANG KEPAH (Polymesoda erosa) di HUTAN MANGROVE DESA SUNGAI NILAM KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS arianto arianto; Muhammad Sofwan Anwari; Muhammad Dirhamsyah
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.54727

Abstract

Mangrove ecosystems are often found along estuaries in the tropics and subtropics. The interaction between mangrove, seagrass and coral reef ecosystems with their environment is  able to create a water condition that is suitable for biological processes to take place and benefits various kinds of aquatic organisms.The purpose of this study was to examine the effect  of vegetation density on the abundance of mussel shells in the mangrove forest of Sungai Nilam Village and examine the effect of vegetation structure on the abundance of mussels in the mangrove forest of Sungai Nilam Village in May-June 2021. The number of mussel shells is shown by the observation plots 3, 9 and 12 at each growth level, showing that the mussels in the vegetation structure with a density of tree level in the range of 20.000/Ha-70.000/Ha, sapling level in the range of 80.000/Ha-240.000/Ha and the seedling rate ranging from 30.000/Ha- 190.000/Ha is the range of vegetation density that supports the availability of space, lighting and food. Keywords: Mangrove, Shellfish, VegetationAbstrakEkosistem mangrove sering dijumpai di sepanjang estuaria daerah tropis dan subtropis. Interaksi antara ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang dengan lingkungannya mampu menciptakan suatu kondisi perairan yang cocok untuk berlangsungnya proses biologi dan menguntungkan berbagai macam organisme akuatik. Tujuan penelitian ini mengkaji pengaruh kerapatan vegetasi terhadap kelimpahan kerang kepah di hutan mangrove Desa Sungai Nilam dan mengkaji pengaruh struktur vegetasi terhadap kelimpahan kerang kepah di hutan mangrove Desa Sungai Nilam pada Mei-Juni 2021. Berdasarkan perbandingan struktur vegetasi terdapat 2 jenis mangrove Avicennia marina, dan Bruguiera cylindrica. Jumlah kerang kepah ditunjukan oleh petak pengamatan 3, 9 dan 12 pada masing-masing tingkat partumbuhan menunjukan bahwa kerang kepah pada struktur vegetasi dengan kerapatan tingkat pohon dengan kisaran 20.000/Ha-7/Ha, tingkat pancang dengan kisaran 80.000/Ha-240.000/Ha serta tingkat semai berkisar 30.000/Ha-190.000/Ha merupakan kisaran kerapatan vegetasi yang mendukung ketersediaan ruang, pencahayaan serta ketersediaan makanan. Kata kunci: Mangrove, Kerang Kepah, Vegetasi
JENIS BIAYA DAN PENDAPATAN PETERNAK LEBAH MADU KELULUT DI DUSUN KAYU ARA DESA KAYU ARA KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK Heri Ansyah; Gusti Hardiansyah; Yeni Mariani
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.53670

Abstract

Kelulut honey cultivation business is a potential business. This study aims to determine the types of costs, income, and profits as well as the feasibility of kelulut honey cultivation as well as the obstacles faced by kelulut honey entrepreneurs.The research method is carried out by surveying with census data collection techniques. Collecting data using primary data and secondary data with data collection techniques, namely observation and interview techniques. Data analysis using descriptive analysisthe business processes of the kelulut honeyare nest preparation, box nest making, colonybreakdown, feed preparation, harvesting and making cultivation racks. From the 20 respondents of bee honey entrepreneurs, the results of the study showed a fixed cost of Rp. 12.405.070/month and variable costs Rp. 218,000/month. The total cost of business is Rp. 12.623.070/month. The honey income earned by the kelulut honey business is Rp. 13,500,000/month.The profit earned is Rp. 876.930/month, and business feasibility obtained a > 1 = 1.07.Keywords: Cost of farming, Income, Feasibility, Kelulut honeyAbstrakUsaha budidaya kelulut adalah usaha yang berpotensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis biaya, pendapatan dan keuntungan serta kelayakan dalam usaha budidaya kelulut serta kendala-kendala yang dihadapi pengusaha kelulut. Metode penelitian dilakukan dengan survei dengan teknik pengambilan data secara sensus. Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder dengan teknik pengambilan data yaitu teknik observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Proses usaha kelulut yaitu penyiapan sarang, pembuatan sarang kotak, pemecahan koloni, penyiapan pakan, pemanenan dan pembutan rak budidaya. Dari 20 responden pengusaha kelulut menunjukan bahwa biaya tetap sebesar Rp. 12.405.070/bulan dan biaya tidak tetap Rp. 218.000/bulan. Total biaya usaha sebesar Rp. 12.623.070/bulan. Pendapatan madu yang di peroleh oleh  usaha lebah madu kelulut yaitu Rp. 13.500.000/bulan. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 876.930, dan kelayakan usaha yang di dapatkan a >1 = 1,07.Kata kunci: Biaya usaha, Pendapatan, Kelayakan, Madu Kelulut
STUDI HABITAT DAN POLA SEBARAN TUMBUHAN BELIMBING DARAH (Baccaurea angulata) DI KAWASAN KEBUN RAYA SAMBAS Alvian Alvian; Wiwik Ekyastuti; Yanieta Arbiastutie
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.54085

Abstract

Belimbing Darah (Baccaurea angulata) is a protected endemic plant at Kalimantan, and its fruit is used as a local medicine. The damage to the environment around the Sambas Botanical Garden endangers the environment that threatens plants. Therefore, this study aims to obtain data on the habitat condition and distribution pattern of the Belimbing Darah at the Sambas Botanical Garden. The method used a survey with a sampling technique plot path via systematic. The results show that climatic factors influence the Belimbing Darah habitat. These climatic factors are temperature 26-28°C, humidity 94-99%, light intensity 75-155 Lx, rainfall/month 191.380 mm. Geographical factors are slope 5-55°, altitude 22-63 meters above sea level, hilly topography. Edaphic factors are pH 5-7, humidity 33% (dry), ultisol soil type with clay (lowland, riparian), alluvial soil with clayey (swamp), and biotic factor is vegetation. The distribution pattern of Belimbing Darah is clustered (lowland) because it grows around its parent tree. The uniform distribution (riparian, swamp) is influenced by the environment through the surrounding animals that play a role in the distribution and like the edaphic, climatic, geography factors supporting growth. The biotic and environmental damage factors can affect the growth of Belimbing Darah in the Sambas Botanical Garden whereby the density of the Belimbing Darah plant is 671/hectares, most growing in the lowlands 391/hectares. The research result implication can be used to make protection for an in-situ collection of Belimbing Darah plants in the Sambas Botanical Garden.Keywords: Baccaurea angulata, botanical garden, distribution. AbstrakBelimbing darah (Baccaurea angulata) adalah tumbuhan endemik Kalimantan yang dilindungi dan buahnya bermanfaat untuk obat herbal. Kerusakan lingkungan di sekitar Kebun Raya Sambas menyebabkan perubahan lingkungan yang dapat mengancam tumbuhan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kondisi habitat dan pola sebaran belimbing darah di Kebun Raya Sambas. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik sampling jalur berpetak secara sistematis. Hasil penelitian tempat tumbuh belimbing darah memiliki pengaruh faktor klimatik suhu 26-28°C, kelembapan udara 94-99%, intensitas cahaya 75-155 Lx, curah hujan/bulan 191,380 mm. Faktor geografi kemiringan 5-55°, ketinggian 22-63 m dpl, topografi berbukit. Faktor edafik pH 5-7, kelembapan 33% (kering) dan jenis tanah ultisol tekstur lempung (dataran rendah, riparian), tanah alluvial tekstur lempung berliat (rawa) dan faktor biotik adalah vegetasi. Pola penyebaran belimbing darah mengelompok (dataran rendah). Karena tumbuhan belimbing darah tumbuh sekitar pohon induknya. Penyebaran seragam (riparian, rawa) dipengaruhi oleh lingkungan melalui hewan sekitar yang berperan dalam penyebaran dan faktor edafik, klimatik, geografi mendukung pertumbuhan. Faktor biotik dan kerusakan lingkungan mempengaruhi pertumbuhan belimbing darah. Di Kebun Raya Sambas kerapatan belimbing darah 671/ha, banyak tumbuh di dataran rendah 391/ha. Implikasi hasil penelitian dapat dilakukan perlindungan dengan membuat koleksi in-situ tumbuhan belimbing darah di Kebun Raya Sambas.Kata kunci: Baccaurea angulata, Kebun Raya, penyebaran.
ETNOZOOLOGI SUKU DAYAK HULU PESAGUAN DI DUSUN BATU BULAN DESA TANJUNG BEULANG KECAMATAN TUMBANG TITI KABUPATEN KETAPANG Tanti Purwanti; Hari Proyogo; Togar Fernando Manurung
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.54315

Abstract

Ethnozoology is part of the field that studies the knowledge, utilization, and management of animals related to community culture. Ethnozoology includes the use of animal species that are used for various purposes, such as food, crafts, clothing, medicines, decorations, rituals, tools and others. The purpose of this study was to collect data on animal species, to examine the management and use of animals by the Dayak Hulu Pesaguan community in Batu Bulan Hamlet, Tanjung Beulang Village, Tumbang Titi District, Ketapang Regency. Data was collected using a survey method with interview techniques using questionnaires and direct observation in the field. The selection of respondents using snowball sampling technique. The data obtained were analyzed using a qualitative descriptive method and the results of the analysis were presented in the form of tables and diagrams. Based on the research results obtained as many as 140 types of animals with 93 families from a total of 9 animal classes. The results of data analysis show that the total number of animals from each form of utilization is 222 types of animals, which are used for consumption by 55.05%, (120 animals), traditional rituals by 1.80% (4 animals), mystical/signs 14, 86% (33 animals), 9% artistic value (20 animals), 14.86% medicine (33 animals), 5.40% use for hunting (12 animals) by the Dayak Hulu Pesaguan community.Keywords: Ethnozoology, use of animals, Dayak Hulu Pesaguan. AbstrakEtnozoologi merupakan bagian dari bidang etnobiologi yang mempelajari tentang pengetahuan, pemanfaatan, pengelolaan satwa berkaitan dengan budaya masyarakat. Etnozoologi meliputi pemanfaatan jenis satwa yang digunakan dalam berbagai kepentingan, seperti bahan pangan, kerajinan, pakaian, obat-obatan, hiasan, ritual, peralatan dan lain-lainnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendata jenis hewan, mengkaji cara pengelolaan dan pemanfaatan hewan oleh masyarakat Dayak Hulu Pesaguan di Dusun Batu Bulan Desa Tanjung Beulang Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner serta pengamatan langsung di lapangan. Pemilihan responden menggunakan teknik sowball sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriftif kualitatif dan hasil analisis ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 140 jenis satwa dengan 93 famili dari total 9 kelas satwa. Hasil analisis data menunjukan jumlah total satwa dari masing-masing bentuk pemanfaatan sebanyak 222 jenis satwa, yang digunakan untuk konsumsi sebesar 55,05%, (120 satwa), ritual adat sebesar 1,80% (4 satwa), mistis/pertanda 14,86% (33 satwa), nilai seni 9% (20 satwa), obat 14,86% (33 satwa), pemanfaatan untuk berburu 5,40% (12 satwa) oleh masyarakat Dayak Hulu Pesaguan.Kata Kunci: Etnozoologi, pemanfaatan satwa, Dayak Hulu Pesaguan

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue