cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
POTENSI FLORA TANAMAN HIAS SEBAGAI ODTWA JALUR PATROLI AIR TERJUN GUHUNG ELANG RESORT BELABAN TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA Siahaan, Sarma; Wulandari, Reine Suci; Mangurai, Silvia Uthari Nuzaverra Mayang; Arianto, Arianto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72548

Abstract

Bukit Baka Bukit Raya National Park is a conservation area that is rich in biodiversity, including ornamental plant flora. The potential of this flora has not been fully exploited as a natural tourist attraction in the region, especially on the Guhung Elang Resort Belaban Waterfall patrol route Belaban Region-1. Ornamental plants are one of the potential objects to attract the attention of tourists because of their visual beauty and ecological value which helps strengthen environmental sustainability. This research aims to explore the potential of ornamental plant flora as a natural tourist attraction on the Guhung Elang Resort Belaban Waterfall Patrol Route Region-1 Bukit Baka Bukit Raya National Park. The research used a survey method to explore the diversity of ornamental plant flora around the tourist area. The starting point of the route is at the Belaban resort office information center. There are 2 observation routes, namely route 1 (Guhung Elang patrol route Km 37) and route 2 (Semunga waterfall route Km 35). Research parameters are plant type, coordinate points, distance and travel time. The results of the research found that there were potential ornamental plants in 20 families on both routes, with a total of 94 individuals. In route 1 there were 44 individuals, while in route 2 there were 50 individuals. The most common types of ornamental plants are orchids, senthe/ keladi, and nampu/murau. The discovery of the potential for ornamental plant flora provides an opportunity for the development of natural tourism in the area by working on the visual beauty and ecological value of ornamental plants, which can attract tourists to visit this location. The discovery of the potential for ornamental plant flora provides an opportunity for the development of natural tourism in the area by working on the visual beauty and ecological value of ornamental plants, which can attract tourists to visit this location.Keywords: Flora, Guhung Elang, Ornamental Plants, PotencyAbstrakTaman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu kawasan konservasi yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk flora tanaman hias. Potensi flora ini belum dimanfaatkan sepenuhnya sebagai objek daya tarik wisata alam di wilayah tersebut, terutama di jalur patroli Air Terjun Guhung Elang Resort Belaban Wilayah-1. Tanaman hias menjadi salah satu objek yang potensial untuk menarik perhatian wisatawan karena keindahan visualnya serta nilai ekologis yang membantu memperkuat keberlangsungan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi flora tanaman hias sebagai objek daya tarik wisata alam di Jalur Patroli Air Terjun Guhung Elang Resort Belaban Wilayah-1 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Penelitian menggunakan metode survei untuk mengeksplorasi keanekaragaman flora tanaman hias yang ada di sekitar area wisata. Titik awal jalur di pusat informasi kantor resort Belaban. Terdapat 2 jalur pengamatan, yaitu jalur 1 (jalur patroli Guhung Elang Km 37) dan jalur 2 (jalur air terjun Semunga Km 35). Parameter penelitian adalah jenis tanaman, titik koordinat, jarak tempuh, dan waktu tempuh. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat potensi tanaman hias sebanyak 20 famili pada kedua jalur, dengan total individu sebanyak 94. Pada jalur 1 terdapat 44 individu, sementara di jalur 2 terdapat 50 individu. Jenis tanaman hias yang paling umum adalah anggrek, senthe/keladi, dan nampu/murau. Temuan potensi flora tanaman hias ini memberikan peluang untuk pengembangan wisata alam di area tersebut dengan menggarap keindahan visual dan nilai ekologis tanaman hias, dapat menarik minat wisatawan untuk mengunjungi lokasi tersebut.Kata kunci: Flora, Potensi, Tanaman Hias, Guhung Elang
POTENSI SERAPAN CARBON JATI UNGGUL NUSANTARA PADA VARIASI PERSAMAN PENAKSIR DAN UMUR Suhartati, Tatik; Wahyudiono, Sugeng; Mahdi, Muhammad Alwan; Purwadi, Purwadi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.72036

Abstract

Forest plantations have a potential role in reducing carbon emissions. Forest plantations serve a dual role of wood production and ecological restoration, which has a significant impact on the global carbon cycle. Planting, maintenance, and harvesting in forest plantations lead to dynamic changes in carbon storage. Estimating the carbon stock can determine emissions released into the atmosphere when there is a change in land cover. This study aims to determine the biomass, carbon stock, and CO2 sequestration of Jati Unggul Nusantara (JUN) stands at the ages of 3, 5, and 7 years in BDH Paliyan. Sampling was conducted using systematic sampling with random start. Five plots were selected to represent each age. Total height (h) and diameter at breast height (dbh) were measured for all trees in the plots. Biomass estimation was done using allometric equations with three variations of predictor variables: dbh alone, dbh and tree height, and Biomass Expansion Factor (BEF). The CO2 sequestration potential of JUN at 3 years of age ranged from 15,17 to 20,.38 tons CO2 eq./ha, at 5 years of age, it ranged from 54,98 to 65,02 tons CO2 eq./ha, and at 7 years of age, it ranged from 179,42 to 204,72 tons CO2 eq./ha. For 3 years of age, the biomass estimation equation that uses dbh alone and the BEF method can be used to estimate biomass, while for 5 and 7 years of age, all three equations can be used for biomass estimation.Keywords: Jati Unggul Nusantara, Biomass, Carbon sequestrationAbstrakHutan tanaman memiliki peran potensial dalam mengurangi emisi carbon. Hutan tanaman memiliki peran ganda yaitu produksi kayu dan restorasi ekologi yang berdampak penting terhadap siklus carbon global. Penanaman, pemeliharaan dan diikuti pemanenan pada hutan tanaman berakibat pada perubahan simpanan carbon yang dinamis. Penaksiran stok karbon yang tersimpan dapat menentukan emisi yang dilepaskan ke atmosfer saat terjadi perubahan tutupan lahan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui biomasa, cadangan carbon, dan jumlah serapan CO2 tegakan Jati Unggul Nusantara (JUN) umur 3, 5 dan 7 tahun di BDH Paliyan.  Pengambilan sampel dilakukan dengan metode systematic sampling with random start. Sejumlah 5 plot diambil pada petak yang mewakili masing-masing umur. Tinggi total dan diameter setinggi dada diukur pada semua pohon dalam plot. Penaksiran biomasa menggunakan persamaan alometrik dengan 3 variasi variabel penaksir yaitu diameter setinggi dada (dbh) saja; diameter setinggi dada dan tinggi pohon (dbh dan tinggi); dan Biomass Expantion Factor (BEF). Potensi serapan CO2 JUN umur 3 tahun antara 15,17 - 20,38 ton CO2 eq./ha,  pada umur 5 tahun 54,98 antara 60,71-65,02 ton CO2 eq. /ha dan umur 7 tahun antara  179,42-204,72 ton CO2 eq. /ha.  Pada umur 3 tahun persamaan yang hanya menggunakan dbh saja dan metode BEF dapat dipergunakan menaksir biomasa, sedangkan pada umur 5 dan 7 tahun ketiga persamaan dapat dipergunakan untuk menaksir biomasa.Kata kunci: Jati Unggul Nusantara, Biomasa, Serapan Carbon. 
ESTIMASI KANDUNGAN KARBON MANGROVE PADA AREAL PENANAMAN TAHUN 2012 DI KAWASAN HUTAN MANGROVE SETAPUK BESAR SINGKAWANG UTARA Ngidu, Eufemia Yasinta; Astiani, Dwi; Ekamawanti, Hanna Artuti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.72327

Abstract

Mangrove habitats play an essential role in the sequestration and storage of carbon. Mangroves absorb CO2 through photosynthesis to create carbohydrates stored as biomass in the leaves, stems, and roots. The objective of this study was to estimate the amount of mangrove carbon in the region of the 2012 planting year located in the mangrove forest area of Setapuk Besar Village. Biomass estimation employs a survey and non-destructing method by measuring tree stem diameter at breast height (DBH). According to the findings of this study, the mangrove forest area in Setapuk Besar Village can store up to 139.62 tons of carbon per hectare, equivalent to carbon dioxide (CO2) that can be absorbed at 511.98 tons/ha. Carbon stored above and below the soil surface and soil carbon contain respective values of 65.60 tons C/ha, 50.91 tons C/ha, and 23.11 tons C/ha.Keywords: Carbon stocks, forest biomass, mangrove forest, Setapuk Besar SingkawangAbstrakEkosistem mangrove mempunyai peran untuk menyerap dan menyimpan karbon. Mangrove melakukan penyerapan CO2 melalui proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk biomassa pada daun, batang maupun akar. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengestimasi jumlah karbon mangrove pada areal penanaman tahun 2012 yang terdapat pada kawasan hutan mangrove Kelurahan Setapuk Besar. Estimasi biomassa menggunakan metode survei dengan pengambilan data tanpa pemanenan yaitu mengukur diameter batang setinggi dada (DBH) atau pada batas tinggi 1,3 m dari permukaan tanah. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan kawasan hutan mangrove Setapuk Besar dapat menyimpan karbon sebanyak 139,62 tonC/ha dengan jumlah karbondioksida yang mampu diserap sebesar 511,98 ton/ha. Jumlah karbon yang diserap merupakan karbon tersimpan di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah maupun karbon tanah dengan nilai masing-masing yaitu 65,60 tonC/ha, 50,91 tonC/ha dan 23,11 tonC/ha.Kata kunci: biomassa hutan, hutan mangrove, karbon, Setapuk Besar Singkawang
PEMANFAATAN TUMBUHAN BAHAN PANGAN OLEH MASYARAKAT DI DESA DALAM KECAMATAN SELIMBAU KABUPATEN KAPUAS HULU Dewantara, Iswan; Safitri, Melia; Zainal, Sofyan; Destiana, Destiana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.78433

Abstract

The utilization of plants as food continues to grow and increase with research related to the identification and utilization of plants that have potential as food. The purpose of this research is to record what types of plants are used as food ingredients by the people of Desa Dalam and classify how to use and process food plants as food ingredients by the people of Desa Dalam. The research was conducted in Dalam Village for 1 month effectively in the field. The method used was survey and observation with direct interview techniques. Techniques using purprosive sampling. Based on the results of the study, 36 plants were recorded as food ingredients utilized by the community, with 24 families identified and the dominating family was Anacardiaceae. Based on habitus, trees are the most commonly found habitus, which is as many as 18 species (50%). Based on the plant part used is the fruit part, which is 24 species (66.67%). Based on the most widely used food group is vitamins, namely as many as 16 types (44.44%). Based on the way of processing direct consumption is the most common way found, namely as many as 21 types (58.33%). And based on the status of the place of growth, plants that grow wildly and can be cultivated are most commonly found as many as 21 species (58.33%). The highest use value is water spinach (0.45) and the lowest is pineapple (0.20).Keywords: Food Plants, Plant Utilization, Way of UtilizationAbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pangan terus berkembang dan meningkat dengan adanya penelitian terkait identifikasi dan pemanfaatan tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan pangan. Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis-jenis tumbuhan apa saja yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Desa Dalam dan mengelompokkan cara pemanfaatan serta pengolahan tumbuhan pangan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Desa Dalam. Penelitian dilaksanakan di Desa Dalam selama 1 bulan efektif dilapangan. Metode yang digunakan adalah survei dan observasi dengan teknik wawancara langsung. Teknik dengan menggunakan purprosive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 36 tumbuhan yang tercatat sebagai bahan pangan yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan 24 famili teridentifikasi dan famili yang mendominasi adalah Anacardiaceae. Berdasarkan habitus, pohon merupakan habitus yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 18 jenis (50%). Berdasarkan bagian tumbuhan yang digunakan adalah bagian buah, yaitu sebanyak 24 jenis (66,67%). Berdasarkan kelompok pangan yang paling banyak digunakan adalah vitamin, yaitu sebanyak 16 jenis (44,44%). Berdasarkan cara pengolahan konsumsi langsung merupakan cara paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 21 jenis (58,33%). Dan berdasarkan status tempat tumbuh, tumbuhan yang tumbuh secara liar dan dapat dibudidayakan   paling banyak ditemukan sebanyak 21 jenis (58,33%). Hasil nilai guna tertinggi yaitu kangkung (0,45) dan terendah yaitu nanas (0,20). Kata kunci: Tumbuhan Pangan, Cara Pemanfaatan, Pemanfaatan Tumbuhan  
POTENSI DAN PEMANFAATAN AREN (Arenga pinnata) OLEH MASYARAKAT DI DESA GEMA KECAMATAN SIMPANG DUA KABUPATEN KETAPANG M, Iskandar A; Wirando, Wirando; Tavita, Gusti eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.64258

Abstract

The sugar palm plant (Arenga pinnata) is a versatile palm plant that can be used in almost all parts and has economic value. The research objective was to obtain information on the potential and utilization of Aren for further use by the community in Gema Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency. The research was carried out in February-March 2022 using the census method, namely to take an inventory of sugar palm plants based on growth rates, interviews and documentation. The results showed that there were 242 individual Aren plants in Gema Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency with a potential of 47.93% not yet productive Aren plants, 26.85% almost productive Aren plants, 9.91% productive Aren plants, and 9.91% non-productive Aren plants. Productive 15.41%. The people of Gema Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency use male flowers which can produce palm sap water as a raw material for making palm sugar, which is divided into jiroh (liquid sugar), solid sugar (brown sugar) and ant sugar. In addition, the fruit is used as fruit and fro, the leaves are used as a wrapper for solid sugar (brown sugar) and broom sticks and fibers are used as a substitute for filters and as a lid for water.Keywords: Aren, Potential Aren, Utilization Of Aren.AbstrakTumbuhan Aren (Arenga pinnata) merupakan tumbuhan palma yang serbaguna dapat dimanfaatkan hampir disemua bagian dan memiliki nilai ekonomi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi terhadap potensi dan pemanfaatan Aren untuk selanjutnya dapat dimanfaatatkan secara terus menerus oleh masyarakat di Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang. Penelitian  dilaksanaan pada Februari-Maret 2022  menggunakan metode sensus, yaitu untuk menginventarisasi tumbuhan Aren berdasarkan tingkat pertumbuhan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sejumlah 242 individu tumbuhan Aren di Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang dengan potensi tumbuhan Aren belum produktif 47,93%, tumbuhan Aren hampir produktif 26,85%, tumbuhan Aren sedang prodktif 9,91%, dan tumbuhan Aren tidak produktif 15,41%. Masyarakat Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang memanfaatkan bunga jantan yang dapat menghasilkan air nira Aren sebagai bahan baku pembuatan gula Aren yang terbagi menjadi jiroh (gula cair), gula padat (gula merah) dan gula semut. Selain itu buah dimanfaatkan sebagai kolang-kaling, daun dimanfaatkan sebagai pembungkus gula padat (gula merah) maupun sapu lidi dan ijuk dimanfaatkan sebagai penganti penyaring maupun sebagai tutup labu air.Kata kunci: Aren, Potensi Aren, Pemanfaatan Aren.
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA RIAM BATU TIMAH DI DUSUN MADI KABUPATEN BENGKAYANG Muflihati, Muflihati; Paulina, Paulina; Rifanjani, Slamet
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.75770

Abstract

Riam Batu Timah, located in Madi Village, Lumar District, Bengkayang Regency, is a tourist attraction that has natural beauty and tourist attractions so that it has the potential to compete with other tourist destinations. Even though it has great potential, Riam Batu Timah is still not well recognized, so the number of visitors is still low. The development of Riam Batu Timah as a tourist destination can create opportunities to increase regional income. The purpose of this study was to analyze the ecotourism development strategy of Riam Batu Timah based on internal and external factors. The research used survey methods and interviews with Pokdarwis and related agencies and analyzed using SWOT. The results showed that the Batu Timah Ecotourism development strategy is an aggressive strategy (S-O) which is a strategy that utilizes all strengths to obtain and take advantage of opportunities.Keywords: aggressive strategy, IFAS and EFAS, Riam Batu Timah, SWOT analysis.AbstrakRiam Batu Timah terletak di Desa Madi Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, merupakan objek wisata   yang memiliki keindahan alam dan atraksi wisata sehingga memiliki potensi untuk bersaing dengan destinasi wisata lainnya. Meskipun memiliki potensi yang besar, Riam Batu Timah masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, sehingga jumlah pengunjungnya masih sedikit. Pengembangan Riam Batu Timah sebagai tujuan wisata dapat menciptakan peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis strategi pengembangan ekowisata Riam Batu Timah berdasarkan faktor internal dan eksternal. Penelitian menggunakan metode survei dan wawancara kepada Pokdarwis dan instansi terkait dan dianalisis dengan menggunakan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan strategi pengembangan Ekowisata Riam Batu Timah adalah strategi agresif (S-O) dimana strategi yang memanfaatkan seluruh kekuatan untuk memperoleh dan memanfaatkan peluang yang dimiliki.Kata kunci               : strategi agresif, IFAS dan EFAS, Riam Batu Timah, analisis SWOT.
KAJIAN PEMANFAATAN JENIS-JENIS PANDANUS (PANDANACEAE) OLEH MASYARAKAT DESA NANGA KERUAP KABUPATEN MELAWI Sisillia, Lolyta; sabalaka, Sunsugos; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63721

Abstract

This study aims to examine the types of pandanus (Pandanceae) used by the community and the form/pattern of pandanus utilization by the people of Nanga Keruap Village, Menukung District, Melawi Regency. Based on the results of the study, it was found that there were four types of pandanus plants, namely fragrant pandanus (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) and soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). The highest Use Value (UV) was from the kajang plant (Pandanus aristatus Martelli) with a value of 1. The highest Informant Consensus Factor (ICF) was found in the user group as housing materials, food ingredients, dyes, and traditional rituals, with an average value of 1. The highest Fidelity Level (FL) was found in soil plants with a value of 100%. Leaves are the most widely used part of the pandanus plant. The pattern of using pandanus plants tends to be personal consumption. Each type of pandanus is taken and processed into a product by the community as an individual need, not for sale. Pandanus plants are obtained from the wild (kajang, ririh, and soli) and cultivated plants (fragrant pandan).Keywords: Pandanaceae, pandanus, plants, utilization, Nanga Keruap Village.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis pandanus (Pandanaceae) yang dimanfaatkan masyarakat serta mengkaji bentuk/pola pemanfaatan pandanus oleh masyarakat Desa Nanga Keruap Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi. Penelitian ini dilakukan dengan metode Snowball sampling dan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 4 jenis tumbuhan pandanus yaitu pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) dan soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). Use Value (UV) tertinggi yaitu dari jenis tumbuhan kajang (Pandanus aristatus Martelli) dengan nilai 1. Informant Consensus Factor (ICF) tertinggi terdapat pada kelompok pemanfaatan sebagai bahan perumahan, bahan makanan, pewarna, dan ritual adat dengan rata-rata nilai 1. Fidelity Level (FL) tertinggi terdapat pada tumbuhan soli dengan nilai 100%. Daun merupakan bagian tumbuhan pandanus yang paling banyak dimanfaatkan. Pola pemanfaatan tumbuhan pandanus cenderung bersifat konsumsi pribadi dimana setiap jenis pandanus yang diambil dan diolah menjadi sebuah produk oleh masyarakat sebagai kebutuhan pribadi tidak untuk dijual. Tumbuhan pandanus diperoleh dari tumbuhan liar (kajang, ririh, dan soli) dan budidaya (pandan wangi).Kata kunci: Desa Nanga Keruap, pandanaceae, pandanus, pemanfaatan, tumbuhan.
POTENSI DAN POLA PENYEBARAN JENIS-JENIS ROTAN DI PT. HUTAN KETAPANG INDUSTRI KECAMATAN KENDAWANGAN KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT, STUDI KASUS: DESA PANGKALAN BATU DAN DESA KEDONDONG Dewantara, Iswan; Darwati, Herlina; Sulistiawati, Nanda
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.70288

Abstract

PT. Hutan Ketapang Industri (HKI) is a company engaged in the rubber industry with a concession area of approximately 100,000 hectares in Ketapang Regency, West Kalimantan Province. Pangkalan Batu Village and Kedondong Village are located in the Kendawangan Block where the people who live around them still use natural products such as rattan. Rattan is a kind of climbing palm that belongs to the Arecaceae family. Rattan is one of the potential non-timber forest products that is widely used because of its high value in world trade. The purpose of this study was to obtain data on the type, potential and distribution pattern of rattan in the area of PT Hutan Ketapang Industri, Kendawang District, Ketapang Regency. The research was conducted using the double plot method, with a total of 11 plots. Plot placement was done deliberately (purposive sampling). The results showed that there were 5 types of rattan which had very large potential and a wide distribution was found in oxysol and entisol soil types with scattered and clustered distribution patterns. The rattan that has the greatest potential is Calamus mattanensis Becc with a potential of 7,125 individuals per hectare. Keywords: Morphology, Non-Timber Forest Products, RattanAbstrakPT. Hutan Ketapang Industri (HKI) adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri karet dengan luas konsesi sebesar kurang lebih 100,000 hektar di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Desa Pangkalan Batu dan Desa Kedondong terdapat di Blok Kendawangan dimana masyarakat yang tinggal disekitar masih menggunakan hasil alam contohnya rotan. Rotan merupakan jenis palem memanjat termasuk ke dalam famili Arecaceae. Rotan merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang potensial, banyak dimanfaatkan karena nilainya yang tinggi dalam perdagangan dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data jenis, data potensi dan pola penyebaran rotan yang ada di area Kawasan PT Hutan Ketapang Industri Kecamatan Kendawang Kabupaten Ketapang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode petak ganda, dengan jumlah petak sebanyak 11 petak. Peletakan petak dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis rotan yang memiliki potensi yang sangat besar dan memiliki sebaran yang luas dan ditemukan pada jenis tanah oxisol dan entisol dengan pola penyebaran menyebar dan mengelompok. Rotan yang memiliki potensi terbesar merupakan Calamus mattanensis Becc dengan potensi 7.125 individu per Ha.Kata kunci: Hasil hutan bukan kayu, Morfologi, Rotan
IDENTIFIKASI TUMBUHAN PAKAN LUTUNG SENTARUM (Presbytis crhysomelas cruciger Thomas 1892) DI RESORT SEMANGIT TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM KALIMANTAN BARAT Suliyani, Suliyani; Prayogo, Hari; Erianto, Erianto; Santoso, Nyoto; Ega putra, Rizki Akbar
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.62157

Abstract

Lutung  Sentarum merupakan lutung yang pertama kali ditemukan di Indonesia khususnya hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat (new record). Lutung Sentarum merupakan satwa herbivora yang menjadikan tumbuhan sebagai pakan utamanya. Identifikasi jenis pakan lutung sentrarum diperlukan agar diketahui jenis tanaman apa saja yang menjadi sumber pakan lutung sentarum. Penelitian dilakukan di Resort Semangit Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi tumbuhan yang menjadi pakan dan bagian apa yang menjadi pakan lutung sentarum yang terdapat di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Metode yang digunakan yaitu survey dengan mengumpulkan data dengan cara jelajah. Hasil penelitian dari identifikasi ditemukan 7 jenis tumbuhan pakan lutung sentarum, yaitu, Archidendron pauciflorum, Adenia macrophylla, Bellucia axinanthera, Combretocarpus rotundifolius, Hevea brasiliensis, Planchonella obovata dan Willughbeia coriacea. Bagian tumbuhan yang menjadi pakan lutung sentarum adalah biji dan daun. Bagian tumbuhan pakan yang paling disukai lutung sentarum adalah biji karet.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN OBJEK EKOWISATA BUKIT SELAPAR DI DESA CIPTA KARYA KECAMATAN SUNGAI BETUNG KABUPATEN BENGKAYANG Zainal, Sofyan; Marsiana, Marsiana; Oramahi, H A; Marwanto, Marwanto
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.76674

Abstract

Cipta Karya Village, Sungai Betung District, Bengkayang Regency, has the Bukit Selapar ecotourism area developed by the local village community. The existence of an ecotourism area in an area will give different perceptions to each individual, depending on the characteristics of the local community. This research aims to examine and analyze the existence of the Bukit Selapar ecotourism object in Cipta Karya Village regarding the relationship between income, knowledge and cosmopolitan levels with the community's perception of the existence of the Bukit Selapar ecotourism object. The research method used is a descriptive survey method. The sample of respondents was 68 families, which is part of a total population of 215 families. The research results show that the people of Cipta Karya Village, Sungai Betung District, have a positive perception of the existence of Bukit Selapar. People with positive perceptions support and are involved in the development of Bukit Selapar, with a frequency of 49 people and a percentage of 72.06%. Income level is not significant and has a negative relationship with public perception. Meanwhile, the level of knowledge and cosmopolitanism, although not significant, have a positive relationship with the public's perception of the existence of Bukit Selapar as ecotourism.Keywords: Community Perception, Ecotourism, and Existence.AbstrakDesa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang, memiliki kawasan ekowisata Bukit Selapar yang telah dikembangkan oleh masyarakat desa setempat. Keberadaan kawasan ekowisata di suatu daerah akan memberikan persepsi yang berbeda-beda pada setiap individu, tergantung pada karakteristik masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan menganalisis keberadaan objek ekowisata Bukit Selapar di Desa Cipta Karya terhadap hubungan antara tingkat pendapatan, pengetahuan, dan kosmopolitan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan objek ekowisata Bukit Selapar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yang bersifat deskriptif. Sampel responden yang diambil sebanyak 68 KK, yang merupakan sebagian dari jumlah populasi sebanyak 215 KK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, memiliki tingkat persepsi positif terhadap keberadaan Bukit Selapar. Masyarakat yang memiliki persepsi positif adalah mereka yang mendukung dan ikut terlibat dalam pengembangan Bukit Selapar, dengan frekuensi 49 orang dan persentase 72,06%. Tingkat pendapatan tidak signifikan dan memiliki hubungan negatif terhadap persepsi masyarakat. Sementara itu, tingkat pengetahuan dan kosmopolitan, meskipun juga tidak signifikan, memiliki hubungan positif terhadap persepsi masyarakat mengenai keberadaan Bukit Selapar sebagai ekowisata.Kata kunci: Persepsi Masyarakat, Ekowisata, dan Keberadaan

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue