cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
Berbagai siput sebagai inang antara cacing trematoda Echinostoma revalutum di Bogor, Jawa Barat: 1. Lymnaea rubiginosa Lili Zalizar; Simon He; Supan Kusumamihardja; Arie Budiman
Hemera Zoa Vol. 75 No. 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4289.738 KB)

Abstract

Infeksi mirasidia Echinostoma revolutum pada siput Lymnaea rubiginosa yang dipelihara di Laboratorium menghasilkan larva iinfektif metaserkaria. Demikian juga dari  siput Lymnaea rubiginosa yang diambil dari sawah di desa Sindang Barang Bogor diperoleh larva infektif metaserkaria. Kecocokan siput Lymanea rubiginos sebagai inang antara Echinostoma revolutum berturut-turut mencapai 83.33% pada kondisi laboratorium dan 50.78% pada kondisi alamiah.Metaserkaria asal infeksi laboratorium maupun alamiah yang dikumpulkan dari siput Lymanaea rubiginosa dan diinfeksikan pada ayam, menghasilkan cacing dewasa Echinostoma revolutum. Rataan infektivitas metaserkaria tersebut pada ayam mencapai 35.80% dengan metaserkaria hasil infeksi laboratorium dan 19% dengan metaserkaria infeksi alamiah.
Studi Beberapa Penyakit yang ditemukan bersama dengan gumboro/infectious bursal disease Ekowati Handharyani; Hernomoadi Hernomoadi
Hemera Zoa Vol. 75 No. 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4572.761 KB)

Abstract

Pengamatan terhadap 43 kasus Gumboro di Laboratorium Patologi Unggas FKH IPB pada tahun 1991 menunjukkan bahwa penyakit Gumboro dapat terjadi pada ayam pedaging maupun ayam petelur dengan kisaran umur 7-60 hari. Kehadiran Gumboro daapt menyebabkan penurunan fungsi tanggap kebal sehingga ayam lebih peka terhadap infeksi penyakit lain. Hasil kajian yang diperoleh adalah: Gumboro dapat berdiri sendiri (30.23%) atau disertai penyakit lain; seperti  ND (30.23%), CRD (9.30%), Coccidiosis (6.98%), Colibacillosis (4.67%), ND dan CRD (13.95%), ND dan Coccidiosis (2.32%), CRD dan Coccidiosis (2.32%).
Anestesi akupuntuk untuk laparatomi flak serta aplikasinya untuk laparatomi flank serta aplikasinya untuk panen embrio pada transfer embrio sapi Sabdi Hasan Aliambar; Rudy Bawolje; R. Harry Soehartono
Hemera Zoa Vol. 75 No. 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6020.404 KB)

Abstract

Penelitian ini mengaplikasi anestesi akupuntur untuk mendukung panenan embrio yang berkaitan dengan transfer embrio melalui laparatomi flank pada sapi. Penusukan jarum akupuntur dilakukan pada titik-titik Tianping, Gov. 20 dan Weigan, dengan rangsangan "Electroacupuncture" Model G.6805-2. Sapi donor dipersiapkan dengan perlakuan superovulasi, sinkronisasi berahi, kawin suntik (IB) dan kemudian panen embrio melalui laparatomi flank dengan anestesi akupuntur. Keberhasilan akupuntur sebagai anestesi pada 12 ekor sapi percobaan adalah 75%, seadngkan jumlah embrio rata-rata untuk setiap ekor sapi = 3.17. Mutu embrio yangbaik untuk transfer adalah 55.26% dengan nilai istimewa (=excellent grade).
Gambaran darah mencit yang diinfeksi dengan Trypanosoma evansi yang diiradiasi dengan sinar gama (Co-60) Lolitha T. Taparan; Muchson Arifin
Hemera Zoa Vol. 75 No. 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4252.574 KB)

Abstract

Gambaran darah mencit yang diinfeksi dengan Trypanosoma evansi yang diradiasi dengan sinar gama (Co-60). Telah dilakukan percobaan untuk mengetahui patogenitas T. evansi iradiasi. Penentuan tingkat patogenitas dilakukan dengan cara melihat gambaarn darah dari mencit yang diinokulasi dengan T. evansi iradiasi. Iradiasi parasit menggunakan sinar gama (Co-60) dengan dosis 300Gy. Dosis inokulasi 5 x 103 parasit per mencit. Waktu penyimpanan adalah 1,24 dan 48 jam setelah iradiasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa iradiasi memeberikan pengaruh terhadap patogenitas T. evansi, dan waktu penyimpanan dapat memperkuat turunnya patogenitas parasit.
Perbandingan Hasil Penyerentakan Berahi pada Sapi Perah Setelah Pemberian Progesteron-CIDR dan Prostaglandin M Agus Setiadi; M Noordin; M Agil
Hemera Zoa Vol. 75 No. 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyerentakan berahi telah dilakukan pada 3 kelompok (30 ekor) sapi perah laktasi, 2-3 bulan setelah melahirkan.Kelompok 1 menggunakan Control Internal Drug Releasing device (CIDR) yang mengandung Progesteron, kelompok 2 mnggunakan Prostaglandin dosis tunggal dan kelompok 3 sebagai kontrol menggunakan NaCl fisiologis.Gejala berahi diamati 24 jam setelah perlakuan masing-masing pada kelompok 2 dan 3.Secara statistik, berahi lebih serentak terjadi pada kelompok 1 dan 2 dibandingkan dengan kelompok 3 dan tidak ada perbedaan nyata antara kelompok 1 dan 2. 
Microscopical and immunohistochemical studies on intestinal signet-ring cell and pulmonary bronchiolar-alveolar carcinoma in cat Bambang Ponco Priosoeryanto; Ryoji Yamaguchi; Susumu Tateyama; Koudai Matsuyama
Hemera Zoa Vol. 75 No. 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A rare case of signet-ring cell (SRC) carcinoma of the intestines occurring in a cat, 9,5 years old, female was described.
Infeksi Alamiah Toxocara vitulorum pada anak sapi perah di Bayong bong, Garut Simon He; Syahril H.
Hemera Zoa Vol. 75 No. 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One hundred and two diary calves of 1-12 montha old at Bayonghong, Garut, West Java were examined  for toxacara vitulorum eggs in their feces.
Tinjauan Pustaka: Kolaborasis pada ayam pedaging I Wayan Batan; Ekowati Handayani
Hemera Zoa Vol. 75 No. 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolibasilosis pasa unggas merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan, disebabkan oleh infeksi kuman Eschericha coli.
Profil hormon progesteron dan luteinizing hormone (LH) kerbau betina dalam keadaan reproduksi normal dan setelah pemberian PGF2 Alpha G Wanananda; D Sastradipradja; P Paridjo; R Widjajakusuma; H Permadi; Iskandar .; A Soetisna; J.T. Batussama
Hemera Zoa Vol. 71 No. 1 (1983): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.441 KB)

Abstract

Dalam penelitian ini dilakukan tehnik radioimmunoassay (RIA) untuk analisa hormon progesteron dan LH pada kerbau betina bersiklus normal dan setelah pemberian PGF2 alpha. Hewan percobaan yang dipakai adalah delapan hewan krbau betina dewasa yang diberi makan dan minum secara ad libitum. Prepara PGF2 alpha yang diberikan adalah Enzaprost-F, secara intra-uterin, sebanyak dua kali pemberian dengan selang waktu sebelas hari dengan dosis 3-7 mg/hewan setiap kali pemberian. Pada profil hormon normal kadar progesteron mulai meningkat pada hari ke-6 dan mencapai puncak pada hari ke-12 yaitu 423 +- 60.3 pg/ml. Kadar progesteron pada saat estrus berkisar antara 24-253 pg/ml. Kadar LH basal adalah sekitar 0.1 pg/ml. Kadar progesteron setelah penyuntikan PGF2 alpha pertama maupun kedua berkisar antara 28-200 pg/ml. Profil LH setelah perlakuan pada dasarnya sama dengan yang diamati untuk siklus normal. Kerbau betina bersiklus normal memperlihatkan pola hormon progesteron dan LH dalam kualitas tidak berbeda dengan pola pada hewan ternak pemamah biak lain. Perbedaan itu terletak pada nilai kadar hormon yang lebih rendah yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti misalnya ciri genetik bangsa hewan dan mungkin juga berbagai keadaan cekaman (stress) seperti kualitas dan kuantitas makanan yang kurang baik, kondisi eksperimen, tatalaksana yang kurang baik dan sebagainya. Perlakuan dengan PGF2 alpha menyebabkan regresi corpus luteum yang dicerminkan oleh penurunan kadar peogeteron sampai ke nilai basal. Tumbuhnya puncak LH merupakan indikasi terjadinya ovulasi. Berdasarkan data tersebut, PGF2 alpha dapat dipakai sebagai penyerentak birahi pada kerbau yang diikuti oleh kemungkinan fertilitas, jika didukung oleh proses pematangan ovum yang cukup pada saat pemberian PGF2 alpha yang kedua.
Penyakit Gumboro di Indonesia serta akibatnya bagi peternak ayam M Partadiredja; W Rumawas; Irawan Suharyanto
Hemera Zoa Vol. 71 No. 1 (1983): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1528.507 KB)

Abstract

Sejumlah 2000 ekor ayam jantan berumur 4 minggu, pada sebuah peternakan di Kabupaten bogor, terserang penyakit. Ayam-ayam tersebut telah mendapat vaksinasi terhadap Newcastle disease (ND) sebanyak dua kali. Secara klinis ayam-ayam tersebt menderita ND dengan tanda torticollis dan mortalitas tinggi, yang dalam jangka waktu dua minggu mencapai 75%. Dari pemeriksaaan patologi-anatomik terlihat kelainan-kelainan sebagai berikut:bursa Fabricius membesar, oedema dan hemorhagi. Eksudat ada yang berlendir dan ada yang mengiju. Secara histopatologik terlihat ada oedema, nekrose sel limfoid dan proliferasi sel-sel retikulo-endotel. kelainan di atas merupakan ciri-ciri khas dari ayam yang menderita Gumboro. Mengingat bahwa penyakit Gumboro sudah ditemukan di Indonesia dan sangat membahayakan bagi perkembangan peternakan ayam, maka vaksinasi terhadap penyakit ini baik pada ayam pembibit maupun pada ayam petelur dan pedaging perlu dilakukan.