cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis Chair Rani; Dedi Soedharma; Ridwan Affandi; , Suharsono
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.031 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi telur menurut tingkat perkembangannya, rataan jumlah telur per polip dan proporsi polip yang reproduktif pada berbagai bagian cabang karang A. nobilis. Sebanyak 10 koloni A. nobilis yang berdiameter > 15 cm diambil contohnya secara acak di bagian barat laut perairan terumbu karang Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Makassar pada tanggal 27 Januari 2002 (satu hari sebelum bulan purnama). Polip dari tiga bagian cabang (apikal, tengah dan basal) diperiksa jumlah telur yang dikandungnya secara histologis. Terdapat interaksi antara pertumbuhan dan reproduksi terhadap alokasi sumber daya pada berbagai bagian koloni karang. Alokasi sumber daya terhadap fungsi biologi tertentu akan mengorbankan fungsi biologi lainnya. Pertumbuhan karang yang terlokalisasi pada bagian tertentu suatu koloni karang berhubungan dengan rendahnya aktivitas reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p < 0.001) distribusi telur menurut tingkat perkembangannya pada berbagai bagian cabang karang. Bagian tengah cabang memiliki proporsi polip karang yang berkaitan dengan lokasi energi untuk pertumbuhan yang lebih reproduktif (100%) dengan kandungan rataan jumlah telur yang lebih tinggi (5.22 butir/potongan polip) dibanding bagian apikal dan basal cabang.Kata kunci: Distribusi, telur, cabang karang, Acropora nobilis
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Gelondongan Ikan Kancra (Labeobarbus douronensis) pada Padat Tebar yang Berbeda Sri Redjeki; Ateng Supriatna
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.714 KB)

Abstract

Penelitian pertumbuhan dan kelangsungan hidup gelondongan ikan kancra bodas (Labeobarbus douronensis) pada padat tebar yang berbeda bertujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan yang optimal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan wadah transparan volume 150 l. Hewan uji berasal dari benih alam dengan ukuran rata rata 5.2 cm (TL) dan 1.57 g/ind (BW). Sebagai perlakuan, empat tingkat kepadatan dengan 3 kali ulangan masing masing 10 (A), 20 (B), 30 (C) dan 40 (D) ind/tangki. Masing-masing perlakuan diberikan pakan alami (Moina sp, Daphnia sp, larva nyamuk, cyclop dan cacing) dan pakan buatan (pelet) setiap hari secara adlibitum. Untuk mengetahui pola pertumbuhan (panjang dan berat) dan kelangsungan hidup, dilakukan pengamatan setiap 2 minggu sekali. Pada akhir penelitian didapatkan pola pertumbuhan sebesar 11.47 ± 0.68 cm (TL) dan 15.17 g/ind (BW) (A), 10.33 ± 0.58 cm (TL) dan 11.68 g/ind (BW) (B), 9.54 ± 0.87 cm (TL)  dan 7.86 g/ind (BW) (C), 8.67 ± 1.05 cm (TL) dan 6.17 g/ind  (BW) (D). Sedangkan kelangsungan hidup masing-masing sebesar 80% (A), 70% (B), 33.3 % (C) dan 65.5 % (D). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tingkat kepadatan yang berbeda berpengaruh terhadap pola pertumbuhan dan kelangsungan hidup (p
Resistensi Terhadap Stres dan Respons Imunitas Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy, Lac.) Yang Diberi Pakan Mengandung Kromium-Ragi Sri Hastuti; Ing Mokoginta; Darnas Dana; Toha Sutardi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.819 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kromium optimum yang dapat meningkatkan resistensi terhadap stres dan mengkaji peran kromium dalam meningkatkan respons imunitas ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.). Empat macam ransum isoprotein dan isokalori dengan kandungan kromium Cr+3-ragi sebesar 0.0 ppm (pakan A), 1.5 ppm (pakan B), 3.0 ppm (pakan C) dan 4.5 ppm (pakan D) diberikan pada ikan contoh dengan bobot 25±2.18 g selama 40 hari. Pada akhir pemeliharaan, ikan diberi perlakuan stres suhu dingin ? -9ºC selama 5 menit untuk mengetahui resistensinya terhadap stres. Contoh darah diambil pada jam ke 0, 0.6, 2, 3, 4, 5, 7, 9, dan 18 pasca stres. Kadar glukosa darah meningkat dan mencapai nilai puncak 100.00, 58.31, 58.86 and 88.43 mg/dl masing-masing untuk perlakuan A, B, C dan D. Kadar kortisol plasma darah pada perlakuan A, B, C dan D masing- masing adalah 53.22, 20.65, 31.67, 40.57 μg/dl. Ikan sisa sebanyak 20 ekor, diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophyla 0.1 ml dengan kepadatan 106 cfu/ml, dipelihara selama 14 hari  untuk mengetahui respons imunitasnya. Perubahan total  leukocyte dan total immunoglobuline pada perlakuan B masing- masing mencapai 272% dan 10.11 μg/dl, sedangkan nilai  hematocrite pada sebelum dan sesudah infeksi adalah 51.87 dan 44.77% dengan jumlah erytrosite mencapai 399 500 dan 239 500 sel/ mm3. Perlakuan B disarankan dapat digunakan untuk menghasilkan ikan yang paling resisten terhadap stres dan yang dapat meningkatkan respons imunitasnya.Kata kunci: Kromium, glukosa darah, stres, imunitas, ikan gurami.
Pendayagunaan Rotifera yang Diberi Pakan Alami Berbagai Jenis Mikroalgae Fifi Widjaja
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.729 KB)

Abstract

Penelitian skala laboratorium dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan pertumbuhan optimum Brachionus sp. yang diberi pakan alami mikroalgae monospesies Nannochloropsis sp., Dunaliella sp., Isochsysis sp., dan Pavlova sp., dan multispesies (campuran dari keempat jenis mikroalgae). Penggunaan berbagai jenis mikroalgae yang mengandung nutrisi yang berbeda dimaksudkan agar rotifera yang dikultur memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Mikroalgae memiliki kepadatan maksimum yang berbeda selama kultur. Nannochloropsis memiliki kepadatan populasi yang lebih tinggi diantara mikroalgae lainnya dalam waktu yang hampir sama. Pertumbuhan rotifera (404 ind/ml) tertinggi dicapai oleh pemberian Nannochloropsis sp., diikuti berturut-turut mikroalgae multijenis (212 ind/ml), Isochrysis sp. (160 ind/ml), Pavlova sp. (138 ind/ml), Dunaliella (127 ind/ml). Kultur Brachionus sp. menggunakan Nannochloropsis sp., memberikan hasil yang terbaik yaitu memiliki laju pertumbuhan yang paling tinggi dalam waktu yang relatif cepat. Kualitas air selama kultur turut mendukung pertumbuhan yang optimum bagi rotifera.Kata kunci: rotifera, mikroalgae, monospesies, multispesies.
Studi Dinamika Ekosistem Perairan Di Teluk Lampung: Pemodelan Gabungan Hidrodinamika-Ekosistem Alan Frendy Koropitan; Safwan Hadi; Ivonne M. Radjawane; Ario Damar
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.003 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika ekosistem perairan di Teluk Lampung dengan menggunakan gabungan model hidrodinamika-ekosistem dengan pendekatan numerik. Secara umum, hasil simulasi pola arus residu M2 cenderung masuk dari mulut teluk sebelah barat, sebagian terus memasuki sampai kepala teluk dan sebagian keluar kembali dari mulut teluk bagian timur. Selain itu, terlihat pula adanya suatu eddy yang mengalir berlawanan arah jarum jam di sekitar kepala teluk. Pola penyebaran masing-masing kompartimen ekosistem hasil model memiliki kesamaan dengan hasil pengamatan di lapangan, serta konsisten dengan pola arus residu M2. Pengaruh suplai dari sungai, interaksi antara proses biologis seperti produktifitas primer, sekunder (pemangsaan), kematian alami plankton, serta proses dekomposisi oleh bakteri belum begitu berperan dalam neraca dan standing stock ekosistem di Teluk Lampung. Peranan suplai dari laut lebih dominan dibanding dengan proses-proses biokimiawi yang berinteraksi di dalam teluk. Hasil perhitungan tingkat efisiensi aliran energi dari proses dekomposisi dan produksi urine zooplankton ke produktifitas primer mengalami kehilangan sebesar 30.48 %, sementara dari produktifitas primer ke produktifitas sekunder (pemangsaan) mengalami penambahan 17.24 %.Kata kunci: dinamika ekosistem, Teluk Lampung, gabungan model hidrodinamika-ekosistem, arus residu M2.
(Nisbah Kelamin pada Populasi Nihonotrypaea japonica (Ortmann, 1891) (Decapoda: Thalassinidea: Callianassidae), yang Berasal dari Mulut Sungai Shirakawa, Bagian Tengah Perairan Estuari Ariake, Kyushu Barat, Jepang) Yusli Wardiatno
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.6 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di sebuah pantai intertidal berpasir yang terbentuk di muara Sungai Shirakawa, pada wilayah tengah perairan estuary Ariake Sound, Kyushu Barat, Jepang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas nisbah kelamin populasi Nihonotrypaea japonica dari sudut pandang ilmu biologi. Pengambilan contoh dilakukan selama 21 kali saat pasang purnama selama periode antara tanggal 20 April 1999 sampai 18 April 2000. Dengan mengacu pada jarak waktu sampling, penelitian ini terbagi atas 2 bagian: (1) antara 20 April – 22 November 1999, pengambilan contoh dilakukan setiap 2 minggu sekali, dan (2) antara 22 Desember 1999 – 18 April 2000, pengambilan contoh dilakukan satu bulan sekali. Pengumpulan spesimen dilakukan dengan bantuan alat ‘yabby pumps’ pada saat air surut. Contoh yang terkumpul selama penelitian terdiri atas 5 628 betina, 4 385 jantan, dan 346 individu tak teridentifikasi jenis kelaminnya, sehingga nisbah kelamin secara keseluruhan bias ke betina. Namun demikian, dengan membagi populasi ke dalam beberapa kelas ukuran, ada pola nisbah kelamin yang terlihat, dan pola ini nampaknya berkaitan dengan aspek biologi reproduksi udang tersebut.Kata kunci: nisbah kelamin, udang lumpur, thalassinidea, callianassidae, Nihonotrypaea japonica, AriakeSound.
PENGGUNAAN MEAN DAMAGE INDEX (MDI) DALAM MENGKAJI KERUSAKAN MORFOLOGI BENTHOS YANG TERTANGKAP DENGAN ALAT TANGKAP GAROK Yusli Wardiatno; , Yonvitner; Estri Octora Farmelia
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.058 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan Mean Damage Index (MDI) yang diperkenalkan Jensen et al. (2001) dalam menilai kerusakan morfologis yang ditimbulkan alat tangkap garok terhadap makrozoobenthos. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir perairan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten pada bulan Maret sampai Mei 2007. Ada variasi kerusakan morfologis yang ditimbulkan oleh garok terhadap jenis benthos yang berbeda, yakni kerang, keong laut, kepiting, udang, dan bintang laut. Nilai MDI tertinggi dari kelima stasiun berasal dari kelompok bivalvia dengan kisaran 1.5781-3.5217, sedangkan MDI terendah terdapat pada kelompok udang yang berkisar antara 0.0633 sampai 0.2424.Kata kunci: MDI (Mean Damage Index), kerusakan morfologis, benthos, estuari.
Mineral, Fatty Acid and Dietary Fiber Compositions in Several Indonesian Seaweeds Joko Santoso; Yumiko Yoshie; Takeshi Suzuki
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.838 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan profil kandungan nutrient dan non-nutrien (mineral, asam lemak dan serat) pada sembilan jenis rumput laut dan beberapa kelas (alga hijau, coklat dan merah). Kandungan mineral didominasi oleh kalsium, potassium, dan sodium. Asam palmitic adalah asam lemak utama yang ditemukan pada semua contoh rumput laut, diikuti oleh asam stearic, asamoleic, dan asam linolenic. Konsentrasi asam eicosapentaenoic tertinggi ditemukan pada jenis alga merah Kappaphycus alvarezii (8,09%), sedangkan alga merah Sargassum polycystum mengandung asam arachidonic tertinggi (14,43%). Kisaran kandungan serat total, serat terlarut dan serat tidak terlarut pada contoh alga yang dianalisa berturut-turut adalah 14.7 - 69.3, 14.3 - 64.1 dan 0.4 - 10.7 (g/100 g berat kering). Alga merah jenis K. alvarezii memiliki kandungan serat total dan serat terlarut tertinggi, sedangkan alga yang mengandung serat tidak terlarut tertinggi adalah jenis alga hijau Ulva reticulate.Kata kunci: serat, asam lemak, Indonesia, mineral, rumput laut.
Analisis Beberapa Karakteristik Lingkungan Perairan yang Mempengaruhi Akumulasi Logam Berat Timbal dalam Tubuh Kerang Darah di Perairan Pesisir Timur Sumatera Utara Hasan Sitorus
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.748 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis beberapa karakteristik lingkungan perairan yang mempengaruhi akumulasi logam berat timbal dalam tubuh kerang darah (Anadara granosa) di perairan pesisir timur Sumatera Utara, melalui sidik regresi berganda (multiple regression analysis), 2) mereduksi data melalui sidik komponen utama (principal component analysis) untuk mengurangi biaya monitoring pencemaran logam berat timbal di masa mendatang, dan 3) menganalisis lokasi perairan yang memiliki karakteristik yang sama dalam akumulasi logam berat timbal melalui sidik gerombol (cluster analysis). Berdasarkan sidik regresi, kadar logam berat timbal dalam air, kadar logam berat timbal dalam sedimen dasar perairan dan kadar sulfur dalam sedimen berpengaruh sangat nyata (p
Bio-Ecologi Kerang Lamis (Meretrix meretrix) di Perairan Marunda Isdradjat Setyobudiandi; Eddy Soekendarsih; , Yonvitner; Rini Setiawati
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.599 KB)

Abstract

Kerang lamis (Meretrix-meretrix) termasuk sumberdaya moluska (kelompok bivalva) yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian kegiatan penangkapan dari sedian stok alami di perkirakan telah menyebabkan terjadinya penurunan populasi kerang lamis. Kondisi ini diperparah dengan perubahan kualitas lingkungan yang semakin memprihatinkan. Untuk itu diperlukan suatu kajian tentang upaya pengelolaan yang dapat menjamin kelangsungan sumberdaya M. meretrix melalui pendekatan ekobiologi. Pendekatan yang digunakan adalah analisis ekologi kuantitatif (keseragaman, keragaman, dominansi), analisis biostratigrafi dan analisis populasi dengan program FISAT II. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebaran lamis mengikuti pola sebaran BOD, salinitas, karbon organik dan tingkat kekeruhan. Secara umum kerang terbagi menjadi lima kelompok ukuran, dengan kepadatan tertinggi pada ukuran 32.08-33.23 mm. Sedangkan panjang takhingga adalah 48.90 mm (L¥) dengan laju pertumbuhan 1 (K).Kata kunci: lamis (Meretrix-meretrix), panjang takhingga, keragaman, keseragaman, dominansi, biostratigrafi, pertumbuhan.

Page 5 of 19 | Total Record : 183