cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 415 Documents
Saling Silang Pustakawan: Sebuah usulan program Khosyi Alfin Maulana
Media Pustakawan Vol 24, No 4 (2017): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.405 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v24i4.520

Abstract

Abstrak Indonesia sebagai negara yang terdiri dari daratan dan lautan yang begitu luas, memiliki 41 kabupaten/kota yang berada di daerah terluar atau berbatasan langsung dengan negara lain. Salah satu poin dalam nawacita Presiden Jokowi adalah membangun dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah terluar dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Pustakawan khususnya Pejabat Fungsional Pustakawan harus melihat ini sebagai tantangan untuk dapat berperan dalam mensukseskan poin tersebut. Di sisi lain, hanya ada 2 (dua) orang pustakawan yang berada pada salah satu dari 41 kabupaten/kota tersebut. Persebaran pustakawan yang tidak merata sedikit banyak mempengaruhi pengembangan perpustakaan dan pembudayaan gemar membaca. Salah satu kelemahan ini perlu dijawab dan diatasi dalam bentuk sebuah program atau kebijakan.
Kataloging e-Resources: Ekspansi pustakawan dalam mengolah bahan perpustakaan sumber elektronik Indah Purwani; Mariana Ginting
Media Pustakawan Vol 20, No 1 (2013): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.69 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v20i1.897

Abstract

Perpustakaan Nasional RI dibangun dan diselenggarakan atas dasar pemikiran bahwa sebagai bangsa yang merdeka mempunyai tanggung jawab untuk menampung dan menyimpan semua terbitan dalam negeri maupun luar negeri yang bernilai tinggi, dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat dunia secara menyeluruh. Namun, apakah perpustakaan yang sudah didirikan dan ditumbuhkembangkan dengan berbagai upaya, daya, sarana dan prasarana yang dimiliki dijamin berhasil baik? Hal ini bergantung pada pengelola dan respon masyarakat. Seperti diketahui bersama, Perpustakaan Nasional RI sudah mengembangkan aplikasi teknologi e-Library atau perpustakaan digital, dengan mengoleksi koleksi bahan perpustakaan sumber elektronik untuk mendukung pelayanan yang berkualitas secara menyeluruh (total quality service) dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi pemustaka. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi pustakawan untuk lebih menunjukkan kiprahnya, bahwa pustakawan mau mengembangkan sayapnya untuk menggali kemampuannya agar bisa mengimplementasikan apa yang menjadi tujuan organisasi perpustakaan di masa depan. Hingga saat ini koleksi bahan perpustakaan jenis e-resources dan pengolahannya masih terbatas dan belum dipahami oleh sebagian besar pustakawan secara menyeluruh, maka dibutuhkan usaha guna mengatasi berbagai masalah dalam mengolah bahan perpustakaan e-resources, khususnya dalam kataloging bahan perpustakaan sumber elektronik.
Sertifikasi Pustakawan Berdasarkan SKKNI Bidang Perpustakaan Suharyanto Suharyanto
Media Pustakawan Vol 21, No 2 (2014): JUNI
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3253.163 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i2.787

Abstract

Pada tahun 2015, Indonesia akan memasuki era komunitas ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC). Salah satu elemen utama dari “AEC Blueprint” yaitu adanya arus bebas tenaga terampil. Maka dipastikan akan terbuka kesempatan kerja seluas-luasnya bagi warga negara di ASEAN untuk mendapatkan pekerjaan di kawasan ASEAN tanpa mendapat hambatan, termasuk peluang kerja dibidang perpustakaan. Oleh karena itu kompetensi pustakawan merupakan tuntutan profesionalisme yang harus dapat dipenuhi. Kompetensi pustakawan adalah kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan. Salah satu bentuk pengakuan kompetensi kerja adalah melalui sertifikasi kompetensi. Sertifikasi kompetensi pustakawan diselanggarakan oleh LSP Pustakawan. Uji kompetensi mengacu pada standar SKKNI bidang Perpustakaan. Tujuan sertifikasi ini adalah dalam upaya peningkatan kualitas pustakawan yang baku sehingga dapat berimbas pada peningkatan kualitas layanan perpustakaan.Dengan memiliki sertifikat kompetensi pustakawan maka seseorang pustakawan akan mendapatkan bukti pengakuan tertulis atas kompetensi kerja yang dikuasainya. Namun disisi lain kesiapan pustakawan dalam mengikuti sertifikasi belum dibekali dengan informasi yang cukup tentang sertifikasi komptensi pustakawan. Bahkan ada pustakawan yang belum mengerti tentang SKKNI bidang Perpustakaan. Tulisan ini akan membahas tentang kesiapan pustakawan, sertifikasi pustakawan, SKKNI bidang perpustakaan, Lembaga Sertifikasi Profesi Pustakawan (LSP Pustakawan), dan proses sertifikasi.
Perpustakaan Berbasis Web, Paradigma Baru Menuju Pelayanan Informasi Terintegrasi, Dan Kesempatan Pemerataan Informasi M. Sukron
Media Pustakawan Vol 16, No 3&4 (2009): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.116 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v16i3&4.917

Abstract

Salah satu prinsip kepustakawanan menyatakan bahwa perpustakaan diciptakan oleh masyarakat dari dana masyarakat dengan tujuan utama melayani kepentingan masyarakat. Perpustakaan harus memanfaatkan sumber daya yang ada semaksimal mungkin untuk kepentingan pemakai. Dalam hal jasa untuk pemakai terdapat dua kubu, disatu pihak kubu pustakawan dengan koleksinya, sedangkan dipihak lain ialah pemakai dengan segala harapannya.  Layanan perpustakaan perlu dipupuk dan dikembangkan, kekuatan koleksi di perpustakaan akan sia-sia bila tidak ada yang memanfaatkan, hal ini diperlukan layanan informasi oleh unit perpustakaan kepada pengguna. Layanan informasi merupakan pekerjaan membantu seseorang untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Layanan harus dapat dilakukan dengan cepat, tepat waktu dan benar sehingga aktifitas dam kreatifitas petugas sangat diperlukan. Petugas dapat menawarkan informasi yang dimiliki karena promosi sangat penting untuk menarik perhatian konsumen.Sinergi untuk penyebaran informasi ini mutlak diperlukan terlebih lagi dengan adanya web perpustakaan, terlebih untuk menyiasasi gap yang terjadi dalam akses informasi, Melihat kondisi dan situasi perpustakaan di Indonesia yang masih jauh dari harapan. Teknolog membuat medium teknologi informasi dan komunikasinya, pemerintah memberikan bantuan pendanaan, pengadaan peralatan dan dapat pula kepada unit-unit perpustakaan melanggankan jurnal,elektronik, buku elektronik dan perangkat digital lainnya sehingga informasi selalu up-date. 
Kecemasan Pemustaka: Salah Satu Penyebab Rendahnya Tingkat Fisik Kunjungan ke Perpustakaan Endang Fatmawati
Media Pustakawan Vol 26, No 1 (2019): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.022 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v26i1.177

Abstract

Abstrak Artikel ini membahas tentang kecemasan pemustaka untuk berkunjung secara fisik ke perpustakaan. Kecemasan pemustaka merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan berkaitan dengan perasaan tidak pasti terhadap perpustakaan. Kecemasan menjadi pengalaman subjektif pemustaka yang bersifat tidak menyenangkan yang terkait dengan komponen perpustakaan. Kecemasan pemustaka dapat menimbulkan perasaan takut, khawatir, dan tidak nyaman terhadap perpustakaan. Kecemasan ketika sudah berkunjung fisik ke perpustakaan dapat terjadi saat menelusur sumber informasi, menggunakan fasilitas perpustakaan, dan ketika berinteraksi dengan pustakawan. Abstract This article discusses about library anxiety who visit physically to the library. Library anxiety is an unclear concern and is associated with uncertainty about the library. Library anxiety is a subjective experience of an unpleasant user associated with the library component. Library anxiety can cause feelings of fear, worry, and discomfort with the library. Library anxiety when visiting a physical library can occur when searching for information sources, using library facilities, and when interacting with librarians.
Pustakawan dan Perpustakaan dalam menghadapi tantangan di era global Blasius Sudarsono
Media Pustakawan Vol 18, No 3 (2011): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.766 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i3.824

Abstract

Artikel ini membahas pustakawan dan perpustakaan dalam menghadapi tantangan global. Tangan global pada artikel ini adalah globalisasi. Ruh awal globalisasi adalah hubungan eropa dengan dunia di luar eropa, hubungan ini maksudnya adalah eropa mendominasi perdagangan dan industry di Kawasan di luar eropa. Secara sederhana prinsip globalisasi adalah menghubungkan antar negara sehingga tidak lagi ada batasan, khususnya untuk pergerakan barang, modal dan jasa (tenaga).  Globalisasi membuat penduduk dari negara lain dapat mengikuti isu-isu negara lain dan menyuarakan aspirasinya. Aspirasi ini mensyaratkan program dunia dalam pengembangan atas budaya hak asasi manusia (human right culture). Hal ini menjadi keniscayaan. Dikatakan kita harus belajar menjadi warga dunia (global citizens). Manusia perlu memperlajari kepekaan untuk hidup dalam dunia multikultur. Kewargaduniaan (global citizenship) bukan bawaan genetika namun hanya dapat diper oleh melalui pendidikan dan pelatihan yang ekstensif. Oleh karena itu kita harus mulai terlebih dahulu mendidik diri kita masing­masing dan menghayatinya. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi tantangan sekaligus tulang punggung dalam membangun masyarakat sipil dunia. Perpustakaan sebagai lembaga informasi wajib menyikapi hal tersebut, karena sejalan dengan globalisasi maka web 2.0 menekankan pada partisipasi dari pengguna internet atau web. Web 2.0 memberikan pengaruh dalam penyelenggaraan perpustakaan, atau kita kenal sebagai library 2.0. library 2.0 secara ringkas oleh Blyberg dirumuskan sebagai (koleksi+orang+kepercayaan radikal) x  partisipasi. Partisipasi menjadi kunci, artinya tanpa partisipasi dari pengguna dan pustakawan library 2.0 tidak dapat diwujudkan. Partisipasi tersebut dapat berubah pertanyaan kepada pemustaka mengenai manfaat koleksi yang dipinjamnya, aktif memberikan referensi kepada pemustaka dan kegiatan lain yang memungkinkan terjadi interaksi antara perpustakaan dan pemustaka. Pendayagunaan internet dengan baik dan benar pun menjadi isu yang perlu diperhatikan perpustakaan. Jika perpustakaan adalah pustakawannya maka perubahan menuju library 2.0 harus diawali dengan transformasi pustakawannya.
Pembinaan Perpustakaan Sekolah Dasar Di Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Murgono Murgono
Media Pustakawan Vol 15, No 3 (2008): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.489 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v15i3.952

Abstract

Hasil survei awal terhadap kondisi perpustakaan sekolah dasar di wilayah Kecamatan Gajahmungkur Semarang pada umumnya belum dikelola sesuai pedoman yang berlaku. Penyebabnya antara lain petugas perpustakaan belum memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengelola perpustakaan yang baik dan benar. Oleh karena itu perlu diberikan pelatihan, meliputi teori dan praktek dengan materi pelatihan: inventarisasi bahan pustaka, katalogisasi, klasifikasi, penentuan tajuk subyek, pelayanan sirkulasi, pelayanan referensi, dan manajemen perpustakaan SD. Proses pelatihan berjalan dengan baik, diikuti 19 peserta selama 3 hari. Hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut yaitu tercapainya peningkatan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai bidang kegiatan kepustakawanan dalam mengelola perpustakaan SD dengan baik dan benar.
Analisis Tingkat Literasi Data di Kalangan Pustakawan Badan Riset dan Inovasi Nasional Noeraida Noeraida; Rochani Nani Rahayu; Agus Rifai
Media Pustakawan Vol. 29 No. 1 (2022): April
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v29i1.2699

Abstract

Based on Law Number 11 of 2019 concerning the National System of Science and Technology chapter 40 regulating the mandatory handover of primary data for the output of research, it is necessary to measure the level of data literacy among librarians of the National Research and Innovation Agency (BRIN). As a newly formed institution, BRIN requires a reference for the leadership in implementing the law. This study aims to determine the level of data literacy among librarians based on agency origin, education, age, gender, years of service, and level of position. The method used is a survey of 68 respondents from Ex BATAN, BPPT, LIPI, and LAPAN. The indicators consist of data culture, searching, visualizing, communicating, assessing & interpreting data. Data processing used SPSS 26 and Lickert scale. The result of this study is that in general, the level of data literacy of BRIN librarians was in a good category. The level of data literacy of BPPT librarians is in the first position, the librarian with undergraduate education level has the highest scores. Women are more literate than men. Librarians with 10-15 years of service entered the first position. Librarians aged more than 60 years and the main expert librarian were ranked first. This study concludes that the level of data literacy in BRIN librarians is in a good category. However, data visualization and communication are in the sufficient category, so it is recommended to provide capacity building for librarians through training and the like.
Analisis “Similarity” pada Karya Tulis Pustakawan yang diajukan sebagai Angka Kredit Abdul Rahman Saleh
Media Pustakawan Vol 26, No 3 (2019): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v26i3.547

Abstract

ABSTRAK Salah satu butir kegiatan pustakawan yang termasuk kegiatan unsur utama, namun tidak termasuk tugas pokok dari pustakawan adalah pembuatan karya tulis/ karya ilmiah di bidang kepustakawanan. Kegiatan ini dikelompokkan ke dalam unsur pengembangan profesi. Angka kredit yang ditawarkan untuk kegiatan ini cukup besar, terutama bila dibandingkan dengan pelaksanaan kegiatan teknis perpustakaan lainnya. Oleh karena itu, banyak pustakawan yang mengejar kekurangan angka kredit dari kegiatan tersebut. Sayangnya, banyak pustakawan yang tidak hati-hati dalam menulis, atau mungkin juga memang sengaja melakukan hal yang tidak terpuji, sehingga karya tulis yang dihasilkan banyak mengandung dugaan plagiarisme. Kajian ini mencoba memotret karya tulis pustakawan yang diusulkan kepada Tim Penilai Tingkat Pusat di Perpustakaan Nasional. Kajian dilakukan terhadap 129 judul karya tulis yang diajukan oleh 16 pustakawan selama Bulan Januari - Mei 2019. Sampel diambil menggunakan teknik non probability sampling yaitu ditarik secara incidental sampling. Seluruh karya tulis diperiksa menggunakan aplikasi Turnitin dan dicatat tingkat kemiripannya dengan artikel lain yang ada di dunia maya. Tingkat kemiripan (similarity) tertinggi diketahui sebesar 94% atau dapat dikatakan seluruh bagian dari artikel tersebut diduga meniru tulisan orang lain (plagiat) yang diperoleh dari internet. Sedangkan tulisan yang memiliki tingkat kemiripan terendah adalah sebesar 2%, atau hampir tidak ada dugaan praktek plagiarisme dari tulisan tersebut. Dugaan plagiarisme tersebut bisa memang sengaja dilakukan oleh penulis, atau bisa secara tidak sengaja dilakukan oleh penulis, misalnya karena ketidak tahuan cara menulis kutipan. Karenanya, disarankan agar para penulis mempelajari pedoman penulisan yang banyak beredar di dunia akademik sehingga hasil tulisannya sesuai dengan peraturan dan terhindar dari dugaan plagiarisme.  ABSTRACT One of the librarian's activities that consider as the activities of the main elements, but not as the main tasks of the librarian is the writing works or scientific work in the field of librarianship. This activity is grouped into the professional development. The Credit point that offered for this activity is quite large, especially when compared to the activities of the library technical activities or the library housekeeping activities. Therefore, many librarians are doing this activity in order to get the bigger credit point. Unfortunately, many librarians are not careful in writing, or may also intentionally do things that are not commendable, so that the result of the work contains a lot of alleged plagiarism. This study tried to give the picture of the writing work / academic work of the librarian that proposed to the National Assessment Team at the National Library. The study was carried out to 129 work that written by 16 librarians during January - May 2019. Samples were taken using non probability sampling techniques, namely drawn incidentally sampling. All papers are examined using the Turnitin application and were recorded the level of similarity with other works that are already posted in cyberspace. The highest similarity level is known to be 94% or it can be considered that all parts of the work suspected as copied from other works (plagiarism) that are found in the internet. While the work that has the lowest similarity level is 2%, or there is almost no suspicion of plagiarism from the writing. Allegations of plagiarism can indeed be deliberately done by the author, or can be accidentally done by the author, for example because of ignorance of how to write a quote. Therefore, it is recommended that the authors to study or to read the writing guidelines that are widely circulating in the academic world so that their work are not break the rules and avoid the alleged plagiarism.
Jika Dipaksa, Ternyata Bisa!: Pustakawan dan Kemampuan Menulis A.C Sungkana Hadi
Media Pustakawan Vol 16, No 1&2 (2009): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v16i1&2.907

Abstract

Mengapa hanya sedikit pustakawan kita yang menulis? Apakah menulis merupakan momok menakutkan yang sengaja dihindari oleh para pustakawan, walaupun nilai angka kreditnya relatif cukup besar? Atau, apakah tema atau pokok masalah yang bisa ditulis terbatas, klise, dari masalah teknis yang satu ke masalah teknis lainnya, sehingga semakin sedikit tema yang dapat menumbuhkan inspirasi untuk menulis? Tulisan ini sebagai upaya persuasif bagi rekan-rekan pustakawan untuk menyadari bahwa menulis itu bukan kegiatan yang mustahil dapat mereka lakukan. Menulis itu perlu dipaksakan dengan memberanikan diri untuk mencoba dan mencoba terus, trial and error, hingga akhirnya berhasil dilakukan dengan baik. Selain itu, tulisan ini juga dimaksudkan untuk meyakinkan rekan-rekan pustakawan bahwa banyak masalah atau topik di bidang kepustakawanan yang dapat ditulis dan dipublikasikan.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue