cover
Contact Name
Angger Bimantara
Contact Email
anggerbimantara28@gmail.com
Phone
+6285859299642
Journal Mail Official
jurnal@stai-ali.ac.id
Editorial Address
Jl. Sidotopo Kidul 51, Surabaya, Jawa Timur Kode pos 60152
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa
ISSN : 20889593     EISSN : 27743748     DOI : https://doi.org/10.54214/alfawaid
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal al-Fawa’id : Jurnal Agama dan Bahasa (P-ISSN: 2088-9593 dan E-ISSN: 2774-3748) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Sirkulasi penerbitan jurnal ini adalah 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu di bulan maret dan september. Artikel yang dimuat berupa penelitian-penelitian tentang Agama dan Bahasa. Adapun fokus dan cakupan dari jurnal ini adalah sebagai berikut: Aqidah Agama Islam Fiqih Agama Islam Sejarah Agama Islam Pendidikan Islam Dakwah Islam Pengajaran Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Sastra Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Sejarah Pendidikan Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Strategi Pengajaran Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) Media Pengajaran Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 148 Documents
Bayān ʿan al-Mukhaṣṣiṣāt al-Muttaṣilah Oscar Wardhana Windro Saputro
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.886 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.50

Abstract

Lafal-lafal dalam Bahasa Arab, khususnya dalam atau teks agama baik itu di dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun teks hadis, masing-masing memiliki bentuk dan arah tersendiri yang menuntun/menunjuk pada maknanya yang dikenal dengan dilālah. Para ulama ʾUṣūl Fiqh semenjak dikenalnya ilmu ini, telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bentuk-bentuk petunjuk/dilālah tersebut. Di antara bentuk-bentuk petunjuk/ dilālah yang senantiasa dibahas adalah bentuk umum dan khusus atau dikenal dengan istilah takhṣīṣ al-ʿĀm yaitu penjelasan bahwa yang dimaksud dari sebuah lafal yang bersifat umum adalah bukan seluruhnya, namun sebagian dari keumuman lafal tersebut. Syarat bolehnya suatu takhṣīṣ/pengkhususan adalah adanya petunjuk yang jelas yang dikenal dengan istilah dalīl mukhaṣṣiṣ. Mukhaṣṣiṣ terbagi menjadi 2 jenis jika dilihat dari keterkaitannya dengan teks kalimat: yaitu mukhaṣṣiṣ munfaṣilah (terpisah) dan mukhaṣṣiṣ muttaṣilah (tersambung). Mukhaṣṣiṣ muttaṣilah adalah suatu petunjuk yang tidak berdiri sendiri namun dia terkait dengan teks kalimat dan merupakan bagian darinya. Ada banyak bentuk mukhaṣṣiṣ muttaṣilah yang disebutkan oleh para ulama, namun seluruhnya terangkum dalam 5 bentuk yaitu : Istithnāʾ (pengecualian), Sharṭ (syarat), Ṣifah (sifat), Ghāyah (batas), Badal (pengganti). Makalah ini akan menjelaskan tentang masing-masing bentuk mukhaṣṣiṣ muttaṣilah baik secara definisi, perangkat dan hukum-hukum yang terkait dengannya.
Manhaj al-Shaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-ʿUthaimīn fī Taʿlīm al-Balāghah: Dirāsah Taḥlīlīyyah li Kitāb Sharḥ Durūs al-Balāghah li Shaikh ibn al-ʿUthaimīn Nur Cholis Agus Santoso
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.096 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.51

Abstract

Pendidik atau pengajar dituntut untuk senantiasa meningkatkan keilmuan yang dimiliki, disamping keilmuan yang berkaitan dengan materi ajar, pendidik harus meningkatkan kemampuan atau keilmuannya berkaitan dengan cara atau metode bagaimana dia mengajar, peningkatan kemampuan metode mengajar bisa berasal dari pengalaman, namun hal ini tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar, selain itu peningkatan kemampuan mengajar juga bisa diperoleh dengan cara melihat praktek pengajaran yang dilakukan seseorang atau dengan membaca hasil-hasil penelitian mengenai metode-metode pembelajaran dan keefektifannya. Dalam penelitian ini, peneliti akan memaparkan tentang metode pembelajaran yang dilakukan oleh Shayikh Muhammad bin Shalih al ʿUthaimīn dalam materi al-balāghah. Penelitian ini merupakan studi buku; hal ini disebabkan asal dari buku Sharḥ durūs al-balāghah adalah pelajaran beliau yang direkam kemudian ditranskip. Dan dari penelitian yang dilakukan peneliti menemukan bahwa dalam proses pembelajaran balāghah beliau menggunakan metode berikut: Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab. Disamping itu beliau selalu melakukan evaluasi di setiap akhir sesi untuk mengetahui atau mengukur pemahaman murid, adapun tujuan pembelajaran beliau adalah memahamkan murid terhadap isi dari buku durūs al-Balāghah, sehingga di dalam menjelaskannya beliau tidak banyak keluar dari tema atau menyebutkan perbedaan-perbedaan pendapat yang ada.
Bidʿah Ḥasanah dalam Perspektif Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām dan ʿAli Bin Ḥasan Al-Ḥalabī Fadlan Fahamsyah
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.367 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.52

Abstract

This research explores the views of Imam Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām dan ʿAli Bin Ḥasan Al-Ḥalabī to the bidʿah ḥasanah concept. The polemic about bid’ah ḥasanah always be warm even hot on the grassroots, so this writing tries to track the conclusion and the root cause of bid’ah ḥasanah from two figures mentioned above.The results of this research shows the difference bet ween those two figures, Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām says that there is a bidʿah ḥasanah , while ʿAli Bin Ḥasan Al-Ḥalabī says that there is no bidʿah ḥasanah . The cause of difference views between them is when Al-ʿIzz Bin ʿAbd Al-Salām used term of bid’ah in the con text of etymology while al - Halaby interpreted the term in the context of terminology. As for the difference factor in the common people that there is no classification bid’ah in worship and non - worship (muʿamalah). The comparison results between these two figures can be seen from two sides. First, the similarity; which both of them against together the bid’ah which certainly against the sharia; as for the different side that Al-ʿIzz found there is a bidʿah ḥasanah like building Islamic schools (madrasah), le arning tajweed, etc., while al Halaby found that all bidʿah in religious matters are misguided. Build schools in the views of al - Ḥalabī is not bidʿah , but maslahah mursalah.
Nilai Pendidikan Aqidah Luqman al-Ḥakim Maryono Maryono
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 8 No 2 (2018): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.382 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol8.Iss2.53

Abstract

Luqman is a name enshrined in Islam in the Holy Qur'an. His life journey is always wise and above the truth and never leaves him. The story is not only enshrined in the Holy Qur’an, but also enshrined as the name one of the surat’s in the Holy Qur'an. His storie’s have many important education values and very benefits for life. This research is a qualitative study, which uses non-statistical analysis, the data search with the right interpretation to make a systematic description. The Qualitative research is a research that aimed to describe and analyze the phenomena, events, social activities, attitudes, beliefs, perceptions, people's thoughts individual or group. Some descriptions are used to find some principles and explanations that lead to make conclusions. The value of Luqman's aqeedah educations are includes: the obligation to honor of Allah and the prohibition of doing syirik, believing the day of vengeance (the last day) where Allah will repay all of his servants' good or bad actions even though mustard seeds must feel that Allah Subhanahu wa Ta'ala always supervises and know the movements of every human beings, and should not make underestimate the good or bad that is done, however small. 
Taʾammulāt Lughawiyah min al-Āyāt al-Bayyināt: (Min Khilāl Sūrah al-Nabaʾ Namūdhajan) Farid Farid
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.807 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.55

Abstract

Di antara perkara yang dituntut atas kita sebagai muslim secara umum dan sebagai penuntut ilmu secara khusus terhadap al-Qurān al-Karīm adalah memahami makna-maknanya, merenungkan dan mentadabburinya, serta mengamal apa yang terkandung di dalamnya. Berangkat dari hal tersebut, maka penelitian ini berusaha untuk mendekatkan hal tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka yang membahas sekilas tentang refleksi linguistik dari ayat-ayat yang jelas yang diambil dari Sūrah al-Nabaʾ yang mana dalam penelitian ini peneliti mengutip dari beberapa referensi kitab tafsir dan bahasa Arab. Peneliti juga berusaha sebisa mungkin untuk merujuk kepada referensi-referensi terdahulu kemudian referensi-referensi kontemporer. Dalam penelitian ini, peneliti telah mengemukakan beberapa poin penting, yaitu: makna kata, iʿrāb di sebagian ayat, dan penjelasan dari sisi bahasa. Melalui penelitian ini, peneliti telah mendapatkan beberapa faedah, yang paling penting di antaranya adalah: 1) bahwasanya tashbīh (metafora) di dalam surah ini amatlah banyak; 2) Kuatnya lafal yang digunakan dalam surah ini dari sisi suara huruf-hurufnya, dan ini menunjukkan akan keindahan bahasa Arab dan indahnya bahasa al-Qurān al-Karīm.
Dawr al-Muʿallim fī Tafhīm al-ʿIbādah al-Ṣaḥīḥah li Takwīn Nafsiyyah al-Nasʾ Mubarak Bamualim
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.012 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.56

Abstract

Allah menciptakan manusia dan jin dengan tujuan yang mulia, tujuan itu telah dijelaskan di dalam al-Qurʾan surat al-Dhāriyāt ayat 51, tujuan tersebut adalah ibadah. Ibadah memiliki peran yang sangat penting di dalam membentuk kepribadian dan kejiwaan seseorang, hanya saja pembentukan kepribadian ini memerlukan proses serta faktor eksternal berupa adanya seorang pendidik. Maka pada tulisan ini penulis akan membahas tentang peran pendidik di dalam memahamkan ibadah yang benar untuk membentuk kepribadian dan kejiwaan seseorang. Penyusunan tulisan ini menggunakan kajian kepustakaan, sumber-seumber data yang dieksplorasi berasal dari dalil-dalil alquran dan hadis-hadis nabi juga penjelasan para ahli. Dan setelah melakukan penelitian penulis menemukan jawaban bahwa diantara peran yang dimiliki pendidik adalah menerangkan dan menjelaskan tentang arti ibadah yang benar beserta syarat-syaratnya, memberi contoh yang baik kepada siswa dalam hal pengamalan ibadah yang benar, untuk membentuk kejiwaan pada siswa pendidik memberikan skala prioritas pada aspek aqidah, amaliyah dan akhlak serta shalat tanpa meremehkan aspek-aspek yang lain.
Peranan Pesantren/Ma’had Aly Makkah dalam Meningkatkan Religiusitas Masyarakat Senggrong Andong Boyolali Ainul Haris
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.666 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.57

Abstract

The focus and purpose of this study is to determine the role of Aly Makkah Islamic Boarding School Senggrong Andong Boyolali in improving the religiosity of surrounding communities, and to find out the factors that support and hinder the activities of enhancing the religiosity of communities around Aly Makkah Islamic Boarding School Senggrong Andong Boyolali. This research method is descriptive qualitative with type of field research. This study found that the Aly Makkah Islamic Boarding School played an active role in improving the religiosity of the community with various religious activities. For instance, establishing a TPA (Al-Qur’an Learning Center), organizing a tabligh akbar, the Islamic study group after Maghrib prayer, Ramadan activities, the distribution of qurban meat, congregational prayers and Friday prayer. Some supporting factors to improve community religiosity are human resources (HR) who are energetic and play an active role in activities held by the Islamic Boarding School, adequate facilities and infrastructure, and social factors. While the inhibiting factors of Aly Makkah Islamic Boarding School in improving community religiosity include, lack of public awareness, lack of effectiveness of learning in TPA, and differences in understanding.
Perang Badar dalam Perspektif Ekonomi Sosial Fadlan Fahamsyah
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.677 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.58

Abstract

Nabi Muhammad Ṣallallah ʿalaihi wa Sallam telah menghadapi berbagai macam gangguan dan penolakan dalam menegakkan dakwah Islam dari kaum kafir Quraish. Gangguan tersebut terus menerus dihadapi oleh Nabi Ṣallallah ʿalaihi wa Sallam hingga beliau hijrah ke kota Madinah, di sanalah bermulanya sejarah baru dunia Islam. Pada tahun kedua hijriah terjadi peperangan besar dalam sejarah Islam yaitu perang Badr al-Kubrā. Motiv dari meletusnya peperangan ini tidak hanya didasari oleh hal keyakinan agama saja. Namun juga terdapat motiv-motiv lain yang memicunya. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap motiv-motiv tersebut. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan didapati bahwa di antara hal lain yang melatarbelakangi peperangan tersebut adalah faktor ekonomi dan social. Adapun faktor ekonomi berupa keinginan kaum Muhājirīn untuk mengambil harta mereka yang tertinggal di Mekkah dari tangan kaum Quraish, dan kaum Quraish berusaha menjaga hasil perniagaan mereka. Sedangkan faktor sosial adalah keinginan kaum kafir Quraish agar mengakui derajat dan kedudukan mereka.
Karakteristik Pendidik Perspektif Imam Ibnu Jamaʿah : (Studi Kitab Tadzkirah Al-Sāmiʿ wa al-Mutakallim fī al-ʾAdab Al-ʿAlim wa Mutaʿalim karya Imam Badruddin Ibnu Jamaʿah) Maryono Maryono
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.252 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.59

Abstract

Pendidik merupakan pilar utama dalam menjalankan proses pendidikan, merupakan aktor utama dalam mengantarkan capaian tujuan pendidikan. Dalam tulisan ini memaparkan tentang “Karakteristik Pendidik dalam Perspektif Imam Ibnu Jamaʿah”, melalui bukunya yang fenomenal Tadzkirah Al-Sāmiʿ wa al-Mutakallim fī al-ʾAdab Al-ʿAlim wa Mutaʿalim. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif noninteraktif karena sumber datanya adalah berupa dokumen-dokumen, bukan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya. Adapun analisis data yang digunakan adalah Content analysis, yaitu penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi  tertulis. Imam Ibnu Jamaʿah dalam Tadzkirah Al-Sāmiʿ wa al-Mutakallim fī al-ʾAdab Al-ʿAlim wa Mutaʿalim meneybutkan beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik sehingga menjadikan sebuah karakter bagi mereka, di antaranya: Niat ikhlas yang menjadikan tolok ukur amal perbuatan dalam mendidik; Zuhud; Tawāḍu’; Menjaga syiar (identitas) Islam, hal terserbut merupakan karakter agamis yang senantiasa seorang pendidik berhias dengannya. Poin lainnya; Pendidik harus senantiasa meng-upgrade diri, meningkatkan kualitas keilmuan, mencurahkan segala kemampuan, membaca, menghafal, menulis. Dan juga tatkala mengajar senantiasa berusaha optimal dalam kegiatan belajar dan mengajar, bersemangat dalam mengajar, menggunakan metode dan penyampaian yang mudah serta lemah lembut, bertanya untuk menguji pemahaman peserta didik atas kesesuaian ilmu yang telah dijelaskan, serta mengulangi hafalan untuk menguji mereka.
Studi Hadis “Sebaik-baik Kalian Adalah yang Belajar Al-Qur’an dan Mengajarkannya” dalam Perspektif Naql Muh Chusnul Yakin
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.65 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol9.Iss2.60

Abstract

Allah Subḥānallāhu wa Taʿālā menurunkan Al-Qur'an yang Mulia kepada penutup para Nabi dan Rasul: Muhammad - semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian-. Nabi, damai dan berkah besertanya, menjadi konstitusi bagi bangsa Islam ke mana ia diutus, dan panduan bagi orang-orang untuk membawa mereka keluar dari kegelapan kepada cahaya dan membimbing mereka ke jalan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, dan penjelasan dari segala sesuatu, bimbingan, penyembuhan dan rahmat Bagi orang-orang yang beriman, adalah kewajiban bangsa ini untuk meyakini apa yang diturunkan Allah kepadanya, mengikuti apa yang ada di dalamnya, dan menjalankannya. Dan renungkanlah ayat-ayatnya sambil mengerjakan apa yang disyaratkan, menjauhi fitnah, mengajaknya, dan bersabar terhadap bahaya. Sebaik-baik umat ini adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan ilmunya, dan seburuk-buruk umat ini adalah orang yang menurunkan Al-Qur'an dan kerendahannya, dan dia mempelajarinya. Al-Qur'an dan ajarannya didasarkan pada transmisi dan bukan intelek, karena pikiran tidak diukur dengan pembayaran dan karena Pikiran bervariasi dari satu individu ke individu lainnya.

Page 2 of 15 | Total Record : 148