Media Pustakawan
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Articles
415 Documents
Covid-19 dan Perpustakaan: Sebuah Literature Review
Rochani Nani Rahayu
Media Pustakawan Vol 28, No 1 (2021): April
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v28i1.992
The covid-19 outbreak in the world and in Indonesia since last March 2020, has caused the activities of most people to be carried out from home. The library is an institution that is obliged to carry out work from home. Therefore, a study was conducted to determine the activities carried out during the covid-19 pandemic. This research uses the literature review method. The data source used was EBSCOhost which was accessed fro the E-Resources of the National Library of Indonesia on May 6, 2020. The search used the keyword covid-19 and objectives. The data obtained from the search results are then analyzed against each article with the aim of solving and identifying important information contained therein. Furthermore, the synthesis of all the articles obtained is carried out, namely integrating and identifying conclusions that can be drawn from all articles. Based on the results obtained, it can be concluded that abroad, during the covid-19 pandemic, both public libraries, college libraries, although there are some closed, there are those who postpone activities, but they still provide services to users by utilizing various information technology platforms and social media. In addition to providing information services to users, libraries even provide infrastructure to be used as a place to distribute aid resources to communities affected by covid-19. The experiences of several librarians who are involved in the response to covid-19, such as the participation of a librarian in providing face shield can provide information to the public that librarians are also contributing to the prevention of the covid-19 outbreak.
Transformasi Perpustakaan Umum Sebagai Ruang Pelibatan Masyarakat (Studi Kasus: Dinas Perpustakaan Umum dan Kearsipan Kabupaten Enrekang)
Irsan Irsan
Media Pustakawan Vol 26, No 3 (2019): September
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v26i3.563
AbstrakPerpustakaan umum sebagai ruang belajar sepanjang hayat memiliki peran strategis dalam memberdayakan masyarakat. Menyadari hal itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang melakukan transformasi dengan menjadikan perpustakaan sebagai ruang pelibatan masyarakat. Perubahan itu tidaklah terjadi secara instan, tetapi melalui proses pendampingan yang dilakukan oleh program PerpuSeru selaku mitra pengembangan perpustakaan. Program pengembangan perpustakaan tersebut telah berkonstribusi pada perubahan paradigma perpustakaan dalam menyediakan layanan perpustakaan. Tentu tak lepas pula dari komitmen dan konsistensi dari pimpinan dan pustakawan dalam mendukung program tersebut. Salah satu strategi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang telah diterapkan yaitu kegiatan pelibatan masyarakat, yang bertujuan mengajak masyarakat belajar dan berkegiatan untuk mendapatkan pengetahuan dan kesempatan meningkatkan potensinya di perpustakaan. Dalam mendorong pelibatan masyarakat ini, perpustakaan umum juga membangun kemitraan dengan pemustaka untuk berpartisipasi. AbstractPublic library as a life long learning space it has a strategic role in empowering the community. Choosing that, the Enrekang district public library did the transformation by making the library as a space for community engagement. The change has’nt occurred instantly, but through a mentoring process carried out by the PerpuSeru program as a library development partner. This library development program has enhanced the library's paradigm shift in providing library services. Of course, that are’nt apart from the commitment and consistency of the leaders and librarians in supporting the program. One of the library development strategies based on social inclusion that has been implemented is the community engagement activity, which invites the public to learn and have activities to gain knowledge and increase their potency in library. In encouraging community involvement, public libraries also build partnerships with users to participate.
Studi Bibliometrik dan Sebaran Topik Penelitian pada Jurnal Media Peternakan Terbitan 2012-2016
Sri Rahayu;
Abdul Rahman Saleh
Media Pustakawan Vol 24, No 2 (2017): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v24i2.14
Jurnal ilmiah merupakan sumber informasi yang sangat penting karena di dalamnya memuat hasil penelitian dan pemikiran dari para ahli di bidangnya. Hasil penelitian tersebut dituangkan ke dalam tulisan ilmiah berupa artikel. Jurnal Media Peternakan sebagai salah satu jurnal ilmiah akan dikaji pada tulisan ini. Tujuan kajian adalah untuk mengidentifikasi sebaran bidang ilmu/topik penelitian, produktifitas kepengarangan artikel, derajat kolaborasi kepengarangan, keusangan (obsolescence) serta informasi referensi yang digunakan. Data kajian yang diambil dari seluruh artikel Jurnal Media Peternakan yaitu volume 35 tahun 2012 sampai dengan volume 39 tahun 2016. Kurun waktu tersebut Jurnal Media Peternakan memuat 162 artikel dari 392 nama penulis yang berbeda. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebaran topik penelitian yang paling banyak dibahas mengenai pakan ternak atau nutrisi pakan sebanyak 68 artikel (41.98 %), penulis paling produktif adalah K.G. Wiryawan, C. Sumatri, Zakari dan L. Abdullah. Derajat kolaborasi kepenulisan rata-rata Jurnal Media Peternakan adalah (95.06 %). Kolaborasi yang paling banyak adalah sepuluh penulis dalam satu artikel. Pustaka yang paling banyak digunakan adalah artikel sebanyak 83.80 %, Referensi baru (0-5 tahun) 34.22 %, keusangan referensi yang digunakan dalam Jurnal Media Peternakan rata-rata 7,2 tahun.
Pemanfaatan Perpustakaan BPTP Maluku Utara
Herwan Junaidi
Media Pustakawan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v22i1.801
Abstrak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara merupakan perpanjangan tangan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk menyampaikan hasil-hasil teknologi inovasi pertanian yang telah dihasilkan Balitbangtan. Perpustakaan BPTP Maluku Utara memiliki fungsi sebagai instalasi pendukung dalam keberhasilan pencapaian visi, misi, dan tupoksi BPTP Maluku Utara, guna memenuhi kebutuhan referensi para peneliti dan penyuluh dalam melakukan penelitian, pengkajian, dan diseminasi spesifik lokasi. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui pemanfaatan perpustakaan BPTP Maluku Utara dalam upaya menyediakan dan menyebarkan informasi inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi yang telah dihasilkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara. Pengkajian dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2014 di perpustakaan BPTP Maluku Utara. Hasil pengkajian menunjukan bahwa pengguna yang berkunjung dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan BPTP Maluku Utara sebanyak 88 orang. Rata-rata pengunjung adalah sebanyak 14 orang per bulan. Pengguna yang pinjam koleksi perpustakaan 2 orang per bulan. Koleksi perpustakaan yang dilayankan 3 koleksi per bulan.
Gambaran Pustakawan Ideal: Cerdas, Luwes, Dan Suka Menolong
Doddy Rusmono
Media Pustakawan Vol 15, No 1&2 (2008): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v15i1&2.932
Bagi pengguna yang mencari berbagai sumber informasi di perpustakaan, hanya ada satu keinginan yaitu disambut pustakawan yang memiliki tiga karakteristik berpengetahuan luas, pandai menangani keberagaman permintaan apapun, dan tulus membantu pemenuhan kebutuhan informasi. Kontras dengan gambaran tadi, atau tepatnya mimpi buruk bagi pengguna adalah sosok pustakawan yang terkesan enggan, sedikit murung dan jauh dari sikap tanggap terhadap kebutuhan pengguna yang sebenarnya harus cepat dipenuhi. Kesadaran akan keberadaannya di tengah komunitas intelektual sepatutnya memacu semangat pustakawan ideal untuk mengembangkan diri menggapai kesempurnaan yang utuh sebagai penyedia informasi. Ketiga karakteristik sebagai modal dasar dalam mengembangkan diri kearah kesempurnaan citra perlu dilandasi oleh hasil evaluasi-diri yang bersinambungan, berketetapan, dan berpandangan jauh ke depan.
Manajemen Keamanan Informasi di Perpustakaan Menggunakan Framework SNI ISO/IEC 27001
Muhammad Bahrudin;
Firmansyah Firmansyah
Media Pustakawan Vol 25, No 1 (2018): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v25i1.191
Abstrak Peran perpustakaan dengan berbagai jenis dan ukurannya salah satunya ialah menjadi sumber informasi yang mengelola dan menyebarkannya kepada pengguna. Informasi adalah aset penting bagi kelangsungan hidup perpustakaan dan menjamin kepercayaan penggunanya sehingga harus dikelola dengan baik. Perkembangan tata kelola teknologi informasi sangat berperan dalam pengelolaan, investasi dan penyebaran informasi di perpustakaan. Sehubungan dengan hal tersebut, keamanan informasi kemudian menjadi hal penting yang akan berdampak pada pemberdayaan informasi yang efektif. Kebutuhan untuk menyediakan manajemen keamanan informasi yang memadai di perpustakaan menjadi semakin mendesak seiring penerapan tata kelola teknologi informasi yang semakin masif. Makalah ini membahas topik keamanan informasi, pentingnya melindungi informasi dan akses informasi di perpustakaan menggunakan framework SNI ISO/IEC 27001:2013. Standar ini memberikan persyaratan yang harus dipenuhi dalam rangka mengimplementasikan sistem manajemen keamanan informasi pada suatu organisasi secara berkelanjutan. Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran manajemen perpustakaan untuk mengamankan aset informasi yang dimiliki sehingga dapat diberdayakan sesuai dengan prinsip kerahasiaan (confidentiality), keutuhan (integrity) dan ketersediaannya (availability). Pentingnya manajemen keamanan informasi di perpustakaan ini tentunya akan bermuara pada kepuasan dan kepercayaan pengguna dalam memanfaatkan sumber daya di perpustakaan.
Kajian Penggunaan Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional Studi Kasus di Bidang Pengolahan Bahan Pustaka
Mariana Ginting;
R. Deffi Kurniawati;
Triani Rachmawati
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v23i1.840
Informasi koleksi perpustakaan yang ada di sebuah perpustakaan dapat dicari melalui katalog pengarang, subjek, atau judul. Penggunaan tajuk subjek pada katalog sangat penting untuk membantu pencarian suatu topik atau disiplin ilmu tertentu yang dimiliki perpustakaan. Salah satu daftar tajuk subjek yang digunakan dalam menentukan subjek suatu koleksi perpustakaan adalah Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional. Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional terdiri dari dua bentuk, yang bernotasi, yaitu Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional edisi revisi yang terbit pada tahun 2002, dan yang tanpa notasi, yaitu Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional yang terbit tahun 2011 yang merupakan akumulasi dari daftar tajuk subjek sebelumnya beserta suplemennya. Terbitnya Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional yang tanpa notasi menimbulkan tanggapan yang beraneka ragam, salah satunya adalah permintaan untuk kembali mencantumkan notasi pada daftar tajuk subjek, karena dapat memudahkan dalam menentukan nomor klas. Hal tersebut yang melatarbelakangi dibuatnya kajian “Penggunaan Pedoman Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional” untuk mengetahui seberapa banyak pustakawan yang menginginkan daftar tajuk subjek yang bernotasi dan seberapa banyak pustakawan yang menginginkan daftar tajuk subjek tanpa notasi. Hasil kajian ini diharapkan bermanfaat dalam (1) pengambilan kebijakan untuk merevisi daftar tajuk subjek dan (2) mengkaji kembali penerbitan daftar tajuk subjek. Sampel dalam kajian ini adalah pustakawan di Bidang Pengolahan Bahan Pustaka dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode angket. Berdasarkan hasil kajian diperoleh bahwa sebagian besar responden (57.14%) sangat sering menggunakan Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional bernotasi dan (39.8%) sering menggunakan Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional. Saran pengguna untuk kedepannya Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional dilengkapi dengan notasi (42.86 %) dan juga sebanyak (39.28 %) responden menyarankan bahwa Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional dengan suplemen dan bernotasi.
Perpustakaan Desa Pembangunan, Masyarakat Dan Partisipasi
Lia Setyowati
Media Pustakawan Vol 14, No 1 (2007): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v14i1.970
Berdasarkan peraturan Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 3 Tahun 2001 perpustakaan desa untuk diselenggarakan. Perpustakaan Desa yang berada di bawah tanggung jawab langsung kepada kepala desa yang bertujuan untuk menyediakan sumber belajar, yang bermanfaat untuk mencerdaskan dan memberdayakan masyarakat serta menunjang pelaksanaan pendidikan nasional. Kenyataannya keberadaan perpustakaan tidak menjadi agenda kebijakan penting di tingkat desa. Terbukti dengan adanya laporan mengenai jumlah perpustakaan desa pada tahun 1998 yang menunjukkan angka 1.030 unit. Padahal menurut Rompas jumlah yang ideal yang harusnya dicapai adalah 64.000 (Rompas, 1998). Ini adalah suatu kesenjangan yang cukup lebar.Untuk dapat membangun perpustakaan desa yang baik, kita harus dapat mendorong partisipasi masyaraakt dalam pengembangan perpustakaan desa. Upaya mendorong berparsitipasi masyarakat pada pembangunan perpustakaan desa, dapat dilakukan dengan pendekatan seperti pendekatan sosial, pendekatan budaya, pendekatan politis, dan pendekatan sumber daya. Selain itu, partisipasi masyarakat dapat dilakukan dengan keterlibatan massyarakat pada manajemen perpustakaan.
Hubungan Kompetensi Pustakawan dengan Layanan Prima
Siti Aliyah
Media Pustakawan Vol 22, No 4 (2015): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v22i4.225
AbstrakPada hakekatnya perpustakaan adalah lembaga yang mengumpul, mengolah, menyimpan dan menyebarkan informasi dalam berbagai media dan bentuk. Mendapatkan informasi dalam berbagai media dan bentuk merupakan bagian Hak Azasi Manusia (HAM) agar manusia memiliki pengetahuan (knowledge) dalam hidup dan kehidupan. Karena itu, tujuan utama perpustakaan adalah mewujudkan masyarakat yang berbasis informasi dan pengetahuan. Salah satu keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan oleh tersedianya tenaga pustakawan yang berdedikasi tinggi, mempunyai kompetensi, dan bekerja secara profesional. Dengan demikian pustakawan dituntut untuk memberikan layanan prima dan berorientasi kepada pemustaka.
Dampak Antara Ilmu Epistimologi Dengan Fungsional Pustakawan Terhadap Pelaksanaan Tugas Di Perputakaan (Sebuah Opini tentang Cabang Ilmu Filsafat)
Dian Puspitasari
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.876
Peran manajemen sumber daya manusia dalam suatu organisasi tidak hanya sekedar sebagai administratif, tetapi justru lebih mengarah bagaimana cara mengembangkan potensi sumber daya manusia agar menjadi lebih kreatif dan inovatif. Seorang manajer harus mampu mendelegasikan kegiatan secara penuh kepada bawahan sesuai kompetensi masing-masing dibarengi dengan pengetahuan tentang tugas pokok yang diembannya. Kegiatan yang diemban harus terprogram, pustakawan selaku garda terdepan perlu belajar ilmu filsafat khususnya epistimologi agar dapat memberikan pelayanan dengan baik masyarakat.