Jurnal Pariwisata Indonesia
JPI (Jurnal Pariwisata Indonesia) is an open access, peer-reviewed, multidisciplinary journal dedicated to publication in tourism research, with a focus on the application of tourism science to the Indonesian tourism industry. JPI maintains its contribution to scholarships in tourism science in Indonesia. JPI invites writings from various disciplines to contribute to literature on tourism science. JPI invites manuscripts in three main topics but is not limited to: Hospitality Each study focuses on the hospitality industry, including marketing management in the hospitality industry, restaurants, quality assurance, Policy and Regulation of Hospitality, Human Resources, and related topics in the hospitality industry (such as operational departments on hotel) Culinary Each study focuses on culinary development in tourism, innovation in the culinary business, Gastronomy, Herbs, Spices, Traditional Food, Cultural Food Studies, Food Product, Bakery and Pastry, Food Packaging and Product Development, Food Product Branding and Marketing, Education and Training, Nutrition of Food Product, Regulation and Policy Food and Product. Tourism Each study focuses on destination development, including Policy for Destination Planning, Tour Industry, accessibility, and Infrastruktur Destination, Ticketing on destination Policy, Destination marketing, tourist behavior, travel patterns, and related topics on destination development (such as Sustainable Tourism Development Low Carbon Destination, Halal tourism, Community-based Tourism, Nature-based Tourism, Creative Tourism, Social Media for Tourism Marketing, Smart Tourism)
Articles
146 Documents
Konsep Desa Wisata
D. Purwanggono
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 4 No 2 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (136.879 KB)
Sebagai upaya pengembangan kepariwisataan, “Desa Wisata” telah menjadi salah satu alternatif bentuk pengembangan itu dan nampak mulai diminati. Desa Wisata dikatakan sebagai obyek alternatif ketika masyarakat mulai jenuh dengan obyek-obyek wisata yang ada. Kehidupan desa dengan segala potensinya dan segenap masyarakatnya adalah obyek, namun sekaligus juga subyek atas pengelolaan kepariwisataan di desa itu. Kesadaran masyarakat akan kepemilikan potensi, komitmennya untuk mengadakan “Desa Wisata”, kemampuan mengelolanya, kesanggupan untuk melestarikan lingkungan dalam arti yang tidak sempit merupakan tahapan-tahapan yang harus dilalui bagi keberadaan Desa Wisata.
Pengelolaan Aset Budaya Untuk Pariwisata
D. Purwanggono;
Titik Akiriningsih
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 4 No 2 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (149.05 KB)
Salah satu kegiatan wisata yang dapat dikembangkan untuk mewarnai potensi wisata tanah air adalah wisata budaya, yaitu wisata dengan daya tarik budaya. Wisata budaya memerlukan asset budaya yang adiluhung didalamnya. Beberapa asset budaya yang kita kenal masih dianggap sebagian orang tidak untuk dijual, tetapi cukup dihormati saja. Namun, hal tersebut tidak berlaku seratus persen dalam dunia pariwisata selama masyarakat masih membutuhkan kesejahteraan dan tingkat ekonomi yang lebih mapan. Dalam dunia pariwisata asset budaya akan berhenti fungsinya sebagai potensi apabila hanya menjadi daya tarik. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan pengembangan yang bijaksana terhadap asset budaya supaya memiliki nilai jual dan nilai ekonomis. Pariwisata, termasuk yang berbasis potensi budaya membutuhkan keserentakan semua pihak untuk mengolah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri tanpa daya dukung semua pihak secara sinergis. Adanya kecenderungan wisatawan untuk menikmati aktivitas wisata menjadi peluang penyusunan produk-produk wisata budaya yang memiliki nilai jual tinggi. Hal ini perlu didukung dengan memperhatikan identifikasi dan pengkajian potensi wisata, penawaran produk wisata, permintaan produk wisata, penyusunan produk wisata, serta pemasaran produk wisata. Dengan pengelolaan asset budaya yang tepat dan terarah, maka akan timbul kepuasan wisatawan.
Pengaruh Motivasi Terhadap Permintaan Industri Pariwisata
I.G.N. Wedagama;
J Aditya Sari
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 4 No 2 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.431 KB)
The decision making for traveling is generally more complicated than it is for purchasing other luxurious necessities. There are factors to be taken into attention to maximize the value of the money we have spent on traveling for the family. The traveler’s motives are influenced by the type, destination, and social networking, either before or during the trip. Some examples are people travel for having new experience with environment, meeting the locales, understanding the culture, revitalizing the family relationship, resting and relaxing, rejuvenating, self protecting and security, respecting social status, and rewarding oneself of certain accomplishments. In the relation with travelers’ behavior, either individual or group, it is important to look further into such motives.
Pariwisata Yang Berwawasan Kemanusiaan : Sebuah Refleksi Spiritualitas
Marimin
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 4 No 2 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (83.875 KB)
Wacana kepariwisataan saat ini memerlukan refleksi serius mengingat tantangan yang dihadapi (environmental scanning) dan tingkat kemampuan analisis proaktif terhadap masa depan bangsa dan pembangunan kepariwisataan di Indonesia. Dalam konteks ini perlu dicermati perkembangan dua paradigma pariwisata yang mengandung persoalan substantif tentang kepariwisataan yakni upaya mendefinisikan (redefine) pariwisata dalam format multidimensi, ilmiah dan komprehensif. Paradigma pertama adalah pariwisata sebagai fenomena manusia yang merupakan resultante reaksi psikologis akibat dari munculnya kebutuhan (drive dan motive) untuk melakukan perjalanan hasil reproduksi push and pull factor, kedua adalah pariwisata sebagai suatu industri. Benturan terhadap dua platform ini dapat dihindari manakala pihak-pihak yang berkompeten (stakeholder pariwisata) menyadari esensi dasar dari paradigma diatas. Yang menjadi persoalan saat ini adalah ketika pelaku terlalu berlebihan dalam meng-intreprestasikan peranannya seperti over komersialisasi dari tour operator atau kebanggaan sektoral instansi dan dinas pelayanan pariwisata yang berlebihan karena vestedinterest tertentu, atau pembangunan kawasan dan sarana pariwisata (hotel / objek wisata) yang mengabaikan faktor lingkungan hidup dan daya dukung (carrying capacity) dan pemberdayaan masyarakat sebagai aset utama pariwisata. Tentu saja sinergi pendekatan paradigma diatas akan menghasilkan tatanan kepariwisataan yang harmonis, bermanfaat dan berakar dalam komunitas (community base tourism) meminimalisasi praktik bisnis yang sematamata berpikir: we sell everything, profit oriented dan pragmatic).
Revitalisasi Kawasan Taman Balekambang Dalam Pengembangan Kota Solo Sebagai Kota Budaya
Sunyoto Sunyoto
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 4 No 2 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (237.1 KB)
Revitalisasi Taman Balekambang dalam pengembangan Kota Solo sebagai Kota Budaya, Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Penelitian ini dilakukan guna menjawab sejauh mana kondisi fisik dan strategi pengembangan revitalisasi Taman Balekambang dalam pengembangan kota Solo sebagai kota budaya. Penulisan penelitian ini disajikan secara analisis deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran berbagai informasi tentang kondisi fisik dan strategi pengembangan yang berhubungan dengan proses revitalisasi Taman Balekambang Surakarta. Penulis menggunakan analisis SWOT sebagai alat analisis pengumpulan data menggunakan studi observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Dari pembahasan maka penulis menarik kesimpulan bahwa 1) Revitalisasi Taman Balekambang Surakarta sangat diperlukan demi kepentingan budaya, ekologi dan mengabadikan 2 ikon Taman Balekambang yaitu Partini Tuin dan Partinah Bosch sebagai kajian sejarah. 2) Kondisi fisik pada proses revitalisasi berjalan dengan lancar walaupun ada beberapa permasalahan mengenai pengelolaan sementara. 3) Strategi pengembangan Taman Balekambang adalah mengupayakan prioritas konservasi lingkungan, diikuti dengan pelestarian budaya melalui beberapa kegiatan, ditambah dengan fasilitas olah raga untuk pemerataan aktivitas wisatawan sehingga wisatawan mendapatkan banyak pengalaman bila berkunjung ke Taman Balekambang.
Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Plempoh Bokoharjo Sleman Yogyakarta
D Adi Wijaya
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (157.949 KB)
Maksud diadakannya kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan para anggota warga desa wisata Plempoh dalam mengembangkan potensi pariwisata yang ada di desa mereka. Selain itu peneliti juga hendak meneliti hal-hal yang berkenaan dengan langkah dan strategi para anggota masyarakat desa Plempoh dalam upaya pengembangan dan pemasaran produk wisata mereka. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peran serta masyarakat desa wisata Plempoh dalam mengembangkan pariwisata di desa mereka. Selanjutnya penelitian ini juga bertujuan mengetahui langkah dan strategi pengembangan dan pemasaran produk wisata mereka bagi para calon wisatawan. Jenis penelitian kali ini menerapkan metode partisipatif yaitu peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian dan melakukan observasi di lapangan dan ikut bekerja bersama para penduduk. Desa wisata Plempoh seharusnya dapat menjadi daerah tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan, mengingat banyaknya sumberdaya alam dan budaya yang dimiliki desa tersebut, namun karena masih kurangnya sumber daya manusia yang dapat memajukan kepariwisataan di desa wisata ini, desa wisata ini menjadi tampak terpuruk dari segi manajemen pariwisatanya. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhatikan pengembangan pariwisata melalui berbagai bentuk pelatihan.
Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bangsa
E Herdyanto;
I.A. Joko Suyanto
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (92.396 KB)
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia sehat berilmu cakap kreatif dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan sebagai salah satu mata kuliah wajib di perguruan tinggi bersama-sama dengan mata kuliah pendidikan agama dan bahasa ditegaskan dalam pasal 37 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan ketiga mata kuliah itu masuk sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian. Mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang sekarang merupakan buah reformasi dalam bidang pendidikan. Semula mata kuliah ini diberi nama Pendidikan Kewiraan sebagai hasil kerja sama Departemen Pendidikan dengan Departemen Pertahanan Keamanan dengan materi tentang Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, Politik Strategi Nasional, Politik Strategi Pertahanan Keamanan Nasional dan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta. Seiring dengan hasil reformasi penghapusan Dwi fungsi ABRI maka diganti menjadi Pendidikan Kewarganegaraan dan dikelompokkan sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 43/Dikti/Kep/2006 tentang rambu-ranbu pelaksanaan kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi.
Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Komunitas
Sunyoto Sunyoto;
E Widayati
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (424.997 KB)
Poverty is an urgent problem of the Indonesian people requires treatment measures and approaches that are systematic, integrated and comprehensive. The role of the tourism sector in improving the economy is relatively large. The purpose of this paper is to discuss on poverty and an effort to alleviate through the development of community-based tourism. Poverty is multidimensional, and involves some complex aspects. Therefore, the alleviation needs synergy and the concern of actors/stakeholders. There are three considered components are needed to formulatee strategies of poverty reduction through community-based tourism sector are the actors/stakeholders, institutional and pro poor policy, integrated and sustainable.
Peranan Promosi Terhadap Tingkat Kunjungan Wisatawan di Ndayu Alam Asri Kabupaten Sragen
Sunyoto Sunyoto
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (270.911 KB)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peranan promosi dan media promosi yang digunakan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di Ndayu Alam Asri. Data diperoleh dari dua sumber yaitu data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, interview, kajian pustaka dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan peneliti adalah deskriptif kualitatif yaitu dengan mendepenelitiankan semua data yang diperoleh untuk mengidentifikasikan jawaban dari permasalahan yang ada dan dengan menggunakan analisis SWOT. Dari hasil penelitian tampak bahwa peranan promosi dan media promosi yang digunakan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Terbukti dari data jumlah kunjungan wisatawan pada semester pertama tahun 2008 dan semester kedua tahun 2009 mengalami kenaikan yang sangat tajam 300%, yaitu dari jumlah kunjungan 3.651 orang menjadi 12.570 orang. Peningkatan jumlah kunjungan ini disebabkan karena peran promosi yang dilakukan melalui media promosi terbukti sangat efektif. Sesuai dengan judul penelitian di atas peranan promosi terbukti dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Ndayu Alam Asri.
Pentingnya Pemahaman Lintas Budaya Dalam Pariwisata
Titik Akiriningsih;
J Aditya Sari
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 5 No 1 (2009): Jurnal Pariwisata Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.775 KB)
Dalam setiap kegiatan wisata, terjadi interaksi sosial budaya antara wisatawan, pramuwisata, dan masyarakat setempat. Dalam interaksi tersebut, diperlukan sebuah pemahaman lintas budaya bagi ketiga pelaku wisata tersebut, terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang budaya berbeda karena setiap masyarakat memiliki corak budaya sendiri. Dalam kegiatan wisata, dipastikan terjadi interaksi lintas budaya mengingat pariwisata semakin lama semakin berkembang ke arah globalisasi. Mengingat bahwa terdapat budaya yang sama, hampir sama, berbeda bahkan bertentangan dengan budaya kita, maka pemahaman lintas budaya sangat diperlukan bagi para pelaku wisata. Pemahaman lintas budaya diperlukan bagi wisatawan, pramuwisata, dan masyarakat setempat dalam kegiatan wisata karena memberikan banyak manfaat dan dapat menghindari terjadinya gegar budaya karena perbedaan budaya akan selalu muncul baik dalam komunikasi, pelayanan, dan hubungan antar manusia.