cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
PERSEBARAN TITIK API DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT Pratama, Vicky Ryan; Hardiansyah, Gusti; Widhanarto, Ganjar Oki
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Our forests are getting to the fore, decreasing in area caused by several disasters. One of them is a forest fire. These forest fires have enormous impacts, such as dry land, landslides and erosion which are very detrimental to the community. What is the shape of the distribution pattern of the hotspots that occur and what is the level of community knowledge about forest and land fire. This study aims to analyze the pattern of distribution of hotspots and determine the level of public knowledge of forest and land fires in Sintang District, West Kalimantan Province. Data collection on the pattern of distribution of hotspots and community knowledge of forest and land fires in Sintang District, West Kalimantan Province was carried out using the Descriptive Analysis Method and the Survey Method. There are various forms of hotspot distribution patterns that occurred in forest and land fires in Sintang District, West Kalimantan Province, from 2019-2022. there are random, grouped and uniform. In 2019 there were 4 hotspots in that year, in 2020 there were 2268 hotspots, in 2021 there were 2321 hotspots, and in 2022 there were 299 hotspots. If the total hotspots that occurred in 2019-2022 are 4983 hotspots. The knowledge of the Tanah Merah village community, Sintang district, West Kalimantan province tends to be moderate with a frequency value of (82%) 60 respondents, for a separate high category in community knowledge of (8%) 6 respondents. for a separate low category on public knowledge of (10%) 7 respondents.Keywords: Forest Fires, Hotspots Distribution, Community Knowledge.AbstrakHutan kita semakin kedepan, semakin menurun luasnya yang disebabkan oleh beberapa bencana. Salah satunya adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan tersebut menimbulkan dampak yang amat sangat besar, seperti kekeringan lahan, longsor, dan erosi yang sangat merugikan masyarakat. Bagaimana bentuk pola persebaran titik api (hotspot) yang terjadi dan Bagaimana tingkatan pengetahuan masyarakat terhadap kebakaran hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis pola persebaran titik api dan mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kebakaran hutan dan lahan Di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Pengumpulan data pada pola persebaran titik api dan pengetahuan masyarakat terhadap kebakaran hutan dan lahan di kabupaten sintang provinsi Kalimantan barat dilakukan dengan cara Metode Analisis Deskriptif dan Metode Survei. Bentuk pola persebaran titik api yang terjadi pada kebakaran hutan dan lahan di kabupaten sintang provinsi Kalimantan barat dari tahun 2019-2022 bermacam ragam bentuknya. ada yang acak, mengelompok dan seragam. Tahun 2019 titik api pada tahun tersebut sebanyak 4 titik, Tahun 2020 titik api pada tahun tersebut sebanyak 2268 titik, tahun 2021 titik api pada tahun tersebut sebanyak 2321 titik, dan tahun 2022 titik api pada tahun tersebut sebanyak 299 titik. Jika ditotalkan keseluruhan titik api yang terjadi pada tahun 2019-2022 adalah sebanyak 4983 titik api. Pengetahuan masyarakat desa tanah merah kabupaten sintang provinsi Kalimantan barat cenderung sedang dengan nilai frekuensi sebesar (82%) 60 responden, untuk kategori tinggi tersendiri pada pengetahuan masyarakat sebesar (8%) 6 responden. untuk kategori rendah tersendiri pada pengetahuan masyarakat sebesar (10%) 7 responden.Kata kunci: Kebakaran Hutan, Distribusi Titik Api, Pengetahuan Masyarakat
ETNOBOTANI REMPAH TRADISIONAL YANG DIMANFAATKAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DUSUN KOPIANG DESA MANDOR KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT Bastian, Aran; Herawatiningsih, Ratna; Widiastuti, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.50450

Abstract

This research aims to describe the utilization of spice plants by the community around the Kopiang Village Forest, Mandor Village, Landak Regency, and to analyze the social factors influencing the utilization of spice plants in Kopiang Village, Mandor, Landak Regency. The research method used is a survey, with data collection through interviews using questionnaires with 44 respondents selected by census from the entire population in Kopiang Village. The collected data is organized in the form of tabulation and documentation, and then processed using the Use Value (UV) formula to determine the value of plant use and the Family Importance Value (FIV) to determine the most frequently used plant families. Data from the interviews are qualitatively analyzed, covering local names, Latin names, parts used, processing methods, and the habitus of spice plants. The research results indicate that the community traditionally utilizes ten types of spice plants, categorized into nine families. Ethnobotanical analysis reveals that the Sengkubak plant (Albertisia papuana becc) has the highest Use Value (UV) of 0.90, while the highest Family Importance Value (FIV) is found in the Menispermae family with a value of 90.90. The Zingiberaceae family is the most commonly used by the community, with two plant types (kancok and engkareh). The most frequently used habitus level is the tree level, with four plant types (asam kandis, daun salam, sengkuang, and belimbing wuluh). The most commonly used part is the leaves (50%), and the most common processing method is cooking.Keywords: Traditional Spice, Ethnobotany, Kopiang VillageAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tumbuhan rempah oleh masyarakat di sekitar Hutan Dusun Kopiang, Desa Mandor, Kabupaten Landak, serta menganalisis faktor sosial masyarakat yang berpengaruh dalam pemanfaatan tumbuhan rempah di Dusun Kopiang, Desa Mandor, Kabupaten Landak. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, dengan pengumpulan data melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada 44 responden yang dipilih secara sensus dari seluruh masyarakat di Dusun Kopiang. Data yang diperoleh disusun dalam bentuk tabulasi dan dokumentasi, dan kemudian diolah dengan menggunakan rumus Use Value (UV) untuk menentukan nilai penggunaan tumbuhan serta Family Importance Value (FIV) untuk menentukan keluarga tumbuhan yang paling banyak digunakan. Data dari hasil wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif, meliputi nama lokal, nama latin, bagian yang digunakan, cara pengolahan, dan habitus tanaman rempah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan sepuluh jenis tumbuhan rempah secara tradisional, yang dikelompokkan ke dalam sembilan keluarga. Hasil analisis etnobotani menunjukkan bahwa tumbuhan Sengkubak (Albertisia papuana becc) memiliki nilai Use Value (UV) tertinggi sebesar 0,90, sementara Family Importance Value (FIV) tertinggi terdapat pada keluarga Menispermae dengan nilai sebesar 90,90. Jenis keluarga yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah Zingiberaceae dengan dua jenis tumbuhan (kancok dan engkareh). Tingkat habitus yang paling banyak digunakan adalah tingkat pohon, dengan empat jenis tumbuhan (asam kandis, daun salam, sengkuang, dan belimbing wuluh). Bagian yang paling banyak digunakan adalah daun (50%), dan cara pengolahan yang paling umum digunakan adalah dengan cara dimasak.Kata Kunci: Rempah Tradisional, Etnobotani, Desa Kopiang
PERILAKU BERTELUR PENYU HIJAU (Chelonia mydas) di PANTAI BELACAN DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Damiska, Septi; Munandar, Ari; Darwati, Herlina; Rifanjani, Slamet
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.86751

Abstract

The green turtle is one of the most intensively exploited members of the turtle family. The purpose of this study was to describe the egg-laying behavior of green turtles (Chelonia mydas) on Belacan Beach Sebubus Village Paloh District Sambas Regency. Research using direct observation method with observation technique is done by noting all behavior seen at each time and its description. Research shows that all types of turtles have almost the same stages of laying eggs, namely emerging to the sea surface and choosing a location to lay eggs, digging holes, laying eggs, closing the nest and closing the hole and disguise the distance. Factors that influence the presence of green turtles going up to the mainland to lay eggs are the tides of sea water, the slope of the coast and the presence or absence of vegetation that can be used as a shelter for their nest.Keywords: Belacan beach, Turtle, Turtle behaviorAbstrakPenyu hijau adalah salah satu anggota keluarga penyu yang paling dieksploitasi secara intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) di Pantai Belacan Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penelitian menggunakan metode observasi langsung dengan teknik observasi yang dilakukan dengan mencatat semua tingkah laku yang dilihat pada setiap waktu dan uraiannya. Penelitian menunjukkan bahwa semua jenis penyu mempunyai tahapan bertelur yang hampir sama, yaitu muncul ke permukaan laut dan memilih lokasi bertelur, menggali lubang, bertelur, menutup sarang dan menutup lubang serta menyamarkan jarak. Faktor yang mempengaruhi keberadaan penyu hijau naik ke daratan untuk bertelur adalah pasang surut air laut, kemiringan pantai dan ada tidaknya vegetasi yang dapat dijadikan tempat berlindung sarangnya.Kata kunci: Pantai Belacan, Penyu, Tingkah laku penyu
PEMANFAATAN DAUN JATI MUDA DAN SABUT KELAPA SEBAGAI PEWARNA ALAMI KAIN KATUN DENGAN FIKSATOR AIR JERUK NIPIS Anwari, Luluatun; Fahriani, Vera Pangni; Wahyuningtyas, Aulia
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.76263

Abstract

Indonesia has the variety of plants that have the potential to provide natural dyes to textiles. One of them is the young leaves of teak tress (Tectona grandis) which contain anthocyanin dye. Coconut fiber waste is also used as a natural dye because it contains tanin dye. Many studies have been carried out on young teak leaves and coconut fiber in fabric dyeing. This research creates a new idea that uses both as natural dyes by soaking coconut fiber in young teak leaf extract. Extraction of young teak leaves is carried out by boiling with a vlot of 1 kg of material / 10 L of solvent at a temperature of 100 °C for 30 minutes. Then the young teak leaf extract is added with coconut fiber and left for 24 hours and 48 hours, until a natural dye solution is obtained. The fabric is dipped in the dye for 5 x 20 minutes. Next, the fabric is dried by air-drying and fixation is carried out with lime juice to bind the dye that has been absorbed into the fabric fibers. The results of this research show that soaking coconut fiber for 24 hours and 48 hours in young teak leaf extract can provide a brighter fabric color intensity, as well as adding lime juice fixator. This research shows that soaking coconut fiber in young teak leaf extract can provide a brighter fabric color intensity, likewise with lime juice fixator. In terms of fabric colour fastness to soap washing, the lime juice fixator gave a good average score (4), one level higher that without fixation which got a fairly good average score (3-4).Keywords: coconut fiber, lime juice fixator, natural dye, young teak leaves.AbstrakIndonesia memiliki ragam tumbuhan yang berpotensi memberikan zat warna alami pada tekstil. Salah satunya adalah daun muda dari pohon jati yang mengandung zat warna antosianin. Limbah sabut kelapa juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami karena mengandung zat warna tanin. Daun jati muda dan sabut kelapa sudah banyak dilakukan penelitian dalam pewarnaan kain. Penelitian ini membuat gagasan baru yang memanfaatkan keduanya sebagai pewarna alami dengan cara perendaman sabut kelapa dalam ekstrak daun jati muda. Ekstraksi daun jati muda dilakukan dengan cara perebusan dengan plot 1 kg bahan / 10 L pelarut pada suhu 100 °C selama 30 menit. Kemudian ekstrak daun jati muda ditambahkan dengan sabut kelapa dan didiamkan selama 24 jam dan 48 jam, hingga diperoleh larutan pewarna alami. Kain dicelupkan ke dalam pewarna selama 5 x 20 menit. Selanjutnya kain dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan dilakukan fiksasi dengan air jeruk nipis untuk mengikat zat warna yang telah terserap dalam serat kain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman sabut kelapa selama 24 jam dan 48 jam dalam ekstrak daun jati muda dapat memberikan intensitas warna kain yang semakin terang, begitu juga dengan penambahan fiksator air jeruk nipis. Dalam segi tahan luntur warna kain terhadap pencucian sabun, fiksator air jeruk nipis memberikan nilai rata-rata baik (4), satu tingkat lebih tinggi daripada tanpa fiksasi yang memperoleh nilai rata-rata cukup baik (3-4).Kata kunci: sabut kelapa, fiksator air jeruk nipis, pewarna alami, daun jati muda,  
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN AIR TAWAR KAWASAN BENDUNGAN MEROWI DAN SEKITARNYA DI DESA SEMAYANG KECAMATAN KEMBAYAN KABUPATEN SANGGAU Sri, Muliana; Prayogo, Hari; Widiastuti, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.52145

Abstract

Merowi dam is the only dam (reservoir) located in Semayang Village, Kembayan District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province. The merowi dam was built using Sanggau APBD funds. This study aimed to obtain data on the diversity of freshwater fish species upstream, downstream and around the Merowi Dam, Semayang Village, Kembayan District, Sanggau Regency. This research used survey method. Determination of stations was purposive sampling, where fish sampling was carried out using the catch per unit effort method (Saputra, 2018). Based on the data and research results, six stations obtained 19 types of freshwater fish belonging to 8 families. The dominance index value of the six stations ranged from (C) = 0.21- 0.33, which means that no fish dominates the other species fish. The value of species diversity from the six stations ranged from (H') = 1.28 "“ 1.74, which means that the species diversity was low. The evenness value of the six stations ranged from (E) = 0.79 "“ 0.88, which means the level of evenness was low. The value of the species richness index (R) = 0.91 "“ 2.23 which means the species richness was low. The value of the similarity index at station I "“ station VI was considered different and was considered to be significantly different.Keywords: Diversity of fish species, Merowi Dam, Semayang Village.AbstrakBendungan merowi merupakan satu-satunya Bendungan (waduk) yang terletak di Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Bendungan Merowi dibangun menggunakan dana APBD Kabupaten Sanggau. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis ikan air tawar dihulu, hilir dan sekitar Bendungan Merowi Desa Semayang, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini menggunakan metode Survey penentuan stasiun secara purposive sampling, dimana pengambilan sampel ikan dilakukan dengan metode hasil tangkapan per unit usaha ( Saputra, 2018). Berdasarkan data dan hasil penelitian dimana keenam stasiun didapatkan 19 jenis ikan air tawar yang tergolong dalam 8 family. Nilai indeks dominansi dari keenam stasiun berkisaran antara (C) = 0,21 "“ 0,33, yang artinya tidak ada ikan yang mendominansi jenis lainnya. Nilai keanekaragaman jenis dari keenam stasiun berkisaran antara (E) = 0,79 "“ 0,88, yang artinya keanekaragaman jenisnya rendah. Kemerataan jenis dari keenam stasiun berkisar antara (R) = 0,91 "“ 2,23, yang artinya kekayaan jenisnya rendah. Nilai indek kesamaan jenis distasiun I "“ stasiun VI dianggap berbeda dan dianggap berbeda nyata.Kata kunci : Keanekaragaman Jenis Ikan, Bendungan Merowi, Desa Semayang
SIFAT FISIS DAN KEKERASAN PAPAN BLOK DARI BATANG KELAPA SAWIT DAN FINIR JENIS KAYU CEPAT TUMBUH Mangurai, Silvia Uthari Nuzaverra Mayang; Massijaya, Muh Yusram; Hadi, Yusuf Sudo; Hermawan, Dede; Abdillah, Imam Busyra; Munadian, Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.87749

Abstract

The oil palm trunk and fast-growing species was the potential as raw materials for blockboard. The quality of composite board can be reflected by the value of physical and mechanical properties that influenced by the characteristics of veneer, board core and type of adhesive and the method of manufacturing. The aim of this research was to produce block boards from oil palm trunk waste and sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen), manii (Maesopsis eminii Engl.), mangium (Acacia mangium Willd.) veneers as surface layers. The size of the blockboards was 35 x 35 x 2.4 cm3. The adhesives used were phenol formaldehyde (PF) and urea formaldehyde (UF) with glue spread of 200 g ·m-2. The blockboards were made with a pressure of 15 kg ·cm-2 for 10 minutes at 130 oC for PF and 110 oC for UF. The physical and mechanical properties of the boards were tested based on SNI 01-7201, JAS 232 2003 and JIS A 5908-2003 standard. The research results show that the wood veneer species and adhesive types can improved the physical properties and hardness of block board with oil palm trunk core. Moisture content value of the boards had less than 10% and the thickness sweeling had less than 12%. Thickness swelling and delamination were influenced by adhesive types. Block board with PF adhesive have a lower delamination value than bloc board with UF adhesive so it can be used for exterior purposes. The hardness value blockboard fulfil BS standard and recommended for flooring applications.Keywords: adhesives types, blockboard, fast-growing species, oil palm trunk, physical properties and hardnessAbstrakLimbah batang kelapa sawit dan jenis kayu cepat tumbuh mempunyai potensi sebagai bahan baku papan blok. Kualitas papan komposit dapat terlihat dari sifat fisis dan mekanis yang dipengaruhi oleh karakteristik finir, bagian inti papan, jenis perekat, dan metode pembuatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sifat fisis dan kekerasan papan blok dari limbah batang kelapa sawit dan sengon, manii, dan mangium finir sebagai lapisan permukaan. Papan blok berukuran 35 x 35 x 2,4 cm3. Perekat yang digunakan adalah fenol formaldehida (PF) dan urea formaldehida (UF) dengan berat labur sebesar 200 g ·m-2. Papan blok dibuar dengan tekanan 15 kg ·cm-2 selama 10 minutes pada suhu 130 oC untuk perekat PF and 110 oC untuk perekat UF. Sifat fisis dan kekerasan diuji berdasarkan standar SNI 01-7201, JAS 232 2003, dan JIS A 5908-2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu dan jenis perekat dapat membantu meningkatkan sifat fisis dan kekerasan papan blok dengan inti batang kelapa sawit. Nilai kadar air papan blok dibawah 10% dan pengembangan tebal dibawah 12%. Papan blok dengan perekat PF mempunyai nilai delaminasi lebih kecil dibandingkan papan blok dengan perekat UF dan dapat digunakan sebagai keperluan eksterior. Nilai kekerasan papan blok BKS telah memenuhi Standar British yang direkomendasikan untuk aplikasi lantai.Kata kunci: batang kelapa sawit, jenis kayu cepat tumbuh, jenis perekat, papan blok, sifat fisis dan kekerasan
PENDAPATAN MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN DARI BUDIDAYA KRATOM (Mitragyna sp) (Studi Kasus Di Desa Nanga Sambus Kecamatan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu) ramdhayani, dewi sri; Roslinda, Emi; M, Iskandar A
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.54117

Abstract

The people of Nanga Sambus Village use forest products as their source of livelihood in fulfilling their daily lives. The purpose of this study is to calculate community income, assess business feasibility and explain what factors affect people's income from kratom plant cultivation. This research used survey method, sampling technique used purposive sampling method (42 respondents). Data retrieval is done in a structured interview manner. Data analysis used income analysis, R/C Ratio analysis and analysis of factors affecting ZScore income with multiple linear regression equations Zscoreπ. Community income from kratom cultivation is Rp. 10,531, -/kg with an R/C Ratio of 3.29 and multiple linear regression test results ZScore with the equation obtained the calculated F value = 8.170 and the F table value (α 0.05; 35) = 2.37. Factors that affect income, namely the number of plants, tree age, labor, seed prices, production inputs and HOK wages simultaneously have a significant effect on total income kratom cultivation community.Keywords: forest, income, kratomAbstrakMasyarakat Desa Nanga Sambus memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber mata pencaharian mereka dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menghitung pendapatan masyarakat, menilai kelayakan usaha dan menerangkan faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan masyarakat dari usaha budidaya tanaman kratom. Penelitian ini menggunakan metode survey, teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling (42 responden). Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan analisis pendapatan, analisis R/C Ratio dan analisis faktor yang mempengaruhi pendapatan ZScore dengan persamaan regresi linear berganda. Pendapatan masyarakat dari budidaya kratom sebesar Rp.10.531,-/kg dengan R/C Ratio sebesar 3,29 dan hasil uji regresi linear berganda Zscore dengan persamaan diperoleh nilai F hitung = 8,170 dan nilai F tabel (α 0,05 ; 35) = 2,37. Faktor- faktor yang mempengaruhi pendapatan yaitu variabel jumlah tanaman, umur pohon, tenaga kerja, harga bibit, input produksi dan upah HOK secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan total masyarakat budidaya kratom.Kata kunci: hutan, pendapatan, kratom
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DIURNAL DI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PONTIANAK Wahyudi, Isnu; Erianto, Erianto; Hari Prayogo, Hari Prayogo
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.68487

Abstract

The diversity of bird species in the Diurnal in the Pontianak City Green Open Space is a strong reason for conducting this research, so that later the data from this research is expected to be a reference or policy step for agencies related to the management of Green Open Space as a habitat for wildlife birds. Provide information about the diversity of bird species in the Diurnal in the Pontianak City Green Open Space. The data from this research can be used by the relevant agencies as a database for monitoring and controlling bird species in the Pontianak City Green Open Space. This research was conducted by survey method or field observation technique. The data collection used is by direct survey to the location. The observation location was determined purposively, consisting of seven location points in the Green Open Space in Pontianak City. The results of field observations in 7 (seven) green open spaces in Pontianak City obtained a diversity index value of =3.314186. (H Ì…) belongs to the high category. List of bird species diurnal green open space Pontianak 13 bird species belonging to 10 families (family). Most of the birds found were from the Columbidae and Passeridae families, and the least found were from the Geopeliastria bird species.Keywords: Diversity, Diurnal Bird, Green Open Space.Abstrakkeanekaragaman jenis burung diurnal di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak menjadi alasan kuat dilakukannya penelitian ini, sehingga nantinya data hasil dari penelitian ini di harapkan menjadi acuan atau langkah kebijakan bagi instansi terkait pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sebagai habitat satwa liar burung. Memberikan informasi mengenai keanekaragaman jenis burung diurnal di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak. Data hasil penelitian ini dapat digunakan oleh instansi terkait sebagai database dalam rangka pemantauan dan pengontrolan jenis jenis burung di Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei atau teknik observasi lapangan. Pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara survey langsung kelokasi. Lokasi pengamatan ditentukan secara purposive, terdiri dari tujuh titik lokasi yang ada di Ruang Terbuka Hijau di Kota Pontianak. Hasil pengamatan lapangan di 7 (tujuh) RTH di Kota Pontianak di peroleh nilai indeks keanekaragaman H Ì… =3,314186. (H Ì…) tergolong dalam kategori tinggi. Daftar Jenis burung diurnal ruang terbuka hijau kota Pontianak 13 jenis burung yang tergolong dalam 10 suku (family). Sebagian besar burung yang banyak ditemukan adalah dari family Columbidae dan Passeridae, dan yang paling sedikit ditemukan adalah dari jenis burung Geopeliastria.Kata kunci: Keanekaragaman, Burung Diurnal, Ruang Terbuka Hijau
PENDUGAAN KARBON TERSIMPAN DI RUANG TERBUKA HIJAU HUTAN PENDOPO GUBERNUR KOTA PONTIANAK Margawuk, Maulidya; Astiani, Dwi; Dewantara, Iswan
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.64207

Abstract

Urban forests are vital in Pontianak, where environmental problems such as air pollution and rising temperatures are becoming more serious. Pontianak has green-open space in the Pontianak governor's hall. This study aims to obtain biomass and carbon stock data in the green-open space. This study was conducted from August to September 2022. Using non-destructive assessment and allometric equations. Data collection was carried out by implementing a census assessment on each stand with DBH ≥ 5 cm. The study found that as many as 48 tree species with a total of 778 individuals were found where Alstonia scholaris (L.) R. Br counted as the dominant species. The result of this study indicates that there is an increase in biomass and carbon storage compared to the last 5 years of measurement. Above-ground biomass in Pontianak city hall is around 220,32 tons/ha and carbon storage is around 103,43 tons C/ha. It can be estimated that this area sequestered carbon in the form of carbon stocks of ⁓6,63 ton/ha or absorbed 24,3 ton/ha CO2 annually from the atmosphere.Keywords: Carbon stocks, carbon sequestration.Abstrak Keberadaan hutan kota menjadi sangat penting di Kota Pontianak, di mana masalah lingkungan seperti polusi udara dan kenaikan suhu menjadi lebih serius. Kota Pontianak memiliki RTH di hutan pendopo gubernur Kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data tentang biomassa dan simpanan karbon pada ruang terbuka hijau hutan pendopo gubernur Kota Pontianak. Studi ini dilakukan dari Agustus hingga September 2022. Penelitian ini menggunakan metode non-destruktif dan persamaan allometrik, pengumpulan data dilakukan dengan sensus pada setiap tegakan dengan DBH ≥ 5 cm. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 48 jenis pohon dengan jumlah 778 individu yang didominasi oleh Alstonia scholaris (L.) R. Br. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penambahan biomassa dan simpanan karbon setelah 5 tahun pengukuran. Biomassa di hutan pendopo Kota Pontianak berkisar 220,32 ton/ha dan simpanan karbon sekitar 103,43 ton C/ha. Dapat diperkirakan bahwa area ini menyerap karbon dalam bentuk stok karbon ⁓6,63 ton/ha atau menyerap 24,3 ton/ha CO2 per tahun dari atmosfer.Kata kunci: Karbon stok, penyerapan karbon.
KOMPOSISI JENIS DI EKOSISTEM MANGROVE SUNGAI PINYUH KABUPATEN MEMPAWAH Adisti, Vidya; Rifanjani, Slamet; Darwati, Herlina
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.81768

Abstract

Sungai Pinyuh mangrove forest, Mempawah Regency, is a type of forest that grows in coastal areas with fairly good forest conditions and directly facing the open sea. The mangrove forest in Sungai Pinyuh is also one of the potential forests that is utilized by the community to meet their living needs. The aim of the research is to examine the composition of tree species in Sungai Pinyuh mangrove ecosystem, Mempawah Regency. Research data collection used a survey method by recording all vegetation on 6 observation lines. The first line was laid using the purposive sampling method in a position perpendicular to the coastline leading from sea to land, while the next line was ± 150 meters from the previous line. Based on the results of research that has been carried out, there are 717 individual trees organized into 5 species, namely Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, Xylocarpus moluccensis, Rhizophora apiculate, Avicennia alba. The highest IVI (Important Value Index) in order was Avicennia officinalis (146.879%), followed by Bruguiera cylindrica (131.394%), then Xylocarpus moluccensis (19.268%), while the lowest IVI (Important Value Index) was Rhizophora apiculata (1.603%) and Avicennia alba (0.856%).Keywords: composition, mangroves, Sungai PinyuhAbstrakHutan mangrove Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pantai dengan kondisi hutan yang cukup bagus dan berhadapan langsung dengan laut lepas. Hutan mangrove di Sungai Pinyuh juga merupakan salah satu hutan potensial yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tujuan penelitian mengkaji komposisi jenis pohon pada ekosistem mangrove Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode survei dengan mendata semua vegetasi pada 6 jalur pengamatan. Peletakkan jalur pertama dilakukan menggunakan metode Purposive sampling dengan posisi tegak lurus garis pantai mengarah dari laut ke darat, sedangkan jalur selanjutnya berjarak ±150 meter dari jalur sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat 717 individu pohon yang disusun oleh 5 spesies yaitu Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, Xylocarpus moluccensis, Rhizophora apiculate, Avicennia alba. INP (Indeks Nilai Penting) tertinggi secara beurutan adalah Avicennia officinalis (146,879 %), kemudian diikuti Bruguiera cylindrica (131,394 %), selanjutnya Xylocarpus moluccensis (19,268 %), sedangkan INP (Indeks Nilai Penting) terendah adalah Rhizophora apiculata (1,603 %) dan Avicennia alba (0,856 %).Kata kunci: komposisi, mangrove, Sungai Pinyuh

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue