cover
Contact Name
Donna Sampaleng
Contact Email
donna@gmail.com
Phone
+628129929141
Journal Mail Official
donna@gmail.com
Editorial Address
Jl. Rempoa Permai No. 2 Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12330
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 25022156     EISSN : 27160556     DOI : 10.52220
Core Subject : Religion, Education,
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan isu-isu Teologi dan Kepemimpinan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta. Focus dan Scope penelitian MAGNUM OPUS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Kepemimpinan Kristen MAGNUM OPUS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Articles 25 Documents
Peranan Gereja Mengatasi Kekerasan yang Dialami Remaja dalam Keluarga Harefa, Mangali
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.238 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i2.50

Abstract

Violence is often experienced by adolescents, both in physical form where adolescents experience abusive treatment or in the form of verbal and psychological violence, where adolescents are often scolded with swear words and insults. Psychological violence experienced by adolescents is often threatened, always regulated and ordered by perpetrators. In addition, adolescents also experience violence in the form of financial violence, where adolescents get restrictions and controls on financial matters that are not appropriate. Crisis counseling is one way to deal with family violence experienced by adolescents. The crisis intervention method is a method to help individuals cope with negative and destructive emotional responses due to events that cause a crisis. One implementation of the crisis intervention method is the ABC method; (A) Achieve contact with the person (achieving a relationship with the person); (B) Boiling down the problem to its essential (focusing the problem on its part); (C) Cope actively with the problem (overcome the problem actively). AbstrakKekerasan sering dialami oleh remaja, baik dalam bentuk fisik di mana remaja mengalami perlakuan kasar, atau dalam bentuk kekerasan verbal dan psikologis, di mana remaja sering dimarahi dengan kata-kata makian dan hinaan. Kekerasan psikologis yang dialami remaja adalah seringnya mendapatkan ancaman, selalu diatur dan diperintah oleh pelaku. Selain itu, remaja juga mengalami kekerasan dalam bentuk kekerasan finansial, di mana remaja mendapatkan pembatasan dan pengontrolan dalam hal keuangan dengan tidak yang semestinya. Konseling krisis merupakan salah satu cara dalam mengatasi kekerasan dalam keluarga yang dialami oleh remaja. Metode Intervensi krisis merupakan sebuah metode untuk menolong individu mengatasi respons emosionalnya yang negatif dan yang merusak karena peristiwa yang menimbulkan krisis. Salah satu implementasi metode intervensi krisis adalah metode ABC; (A) Achieve contact with person (mencapai hubungan dengan pribadi); (B) Boiling down the problem to its essential (memfokuskan masalah pada bagiannya); (C) Cope actively with the problem (menanggulangi masalah secara aktif).
Pandangan Jhon Chrysostom tentang kualifikasi Seorang Imam: Refleksi Komparatif Buku The Priesthood dan 1 Timotius 3:1-7 Halawa, Desti Ratna Sari
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.475 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.65

Abstract

Being a priest or pastor suddenly who only studied the Bible for 3 months is an issue that is considered a problem in the church environment. Priests play a role in guiding the congregation to gain salvation, know God and have a soul that is increasingly purified from day a day. In carrying out this role there are conditions that must be possessed so that in his ministry, he becomes a priest who succeeds in shepherding the souls entrusted by God. For this reason, this study aims to provide an overview of the qualifications of a priest in the book The Priesthood and in 1 Timothy 3: 1-7. Through a literary analysis of The Priesthood and 1 Timothy 3: 1-7 the writer will explore the requirements for becoming a priest. The data collected will help the priests to be more serious in their ministry. According to Chrysostom the priest should not be a chaplain of the priestly office, have a clear mind, not be seduced by worldly desires, not be angry, not a person who loves praise. Meanwhile, according to the apostle Paul, the priest must be able to accept the responsibility of shepherding the church, have self-control, capable of teaching, be recognized as dignified in the family, well known in the community. The two opinions of this figure mutually support the success of a priest in pure service to the congregation. The result is that the priest fulfills the requirements to become a priest, so the priest can successfully serve the souls of the congregation that God has entrusted to him. AbstrakMenjadi imam atau pendeta secara tiba – tiba, yang hanya belajar Alkitab 3 bulan, merupakan isu yang dianggap sebagai persoalan dalam lingkungan gereja. Imam berperan dalam membimbing jemaat untuk memperoleh keselamatan, mengenal Allah dan memiliki jiwa yang semakin dimurnikan dari hari lepas hari. Dalam menjalankan peran ini ada syarat yang harus dimiliki sehingga dalam pelayanannya, ia menjadi seorang imam yang berhasil menggembalakan jiwa- jiwa yang dipercayakan Tuhan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kualifikasi seorang imam dalam buku The Priesthood dan dalam surat 1 Timotius 3: 1-7. Melalui analisis pustaka Buku The Priesthood dan surat 1 Timotius 3: 1- 7 penulis akan mengexplorasi syarat-syarat menjadi imam. Data- data yang dikumpulkan akan menolong para imam untuk semakin serius dalam pelayanannya. Menurut Chrysostom imam harus bukan seorang pengejar jabatan keimaman, memiliki pikiran yang jernih, tidak tergoda dengan keinginan duniawi, bukan pemarah, bukan orang yang cinta akan pujian. Sedangkan menurut rasul Paulus imam itu harus Jiwanya sanggup menerima tanggung jawab penggembalaan jemaat, mengontrol diri, cakap mengajar, dikenal berwibawa dalam keluarga, dikenal baik di tengah masyarakat. Kedua pendapat tokoh ini saling mendukung keberhasilan seorang imam dalam pelayanan yang murni kepada jemaat. Hasilnya, memenuhi syarat menjadi imam adalah panduan seorang imam untuk mencapai keberhasilan melayani jiwa–jiwa atau jemaat yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Menerapkan Prinsip 2 Timotius 1:7 dalam Pelayanan Penginjilan Prabowo, Wisnu
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.534 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.31

Abstract

As God's creation, humans are given spirits by God; the spirit has various functions and uses in life. In 2 Timothy 1: 7 it is written about the spirit of fear, a spirit that awakens strength, love and order. This article examines the meaning of "the spirit of fear, the spirit that awakens strength, love and order" in 2 Timothy 1: 7. This study is a qualitative study using descriptive methods of literature and text analysis. The results obtained are: First, God never gave a spirit that made the servants of God afraid in preaching the Gospel, but God gave a spirit that was able to have strength, love and self-control. So that, despite pressure and obstacles, God's servant is still able to carry out and finish his ministry in preaching the gospel. Abstract Sebagai ciptaan Allah, manusia diberikan roh oleh Allah; roh tersebut mempunyai berbagai fungsi dan juga kegunaan di dalam kehidupan. Di dalam 2 Timotius 1:7 tertulis tentang roh ketakutan, roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Artikel ini mengkaji arti dari ungkapn “roh ketakutan, roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” dalam 2 Timotius 1:7 tersebut. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif literatur dan analisis teks. Hasil yang diperoleh adalah: Pertama, Tuhan tidak pernah memberikan roh yang menjadikan para pelayan Tuhan takut di dalam memberitakan Injil, namun Tuhan memberikan roh yang memampukan untuk mempunyai kekuatan, kasih dan penguasaan diri. Sehingga, walaupun mendapatkan tekanan dan hambatan, pelayan Tuhan tetap mampu melaksanakan dan menyelesaiakan pelayanannya dalam memberitakan Injil.
Hospitalitas sebagai Virtue Kepemimpinan Gereja Siahaan, Harls Evan R.; Runtunuwu, Alfinny Jelie
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/magnum.v2i2.94

Abstract

Teologi hospitalitas mengajarkan bagaimana orang Kristen dapat mengasihi sesama dalam perbedaan. Kepemimpinan Kristiani sejatinya dapat mengakomodir keberagaman, tidak malah memelihara sikap diskriminatif. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang berbasis pada penggunaan literatur dengan metode deskriptif dan analisis tematik. Hasil kajian menunjukkan sikap hospitalitas mereduksi sikap-sikap diskriminatif. Kesimpulannya, kepemimpinan gereja harus memiliki virtue hospitalitas.
Implikasi Nilai Manusia dalam Praksis Kepemimpinan Menurut Kejadian 1:26-27 Perangin Angin, Yakub Hendrawan; Yeniretnowati, Tri Astuti; Arifianto, Yonatan Alex
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.179 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.72

Abstract

The implementation of human values in leadership praxis based on the Book of Genesis 1: 26-27 is raised because of various phenomena that have occurred in which many people are treated inhumanely. The analysis was carried out by means of a literature review, by analyzing the leadership practices that occur both in general and Christian circles. The main sources of analysis are several relevant sources, including research results contained in journals and books. All of these sources were analyzed by looking at the relationship and compatibility with the title of this paper. So it can be concluded that his leadership can describe how the leader's view of humans, "whole" or partial. In another sense, whether leaders treat humans only as limited as "resources" or not, of course, will appear in the way leaders treat "anyone" around the scope of their leadership. Whether to behave and act exploitatively or not, of course, depends on the way the leadership treats "anyone" around the sphere of leadership. In the sphere of the church, the pastor as a leader in leading the church organizationally and at the same time as an organism, the people who are in the leadership line develop their understanding of it does not necessarily lie in the way they perceive humans. Our Lord Jesus, the Great Leader, has provided an extraordinary example where He who is the Lord and Savior of mankind is willing to sacrifice his life, give His life and wash the feet of His followers. This is perfect leadership, thank God that humans have a Leader profile who becomes a role model.AbstrakImplementasi nilai manusia dalam praksis kepemimpinan berdasarkan Kejadian 1:26-27 diangkat karena berbagai fenomena yang telah terjadi dimana manuasia banyak diperlakukan dengan tidak manusiawi. Analisis dilakukan dengan tinjauan pustaka, dengan menganalisis terkait prakis kepemimpinan yang terjadi baik di lingkungan umum maupun kekristenan. Adapun sumber utama dari analisis adalah beberapa sumber yang relevan, meliputi hasil penelitian yang terdapat pada jurnal dan buku. Semua sumber ini dianalisis dengan cara mencermati hubungan dan kecocokan dengan judul penulisan ini. Sehingga didapatkan kesimpulan bahwa kepemimpinannya dapat menggambarkan bagaimana  pandangan pemimpin terhadap manusia, ”utuh” atau parsial. Dengan pengertian lain, apakah pemimpin memperlakukan manusia hanya sebatas ”resources” atau tidak, tentu akan nampak dalam cara pemimpin memperlakukan ”siapa saja” disekitar lingkup kepemimpinanya. Apakah akan bersikap dan bertindak eksploitatif atau tidak, sama tentunya bergantung pada cara pemimpinan memperlakukan ”siapa saja” disekitar lingkup kepemimpinannya. Di lingkup gereja, gembala sebagai pemimpin dalam memimpin gereja secara organisatoris dan sekaligus sebagai organisme, orang-orang yang ada di lini kepemimpinan berkembang pemahamannya ataukah tidak tentunya terletak pada cara pandangnya terhadap manusia. Tuhan Yesus Sang Pemimpin Agung kita sudah memberikan keteladanan yang luar biasa dimana Ia yang adalah Tuhan dan Juru Selamat umat manusia rela untuk mengorbankan nyawanya, memberi hidup-Nya dan membasuh kaki pengikut-Nya inilah kepemimpinan yang sempurna, syukur bahwa manusia memiliki profil Pemimpin yang menjadi panutan.
Implikasi Teologis Berita Pertobatan Yoel dalam Yoel 2:12-17 Mau, Marthen
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.948 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i2.48

Abstract

The prophet Joel preached the message of repentance to the people of Judah and Jerusalem in his time so that they would turn to God. God's servants today must continue to preach repentance to the people they serve. The purpose of writing this article is to describe the news of repentance by Joel and its implications for the preaching of God's servants today. This research uses a qualitative approach with descriptive text analysis method in Joel 2: 12-17. In conclusion, God's servants today, in their ministry must always deliver news of repentance. Abstrak Nabi Yoel telah memberitakan tentang berita pertobatan kepada umat Yehuda dan Yerusalem pada masanya agar mereka berpaling kepada Tuhan. Hamba Tuhan pada masa sekarang harus terus memberitakan pertobatan kepada umat yang dilayani. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan berita pertobatan yang dilakukan Yoel dan implikasinya bagi pemberitaan hamba Tuhan di masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif teks pada Yoel 2:12-17. Kesimpulannya, hamba Tuhan pada masa sekarang, dalam pelayanannya harus senantiasa menyampaikan berita pertobatan.
Repudiasi terhadap Anak Ditinjau dari Kitab Hakim-Hakim 11:1-11 Pakpahan, Dedek Pranto
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.44 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v1i1.32

Abstract

Repudiation of children is done with various arguments that can be accepted logically, but on the other hand it is conveyed about children who experience it. Repudiation that occurs to children is sometimes done intentionally and unintentionally by parents in various forms, including through additions in composition, abortion, mental and physical conversations and so on. Based on the book of Judges 11: 1-11, review the case approved by Jephthah. Rejection of Jephthah was carried out because of the selfish nature possessed by his brothers. Hoping that his brothers would not want Jephthah to have the inheritance of his parents. Jephthah received rejection from home. This article provides a correct understanding, how to deal with and the effects of Repudiation. Abstract Repudiasi (penolakan) terhadap anak dilakukan dengan berbagai argumentasi yang dapat diterima secara logis namun disisi lain hal tersebut membawa dampak buruk bagi anak-anak yang mengalaminya. Repudiasi yang terjadi terhadap anak kadangkala dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja oleh orang tua dalam berbagai macam bentuk, antara lain melalui penolakan dalam kandungan, aborsi, penolakan akibat cacat mental dan fisik dan lain sebagainya. Berdasarkan kitab Hakim-hakim 11:1-11, menggambarkan sebuah kasus penolakan yang dialami oleh Yefta. Penolakan terhadap Yefta dilakukan karena adanya sifat keegoisan yang dimiliki oleh saudara-saudaranya. Artinya saudara-saudaranya tidak menghendaki Yefta memiliki harta pusaka orang tuanya. Persoalan warisan inilah yang mengakibatkan Yefta mendapatkan penolakan dari keluarganya. Artikel ini bermaksud memberikan pemahaman yang benar, cara penanggulanganya serta dampak yang ditimbulkan dari tindakan repudiasi
Partisipasi Gereja Mengantisipasi Bencana Alam dengan Kolaborasi Pentaheliks melalui Pemaksimalan Program Mitigasi dalam Masyarakat Barutu, Parsaoran; Sembiring, Niken Karina; Hutagalung, Stimson; Ferinia, Rolyana
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.902 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v3i1.131

Abstract

Natural disasters are events that often occur in Indonesia due to the condition and location of the Indonesian state in a position that is prone to natural disasters. Along with the occurrence of natural disasters, many casualties were caused by the community's unpreparedness to deal with them. The community needs to change the concept of natural disasters, that readiness to face them is not when a disaster occurs but before a natural disaster occurs. This research intends for the church to play an active role as part of the Penta helix to collaborate with the government in charge of dealing with natural disasters by helping the government in reducing and suppressing casualties through natural disaster mitigation which is conveyed to the church members. The research method used is a qualitative method with secondary sources through collecting the necessary data and information by digging from sources through reference books and scientific journal articles. The results of this study indicate that the Church as a religious institution plays an important role in facilitating its congregation to provide disaster mitigation education to reduce casualties and material losses. AbstractBencana alam adalah peristiwa yang sering terjadi di negara Indonesia oleh sebab kondisi dan letak negara Indonesia berada di posisi yang rawan bencana alam. Seiring terjadinya bencana alam, banyak korban jiwa dikarenakan tidak siap siaganya masyarakat menghadapinya. Masya-rakat perlu merubah konsep terhadap bencana alam, bahwa kesiapan menghadapinya bukan disaat terjadinya bencana namun sebelum terjadinya bencana sudah melengkapi dirinya dengan pengetahuan akan bencana alam. Penelitian ini bermaksud agar gereja berperan aktif sebagai bagian dari pentaheliks untuk berkolaborasi dengan pemerintah yang berwewenang mengatasi bencana alam dengan maksud menolong pemerintah dalam mengurangi dan menekan korban jiwa lewat mitigasi bencana alam yang disampaikan kepada warga Gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan sumber sekunder melalui pengumpul data-data dan informasi yang diperlukan dengan cara menggali dari sumber melalui buku-buku referensi dan artikel-artikel jurnal ilmiah. Hasil penelitian ini menujukan bahwa Gereja sebagai Lembaga agama sangat berperan penting dalam memfasilitasi jemaatnya untuk memberikan edukasi mitigasi bencana sehingga mengurangi korban jiwa dan kerugian material. 
Gereja dalam Keragaman dan Keharmonisan: Studi Sosioteologis Merawat Kerukunan Hidup Beragama Walean, Jefrie
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/magnum.v2i2.83

Abstract

Artikel ini mengkaji hubungan antarumat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian dan saling menghormati dalam pengamalan ajaran agama serta kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Kerukunan umat beragama itu ditentukan oleh dua faktor yaitu prilaku umat beragama dan kebijakan negara/pemerintah yang kondusif bagi kerukunan. Semua agama mengajarkan kerukunan beragama sehingga berfungsi sebagai faktor integratif. Penelitian ini bertujuan menampilkan potret sosiologis masyarakat Indonesia dalam menjalan kegiatan keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mengumpulan data-data melalui studi pustaka. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa relasi antar pemeluk agama di Indonesia selama ini sangat harmonis namun di era reformasi yang notabene mendukung kebebasan muncul berbagai ekspresi kebebasan dalam bentuk pikiran, ideologi politik, faham keagamaan, maupun dalam ekspresi hak-hak asasi. Urgensi terbukanya ruang dialog publik pemerintah dan tokoh lintas agama adalah keniscayaan untuk merawat kerukunan hidup antar umat beragama. Konflik yang terjadi antar-umat beragama tidak murni disebabkan oleh faktor agama, tetapi oleh faktor politik, ekonomi atau lainnya yang kemudian dikaitkan dengan agama. Simpulan dari penelitian ini adalah keragaman budaya, bahasa tidak menghalangi partisipasi gereja untuk mewujudkan masyarakat madani yang konsisten menjalankan prinsip demokratis serta menghargai kemajemukan (pluralitas) masyarakat
Konsistensi Konsep Keselamatan adalah Anugerah dalam Masa Intertestamental Putri, Agustin Soewitomo
MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 2, No 1: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.801 KB) | DOI: 10.52220/magnum.v2i1.69

Abstract

The period between the Old Testament and the New Testament is often referred to as the intertestamental period which is approximately 400 years apart, during which time no prophet appears to be the successor of God's voice. Ended by the prophet Malachi and the book of Chronicles the Bible does not give any record. This certainly raises so many questions as to what happened in that dark age, whether God really did not do anything among God's people, especially the Israelites, while at that time the Israelites had repeatedly experienced good colonization from Persian, Greek or Roman. By using descriptive methods and historical analysis, this discussion will provide an insight into God's faithfulness to His covenant to the people, and how the concept of salvation has not changed even though in the 400 years that God did not speak to His people. Understanding the consistency of the concept of salvation is a gift in intertestamental times will open a new understanding of the power of God in keeping the covenants and His Word.AbstractMasa antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru seringkali disebut dengan masa intertesta-men yang berjarak lebih kurang 400 tahun, di mana sepanjang masa tersebut tidak ada nabi yang muncul menjadi penerus suara dari Tuhan. Diakhiri oleh Nabi Maleakhi dan kitab Tawarikh maka Alkitab tidak memberikan catatan apa pun. Hal tersebut tentu memunculkan begitu banyak pertanyaan dengan apa yang terjadi dalam masa kegelapan tersebut, apakah memang Allah betul-betul tidak berbuat sesuatu apapun di tengah-tengah umat Tuhan, khususnya bangsa Israel, sementara pada masa tersebut bangsa Israel berkali-kali mengalami penjajahan baik dari Persia, Yunani ataupun Romawi. Dengan menggunakan metode deskriptif dan analisis historis, pemba-hasan ini akan memberikan pandangan tentang kesetiaan Allah dengan perjanjianNya kepada umat, serta bagaimana konsep keselamatan itu tidak mengalami pergeseran sekalipun dalam keadaan 400 tahun Tuhan tidak berbicara kepada umatNya. Memahami konsistensi konsep keselamatan adalah anugerah dalam masa intertestamental akan membukakan pemahaman baru tentang kekuatan Allah dalam memelihara perjanjian dan FirmanNya.

Page 2 of 3 | Total Record : 25