cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
AEVI-6 Investigasi Outbreak Bovine Bruselosis pada Peternakan PT. X di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Siak Tahun 2018 Dewi Anggreini; Helmi Khrisstiani; . Guswandi; Ely Susanti
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.905 KB)

Abstract

Bruselosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder menyerang berbagai jenis hewan lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal pula sebagai penyakit keluron menular atau penyakit Bang (Bang disease) (Anonimus, 2014). Provinsi Riau dinyatakan bebas bruselosis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 2541/Kpts/PD.610/6/2009 Tentang Pernyataan Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau Bebas dari Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada Sapi dan Kerbau.PT. X adalah sebuah perusahaan sawit yang berada di dua lokasi yaitu di Desa Bina Baru Kabupaten Kampar dan Desa Libo Jaya Kabupaten Siak. Di kedua lokasi perusahaan tersebut terdapat peternakan sapi yang dikelola oleh 1 orang manajer peternakan dan 1 orang petugas kesehatan hewan yang bertanggung jawab untuk kedua peternakan, dibantu oleh pekerja kendang pada setiap peternakan. Pada akhir Maret 2018 telah dilakukan uji RBT terhadap sampel dari peternakan PT. X Desa Bina Baru yang diperoleh hasil positif.Tujuan kegiatan adalah melakukan (1) penelusuran terhadap hasil pengujian positif (+) RBT sampel yang diuji di laboratorium UPT Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, (2) mencari sumber penularan dan faktor risiko masuknya bruselosis ke Kabupaten Kampar, (3) untuk mengidentifikasi pola penyebaran bruselosis di Kabupaten Kampar, (4) memberikan rekomendasi pengendalian outbreak.
AEVI-7 Investigasi Outbreak Csf Di Kabupaten Sleman Tahun 2018 Dwi Hari Susanta; Muhammad Afdal Darul; Rina Astuti Rahayu; Sugi Winarsih
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.278 KB)

Abstract

Penyakit CSF atau Clasikal Swine Fever atau Hog Cholera pada babi merupakanl yang mepenyakit viral yang menular  menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat serius.Gejala klinik nafsu makan hilang, diikuti dengan demam tinggi sampai dengan 40° C, muntah, diare, dan timbul bercak – bercak merah diseluruh tubuh. Tingkat kematian babi karena penyakit ini bervariasi antara 0-100% tergantung pada kerentanan kawanan ternak, starin virus dan umur ternak. Kandang yang kotor, udara sekitar kandang lembap dan sistem pemeliharaan yang tidak hiegenis turut menjadi pemicu timbulya penyakit ini. Masa inkubasi penyakit ini 6-7 har. babi mati hari ke-7 – 10 pasca sakit. Mortalitas pada penyakit Hog Cholera pada babi bisa mencapai 100%. Penularan penyakit ini cara yaitu kontak langsung dan kontak tidak langsung, Penularan bisa secara horizontal ataupun vertikal, yakni dari induk kepada fetus yang dikandung (Subronto 2003).Hasil Monitoring vaksinasi CSF tahun 2017 pada perternakan babi diwilayah kerja Balai Besar Veteriner Wates tidak ditemukan gejala klinis yang mengarah ke penyakit CSFInvestigasi kematian babi yang diduga disebabkan oleh virus Classical Swine Fever (CSF) oleh tim Balai Besar Veteriner Wates (BBVet Wates) di Dusun Gancahan 6, Desa Sidomulyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. berdasarkan permohonan dari Dinas Pertanian Sleman No.520/2956 tanggal 9 Juli 2018 perihal survaillans penyakit pada ternak babi. Berdasarkan laporan tersebut Balai Beser Veteriner mengeluarkan surat PerintahTugas No.10001/TU.040/F5.D/07/2018 tanggal 10-11 Juli 2018 untuk melaksanakan tugas investigasi kasus penyakit pada babi diwilayah kerja puskeswan Godean Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa YogyakartaTujuan Kegiatan Investigasi kejadian kematian babi  di Dusun Gancahan 6, Desa Sidomulyo Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah mengetahui kasus penyebab penyakit  pada babi.
AEVI-8 Investigasi Outbreak Avian Influenza di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2017 Adi Santosa; Susanti Sri Rejeki
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.24 KB)

Abstract

Desa Suryakanta Kecamatan Wanaraya merupakan daerah yang terisolir ditengah tengah Perkebunan sawit. Selain bertani dan berkebun penduduk desa mempunyai usaha sambilan berupa ternak sapi dan unggas,. Belum pernah ada laporan Penyakit Avian influenza ( AI)  pada unggas di desa Suryakanta.Telah dilaporkan adanya kematian unggas di desa ini pada akhir bulan Februari dengan gejala, kematian yang mendadak, Kepala dan kaki  kebiruan. Unggas yang mati adalah ayam kampung, ayam ras pedaging, ayam bangkok  dan itikAvian influenza disebabkan oleh infeksi dari virus yang tergolong familii Orthomyxoviridae genus Influenzavirus A. Virus influenza A diklasifikasikan menjadi subtype berdasarkan antigen haemaglutinin (H) dan neuroaminidase (N). Saat ini OIE Terrestrial Animal Health Code (Terrestrial Code) mendefinisikan infeksi avian influenza pada unggas disebabkan oleh virus Influenza A dengan high pathogenicity (HPAI), dan infeksi subtype H5 dan H7 merupakan low pathogenicity (LPAI) (OIE Terrestrial Manual, 2015).Bergantung pada spesies, umur dan jenis unggas atau burung, karakter spesifik dari strain virus yang terlibat, faktor lingkungan, tingkat patogenesitas penyakit pada burung atau unggas yang mungkin terinfeksi sangat bervariasi. Gejala yang ditunjukannya, dapat menunjukkan kematian mendadak dengan tidak ada gejala yang terlihat sampai menunjukan karakteristik penyakit yang sangat bervariasi termasuk gejala pernafasan seperti leleran dari mata dan nasal, batuk, sesak nafas, pembengkakkan pada sinus atau kepala, konsumsi pakan dan air, sianosis pada  kulit yang tidak berbulu, pial dan jengger, inkoordinasi dan gejala syaraf serta diare (OIE Terrestrial manual, 2015).Tujuan kegiatan adalah mengetahui penyebab wabah kematian unggas pada peternakan rakyat di Desa Suryakanta, Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala.
AEVI-9 Investigasi Outbreak Avian Influenza Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2018 Eka Oktarianti; . Efiana; Betty Indah Purnama
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.972 KB)

Abstract

Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan daerah sentral perunggasan di Sumatera Barat.. Populasi unggas di Sumatera Barat adalah 33.636.500 ekor, 32% dari populasi tersebut terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota (BPS. 2018).Avian Influenza merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus influenza tipe A, dapat menyerang beberapa jenis unggas dengan angka mortalitas yang tinggi. Strain virus AI dibedakan menjadi low pathogenic (LPAI) dengan tanda klinis ringan dan high pathigenic (HPAI) dengan beberapa tanda klinis parah dan mortalitas yang tinggi (OIE).Tujuan penyidikan kematian ayam petelur di Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota adalah untuk menyelidiki kasus kematian unggas yang terjadi di Kecamatan Mungka, mengidentifikasi faktor risiko, sumber penularan dan merumuskan rekomendasi langkah-langkah pengendalian.
AEVI-10 Investigasi Outbreak MCF di Kabupaten Musi Rawas Tahun 2016 Eko Agus Srihanto; A J Siswanto; B Triwibowo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.536 KB)

Abstract

Malignant Catarrhal Fever (MCF) merupakan penyakit viral yang menyerang sapi, rusa, bison, kerbau dan ruminansia lainnya. Sapi muda biasanya lebih rentan terutama yang dipelihara bersama domba (Damayanti, 2005). Penyakit ini kebanyakan berakibat dengan kematian (Teankam et al., 2000; Schultheiss, et al., 2000; Barker et al., 1993). MCF disebabkan oleh alcelaphine herpesvirus 1 (AlHV-1) dan ovine herpesvirus 2 (OvHV-2) (Fenner et al., 2011). Penyakit bersifat sporadik dengan tingkat  kematian dapat mencapai  100%  (Hamilton,  1990),  meskipun ada hewan yang sembuh setelah terserang MCF (Penny, 1998). Penyakit  MCF di  Indonesia dilaporkan pertama  kali  oleh  Paszotta  pada  tahun  1894  di Kediri,  Jawa  Timur  (Mansjoer,  (1954)  dalam Khatimah, dkk. 2014).  Penyakit  MCF telah  tersebar  hampir  di seluruh  Indonesia.  Namun di beberapa  daerah  banyak  kejadian  MCF  tidak terdiagnosis  atau  tidak dilaporkan.  Kerugian yang  ditimbulkan  akibat  penyakit  MCF  cukup besar  terutama  jika  kasus  penyakit  ini  terjadi pada hewan bibit. Kejadian penyakit MCF pada sapi bali di lapangan  sering  dikaitkan  dengan adanya ternak domba (Partadiredja et al., 1988). Lesi sapi penderita MCF dapat dilihat dari  gambaran  patologi anatomi dan histopatologi yang patognomonik  yaitu  vaskulitis  berupa  infiltrasi limfosit, makrofag, neutrofil  dan  sel  plasma pada  beberapa  organ seperti otak, paru-paru, hati, jantung dan usus (Liggit dan De Martini, 1980).  Kegiatan penyidikan kematian sapi bali  yang diduga disebabkan oleh Malignant Catarrhal Fever virus oleh tim Balai Veteriner Lampung di Kabupaten Musi Rawas dilaksanakan berdasarkan permohonan investigasi oleh Dinas Peternakan Kabupaten  Musi Rawas  mengenai adanya laporan kasus kematian sapi bali dengan gejala klinis mengarah pada penyakit  MCF di desa L Sidoharjo Kecamatan Tugu mulyo. Berdasarkan laporan tersebut maka Balai Veteriner mengeluarkan Surat Perintah Tugas No. 16001/TU.040/F5.C/09.2016 untuk melakukan penyidikan bersama dinas Peternakan Kabupaten Musi Rawas.Tujuan kegiatan adalah melakukan penyidikan kejadian kematian sapi bali di Kabupaten Musi Rawas, melakukan pengumpulan data epidemiologis, pengambilan spesimen di lapangan untuk mengetahui penyebab kematian sapi bali di Kabupaten Musi Rawas.
AEVI-11 Investigasi Outbreak Pneumonia pada Peternakan X di Kabupaten Banyumas Tahun 2018 Basuki R Suryanto; K Enggar; . Suhardi; D Pratamasari; P Bagoes
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.384 KB)

Abstract

Semua rumpun kambing pada dasarnya dapat diperah dengan jumlah produksi susu yang beragam. Beberapa jenis kambing yang dianggap benar-benar sebagai kambing perah diantaranya adalah Saanen, Jamnapari, Toggenberg, Anglo, Nubian, British Alpin dan Etawah. (Sutama, 2007). Penyakit yang sering terjadi pada ternak kambing perah adalah diare. Penyebab penyakit utama yang diidentifikasi adalah coccidiosis, disertai oleh pneumonia, yang menyebabkan kematian yang sangat tinggi di antara anak-anak kambing. Masalah penyakit ini sebagian besar terkait dengan manajemen, dan diperburuk oleh kepadatan yang berlebihan dan akibatnya kebersihan yang buruk; tetapi kehadiran rotavirus mungkin juga signifikan. Peternakan kambing seperti semua usaha peternakan lainnya, sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu Breeding, Feeding dan Management.
AEVI-12 Investigasi Kematian Sapi Potong di Desa Banjararum Kalibawang Kulonprogo Tahun 2017 Estu Widodo; . Yuriati; . Hariah
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.687 KB)

Abstract

Sapi potong merupakan ternak ruminansia besar yang berperan penting sebagai penghasil daging peringkat tertinggi nasional (Puslitbangnak, 2000). Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang ikut berperan dalam pencapaian target swasembada daging. Terdapat beberapa penyakit yang menyerang ternak di kabupaten Kulon progo dan berpotensi besar terhadap kegagalan pencapaian program peternakan. Salah satu penyakit hewan yang muncul di tahun 2017 adalah penyakit antraks (Purbadi,2017). Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyelidiki kasus kematian sapi yang terjadi di Dusun Klepu Banjararum Kalibawang  Kulon Progo, dan mengidentifikasi faktor penyebab, sumber penularan serta merumuskan rekomendasi langkah-langkah pengendalian.
AEVI-13 Investigasi Outbreak Bovine Brucellosis di Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Tahun 2017 Felisitasn Kristiyanti; U I Apriliana; . Hariyah; . Sutomo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.838 KB)

Abstract

Brucellosis merupakan salah satu PHMS yang mendapat prioritas nasional dalam pengendalian dan penanggulangannya oleh Pemerintah baik pusat maupun daerah sesuai dengan SK Mentan Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013. Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Brucellosis pada ternak betina menyebabkan abortus pada umur kebuntingan trisemester terakhir tetapi setelah 1-2 kali abortus, kelahiran dan produksi susu kembali normal. Beberapa kasus menjadi karier atau mandul. Brucellosis merupakan penyakit zoonosis  dan juga  merupakan food borne disease yang dapat ditularkan melalui air susu yang tidak dimasak dengan baik. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi tertular brucellosis dengan prevalensi <2% (Kementan, 2012).Tujuan dari investigasi ini adalah  untuk mengetahui penyebab kejadian abortus pada ternak sapi, mengumpulkan data epidemiologis. melakukan pengambilan dan pengujian sampel, mengetahui sumber penularan penyakit dan melakukan pengendalian penyakit.
AEVI-14 Investigasi Outbreak Penyakit Jembrana Di Desa Hang Tuah, Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau Tahun 2017 . Guswadi; D K Nurgoho
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.84 KB)

Abstract

Penyakit Jembrana di Provinsi Riau pertama kali terdeteksi pada tahun 2013 dan sampai akhir tahun 2016 penyakit ini telah menyebar di seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Riau. Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular pada sapi Bali, ditandai dengan demam tinggi , peradangan selaput lendir mulut (stomatitis), pembesaran kelenjar limfe preskapularis, prefemoralis dan parotid, terkadang disertai keringat darah (blood sweating),mencret sering disertai darah dalam tinja terjadi pada beberapa hari setelah hewan demam dan atau menjelang kematian.,. Kerugian ekonomi yang diakibatkan penyakit Jembrana cukup bisa mencapai 100% dan dapat mempengaruhi lalu lintas ternak antar pulau.Penyakit Jembrana disebabkan oleh Retrovirus anggota group Lentivirus yang unik dan disebut Jembrana Disease Virus (JDV). Penyakit Jembrana menyerang sistem kekebalan tubuh. Penularan secara mekanis  dapat terjadi melalui insekta penghisap darah, seperti lalat Tabanus rubidus. Secara eksperimental, penyakit Jembrana dapat ditularkan melalui oral, lubang hidung, konjungtiva mata dan semen. Diagnosa banding untuk penyakit ini adalah Diare Ganas pada sapi (Bovine Viral Diarhea/BVD), penyakit Ngorok (Septicemia epizooticae/SE) dan enyakit Ingus (Malignant Catarrhal Fever/MCF). Pemeriksaan laboratoris, sangat diperlukan untuk membedakan penyakit-penyakit tersebut.Kegiatan penyidikan penyakit yang diduga terinfeksi penyakit jembrana di Desa Hang Tuah, Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau ini dilakukan dalam rangka investigasi lapangan berdasarkan laporan Peternak (Bapak Sarniman)Tujuan kegiatan adalah melakukan penyidikan kejadian kematian sapi, pengumpulan data epidemiologis dan mengetahui sebab, faktor resiko dan pola penyebaran penyakit dan memberikan saran tindakan pencegahan serta pengendalian penyakit yang menyebabkan kematian sapi yang diduga disebabkan oleh penyakit Jembrana di Desa Hang Tuah, Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada bulan Desember 2017.
FA-3 Production Trait of Crossbreed Cattle and Reproductive Disorders in Brahman Cross (BX) Breeding Program at PT Lembu Jantan Perkasa Berlin Pandapotan Pardede; Bakti Tamba; Sutrisnak Sutrisnak; I Ketut Karya Wisana; Harianto Budi Rahardjo; Muhammad Agil; Tuty L Yusuf
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.964 KB)

Abstract

The feedlot industry in Indonesia has developed very rapidly, along with the increase in meat consumption. Brahman Cross (BX) is an imported beef cattle from Australia which is widely used by feedloters as broodstock. Feedloter chooses BX cattle because besides the price is quite cheap, this breed also has a very good growth factor [1].In order to support the self-sufficient of beef meat, feedloters who imported BX from Australia have to conduct breeding program as part of the Ministry of Agriculture decree no. 02/PERMENTAN/PK.440/2/2017 related to the import of ruminants into Indonesia. BX Cattle is often crossed with other breeds through artificial insemination programs, in order to provide calving ease and to produce high-weight cattle.Beside the target to produce good body weight and average daily gain (ADG) of the calf from crossbreeding, the feedloters have also to manage the breeding efficiently by taking care of the reproductive disorder that might be affected the production.  Good reproductive efficiency will have a positive impact on increasing livestock production [2]. In various breeding programs, there are many factors that can affect the reproductive efficiency of cattle, such as reproductive disorders. Reproductive disorders can be a major economic problem in a farm. These reproductive health problems can be the bottleneck in the production process and productivity in the livestock sector [3].Therefore, this study will discuss the production performance in various cross-breed cattle and reproductive disorders in a feedlot breeding program.