cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 160 Documents
Meneropong Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Model Perilaku Peserta Didik Hutapea, Rinto Hasiholan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.438 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.44

Abstract

This paper aims to examine one of the competencies that must be prossessed by a teacher. These competencies are personality competencies. The author will review the personality competencies of a Christian Education teacher as a model of behavior emulated  by students. The discussion in this paper covers the theoretical description of teacher personality competencies and their relationship as models of student behavior. The findings and analysis of the authors state that personality competencies possessed by a Christian Education teacher can determine the model of behavior emulated by a student at school. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi tersebut adalah kompetensi kepribadian. Penulis akan mengulas kompetensi kepribadian seorang guru Pendidikan Agama Kristen sebagai model perilaku yang diteladani peserta didik. Pembahasan dalam tulisan ini mencakup uraian teoritis tentang kompetensi kepribadian guru dan kaitannya sebagai model perilaku peserta didik. Hasil temuan dan analisa penulis menyatakan bahwa kompetensi kepribadian yang dimiliki orang seorang guru Pendidikan Agama Kristen dapat menentukan model perilaku yang diteladani oleh seorang peserta didik di sekolah.
Implementasi Pendidikan Kasih Di Dalam Keluarga Kristen Munandar, Aris
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.215 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i1.80

Abstract

Love education needs to be known, lived and practiced by everyone in community life, therefore the appreciation and practice of the teachings of Christ in accordance with the truth in the Bible, can really be practiced in daily life, specifically in the life of Christian families . Implementation of education and teaching of love, not only done in the church environment, the family as informal education, starting from the family, children are educated by parents, about education of gratitude that comes from the truth of the word of God, to seek back the meaning of values thank you education which is starting to erode. The influence of the times and the influence of globalization in an increasingly advanced and developing world, the role of parents is increasingly needed in relation to financial problems, attitudes and strengthening of children, making children in relationships with others who are not in accordance with teachings that are in accordance with the truth of God's Word. To overcome the smooth implementation of education and teaching in the family, the role of parents is needed in guiding children, to get their lives closer to God, through praying and reading the Bible regularly every day. Relationships between all families in the community are needed among the community to support each other, arrange harmony, avoid the nature of mutual arguments, stay away from jealousy, stay away from feelings of resentment and also improve harmony within the family and in the community he visits.
Strategi Guru dalam Membentuk Spritualitas Religius Belajar Siswa/siswi Kristen Zamili, Uranus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.753 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.106

Abstract

Children's spiritual relationship must be formed from childhood. This is because the earlier the child knows and has a good relationship with God, the more his spiritual relationship develops for the better until adulthood. Religious spirituality is a close relationship or relationship between human beings and God so that humans can rely on it because it must be so in shaping the attitude or spirituality of Christian students in the midst of this digital age. Through descriptive qualitative research with a literature study approach, it can be concluded that the teacher does not only give children knowledge or transfer knowledge to increase their knowledge but also has to shape the child into a person who fears God and has a good spiritual relationship with God and can be an example to other generations. in the future in the future. This can be done through prayer, worship, thanksgiving and preaching the Word. The purpose of this research is to know the importance of forming the religious character of Christian students, and to explain the teacher's strategy in shaping the religious spirituality of Christian students.AbstrakHubungan spiritualitas anak harus dibentuk mulai sejak kecil. Hal ini dikarenakan semakin dini anak mengenal dan memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan maka hubungan spiritulitasnya, semakin berkembang menjadi lebih baik hingga dewasa. Spiritualitas religius adalah relasi atau hubungan yang akrab antara sesama manusia dengan Tuhan sehingga manusia dapat menyandari hal itu karena memang harus demikian dalam membentuk sikap atau spiritualitas siswa/i Kristen di tengah-tengah zaman digital ini. Melalui penelitian kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur dapat disimpulkan bahwa Guru tidak hanya memberikan anak pengetahuan atau mentransferkan ilmu untuk menambah wawasannya tetapi juga harus membentuk anak menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan memiliki hubungan spiritulitas yang baik dengan Tuhan serta dapat jadi contoh kepada generasi yang lain dimasanya kelak nantinya. Hal ini dapat dilakukan melalui doa, penyembahan, ucapan syukur dan pemberitaan Firman. Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah mengetahui pentingnya pembentukan karakter religius siswa/i Kristen, dan menjelaskan strategi guru dalam membentuk spiritualitas religius anak siswa-siswi Kristen.
Pola Kepemimpinan Yang Relegius Dan Karismatis Dalam Penggembalaan Yang Kontekstual Untuk Memacu Misi Pertumbuhan Jemaat Secara Holistik Dully, Stefanus; Yulius, Andi; Wijaya, Hertanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.995 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v4i1.136

Abstract

The establishment of Bethel Church of Indonesia, Nabire - Papua, because of the 'vision' of God. Bethel Church of Indonesia, Nabire - Papua is experiencing rapid growth, with its problem. Has a positive and significant impact between Religious and Charismatic Leadership Patterns on holistic Congregational Growth Missi. In addition, it has a positive and significant impact between contextual grazing against the Holistic Congregational Growth Mission at Bethel Church indonesia, Nabire Papua. Having a positive and significant impact between Religious and Charismatic Leadership Patterns simultaneously on the Church Growth Mission. This has a positive and significant impact between religious and charismatic leadership patterns towards the Holistic Growth of Congregations in Bethel Indonesia Church, Nabire – it can be proven that there are contextual grazing results, towards the Holistic Growth of Congregations in Bethel Church Indonesia, Nabire – Papua.AbstrakDimulai penginjilan dan utusan oleh misionaris, berdirinya Gereja Bethel Indonesia, Nabire - Papua, karena adanya ‘visi’ dari Tuhan. Gereja Bethel Indonesia, Nabire - Papua mengalami pertumbuhan yang pesat, dengan kontek masalahnya. Memiliki dampak yang positip dan signifikan antara Pola Kepemimpinan yang Religius dan Kharismatis terhadap Missi Pertumbuhan Jemaat Secara Holistik. Selain itu memiliki dampak yang positip dan signifikan antara Penggembalaan yang Kontektual terhadap Missi Pertumbuhan Jemaat Secara Holistik di Gereja Bethel Indonesia, Nabire Papua. Memiliki dampak yang positip dan signifiikan antara Pola Kepemimpinan Yang Religius dan Kharismatis secara bersamaan terhadap Missi Pertumbuhan Jemaat. Hal ini Berdampak positip dan signifikan antara Pola Kepemimpinan yang Religius dan Kharismatis terhadap Missi Pertumbuhan Jemaat Secara Holistik di Gereja Bethel Indonesia, Nabire –dapat dibuktikan adanya hasil Penggembalaan yang Kontekstual, terhadap Missi Pertumbuhan Jemaat Secara Holistik di Gereja Bethel Indonesia, Nabire - Papua
Tanggung Jawab Orangtua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Widjaja, Rinawaty; Pondanan, Ananda Resty
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v4i2.152

Abstract

The problem in this study is the lack of parental awareness of their responsibility as parents that parents give their children up to be educated and taught by their teachers in schools and churches without them mentoring them in the family circle. The lack of attention and time that a parent has ona child reflects poorly on the child's attitudes and emotions. The study aims to find out the extent to which a parent's responsibilities affect a child's emotional intelligence in his or her holla beautiful east kalimantan district. The method used in this study is a quantitative study method by spreading angkettes, interviews and field observations to know the effect a parent's responsibility on the emotional intelligence of an 11-15 - year - old child in his hollandwas beautiful. After data has been collected, the data is analyzed and corrected until it results that the fulfillment of a parent's responsibility to a child has had an effect on the child's emotional intelligence. Thus it may be concluded that children whose needs include biological, emotional, religious, economic, well-satisfied education can increase their emotional intelligence as well as that of children who are self-aware, self-controlled, self-motivated, empathetic and socially skilled.AbstrakPermasalahan dalam penelitian ini adalah kurangnya kesadaran orangtua tentang tanggung jawab mereka sebagai orangtua, sehingga orangtua menyerahkan penuh anaknya untuk di didik dan diajar oleh guru mereka di sekolah dan gereja tanpa mereka memberikan didikan di lingkungan keluarga. Kurangnya perhatian dan waktu dari orangtua terhadap anak berdampak buruk terhadap sikap dan emosional anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh tanggung jawab orangtua terhadap kecerdasan emosional anak di Dusun Nyapa Indah Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan menyebarkan angket, wawancara dan melakukan observasi lapangan untuk mengetahui  pengaruh tanggung jawab orang tua terhadap kecerdasan emosional anak  usia 11-15 tahun di Dusun Nyapa Indah. Setelah data dikumpulkan maka data dianalisis dan dikorelasi hingga mendapatkan hasil bahwa pemenuhan tanggung jawab orangtua kepada anak memiliki pengaruh terhadap kecerdasan emosional anak. Dapat disimpulkan bahwa anak yang kebutuhannya yang meliputi kebutuhan biologis, afeksi, religius, ekonomi, dan education terpenuhi dengan baik dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak yang meliputi anak mampu memiliki kesadaran diri, mampu mengendalikan diri, memotivasi diri, memiliki empati dan memiliki keterampilan sosial.
Konsep Yesus Kristus Sebagai Adam Kedua Menurut Cyril Alexandria Dorohungi, Nixon
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v4i2.149

Abstract

The coming of Jesus Christ to the world as the second Adam is a gift from God who is also a sacrifice to replace humans with punishment and suffering. Because the failure of the first Adam made human nature sinful and the Holy Spirit departed from within humans, so that humans could not experience God's grace. This second Adam concept gives an important point that the first Adam failed because he disobeyed Allah but this second Adam succeeded in obeying Allah. By becoming human He restored sinful human nature and He restored the Holy Spirit in the believer and gave a new humanity. Therefore, everything that Jesus Christ did by becoming a human, experiencing suffering, death, crucifixion and arriving at the resurrection shows that as the second Adam He really did restore humans or restore humans to how God originally created humans. Thus every believer has a new nature, a new life, which is a place where the Holy Spirit can work to channel the gift of salvation. This study uses the literature study method which is a relevant method in conducting research on the concept of the second Adam which leads to the conclusion that it was the second Adam who brought humans back to God.AbstrakKedatangan Yesus Kristus kedunia sebagai Adam kedua adalah anugerah Tuhan yang sekaligus menjadi korban untuk mengantikan manusia menjalani hukuman dan penderitaan. Oleh karena kegagalan Adam pertama membuat kodrat manusia itu berdosa dan Roh kudus itu pergi dari dalam diri manusia, sehinga manusia tidak bisa mengalami anugerah Tuhan. Konsep Adam kedua ini memberikan poin penting bahwa Adam pertama itu gagal karena tidak taat pada Allah tetapi Adam kedua ini berhasil untuk taat pada Allah. Dengan menjadi manusia Dia memulihkan kodrat manusia yang berdosa dan Dia mengembalikan Roh Kudus itu dalam diri orang percaya dan memberikan kemanusiaan yang baru. Oleh sebab itu segalah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dengan menjadi manusia, mengalami penderitaan, kematian, penyaliban dan sampai pada kebangkitan itu menunjukan bahwa sebagai Adam kedua Dia benar-benar memulihkan manusia atau  mengembalikan manusia sebagaimana awal Tuhan menciptakan manusia. Dengan demikian setiap orang percaya itu memiliki kodrat yang baru, kehidupan yang baru, yang menjadi tempat dimana Roh Kudus itu bisa bekerja untuk menyalurkan anugerah keselamatan. Penelitian ini mengunakan metode studi pustaka yang merupakan metode yang relefan dalam  melakukan penelitian tentang konsep Adam kedua yang mengarahkan pada kesimpulan bahwa Adam  kedualah yang membawa kembali manusia kepada Allah.
Peran Gereja dalam Aktualisasi Amanat Agung bagi Msyarakat di Era Dunia Digital Berhitu, Reinhard
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v4i2.158

Abstract

The reluctance of believers as part of God's church in evangelizing comes from the church itself which does not place evangelism as a priority in church growth. Even the problem that often occurs is that believers are deceived by persuasion from other pastors who use unethical methods so that the congregation moves and becomes new followers in other churches. Moreover, the complexity of the impact of technological advances and informatics must also force Christianity to continue to carry out missions in the digital world though. It can be concluded that the Church's Role in Actualizing the Great Commission for society in the era of the digital world. Believers must have Synergy as part of the Church and the Great Commission to work together to build impact for the Gospel in a Digital World. Believers must be present for those who do not know Jesus and preach by all means to convey the news of salvation for humans even in the digital world. Furthermore, the role of believers in the actualization of the gospel in the Digital Age is highly anticipated and becomes a definite answer for those who are connected with advances in technology and informatics.AbstrakKeengganan orang percaya sebagai bagian dari gereja Tuhan dalam menginjil datang dari persoalan gereja sendiri yang tidak menempatkan penginjilan sebagai prioritas dalam pertumbuhan gereja. Bahkan persoalan yang sering terjadi orang percaya terpedaya karena bujuk rayu dari gembala lain yang menggunakan cara-cara kurang etis sehingga jemaat itu pindah dan menjadi pengikut baru digereja lain. Terlebih kompleknya dampak dari kemajuan teknologi dan informatika juga harus memaksa kekristenan untuk terus melakuakn misi di dunia digital sekalipun. Dapat disimpulkan bahwa peran gereja dalam aktualisasi Amanat Agung bagi masyarakat  di era dunia digital. Orang percaya harus memiliki Sinergisitas sebagai bagian dari Gereja dan Amanat Agung untuk bekerja sama membangun dampak bagi Injil dalam Dunia Digital. Orang percaya wajib hadir bagi mereka yang belum mengenal Yesus dan memberitakan dengan segala cara untuk menyampaikan kabar keselamatan bagi manusia sekalipun di dunia digital. Selanjutnya Peran Orang Percaya dalam Aktiualisasi Injil di Era Digital sangat dinanti dan menjadi jawaban pasti mereka yang terhubung dengan kemajuan teknologi dan informatika.
Komitmen Mengajar Guru sebagai Aktualisasi Profesionalisme Supriani, Supriani; Triposa, Reni; Wardi, Wardi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v4i2.153

Abstract

Professionalism is a word that we often say when we see people working with extraordinary abilities or are experts in that field and have skills that can be trusted and are responsible for the work that someone has. when someone is an expert in a field that he already has and has become someone who is professional, then that person can be found in various places or any profession, there must be many people who will be forced to be trusted when he becomes a teacher. By working professionally, a teacher can be trusted in terms of teaching and so on, so that he can become quality teacher so that the teacher can be seen as someone who has a noble profession, then, there is also something to do with Christian Religious Education teachers, to become a teacher. Christian Religious Education teachers are not easy, because many things must be considered in carrying out their duties and responsibilities, especially having to do what is their calling as teachers, which must see that they must do what God has wanted for their lives, that when teaching must teach according to God's word, with truth that isw the main thing for a Christian Religious Education teacher, that they must be able and try so that they can become teachers who are truly committed to good teaching and full of great responsibility, so that when they teach, they can imitate d art characteristic of the Lord Jesus himself so that they can teach according to the truth.AbstrakProfesionalisme adalah sebuah kata yang sering kita ucapkan ketika melihat orang bekerja dengan segala kemampuan yang luar biasa atau sudah ahli dalam hal bidang itu serta mempunyai keterampilan yang dapat dipercaya dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang telah dimiliki oleh seseorang tersebut. Ketika seseorang sudah ahli dalam bidang yang telah ia miliki dan telah menjadi seseorang yang profesionalisme, maka seseorang tersebut dapat kita temui diberbagai tempat atau profesi mana saja, disitu pasti banyak orang-orang yang akan dipakai untuk dapat dipercayai ketika menjadi seseorang guru. Dengan bekerja secara profesional, maka seorang guru akan dapat dipercayai dalam hal mengajar dan lain sebagainya, sehingga bisa menjadi guru yang berkualitas dengan demikian guru tersebut dapat dipandang sebagai seseorang yang berprofesi mulia. kemudian, ada juga kaitannya dengan guru Pendidikan Agama Kristen, untuk menjadi seorang guru Pendidikan Agama Kristen tidaklah mudah, karena banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menjalankan tugas dan tanggung mereka, terutama harus melakukan apa yang menjadi panggilan mereka sebagai guru, yang dimana harus melihat bahwa mereka harus melakukan apa yang telah Tuhan kehendaki atas kehidupan mereka, bahwa ketika mengajar harus mengajar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, itu yang menjadi utama seorang guru Pendidikan Agama Kristen, bahwa mereka harus mampu dan berusaha supaya mereka dapat menjadi guru yang berkomitmen dalam hal mengajar yang baik dan penuh rasa tanggung jawab yang besar, sehingga ketika mereka mengajar, mereka dapat meneladani dari karakteristik Tuhan Yesus itu sendiri, dengan demikian guru atau dosen dapat mengajar sesuai dengan kebenaran.
Church Social Responsibility Dengan Panduan ISO 26000 Dan Implikasinya Bagi Gereja Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v4i2.159

Abstract

The term Church Social Responsibility in this study was borrowed from the term Corporate Social Responsibility, because the principles of CSR are in line with the principles contained in CSR based on the ISO 26000 standard, namely the Social Responsibility Guidelines. The practice of good church social responsibility has become not only an obligation but a necessity and even a necessity for the church now and in the future to implement good church social responsibility management. The ISO 26000 standard is recommended to be applied as a model in church governance in implementing good social responsibility because the criteria contained in it can lead the church to achieve good, healthy and effective governance of church social responsibility implementation by complying with the rules and Bible truth. This research was conducted by library research method. The results of this study show how very important and strategic it is for church leaders to be actively involved in the movement to carry out good church social responsibility. the context of the call and its services. Third, church leaders must be committed to starting to implement a model of implementing church social responsibility based on ISO 26000 guidelines, which is an easy and simple approach because it is based on the Plan-Do-Check-Act (PDCA) pattern.AbstrakIstilah Church Social Responsibility pada penelitian ini dipinjam dari istilah Corporate Social Responsibility, karena prinsip-prinsip dari CSR senada dengan prinsip yang terkandung dalam CSR berbasis standar ISO 26000 yaitu Panduan Tanggung Jawab Sosial. Praktik tanggung jawab sosial gereja yang baik sudah menjadi bukan hanya kewajiban tetapi keharusan bahkan kebutuhan bagi gereja saat ini dan masa mendatang untuk menerapkan manajemen tanggung jawab sosial gereja yang baik. Standar ISO 26000 disarankan untuk diterapkan sebagai model dalam tata kelola gereja dalam menerapkan tanggung jawab sosialnya yang baik karena kriteria yang terkandung di dalamnya dapat mengantarkan gereja mencapai tata kelola pelaksanaan tanggung jawab sosial gereja yang baik, sehat dan efektif dengan mematuhi aturan peraturan dan kebenaran Alkitab. Penelitian ini dilakukan dengan metode riset pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan betapa sangat penting dan strategisnya pemimpin gereja untuk terlibat aktif dalam gerakan menjalankan tanggung jawab sosial  gereja yang baik. Kedua, pemimpin gereja sudah saatnya untuk berupaya keras menyadari dan memahami berbagai konsep model pelaksanaan tanggung jawab sosial gereja yang baik dan cocok sesuai kontek panggilan dan pelayanannya. Ketiga, pemimpin gereja harus komitmen untuk mulai menerapkan model pelaksanaan tanggung jawab sosial gereja berdasarkan panduan ISO 26000 yang pendekatannya mudah dan sederhana karena berbasiskan pola Plan-Do-Check-Act (PDCA).
Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Pada Orang Dewasa Sibuea, Ezra Yani; Arifianto, Yonatan Alex; Rusmiati, Rusmiati
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v4i2.154

Abstract

Christian religious education is not education that only talks about children. Christian religious education in the aim of maturing faith is also needed in the world of adults who are faced with various decisions and problems of life and the demands of their lives. Therefore the strategy in learning Christian religious education for adults is important. There are many learning methods, but there are several learning methods for adults that can be used by educators and church administrators, namely the method Jesus also used in teaching. This study aims to describe the learning strategy of Christian religious education for adults with a qualitative approach. The data collection was carried out by conducting a study of library sources related to the discussion in this paper. The results of this study indicate that the learning strategies that Jesus previously used can also be used in teaching Christian religious education for adults.AbstrakPendidikan Agama Kristen bukanlah pendidikan yang hanya berbicara mengenai anak-anak saja. pendidikan Agama Krsiten dalam tujuannya mendewasakan iman juga diperlukan dalam dunia orang dewasa yang diperhadapkan oleh berbagai keputusan dan permasalahan hidup serta tuntutan kehidupannya. Maka dari itu strategi dalam pembelajran pendidikan agama Krsiten bagi orang dewasa merupakan hal yang penting. Ada banyak metode pembelajaran namun ada beberapa metode pembelajaran bagi orang dewasa yang bisa dipakai oleh pendidik maupun pengurus gereja yaitu metode yang juga dipakai oleh Yesus dalam memberikan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai trategi pembelajaran pendidikan agama Krsiten bagi orang dewasa dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan kajian terhadap sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan pembahasan dalam tulisan ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang dilakukan Yesus sebelumnya juga dapat dipakai dalam pembelajaran pendidikan agaram Kristen bagi orang dewasa.

Page 7 of 16 | Total Record : 160