cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 160 Documents
Alkitab Dan Kritik Alkitab Zega, Fati Aro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.183 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.105

Abstract

The Bible is the single most criticized and most freely criticized book, and no other Bible is so openly criticized. Even though the Bible never flinches. Although not all criticism is bad. The purpose of the author in this article is to understand how biblical criticism becomes the basis for exploring God's word. Using a qualitative descriptive text study with a literature literature approach, it can be concluded that there are two levels of research that are critical of the Bible, namely the level of Lower Criticism and Higher Criticism, even though all of them use philosophy and rasii in researching the Bible. This group at that time was known as the bearers of Liberal Theology. Through this article the author describes his research on nine models of criticism of the Bible which more discredit the sacredness and glory of the Bible rather than admit it.AbstrakAlkitab adalah satu-satunya buku yang paling banyak dikritik dan paling bebas dikritik, juga tidak ada Kitab Suci lain yang begitu terbuka dikritik. Sekalipun Alkitab tidak pernah bergeming. Walaupun memang tidak semua kritik itu buruk. Tujuan penulis dalam artikel ini supaya dapat memahami bagaimana kritik Alkitab menjadi dasar untuk menggali firman Allah. Menggunkan kajian teks deskritif kualitatif dengan pendekatan literature pustaka maka dapat disimpulkan bahwa ada dua level penelitian yang kritis terhadap Alkitab, yaitu level Lower Criticism dan Higher Criticism, walau semuanya sama-sama mengunakan filsafat dan rasii dalam meneliti Alkitab. Kelompok ini pada masanya dikenal sebagai pengusung Teologi Liberal. Melalui artikel ini penulis mendeskripsikan penelitian atas sembilan model kritik atas Alkitab yang lebih banyak mendeskreditkan kesakralan dan keagungan Alkitab daripada mengakuinya.
Studi Trend Ibadah Dalam Nyanyian dan Musik Kontemporer di Gereja-gereja Baptis Masa Kini Lumbantobing, Tomson Saut Parulian; Suseno, Aji
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.008 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v4i1.139

Abstract

The decision of several Baptist churches to start using contemporary singing and music in the early 2000s has caused controversy and has become a polemic in the Association of Indonesian Baptist Churches (GGBI). However, the trend of worship using contemporary songs and music is getting more widespread in Indonesian Baptist churches. This is the background of this research, which is to comprehensively investigate the factors behind the widespread trend of worship using contemporary songs and music in Indonesian Baptist churches. Thus, the formulation of the research problem is a study of the factors behind the widespread trend of worship using contemporary songs and music in Indonesian Baptist churches. This type of research is classified as a descriptive qualitative variety with a literature study. Data were obtained from various document sources such as books, magazines, articles, and scientific journals about worship, spiritual songs, and music. The results of the research found that the congregational government system, church planting, seminars and writings on worship and music, Baptist youth worship, and technological developments are factors behind the increasingly widespread trend of worship with contemporary singing and music in Indonesian Baptist churches.AbstrakKeputusan beberapa gereja Baptis yang mulai menggunakan nyanyian dan musik kontemporer di awal tahun 2000an telah menimbulkan kontroversi dan menjadi polemik di Gabungan Gereja-Gereja Baptis Indonesia (GGBI). Meskipun demikian, trend ibadah menggunakan nyanyian dan musik kontemporer justru semakin meluas di gereja-gereja Baptis Indonesia. Hal inlah yang melatarbelakangi dilakukannya riset ini, yaitu hendak menyelidiki secara komprehensif faktor-faktor yang melatarbelakangi semakin meluasnya trend ibadah menggunakan nyanyian dan musik kontemporer di gereja-gereja Baptis Indonesia. Dengan demikian, rumusan masalah riset ini adalah kajian tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi semakin meluasnya trend ibadah menggunakan nyanyian dan musik kontemporer di gereja-gereja Baptis Indonesia. Jenis riset tergolong dalam ragam kualitatif deskriptif dengan studi literatur. Data diperoleh dari berbagai sumber dokumen seperti seperti buku, majalah, artikel dan jurnal-jurnal ilmiah tentang ibadah, nyanyian dan musik rohani. Hasil riset menemukan bahwa sistem pemerintahan kongregasional, perintisan jemaat, seminar dan karya tulisan tentang ibadah dan musik, ibadah kaum muda Baptis, serta perkembangan teknologi merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi semakin meluasnya trend ibadah dengan nyanyian dan musik kontemporer di gereja-gereja Baptis Indonesia.
Pelayanan Khotbah Melalui Radio-Radio Kristen Di Semarang Sugiarto, Dewi Lisiani Kurniawan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.624 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i1.72

Abstract

For some time, researchers have observed that the delivery of Christian radio sermons in Semarang was not as expected. For example, about sermons that are tedious, irrelevant, unclear, monotonous, unappealing, lacking in-depth discussion about less practical applications, and so on. Based on the background of the problem, the purpose of this study is to find out how to evaluate the preparation and after the delivery of sermons on Christian radios in Semarang. To get detailed data, researchers conducted a literature study and tested the statement with Expert Validation (in this case, the one who did it was a Supervising Lecturer), then the researcher then conducted an interview. The research method used is a qualitative method and descriptive. The number of participants in this study consisted of 72 preachers as both fillers and listeners of the program Christian radio stations in Semarang, and 5 Christian radio administrators in Semarang as data completeness. The overall results of the study indicate that the evaluation of the preparation and after the delivery of sermons on Christian radios in Semarang is well categorized. By relying on the Holy Spirit, the network / signal is not interrupted, the receiver and transmitter are good, the preparation and weight of the sermon material, the composition of the sermon in Explanation, Illustration and proportional application, according to the needs of the listener, applicative, and the delivery method are lived, varied, clear, interesting. Thus, the ministry of radio preaching will be able to reach more and more souls and the name of the Lord Jesus Christ is increasingly glorified!Beberapa lama ini peneliti mengamati bahwa pelaksanaan pelayanan khotbah radio-radio Kristen di Semarang kurang sebagaimana diharapkan. Misal, tentang khotbah yang menjemukan, tidak relevan, tidak jelas, monoton, tidak menarik, pembahasan kurang mendalam penerapan yang kurang mengena, dan lain-lain.Berdasar latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana evaluasi persiapan dan setelah penyampaian khotbah di radio-radio Kristen di Semarang. Untuk mendapat data secara rinci, peneliti melakukan Studi Pustaka dan menguji pernyataan dengan Validasi Ahli (dalam  hal ini, yang melakukannya adalah Dosen Pembimbing), baru kemudian peneliti melakukan wawancara Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan deskriptif. Jumlah partisipan penelitian ini terdiri dari 72 orang pengkhotbah sebagai pengisi sekaligus pendengar acara khotbah radio-radio Kristen di Semarang, dan 5 orang pengurus radio-radio Kristen di Semarang sebagai kelengkapan data.Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa evaluasi persiapan maupun setelah penyampaian khotbah di radio-radio Kristen di Semarang dikategorikan baik. Dengan bergantung pada Roh Kudus, jaringan/sinyal tidak terganggu, receiver dan transmitter baik, persiapan dan materi khotbah berbobot, komposisi khotbah dalam Penjelasan, Ilustrasi dan aplikasi proporsional, sesuai kebutuhan pendengar, aplikatif, dan cara penyampaian dihidupi, bervariasi, jelas, menarik. Dengan demikian, pelayanan khotbah radio akan dapat semakin banyak menjangkau jiwa-jiwa dan nama Tuhan Yesus Kristus semakin dimuliakan!
Tinjauan Etis Kristiani Terhadap Buzzer dalam Media Sosial Arifianto, Yonatan Alex; Widodo, Priyantoro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.667 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i1.100

Abstract

The existence of cyber warfare using buzzers is very busy in the world of politics, so the author examines it so that it can be a lesson for believers to have self-integrity in actualizing their lives when using social media. Using descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that Christian ethical studies of buzzers in social media that are increasingly widespread need to be watched out for because they are very detrimental to the nation and state. Therefore, all elements of society can understand the concept of buzzer terms, social media and Christian ethics. So that the scope of the buzzer in social media related to problems can be minimized. The growing role of social media in political contestation also triggers a change from a deviant role from the essence of the meaning of buzzer. For this reason, every individual can interpret that the buzzer in Christian ethics is not justified if it becomes a mouthpiece for crime, especially to divide the nation's children. For this reason, the attitude of believers needs to be considered in using Social media in all Market Places.AbstrakAdanya perang ciber menggunakan buzzer sangat ramai dalam dunia perpolitikan maka penulis mengkaji supaya menjadi pembelajaran bagi orang percaya untuk memiliki integritas diri dalam mengaktualisasikan hidupnya saat bermedia sosial. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka Dapat disimpulkan bahwa kajian etis Kristiani terhadap buzzer dalam media sosial yang semakin marak ini sangat perlu diwaspadai karena hal tersebut sangat merugikan bangsa dan negara. Oleh sebab itu seleuruh elemen lapisan masyarakat dapat memahami konsep dari terminologi istilah buzzer, media sosial dan etis Kristiani. Sehingga adanya ruang lingkup buzzer dalam media sosial berkaitan dengan problematika dapat di minimalisir. Peran bertumbuhnya media sosial aalam kontestasi politik juga memicu perubahan dari peran menyimpang dari esensi makna buzzer. Untuk itu setiap pribadi dapat memaknai bahwa buzzer dalam tinjuan etis Kristiani memang tidak dibenarkan bila hal itu menjadi corong kejahatan gterlebih pemecah belah anak bangsa. Untuk itu selanjutnya adanya sikap orang percaya perlu diperhatikan dalam menggunakan media Sosial di seluruh Market Places.
Deskripsi Dasar Pemberitaan Injil dalam Roma 1:1-5 Chandra, Adi; Angkouw, Semuel Ruddy; Dwikoryanto, Matius I Totok
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.269 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.118

Abstract

Every human being who has been saved must be willing to devote himself and be dedicated to evangelism for people who do not know salvation in Jesus. The existence of a wrong paradigm on the basis of the content of the news then the message conveyed is not right and can also deviate from the essence of the news. Through descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the basic description of the preaching of the gospel in Romans 1:1-5 is an understanding that can bring perspectives in carrying out missions. Because the basis of the gospel can provide enthusiasm in spreading the gospel message. The results of the analysis found that the basis of the preaching of the gospel from the Book of Romans 1: 1 -5 is the first, the gospel is the gospel of God, this is the gospel that comes from the heart and the initiative of God to save people. Second, the Gospel is God's promise that was confirmed in the person of Jesus as the messiah or savior of sinners. Third, the Gospel Is About Jesus, this is based on the core and important purpose of the Gospel is the person of Jesus Christ who is God. The fourth is that the gospel is the message to lead people to eternal salvation.AbstrakSetiap pribadi manusia yang sudah diselamatkan harus mau mengabdikan diri dan berdedikasi melakukan penginjilan bagi orang yang belum mengenal keselamatan dalam Yesus.  Adanya paradigma yang salah terhadap dasar dari isi berita maka pesan yang disampaikan tidak tepat dan bisa juga menyimpang dari esensi berita tersebut. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa deskripsi dasar pemberitaan Injil dalam Roma 1:1-5 adalah pemahaman yang dapat membawa cara pandang dalam melakukan misi. Sebab dasar dari Injil tersebut dapat memberikan  semangat dalam mengabarkan berita Injil. Hasil dari analisis ditemukan bahwa dasar dari pemberitaan injil dari Kitab Roma 1 : 1 -5 adalah yang pertama, Injil adalah Injil Allah ini merupakan Injil yang berasal dari Hati dan Inisiatif Allah untuk menyelamatkan manusia. Yang kedua, Injil Adalah Janji Allah yang ditegaskan pada pribadi Yesus sebagai mesias atau penyelamat manusia berdosa. Ketiga,  Injil Adalah Tentang Yesus, ini mendasarkan bahwa inti dan tujuan penting dari Injil adalah pribadi Yesus Kristus yang adalah Tuhan. Yang keempat adalah Injil merupakan Berita untuk menuntun orang pada keselamatan kekal. 
Gambaran Kepercayaan terhadap Mitos di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang Radja Ga, Oktoson; Manu, Mieke Yen
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.205 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v4i1.125

Abstract

Myth is one of the legacies of past human culture that is still maintained in this increasingly modern era. Myths that are embraced and maintained by a community can sometimes provide value, but it does not rule out the possibility that myths also cause harm. This study aimed to measure the general picture related to the myths that are still believed by the people in Kupang. The method used was a quantitative method through a survey approach with a sample of 50 people. The data analysis technique used was descriptive statistical analysis through the calculation of the ideal mean, ideal standard deviation, and variable frequency distribution. The results of data analysis showed that the belief in myths in the research respondents was in the high category with a mean value of 80.16. The most widely believed type of myth is the environmental myth. The factors that influence respondents to believe in myths are the customary or traditional factors.AbstrakMitos adalah salah satu warisan dari kebudayaan manusia zaman lalu yang masih dipertahankan dalam pacuan zaman yang semakin modern. Mitos yang dianut dan dipertahankan oleh suatu komunitas masyarakat, kadangkala dapat memberikan nilai, namun tidak menutup kemungkinan bahwa mitos juga menimbulkan kerugian. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur gambaran umum terkait mitos yang masih dipercayai oleh masyarakat di kota Kupang. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui pendekatan survei dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisa statistik deskriptif melalui perhitungan rerata ideal, standar deviasi ideal dan distribusi frekuensi variabel. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap mitos pada responden penelitian berada pada kategori tinggi dengan nilai mean sebesar 80,16. Jenis mitos yang paling banyak dipercaya adalah mitos lingkungan. Adapun faktor yang mempengaruhi responden mempercayai mitos adalah faktor adat atau tradisi.
Yoga dan Meditasi Transcendental Ditinjau Dari Teologi Kristen Setiawan, Roby; Objantoro, Enggar
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 1, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.035 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v1i2.52

Abstract

Today, the world is in Postmodernism and Globalization Era, in which they have big impact, both positively and negatively for the human civilization. Now, people can communicate each other easily and quickly, even though they are in different places.  There are many religion and beliefs in the world, that they influence each other.  One of the teaching that it is very influence for other people is about Yoga and Transcendental Meditation (TM), some Christians is influenced by it.  It is very important to criticize the teaching in the Christian theology perspectives.  Because of that, this article analyze the teaching based on Biblical Christian Theology. This article use qualitative methodology, and using the literature research.  The bible is the guidance for analyzing the teaching.  Based on the Christian theology, yoga and transcendental meditation is irrelevant with the biblical truths, because the teaching is more focus on the human effort to reach the happiness spiritually, whereas Christian theology believe that God is only source of the happiness bodily and spiritually for human being in the world. Kemajuan teknologi dan informasi pada Era Postmodernisasi dan Globalisasi berdampak sangat besar dalam peradaban dunia dewasa ini.  Banyak dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya. Manusia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan manusia lainnya sekalipun mereka dipisahkan oleh jarak yang jauh, sehingga manusia saling mempengaruhi dengan mudah, murah dan cepat.  Banyak agama di dunia ini, yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain.  Salah satu pengaruh ajaran yang mempengaruhi banyak orang dewasa ini, termasuk orang-orang Kristen di banyak negara - adalah yoga dan meditasi transcendental. Sebab itu, ajaran ini perlu dikritisi oleh berdasarkan iman Kristen yang Alkitabiah. Untuk membahas topik tersebut, metode yang dipakai dalam artikel ini adalah dengan menganalisis ajaran tersebut berdasarkan teologi Kristen yang didasarkan pada kebenaran Alkitab.  Berdasarkan teologi Kristen, ajaran/praktik yoga dan meditasi transcendental tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, sebab ajaran tersebut lebih menekankan kepada usaha manusia dari dalam dirinya untuk mendapat kebahagiaan secara batiniah, tidak didasarkan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan manusia secara lahiriah dan batiniah.
Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia Purba, Jhon Leonardo Presley; Saptorini, Sari
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.028 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v2i2.91

Abstract

Paul was the most successful and greatest missionary in the history of Christianity, his evangelistic ministry covered a wide area, so Paul met various multicultural community groups in the first century. This study aims to study the methods of the apostle Paul's evangelism in the perspective of 1 Corinthians 9: 19-23 on the multicultural society of the first century and its implications for contemporary evangelism in Indonesia. This research is a qualitative descriptive study with a hermeneutic and literature study approach. Through this research, the writer tries to answer research problems by looking for literature sources that are correlated and relevant to the research problem. Thematic and exegetical approaches are used to describe the theological-historical foundation of the Apostle Paul's method of evangelism in the perspective of 1 Corinthians 9: 19-2, then describe the implications for contemporary evangelism in Indonesia. The result of this research is that the contextual evangelism method "be the same as" Paul used in the multicultural society of the first century is very relevant to be applied in evangelism today in Indonesia. Indonesia is a multicultural country, so a cross-cultural contextual evangelism approach is very appropriate to do to reach Unreached People Groups, which are still widely available in Indonesia. This needs to be done in order to carry out the Great Commission of the Lord Jesus in Matthew 28: 18-20, so that all ethnic groups hear the gospel of salvation and become disciples of the Lord Jesus Christ.AbstractPaulus merupakan misionaris tersukses dan terbesar dalam sejarah Kekristenan, pelayanan penginjilannya meliputi wilayah yang luas, sehingga Paulus bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat multikultural abad pertama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian metode penginjilan rasul Paulus dalam perspektif 1 Korintus 9:19-23 terhadap masyarakat multikultural abad pertama dan implikasinya terhadap penginjilan masa kini di Indonesia. Penelitian ini merupakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literature dan hermeneutik. Melalui penelitian ini penulis berusaha menjawab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dan relevan dengan masalah penelitian. Pendekatan tematis dan eksegesis digunakan untuk mendeskripsikan landasan teologis-historis metode penginjilan Rasul Paulus dalam perspektif 1 Korintus 9:19-2, selanjutnya mendeskripsikan implikasinya terhadap penginjilan masa kini di Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa metode penginjilan kontekstual “menjadi sama seperti” yang digunakan Paulus pada masyarakat multikultural abad pertama sangat relevan untuk diterapkan dalam penginjilan pada masa kini di Indonesia. Indonesia merupakan negara multikultural, sehingga pendekatan penginjilan kontekstual lintas budaya sangat tepat dilakukan untuk menjangkau Unreached People Group yang masih banyak terdapat di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:18-20, agar semua suku bangsa (etnis) mendengar Injil keselamatan dan menjadi murid Tuhan Yesus Kristus.
Kepemimpinan Gereja yang Efektif Di Era Society 5.0 Parulian S, Panca; Sukamto, Amos; Pribadi, Liviana
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.898 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v3i2.128

Abstract

Churches always exist in a particular context and always choose to respond to the development of culture or civilization, including Society 5.0. Society 5.0, based on technology, provides the concept of a human-centered society and the integration between the virtual world and the real world, which is often expressed by the term super-smart society. Is the church ready for this civilization? To answer that question, we need a big picture of the leadership that exists in the church. By using eight dimensions of culture and leadership from the Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness, this article seeks to create a picture of the leadership culture in the church based on the congregation's perspective, to be taken into consideration for leadership in the church in the Society 5.0 era. The researcher uses the basic survey method to describe church leadership. The results of the church's descriptive analysis tend to future orientation, performance orientation, assertiveness, human orientation, and collectivism. However, the church needs to pay special attention to the cultural dimension of uncertainty avoidance that tends to hinder the flexibility of church leaders.AbstrakGereja yang selalu hadir dalam konteks tertentu, selalu memiliki pilihan untuk merespons perkembangan budaya atau peradaban, termasuk Society 5.0. Society 5.0 dengan basis pemanfaatan teknologi memberikan konsep human-centered society dan integrasi antara dunia maya dan dunia nyata, yang sering diungkapkan dengan istilah super smart society. Apakah gereja siap dengan peradaban ini? Untuk menjawab pertanyaan  itu, diperlukan gambaran besar mengenai kepemimpinan yang ada di dalam gereja. Dengan menggunakan delapan dimensi budaya dan kepemimpinan dari Global Leadership and Organization Behaviour Effectivness artikel ini berupaya membuat gambaran budaya kepemimpinan yang ada di dalam gereja berdasarkan perspektif jemaat, untuk dijadikan bahan pertimbangan kepemimpinan dalam gereja di era Society 5.0. Peneliti menggunakan metode survei dasar dengan tujuan untuk menggambarkan kepemimpinan gereja. Hasil analisis deskriptif gereja memiliki kecenderungan pada future orientation, performance orientation, assertiveness, human orieentation, dan kolektivisme. Namun, gereja perlu memiliki perhatian khusus pada dimensi budaya uncertainty avoidance yang cenderung dapat menghambat fleksibilitas pemimpin gereja.
Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Kristen Kelas Iv Tema “Hidup Bersyukur” Melalui Metode Pemberian Tugas Di Sekolah Dasar Negeri Beriwit 3 Menie, Eris
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.651 KB) | DOI: 10.59177/veritas.v4i1.143

Abstract

Every teacher always strives so that every student can achieve mastery learning according to the predetermined Minimum Completeness Criteria (KKM). However, the reality shows that the learning outcomes of grade IV students in semester 1 4th grade students in the 1st semester of SD Negeri Beriwit 3 on the subject of Christian Religious Education with the theme “Life of Gratitude” through the Giving Method. In this material, out of 17 students who scored 70 and above (KKM 70) only 3 students /43%. The researcher observed that some students often told their own stories with their classmates when the teacher explained or delivered the subject matter. While some of the other students were silent and seemed not to be involved in the learning process. Only a small number of students seem to pay attention to the teacher's explanations. Assignment Assignment Method The assignment method is one of the choices of a teacher's teaching method, where the teacher gives a number of test items to students to work on outside of class hours. This assignment is usually carried out at every teaching and learning activity in class, at the end of each meeting or at the end of class meetings. This method is an alternative to further refine the delivery of specific learning objectives. This is due to the density of subject matter that must be delivered while learning time is very limited in class. The results showed that the assignment method could improve student learning outcomes from low in the initial condition to quite high in cycle 2. It increased the learning outcomes of fourth grade students at SD Negeri Beriwit 3 from the initial condition with an average score of 71 to 90 in cycle 2.AbstrakSetiap guru selalu berupaya agar setiap siswa dapat mencapai ketuntasan belajar sesuai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas IV semester 1 SD Negeri Beriwit 3 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen Tema “Hidup Bersyukur” Melalui Metode Pemberian. Pada materi tersebut dari 7 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas (KKM 70) hanya 3 siswa /43%. Peneliti mengamati, sebagian siswa sering bercerita sendiri dengan teman sebangku pada saat guru menerangkan atau menyampaikan materi pelajaran. Sementara sebagian siswa yang lain hanya diam dan seolah-olah tidak terlibat dalam proses pembelajaran. Hanya sebagian kecil dari siswa yang tampak memperhatikan penjelasan-penjelasan guru. Metode Pemberian Tugas Metode pemberian tugas merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian tugas ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.Metode ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, metode pemberian Tugas dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rendah pada kondisi awal menjadi cukup tinggi pada siklus 2. meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Beriwit 3 dari kondisi awal dengan nilai rata-rata 71 menjadi 90 pada siklus 2.

Page 6 of 16 | Total Record : 160