cover
Contact Name
Oramahi
Contact Email
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Phone
+6281345001010
Journal Mail Official
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124 Provinsi Kalimantan Barat Telp dan Faks. 0561-767673
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 20878788     EISSN : 27146855     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jt.v13i2
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini merupakan jurnal Teknologi Pengembangan Kehutanan dan Lingkungan yang diterbitkan oleh fakultas kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal ini menyajikan artikel mengenai hasil penelitian perkembangan kehutanan dan lingkungan mutakhir meliputi berbagai konsentrasi ilmu di bidang kehutanan yaitu Biologi, Manajemen Hutan, teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan serta bidang lingkungan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal ini akan ditelaah oleh mitra bestari yang bidangnya sesuai. Jurnal ini diterbitkan setahun dua kali : Januari dan Juli.
Articles 157 Documents
ANALISIS STRATEGI PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN PETANI ROTAN KELOMPOK TANI HUTAN MELI PADA AREAL HUTAN KEMASYARAKATAN (HKM) DI DESA MELI KECAMATAN BAEBUNTA KABUPATEN LUWU UTARA Adrayanti Sabar; Ridwan Ridwan; Megi Toto
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2023): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i2.73888

Abstract

Meli Village is a village famous for its rattan production in Baebunta District, North Luwu Regency. This village, which is located in the highlands, has a population of 1,771 people, many of whom work as farmers. Unfortunately, Meli Village is facing the impact of flash floods, especially from the Radda River, which causes significant damage and social changes for its residents. The majority of Meli residents only have elementary, middle and high school education, making it difficult to recover from the economic impact of this natural disaster. Efforts to reduce damage need to implement strategies for their livelihoods. Livelihood strategies describe the efforts made by the community to achieve an adequate livelihood. The aim of this research is to analyze rattan farmers' strategies for the level of livelihood sustainability and survival of living capital for rattan farmers in Meli Village, Baebunta District, North Luwu Regency. The analysis method for each table uses descriptive statistics. The population in this research was carried out using a purposive sampling technique of 20 rattan farmers belonging to the Meli Forest Farmers Group, data was collected through observation and interviews. The results of the research show that the level of sustainability of rattan farmers' livelihood capital is obtained in the form of the highest capital, namely physical capital with a value of 2.6 and the lowest capital in the form of human capital with a value of 1.9. developing a rattan business, then applying these skills to increase income by reaching a wider market and minimizing expenses.Keywords: livelihood capital, rattan farmers, Meli VillageAbstrakDesa Meli merupakan desa yang terkenal dengan produksi rotannya di Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara. Desa yang terletak di dataran tinggi ini berpenduduk 1.771 jiwa dan banyak di antaranya berprofesi sebagai petani. Sayangnya, Desa Meli menghadapi dampak bencana banjir bandang terutama dari Sungai Radda yang menyebabkan kerusakan signifikan dan perubahan sosial bagi warganya. Mayoritas penduduk desa hanya mengenyam pendidikan SD, SMP, dan SMA sehingga sulit untuk bangkit kembali dari dampak ekonomi akibat bencana alam ini. Karenanya diperlukan strategi penghidupan sebagai usaha untuk mengurangi dampak kerusakan dan untuk mencapai penghidupan yang memadai. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis strategi petani rotan terhadap tingkat keberlanjutan mata pencaharian dan keberlangsungan modal hidup petani rotan di Desa Meli. Metode analisis untuk setiap tabel digunakan statistik deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dan mendapatkan sampel sebanyak 20 orang petani rotan yang termasuk dalam Kelompok Tani Hutan Meli. Data dikumpul melalui observasi serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberlanjutan modal penghidupan petani rotan diperoleh berupa modal tertinggi yaitu modal fisik dengan nilai 2,6 dan modal terendah berupa modal manusia dengan nilai 1,9 dan rekomendasi strategi penghidupan petani rotan yaitu mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam melakukan pemanenan rotan, meningkatkan pengembangan usaha rotan, kemuidan mengaplikasikan keterampilan tersebut untuk meningkatkan penghasilan dengan menjangkau pasar yang lebih luas dan meminimalisir pengeluaran.Kata kunci: modal penghidupan, petani rotan, desa Meli
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG KEBERADAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA TANGERANG Veny Anisa; Christine Wulandari; Indra Gumay Febryano; Rudi Hilmanto
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 2 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i2.44862

Abstract

Ruang terbuka hijau menjadi bagian yang sangat penting di kota besar. Keberadaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mendukung keberadaan RTH di Kota Tangerang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan masing-masing SKPD telah memahami tupoksi dan SOP yang harus dijalankan, komunikasi antar pihak pun telah berjalan cukup baik. Dalam rangka pemenuhan kapasitas SDM, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang melakukan kegiatan pelatihan bagi polisi taman dalam kurun waktu tertentu. Namun demikian, pada masa pandemi terjadi penundaan pembangunan RTH oleh karena adanya pemotongan anggaran sebesar 50% dari pemerintah. Pengurangan anggaran ini juga berdampak pada beberapa fasilitas RTH yang rusak dan kurang terawat. Hingga kini, belum ada aturan bagi para perusak fasilitas RTH seperti kegiatan vandalism. Oleh sebab itu, sosialisasi perlu dilakukan kepada masyarakat guna mewujudkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan RTH di Kota Tangerang.
PENGELOLAAN DAN POTENSI HUTAN RAKYAT BERBASIS PINUS (Pinus merkusii) BAGI PENDAPATAN PETANI DI KECAMATAN NGRAYUN KABUPATEN PONOROGO Indah Anjar sari; Tatik Suhartati; Sugeng Wahyudiono
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 2 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i2.54088

Abstract

Community forests in Ngrayun District are dominated by pine (Pinus merkusii) mixed with various perennials, Multi-Purpose Tree Species (MPTS), and food crops managed with different cropping patterns. The importance of knowledge management and potential as input for farmers to increase farmers' income. This study aimed to determine pine-based community forests' management characteristics and potential for farmers' income in the Ngrayun District. This research was conducted by interviewing 36 farmers who met the criteria using a questionnaire guide, field inventory using measuring plots measuring 20 m x 20 m, and secondary data on sap yields from the Forest Farmers Group (KTH). The data analysis used is descriptive analysis supported by quantitative data. The results showed that planting consisted of pure, mixed trees along the border and random mixture cropping patterns. Pine maintenance is pruning branches and renewal of koakan every 3-5 days—the sap harvesting at the time of koakan renewal and a few days before sap weighing. Rubber marketing through KTH collaborates with CV Rimbun Sejahtera and CV Pinus Mulyo. The highest potential for pure pine pattern is 347.25 m3/ha, with sap yields of 78.56 kg/month with an income of Rp 707.040./month, and the lowest is mixed trees along the border with sap yield of 18.42 kg/month, and the monthly income Rp. 165.780.  It can be concluded that the management and potential of community forests affect farmers' incomes.Keywords: Community Forest, Income, Management, Pine, PotentialAbstrakHutan rakyat di Kecamatan Ngrayun didominasi oleh pinus (Pinus merkusii) yang dicampur dengan berbagai jenis tanaman keras, Multy Purpose Tree Spesies (MPTS) serta tanaman pangan yang dikelola dengan berbagai pola tanam. Pentingnya mengetahui pengelolaan dan potensi sebagai masukan bagi petani agar dapat meningkatkan pendapatan petani.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik pengelolaaan dan potensi hutan rakyat berbasis pinus bagi pendapatan petani di Kecamatan Ngrayun. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai 36 petani  yang memenuhi kriteria menggunakan panduan kuisioner, inventarisasi dilapangan menggunakan petak ukur berukuran 20 m x 20 m, dan data sekunder hasil getah dari Kelompok Tani Hutan (KTH).  Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif didukung data kuantitati. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan hutan rakyat penanaman terdiri pola tanam murni, campuran, trees along border dan random mixture. Pemeliharaan pinus yaitu pemangkasan cabang, pembaharuan koakan 3 – 5 hari sekali. Pemanenan getah saat pembaharuan koakan dan beberapa hari sebelum penimbangan getah. Pemasaran getah melalui KTH yang bekerjasama dengan CV Rimbun Sejahtera dan CV Pinus Mulyo. Potensi pinus paling tinggi pola murni 347,25 m3/ha hasil getah 78,56 kg/bulan dengan pendapatan Rp 707.040/bulan dan terendah pola trees along border 152,81 m3/ha hasil getah 18,42 kg/bulan dengan pendapatan Rp 165.780/bulan. Hal ini menunjukkan pengelolaan dan potensi hutan rakyat mempengaruhi pendapatan petani.Kata kunci: Hutan Rakyat, Pendapatan, Pengelolaan, Pinus, Potensi
KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) di KECAMATAN PADANG BOLAK PROVINSI SUMATERA UTARA Septi Masnuria Siregar; Zidni Ilman Navia; Zulfan Arico
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2023): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i2.65638

Abstract

Nepenthes is a well-known plant in Indonesia. Given the high rate of forest destruction caused by land conversion, which threatens the Nepenthes habitat in this region, the threat to the Nepenthes population in Padang Bolak District, North Sumatra Province is estimated to be very high. The study aims to identify Nepenthes species and the number of species in North Sumatra Province's Padang Bolak District. The exploratory method was used to conduct this study from January to March 2023. The study revealed two species of the Nepenthes Nepenthes gracillis Korth and Nepenthes reinwardtiana Miq. The diversity index of Nepenthes in Padang Bolak District is 0.521, indicating that species diversity is low.Keywords: Kantong semar, Nepenthes, Padang Bolak, Species Diversity, Sumatra.AbstrakNepenthes merupakan tanaman yang terkenal di Indonesia. Mengingat tingginya laju kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan yang mengancam habitat Nepenthes di wilayah ini, maka ancaman terhadap populasi Nepenthes di Kabupaten Padang Bolak, Provinsi Sumatera Utara diperkirakan sangat tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Nepenthes dan jumlah jenisnya di Kabupaten Padang Bolak Provinsi Sumatera Utara. Metode eksplorasi digunakan untuk melakukan penelitian ini pada bulan Januari hingga Maret 2023. Penelitian tersebut mengungkap dua spesies Nepenthes, Nepenthes gracillis Korth, dan Nepenthes reinwardtiana Miq. Indeks keanekaragaman Nepenthes di Kecamatan Padang Bolak sebesar 0,521 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong rendah.Kata kunci: Kantong Semar, Nepenthes, Padang Bolak, Keanekaragaman Jenis, Sumatera. 
ANALISIS KINERJA PENURUNAN DEFORESTASI DI 10 IZIN HUTAN DESA KECAMATAN BATU AMPAR Denni Nurdwiansyah; Gusti Hardiansyah; Emi Roslinda
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i1.45251

Abstract

The effectiveness of devolution policies through social forestry programs in village forest schemes is still being debated at regional, national, and international levels. It departs from the fact that the community has limited resources in managing forests in the long run (35 years). The background of this research is to measure the implementation of devolution policy in 10 granted village forest licenses in the sub-district of Batu Ampar, Kubu Raya District, and its relationship with deforestation rates. The study was conducted by survey method and data collection with literature studies and observations. Observation aims to measure the biophysical condition of the forest as well as the social and economic conditions of the community in the village. The data is processed and analyzed using spatial analysis and performance analysis. The results showed that the devolution policy through the issuance of 10 village forest licenses was proven to be able to improve performance in reducing deforestation, especially after one year of the village forest permits were granted. Keywords: devolution, social forestry, village forest, deforestation, performance AbstrakEfektifitas kebijakan devolusi melalui program perhutanan sosial skema hutan desa masih menjadi perdebatan di level regional, nasional, dan internasional. Hal ini berangkat dari fakta keterbatasan sumber daya yang dimiliki masyarakat dalam mengelola hutan dalam jangka waktu panjang (35 tahun). Penelitian bertujuan untuk mengurai implementasi kebijakan devolusi di 10 izin hutan desa Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, dan pengaruhnya terhadap laju deforestasi. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Pengumpulan data dengan studi literatur dan observasi. Observasi bertujuan untuk mengetahui kondisi biofisik hutan serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di desa. Data-data diolah dan dianalisis menggunakan analisis spasial dan analisis kinerja. Hasil penelitian menunjukan kebijakan devolusi melalui pemberian 10 izin hutan desa telah terbukti secara kumulatif mampu meningkatkan kinerja positif dalam penurunan deforestasi, terutama setelah satu tahun izin hutan desa diberikan.Kata kunci: devolusi, perhutanan sosial, hutan desa, deforestasi, kinerja
PEMANFAATAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) SEBAGAI BAHAN BAKU BRIKET ARANG Hikma Yanti; Yeni Mariani; Fathul Yusro; Zuhry Haryono
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2023): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i1.51015

Abstract

The existence of alternative energy from renewable materials such as charcoal briquettes is one solution to overcome the problem of reduced fossil energy, especially for household needs. Applying biomass derived from plants such as Kaliandra (Caliandra calothyrsus) as charcoal briquettes is expected to enrich plant species as an energy source. This study aims to analyze the quality of calliandra wood charcoal briquettes based on powder size and percentage of tapioca adhesive. Making charcoal briquettes is carried out through the carbonization stage, and testing the quality of the briquettes refers to SNI. 01-6235-2000. The analysis showed that calliandra wood charcoal briquettes made with 20-40 mesh powder and 15% tapioca adhesive gave the best quality. Calliandra wood charcoal briquettes (C. calothyrsus) comply with SNI 01-6235-2000 in terms of ash content and calorific value.Keywords:  charcoal briquettes, kaliandra, SNI 01-6235-2000, powder size, adhesive percentage. AbstrakAdanya energi alternatif dari bahan terbarukan seperti briket arang merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah berkurangnya energi fossil, terutama untuk keperluan rumah tangga. Penggunaan biomassa yang berasal dari tanaman seperti Kaliandra (Caliandra calothyrsus) sebagai briket arang diharapkan dapat memperkaya jenis tumbuhan sebagai sumber energi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas briket arang kayu kaliandra berdasarkan ukuran serbuk dan persentase perekat tapioka. Pembuatan briket arang dilakukan melalui tahapan karbonisasi, dan pengujian kualitas briket mengacu pada SNI. 01-6235-2000. Hasil analisis menunjukkan bahwa briket arang kayu kaliandra yang dibuat dengan ukuran serbuk 20-40 mesh dan perekat tapioka 15% memberikan kualitas terbaik. Briket arang kayu kaliandra (C. calothyrsus) memenuhi SNI  01-6235-2000 di parameter kadar abu dan nilai kalor.  Kata kunci: briket arang, kaliandra, SNI 01-6235-2000, ukuran serbuk, persentase perekat.
POTENSI WISATA ALAM DI KOTA PAGAR ALAM, PROVINSI SUMATERA SELATAN BERDASARKAN PENAWARAN, PERMINTAAN DAN DAYA DUKUNG yogie zulni pratama; Rinekso Soekmadi; Afra DN Makalew
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i1.41546

Abstract

Pagar Alam City belongs to the administrative region of South Sumatera Province and has a variety of natural tourism to be developed. This research focuses on determining natural tourism potentials based on supply, demand and carry capacity in Pagar Alam City. The assessment used the analysis of potential objects and natural attractions using the guidelines for regional analysis of operations-objects and natural attractions (ADO- ODTWA) from Directorate General of Forest Protection and Nature Conservation (2003) and carrying capacity’s analysis using the formula Douglass (1982). The results showed that Pagar Alam city has 7 natural tourism potential dan 29 natural tourism enough potential with the highest potency value index of the Dempo Mountain Tea Plantation Area 87.89% and the lowest 33.51% is Blange Water Fall. The number of tourists according to carrying capacity for each tourism activities are recreational activities 1.041.336 people/year and camping activities 555.685 people/year.Keywords: demand, carrying capacity, natural tourism, supply, tourist.AbstrakKota Pagar Alam termasuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan memiliki berbagai wisata alam untuk dikembangkan. Fokus penelitian adalah kajian potensi wisata alam di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan berdasarkan penawaran, permintaan dan daya dukung di Kota Pagar Alam. Penilaian yang digunakan adalah analisis potensi objek dan daya tarik wisata alam menggunakan pedoman analisis daerah operasi-objek dan daya tarik wisata alam (ADO-ODTWA) Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (2003) dan analisis daya dukung menggunakan formula Douglass (1982). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Pagar Alam memiliki 7 wisata alam yang berpotensi dan 29 wisata alam cukup berpotensi untuk dikembangkan dengan indeks nilai potensi tertinggi yaitu Kawasan Perkebunan Teh Gunung Dempo dengan persentase 87.89% dan terendah 33.51% yaitu Cughup Blange. Jumlah wisatawan sesuai dengan daya dukung untuk masing-masing kegiatan wisata yaitu kegiatan rekreasi adalah 1.041.336 orang/tahun dan kegiatan wisata 555.685 orang/tahun.Kata kunci: daya dukung, penawaran, permintaan, wisawatan, wisata alam
PERSEPSI MASYARAKAT DI DESA TUAPEJAT TERHADAP KEBERADAAN HUTAN MANGROVE KECAMATAN SIPORA UTARA KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI Eni Kamal; Firdaus Risman; Harfiandri Damanhuri
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i1.50593

Abstract

Communities around mangrove forests use mangrove forests as additional livelihoods such as looking for shrimp, crabs, shellfish. The existence of a relationship between the community and the existence of this mangrove forest raises the perception of the community in an effort to maintain and preserve the existence of the mangrove forest. The purpose of this study was to analyze the perception of the community in Tuapejat Village on the existence of mangrove forests in North Sipora District, Mentawai Islands Regency. The method used in this research is descriptive quantitative, the determination of respondents using the Slovin formula with a population of 94 respondents and a sample of 76 respondents. The data analysis method used is the chi-square test using SPSS version 0.25 software. The results showed that the level of public perception of the existence of mangrove forests in Tuapejat Village, Sipora Utara District, Mentawai Islands Regency showed that 70% had a high perception, 24% had a moderate perception and 6% had a low perception. There is a significant relationship between age, education level and length of stay and with community perceptions of the existence of mangrove forests in Tuapejat Village, North Sipora District, Mentawai Islands Regency.Keywords: Community Perception, Coastal Ecosystem, Mangrove Forest.AbstrakMasyarakat yang berada di sekitar hutan mangrove memanfaatkan hutan mangrove sebagai mata pencaharian tambahan seperti mencari udang, kepiting, kerang. Adanya keterkaitan antara masyarakat dengan keberadaan hutan mangrove ini menimbulkan adanya persepsi masyarakat dalam upaya menjaga dan melestarikan keberadaan hutan mangrove. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis persepsi masyarakat di Desa Tuapejat terhadap teberadaan hutan mangrove Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, penentuan responden menggunakan rumus slovin dengan populasi responden 94 dan sampel sebanyak 76 orang responden. Metode analisis data yang digunakan adalah uji chi square menggunakan software SPSS version 0.25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove di Desa Tuapejat Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai menunjukkan bahwa terdapat 70%  memiliki persepsi tinggi, 24% mempunyai persepsi sedang dan 6% yang mempunyai persepsi rendah. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, tingkat pendidikan dan lama menetap dan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan mangrove di Desa Tuapejat Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai.Kata kunci: Persepsi Masyarakat, Ekosistem Pesisir, Hutan Mangrove.
PENGARUH PROSES FINISHING ANTIBAKTERI ZnO NANO PARTIKEL TERHADAP KETAHANAN WARNA PEWARNA ALAMI KAIN BATIK Febrina Salsabila; Bagus Aditya Suncahyo; Ahmad M Fuadi; Istihanah Nurul Eskani
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 2 (2022): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v12i2.57428

Abstract

Batik is a noble culture belonging to the Indonesian nation that continues to grow every year and UNESCO has been recognized batik internationally as an Intangible Cultural Heritage of Humanity originating from Indonesia. Batik is developed by applying functional finishing of fabrics, including commercial antibacterial applications, finishing applications with natural materials and nanotechnology applications using nanoparticles.  ZnO nanoparticles were synthesized in an average particle size of 54.76 nm with a ZnO content of 99.77%. The raw materials utilized in this research consisted of ZnO antibacterial compounds generated from EAF dust waste, because 50-60% of the zinc content is potentially able to be recycled into zinc metal or zinc compounds such as zinc oxide. This research was conducted to identify the color fastness of batik fabrics treated with an antibacterial finishing to light and rubbing. This antibacterial finishing research was carried out by preparing raw materials, precipitating Fe metal, applying the in situ process to the fabric, and conducting a color fastness test to light and rubbing. The variation of stirring time used were 15, 30, and 60 minutes at 50°C and 15 minutes at 50°C, 70°C, 90°C. The results of the finishing process on batik fabrics indicated levels 4-5 (good category). Keywords: antibacterial, batik, color fastness, rubbing test, and light test. AbstrakBatik merupakan karya luhur bangsa Indonesia yang terus berkembang tiap tahunannya dan UNESCO telah mengakui batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang berasal dari Indonesia. Batik dikembangkan dengan cara menerapkan fungsional finishing kain, antara lain mengaplikasikan antibakteri komersial, mengaplikasikan finishing dengan menggunakan bahan natural, dan menggunakan nanopartikel dengan mengaplikasikan nanoteknologi. Nanopartikel ZnO yang terbentuk memiliki ukuran partikel rata-rata 54,76 nm dan kandungan ZnO 99,77. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan senyawa antibakteri ZnO sebagai bahan baku penelitian yang diperoleh dari limbah debu EAF karena 50-60% kandungan sengnya sangat potensial untuk didaur ulang dengan tujuan menghasilkan senyawa seng atau logam seng seperti seng oksida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi luntur dari warna kain batik yang telah melalui finishing antibakteri terhadap sinar dan gosokan. Metode yang digunakan dalam penelitian finishing antibakteri yaitu berupa: persiapan bahan baku, pengendapan logam Fe, aplikasi Insitu pada kain, pengujian resistensi luntur warna terhadap sinar dan gosokan. Variasi yang digunakan pada penelitian berupa : Waktu pengadukan 15, 30, 60 menit dengan suhu pengadukan 50°C dan suhu pengadukan 50°C, 70 °C, 90 °C dengan waktu pengadukan 15 menit. Proses finishing terhadap kain batik yang telah dilakukan bernilai 4-5 atau baik. Kata kunci: anti bakteri, batik, luntur warna, uji gosok, dan uji sinar
KARAKTERISTIK BIOPELLET DARI CAMPURAN LIMBAH CANGKANG KEMIRI (Aleurites moluccana) DENGAN SERBUK KAYU JATI (Tectona grandis Linn) Ilham Muziburrahman; Hairil Anwar; Andi Tri Lestari
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 2 (2023): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v13i2.72280

Abstract

Biopellets are one of the alternative energies from biomass. The purpose of this study was to determine the physical properties and quality of biopellets from the combination of hazelnut shell raw materials and teak sawdust. The highest density was obtained in A4B4 treatment of 0.42 gr/cm3 and the lowest in A5B5 treatment of 0.26 gr/cm3. The highest water content of A3B3 treatment was 0.23% and the lowest in A1B1 treatment was 0.13%. The highest ash content of A1B1 treatment was 12.98% and the lowest was A4B4 treatment 5.28%.The highest level of flying substance A2B2 treatment was 32.73% and the lowest A4B4 treatment was 27.99%. The highest bound carbon in A4B4 treatment was 66.59% and the lowest in A1B1 treatment was 55.50%. The highest calorific value of A2B2 treatment is 17.85 MJ/Kg and the lowest is A1B1 treatment 17.21 MJ/Kg.Keywords: biopellet, candlenut shell, physical properties, quality, teak wood powderAbstrakBiopellet merupakan salah satu energi alternatif dari biomassa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat fisis dan kualitas biopellet dari kombinasi bahan baku cangkang kemiri dan serbuk kayu jati. Diperoleh kerapatan tertinggi pada perlakuan A4B4 0,42 gr/cm3 dan terendah pada perlakuan A5B5 sebesar 0,26 gr/cm3. Kadar air tertinggi perlakuan A3B3 0,23% dan terendah pada perlakuan A1B1 0,13%. Kadar abu tertinggi perlakuan A1B1 12,98% dan terendah perlakuan A4B4 5,28%. Kadar Zat Terbang tertinggi perlakuan A2B2 32,73% dan terendah perlakuan A4B4 27,99%. Karbon terikat tertinggi pada perlakuan A4B4 66,59% dan terendah perlakuan A1B1 55,50%. Nilai kalor tertinggi perlakuan A2B2 17,85 MJ/Kg dan terendah perlakuan A1B1 17,21 MJ/Kg.Kata Kunci: biopellet, cangkang kemiri, sifat fisik, kualitas, serbuk kayu jati