Al-Afaq: Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi
Jurnal Al-Afaq merupakan jurnal yang dibentuk oleh Prodi Ilmu Falak Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Jurnal ini membahas keilmuan Ilmu Falak terkait kajian arah kiblat, Hisab dan Rukyah awal Bulan Hijriah, Kalender Dunia dan Fenomena Gerhana. Selain itu, jurnal Al-Afaq juga membahas kaitan antara fenomena astronomi umum dengan kajian ilmu falak.
Articles
191 Documents
Analisis Kesesuaian Kalender Jawa Islam dengan Kalender Hijriyah
Sholehuddin, Muhammad;
Siti Tatmainul Qulub
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 4 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v4i1.4198
Before Islam came, Javanese people were familiar with the calendar system. The influx of HinduBuddhist influences also influenced the calendar in Java. Then with the start of the establishment of an Islamic-style kingdom on the island of Java, especially during the Islamic Mataram period when the influence of Islam entered the island of Java, the calendar system was changed by the great sultan to a Javanese calendar using Islamic calendar calculations. The Javanese calendar is still in existence so it is necessary to know the adjustments that occur between the Saka calendar and the Hijri calendar which then produces the Javanese Islamic calendar and to know the application used to determine the beginning of the Qomariah month with the aim of knowing howto use the Javanese Islamic calendar and know its application in determining the beginning of themonth of Qomariah. The calculation system used in the Javanese Islamic calendar is the Urfi reckoning system, except in certain years where there are different long and short year appointments at certain times. Based on the results of the analysis, it is concluded that the adjustments of the Javanese Islamic calendar in the calculations are intended to maintain conformity with the hijri calendar.Keywords: Javanese Calendar, Islamic Calendar, Qomariah Calendar
Kontroversi Tanggal Wafat Imam Ali Ra dan Tinjauannya dalam Perspektif Astronomi Islam
Nadirin, Akhmad
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 4 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v4i1.4213
Ali bin Abi Talib is one of the companions of the Prophet SAW who is guaranteed to enter heaven along with nine other friends. He led Islam for about four years before being stabbed by Abdurrahman bin Muljam while praying shubuh at the end of 40 AH until he died. In some literature, Imam Ali was killed on Friday night or Sunday night. In addition, there are several opinions in various Islamic historical literature about the date of the death of Ali ibn Abi Talib. Some say on Friday, 17 Ramadan 40 H. There are also opinions that mention 11 Ramadan 40 H. Some even write that Imam Ali died at the end of Rabiul Awal 40 H. This research is intended to answer the problem of Imam Ali's death date in perspective. astronomy. This problem is discussed with qualitative research in the form of library research. The primary source used in this study is T?rikh al-T?bari T?rikh al-Um?m w? alMuluk, Ash?b al-Futuy? , al-K?mil fi al-T?rikh, al-Bid?y?h w? al-Nih?y?h. All the data obtained were then converted into either the day or the date of the Gregorian era and matched the data in the historical book. The results showed that the data on the date of the death of Ali bin Abi Talib based on astronomical calculations was on Sunday, 17 Ramadan 40 H / 24th January 661 AD.Keywords: controversy, date of death, Imam Ali ra, astronomy
Studi Komparasi Sejarah dan Aturan Kalender Tahun Masehi: Julian dan Gregorian
Farah, Labibah Amil;
Saifulloh, M.;
Roesuldi, Juhanda
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 4 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v4i1.4361
The common era calendar was a calendar from the ancient Roman calendar that uses lunar system that Julius Caesar then modified on sosignes' suggestion to use the solar system as the with one year's tropical length to 365.25 days. As science progressed, Pope Gregory XIII made improvements by favoring a reference to the tropic count 365.2425 days, shorter by 0.0075 days than Julian. Gregory added new rules and corrections to Julian's calendar to keep the calendar in line with the annual movement of the sun. It also explains how dates are dated before and after the common era.Keywords: calendar, masehi, julian, gregorian, islamic astronomy
Kontribusi Kiai Ahmad Dahlan Al-Samarani Dalam Perkembangan Kajian Ilmu Falak Di Indonesia
Maghfuri, Alfan
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4768
Ilmu falak telah lama berkembang seiring dengan perkembangan Islam di Indonesia. Kajian ilmu falak di Indonesia ini dimulai dari berkembangnya hisab‘urfi hingga berkembang menjadi hisab ?aq?q? pada periode reformisme Islam di awal abad ke 20-an. Makalah ini membahas salah satu tokoh yang ikut meramaikan perkembangan kajian ilmu falak pada periode reformisme ini yaitu Kiai Ahmad Dahlan al-Samarani. Dalam keilmuan falaknya, Kiai Ahmad Dahlan al-Samarani mempunyai tiga buah karya, yaitu Ta?kirah al-Ikhw?n, Bul?g al-Wa??r dan Natijah al-M?q?t. Dari pembahasan terhadap pengaruh dari karya-karyanya ini, ditemukan bahwa Kiai Ahmad Dahlan al-Samarani mempunyai peran yang sangat strategis dalam perkembangan hisab ?aq?q? di Indonesia. Kiai Ahmad Dahlan ini bisa dikatakan sebagai pelopor berkembangnya hisab ?aq?q?, baik ?aq?q? taqr?b? maupun ?aq?q? ta?q?q?. Karyakaryanya menjadi awal mula munculnya kitab-kitab ilmu falak yang serupa sehingga kajian ilmu falak setelah masanya di dominasi oleh kitab-kitab yang mempunyai kemiripan dengan kitab-kitab yang disusunnya.
Penentuan Awal Bulan Kalender Rowot Sasak Perspektif Fikih dan Astronomi
Wathoni, Muhammad Muzayyinul
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4769
Kalender Rowot Sasak merupakan kalender tradisi masyarakat suku sasak yang disinkronkan dengan kalender Hijriah, nama-nama bulan yang ada dalam kalender tersebut adalah nama-nama bulan yang ada dalam kalender Hijriah, hanya saja dialihbahasakan ke dalam bahasa sasak. Jumlah bulan yang ada dalam kalender Rowot Sasak juga sama dengan jumlah bulan yang ada dalam kalender Hijriah. Dalam penentuan awal bulannya, kalender Rowot Sasak memiliki cara tersendiri, tidak seperti halnya penentuan awal bulan kalender Hijriah yaitu ditandai dengan kemunculan hilal sebagai awal bulannya. dalam penelitian ini, data diperoleh dari hasil wawancara dan dari buku serta artikel yang memiliki kesamaan dengan tema penelitian. Selanjutnya data hasil penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan awal bulan kalender Rowot Sasak dengan cara hisab urfi. Secara fikih, kalender Rowot Sasak tidak dapat dijadikan sebagai rujukan dalam peribadatan umat Islam karena penentuan awal bulannya tidak ditandai dengan ketampakan hilal. Adapun secara astronomi, maka kalender ini termasuk lunar system dan aritmatik.
Sistem Penanggalan Suku Nias Perspektif Ilmu Falak dan Astronomi
Arisafitri, Novi;
Izzuddin, Ahmad
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4770
Masyarakat tradisional Nias dulu dalam pembagian dan penamaan waktu mereka mengacu pada aktivitas sehari-hari seperti beternak, bertani, kerja domestik dan fenomena alam lainnya. Penamaan waktu ini mereka sebut sebagai penanggalan harian yaitu Fanötöi ginötö. Selain kalender Masehi dan kalender Fanötöi ginötö masyarakat Nias mempunyai kalender periode senggang tahunan digunakan untuk kegiatan pertanian dan kegiatan adat istiadat suku Nias yang mengacu pada peredaran Bintang Orion atau Bintang Sara Wangahalö. Oleh karenanya penulis mengangkat rumusan masalah diantaranya: Bagaimana Sistem Penanggalan Suku Nias? Bagaimana Sistem Penanggalan Suku Nias ditinjau dalam perspektif Ilmu Falak dan Astronomi?. Penelitian ini bersifat kepustakaan dengan pendekatan deskriptif analisis dan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah Penanggalan tradisional Nias ini mengacu pada siklus Bulan atau fasefase Bulan yang terdiri dari 15 hari pertama dinamakan Bulan terang dan 15 terakhir Bulan mati. Disamping itu juga dipengaruhi letak Matahari dengan acuan Bintang Orion. Dalam perspektif Ilmu Falak tidak bisa digunakan, dalam peribadatan umat muslim karena penanggalan ini membutuhkan bulan tambahan (Nasi’) yang terlarang dalam ajaran Islam, tidak mempunyai nama dari bilangan bulan dan tahun. Sementara dalam perspektif Astronomi sistem penanggalan ini tergolong sebagai penanggalan Luni-Solar dengan perhitungan Astronomik..
Menyikapi Keragaman Hisab Rukyat Organisasi Masyarakat Di Indonesia
Indayati, Wiwik
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4771
Penentuan awal Bulan Qamariyah masih mengalami polemik dan sulit untuk dipertemukan. Permasalahan ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah ragamnya aliran hisab rukyat yang ada di Indonesia. Berbagai organisasi masyarakat di Indonesia memiliki pemikiran dan pendapat masing-masing mengenai kriteria penetapan hilal sehingga tak jarang terjadi kontrovesi satu sama lain karena belum menemukan kesepakatan. Perlu diketahui juga bahwa memang tidak ada patokan yang konkrit tentang kriteria penentuan yang disepakati oleh seluruh ahli falak di Indonesia sebagai acuan bersama. Hal tersebut bisa menimbulkan permasalahan yang tak kunjung usai dan konflik antar kelompok masyarakat yang menyebabkan rusaknya citra syiar Islam.
Penyatuan Kalender Hijriah Nasional dalam Perspektif Ormas Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)
Husna, Amirah Himayah;
Ardini, Shirly;
Qulub, Siti Tatmainul
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 3 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v3i2.4772
Penelitian ini berawal dari problematika penentuan awal bulan yang memunculkan keragaman dalam penetapannya. Problematika ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan pemikiran Islam yang dihiasi oleh banyak aliran atau mazhab didalamnya yang kemudian memunculkan perbedaan. Perbedaan ini faktanya terjadi di Indonesia yang tidak terlepas dari dua organisasi masyarakat besar Islam yang ada di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU). Dalam dua organisasi masyarakat ini ada yang menggunakan metode hisab dan ada yang menggunakan metode rukyat dalam menentukan awal bulan. Problematika antara hisab dan rukyat ini senantiasa ramai bahkan mampu menjadikan umat Islam bertengkar satu sama lainnya dikarenakan masing-masing organisasi masyarakat tersebut saling mengeklaim kebenarannya. Hal ini karena, tidak ada kesepakatan terkait sistem penanggalan Hijriyah di Indonesia yang dapat dijadikan acuan bersama. Dalam mewujudkan kesatuan penetapan ini harus ada satu mazhab yang menjadi acuan, yakni mazhab negara seperti dalam kaidah “keputusan hakim (negara) untuk menghapus perbedaan”. Relevansi penyatuan kalender Hijriyah dapat dilihat dari dua sudut pandang organisasi masyarakat sedangkan untuk upaya merealisasikan penyatuan kalender Hijriyah dapat dilakukan melalui para ahli Astronomi di Indonesia berdasarkan kewenangan Kementrian Agama Republik Indonesia untuk mengambil kebijakan terhadap problematika yang ada.
Studi Komparasi Terhadap Akurasi Istiwaaini Dengan Kompas Kiblat Android “Muslim Go” Dalam Pengukuran Arah Kiblat
-, Misrahul Safitri
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 4 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v4i1.5070
This article discusses the comparison of the accuracy of two tools that are often used to measure the Qibla direction, namely Istiwaaini and the Qibla Compass Android Muslim Go. In addition to knowing and studying the working principles and calculation methods applied to the two tools, this study also aims to compare their accuracy in determining the Qibla direction. This study is a field research with a qualitative approach. Data was collected by measuring the Qibla direction directly at the Great Mosque of Central Lombok using these two tools. Meanwhile, the analysis method uses astronomical data analysis and descriptive data analysis. The results showed that Istiwaain showed more accurate results compared to the Muslim Go android Qibla compass. The inaccuracy of the results displayed by the Muslim Go android Qibla compass could be due to the absence of magnetic declination correction in determining the Qibla azimuth. Keywords: Istiwaain, Qibla Compass Android Muslim Go, Qibla Direction Measurement Method, Accuracy
Mistar Kalender dalam Pengembangan Khazanah Instrument Falak
moelki-123, Moelki Fahmi Ardliansyah
AL - AFAQ : Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi Vol. 4 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20414/afaq.v4i1.5115
Calendars by humans are used to mark the change of days and dates. Basically the calendar refers to the movement of celestial bodies. For example, the Gregorian calendar is a calendar that refers to the movement of the Sun. At this point, actually knowing the date on the calendar can be through solar observations, but of course you need a tool. In this study trying to build a celestial instrument to determine the date on the Gregorian calendar called the Mistar Kalender. Furthermore, this study tries to analyze the extent of its accuracy as well as its advantages and disadvantages. This study uses a mixed method combining library and experimental methods with descriptive analysis and numerical analysis approaches where data collection is done through documentation and numerical experimental results. The result of this research is that the Calendar Ruler is built on the concept of the position of the Sun at the local celestial meridian by utilizing a stick/gnomon which will form a shadow length of different sunlight each day. The results of the numerical test carried out showed that the length of the gnomon affected the placement of the sign for the date. The disadvantage of this instrument is that it is local according to the coordinates of the place of observation and depends on the weather at the time of observation. The advantage is as a celestial education medium to make it easier to understand the concept of the Gregorian calendar from the position of the Sun when it is in the local sky meridian.Keywords: Calendar Ruler, Gnomon, Astronomical Instruments