Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
30 Documents
Search results for
, issue
"Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi"
:
30 Documents
clear
Asupan Serat Pangan dan Hubungannya dengan Keluhan Konstipasi pada Kelompok Dewasa Muda di Indonesia
Bardosono, Saptawati;
Surjadi Handoko, Iwan;
Audy Alexander, Ruth;
Sunardi, Diana;
Devina, Almira
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.26 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1247
Walaupun sampai saat ini konstipasi fungsional masih beragam definisinya, gejalanya sering dikeluhkan karena dirasakan mengganggu kualitas hidup khususnya, pada kelompok dewasa muda, dan bila tidak ditangani dengan baik akan berdampak negatif bagi kesehatan. Asupan serat yang memadai merupakan salah satu alternatif yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut, namun asupan sayur dan buah masyarakat di Indonesia masih jauh dari angka kecukupan yang dianjurkan; jumlah asupan serat harian pekerja dewasa muda di Jakarta bervariasi antara 3,3-27,4 g. Tambahan serat pangan dalam diet sehari-hari diharapkan dapat meningkatkan asupan serat sehingga dapat bermanfaat untuk mengatasi keluhan konstipasi.Although until now functional constipation still has various definitions, the symptoms are often interfering with quality of life, especially in young adults. If not managed properly, it may have a serious negative impact on health. Adequate fiber intake is an effective alternative to overcome this problem, but vegetables and fruits intake in Indonesia is still far from adequate. A recent pilot study found that the daily fiber intake among young adult workers in Jakarta is varied between 3.3–27.4 g. Additional dietary fiber in daily diet is expected to increase fiber intake so that it can be useful for dealing with complaints of constipation.Â
Tatalaksana Herpes Genitalis pada Kehamilan
Triana, Agung;
Dyah Ayu, Ardelia;
Zulfikar, Dendy;
Yustin, Endra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.818 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1236
Herpes simplex virus (HSV) adalah penyebab herpes genitalis (HG). Perubahan imunologi saat kehamilan akan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi HSV yang merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Pengaruh infeksi ini pada ibu dan janin/neonatus tergantung apakah infeksi primer (inisial) atau rekuren. Penentuan episode infeksi HG penting baik untuk tatalaksana maupun edukasi pasien.Genital herpes is caused by Herpes simplex virus (HSV). Immunologic changes in pregnancy may increase susceptibility to HSV infection as one of the major cause of morbidity and mortality for both mother and fetus. The effect to the mother and fetus/ neonate depends on whether a primary infection (initial) or a recurrent infection. Determination of an episode of genital herpes is important to provide best management and education.Â
Update on Hand Osteoarthritis: A Neglected Problem
Daniella, Dian;
-, Marianto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (137.271 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1243
Osteoarthritis (OA) is the most common rheumatologic disease and one of the leading causes of disability worldwide. Hand OA is the most common OA types after knee and hip OA. Risk factors include age, obesity, and family history. Abnormal mechanical loads, sex hormones, and inflammatory changes play role in pathogenesis of hand OA. Diagnosis is primarily based on clinical examination according to ACR guidelines. Plain radiography may support the diagnosis. ACR 2019 recommends comprehensive individualized treatment which include single or combination of physical, psychosocial, and/or pharmacological intervention. Topical NSAIDs are conditionally recommended. For initial oral medication, oral NSAIDs are strongly recommended and preferable to other medications. Exercise is also strongly recommended. Hand orthoses are highly recommended for patients with first CMCJ OA and conditionally recommended for patients with OA in other joints of the hand.Osteoartritis (OA) adalah penyakit reumatologis paling umum dan salah satu penyebab utama kecacatan di seluruh dunia. Osteoartritis tangan adalah jenis OA yang paling umum setelah OA lutut dan pinggul. Faktor risiko penyakit ini adalah usia, obesitas, dan riwayat keluarga. Beban mekanis abnormal, hormon seks, dan reaksi inflamasi juga berperan pada patogenesis OA tangan. Diagnosis OA tangan dapat ditegakkan klinis sesuai pedoman ACR. Pemeriksaan radiologis dapat membantu diagnosis. Pedoman ACR 2019 merekomendasikan tatalaksana komprehensif tunggal atau gabungan dari intervensi fisik, psikososial, dan/atau farmakologis sesuai kebutuhan pasien. OAINS topikal direkomendasikan untuk OA tangan pada kondisi tertentu. Untuk pengobatan oral awal, OAINS oral direkomendasikan sebagai pilihan utama. Olahraga sangat direkomendasikan termasuk untuk OA tangan. Orthosis tangan sangat dianjurkan untuk pasien CMCJ OA awal dan direkomendasikan pada pasien OA persendian tangan lain dengan kondisi tertentu.Â
Kontroversi Persalinan Spontan pada Miopia Tinggi
Iskandar, Ferdy;
Surya, Raymond;
Sungkar, Ali;
Debby Anggriany, Friska
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.96 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1248
Gangguan refraksi khususnya miopia tinggi pada wanita hamil sering dikaitkan dengan kejadian ablasio retina pasca-persalinan, sehingga persalinan per abdominam atau bantuan instrumen cenderung direkomendasikan pada wanita hamil dengan miopia tinggi. Padahal, indikasi persalinan per abdominam pada miopia tinggi adalah adanya neovaskularisasi koroid dan subretinal (dengan bintik Fuchs). Hingga saat ini belum didapatkan bukti bahwa miopia tinggi dan riwayat operasi retina sebelumnya meningkatkan risiko ablasio retina saat persalinan per vaginam.Refractive disorders, especially high myopia in pregnant women are often associated with postpartum retinal detachment, thus there is a tendency to recommend cesarean section or instrument-assisted labor in pregnant women with high myopia. In fact, the indications for cesarean section in patients with high myopia are choroidal and subretinal neovascularization (with Fuchs spots). There is no evidence of increased risk of retinal detachment during vaginal delivery in high myopia and previous history of retinal surgery.
Varisela Neonatal
Prasetya, Damar
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (197.406 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1239
Varisela atau cacar air merupakan infeksi primer virus varicella zoster. Varisela dapat mengenai seluruh kelompok usia termasuk neonatus. Manifestasi klinis pada neonatus tergantung saat paparan. Terdapat tiga jenis varisela neonatal, yakni sindrom varisela fetal, varisela neonatal dini, dan varisela post natal. Diagnosis varisela neonatal terutama ditegakkan secara klinis disertai adanya riwayat paparan. Tatalaksana meliputi rawat inap dan pemberian asiklovir intravena.Varicella or chickenpox is a primary varicella zoster virus infection. Varicella infects all age groups including newborns. Clinical manifestations of varicella infection in neonates depend on the time of exposure. Three types of neonatal varicella are fetal varicella syndrome, early neonatal varicella, and post natal varicella. Diagnosis was made mainly by clinical findings and history of exposure. Treatment includes hospitalization and intravenous acyclovir administration.
Late Diagnosis of Traumatic Diaphragmatic Rupture: Experience in Developing Country
Sutanto Koerniawan, Heru;
Kuning Atmadjaya, Nengah;
Wiargitha, Ketut
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (161.76 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1244
Diaphragm is a dome-shaped muscular structure that can be divided into right and left hemi-diaphragm. Rupture of diaphragm can be caused by penetrating trauma or blunt trauma to chest and abdomen. A 32 year-old man with sustained traumatic rupture of diaphragm due to blunt abdominal trauma because of traffic accident. Diaphragm repair was performed at the 6th day.Diafragma adalah struktur otot berbentuk kubah yang dapat dibagi menjadi hemi-diafragma kanan dan kiri. Pecahnya diafragma dapat disebabkan oleh trauma tembus atau trauma tumpul pada dada dan perut. Seorang pria 32 tahun dengan trauma pecah diafragma karena trauma tumpul pada perut karena kecelakaan lalu lintas. Perbaikan diafragma dilakukan pada hari ke-6.
Tinjauan atas N-Nitrosodimethylamine (NDMA)
Afifah Nurullah, Fitri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.911 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1249
Beberapa jenis obat disinyalir telah terkontaminasi NDMA dalam konsentrasi yang berbeda-beda. N-Nitrosodimethylamine (NDMA) adalah salah satu senyawa golongan karsinogen potensial, N-nitrosamine. NDMA, sebagai senyawa organik terbentuk secara alami dan sebagai produk sampingan industri, dapat tersebar di udara, air, dan tanah. Dalam kondisi tertentu NDMA bisa terbentuk di dalam tubuh makhluk hidup, termasuk manusia dan terdegradasi secara alami. NDMA disinyalir dapat mengganggu kesehatan dan meningkatkan risiko pertumbuhan neoplasi, tergantung pada konsentrasi dan durasi paparan. Ambang batas keamanan kadar NDMA telah diatur dalam berbagai peraturan.Several drugs were thought to have been contaminated by NDMA at different concentration. N-Nitrosodimethylamine (NDMA) is a compound of potential carcinogen group, N-nitrosamine. NDMA is formed naturally and as industrial byproducts, can be disseminated in air, water and soil. In certain condition, NDMA can be formed inside living organism including human, and will be naturally degraded. NDMA might cause health disturbance and increase risk of neoplastic growth, depending on concentration and exposure duration. Safety level of NDMA is stated on several regulations.Â
Diagnosis dan Tatalaksana Tinea Imbrikata
Hartanto, David Dwiadiputra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (181.06 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1240
Tinea imbrikata merupakan dermatofitosis superfisial kronik yang sering kambuh, terutama mengenai individu di lingkungan primitif dan terisolasi. Penyakit ini disebabkan oleh dermatofita antropofilik, yaitu Tricophyton concentricum. Indonesia masih termasuk daerah endemis. Penularan melalui kontak erat dengan orang terinfeksi. Faktor predisposisi termasuk faktor kelembapan, keturunan, dan imunologi. Terapi terbaik menggunakan terbinafine dan griseofulvin oral dengan kombinasi keratolitik topikal. Terapi adekuat, eliminasi faktor predisposisi, dan sumber infeksi penting untuk mengurangi kekambuhan.Tinea imbricata is a chronic and often recurrent superficial dermatophytosis, mainly affects individuals living in primitive and isolated environment. Tinea imbricata caused by anthropophilic dermatophyte, Trichophyton concentricum. Indonesia is still an endemic area. Transmission is through close contact with an infected person. Predisposing factors include humidity, heredity, and immunology. Best therapy is oral terbinafine and griseofulvin combined with topical keratolytic. Adequate therapy, elimination of predisposing factors, and source of infection are important to reduce recurrence.
Fase Krisis Blast Chronic Myeloid Leukemia dengan Acute Renal Failure
Wibianto, Anastasia;
Prihadi, Dinny Gustina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.203 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1245
Leukemia myeloid kronik merupakan penyakit mieloproliferatif dengan komplikasi tersering gagal ginjal. Fase krisis blast cukup jarang tetapi terberat dari seluruh fase leukemia myeloid kronik dengan risiko kematian tertinggi. Kasus: Perempuan 72 tahun dengan leukositosis 218.700/µl dan gagal ginjal akut dengan kreatinin 7,1 mg/dL. Dari morfologi darah tepi disimpulkan leukemia mieloid kronik dengan sel blast 54%. Pasien diterapi dengan dua sesi leukapheresis, dan idarubicin selama 3 hari dengan terapi pengganti ginjal berkelanjutan. Selanjutnya pasien diberi sitarabin IV selama 7 hari, dengan hasil remisi.Chronic myeloid leukemia is a myeloproliferative disease with renal failure as the most common complication. Blast crisis is the rarest but worst phase of chronic myeloid leukemia with highest mortality. Case: A 72-year-old woman presented with leukocytosis 218,700/µl, and acute renal failure with creatinine 7,1 mg/dL. The peripheral blood morphology showed chronic myeloid leukemia with 54% blast cells. The patient was treated with two sessions of leukapheresis, and idarubicinfor 3 days in the setting of continuous renal replacement therapy, followed with 7 days of continuous cytarabineinfusion. The patient went into a complete remission.
Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu akibat Perdarahan Pasca Persalinan di Indonesia melalui Inovasi Sistem Pelayanan Kesehatan
Remifta Putra, Muhammad Alifian;
Christopher Yo, Edward;
Phowira, Jason;
Dewi Anggraeni, Tricia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.98 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1250
Perdarahan pasca-persalinan (PPP) adalah komplikasi persalinan yang menyebabkan 35% seluruh kematian ibu di dunia. Meskipun PPP mulai jarang ditemui di negara maju, kondisi ini masih merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini antara lain akibat infastruktur kesehatan yang kurang optimal, sehingga terlambat mengidentifikasi faktor risiko PPP, merujuk, serta memberikan intervensi tepat waktu. Kajian pustaka ini mengamati adanya hubungan signifikan antara penurunan kematian ibu akibat PPP dan implementasi sistem peringatan dini obstetri, manajemen efektif, dan optimalisasi alur rujukan. Namun, karena tiap wilayah memiliki aspek sosioekonomis dan geografis yang berbeda, studi lanjutan diperlukan untuk menentukan pendekatan yang tepat bagi masing-masing wilayah di Indonesia.Postpartum hemorrhage (PPH) is a life-threatening condition that contributes to 35% of all maternal deaths worldwide. Although the risk of PPH has greatly declined in developed countries, it remains a leading cause of maternal mortality in developing countries like Indonesia. This issue could mainly be attributed to poor healthcare system and infrastructure leading to delay in identifying risk factors, referring mothers-at-risk to health centers, and appropriate intervention. We observed a notable relationship between decrease in maternal deaths due to PPH and the implementation of early warning system, effective PPH management, and optimization of referral system. These healthcare innovations showed promising potential in reducing the burden of PPH. However, since there is no single health policy that can be universally implemented, further research is needed to decide the best approach for each area depending on individual, socio-economic and geographic aspects.