cover
Contact Name
Yazid Hady
Contact Email
yazidhady@uinjkt.ac.id
Phone
+6281297328277
Journal Mail Official
mimbar@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Telp (021) 7401925 ext. 1816, Fax. (021) 7402982, Website: puslitpen.uinjkt.ac.id.
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Mimbar Agama Budaya
ISSN : 08545138     EISSN : 27157059     DOI : https://doi.org/10.15408/mimbar
Mimbar Agama Budaya is a peer-reviewed journal published by the Center for Research and Publication (PUSLITPEN), Research and Service Institute (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. The Journal disseminates religious and cultural studies based on the original research and current issues which are underlying the value of tolerance and moderation. Mimbar Agama Budaya journal is published twice a year and focuses on interdisciplinary research results, especially studies on religion and culture related to the seven elements of culture, including Language, Knowledge Systems, Social Organization Systems, Living Equipment Systems and Technology, Economic Systems/Livelihoods, Religion, and Art. Other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development. Hereby, this journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. MIMBAR was published first time in 1981 in a fully printing version. Since 2019, this journal published in two versions: printing and fully open system, using the Open Journal System (OJS) management. MIMBAR has become a CrossRef Member since the year 2019. Therefore, all articles published by MIMBAR will have a unique number (DOI). This journal was published bi-annually (January-June, July-December).
Articles 165 Documents
ORTODOKSI TAFSIR SUNNI: FORMASI, GENERALISASI DAN INVESTIGASI TEORI Ahmad Ali Fikri
Mimbar Agama Budaya Vol 36, No 1 (2019): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4718.508 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v36i1.12960

Abstract

Abstract. The difference and plurality of interpretations of the Qur'an is a fact that cannot be denied. Nevertheless, in an interpreting community always shows a uniqueness that draws a line of difference from other interpreting communities. This article discusses the orthodoxy of interpretations that developed widely in the Sunni tradition by adopting and modifying the orthodoxy concept developed by David C. Martin, Abbas Barzegar and Norman Calder, then to be investigated through al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur'an: Dawa fi’uha wa Daf’uha by Muhammad Husein al-Dzahabi. This paper shows that the orthodoxy of Sunni interpretation is built on three fundamental structures; textual orientation, recognition of the authority of previous generations, and theological identification of Sunni groups. Abstrak. Perbedaan dan pluralitas penafsiran terhadap al-Qur’an merupakan sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Kendati demikian, dalam sebuah komunitas penafsiran selalu menunjukkan keunikan yang menarik garis perbedaan dari komunitas penafsiran yang lain. Artikel ini membahas tentang ortodoksi tafsir yang berkembang secara luas dalam tradisi Sunni dengan mengadopsi dan memodifikasi konsep ortodoksi yang dikembangkan  oleh David C. Martin, Abbas Barzegar dan Norman Calder untuk kemudian diuji melalui buku al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an: Dawafi’uha wa Daf’uha karya Muhammad Husein al-Dzahabi. Tulisan ini menunjukkan bahwa ortodoksi tafsir Sunni dibangun di atas tiga struktur mendasar; orientasi tekstual, pengakuan terhadap otoritas generasi terdahulu, serta identifikasi teologis kelompok Sunni. 
ANTI-COLONIAL MESSAGES IN AHMAD SANUSI’S TAFSIR MALJA’ AL THALIBIN AND TAMSIYAT AL MUSLIMIN Lutfi Lutfi
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 1 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5358.999 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v38i1.24185

Abstract

Abstract. This research examines two tafsir works of Ahmad Sanusi Malja’ al thalibin fi tafsiri kalami robbil alamin (in Sundanese) and Tamsiyat al muslimin fi tafsiri kalami Robbil Alamin (Indonesian Bahasa), exploring the messages of anti-colonialism related to justice. This research employs Hermeneutics for the analysis of Sanusi’s messages. This approach provides understanding the social, political, cultural context of the production of the text. This study shows that tafsir has been an inspiration, medium, and tool to shape anti colonial awareness among Sundanese people particularly in Sukabumi region. The resistance is aimed at the Dutch colonial government as well as the religious bureaucrats well known as Pakauman Ulama. Among Sanusi’s criticism that he delivers in his tafsir is about an injustice act done by the colonial government in particular Pakauman Ulama on his isolation as they give support to the exile policy. Historical context of Sanusi’s isolation caused by the conflict between Sanusi and colonial government and the worry of the influence of Sanusi’s ideas of anticolonial sentiment among people. In the literature of tafsir studies so far, it is limited discussion on tafsir material on criticism or as medium of resistance. Abstrak. Penelitian ini mengkaji dua karya tafsir Ahmad Sanusi Malja’ al thalibin fi tafsiri kalami robbil alamin (dalam bahasa Sunda) dan Tamsiyat al muslimin fi tafsiri kalami Robbil Alamin (Bahasa Indonesia), menggali pesan-pesan antikolonialisme yang berkaitan dengan keadilan. Penelitian ini menggunakan Hermeneutika untuk menganalisis pesan-pesan Sanusi. Pendekatan ini memberikan pemahaman konteks sosial, politik, budaya dari produksi teks. Kajian ini menunjukkan bahwa tafsir telah menjadi inspirasi, media, dan alat untuk membentuk kesadaran anti kolonial di kalangan masyarakat Sunda khususnya di wilayah Sukabumi. Perlawanan tersebut ditujukan kepada pemerintah kolonial Belanda serta para birokrat agama yang dikenal dengan sebutan Pakauman Ulama. Di antara kritik Sanusi yang ia sampaikan dalam tafsirnya adalah tentang tindakan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial khususnya Pakauman Ulama atas pengucilannya karena mereka mendukung kebijakan pengasingan. Konteks historis keterasingan Sanusi yang disebabkan oleh konflik antara Sanusi dan pemerintah kolonial dan kekhawatiran pengaruh gagasan Sanusi tentang sentimen antikolonial di kalangan masyarakat. Dalam literatur kajian tafsir selama ini, pembahasan materi tafsir sebatas kritik atau sebagai media perlawanan.
DINAMIKA HISTORIS BARAT-ISLAM: MISPERSEPSI, PRASANGKA, DAN KONFLIK Syahirul Alim
Mimbar Agama Budaya Vol 37, No 1 (2020): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.395 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v0i0.16118

Abstract

Absract. The historical dynamics of the West-Islam always depicted as a phenomenon of misperception, antipathy, and conflicts that have been going on since the 12th century. The events of the Crusades and the spirit of reconquest of areas once occupied by Islam, leaving a bad-trail imprint in almost all perspectives of Western society towards Islam. Western antipathy was shown through negative sentiments, such as the term "saracen" to Muslim troops and the title of "Moor" which is still used by Western elites when they invaded and control various Muslim-majority areas. The heritage of Islamic civilization for the progress of the Western World is only valued to the extent of the "threat" about the revival of the glory of Islamic civilization that had ruled the world for about 7 centuries. The efforts of some Western scholars who are more objective perceived in understanding Islam, apparently are not so influential and Islam was still misunderstood by the West, even Islamophobia was becoming a phenomenon that strengthens as a form of Western fear of Islam. This paper seeks to portray the historical dynamics of West-Islam from various perspectives descriptively-analysis through a historical approach. Historical awareness is needed, so that too excessive and baseless assessments of anything should be avoided, because history was a series of past events that can provide information in the present, functioning as a frame of knowledge in placing a reality in a fitting and objective manner. Abstrak. Dinamika historis Barat-Islam selalu menggambarkan fenomena mispersepsi, antipati, bahkan konflik yang telah berjalan sejak abad ke-12. Peristiwa Perang Salib dan semangat penaklukan kembali wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Islam oleh pasukan Salib, meninggalkan jejak buruk dalam hampir seluruh perspektif masyarakat Barat terhadap Islam. Antipati Barat ditunjukkan melalui sentimen negatif, seperti sebutan “saracen” kepada pasukan Muslim dan gelar orang “Moor” yang tetap dipakai kalangan elit Barat ketika mereka melakukan invasi dan penguasaan atas berbagai wilayah berpenduduk mayoritas Muslim. Warisan peradaban Islam bagi kemajuan Dunia Barat hanya dihargai sebatas “ancaman” tentang kebangkitan kembali kejayaan peradaban Islam yang pernah menguasai dunia selama kurang lebih 7 abad. Upaya beberapa sarjana Barat yang lebih objektif dalam memahami Islam, ternyata tidak begitu berpengaruh dan Islam tetap disalahpahami oleh Barat, bahkan Islamofobia menjadi fenomena yang menguat sebagai bentuk ketakutan Barat terhadap Islam. Tulisan ini berupaya memotret dinamika historis Barat-Islam dari berbagai perspektif secara deskriptif-analisis melalui pendekatan historis. Kesadaran historis diperlukan, sehingga penilaian yang terlampau berlebihan dan tanpa dasar terhadap hal apapun seharusnya dapat dihindari, sebab sejarah merupakan rangkaian peristiwa masa lalu yang dapat memberikan informasi pada masa kini, berfungs sebagai bingkai pengetahuan dalam menempatkan sebuah realitas secara pas dan objektif.
MINAT BELAJAR DAN LINGKUNGAN KAMPUS SEBAGAI DETERMINASI HASIL BELAJAR MAHASISWA Rendra Gumilar; Riki Yakub Pirdaus
Mimbar Agama Budaya Vol 36, No 2 (2019): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1688.869 KB) | DOI: 10.15408/mimbar.v36i2.14185

Abstract

Abstract The low learning outcomes of Economic Education students is the reason why this research was conducted, so that it will determine the determinants of learning outcomes. The sample of this study was the Economics Education Students of the Teaching and Education Faculty of Siliwangi University, Tasikmalaya class of 2018 with a total of 112 people. The research method in this study was a survey with a rating scale questionnaire data collection tool and data analysis using multiple linear regression techniques using SPSS 25. The results showed interest in learning, the campus environment, and learning outcomes included in the medium category, to influence learning interest and the campus environment significant effect on student learning outcomes by 41.7% and 58.3% influenced by other factors.Abstrak. Rendahnya hasil belajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi menjadi alasan mengapa penelitian ini dilakukan, sehingga akan mengetahui faktor determinasi hasil belajar. Sampel penelitian ini adalah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya angkatan 2018 dengan jumlahnya 112 orang. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah survey dengan alat pengumpul data angket model rating scale dan analisis data menggunakan teknik regresi linier berganda menggunakan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukan minat belajar, lingkungan kampus, dan hasil belajar termasuk kategori sedang, untuk pengaruh minat belajar dan lingkungan kampus berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa sebesar 41,7% dan 58,3% dipengaruhi oleh faktor lain.
COMMODIFICATION OF RELIGIOUS RITUALS: A PORTRAIT OF THE MEANING OF HAJJ AND UMRAH IN INDONESIA Sahlul Fuad
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 2 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25165

Abstract

Abstract. This article discusses religious behaviour related to Hajj and Umrah which have become a form of commodification of religion. Hajj and Umrah, as two types of religious rituals in Islam, are extensively interrelated with other existing social institutions. Therefore, they have a more complex association compared to other religious rituals. Hajj and Umrah have not only given birth to various meanings for those who perform the rituals, but also become a tourism industry with a wide and promising market share. Hajj and Umrah seem to be able to change other religious behaviours such as the increase of obedience’s intensity in worshiping God. In addition, Hajj and Umrah in Indonesia are not only packaged and marketed as profitable commodities, but also used as tools for criminal acts. Abstrak. Artikel ini membahas tentang perilaku keagamaan terkait haji dan umrah yang telah menjadi bentuk komodifikasi agama. Haji dan Umrah, sebagai dua jenis ritual keagamaan dalam Islam, sangat erat kaitannya dengan pranata sosial lain yang ada. Oleh karena itu, mereka memiliki asosiasi yang lebih kompleks dibandingkan dengan ritual keagamaan lainnya. Haji dan Umrah tidak hanya melahirkan berbagai makna bagi yang menunaikan ibadah haji, tetapi juga menjadi industri pariwisata dengan pangsa pasar yang luas dan menjanjikan. Haji dan Umrah tampaknya mampu mengubah perilaku keagamaan lainnya seperti peningkatan intensitas ketaatan dalam beribadah kepada Allah. Selain itu, haji dan umrah di Indonesia tidak hanya dikemas dan dipasarkan sebagai komoditas yang menguntungkan, tetapi juga digunakan sebagai alat untuk melakukan tindak pidana.
KYAI ZAINUDDIN AMIR’S DA’WAH STRATEGY IN SPREADING ISLAMIC VALUES IN BADUY TRIBE COMMUNITY Deden Mauli Darajat; Cinta Rahmi
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 2 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25169

Abstract

Abstract. This article discusses to answer the question how is the strategy of Kyai Zainuddin Amir's da'wah in spreading Islamic values in the Baduy Tribe community? The Baduy tribe is an inland tribe located in Leuwidamar District, Lebak Regency, Banten Province, Republic of Indonesia. The Baduy tribe is divided into two, namely the Inner Baduy and the Outer Baduy. The results of this study indicate that Kyai Zainuddin Amir's missionary strategy is to use two approaches, the first is fardiyah propaganda or an interpersonal communication approach and the second is to establish the Sultan Hasanuddin Al-Jawi Modern Islamic Boarding School which is located around the Baduy community area in Lebak Regency, Banten Province. The Sultan Hasanuddin Al-Jawi Islamic Boarding School which he founded was part of Kyai Zainuddin Amir's da'wah strategy in spreading Islamic values to the Baduy tribe. A number of Baduy people choose Islam as their religion. Their Islamic procession was guided by Kyai Zainuddin Amir at his pesantren. The research methodology used in this study is a qualitative research methodology with a descriptive analysis approach. To obtain the validity of the data, the researcher will conduct in-depth interviews with sources relevant to the substance of the research problem. All data obtained in the form of documents, interviews, and observations were analyzed with a constructivist perspective.Keywords: strategy; da'wah; Kyai Zainuddin Amir; baduy tribeAbstrak. Artikel ini membahas menjawab pertanyaan bagaimana strategi dakwah Kyai Zainuddin Amir dalam menyebarkan nilai-nilai Islam pada masyarakat Suku Baduy? Suku Baduy adalah suku pedalaman yang terletak di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Republik Indonesia. Suku Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi dakwah Kyai Zainuddin Amir menggunakan dua pendekatan, yang pertama adalah dakwah fardiyah atau pendekatan komunikasi interpersonal dan yang kedua adalah mendirikan Pondok Pesantren Modern Sultan Hasanuddin Al-Jawi yang berlokasi di sekitar Baduy. masyarakat di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi yang didirikannya merupakan bagian dari strategi dakwah Kyai Zainuddin Amir dalam menyebarkan nilai-nilai Islam kepada suku Baduy. Sejumlah orang Baduy memilih Islam sebagai agama mereka. Prosesi keislaman mereka dipandu oleh Kyai Zainuddin Amir di pesantrennya. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Untuk memperoleh keabsahan data, peneliti akan melakukan wawancara mendalam dengan narasumber yang relevan dengan substansi masalah penelitian. Semua data yang diperoleh berupa dokumen, wawancara, dan observasi dianalisis dengan perspektif konstruktivis.Kata Kunci: strategi; dakwah; Kyai Zainuddin Amir; suku baduy
THE ISSUES OF MODERNISM AND THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC INTELLECTUALISM Rasid Rasid; Maulana Dwi Kurniasih
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 2 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25166

Abstract

Abstract. This article is discusses about the modernist issues in the development of Islamic intellectualism, such as pluralism, liberalism, and secularism. To respond to these difficulties, Muslims must take the following steps: 1) paradigm of thinking, 2) open-mindedness and liberation from religious authoritarianism to open the door of ijtihad so that it is not treacherous in religion, 3) foundation in thinking (world view), namely the principles of life, 4) becoming accustomed to always giving rational arguments and providing information in terms of truth, 5) understanding the function of reason and revelation and not being clashed. Intellectualism in Islam may be fostered through increasing the roles of reason and revelation, which should not conflict with one another. Revelation will be an extreme doctrine in the absence of reason, and reason will be tasteless and undirected in the absence of revelation.Abstrak. Artikel ini membahas tentang isu-isu modernis dalam perkembangan intelektualisme Islam, seperti pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Untuk menjawab kesulitan-kesulitan tersebut, umat Islam harus mengambil langkah-langkah berikut: 1) paradigma berpikir, 2) keterbukaan pikiran dan pembebasan dari otoritarianisme agama untuk membuka pintu ijtihad agar tidak berkhianat dalam agama, 3) landasan berpikir ( pandangan dunia), yaitu prinsip-prinsip kehidupan, 4) membiasakan diri untuk selalu memberikan argumentasi yang rasional dan memberikan informasi yang benar, 5) memahami fungsi akal dan wahyu serta tidak berbenturan. Intelektualisme dalam Islam dapat dibina melalui peningkatan peran akal dan wahyu, yang tidak boleh saling bertentangan. Wahyu akan menjadi doktrin yang ekstrim tanpa adanya akal, dan akal akan menjadi hambar dan tidak terarah tanpa adanya wahyu.
DIGITAL LEARNING RESOURCE AT MA’HAD ‘ALY IDRISIYYAH TASIKMALAYA: AVAILABILITY, ATTITUDE, AND UTILIZATION Husen Hasan Basri; Saifudin Asrori
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 2 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25168

Abstract

Abstract. Ma’had ‘aly is the education of Islamic boarding school at state higher education organized by the Islamic boarding school and located in their environment with developing Islamic studies by the uniqueness of the Islamic boarding school based on the yellow book in stages and a structured manner. This article discussed the resource of digital learning at Ma’had ‘Aly Idrisiyyah, the availability, attitude, and utilization of digital learning resources. This article used qualitative studies and field observations. Then, this article concludes that the digital learning resource at Ma’had ‘Aly Idrisiyyah modified learning resource in the resource of digital learning, by digitalization from existing learning resources, that is from the attitudes of academic civitas at Ma’had Aly. The utilization of Ma’had ‘Aly Maktabah Idrisiyyah and references of Ma’had ‘Aly Iddrisiyyah.Abstrak. Ma’had ‘aly adalah pendidikan pesantren jenjang pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kajian keislaman sesuai dengan kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur. Artikel ini membahas sumber belajar digital di Ma’had ‘Aly Idrisiyyah yaitu ketersediaan sumber belajar digital, Sikap terhadap sumber belajar digital; dan pemanfaatan sumber belajar digital. Melalui kajian kualitatif  dan observasi lapangan, artikel ini menyimpulkan bahwa sumber belajar digital di Ma’had ‘Aly Idrisiyyah, bahwa modifikasi sumber belajar menjadi  sumber belajar digital, melalui proses digitalisasi sumber-sumber belajar yang ada, yakni dari sikap para civitas akademi ma’had aly. Pemanfaatan warga Ma’had Aly Maktabah Idrisiyyah dan Pustaka Ma’had Aly Idirisiyyah.
THE TAREKAT SAMMANIYAH IN THE SULTANATE OF BUTON, A STUDY OF THE SULTANATE MANUSCRIPT Falah Sabirin
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 2 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25144

Abstract

AbstractThis article discusses the genealogy of sanad and the Tarekat Sammaniyah teaching style in the Sultanate of Buton. This study found that in the Buton sultanate, there was a side of the Tarekat Sammaniyah which had several features and shortcomings. First, Muhammad ‘Aydru, a sultan who studied the the Tarekat Sammaniyah from a Mekkah scholar. Second, the spread of the Tarekat Sammaniyah only developed among the nobles in the Buton Sultanate. The teaching style of the Tarekat Sammaniyah is not much different from the primary source text, specifically, al-Nafahat al-Ilahiyah by Muhammad bin 'Abd al-Karim al-Samman. This shows a strong indication of the interaction between 'Aydrus and local Sammaniyah role models through the lineage of 'Abd al-Samad. However, there are several traditions of remembrance that are slightly different from the Sammaniyah taught by 'Abd al-Samad. This can be seen when 'Aydrus puts recitation of tahlil at an advanced level, while 'Abd al-Samad makes remembrance at the beginner level. However, there was no difference at all in the procedures for remembrance of the adab.AbstrakArtikel ini membahas tentang sisilah sanad dan corak ajaran Tarekat Sammaniyah di Kesultanan Buton. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa di kesultanan Buton terdapat sisilah Tarekat Sammaniyah memiliki beberapa keistimewaan juga menjadi kekurangan. Pertama, Muhammad ‘Aydrus yang seorang sultan mempelajari Tarekat Sammaniyah kepada seorang ulama Makkah. Kedua, penyebaran tarekat Sammaniyah hanya berkembang di kalangan bangsawan yang berada di Kesultanan Buton. Adapun corak ajaran Tarekat Sammaniyah tidak jauh berbeda dengan teks sumber utamanya, yaitu al-Nafahat al-Ilahiyah karya Muhammad bin ‘Abd al-Karim al-Samman. Hal ini menunjukkan adanya indikasi kuat interaksi antara ‘Aydrus dengan tokoh-tokoh Sammaniyah lokal melalui jalur silsilah ‘Abd al-Samad. Namun ada beberapa tradisi zikir yang sedikit berbeda dengan Sammaniyah yang diajarkan ‘Abd al-Samad. Ini terlihat saat ‘Aydrus menempatkan zikir tahlil pada tingkatan lanjutan, sedangkan ‘Abd al-Samad menjadikan zikir pada tingkatan pemula. Namun pada akhirnya tidak ada perbedaan sama sekali pada tatacara berzikir padab-adab. 
THE RADICALISM OF YOUNG PEOPLE IN INDONESIA THE RELIGIOUS PORTRAITS OF ISLAMIC SPIRITUAL ORGANIZATIONS Jaetul Muchlis
Mimbar Agama Budaya Vol 38, No 2 (2021): Mimbar Agama Budaya
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/mimbar.v38i2.25167

Abstract

Abstract. Youth, radicalism, and intolerance are serious problems that continue to develop and become a discourse in Indonesia and other countries, including the Middle East. In recent years, the emergence of symptoms of radicalism and intolerance among young people has increased. The tendency to increase the interest of Muslim youth to join organizations or religious groups that are intolerant also contributes to the significant increase in the symptoms of radicalism. Symptoms that appear make them have an intolerant and extremist attitude that leads to violence. Data from the research results and deepening of the BNPT strengthen this phenomenon. In Indonesia, some of the perpetrators of acts of terrorism are still young. They were about 23-27 years old with a lack of religious understanding. Even the movement mode of radical groups targeting young people is mainly concentrated in educational institutions at the junior high school and senior high school levels, even at the university level, such as Islamic spiritual youth group (Rohis). among students. Various kinds of religious upheaval are often related to social change and the things that accompany it, including social unrest, mobility, and conflict. The theme of religious radicalism is undoubtedly not new. However, the author assumed that the composition of radicalism remains essential, and needs to be developed continuously by all generations. The study written in this paper will explore the phenomenon of young people and the behavior of radicalism and intolerance in educational institutions such as Rohis (Intelorance in the Rohis literature) and society in general.Abstrak. Pemuda, radikalisme, dan intoleransi adalah masalah serius yang hingga kini terus berkembang dan menjadi diskursus di Indonesia dan negara-negara lain termasuk di Timur Tengah. Fenomena munculnya gejala radikalisme dan intoleransi di kalangan kaum muda dalam beberapa tahun terakhir ini meningkat. Kecenderungan peningkatan minat kaum muda Islam bergabung dalam organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok keagamaan yang terindikasikan intoleran turut mensuplai besarnya peningkatan gejala radikalisme. Gejala yang muncul menjadikan mereka memiliki sikap intoleran dan ekstrimis yang mengarah pada tindakan kekerasan. Data dari hasil penelitian dan pendalaman BNPT memperkuat fenomena tersebut, dewasa ini di negara Indonesia sebagian pelaku aksi terorisme diketahui berusia muda, berada di rentang usia kisaran 23-27 tahun dengan pemahaman keagamaan yang rendah. Bahkan modus pergerakan kelompok radikal dengan sasaran kaum muda banyak  terkonsentrasi di lembaga-lembaga pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Mengah Atas bahkan sampai ke tingkat perguruan tinggi seperti Rohis, misalnya berdasarkan hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menunjukan adanya faham konservatisme keagamaan di kalangan Siswa. Berbagai macam pergolakan keagamaan pun sering dijumpai berkaitan dengan perubahan sosial dengan hal-hal yang menyertainya, termasuk di dalamnya keresahan sosial, mobilitas, dan pertikaian. Tema radikalisme paham keagamaan tentu bukan merupakan tema baru, namun demikian penulis berasumsi bahwa tema radikalisme tetap penting dan perlu dikembangkan secara terus-menerus oleh banyak orang atau penulis dari semua generasi. Pada pengkajian yang ditulis dalam makalah ini akan mengeksplor fenomena kaum muda serta perilaku radikalisme dan intoleransi di Lembaga Pendidikan seperti Rohis (Inteloransi dalam literatur Rohis) dan di masyarakat secara umum. 

Page 4 of 17 | Total Record : 165