cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
POTENSI TEGAKAN PADA KAWASAN CAGAR ALAM LO FAT PUN FIE KECAMATAN MONTERADO KABUPATEN BENGKAYANG Dewantara, Iswan; manurung, kartika chandra; Widhanarto, Ganjar Oki
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.65238

Abstract

The Lo Fat Pun Fie Nature Reserve with an area of 7.8 Ha has Batik Orchids (Vanda hokeriana) and Pitchers (Nepenthes spp) as characteristics of this nature reserve that need to be preserved. The existence of orchids and pitcher plants is closely related to the existence of the types of vegetation that make up the Lo Fat Fun Pie Nature Reserve. This research aims to record tree species and analyze the potential for stands in the area. This research was carried out using the Systematics Strip Sampling with Random Start method with a sampling intensity of 15%, observations in the research area using 4 paths with varying lengths, where the first path was determined randomly and then continued with a distance between paths of 133 meters, with a total of 29 observation measuring plots. . Based on the results of data analysis, it was found that the average stand potential in the Lo Pat Fun Pie Nature Reserve per hectare was 286 stems 96.60 m3 with a minimum potential range of 1,162.40 stems 746.05 m3 and a maximum of 3,264.05 stems 748.99 m3.Keywords: forest inventory, nature reserves, stand potential.AbstrakCagar Alam Lo Fat Pun Fie dengan Luas 7,8 Ha memiliki Anggrek Batik (Vanda hokeriana) dan Kantong Semar (Nepenthes spp) sebagai ciri khas cagar alam ini yang perlu dilestarikan. Keberadaan jenis anggrek dan kantong semar sangat erat kaitan dengan keberadaan jenis-jenis vegetasi penyusun Cagar Alam Lo Fat Fun Pie Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis pohon dan menganalisa potensi tegakan pada kawasan. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematics Strip Sampling with Random Start dengan intensitas sampling 15%, pengamatan pada kawasan penelitian menggunakan 4 jalur dengan panjang bervariasi, dimana penetuan jalur pertama secara random kemudian dilanjutkan secara dengan jarak antar jalur 133 meter, dengan total 29 petak ukur pengamatan. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan potensi tegakan di Cagar Alam Lo Pat Fun Pie rata-rata per hektar 286 batang 96,60 m3 dengan rentang potensi minimum 1.162,40 batang 746,05 m3 dan maksimum 3.264,05 batang 748,99 m3.Kata kunci: inventarisasi hutan, cagar alam, potensi tegakan.
PENILAIAN OBYEK DAYA TARIK WISATA ALAM PULAU SEPANDAN TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN DAN DANAU SENTARUM KALIMANTAN BARAT Rifanjani, Slamet; Sahmantha, Oudilla Gressa; Ardian, Hafiz
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63007

Abstract

Sepandan Island has a diversity of flora and fauna, uniqueness and natural beauty which has the potential to be attractive as a tourist attraction. Sepandan Island is located in the middle of Lake Sentarum in the Betung Kerihun and Lake Sentarum National Park area. This area is visited by many people, especially on holidays, to enjoy the beauty and uniqueness of Sepandan Island. Assessment of the natural tourist attractions of Sepandan Island is needed for planning the development of tourist areas. The aim of this research is to assess the potential of Sepandan Island's natural tourist attractions and classify its development elements into categories of potential, moderate potential or not potential for development. The method used is a survey method in the form of a questionnaire to collect information regarding potential tourist attractions. Determining respondents used the purposive sampling method according to the specified criteria. The results of research into the classification of the Sepandan Island ODTWA from the criteria for assessing tourist attraction, accessibility, socio-economic conditions, accommodation, supporting facilities and infrastructure, and availability of clean water obtained a total score of 3522.8 and the classification for assessing the potential of its elements is classified as potential for development.Keyword: Attraction, Natural tourism, Sepandan island.AbstrakPulau Sepandan memiliki keanekaragaman flora dan fauna, keunikan serta keindahan alam yang mempunyai potensi daya tarik sebagai obyek wisata. Pulau Sepandan terletak di tengah danau Sentarum di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Kawasan ini banyak dikunjungi oleh masyarakat terutama pada hari libur untuk dapat menikmati keindahan dan keunikan Pulau Sepandan. Penilaian objek daya tarik wisata alam Pulau Sepandan diperlukan untuk perencanaan pengembangan kawasan wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai potensi obyek daya tarik wisata alam Pulau Sepandan dan mengklasifikasi unsur pengembangannya ke dalam katagori potensial, cukup potensial atau tidak potensial dikembangkan. Metode yang digunakan adalah metode survei dalam bentuk kuesioner untuk mengumpulkan informasi mengenai potensi daya tarik wisata. Penentuan responden menggunakan metode purposive sampling sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Hasil penelitian klasifikasi ODTWA Pulau Sepandan dari kriteria penilaian daya tarik wisata, aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, akomodasi, sarana dan prasarana penunjang, dan ketersediaan air bersih mendapatkan nilai total sebesar 3522,8 dan klasifikasi penilaian potensi unsur nya adalah tergolong potensial dikembangkan.Kata kunci: Daya tarik, Pulau Sepandan, Wisata alam.
FENOLOGI POHON PAKAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus) PADA AREA PELEPASLIARAN SUB DAS MENDALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN KABUPATEN KAPUAS HULU Prayogo, Hari; Tholib, Tholib; Siahaan, Sarma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.51426

Abstract

Phenology is the study of natural plant phases. The availability of Orangutan feed in natural habitats is the main factor influencing the survival of Orangutans. In this study phenological activities are focused on the development of flowers, fruits, and leaves. This research objective was to obtain information about the phenology of Orangutan food tree species carried out in the Orangutan release area of the Deep Sub Watershed Betung Kerihun National Park, Kapuas Hulu Regency, starting from September to December 2018. The object observed was the Orangutan feed trees with a diameter 10cm. The research method is a combination of track and plot. The length of the observation track is 560 meters with a total of 28 plots measuring 20x20 meters divided into 14 plots in paths 1 and 2. The results found were 20 species from 8 families of Orangutan feed trees dominated by Anacardiaceae and Dipterocarpaceae families with 10 species on leaf's developmental phase,   6 types of the flowering development phase, 3 types didn't have phase phenological change, and 1 type failed of flowering.Keywords: Feed, Orangutan, PhenologyAbstrakTumbuhan mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan secara alami, begitu juga dengan jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan bagi Orangutan. Ketersediaan pakan Orangutan di habitat alami menjadi faktor utama yang berpengaruh pada keberlangsungan hidup Orangutan. Pada penelitian ini kegiatan fenologi dititik beratkan pada perkembangan bunga, buah dan daun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang fenologi pohon pakan Orangutan yang dilakukan di areal pelepasliaran Orangutan Sub DAS Mendalam Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Objek yang diamati yaitu pohon pakan Orangutan dengan diameter 10cm. Metode penelitian dengan kombinasi jalur dengan garis berpetak. Panjang jalur pengamatan 560 meter dengan jumlah petak 28 buah petak berukuran 20x20 meter yang terbagi atas 14 petak pada jalur 1 dan 2. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 20 jenis dari 8 famili pohon pakan Orangutan yang didominasi oleh famili Anacardiaceae dan Dipterocarpaceae dengan 10 jenis mengalami fase perkembangan daun, 6 jenis fase perkembangan berbunga, 3 jenis tidak mengalami perubahan fase fenologi, dan 1 jenis berbunga gagal. Kata kunci: Pakan, Orangutan, Fenologi
KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR MAKROSKOPIS DI BUKIT SEMUJAN TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM KABUPATEN KAPUAS HULU Juarsih, Juarsih; Ekyastuti, Wiwik; Astiani, Dwi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.71404

Abstract

Macroscopic fungi or macrofungi are fungi that play an important role in the preservation of forest ecosystems. The study aimed to obtain and describe data on macroscopic mushroom species diversity in Semujan Hill, Danau Sentarum National Park, Kapuas Hulu District. The study used a survey method with a double plot sampling technique of 10 plots with a plot size of 20 m x 10 m, a sub-plot of 5 m x 5 m. The results showed that there were 23 species from 7 orders and 12 macroscopic mushroom families in the Bukit Semujan forest area. The most commonly found macroscopic fungus family is the Polyporaceae family. The level of macroscopic fungal species diversity in the Bukit Semujan area is included in the moderate category with a species diversity index (H') value of 2.219. The highest importance value index was the species of Marasmiellus candidus (52.15%). The dominance index of mushroom species at the location is in the low category with a value of 0.176, while the richness of the mushroom species is in the medium category with a value of 3.516.Keywords: macroscopic fungi, semujan hill, species diversityAbstrakJamur makroskopis atau makrofungi adalah jamur yang berperan penting bagi kelestarian ekosistem hutan. Tujuan penelitian adalah mendapatkan dan mendeskripsikan data keanekaragaman jenis jamur makroskopis di Bukit Semujan Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik sampling petak ganda sebanyak 10 petak dengan ukuran petak 20 m x10 m sub petak 5m x 5m. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 23 spesies dari 7 ordo dan 12 famili jamur makroskopis di kawasan hutan Bukit Semujan. Famili jamur makroskopis yang paling banyak ditemukan yaitu famili Polyporaceae. Tingkat keanekaragaman jenis jamur makroskopis pada kawasan Bukit Semujan termasuk dalam kategori sedang dengan nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) sebesar 2,219. Indeks nilai penting yang paling tinggi yaitu spesies jamur Marasmiellus candidus (52,15%). Indeks dominansi jenis jamur di lokasi termasuk kategori rendah dengan nilai 0,176, sementara kekayaan jenis jamurnya termasuk kategori sedang dengan nilai 3,516.Kata kunci: bukit semujan, jamur makroskopis, keanekaragaman jenis
ANALISIS PEMANFAATAN STRATA VERTIKAL VEGETASI OLEH SPESIES BURUNG PADA AGROFORESTRI BERBASIS KOPI DI AREA HUTAN KEMASYARAKATAN KPHL BATUTEGI: STUDI KASUS DI DESA PENANTIAN DAN SINAR BANTEN, KECAMATAN ULUBELU, KABUPATEN TANGGAMUS Arsyan, Chika Jenita; Iswandaru, Dian; Fitriana, Yulia Rahma; Darmawan, Arief
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.67458

Abstract

The use of vegetation stratification is closely related to the availability of food sources in that stratification, so that bird activity in utilizing existing habitat space can change, depending on the appearance of the habitat that provides food and other activity needs, such as for perching, nesting, monitoring prey, shelter, and rest. Habitat use can be described vertically which includes four levels, namely the ground surface and undergrowth (E), shrubs and bushes (D), lower canopy (C), middle canopy (B), and upper canopy (A). This research aims to analyze the abundance of bird species and their relationship in utilizing vertical strata of vegetation by bird species on coffee-based agroforestry land. The research was conducted on coffee-based agroforestry land in Penantian and Sinar Villages, Banten. The coffee-based agroforestry land is in the community forest area (Hkm), utilization block, KPHL Batutegi. Data collection was carried out using the point count method. The results obtained were analyzed quantitatively using the species abundance index and the vertical utilization of the canopy was analyzed descriptively. The research results showed that Penantian Village had 11 bird species from 11 families with a total of 82 individuals and Sinar Banten Village had 12 bird species from 11 families with a total of 87 individuals. The highest species abundance index in Penantian Village is the cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) and the cow swift (Collocalia esculenta) at 39% each. The highest abundance index in Sinar Banten Village is the kutilang cucak (Pycnonotus aurigaster) and cow swallow (Collocalia esculenta) with values of 39% and 34%. This shows that the cucak kutilang and the cow swallow are the birds most often found in the two villages. The vertical strata of vegetation used by various types of birds are canopy stratum C (4-20 m), D (1-4 m) and E (0-1 M), while canopy stratum A (30 m) and B (20-30 m) not found. This describes the condition of the vertical strata of vegetation in coffee-based agroforestry in the two villages which provides food sources, cover for shelter or nesting, and supports other activities only in these three strata.Key words: Agroforestry based-coffee, birds, species abundance, KPHL Batutegi, vertical strata of vegetation.AbstrakPenggunaan stratifikasi vegetasi berhubungan erat dengan ketersediaan sumber pakan pada stratifikasi tersebut, sehingga aktivitas burung dalam memanfaatkan ruang habitat yang ada dapat berubah-ubah, tergantung penampakan habitat yang menyediakan makanan serta kebutuhan aktivitas lain, seperti untuk bertengger, bersarang, mengawasi mangsa, berlindung, dan beristirahat. Penggunaan habitat dapat digambarkan secara vertikal yang meliputi empat tingkat, yaitu permukaan  tanah dan tumbuhan bawah (E), perdu dan semak belukar (D), tajuk bagian bawah (C),   tajuk bagian tengah (B), dan tajuk bagian atas (A). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan jenis burung serta hubungannya dalam memanfaatkan strata vertikal vegetasi oleh spesies burung pada lahan agroforestri berbasis kopi. Penelitian dilakukan di lahan agroforestri berbasis kopi Desa Penantian dan Sinar Banten. Lahan agroforestri berbasis kopi berada di area hutan kemasyarakatan (Hkm), blok pemanfaatan, KPHL Batutegi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode point count. Hasil yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan indeks kelimpahan jenis dan pemanfaatan vertikal tajuk dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan Desa Penantian terdapat 11 jenis burung dari 11 famili dengan total 82 individu dan Desa Sinar Banten terdapat 12 jenis burung darib11 famili dengan total 87 individu. Indeks kelimpahan jenis tertinggi di Desa Penantian adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan walet sapi (Collocalia esculenta) masing-masing sebesar 39%. Indeks kelimpahan tertinggi di Desa Sinar Banten yaitu cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan walet sapi (Collocalia esculenta) dengan nilai 39% dan 34%. Hal ini menunjukkan bahwa cucak kutilang dan walet sapi adalah burung yang paling sering ditemukan di kedua desa tersebut. Strata vertikal vegetasi yang dimanfaatkan oleh berbagai jenis burung yaitu stratum tajuk C (4-20 m), D (1-4 m) dan E (0-1 M), sedangkan stratum tajuk A (30 m) dan B (20-30 m) tidak ditemukan. Hal ini menggambarkan kondisi starata vertikal vegetasi pada agroforestri berbasis kopi di kedua desa tersebut yang menyediakan sumber pakan, cover untuk berlindung atau bersarang dan pendukung aktivitas lainnya hanya pada ketiga strata tersebut.Kata kunci: Agroforestri berbasis kopi, burung, kelimpahan jenis, KPHL Batutegi, strata vertikal vegetasi.
FAKTOR- FAKTOR YANG MENDORONG PERUBAHAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU BAMBU UNTUK PERALATAN RUMAH TANGGA DI DESA MERAGUN KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU Roslinda, Emi; Mila, Angelina; Manurung, Togar Fernando
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.55089

Abstract

Bamboo is one of the natural resources that is widely used by the community because it has the characteristics of a strong stem, straight, hard, easy to split, easy to shape, and easy to work. Over time, there has been a change in the use of bamboo as raw materials for household equipment. The purpose of this study is to describe the factors that encourage changes in the use of bamboo for household appliances in Meragun Village, Nanga Taman District, Sekadau Regency. The study used a survey method with interviews with 88 respondents with a questionnaire guide, and observation techniques were carried out in four sub-villages, namely Meragun, Kenambing Tinggi, Kelampuk, and Ladak. Data analysis was performed by multiple linear regression analysis. This study shows that age, income, knowledge, and education influence changes in using bamboo raw materials as household equipment.Keywords: Bamboo, Household Equipment, Driving factors, ChangesAbstrakBambu merupakan salah satu sumberdaya alam yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena memiliki sifat berupa batang yang kuat, lurus, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk, dan mudah dikerjakan. Seiring berjalannya waktu terjadi perubahan penggunaan bahan baku bamboo untuk peralatan rumahtangga ke bahan baku selain bambu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan bamboo untuk peralatan rumahtangga di Desa Meragun Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. Penelitian menggunakan metode survey, pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap 88 responden menggunakan panduan kuesioner dan teknik observasi dilakukan di empat dusun yaitu Meragun, Kenambing Tinggi, Kelampuk, dan Ladak. Analisis data dilakukan dengan analisis regresi linear berganda. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan bahan baku bamboo sebagai peralatan rumahtangga adalah umur, pendapatan, pengetahuan, dan pendidikan.Kata kunci: Bambu, Peralatan rumah tangga, Faktor pendorong, Perubahan
ETNOBOTANI TANAMAN KRATOM (Mitragyna speciosa) OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR DAS LABIAN DI DESA LABIAN IRA"™ANG KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Herawatiningsih, Ratna; sabtiani, Rita; Tavita, Gusti Eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72344

Abstract

Ethnobotany is a branch of science that studies the direct relationship between humans and plants in terms of their use and management, especially in traditional societies. The aim of this research is to document the ethnobotany and use of the kratom plant by the community in Labian Ira'ang Village. The Kratom plant (Mitragyna speciosa) is a type of endemic plant originating from Kalimantan and planted by the people of Labian Ira'ang village. There are two types of Kratom plants in Labian Ira'ang Village, namely red leaf veins and green leaf veins. The results of this research found that the ethnobotanical kratom plant can be used as traditional medicine, can also be used in traditional events, and can be used as a natural dye to make woven fabrics. Apart from that, kratom leaves have high economic value because they can be sold and are in great demand, while kratom wood can be used as a building material, for example to make huts and firewood for the community. The leaves can be used as mosquito coils.Keywords: Alkaloids, Mitragynin, Herbal Kratom Tea.Abstrak  Etnobotani adalah cabang keilmuan yang mempelajari hubungan langsung antara manusia dengan tumbuhan dalam hal pemanfaatan dan pengelolaannya terutama pada masyarakat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendokumentasi etnobotani dan pemanfaatan tanaman kratom oleh masyarakat di Desa Labian Ira"™ang. Tanaman Kratom   (Mitragyna speciosa) merupakan salah satu jenis tumbuhan endemik yang berasal dari Kalimantan dan ditanam oleh masyarakat di desa Labian Ira"™ang. Tanaman Kratom di Desa Labian Ira"™ang   terdapat dua jenis yaitu vena daun merah dan vena daun hujau. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa etnobotani tanaman kratom ini dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional, dapat juga dimanfaatkan dalam acara adat, dan dapat dijadikan sebagai pewarna alami untuk membuat kain tenunan. Selain itu daun kratom mempunyai nilai ekonomis  yang tinggi karena dapat dijual serta banyak peminatnya, sedangkan   kayu kratom  bisa digunakan sebagai bahan bangunan misalnya untuk membuat pondok dan kayu bakar bagi masyarakat. tulang daunnya dapat digunakan untuk obat nyamuk bakar.Kata kunci: Alkaloid, Mitragynin, Herbal Teh Kratom.
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT DESA SUNGAI SEPETI KECAMATAN SEPONTI KABUPATEN KAYONG UTARA Indrayani, Yuliati; sairi, agus; Wardenaar, Evy
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.56448

Abstract

The purpose of this study is to record and describe the use of types of medicinal plants by the community in Sungai Sepeti Village, Seponti District, North Kayong Regency. The research was conducted in Sepeti River village for four weeks effectively in the field, start from August 15th "“ September 15th 2021. The method used were surveys, observations, and direct interviews. Sampling was done by purposive sampling technique.The data was analyzed using qualitative descriptive techniques. Eighty-nine plants from 46 families were recorded as medicinal plants used by the people of Sungai Sepeti Village and were found to treat 54 kinds of diseases obtained from 86 respondents interviewed. The most treated diseases are internal diseases, with 48 types (89%) and six external diseases (11%). The most treated internal diseases such as cough, fever, hypertension, colds, and vaginal discharge in women. External diseases are tinea versicolor, ringworm, wounds, water fleas, iching, and body odor. The use of plants as medicinal materials mostly from the habitus of 39 species of herbs (44%). The origin of growing is most commonly found in the yards with 48 species (54%). The most widely used parts are leaves (40.57%). The most widely used processing is boiling (43,60%) and the highest method of use is dringking (49,29).Keywords: Medicinal Plants, Sungai Sepeti Village, UtilizationAbstrakTujuan dari penelitian ini untuk mendata dan mendeskripsikan pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan obat oleh masyarakat di Desa Sungai Sepeti Kecamatan Seponti Kabupaten Kayong Utara. Penelitian dilakukan di Desa sungai Sepeti selama 4 minggu efektif di lapangan mulai dari 15 Agustus sampai 15 September 2021. Metoda yang digunakan adalah metoda survey, observasi dan wawancara langsung. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Data tersebut dianalisis dengan teknik diskriptif kualitatif. Terdapat 89 tanaman dari 46 famili yang tercatat sebagai tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sungai Sepeti, dan ditemukan untuk mengobati 54 macam penyakit yang didapatkan dari 86 responden yang diwawancarai. Penyakit yang paling banyak diobati adalah penyakit dalam dengan 48 macam penyakit (89%) dan 6 macam penyakit luar (11%). Penyakit dalam yang paling banyak di obati adalah batuk, demam, hipertensi, masuk angin, dan keputihan pada wanita. Penyakit luar yaitu panu, kurap, luka, kutu air, gatal-gatal dan bau badan. Pemanfaatan tanaman sebagai bahan pengobatan sebagian besar berasal dari habitus herba 39 jenis (44%). Asal tumbuh paling banyak ditemui asdalah di pekarangan sebanyak 48 jenis (54%). Bagian yang paling banyak digunakan adalah daun 86 (40,57%). Pengolahan yang paling banyak dilakukan yaitu direbus (43,60%) dan penggunaan tertinggi dengan cara diminum (49,29%).Kata kunci: Tumbuhan Obat, Desa Sungai Sepeti, Pemanfaatan
PEMANFAATAN ROTAN SEBAGAI KERAJINAN ANYAMAN DI DESA LABIAN KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Yani, Ahmad; Dirhamsyah, M; Ferico, Febrianus
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.72483

Abstract

The use of rattan plants in each region is different both in terms of species and uses, as well as the form of craft products produced with various motifs and designs. This research aims to describe the various forms of woven crafts found in Labian Village, Batang Lupar District, Kapuas Hulu Regency. The data and information collection method is by interviews and observation, while determining respondents is by Purposive Sampling Technique. The results of the study found that there are 6 species of rattan utilized by the community in Labian Village as woven crafts, namely: Entibab rattan (Calamus blumei  Becc), Tunggal rattan (Calamus rugosus Becc), Tapah rattan (Calamus axillaris Becc), Danan rattan (Korthalsia rigida Blumei), Kelik rattan (Daemonorops oligophylla Becc), and Lambang rattan (Plectocomiopsis wrayi Becc). The woven craft products produced were 12 product, namely Pemansai,  Chair,  Table, Floor Mat, Rack, pat the mattress, fruit basket, vegetable basket, movable food cover, Basket, tissue box, and bracelet.Keywords: Rattan Utilization, Woven Crafts, Labian Village.AbstrakPemanfaatan tumbuhan rotan bagi setiap daerah memiliki perbedaan baik dilihat dari segi spesies maupun kegunaannya, serta bentuk produk kerajianan yang dihasilkan dengan berbagai macam motif dan disaennya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan macam bentuk kerajinan anyaman yang terdapat di Desa Labian  Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Metode pengumpulan data dan informasi dengan wawancara dan observasi, sedangkan penentuan responden dengan Teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian di dapatkan  6 jenis rotan yang dimanfaatkan masyarakat Desa Labian sebagai kerajinan anyaman  yaitu: Entibab rattan (Calamus blumei  Becc), Tunggal rattan (Calamus rugosus Becc), Tapah rattan (Calamus axillaris Becc), Danan rattan (Korthalsia rigida Blumei), Kelik rattan (Daemonorops oligophylla Becc), and Lambang rattan (Plectocomiopsis wrayi Becc. Produk kerajinan anyaman yang dihasilkan sebanyak 12 produk yaitu Pemansa,  Kursi,  Meja, Tikar, Rak, Tepuk Kasur, Keranjang Buah, Keranjang Sayur, Tudung Saji, Bakul, Kotak Tissu, dan Gelang Tangan.Kata kunci: Pemanfaatan Rotan, Kerajinan Anyaman, Desa Labian.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA) DI CAGAR ALAM LHO FAT PHUN FIE KECAMATAN MONTERADO KABUPATEN BENGKAYANG Darwati, Herlina; arianti, Wiwid; Rifanjani, Slamet; Marwanto, Marwanto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.63860

Abstract

Ferns is one kind of plants in Lho Fat Phun Fie Nature Reserve that has important function in forest ecosystem. This study aimed to describe the species of ferns and to obtain the value of ferns diversity index. This study was using a survey methode with multiple plot sampling technique. The plots placed purposively in areas where many types of ferns were found. The plot area used is 10 m x 10 m each 78 plot. The results showed that there were 19 species of 13 fern families. 19 spesies of fern were 17 types of terrestrial ferns and 2 types of epiphytic ferns. The highest important value index (INP) is the lemiding fern (Stenochlaena palustris), the dominance index value (C) was not dominant (0.21), the diversity index value (H’) is moderate (1,9) and the abundance index value (e) is high (0,6).Keywords: Diversity, Epiphytic ferns, Ferns, Terrestrial ferns.AbstrakTumbuhan paku merupakan salah satu tumbuhan yang terdapat di Cagar Alam Lho Fat Phun Fie yang mempunyai peran penting terhadap ekosistem hutan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan paku dan mendapatkan nilai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan paku di Cagar Alam Lho Fat Phun Fie. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan contoh petak ganda. Petak pengamatan dibuat sebanyak 78 petak berukuran 10 m x 10 m yang diletakkan secara purposive berdasarkan keberadaan tumbuhan paku dan tutupan lahan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 19 jenis tumbuhan paku yang termasuk dalam 13 famili. 19 jenis tersebut terdiri dari 17 jenis paku terestrial dan 2 jenis paku epifit. Nilai indeks nilai penting (INP) tertinggi adalah jenis paku lemiding (Stenochlaena palustris), nilai indeks dominansi (C) tumbuhan paku di Cagar Alam Lho Fat Phun Fie tergolong kecil atau tidak mendominansi (0,21), nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) tergolong sedang (1,9) dan nilai indeks kelimpahan (e) tergolong tinggi (0,6).Kata kunci: Keanekaragaman jenis, Paku epifit, Tumbuhan paku, Paku terestrial

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue