cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 160 Documents
Kajian Sosio-Feminis terhadap Peran GMIT Syalom Oinlasi Barat Mengatasi Kekerasan Perempuan dalam Praktik Adat Sifon Masyarakat Dawan Litelnoni, Titania Madelein; Lusi, Astrid Bonik; Lauterboom, Mariska
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.406

Abstract

This study examines the traditional practice of sifon in the Dawan community as a form of symbolic and structural violence against women. Sifon is a traditional post-circumcision practice (village) carried out by men involving women as healing media. In this practice, women are positioned not as dignified subjects, but as objects that can be accessed, paid for, and then forgotten. This tradition is legitimized by traditional symbols and passed down from generation to generation, making it difficult to openly question within society or the church in particular. This research approach is descriptive qualitative with in-depth interviews and literature studies, then analyzed using three theoretical perspectives based on socio-feminist studies, namely: Marianne Katoppo's Asian feminist theology, Gustavo Gutiérrez's liberation theology, and Peter L. Berger's sociology. The research findings indicate that the traditional practice of sifon has excluded women from their rights as spiritual and social subjects. Women's bodies are reduced to instruments of male healing, while also becoming an arena for conflict between cultural power, morality, and Christian faith. These findings demonstrate that the church theologically rejects the traditional practice of sifon, but has yet to voice its rejection collectively and transformatively. In conclusion, the practice of sifon is a form of cultural and spiritual violence that must be reexamined through the lens of gender justice and faith liberation. The church has the potential to be an agent of social transformation, actively defending women's dignity and challenging oppressive customary structures.AbstrakPenelitian ini mengkaji praktik adat sifon pada masyarakat Dawan sebagai bentuk kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Sifon adalah praktik pasca-sunat tradisional (kampung) yang dilakukan oleh laki-laki dengan melibatkan perempuan sebagai media penyembuhan. Dalam praktik ini, perempuan diposisikan tidak sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai objek yang dapat diakses, dibayar, dan dilupakan. Tradisi ini dilegitimasi oleh simbol-simbol adat dan diwariskan turun-temurun sehingga sulit dipersoalkan secara terbuka dalam masyarakat maupun gereja. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan tiga perspektif teori berdasarkan kajian sosio-feminis yaitu: teologi feminis Asia Marianne Katoppo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez, dan sosiologi Peter L. Berger. Temuan penelitian menunjukkan praktik adat sifon telah menyingkirkan perempuan dari haknya sebagai subjek spiritual dan sosial. Tubuh perempuan direduksi menjadi alat penyembuhan laki-laki, sekaligus arena konflik antara kekuasaan budaya, moralitas, dan iman Kristen. Temuan ini memperlihatkan gereja secara teologis menolak praktik adat sifon, namun belum menyuarakan penolakannya secara kolektif dan transformatif. Kesimpulannya, praktik sifon merupakan bentuk kekerasan kultural dan spiritual yang harus ditinjau ulang melalui lensa keadilan gender dan pembebasan iman. Gereja memiliki potensi sebagai agen transformasi sosial yang harus aktif membela martabat perempuan dan menantang struktur adat yang menindas.
Implementasi Pengajaran Kristologi bagi Anak di Keluarga Untoro, Tri; Zebua, Monaati
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.358

Abstract

The issue addressed in this study is the limited understanding of Christology among children due to the complexity of theological concepts, the lack of interactive teaching approaches, and insufficient support from the learning environment. This research aims to explore the role of families in teaching Christology to children and to formulate effective strategies to enhance their understanding of Christ's teachings. The study employs a qualitative method with structured interviews and participatory observation involving 20 children aged 6-12 years from Christian families. Data were analyzed using content analysis techniques to delve into the experiences and perspectives of children regarding Christology learning within the family environment. The results reveal that parents play a vital role in fostering children's understanding of Christology. Contextual approaches, such as simple analogies, Bible stories, and family worship, effectively simplify theological concepts. Active parental involvement and family discussions create a supportive environment for Christology teaching. Effective Christology teaching requires relevant, interactive, and practical approaches to enable children to internalize Christ's teachings. The family’s role is crucial, supported by the church in providing appropriate resources and approaches.AbstrakPermasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya pemahaman anak-anak tentang Kristologi akibat kompleksitas konsep teologi, kurangnya pendekatan pengajaran yang interaktif, dan minimnya dukungan lingkungan belajar yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran keluarga dalam pengajaran Kristologi anak-anak serta merumuskan strategi efektif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap ajaran Kristus. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara terstruktur dan observasi partisipatif terhadap 20 anak berusia 6-12 tahun dari keluarga Kristen. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk mendalami pengalaman dan pandangan anak-anak terkait pembelajaran Kristologi di lingkungan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua berperan vital dalam membangun pemahaman Kristologi anak. Pendekatan kontekstual, seperti analogi sederhana, cerita Alkitab, dan ibadah bersama, efektif menyederhanakan konsep teologi. Keterlibatan aktif orangtua dan diskusi keluarga mendukung pengajaran Kristologi. Pengajaran Kristologi yang efektif membutuhkan pendekatan relevan, interaktif, dan aplikatif agar anak-anak dapat menginternalisasi ajaran Kristus. Peran keluarga sangat penting, didukung oleh gereja dalam menyediakan sumber daya dan pendekatan yang sesuai.
Melunaknya Hati Tuhan: Tinjauan Teologis Dan Psikologis Terhadap Pembebasan Emosi Dalam Kitab Keluaran 32:14 Darmaka, Benediktus Widya
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.412

Abstract

This scholarly work explores the theological and psychological implications of the release of divine emotions as depicted in Exodus 32:14. The background of this study focuses on how Moses’ intercession succeeded in softening God’s heart after His anger toward the Israelites for worshiping the golden calf. This situation raises profound questions concerning the nature of God’s emotions and their relevance to the human–divine relationship.The research employs a qualitative approach through narrative analysis and literature study to examine Exodus 32:14 from both theological and psychological perspectives. This method involves the use of primary and secondary sources, as well as data triangulation to enhance the validity of the analysis.The findings reveal that God’s emotions are not only central to theological discourse but also carry significant implications for individual psychological well-being. By understanding God’s nature as loving and compassionate, we can strengthen our relationship with Him and live a more meaningful life.AbstrakKarya ilmiah ini mengeksplorasi implikasi teologis dan psikologis dari pelepasan emosi ilahi sebagaimana digambarkan dalam Keluaran 32:14. Latar belakang penelitian ini berfokus pada bagaimana doa syafaat Musa berhasil melunakkan hati Allah setelah murka-Nya terhadap bangsa Israel yang menyembah anak lembu emas. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai hakikat emosi Allah dan relevansinya dalam hubungan antara Allah dan manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis naratif dan studi literatur untuk menelaah Keluaran 32:14 dari perspektif teologis maupun psikologis. Metode ini melibatkan penggunaan sumber primer dan sekunder, serta triangulasi data guna meningkatkan validitas analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi Allah tidak hanya menjadi pusat diskursus teologis, tetapi juga memiliki implikasi penting bagi kesejahteraan psikologis individu. Dengan memahami sifat Allah yang penuh kasih dan belas kasih, kita dapat memperkuat hubungan dengan-Nya dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Membangun Pendidikan Agama Kristen Inklusif Untuk Anak Usia Dini: Menghargai Keberagaman Dan Mendorong Toleransi Silalahi, Edwin Goklas; Simbolon, Titus Tunggul; Siahaan, Velino; Hendrik, Xaves
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.398

Abstract

Christian religious education in Indonesia plays a significant role in shaping children's character and spiritual values from an early age. However, in an increasingly diverse society, Christian religious education faces major challenges in adopting an inclusive approach. This article explores how inclusive Christian religious education for early childhood can promote respect for diversity and encourage tolerance. Through a literature review, this study identifies key principles that can be applied to the Christian religious education curriculum to foster mutual respect and facilitate interfaith dialogue. It also examines the challenges of implementing inclusive Christian education and explores possible solutions. The findings suggest that Christian Religious Education (CRE) should be delivered in an inclusive manner—teaching the love of Christ while nurturing openness toward differences. These values are integrated into the curriculum through learning objectives that emphasize love and respect for others, materials that include Bible stories highlighting love and acceptance, and assessments that evaluate children’s tolerance in daily interactions. Respect for diversity is consistently instilled through the habituation of respectful behavior, the use of relevant Bible stories, and classroom activities that promote cooperation and empathy. One example of such practice is the “Circle of Love” method, in which children are encouraged to say one positive thing about a friend each week. This activity helps nurture respect and love amidst differences.AbstrakPendidikan agama Kristen di Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual khususnya bagi anak sejak usia dini. Namun di tengah masyarakat yang semakin beragam, pendidikan agama Kristen menghadapi tantangan besar dalam menghadirkan pendekatan yang inklusif. Artikel ini membahas bagaimana pendidikan agama Kristen inklusif untuk anak usia dini dapat mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman dan mendorong toleransi. Melalui tinjauan pustaka, penelitian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan agama Kristen untuk memupuk sikap saling menghormati dan menciptakan dialog antar umat beragama, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan agama Kristen yang inklusif serta solusi yang dapat diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAK harus disampaikan secara inklusif mengajarkan kasih Kristus sekaligus membentuk sikap terbuka terhadap perbedaan. Nilai-nilai diintegrasikan ke dalam kurikulum, melalui: Tujuan pembelajaran yang menekankan cinta kasih dan sikap menghormati sesama, materi yang mencakup cerita-cerita Alkitab tentang kasih dan penerimaan, dan evaluasi yang menilai sikap toleran anak dalam praktek sehari-hari. Penghargaan terhadap perbedaan ditanamkan secara konsisten melalui: Pembiasaan sikap saling menghargai berupa, cerita Alkitab yang relevan, kegiatan kelas yang melibatkan kerja sama dan empati. Contoh praktik di kelas menggunakan metode “Lingkaran Kasih”: anak-anak menyebutkan satu kebaikan dari temannya setiap minggu. Kegiatan ini menumbuhkan rasa hormat dan kasih dalam perbedaan.
Narasi Elia dan Nabi Baal: Kritik Hermeneutik terhadap Relasi Kekuasaan dan Pluralisme Agama di 1 Raja-Raja 18 Nainggolan, Jisman; Soeoth, Esther Debora
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.397

Abstract

This article examines the Elijah narrative in 1 Kings 18 in the context of the relationship between political power and religious pluralism, using a hermeneutic approach. Through textual analysis, the narrative highlights how religion can be used by those in power to maintain political hegemony, as well as Elijah's role as a prophetic agent who challenges corrupt authority. This study shows the relevance of the Elijah narrative in the contemporary multicultural world, where religious pluralism and the misuse of religion for political purposes are central issues. The conclusion shows that Elijah teaches the importance of faith integrity in facing pluralism and critiques the use of religion to legitimize power. This study provides theological and social insights that are relevant to the discourse on religion and politics in the modern era.AbstrakArtikel ini mengkaji narasi Elia di 1 Raja-Raja 18 dalam konteks relasi antara kekuasaan politik dan pluralisme agama, dengan pendekatan hermeneutik. Melalui analisis teks, narasi ini menyoroti bagaimana agama dapat dimanfaatkan oleh kekuasaan untuk mempertahankan hegemoni politik, serta peran Elia sebagai agen profetik yang menantang otoritas yang korup. Penelitian ini menunjukkan relevansi narasi Elia dalam dunia kontemporer yang multikultural, di mana pluralisme agama dan penyalahgunaan agama untuk tujuan politik menjadi isu sentral. Kesimpulan menunjukkan bahwa Elia mengajarkan pentingnya integritas iman dalam menghadapi pluralisme dan kritik terhadap penggunaan agama untuk legitimasi kekuasaan. Penelitian ini memberikan wawasan teologis dan sosial yang relevan untuk diskursus tentang agama dan politik di era modern.
Mendorong Pertumbuhan Gereja dengan Merevitalisasi Jemaat Menjadi Penuai Hutabarat, Samuel; Silalahi, Frans H.M.
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.372

Abstract

This article examines efforts to encourage the growth of the Church by revitalizing the congregation to become reapers in the context of Harvest Theology. In order to grow quantitatively and qualitatively, the Church must encourage the church to evangelize. Many churches struggle with problems that make them lose focus on achieving the vision and mission of the Church. To reach the stage of sending reapers, the Church should first settle internal affairs. The writing method uses a descriptive qualitative methodology with a focus on the indepth study approach and the literature study method. The result of the research is that revitalization is needed so that the Church undergoes transformation and returns to its function as a Church that reaps and makes disciples. The restored Church will move the congregation to harvest actively which produces positive growth so that it becomes a healthy and spiritually mature Church. The conclusion of the research is that Harvest Theology is an effective evangelistic method that encourages children of God to become a militant evangelist who harvest in God’s reaped fields, brings the harvest to the House of God to be discipled, and produces multiplication of souls. And in time, the disciples will be sent by the Church to harvest other unsaved souls. This process continues to roll until the growth and multiplication of the Church is achieved.AbstrakArtikel ini mengkaji upaya mendorong pertumbuhan Gereja dengan merevitalisasi jemaat untuk menjadi penuai dalam konteks Harvest Theology. Untuk dapat bertumbuh secara kuantitatif dan kualitatif, Gereja harus mendorong jemaat untuk menginjil. Banyak Gereja yang bergumul dengan berbagai masalah yang membuatnya kehilangan fokus dalam mencapai visi misi Gereja. Untuk mencapai tahap pengutusan penuai, Gereja selayaknya membenahi terlebih dahulu urusan internal. Metode penulisan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dengan fokus pada pendekatan indepth study dan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian adalah revitalisasi diperlukan agar Gereja mengalami transformasi dan kembali pada fungsinya sebagai Gereja yang menuai dan memuridkan. Gereja yang telah direstorasi akan menggerakkan jemaat untuk menuai secara aktif yang menghasilkan pertumbuhan yang positif sehingga menjadi Gereja sehat dan dewasa secara rohani. Kesimpulan hasil penelitian adalah Harvest Theology merupakan metode penginjilan efektif yang mendorong setiap anak Tuhan untuk menjadi penginjil militan yang menuai ladang menguning, membawa hasil tuaian ke Rumah Tuhan untuk dimuridkan, dan menghasilkan multiplikasi jiwa. Dan pada waktunya, jiwa-jiwa yang telah dimuridkan akan diutus Gereja untuk menuai jiwa-jiwa lain yang belum diselamatkan. Hal ini menjadi suatu proses yang berjalan secara berkesinambungan hingga tercapai pertumbuhan dan multiplikasi Gereja.
Menyusun Teologi Injili yang Relevan dalam Era Masyarakat Digital dan Postmodernisme Wijaya, Yulius; Nugraeni, Giarti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.273

Abstract

Pemahaman teologi seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, dan salah satunya adalah era digital dan paradigma postmodernisme yang meniadakan meta narasi dan menentukan kebenaran berdasarkan pilihannya sendiri. Hal ini tentunya sangat berpengaruh kepada gereja dan pertumbuhannya. Kecenderungan manusia yang mengabaikan kebenaran objektif perlu disikapi secara serius oleh gereja dan para teolog terutama kaum injili yang mempunyai kecenderungan untuk lebih bersikap defensif dan berhadapan langsung dengan paradigma postmodernisme ini. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskripsi ini mencoba untuk melihat fenomena ini dan bagaimana teologi injili dapat menjadi jawaban dalam era masyarakat dan postmodernisme ini. Penelitian ini menyusun teologi injli yang relevan yang dapat berkomunikasi dengan gaya bahasa paradigma postmodernisme dan menghasilkan teologi sahabat dan teologi berpengalaman untuk menjawab kebutuhan tersebut. Terkait dengan era digital maka upaya yang harus dilakukan adalah membuat massif konten-konten pengajaran alkitabiah sekaligus relevan dan mengembangkan pola pengajarang dan pemuridan yang berkualitas.
Mengembangkan Pelayanan Anak Berbasis Teokrasi: Menyediakan Dasar Rohani yang Kokoh dalam Masa Kini Purbodiningrat, Movta Rahindra; Pedro, Indriyanto; Dwikoryanto, Matius I Totok
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.258

Abstract

Children's services are keywords in shaping society's future, and spiritual and moral foundations are important components in children's character education. In the context of changing times, a "theocracy-based" approach has emerged as an effective alternative. Theocracy emphasizes the use of religious valuesas a basis for character formation and education. However, in a changing world, this approach must be able to integrate spiritual values into a modern context. In this paper, descriptive and qualitative methods are used to explain and describe the development of theocracy-based children's services in facing today's challenges, including the influence of technology and social change. Separation of Church and State, religious freedom, global challenges, the role of government, and community participation are important aspects to consider. The theocracy-based children's service approach emphasizes the importance of religious values, religious education, moral formation, character development, and community involvement. A solid spiritual foundation for the younger generation is the main goal, helping them become virtuous individuals capable of facing the challenges of today's world. Ongoing evaluation and commitment to the values of God's Word are also important parts of developing a successful children's ministry.AbstrakPelayanan anak adalah kunci dalam membentuk masa depan masyarakat, dan landasan spiritual dan moral merupakan komponen penting dalam pendidikan karakter anak-anak. Dalam konteks zaman yang terus berubah, pendekatan "berbasis teokrasi" muncul sebagai alternatif efektif. Teokrasi menekankan penggunaan nilai-nilai agama sebagai dasar pembentukan karakter dan pendidikan. Namun, dalam dunia yang terus berubah, pendekatan ini harus dapat mengintegrasikan nilai-nilai spiritual ke dalam konteks modern. Dalam tulisan ini, metode deskriptif dan kualitatif digunakan untuk menjelaskan dan menggambarkan pengembangan pelayanan anak berbasis teokrasi dalam menghadapi tantangan masa kini, termasuk pengaruh teknologi dan perubahan sosial. Pemisahan Gereja dan Negara, kebebasan beragama, tantangan global, peran pemerintah, dan partisipasi masyarakat adalah aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Pendekatan pelayanan anak berbasis teokrasi menekankan pentingnya nilai-nilai agama, pendidikan agama, pembentukan moral, pengembangan karakter, dan keterlibatan masyarakat. Landasan spiritual yang kokoh bagi generasi muda adalah tujuan utamanya, membantu mereka menjadi individu yang berbudi luhur dan mampu menghadapi tantangan dunia saat ini. Evaluasi berkelanjutan dan komitmen terhadap nilai-nilai Firman Tuhan juga merupakan bagian penting dalam pengembangan pelayanan anak yang berhasil.
Prinsip Pelayanan Pastoral Berdasarkan 1 Petrus 5:1-5 bagi Pelayanan Pemuda dan Mahasiswa Angkouw, Semuel Ruddy; Karamoy, Ilona Olvy; Wawolangi, Edward
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.272

Abstract

This paper discusses how pastoral principles are based on 1 Peter 5:1-5. The Book of 1 Peter was chosen because the principles related to pastoral are elaborated in this Book. The basis of the ideas in this paper is suspected because there are young men and students who display a pattern of life that is not in accordance with the principles of the truth of God's word. This is because the church has not fully implemented the principles of pastoral care in church life which has an impact on the lives of young people and students. The research method used in this article is qualitative with a literature study and exposition approach. The findings of this article are that the principles of pastoral care use love as the basis of shepherding, not serving forcibly and not profit-seeking but based on devotion. Applying this principle of pastoral care will help young people and students have Christlike character. AbstrakTulisan ini membahas tentang bagaimana prinsip-prinsip pastoral berdasarkan 1 Petrus 5:1-5. Kitab 1 Petrus dipilih karena prinsip-prinsip terkait pastoral terurai dalam Kitab ini. Dasariah gagasan dalam tulisan ini ditenggarai karena adanya para pemuda dan mahasiswa yang menampilkan corak kehidupan yang tidak sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan. Hal ini diakibatkan gereja belum sepenuhnya menjalankan prinsip-prinsip pelayanan pastoral dalam kehidupan gereja yang berdampak kepada kehidupan para pemuda dan mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan eksposisi. Hasil temuan dari artikel ini bahwa prinsip-prinsip pelayanan pastoral menggunakan kasih sebagai dasar penggembalaan, tidak melayani dengan paksa dan tidak mencari keuntungan tetapi berbasis pengabdian. Dengan menerapkan prinsip pelayanan pastoral ini, akan membantu para pemuda dan mahasiswa berkarakter sebagaimana Kristus.
Konektifitas Peran Orang Tua dalam Memuridkan Anak: Biografi Timotius Menurut 2 Timotius 1:5 Baskoro, Paulus Kunto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i1.262

Abstract

Other than church, the family is the main place of discipleship for young Christians in realizing their spiritual growth so that they grow up and are ready to face the challenges of life in today's modernization era. By using a descriptive qualitative approach and literary study methods, this research aims to answer several  questions about how young people in this modern era can be properly discipled both in the church and in the family. Parents should involved an important role in discipleship of children whom God has entrusted to them so that they become a generation that fulfills God's call. So that the purpose of discipleship is achieved where these young people become mature in personality, spirituality and morality so that they do not easily fall into negative things that do not glorify the name of God.This article will provide an understanding of how parents as the main responsible for making disciples of their children can synergize or cooperate with the youth leaders whom the Lord also uses in guiding their spiritual younger siblings. And in the end, the implementation of discipleship of young people will be something good if done together. AbstrakSelain gereja, keluarga merupakan tempat utama pemuridan bagi anak-anak muda Kristen dalam mewujudkan pertumbuhan rohani mereka sehingga bertumbuh dewasa dan siap menghadapi tantangan kehidupan di era modernisasi saat ini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif serta  metode studi literatur, maka penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang bagaimana anak-anak muda di era serba modern ini dapat dimuridkan dengan benar baik dalam gereja mau pun di dalam keluarga. Orang tua seharusnya berperan penting dalam melakukan pemuridan terhadap anak-anak yang Tuhan sudah percayakan kepada mereka sehingga menjadi suatu generasi yang menggenapi panggilan Allah.  Sehingga tujuan dari pemuridan pun tercapai dimana anak-anak muda ini menjadi dewasa dalam kepribadian, kerohanian dan moralitas sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif yang tidak memuliakan nama Tuhan. Penelitian ini akan memberikan pengertian bagaimana orang tua sebagai penanggung jawab utama dalam memuridkan anak-anak mereka dapat bersinergi atau bekerja sama dengan para pemimpin kaum muda yang Tuhan juga pakai dalam membimbing adik-adik rohani mereka. Dan pada akhirnya dalam implementasi pemuridan terhadap anak-anak muda akan menjadi sesuatu yang baik jika dikerjakan bersama-sama.