cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 11 (2015): Kanker" : 20 Documents clear
Benefit of Platinum-based Chemotherapy in Metastatic Triple Negative Breast Cancer Eveline, Ency; Rachman, Andhika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.095 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.951

Abstract

Background. Management of triple-negative breast cancer (TNBC) is challenging because of a lack of targeted therapy, its aggressive behavior and relatively poor prognosis. Various studies showed that these tumors are highly chemosensitive and in some cases are represented by complete pathological response (pCR), but the results remains unsatisfactory1. Recent experimental data strongly suggest that platinum-based chemotherapy (PBC) could improve the outcome of TNBC, but clinical data is still lacking4. Objective. To evaluate the benefit of addition of platinum agents to metastatic TNBC therapy. Method. Several databases were searched. Comparative studies were identified using the following keywords: triple negative breast cancer, advanced, metastatic, metastases, platinum agents, cisplatin, and carboplatin. The search was not limited to controlled or randomized trials. The limitation used in searching the articles are human, english, and max.5 years publication. Articles were reviewed by two authors and selected if they described advanced triple negative breast cancer, use of platinum agents, and outcome. Results. Seven studies were included. Median survival of metastatic TNBC patients treated with PBC was 10.4 to 32.8 months. There was a significant survival benefit compared to non-PBC treated patients with overall survival 7.5 to 21.5 months. However PBC did not showed significant different benefit between TNBC and non TNBC patients. Conclusion. PBC demonstrated not only higher response rate but also remarkable improvement in PFS and OS. It is still premature to draw a conclusion on survival advantage merely from phase II trials, but for this subtype, platinum agents had extra clinical benefit compared to other agents.Pendahuluan. Topik Manajemen triple-negative breast cancer (TNBC) masih merupakan sebuah tantangan karena ketidaktersediaan target terapi hormonal, sifatnya yang agresif, dan prognosis yang lebih buruk. Beberapa studi menyimpulkan bahwa tumor ini sangat kemosensitif sehingga pada beberapa kasus menghasilkan complete pathological response (pCR), tetapi makna klinisnya kurang berarti1. Meskipun data eksperimental secara kuat mendukung platinum-based chemotherapy (PBC) sebagai kemoterapi yang dapat memperbaiki outcome TNBC, belum ada data studi klinis. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi manfaat penambahan agen platinum sebagai terapi pasien TNBC stadium lanjut. Metode. Beberapa database ditelusuri, Kata kunci yang digunakan: triple negative breast cancer, advanced, metastatic, metastases, platinum agents, cisplatin, dan carboplatin. Pencarian tidak dibatasi hanya controlled atau randomized trials untuk meminimalkan hilangnya studi yang bermakna. Pencarian artikel dibatasi pada human subject, english, dan max.5 years publication. Artikel dianalisis oleh dua penulis dan diseleksi sesuai dengan TNBC stadium lanjut, penggunaan agen platinum, dan hasil terapi. Hasil. Median survival empat studi yang ditemukan berada dalam rentang 10.4 hingga 32.8 bulan. Terdapat manfaat cukup signifikan dari penambahan agen kemoterapi platinum sebagai terapi pasien TNBC stadium lanjut, dibandingkan regimen tanpa platinum yang berada dalam rentang 8 hingga 21.5 bulan. Akan tetapi tidak ada perbedaan klinis penggunaan PBC antara pasien TNBC dan non-TNBC. Simpulan. PBC menghasilkan bukan hanya tingkat respon lebih tinggi tetapi juga perbaikan PFS dan OS. Meskipun belum adekuat untuk menyimpulkan adanya perbaikan survival pasien TNBC, platinum lebih memberikan perbaikan klinis daripada agen kemoterapi lain.
Faktor Risiko Kanker Kolorektal Khosama, Yuansun
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.93 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.945

Abstract

Insiden kanker kolorektal (KKR) meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Kasus KKR pada populasi Asia sulit dideteksi dini karena bentuk lesi non-polipoid dan sering tidak didahului adenoma. KKR dipicu oleh berbagai faktor risiko baik yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Gaya hidup dan pola diet termasuk faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Pemahaman yang tepat mengenai faktor risiko dapat membantu tenaga medis memberi edukasi kepada masyarakat agar dapat mengurangi insiden KKR.The incidence of colorectal cancer is increasing in the last several decades. Colorectal cancer in Asian population is difficult to be detected due to non-polypoid lesion as opposed to adenoma. There are several risk factors for colorectal cancer, both modifiable and non-modifiable. Diet and lifestyle are two modifiable risk factors. Accurate understanding of risk factors can help healthcare workers to reduce colorectal cancer incidence through public education.
Tatalaksana Terapi Sel Punca Mesenkimal Otologus untuk Cedera Tulang Rawan Sendi Lutut Merlina, Maurin; C. Ardhianie, Angela; Kusnadi, Yuyus; M.T. Lubis, Andri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1481.726 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.952

Abstract

Cedera tulang rawan merupakan masalah klinis umum akibat kerusakan matriks tulang rawan. Jika diabaikan, degenerasi tulang rawan yang progresif dapat berkembang menjadi osteoarthritis (OA) dan mengganggu mobilitas penderita. Telah diketahui bahwa lesi tulang rawan tidak dapat kembali normal karena kemampuan menyembuhkan diri tulang rawan sendi sangat terbatas. Ketiadaan pasokan darah ke tulang rawan dan rendahnya aktivitas metabolisme kondrosit menghalangi proses penyembuhan alamiah yang melibatkan sintesis tulang rawan hialin baru dan mobilisasi sel punca dari sumsum tulang ke daerah lesi. Saat ini, penggantian sendi lutut total menjadi satu-satunya pilihan tindakan pada kerusakan tulang rawan atau OA tingkat akhir, namun prodesur tersebut harus diulangi dalam 10-15 tahun. Transplantasi sel punca mesenkimal dapat menjadi pilihan terapi untuk memperbaharui tulang rawan yang rusak. Metode ini cocok diterapkan pada tingkat kerusakan sedang hingga lanjut dengan tujuan untuk menunda perluasan cedera dan penggantian sendi lutut.Cartilage injury is a common clinical problem that mainly occurs due to cartilage matrix disruption, partial thickness defect, or full thickness defect as a result of traumatic accident. If left untreated, progressive cartilage degeneration could lead to osteoarthritis (OA) and impede mobility. Cartilage lesions are irreversible because of limitation of self-healing capability of articular cartilage. Lack of blood supply in cartilage and low chondrocytes metabolism activity impair natural healing that suppose to fill the defect by increasing hyaline cartilage synthesis or mobilizing stem cell from bone marrow to the site of injury. Knee joint replacement is currently the only treatment option for the end stage of cartilage damage and OA, yet the procedure should be repeated in 10-15 years. Transplantation of mesenchymal stem cells to regenerate the injured cartilage can be an option. This method is suitable for intermediate to advance stage of cartilage damage to delay the process of injury and joint replacement procedure. 
Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Konstipasi pada Siswa SD di Kecamatan Padang Barat, Sumatera Barat, Indonesia Putri, Wiwi Hermy; Jurnalis, Yusri Dianne; -, Edison
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.105 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.941

Abstract

Konstipasi adalah kesulitan buang air besar yang meliputi berkurangnya frekuensi defekasi atau meningkatnya konsistensi feses yang menyebabkan nyeri saat defekasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian konstipasi pada siswa SD di Kecamatan Padang Barat. Penelitian ini bersifat analitik menggunakan metode multistage random sampling, dilakukan pada bulan Agustus 2014 hingga Januari 2015. Populasi penelitian ini 6086 siswa dan jumlah sampel 156 siswa. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan. Analisis data dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian kecil (19,9%) siswa mengalami konstipasi, lebih dari separuhnya (54,8%) laki-laki, sebagian besar (87,1%) berusia ≥ 10 tahun serta lebih dari separuh (64,5%) mempunyai gizi lebih. Terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan kejadian konstipasi pada anak (p = 0,001).Constipation is difficulty in bowel movements that include decreased frequency of defecation, or increased stool consistency causing pain during defecation. This study aims to determine the relationship between nutritional status and constipation among elementary school students in West Padang District. This analytical study, started in August 2014 until January 2015, used multistage random sampling method. The population in this study were 6086 students and samples were 156 students. Data collected with questionnaire and anthropometric measurements. Data were tested by chi-square test. The results showed that a small proportion students (19.9%) had constipation, more than half (54.8%) were male, most (87.1%) were ≥ 10 years old, and more than half (64.5%) were overweight. There is a significant relationship between nutritional status and constipation in children (p = 0.001 or p≤ 0.05).
Masalah Kanker Paru pada Usia Lanjut Putra, Andika Chandra; Nurwidya, Fariz; Andarini, Sita; Zaini, Jamal; Syahruddin, Elisna; Hudoyo, Ahmad; Jusuf, Anwar
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.087 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.948

Abstract

Kanker paru masih menjadi masalah kesehatan yang sulit diatasi bukan saja karena meningkatnya jumlah perokok di Indonesia tetapi juga disebabkan tingginya mortalitas dan morbiditas penderita. Beberapa panduan pengobatan merekomendasikan penanganan multimodalitas. Tatalaksana kanker paru cenderung tidak optimal pada usia lanjut padahal hampir separuh penderita kanker paru berusia di atas 65 tahun. Pasien kanker paru berusia lanjut sering memiliki penyakit komorbid, status tampilan buruk serta risiko toksisitas terapi tinggi. Tulisan ini merupakan tinjauan pustaka tatalaksana kanker paru pada usia lanjut.Lung cancer remains a health problem in Indonesia because of increase of young smokers and its high mortality and morbidity. There is a tendency of inadequate management of lung cancer among elderly patients despite fact that almost half of lung cancer patients aged over 65 years. Lung cancer management is still challenging and need comprehensive approach since older patients are more likely to have decreased functional reserve which limit their ability to undergo surgery or receive chemotherapy. Several guidelines recommended multimodality treatment. Ageing is also associated with increased co-morbid medical conditions that could exacerbate and influence outcome. This article will discuss treatment of lung cancer in elderlies.
The Importance of Induced Pluripotent Stem Cell Research in Medical Science Kadaristiana, Agustina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.942

Abstract

The degenerative diseases that are currently incurable, such as heart disease, stroke, and diabetes, became the global leading causes of death in 2010 and 2011. This fact urges scientists to find alternative treatment for those conditions. In 2006, Takahashi and Yamanaka succeeded in generating an alternative source of stem cells called induced pluripotent stem cell (iPSC). This groundbreaking work holds the promise of new ways to repair cell damage and improve treatment of currently untreatable conditions without raising ethical debates. Many scientists still question whether iPSC is completely interchangeable with ESC in terms of pluripotency and cell mortality. Indeed, iPSC clones and ESC clones have overlapping degrees of variation. It can be concluded that different cell lines will be best suited for different applications. This essay will describe the development stem cell research, comparison between IPSC and ESC, the promise of IPSC technology and current challenges in the applications of iPSCs.Penyakit degeneratif yang saat ini belum dapat disembuhkan, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes, menjadi penyebab kematian utama di dunia pada tahun 2010 dan 2011. Fakta ini mendorong peneliti untuk mencari terapi yang bersifat kuratif. Tahun 2006, Takahashi dan Yamanaka berhasil menemukan sumber alternatif sel punca bernama sel punca pluripoten yang diinduksi/Induced Pluripotent Stem Cell (iPSC). Penemuan besar ini memberi harapan dalam memperbaiki sel rusak dan meningkatkan kualitas terapi penyakit yang belum bisa disembuhkan tanpa menimbulkan perdebatan etika. Masih dipertanyakan apakah pluripoten dan kematian sel klon sel iPS sama dengan sel punca embrionik (Embrionic Stem Cells/ ESC). Ternyata, terdapat variasi tumpang tindih antara klon iPSC dan ESC. Dapat disimpulkan bahwa sel yang berasal dari alur berbeda, cocok untuk penggunaan yang berbeda. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan perkembangan penelitian sel punca, perbandingan antara sel iPSC dan ESC, keunggulan teknologi iPSC sekaligus tantangan dalam aplikasinya. 
Eccrine Spiradenokarsinoma: Keganasan Adneksa Kulit yang Jarang Permatasari, Yulan; K. Aditya Prayudi, Pande; P. Setiawan, Hendra; Adiputra, Putu Anda Tusta
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.774 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.949

Abstract

Eccrine spiradenokarsinoma merupakan tumor ganas adneksa kulit yang sangat jarang dijumpai namun dapat bersifat agresif. Keganasan ini sering dijumpai pada ekstremitas bawah, dapat terjadi pada pria dan wanita di usia enam puluhan atau tujuh puluhan. Hampir semua kasus berkaitan dengan transformasi ganas eccrine spiradenoma yang sudah ada sebelumnya. Namun, transformasi ganas merupakan fenomena yang sangat jarang dijumpai. Sampai saat ini belum terdapat kesepakatan dalam penatalaksanaan eccrine spiradenokarsinoma dengan kasus yang masih jarang terdokumentasi dalam literatur. Pada laporan ini akan dibahas kasus seorang perempuan berusia 60 tahun dengan diagnosis eccrine spiradenokarsinoma.Eccrine spiradenocarcinoma is an extremely rare but aggressive malignant tumor originating from eccrine sweat glands. Eccrine spiradenocarcinoma is almost always results from malignant transformation of a benign pre-existing eccrine spiradenoma. However, malignant transformation is a rare phenomenon. Due to the rarity of the case, there is not yet an agreement on the management of eccrine spiradenocarcinoma.. This case is a 60-year-old female with a diagnosis of eccrine spiradenocarcinoma.
Dapagliflozin: Terapi Baru untuk Diabetes Melitus Fatoni, Kurniawan; Suryajaya, Paskalis Indra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.864 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.943

Abstract

Diabetes Melitus (DM) masih merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi tertinggi di dunia. Penatalaksanaan DM yang kurang tepat akan mengakibatkan banyak komplikasi akut maupun kronis hingga kematian. Saat ini tatalaksana DM mencakup modifikasi gaya hidup serta agen farmakologis yang umumnya bersifat dependen terhadap insulin. Dapagliflozin merupakan sebuah agen baru penurun kadar gula darah yang bekerja independen terhadap insulin; yaitu dengan menghambat reabsorbsi glukosa di tubulus ginjal oleh reseptor SGLT2, sehingga memiliki efek samping metabolik lebih minim. Dapagliflozin merupakan modalitas baru yang menjanjikan dalam penatalaksanaan DM.Diabetes Mellitus (DM) is still one of the most prevalent disease in the world. Poor management may lead to multiple acute and chronic complications. Current management of DM consists of lifestyle modifications and pharmacological agents, which commonly are Insulin-dependent. Dapagliflozin is a novel Insulin-Independent blood glucose-lowering agent; it inhibits glucose reabsorbtion mediated by SGLT2 receptors in the renal tubules. This leads to less metabolic adverse event (e.g. weight gain and hypoglycemia), making dapagliflozin a new promising agent in DM management.
Dasar Terapi Tumor dan Kanker di Rumah Riset Jamu ‘Hortus Medicus’ Tawangmangu Zulkarnain, Zuraida
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.537 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.950

Abstract

Kanker merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan sampai saat ini. Jumlah penderita kanker terus bertambah dari tahun ke tahun terutama di negara berkembang. Penelitian tentang khasiat dan cara kerja agen khemopreventif telah banyak dilakukan. Sejak tahun 2000 Rumah Riset Jamu (RRJ)‘Hortus Medicus’ menggunakan dan sedang mengembangkan beberapa tanaman obat, seperti temu mangga (Curcuma mangga), daun teh hijau (Camelia sinensis), benalu (Scurulla sp), kunir putih (Kaemferia rotunda), bidara upas (Merremia mammosa), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa) dalam terapi tumor dan kanker baik sebagai agen khemopreventif maupun terapi komplementer dan alternatif. Review artikel dan publikasi jurnal nasional dan internasional ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kajian ilmiah dari tanaman obat yang bermanfaat sebagai agen khemopreventif yang selama ini digunakan di RRJ ‘Hortus Medicus’.Cancer is a disease that becomes a health problem nowadays. Research on the efficacy and the effectiveness of chemopreventive agents have been carried out. Since year 2000, Rumah Riset Jamu (RRJ) 'Hortus Medicus' uses and is developing several medicinal plants, such as temu mangga (Curcuma mangga), daun teh hijau (Camelia sinensis), benalu (Scurulla sp), kunir putih (Kaemferia rotunda), bidara upas (Merremia mammosa), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa) for tumor and cancer therapy either as chemoprevention, complementary and alternative therapies. This paper is a review to provide scientific information on medicinal plants used in RRJ 'Hortus Medicus' as chemopreventive agent.
Ensefalopati Hepatikum Minimal Ndraha, Suzanna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i11.944

Abstract

Ensefalopati hepatik (EH) merupakan salah satu komplikasi sirosis hati, angka kejadiannya lebih tinggi pada penderita sirosis hati malnutrisi. Ensefalopati hepatik minimal (EHM) adalah keadaan tidak terdapat gangguan klinis, namun pada tes psikometrik ditemukan kelainan. EHM penting karena mengurangi kualitas hidup. Dewasa ini tes critical flicker frequency (CFF) telah dikembangkan untuk mendiagnosis EHM. Tes ini telah divalidasi terhadap baku emas PHES. ESPEN 2006 merekomendasikan diet 35-40 Kcal/kgBB/hari dan protein 1,5 g/kgBB/hari untuk sirosis hati dengan malnutrisi. L-ornitin-L-aspartat (LOLA) terbukti dapat menurunkan kadar amonia darah. Beberapa studi telah membuktikan manfaat LOLA dan protein 1,5 g/kgBB/hari pada EHM malnutrisi dengan hasil baik.Hepatic encephalopathy (HE) is one of the complications in liver cirrhosis, the incidence is higher in malnutrition. Minimal hepatic encephalopathy (MHE) is clinically asymptomatic, detected by impaired psychometric test. MHE has been found to affect the quality of life and is a risk to develop overt HE. In recent years, critical flicker frequency (CFF) test has been developed for the diagnosis of MHE. Recent studies proved the efficacy of LOLA with a diet of 35-40 cal / kgBW and 1.5 g protein/kgBW including BCAA improve encephalopathy as well as nutritional status.

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue