Jurnal Psikologi Islam
Jurnal Psikologi Islam Focus and Scope is integration of Psychology and Islamic values, such as Islamic psychology measuring instruments, Islamic psychology intervention, Study of classical and modern Islamic Psychology, Study of classical and modern Islamic Psychology figures, Muslim community, Islamic spirituality and religiosity, Study of developing Islamic psychology concept from Al-Quran and Hadith, Study of the concept of the moral in psychological development.
Articles
112 Documents
Tipe kepribadian conscientiousness dan self-regulated learning mahasiswa dalam menghafal Alquran Juz 30
Rahmalia, Putri;
Kardinah, N;
Kurniadewi, Elisa
Jurnal Psikologi Islam Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.516 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v6i2.85
Penelitian ini berawal dari fenomena ketidaksesuaian antara tipe kepribadian conscientiousness mahasiswa yang terindikasi tinggi namun menunjukkan indikasi rendahnya self-regulated learning dalam menghafal Alquran juz 30. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tipe kepribadian conscientiousness dengan self-regulated learning mahasiswa dalam menghafal Alquran juz 30. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 40 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Angkatan 2014 sebagai sampel. Hasil menujukkan hipotesis penelitian yang diajukan diterima, koefisien korelasi sebesar rxy = 0,594 dengan p = 0,000 (p ˂ 0,05). Kesimpulan hasil penelitian adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara tipe kepribadian conscientiousness dengan self-regulated learning mahasiswa dalam menghafal Alquran juz 30. Kata kunci: Tipe kepribadian conscientiousness, Self-regulated learning, Menghafal Alquran
Gratitude and Quality of Life in Muslim Early Adulthood
Rahmania, Farra Anisa
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (365.619 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i1.87
At the stage of development, individuals will pass the adolescence stage to the adult stage. At that stage, the individual will be in the early adult phase, where the individual will focus on preparing for his future and evaluating his adolescence so that in adulthood individuals have a quality life. In a quality life, there is an element of religiosity, wherein a Muslim's life gratitude is one aspect of religiosity. The objective of this study is to investigate the correlation between gratitude and quality of life in Muslim early adulthood. The subjects in this study were 101 Muslims early adulthood consisting of college students and working individuals. Data collection in this study uses a scale in the form of a questionnaire to reveal two variables, namely WHOQOL-BREF scale from WHO (World Health Organization) and then the scale of gratitude is a scale developed by Rusdi (2016). The results of data processing with Pearson Product Moment correlation on 101 subjects showed that quality of life and gratitude were positively correlated significantly (p <0.05) with p = 0.000 and the correlation coefficient of r = 0.450. The research had a limitation that the gratitude scale can only be applied to the subject of a Muslim because the measuring instrument used has a value that is trusted by Muslims and this research only applied to subjects in a number of regions in Indonesia. It is hoped that this research can be a study of psychology, especially in the study of Islamic psychology. Keywords: Gratitude, Quality of Life, Early Adulthood, Muslims
PSIKOLOGI SOSIAL DAN QUARTER-LIFE CRISIS, PSIKOLOGI ISLAM DAN SOLUSINYA
Kemas Mohd Saddam Abd Somad
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (429.205 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i1.94
Quarter-life crisis merupakan periode dalam kehidupan manusia di antara remaja dan dewasa pada usia sekitar 18-30 tahun yang ditandai dengan kebingungan, kecemasan dan krisis emosional seperti kesedihan, isolasi, dan ketakutan akan kegagalan. Artikel ini secara khusus menganalisis quarter-life crisis ditinjau dari sudut pandang Psikologi Sosial dan solusi yang ditawarkan oleh Psikologi Islam. Kekaburan akan norma yang berlaku pada periode tersebut dan ekspektasi terhadap quarter-life crisis itu sendiri menjadi 2 faktor yang mendorong terjadinya krisis di periode ini ditinjau dari sudut pandang Psikologi Sosial. Sementara bersangka baik terhadap Allah dan berekspektasi positif terhadap periode quarter-life merupakan solusi yang ditawarkan oleh Psikologi Islam terkait krisis pada periode ini.
Islamic Parenting Style sebagai Solusi Anak Menghadapi Fase Quarter-life Crisis
M Sahal Machfudh
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (237.19 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i2.95
Keluarga merupakan sebuah sistem sosial terkecil individu dalam kehidupannya. Manusia adalah makhluk dinamis yang mengalami tahap perkembangan dalam kehidupannya. Di setiap fase perkembangan manusia terdapat karakteristik dan krisis-krisis yang harus dilewati dengan baik. Salah satu krisis yang kerap kali menimbulkan sebuah tantangan dan masalah, yakni Quarter-life Crisis atau krisis di seperempat usia individu. Islamic parenting sendiri adalah pengasuhan anak dalam proses tumbuh kembangnya sesuai ajaran Islam. Penanaman nilai-nilai Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam Islamic Parenting menghadapi Quarter-life Crisis ini terdapat 5 tahapan yaitu: Sosialisasi (al-Mukalatah), Pembiasaan (al-I‟tiyad), Pembelajaran (al-Ta‟allum), Internalisasi dan integritas, dan menjadi anak sholeh sholehah. Islamic Parenting ini dapat membantu anak melewati fase Quarter-life Crisis dalam kehidupannya karena sudah teringrasi dan terinternalisasi nilai-nilai pola asuh islami yang selalu bertawakal kepada Allah SWT.
Self Compassion: Regulasi Diri untuk Bangkit dari Kegagalan dalam Menghadapi Fase Quarter Life Crisis
Nabila, Aida
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.673 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i1.96
Quarter Life Crisis yaitu krisis emosi berupa stress, depresi, merasa terisolasi, ragu dan takut akan masa depan dan terjadi pada individu yang berusia antara 18-30 tahun. Krisis tersebut terjadi akibat individu yang beranjak dewasa perlu menentukan pilihan hidupnya seperti pendidikan, pekerjaan, urusan finansial, dan menikah. Individu dapat lebih merasa tertekan bila membandingkan kehidupannya dengan gambaran kehidupan ideal dari lingkungan sosialnya. Self Compassion memiliki perbandingan yang lebih fleksibel dibandingkan self esteem. Strategi regulasi emosi tersebut terdiri dari self kindness, common humanity, dan mindfulness. Individu dapat menerima perasaan kecewa ketika mengalami kegagalan dan dapat melakukan hal baru untuk mengembangkan dirinya. Individu juga dapat menerima kekurangan pasangan dan lebih menyayangi pasangannya. Individu yang dekat dan percaya pada Tuhan lebih menyayangi dirinya dan mindfull terhadap stress yang dialaminya.Kata kunci : Quarter Life Crisis, Self Esteem, Self Compassion, Kegagalan, Mindfullness
Iman dan Jurnal IMAN: Sebuah Strategi dalam Menghadapi Quarter-Life Crisis
Heryadi, Nabila Netrianda
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (333.461 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i1.104
Istilah Quarter-Life Crisis (QLC) menjadi salah satu topik hangat yang ramai diperbincangkan di jagat maya belakangan ini. Selama periode krisis dewasa awal, seseorang dapat mempertanyakan identitas pribadi dan sosial, seperti pertanyaan tentang 'siapa saya', serta melakukan upaya aktif untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui eksplorasi dan trial-and-error (Robinson et al., 2013). Setelah krisis dewasa awal, terdapat kemungkinan munculnya perasaan depresi dan rendah diri jika upaya untuk mengatasi krisis tersebut gagal dilakukan (Robinson & Wright, 2013). Salah satu cara efektif untuk menghadapi permasalahan QLC adalah dengan membantu seseorang membangun struktur kehidupannya dengan baik. Memiliki pandangan hidup dengan kacamata Islam atau Islamic worldview dapat membantu seseorang mengurangi rasa khawatir akan masa depan karena meyakini sejatinya setiap manusia telah memiliki takdirnya masing-masing. Menerapkan Islamic worldview ketika membangun struktur kehidupan seperti yang dimaksud oleh Levinson, memerlukan dasar keimanan yang kuat dan juga memerlukan latihan. Oleh karena itu, penulis mengusulkan sebuah gagasan untuk melatih seseorang memandang segala aspek kehidupannya dengan Islamic worldview melalui metode planning dan journaling. Kedua metode ini dapat diterapkan dengan bantuan Jurnal IMAN (Inspiring Muslim & Muslimah Notebook), yakni sebuah jurnal harian sekaligus planner yang dapat membantu seseorang dalam membuat perencanaan hidup dan melakukan pencatatan terhadap setiap progress dalam kehidupan.
Pengaruh Religiusitas dan Peran Gender Sexism Terhadap Kecenderungan Perilaku Kekerasan Pasangan Intim (Intimate Partner Violence) Pada Laki-Laki Yang Telah Menikah
Masyhadi, Anisia Kumala;
Vany Aprilia
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.452 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i2.109
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas dan peran gender sexism terhadap kecenderungan perilaku kekerasan pada pasangan intim (Intimate Partner Violence) khususnya di Indonesia. Hal ini di latar belakangi oleh adanya ketidakkonsistenan hasil pada penelitian sebelumnya, mengenai pengaruh religiusitas terhadap kekerasan pada pasangan intim (Intimate Partner Violence). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Religious Commitment Inventory – 10 (RCI-10) yang dikembangkan oleh Worthington et al. (2003) sebagai skala religiusitas, The Gender Role Attitudes Scale (GRAS) yang dikembangkan oleh García-cueto et al. (2015) sebagai skala peran gender sexism, dan The Conflict Tactics Scales yang telah direvisi oleh Straus et al. (1996) sebagai skala Intimate Partner Violence. Sampel dalam penelitian ini adalah laki-laki yang telah menikah dengan usia pernikahan minimal 1 tahun, dan penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 102 responden. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa multiple regression. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, religiusitas dan peran gender sexism secara signifikan mempengaruhi tindakan kekerasan terhadap pasangan intim (Intimate Partner Violence). Religiusitas memiliki pengaruh negatif, sehingga semakin tinggi religiusitas maka akan semakin rendah risiko laki-laki untuk melakukan tindak kekerasan terhadap pasangannya. Namun, peran gender sexism memiliki pengaruh positif, sehingga semakin tinggi peran gender sexism maka akan semakin tinggi pula risiko laki-laki untuk melakukan tindak kekerasan terhadap pasangannya.
Perilaku Seksual Masturbasi pada Remaja di Tinjau dari Parental Bonding
Iqbal Kurniawan;
Rida Yanna Primanita
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (203.051 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i2.110
Masa remaja merupakan masa dimana individu mulai memiliki dorongan melakukan perilaku seksual terutama masturbasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku masturbasi pada remaja adalah orangtua.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan tingkat perilaku masturbasi ditinjau dari parental bonding pada remaja di Kabupaten Solok. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja yang berada di Kabupaten Solok dengan sampel sebanyak 51 orang remaja yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimen yaitu survei. Pengumpulan data menggunakan skala parental bonding instrument (PBI) oleh Parker, Tupling & Brown. (1979) yang telah diadaptasi dan telah dikerucutkan menjadi 10 item berdasarkan nilai reliabilitas dan validitas yang tinggi, dan skala perilaku masturbasi menggunakan attitudes toward masturbation scale oleh Young & Muehlenhard (2010) yang telah di modifikasi dan dikerucutkan menjadi 14 item. Analisis data menggunakan Kruskal Wallis. Dari hasil analisis data diperoleh nilai Chi Square sebesar 1,586 dengan nilai signifikansi sebesar 0, 452. Dengan nilai signifikansi yang besar dari 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada perilaku bullying pada remaja di Kabupaten Solok ditinjau dari parental bonding. Dari penelitian ini diketahui bahwa kebanyakan remaja memiliki tipe PB optimal parenting, dan tingkat perilaku masturbasi tinggi sebesar 52,94%.
Psikologi Islam PSIKOLOGI ISLAM DI ERA POSTMODERNISME PERSPEKTIF GENUINE PSYCHOLOGY: Genuine Psychology
Eko, Eko Oktapiya Hadinata;
Eko Oktapiya Hadinata
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (187.814 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i2.113
ABSTRAK Memahami manusia sekaligus mendeskripsikannya tidaklah mudah. Karena keunikan dan kompleksnya dalam meneliti manusia, mengeneralisasi sebuah teori untuk mendeskripsikan manusia; perilaku, bukan solusi yang tepat. Karena manusia makhluk dua dimensi yang dengan demikian, tidak cukup mendeskripsikannya dalam satu perspektif ilmu pengetahuan, terlebih lagi jika disandarkan pada sumber primer al-Qur’an, hadits dan postmodernisme, psikologi Islam serta perspektif genuine psychology. Penelitian ini melalui pendekatan library research yang mengacu pada perspektif genuine psychology. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah, mendekonstruksi teori psikologi modern adalah sebuah keniscayaan untuk melihat sekaligus mendeskripsikan tentang manusia yang memiliki keunikan dan ke khasan tersendiri melalui pelbagai perspektif. Penelitian ini ekuivalen dengan Dean C. Tipps (1973) bahwa, paradigma modern sekarang cenderung tidak relevan dengan fenomena sekarang, mesti ada paradigma baru dalam menjelaskan fenomena saat ini. Kata kunci: Genuine Psychology, Psikologi Islam, Postmodernisme
A PENANAMAN NILAI MORAL ISLAM KYAI DAN SANTRI DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI ISLAM: PENANAMAN NILAI MORAL ISLAM KYAI DAN SANTRI
mahmud fauzi, mahmud
Jurnal Psikologi Islam Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (218.935 KB)
|
DOI: 10.47399/jpi.v7i2.115
Kyai and santri are one of the subjects of Islamic education in pesantren, the main object of the pesantren is to instill ahklaqul karimah according to the Qur'an, Hadith, ijma' and qiyas Ulama'. This study aims to see the suitability between the practice of Islamic education and concept of Islamic psychology in teaching Islamic morals to students. This research method is a phenomenological study and data collection using in-depth interviews and analyzed with Islamic Psychology review. The results of this study indicate that the application of teaching Islamic moral to students by kyai and ustadz / ustadzah with Islamic psychological theory or An nafs in according with the basic quran and hadith is close to conformity. The things are found, namely: 1. the activity of reciting classical books such as ahklaq, tasawuf and tafsir and hadith. 2. The attitudes and actions of the ustadz / ustadzah dominan in punishment are feared to affect the physical and mental development of the students in the future. 3. The attitude of Tabayyun, khusnudhan and patience ustadz / ustadzah in cariying students/santri. 4. Ustadz / ustadzah must have a role model from Rosulullah Saw. Keywords : Islamic Moral, An Nafs, Islamic Boarding School