cover
Contact Name
Ahmad Rustam
Contact Email
ahmad.rustam1988@gmail.com
Phone
+6285399507330
Journal Mail Official
ahmad.rustam1988@gmail.com
Editorial Address
http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajsh/1
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora
Published by Arden Jaya Publisher
ISSN : 28081447     EISSN : 28081307     DOI : 10.57250
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) menerbitkan karya hasil penelitian dan kajian ilmiah pada ruang lingkup ilmu sosial dan ilmu humaniora diantaranya: antropologi, kajian bisnis, kajian komunikasi, tata kelola perusahaan, kriminologi, kajian lintas budaya, demografi, kajian ekonomi pembangunan, studi pendidikan dan etika, geografi sosial, studi manajemen teknologi informasi, hubungan industrial, hubungan internasional, studi hukum, studi media, ilmu politik, studi dinamika kependudukan, studi psikologi, studi administrasi publik, sosial kesejahteraan, studi agama dan linguistik. Nama terbitan berkala : Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH) Bulan dan tahun pertama kali terbit : Agustus (2021) Edisi berlaku ISSN yang di ajukan : Vol. 1, No. 2, Aguatus (2021) Frekuensi terbitan : 3 Kali dalam Setahun Bahasa untuk artikel yang diterbitkan : Indonesia dan Inggris Media terbitan (cetak/elektronik) : Cetak dan Elektronik Alamat url terbitan : http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/Ajsh
Articles 1,097 Documents
Revolusi Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan di Era Pemerintahan Orde Lama Hingga Reformasi ditinjau dalam Perspektif Ketenagakerjaan Rifqi Febrian
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2200

Abstract

Revolusi dalam perkembangan hukum ketenagakerjaan mencerminkan perubahan signifikan dalam cara negara mengatur hubungan antara pekerja dan pemberi kerja, seiring dengan dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berkembang. Perubahan ini berfokus pada perlindungan hak-hak pekerja, pemberdayaan serikat pekerja, dan penyesuaian terhadap model kerja baru, seperti gig economy dan pekerjaan fleksibel. Regulasi yang lebih inklusif mencakup jaminan sosial, kesetaraan gender, dan pemberantasan diskriminasi di tempat kerja. Selain itu, perkembangan ini juga mengarah pada peningkatan pengawasan dan penegakan hukum ketenagakerjaan serta penerapan standar internasional yang lebih ketat. Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan pasar kerja, hukum ketenagakerjaan perlu terus disesuaikan untuk memastikan pekerja di berbagai sektor mendapatkan perlindungan yang adil dan merata. Beberapa saran yang diajukan antara lain penguatan pendidikan dan sosialisasi hukum ketenagakerjaan, penyesuaian regulasi terhadap model kerja non-konvensional, serta pemanfaatan teknologi dalam pengawasan dan penyelesaian sengketa. Revolusi hukum ketenagakerjaan ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara hak pekerja dan kepentingan pemberi kerja, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil, aman, dan inklusif
Peran Tari Wor dalam Upacara Adat Suku Biak Sevlyn Cintya Eurine Rantung; Darmawan Edi Winoto; Aldegonda E. Pelealu
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2201

Abstract

Tari Wor merupakan salah satu warisan budaya sakral masyarakat suku Biak yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan upacara adat. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media ritual yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan Tari Wor dalam upacara adat suku Biak serta mengkaji peran dan makna simbolis yang terkandung dalam setiap gerakan tarinya. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku budaya, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Wor dilaksanakan secara sakral dan terstruktur, melibatkan penggunaan bahasa dan dialek Biak, nyanyian adat, kostum tradisional, serta gerakan tari yang terinspirasi dari alam, khususnya laut sebagai sumber kehidupan masyarakat Biak. Setiap gerakan Tari Wor mengandung makna simbolis yang mencerminkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Manggundi), leluhur, sesama manusia, dan lingkungan alam. Selain itu, Tari Wor berperan sebagai sarana pewarisan nilai budaya, identitas sosial, serta penguatan solidaritas masyarakat. Dengan demikian, Tari Wor tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan identitas masyarakat suku Biak di tengah dinamika perubahan sosial.
Sinamot : Adat Perkawinan Suku Batak Toba di Perantauan (Manado) Devi Sagala; Max L Tamon, M. Hum; Darmawan Edi Winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2203

Abstract

Tradisi sinamot merupakan salah satu unsur penting dalam perkawinan adat Batak Toba yang diwariskan secara turun-temurun sebagai simbol penghormatan kepada pihak keluarga perempuan, pengikat kekerabatan, serta wujud tanggung jawab calon mempelai laki-laki terhadap kehidupan rumah tangga. Penelitian ini membahas keberlangsungan serta adaptasi tradisi sinamot pada masyarakat Batak Toba yang melangsungkan perkawinan di tanah perantauan, khususnya di Kota Manado, Sulawesi Utara. Dalam konteks perantauan, pelaksanaan sinamot tidak sepenuhnya identik dengan praktik di bona pasogit (tanah asal) karena dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan sosial, interaksi budaya lokal, serta perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian kualitatif yang Dimana peneliti melakukan wanwacara dengan beberapa tokoh Masyarakat dan mengolah data hasil wawancara tersebut, meskipun nilai dasar sinamot sebagai simbol penghargaan dan pengikat kekerabatan tetap dipertahankan, bentuk maupun maknanya mengalami penyesuaian. Besaran sinamot cenderung disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, sementara praktik tambahan seperti tradisi todoan di Tondano Selatan menunjukkan adanya transformasi budaya yang khas di daerah rantau. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya pergeseran makna sinamot meliputi modernisasi, perbedaan pandangan agama, tingkat pendidikan, status sosial, serta kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan demikian, tradisi sinamot pada masyarakat Batak Toba di Manado memperlihatkan sifat budaya yang dinamis: tetap lestari dalam esensi adatnya, namun bertransformasi agar relevan dengan kehidupan masyarakat multikultural dan modern.
Karema dan Kepemimpinannya di Minahasa (Sebuah Tinjauan Historisisme) Sania Robot; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2204

Abstract

Tradisi lisan orang Minahasa yang sampai saat masih dituturkan adalah Karema. Karema merupakan leluhur orang Minahasa yang peran dan eksistensinya sangatlah menentukan garis peradaban bagi generasi mereka. Mitologi orang Minahasa memposisikan Karema sebagai orang pertama didunia, dia juga memiliki tugas sebagai imam perempuan atau walian. Ketokohan Karema berkaitan dengan peran dan fungsinya pada awal peradaban Minahasa menjadi objek penelitian yang diangkat dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu berupa gagasan atau ide yang dituangkan dalam bentuk kata-kata atau kalimat yang dihasilkan dari objek penelitian serta berkaitan dengan kejadian yang melingkupi sebuah objek penelitian. Penelitian ini mendeskripsikan hasil analisis yang diperoleh dari informan dan dari dokumen-dokumen yang relevan dan menunjang penelitian ini. Selanjutnya hasil penelitian dikaji berdasarkan pendekatan historisisme. Hasil analisis dari penelitian ini mengungkapkan unsur kesejarahan dari peran Karema sebagai seorang pemimpin perempuan dalam kepercayaan Minahasa dan menjadikannya sebagai prototipe bagi generasi setelahnya. Karema dalam dunia kontemporer telah menjadi representasi perempuan Minahasa dalam karakter pemimpin-pemimpin yang tampil dengan gaya kepemimpinan yang mumpuni. Karema dijadikan sebagai tokoh sejarah dan budaya yang menginspirasi tidak hanya dalam konteks kesejarahan orang Minahasa tetapi juga dalam konteks budaya dan pendidikan.
Tradisi Padungku Masyarakat Suku Pamona di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Agnes Agnita Lukalemba; Darmawan Edi Winoto; Almen S Ramaino
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2205

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan tradisi Padungku pada masyarakat suku Pamona di Desa Toinasa, Kecamatan Pamona-Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Padungku merupakan salah satu warisan budaya turun-temurun yang dilaksanakan sebagai ritual pengucapan syukur setelah masa panen padi selesai. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada sang pencipta tetapi juga sebagai sarana mempererat solidaritas sosial, gotong royong, dan identitas sosial masyarakat suku Pamona. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk memahami secara mendalam nilai, norma, dan praktik budaya Padungku langsung dari perspektif masyarakat setempat. Selain itu, metode sejarah digunakan untuk merekonstruksi asal-usul, perkembangan, dan perubahan pelaksanaan tradisi ini dari masa ke masa, terutama pasca konflik sosial yang pernah melanda wilayah Kabupaten Poso. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Padungku tetap bertahan meski mengalami perubahan akibat modernisasi dan pengaruh agama. Pelaksanaan Padungku berperan penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal dan kearifan masyarakat Pamona dalam menghadapi dinamika sosial serta memberikan kontribusi pada pemulihan keharmonisan pasca konflik. Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai kerohanian, moral, dan kebersamaan yang kuat, yang menjadi fondasi sosial budaya masyarakat. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru dan kontribusi akademis serta praktis dalam pelestarian tradisi lokal sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.
Konstruksi Citra Bupati Kabupaten Sikka Periode 2025-2030 melalui Komunikasi Politik di Media Sosial: Facebook, Instagram,dan TikTok Yanuarius Tibo; Elisabeth Imelda Kevin Liwu; Wilfrid Valiance
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konstruksi citra Bupati Kabupaten Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dibangun melalui praktik komunikasi politik di media sosial. Di era digital, media sosial menjadi ruang strategis bagi aktor politik dalam menyebarkan pesan, membangun kedekatan, dan memperkuat legitimasi kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis wacana untuk menelaah narasi dan simbol yang muncul dalam komunikasi digital Bupati Sikka pada periode 2025-2030.Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra Bupati Sikka dikonstruksi melalui dua dimensi utama: (1) personal branding dengan menonjolkan karakter pemimpin muda dan sederhana (2) partisipasi digital, melalui dialog aktif dengan masyarakat. Kedua strategi ini memperkuat citra kepemimpinan yang humanis, dan moderen.Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi politik digital menjadi instrumen penting dalam membangun legitimasi sosial dan dukungan publik terhadap kepala daerah di era demokrasi digital.
Strategi Pemasaran Event Organizer dalam Meningkatkan Daya Saing di Era Digital (Studi Kualitatif Pada Eo Lokal di Jakarta) Ratih Komala Dewi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2209

Abstract

Perkembangan teknologi digital mendorong Event Organizer (EO) untuk mengadaptasi strategi pemasaran agar mampu bersaing di era digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pemasaran yang diterapkan oleh EO lokal di Jakarta dalam meningkatkan daya saing, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta mengkaji peran inovasi digital dalam efektivitas pemasaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial, content marketing, digital advertising, dan penguatan brand image menjadi strategi utama  dalam meningkatkan visibilitas  dan daya  saing EO.  Namun, keterbatasan kompetensi sumber  daya  manusia  di bidang  digital  marketing serta  kesamaan strategi antar EO masih menjadi kendala. Inovasi digital terbukti meningkatkan customer engagement dan loyalitas klien. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi EO lokal dalam merancang strategi pemasaran yang adaptif dan berkelanjutan.
Penerapan Konsep Welfare State (Negara Kesejahteraan) dalam Kaca Mata Pancasila untuk Menyokong Indonesia Emas Tahun 2045 Muhamad Afif Kafandi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2215

Abstract

Sebagai negara yang mengatasnamakan dirinya sebagai negara hukum  (Rechtsstaat), Setiap hal yang dilakukan  di  negara  ini  harus  beralaskan  hukum.  pengaturan  melalui  hukum merupakan suatu bentuk upaya pencegahan agar tidak terjadi kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh alat negara maupun penduduk di dalam negara itu sendiri, maka implikasi dari sikap tersebut membawa dampak yang sangat mendasar artinya segala sesuatu yang berkaitan  dengan  proses  kehidupan  berbangsa,  bernegara  dan  bermasyarakat  haruslah berdasarkan peraturan perundang–undangan (konstitusi).  Tujuan negara dan amanat konstitusi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan tidak hanya memastikan bahwa kekayaan didistribusikan secara adil, tetapi juga mengurangi kemiskinan, menyediakan layanan penting, dan menawarkan jaminan sosial kepada setiap warga negara. Namun, tujuan mulia tersebut belum sepenuhnya tercapai. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang menggunakan analisis hukum dan bahasa deskriptif untuk mendeskripsikan temuan. Riset tentang prinsip efisiensi kesejahteraan yang berkeadilan perlu didukung oleh pasar yang berfungsi, masyarakat sipil, dan negara. Bantuan pemerintah tersebut menyatakan bahwa Indonesia perlu berlandaskan Pancasila dalam rangka pengakuan hak-hak keperdataan bagi seluruh rakyat Indonesia yang berjiwa kesucian, kesopanan, kekeluargaan dan kepopuleran berdasarkan gotong royong.
Human Trafficking : Lingkar Kemiskinan pada Perempuan dan Anak di Manado Anggelina Kepadamu Pinamangun; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2220

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengapa perempuan dan anak menjadi sasaran utama human trafficking di Manado serta faktor penyebab dan dampaknya, akibat lingkar kemiskinan struktural. Tujuan utamanya adalah menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang menyebabkan kerentanan mereka terhadap eksploitasi. Sasaran penelitian mencakup tinjauan historis-multidisipliner untuk memahami dinamika sejak era kolonial hingga modern, guna merekomendasikan strategi pencegahan yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian menerapkan metode historis berdasarkan langkah Gottschalk, meliputi heuristik untuk pencarian sumber, kritik sejarah internal-eksternal guna verifikasi keaslian, interpretasi multidisipliner dari perspektif sosiologi, ekonomi, dan gender, serta historiografi untuk menyusun narasi koheren. Data dikumpul melalui library research dari literatur, laporan pemerintah, dan dokumen relevan, dianalisis secara sistematis untuk menghubungkan konteks historis dengan isu kontemporer.Analisis mengungkap bahwa human trafficking di Manado berakar dari praktik kolonial seperti kerja rodi dan jugun ianfu kemudian menjadi bentuk modern melalui perekrutan digital, didorong kemiskinan struktural, posisi geografis strategis (Bandara Sam Ratulangi dan Pelabuhan Bitung),serta budaya merantau Minahasa yang dieksploitasi pelaku. Perempuan dan anak paling rentan, mengalami dampak berupa trauma fisik-psikologis, hilang hak pendidikan, stigma sosial,dan siklus kemiskinan yang berkelanjutan.Temuan ini menegaskan bahwa human trafficking di Manado adalah fenomena interdisipliner yang memperburuk ketidakadilan gender dan ekonomi, memerlukan pendekatan holistik untuk pemutusan siklus. Dengan mengintegrasikan pelajaran historis, penelitian merekomendasikan penguatan pengawasan perbatasan, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan edukasi anti-trafficking berbasis komunitas, guna melindungi hak asasi manusia dan membangun masyarakat Manado yang lebih adil serta berkelanjutan.
Persepsi Mahasiswa tentang Konsep Atman sebagai Nilai Spiritual dalam Praktik Caring Keperawatan Putu Agus Windu Yasa Bukian
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2229

Abstract

Konsep Atman dalam ajaran agama khususnya hindu menggambarkan hakikat diri sejati yang suci, abadi, dan merupakan bagian dari kesadaran Ilahi. Dalam konteks pendidikan keperawatan, pemahaman terhadap Atman dapat menjadi dasar spiritual bagi pengembangan sikap caring, yaitu kemampuan memberikan asuhan keperawatan dengan empati, kasih, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa keperawatan terhadap makna Atman serta penerapannya dalam praktik caring. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Partisipan berjumlah 15 mahasiswa keperawatan semester 1 pada Sekolag Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng, Bali, terdiri atas 10 perempuan dan 5 laki-laki, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode thematic analysis dengan tahapan reduksi, kategorisasi, dan penarikan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memahami Atman sebagai sumber kesadaran spiritual dan dasar moral dalam berinteraksi dengan pasien. Tiga tema utama ditemukan, yaitu: (1) Atman sebagai dasar empati dan kasih universal, (2) pemahaman Atman menumbuhkan kesadaran akan kesatuan antara diri dan orang lain (Tat Twam Asi), dan (3) praktik caring dianggap sebagai wujud pengabdian spiritual melalui pelayanan tulus tanpa pamrih. Mahasiswa juga mengaitkan nilai Atman dengan sikap sabar, rendah hati, dan tanggung jawab moral dalam menjalankan tugas keperawatan. Penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai spiritual Hindu, khususnya konsep Atman, dapat memperkuat dimensi humanistik dalam pendidikan keperawatan. Integrasi ajaran spiritual ini diharapkan mampu menumbuhkan perawat yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan kasih universal dalam memberikan pelayanan kepada sesama.