cover
Contact Name
Yazid Hady
Contact Email
yazidhady@uinjkt.ac.id
Phone
+6281297328277
Journal Mail Official
mimbar@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Telp (021) 7401925 ext. 1816, Fax. (021) 7402982, Website: puslitpen.uinjkt.ac.id.
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Mimbar Agama Budaya
ISSN : 08545138     EISSN : 27157059     DOI : https://doi.org/10.15408/mimbar
Mimbar Agama Budaya is a peer-reviewed journal published by the Center for Research and Publication (PUSLITPEN), Research and Service Institute (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. The Journal disseminates religious and cultural studies based on the original research and current issues which are underlying the value of tolerance and moderation. Mimbar Agama Budaya journal is published twice a year and focuses on interdisciplinary research results, especially studies on religion and culture related to the seven elements of culture, including Language, Knowledge Systems, Social Organization Systems, Living Equipment Systems and Technology, Economic Systems/Livelihoods, Religion, and Art. Other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development. Hereby, this journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. MIMBAR was published first time in 1981 in a fully printing version. Since 2019, this journal published in two versions: printing and fully open system, using the Open Journal System (OJS) management. MIMBAR has become a CrossRef Member since the year 2019. Therefore, all articles published by MIMBAR will have a unique number (DOI). This journal was published bi-annually (January-June, July-December).
Articles 165 Documents
SECTARIANISM IN ISLAM: THE STUDY OF KHAWARIJ AND MAJLIS MUJAHIDIN INDONESIA Muhammad Sairi
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 1 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3099.28 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v38i1.24181

Abstract

Abstract. Basically, the study of sectarianism refers to the problem of understanding within a certain group, school, or belief. However, in its development this term has developed and is almost always associated with the study of the fanaticism of the madzhab (al-ta’asshubiyyah) and political partisans (al-hizbiyyah). Therefore, sectarianism as an ideology or ism often creates negative-destructive consequences, especially by creating a heroic attitude in defending the group as well as opposing other groups who are not in the same direction. In fact, not infrequently it creates radical attitudes on other parties in the name of the truth (read: religion) which they believe. This paper discusses sectarianism in Islam by using "multiple objects"; analysis of the Khawarij group as a portrait of classical sectarianism that had occurred in the early days of Islam as well as pulling it back to the present by analyzing the Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) as a portrait of sectarianism that occurred in Indonesia in a modern context.. Abstrak. Pada dasarnya, kajian tentang sektarianisme merujuk pada persoalan sempalan paham dalam sebuah golongan, mazhab, maupun kepercayaan tertentu. Namun dalam perkembangannya istilah ini berkembang dan hampir selalu dikaitkan dengan kajian fanatisme madzhab (al-ta’asshubiyyah) dan partisan politik (al-hizbiyyah). Karena itu, sektarianisme sebagai sebuah paham atau isme seringkali memunculkan konsekuensi-konsekuensi negatif-destruktif terutama dengan memunculkan sikap heroik dalam membela kelompoknya sekaligus pertentangan kepada kelompok lain yang tidak searah. Bahkan tak jarang menimbulkan sikap-sikap radikal pada pihak lain atas nama kebenaran (baca: agama) yang diyakininya. Tulisan ini membahas tentang sektarianisme  dalam Islam dengan menggunakan “objek ganda”; analisa pada kelompok Khawarij sebagai potret sektarianisme klasik yang pernah terjadi pada masa-masa awal Islam sekaligus menariknya ke masa kini dengan menganalisa kelompok Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) sebagai potret sektarianisme yang terjadi di Indonesia pada masa modern.
INTER-RELIGIOUS DIALOGUE AS A MEDIUM OF CONTEMPORARY ISLAMIC DA’WAH Jaffary Awang; Umar Faruk; hasnan bin kasan
Mimbar Agama Budaya Vol 36, No 1 (2019): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2696.392 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v36i1.880

Abstract

Abstract. Interfaith dialogue is a form of discussion and information exchange between the devotees of different religions, while da’wah is a form of preaching to Islam. In the context of opportunity, Muslims should accept the challenge of participation in interfaith dialogue. So thus preparation and knowledge about da’wah and interreligious dialogue has become a necessity before involving in interfaith dialogue. Based on the nature of inter-religious dialogue that emphasizes on openness, willingness to listen to different views and based on knowledge, then this method should be taken seriously by the Muslim in the context of contemperory da’wah to propagate Islam to the masses. Finally this paper concluded interfaith dialogue in Malaysia has a great potential and in the growing interest among the Muslim community in particular. Abstrak. Dialog antaragama adalah bentuk diskusi dan pertukaran informasi antara para pemeluk agama yang berbeda, sementara dakwah adalah bentuk dakwah kepada Islam. Dalam konteks kesempatan, umat Islam harus menerima tantangan partisipasi dalam dialog antaragama. Jadi persiapan dan pengetahuan dakwah dan dialog antaragama telah menjadi kebutuhan sebelum terlibat dalam dialog antaragama. Berdasarkan pada sifat dialog antar agama yang menekankan pada keterbukaan, kesediaan untuk mendengarkan pandangan yang berbeda dan berdasarkan pada pengetahuan, maka metode ini harus ditanggapi dengan serius oleh Muslim dalam konteks kontekstualisasi dakwah untuk menyebarkan Islam kepada massa. Akhirnya makalah ini menyimpulkan dialog antaragama di Malaysia memiliki potensi besar dan dalam minat yang tumbuh di kalangan komunitas Muslim pada khususnya. 
HIKMAH PENURUNAN AL-QUR'AN SECARA BERANGSUR Maulana Dwi Kurniasih; Dyah Ayu Lestari; Ahmad Fauzi
Mimbar Agama Budaya Vol 37, No 2 (2020): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.06 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v37i2.18914

Abstract

Abstract. The verses of the Qur’an are not revealed as a whole at once, but gradually. The letters he sent were not the same in length and in short, sometimes they were sent in full and sometimes only in part. Through the study of literature, the article concludes that the gradual revelation of the Qur'an a lot of wisdom that will be obtained that is to set the heart of the Prophet, weaken his opponents, easy to understand and memorize, the arrangement will be in accordance with traffic events. The gradual revelation of the verses of the Qur’an gives some wisdom among them: strengthening the heart of the Prophet Muhammad SAW; Easy to memorize and understand; the believers are enthusiastic in accepting the Qur’an and actively practicing it; Accompanying events in society and gradually in establishing a law; weakening his opponents (miracles), and challenging the disbelievers who deny the Qur’an. Abstrak.  Ayat-ayat al-Qur’an tidaklah diturunkan keseluruhan sekaligus secara, tetapi secara berangsur-angsur. Surat-surat yang diturunkanya pun tidak sama jumlah panjang dan pendeknya, terkadang diturunkan sekaligus secara penuh dan terkadang sebagianya saja. Melalui kajian pustaka, Artikel menyimpulkan bahwa diturunkanya al-Qur’an secara berangsur-angsur banyak hikmah yang akan diperoleh yaitu menetapkan hati Rasulullah, melemahkan lawan-lawannya, mudah difahami dan dihafal, penyusunannya akan sesuai dengan lalulintas peristiwa atau kejadian. Penuruan ayat al-Qur’an secara beransur memberikan beberapa hikmah diantaranya: menguatkan hati Nabi Muhammad Saw; Mudah dihafal dan dipahami; orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya; Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum; melemahkan lawan-lawannya (mukjizat), dan menantang orang-orang kafir yang mengingkari al-Qur’an.
ASPEK DIPLOMASI, STRATEGI PERTAHANAN SEMESTA, DAN IRREGULAR WARFARE DALAM PENANGANAN GERAKAN DISINTEGRASI DI INDONESIA Rizqa Noor Abdi; Joni Wijayanto; I Wayan Midhio
Mimbar Agama Budaya Vol 37, No 1 (2020): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.435 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v37i1.17827

Abstract

Abstract. The aspects of diplomacy, total defense strategy, and irregular warfare are important aspects which, if combined correctly, will be effective in the strategy of winning the war, including fighting quelling uprisings that threaten the disintegration of the Unitary State of the Republic of Indonesia (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI). This paper presents a comparison of the application of the above aspects in three cases of rebellion in Indonesia, namely Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) in West Java, the Fretilin group in East Timor, and the Free Aceh Movement (Gerakan Aceh Merdeka/GAM) in Aceh. Descriptive comparisons refer to the use of library materials to describe the common thread of differences and similarities of the three movements. As a result, exposure to differences and similarities from the application of aspects of diplomacy, total defense strategy, and irregular warfare in the three cases above. Even though the time constraints and understanding of descriptive analysis may have been a limitation in this paper, the comparative presentation presented can be subject to further study, especially regarding the case of war to quell the rebellion in Indonesia. Abstrak. Aspek diplomasi, strategi pertahanan semesta, dan irregular warfare adalah aspek penting jika dikombinasikan secara tepat akan efektif dalam strategi memenangkan peperangan, termasuk perang meredam pemberontakan yang mengancam disintegrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Makalah ini memaparkan perbandingan penerapan ketika aspek di atas dalam tiga kasus pemberontakan di Indonesia, yaitu Darul Islam/Tentra Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, kelompok Fretelin di Timor-Timur, dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh. Perbandingan deskriptif mengacu kepada penggunaan bahan pustaka dilakukan untuk memaparkan benang merah perbedaan dan persamaan dari ketiganya. Hasilnya, paparan perbedaan dan persamaan dari penerapan aspek diplomasi, strategi pertahanan semesta, dan irreguler warfare dari ketiga kasus di atas. Meskipun dengan keterbatasan waktu dan pemahaman analisis deskriptif mungkin menjadi batasan dalam makalah ini, tetapi paparan perbandingan yang disampaikan dapat menjadi bahan kajian selanjutnya, khususnya menyangkut kasus perang meredam pemberontakan di Indonesia.
SISTEM PENDAFTARAN ONLINE PENELITIAN DAN KINERJA PANITIA TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA Neng Sri Nuraeni
Mimbar Agama Budaya Vol 36, No 1 (2019): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2382.567 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v36i1.13152

Abstract

Abstract. The Fast and accurate information is a major requirement in terms of service. Puslitpen as a research institute of the Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN Syahid) Jakarta needs to be supported by a fast and accurate and web-based system. The purpose of this study is to look at the effect of the online research registration system and the committee's performance on user satisfaction. This research refers to Setia, et.al (2011); Nur Subchan, et.al (2012); Gatian, Amy W (1994). The population in this study is the registrar of research assistance proposal for the Research Center for UIN Syahid Jakarta. This study uses cluster sampling in determining the selected sample. The analytical method used is multiple regression. Based on the results of the study showed that the F test results obtained Fcount value of 82.117> Ftable of 3.15 with a significance level of 0.000 <0.05. Because the significance level is less than 0.05 then Ha is accepted, so it can be said that the online registration system and the committee's performance affect the user's satisfaction simultaneously. The contribution of this study has a significant impact on improving the registration system services at the UIN Syahid Research Center in Jakarta.Abstrak. Informasi yang cepat dan akurat merupakan kebutuhan utama dalam hal pelayanan. Puslitpen sebagai lembaga penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Syahid) Jakarta perlu didukung oleh sistem yang cepat dan akurat serta berbasis web. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh sistem pendaftaran online penelitian dan kinerja panitia terhadap kepuasan pengguna. Penelitian ini merujuk pada Setia, et.al (2011); Nur Subchan, et.al (2012); Gatian, Amy W (1994). Populasi dalam penelitian ini adalah pendaftar proposal bantuan biaya penelitian Puslitpen UIN Syahid Jakarta. Penelitian ini menggunakan cluster sampling dalam menentukan sampel yang dipilih. Metode analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil uji F diperoleh nilai Fhitung sebesar 82,117 > Ftabel sebesar 3,15 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendaftaran online dan kinerja panitia berpengaruh terhadap kepuasana pengguna secara simultan. Kontribusi penelitian ini berdampak signifikan pada perbaikan layanan sistem pendaftaran di Puslitpen UIN Syahid Jakarta. 
RE-READING HATTA'S THINKING IN MOVEMENT: BETWEEN ISLAM AND NATIONALISM Rian Wahyudin
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 1 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.656 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v38i1.21005

Abstract

Abstract. This article reviews the perspectives of Mohammad Hatta as one of the Indonesian founding fathers in regards between Islam and nationalism.  Many scholars, historians, and intellectuals have deemed that Hatta was a secular nationalist who separated national propositions from religious values.  Whereas, on the contrary, both his actions and thoughts were in line with the noble of Islamic values, not only when he wanted to establish the Indonesian Islamic Democratic Party in 1967 with several other activists such as alumni of Islamic Students Association (HMI), PII, the Indonesian Islamic Syarikat Party, and Nahdlatul Ulama (NU) figures, but also Hatta's Islamic integrity already seen during the movement, when he was active in both the Indonesian Association (PI) organization in 1921-1930 and the Indonesian National Education (PNI Baru) in 1931-1932. For instance, Hatta proposed his thoughts on peace, which he took from Qur’an surah al-Fatihah verse two.  According to him, the concept of peace is the highest law in Islam; therefore, every free nation must uphold peace. He continued, the statement "God is the Most Gracious and Most Merciful" must be applied to create security and convenience among human beings. In February 1927, while serving as the administrator of the Indonesian Association in the Netherlands, Hatta and Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Gatot Tarumihardja, and Abdul Manaf were serving as the administrator of the Indonesian Association became delegators at the presidium meeting "Congress Against Imperialism and Colonial Oppression."  This event was organized by the “League Against Imperialism and for National Independence” in Brussels, Belgium.  There Hatta and his fellows sat on a par with delegates from other countries such as Chen Kuen and Liau Hansen (China), Roger Baldwin (United States), Jawaharlal Nehru (India), Willi Munzenberg and Georg Ledebour (Germany), and several delegates from France, Belgium, Latin America, England, and Czechoslovakia to oppose all forms of oppression and demand the independence of Indonesia and other occupied countries to achieve world peace.  Moreover, the identity of  Mohammad Hatta is known well as a figure who came from a family of well-known merchants and scholars in Minang, coupled with his expertise in associating with nationalist figures, made Islamic integrity not appeared by attributive religious symbols, but rather by his behavior, thoughts, and attitudes in everyday life. Abstrak. Artikel ini mengulas tentang pemikiran salah satu bapak bangsa, Mohammad Hatta mengenai hubungan antara Islam dan nasonalisme. Banyak Sarjana, Sejarawan dan Cendikiawan masih menganggap bahwa Bung Hatta adalah seorang nasionalis sekuler, memisahkan soal-soal kebangsaan dari ajaran agama. Tindak-tanduk bahkan pemikirannya malah sejurus dengan nilai-nilai luhur Islam, bukan hanya saat dirinya dan beberapa aktivis lain seperti alumni HMI, PII, Partai Syarikat Islam Indonesia dan tokoh NU yang hendak mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia pada tahun 1967, keberislaman Bung Hatta justru sudah terlihat pada masa pergerakan baik saat aktif di organisasi Perhimpunan Indonesia (PI) tahun 1921-1930 maupun di Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) tahun 1931-1932. Pemikirannya tentang perdamaian misalnya Hatta justru mengambilnya dari Surat al-Fatihah ayat dua. Konsep damai menurutnya hukum yang paling tinggi dalam Islam, oleh karenanya tiap-tiap bangsa yang merdeka harus menjunjung tinggi perdamaian. Menurutnya, “Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang” itu harus diamalkan agar tercipta keamanan dan kenyamanan antar sesama umat manusia. Pada bulan Februari 1927 saat menjadi pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda, Bung Hatta bersama Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Gatot Tarumihardja dan Abdul Manaf menjadi delegator pada rapat presidium “Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh “Liga Menentang Imperialisme dan untuk Kemerdekaan nasional” di Brussel, Belgia. Di sana Hatta dan kawan-kawan duduk sejajar dengan delegator dari negara lain seperti Chen Kuen dan Liau Hansin, (China), Roger Baldwin (Amerika Serikat), Jawaharlal Nehru (India), Willi Munzenberg dan Georg Ledebour (Jerman), dan beberapa utusan lain dari Prancis, Belgia, Amerika Latin, Inggris dan Cekoslovakia untuk menentang segala bentuk penindasan dan menuntut kemerdekaan negara Indonesia dan negara lainnya yang sedang dijajah agar terwujudnya perdamaian dunia. Jati diri Bung Hatta yang berasal dari keluarga saudagar dan ulama masyhur di Ranah Minang ditambah dengan kepiawaiannya dalam bergaul dengan tokoh-tokoh nasionalis membuat corak keberislaman Hatta tidak ditonjolkan dengan simbol-simbol agama yang atributif, melainkan ditonjolkan dengan tingkah laku, pemikiran dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. 
GERAKAN HIJRAH DAN KONSTRUKSI EMOSI KEISLAMAN DI PERKOTAAN Sahlul Fuad
Mimbar Agama Budaya Vol 37, No 1 (2020): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.382 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v0i0.17949

Abstract

Abstract. This paper discusses the construction of Islamic Islamic emotions in urban areas as a reflection of the influence of the hijrah movement that is widespread in Indonesia,. The growth of the Muslim middle class and the rapid advancement of information technology in Indonesia has become fertile ground for the increasing migration movement among millennial. The movement of hijrah is an expression of new Islamic emotions that brings together the spirit of religiosity and the lifestyle of the middle class. However, along with the increasing trend of transnational ideologies that lead to fundamentalism and radicalism movements, the migration movement has the potential to support transnational ideological movements targeting young people who are new to Islam.  Abstrak. Paper ini membahas tentang konstruksi emosi keislaman muslim perkotaan sebagai refleksi atas pengaruh gerakan hijrah yang berkembang luas di Indonesia, khususnya di kawasan perkotaan. Pertumbuhan kelas menengah muslim dan kemajuan teknologi informasi yang pesat di Indonesia menjadi lahan yang subur bagi meningkatnya gerakan hijrah di kalangan millenial. Gerakan hijrah merupakan ekspresi emosi keislaman baru yang mempertemukan antara semangat religiusitas dan gaya hidup kelas menengah. Namun, seiring dengan meningkatnya kecenderungan ideologi transnasional yang mengarah pada gerakan fundamentalisme dan radikalisme, gerakan hijrah menjadi potensial sebagai pendukung gerakan ideologi transnasional yang menyasar para generasi muda yang baru mengenal Islam.
PARTISIPASI SOSIAL PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN DESA LASIAI KECAMATAN SINJAI TIMUR KABUPATEN SINJAI Risfaisal Risfaisal; Neng Sri Nuraeni
Mimbar Agama Budaya Vol 36, No 2 (2019): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3173.886 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v36i2.14182

Abstract

Abstract This study examines the social participation of women in the development of the village of Lasiai, East Sinjai Subdistrict, Sinjai District. The problem in this research is how the form of social participation of women in the development of the village of Lasiai and how the impact of social participation of women in the development of the village of Lasiai, East Sinjai Subdistrict, Sinjai District. The purpose of this study was to determine the forms of women's social participation in the development of Lasiai villages and to determine the impact of women's social participation in the development of Lasiai Village in the East Sinjai Subdistrict, Sinjai District. This type of research is a descriptive study with a qualitative approach. The informants in this study were the village head, village secretary, village head, PKK mother. Data collection was collected using observation techniques, interviews, and documentation. Data analysis techniques are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Triangulation is used to explain the validity of the data that is with the data source. The results showed that the form of women's social participation in the development of the village of Lasiai was through the first three stages, namely the planning stage, that women were present in the deliberation meeting held with village officials, Second, the implementation stage by increasing empowerment as a program such as the Al-qur 'love program. and active standby village programs. Third, the participation monitoring phase aims to find out how the implementation of development programs will work, and the impact of women's social participation in village development is a) positive impacts, namely open thinking (education), the economy, and women's leadership b) negative impacts, namely labeling or the stereotype of society towards women.Abstrak. Penelitian ini mengkaji tentang partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa lasiai kecamatan sinjai timur kabupaten sinjai. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa lasiai dan bagaimana dampak partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa lasiai kecamatan sinjai timur kabupaten sinjai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa lasiai dan untuk mengetahui dampak partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa lasiai kecamatan sinjai timur kabupaten sinjai. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Desa, Sekertaris Desa, Kepala Dusun, Ibu PKK. Pengumpulan data dikumpulkan dengan teknik pengamatan (Observasi ), wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Trianggulasi yang digunakan untuk menjelaskan keabsahan data yaitu dengan sumber data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa lasiai yaitu melalui tiga tahap yang pertama yaitu tahap perencanaan adalah perempuan hadir dalam kegiatan rapat musyawarah yang dilakukan bersama aparat desa, Kedua yaitu tahap pelaksanaan dengan meningkatkan pemberdayaan sebagai program seperti program cinta Al-qur’an dan program desa siaga aktif. Ketiga yaitu tahap pengawasan partisipasi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program pembangunan akan berjalan, dan Dampak partisipasi sosial perempuan dalam pembangunan desa adalah a) dampak positif yaitu pemikiran mulai terbuka (Pendidikan), perekonomian, dan kepemimpinan perempuan b) dampak negatif yaitu adanya pemberian label atau streotipe masyarakat terhadap perempuan. 
CONSIDERING AL-GHAZALI'S PHILOSOPHY THINKING AUTHORITY Teguh Purnomo Putra
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 1 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3859.669 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v38i1.24183

Abstract

Abstract. The reputation and authority of al-Ghaza li in Islamic thought has had a profound influence as well as is controversial and ambivalent. His character covers almost all scientific disciplines in Islam. In the field of philosophy, the response to his thinking generated controversy that lasted for centuries. On the one hand, he is assumed to be a central figure for the decline of Islamic thought, especially philosophy, and is considered the most successful thinker in positioning philosophy proportionally in the Islamic world on the other. This paper discusses the philosophical thinking of al-Ghaza li, his criticisms of the thoughts of previous philosophers, and responses to his thoughts in the hope that they can provide conclusions that are quite "fair" and proportionate in positioning al-Ghazali in the islamic philosophy discourse. Abstrak. Reputasi dan otoritas al-Ghazali dalam jagad pemikiran Islam memiliki pengaruh yang begitu besar sekaligus kontroversial dan ambivalen. Ketokohannya meliputi hampir seluruh diskursus disiplin keilmuan dalam Islam. Dalam bidang filsafat, respons terhadap pemikirannya menuai kontroversi yang beralangsung berabad-abad. Satu sisi ia diasumsikan sebagai tokoh sentral atas kemunduran pemikiran dalam Islam, terutama filsafat, dan dianggap sebagai pemikir yang paling sukses dalam memposisikan filsafat secara proporsional dalam dunia Islam di sisi lain. Tulisan ini membahas tentang pemikiran filsafat al-Ghazali, kritik-kritiknya terhadap pemikiran filosof-filosof sebelumnya, dan respons terhadap pemikirannya dengan harapan bisa memberikan kesimpulan yang cukup “adil” dan proporsional dalam memposisikan al-Ghazali dalam diskursus filsafat Islam.
IMPLEMENTASI PESAN MORAL MISI PROFETIK MUHAMMAD MENURUT FAZLUR RAHMAN Lukman Hakim; Dani Ramdani
Mimbar Agama Budaya Vol 36, No 1 (2019): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.381 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v36i1.13067

Abstract

Abstract. Muhammad's prophetic mission is a mission in an effort to disseminate moral teachings whose roots are found in the teachings of monotheism, as is often emphasized in the Qur'an: efforts to uphold social justice, egalitarianism and protection of the weak. Rahman offers a hermeneutic method to refine the Qur'an and criticize the historical awareness that exists in Muslims. This is done to provide the right meaning for the Qur'an, as well as examine the awareness of the religious traditions of Muslims today. Then Rahman offered the double movement method. This method will be very useful for examining all forms of religious institutionalization established by Muslims today, then confirming it to the time of the Prophet to obtain legitimacy or appropriate reference to religious interpretations. Double movement, intended to provide the right meaning for Muslim efforts to interpret religion based on traditions established by the Prophet: refers to the initial conception that was built by the Prophet and his companions. Abstrak. Misi profetik Muhammad merupakan suatu misi dalam upaya menyebar-luaskan ajaran moral yang muaranya terdapat dalam ajaran monoteisme, sebagaimana yang sering ditegaskan dalam al-Qur’ân: usaha untuk menegakkan keadilan sosial, egaliterianisme dan perlindungan terhadap yang lemah. Rahman menawarkan metode hermeneutika untuk menfasirkan kembali al-Qur’ân dan mengkritisi kesadaran sejarah yang ada dalam umat Islam. Hal ini dilakukan untuk memberikan makna yang tepat bagi al-Qur’ân, sekaligus memeriksa kesadaran tradisi keberagamaan umat Islam masa kini. Kemudian Rahman menawarkan metode double movement. Metode ini akan sangat berguna untuk memeriksa segala bentuk institusionalisasi keberagamaan yang dibangun oleh umat Islam di masa kini, kemudian mengkonfirmasikannya ke masa Nabi untuk mendapatkan legitimasi atau rujukan yang tepat terhadap interpretasi keberagamaan. Double movement, dimaksudkan untuk memberikan makna yang tepat bagi usaha umat Islam untuk melakukan interpretasi keberagamaan berdasarkan tradisi yang dibangun oleh Nabi: merujuk kepada konsepsi awal yang telah dibangun oleh Nabi beserta para sahabatnya. 

Page 1 of 17 | Total Record : 165