cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
PF-17 The Development of Crude Testicular Cells in In Vitro Culture Wahono Esthi Prasetyaningtyas; Ni Wayan Kurniani Karja; Srihadi Agungpriyono; Mokhamad Fahrudin
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.568 KB)

Abstract

Spermatogenesis is a continuous process in which spermatogonial stem cells (SSC) develop into specific germ cells before terminally differentiating to form spermatozoa.  The process is supported by Sertoli cells, which are in close contact with germ cells in the seminiferous tubules. Sertoli cells provide essential hormonal signals, nutrients, and physical support to germ cells for successful spermatogenesis.The crude testicular cells (CTC) contains many cell types, like Sertoli cell, Leydig cell, spermatogonial stem cell (SSC), spermatocyte and other testicular somatic cells (Shah et all. 2016). Testicular cells are believed to secrete various growth factors that induced the spermatogenesis process.  The spermatogonial stem cells are unique population of cells in the male testis, which dual function.  First self-renewing their population to maintain the number of stem cells, secondary function is differentiating into spermatids in testis (Wang et al.  2015).Spermatogenic cells differentiation  needed the similar microenvironment in vivo spermatogenesis.  The essential nutrients was collected from healty culture and the culture contained mixed population of cells both the somatic cells and spermatogenic cells.  To identification the spermatogenic cells using Periodic Acid Schifft (PAS) staining (Chang et al. 2011). The present study examined the development of crude testicular cells using PAS staining.
PF-18 Photomicrograph of Nanogel Andrographolide-Beta Cyclodextrine Inclusion Complex As Anti-Burns Bayu Febram Prasetyo; Ietje Wientarsih; Dondin Sajuthi; Vetnizah Juniantito
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.194 KB)

Abstract

Inclusion complex is a complex formed between drug molecules which act as guest or located inside the cavity of host molecule. Host molecules are commonly originated from the derivative group of cyclodextrin. Among cyclodextrin groups, beta cyclodextrin (BCD) is mostly used in formula development and drug delivery system [1].Andrographolide (AG) is a pure isolate chemically syntesized from sambiloto herbs (Andrographis paniculata Nees), in the form of needle cystal-like which is colorless and extremely bitter. AG has variety of medical properties, particularly as anti-inflamation to treat skin burns [2]. However AG has poor solubility in water. This will result in low abillity to solute, penetrate membrane, and distribute the drug when applied transdermally in burn skin. In burn skin, there is tendency to skin damage, especially in stratum corneum which acts as semipermeable barrier. The ability of drugs that applied transdermally tends to be high.Formation of inclusion complex using AG and BCD to increase the ability of AG in penetrating membrane should be done. Transmission Electron Microscope (TEM) is a fast technique to confirm the formation of drug or inclusion complex by  comparing the shape and particle size [3]. Study on percutaneous penetration of AG-BCD inclusion complex is produced through solvent evaporation method at mole ration 1:2 in viscolam gel preparation.
PF-19 Professional Wellness for Veterinarians Nienke Endenburg
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.031 KB)

Abstract

Personal and professional wellness of veterinarians and veterinary staff are receiving increased attention in veterinary publications and conferences, social media and the non-veterinary press. Recent suicides of high-profile, socially-harassed or victimized veterinarians have caused consternation within the profession.  There is an increased recognition that stress and compassion fatigue coupled with a demanding workplace environment are adversely affecting the mental well-being and physical health of veterinarians.
PF-20 Successful Surgical Restoration with Enterorrhaphy after Rectal Prolapse in Experimental Animals Hidetoshi Ishibashi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.015 KB)

Abstract

Complete rectal prolapse is the protrusion of the entire thickness of the rectal wall through the anal sphincter complex. Women aged 50 and older are 6 times as likely as men to present rectal prolapse. Two thirds of women patients are multiparous and 15 to 30% report associated urinary dysfunction and vaginal prolapse.The common marmoset (Callithrix jacchus) has been used increasingly in recent years for studies in bio-medical fields. The primate institute in National Center of Neurology and Psychiatry Japan was founded in 2005. Since then the number of marmoset gradually increased and 320 to 350 marmosets were housed in 2012. Averaged number of housed marmosets throughout the period is about 300. In the history of the institute, two cases of traumatic rectal prolapse, which had not been reported in marmosets, were found. This paper reports the etiology and the possible surgical treatment of marmoset rectal prolapse.
KIVEQ-1 Kasus Torsio Usus dan Ruptur Akibat Enterolith Budhy Jasa Widyananta; Fitri Dewi Fathiyah; Wiwid Rhuwaida; Arif Rahman
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.256 KB)

Abstract

Kejadian enterolith pada kuda di Indonesia sangat sering dilaporkan, akan tetapi saat ini masih belum cukup literatur yang membahas tentang gejala klinis dan teknik diagnosanya.Rose at al, 2003 mengatakan Enterolith merupakan konsentrasi mineral yang umumnya terbentuk pada usus besar walaupun terkadang dapat muncul sebagai sumbatan di usus halus.Pakan dengan kandungan nitrogen, magnesium dan phospor yang tinggi diperkirakan menjadi salah satu penyebab terbentuknya entertolith. Alfalfa (lucerne) hay merupakan salah satu pakan yang mengandung nitrogen dan magnesium dalam jumlah tinggi (Rose et al, 2003)
KIVFA-1 Prevalensi Japanese Encephalitis pada Ternak Babi di Beberapa Lokasi Peternakan di Sulawesi Utara Sri Adiani; Albert J Podung
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.809 KB)

Abstract

Japanese encephalitis adalah penyakit viral zoonotik yang ditularkan oleh nyamuk.  Penyakit ini disebabkan oleh arbovirus (arthropod borne virus) yaitu dari famili Flavivirus yang menyerang susunan sayaraf pusat (Central Nervus System).  Di alam, virus ini dapat bertahan hidup dalam tubuh unggas liar (seperti pada bangsa burung bangau) dan juga hewan-hewan lainnya, terutama pada hewan babi.  Infeksi pada manusia, virus tersebut dapat menyebabkan penyakit syaraf yang serius.  Gejala umum penyakit tersebut antara lain seperti: sakit kepala, demam tinggi, leher terasa kaku (kaku kuduk), pergerakan yang tidak normal (tremor dan kejang-kejang pada anak-anak), mengganggu kesadaran dan koma.  Tingkat keparahan (Case Fatality Rate) dari penyakit ini berkisar 20% - 40%. (Anonim, 2006).Virus J. encephalitis adalah virus yang dikelompokkan ke dalam Arbovirus (Arthropod Borne Virus) tipe B, sehingga sering disebut sebagai penyakit Japanese B Encephalitis.  Nama virus ini adalah Flavivirus encephalitis.  Selain menyerang manusia, virus ini dapat menyerang pada kelompok ternak seperti: kuda, keledai dan babi.  Pada kelompok hewan lainnya, virus inipun dapat menyerang, seperti: sapi, kambing, kucing dan anjing, namun dengan gejala penyakit yang tidak spesifikAgen penyakit J. encephalitis dapat disebarkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi sebagai vektor.  Pada ternak babi yang terinfeksi, virus ini akan menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah (viremia) dalam kadar yang tinggi dan dalam waktu yang relatif lama.  Oleh sebab itu, ternak babi merupakan hewan reservoir (Amplify Host) yang penting bagi penyebaran penyakit ini (Anonimous, 2011).  Manusia merupakan dead-end bagi penularan virus J. encephalitis, karena viremia yang terjadi cepat dalam peredaran darah.  Viremia pada penderita hanya beberapa jam saja sehingga sulit ditularkan ke orang lain.  Siklus pemularan yang penting untuk suatu tingkat endemisitas suatu daerah adalah siklus penularan di hewan terutama pada babi yang didukung oleh populasi nyamuk sebagai vektor penyakit J. encephalitis. Beberapa penelitian berhasil menunjukkan bahwa babi dianggap sebagai reservoir utama penularan virus Japanese di Indonesia,Tidak adanya gejala klinis yang khas dari penyakit J. encephalitis pada hewan. diagnosa sulit dilakukan, sehingga pemeriksaan laboratorium terhadap penyakit J. encephalitis mutlak diperlukan (Sendow dkk., 2000).  Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan serologis, seperti uji inhibisi haemaglutinasi, netralisasi serum atau ELISA.  Untuk mendeteksi adanya antibodi yang ditimbulkan oleh infeksi alami virus J. encephalitis, maka metode ELISA merupakan salah satu uji spesifik yang dapat dipakai sebagai diagnosa serologis terhadap adanya antibodi J. encephalitis (Hadi dkk, 2011).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran, prevalensi dan besarnya angka infeksi virus J. encephalitis pada ternak babi dengan mendeteksi adanya antibody J. encephalitis menggunakan uji Competitve Enzyme Lingked Immuno Assay (C-ELISA).  Dengan diketahuinya penyebaran infeksi virus J. encephalitis pada babi di Provinsi Sulawesi Utara, secara tidak langsung bisa dijadikan sebagai indikator kemungkinan adanya ancaman penularan virus J. encephalitis ke manusia, apalagi bila lokasi peternakan babi berdekatan dengan pemukiman penduduk.Penelitian dilaksanakan pada 4 (empat) lokasi kandang di Provinsi Sulawesi Utara, dengan mendeteksi adanya antibodi yang ditimbulkan oleh infeksi alami virus J. encephalitis.
KIVFA-2 Efek Imunomodulator terhadap Profil Leukosit Induk Sapi Friesian Holstein yang Diberi Antigen AI H5N1 Inaktif Sri Murtini; Anita Esfandiari; Sus Derthi Widhyarti; Retno Wulansari; Leni Maylina; Arif Purwo Mihardi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.156 KB)

Abstract

Immunomodulator adalah zat yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan  atau menekan respon imun. Cox (1988) melaporkan bahwa pengaruhnya  selain terhadap  respon imun, imunomodulator juga dapat memodulasi haematopoiesis, termasuk peningkatan jumlah RBC dan WBC (leukosit), peningkatan PCV dan aktivasi makrofag.  Sapi friesian holstein (FH) merupakan sapi perah yang dapat digunakan sebagai hewan donor penghasil immunoglobulin G anti AI H5N1 melalui produk kolostrumnya (Esfandiari et al, 2007).  Guna meningkatkan titer immunoglobulin pada hewan donor hiperimun sera umumnya hewan diberi imunomdulator.  Berbagai jenis bahan seperti glucan, lectin, dan berbagai jenis polisakarida dari tanaman maupun hewan (Alamgir dan Uddin 2010) serta polipeptide ribonukleotida dapat digunakan sebagai imunomodulator.(Hess dan Greenberg 2012)  Penggunaan  polipeptida ribonukleotida sebagai imunomodulator ada sapi saat ini belum banyak diteliti.  Pemberian imunomodulator memberikan dampak perubahan gambaran leukosit secara langsung maupun tidak langsung.  Dampak pemberian imunomodulator jenis polipeptide ribonukleotida pada sapi FH bunting trimester terakhir untuk tujuan produksi hiperimunsera melalui produksi kolostrum belum pernah dilaporkan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian imunomodulator peptide ribonukleotida pada sapi FH yang disuntik antigen AI H5N1 inaktif.
KIVFA-3 Analisis dan Kajian Kadar Logam dalam Darah Sapi Potong Erni Sulistiawati; Cynthia Novita; Puji Rahayu
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.679 KB)

Abstract

Beberapa pemilik hewan ternak menggembalakan hewan ternaknya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemeliharaan seperti ini dilakukan karena keterbatasan ladang penggembalaan dan pertumbuhan rumput yang tidak sebanding dengan kebutuhan pakan sapi.   Masuknya mineral logam berbahaya ini tidak hanya melalui proses memakan, melainkan dapat juga melalui air minum atau kebiasaan ternak yang suka menjilat segala benda yang terdapat di TPA. Pakan sapi yang tercemari oleh berbagai bahan cemaran seperti material logam akan menimbulkan kerugian yang memang tidak secara langsung membunuh ternak, namun meterial logam berbahaya tersebut dengan kadar tinggi khususnya timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dapat membahayakan kesehatan sapi dan munusia yang mengkonsumsi daging sapi potong tersebut (3)(10)(11). Selain itu akumulasi logam lainnya yang berlebih  pada daging sapi dapat juga sejumlah tanda klinis diare, kelemahan otot dan gangguan fungsi ginjal (1) dan kanker.Tujuan penulisan ilmiah ini  adalah mendapatkan informasi analisis kandungan berbagai jenis material logam seperti timbal (Pb), cadmium (Cd), cobalt (Co), cuprum (Cu), Zink (Zn) dan Magnesium (Mg) dalam darah sapi potong dan mengkaji dampak kandungannya pada tubuh sapi potong.
KIVFA-4 Studi Kasus Squamous Cell Carcinoma Mata pada Sapi Simmental Notel 1628 Bahagia Sari
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.886 KB)

Abstract

Berdasarkan kasus penyakit pada tahun 2016 yang menyerang mata pada sapi Simmental dengan nomor telinga 1628, beberapa hal menjadikan kasus ini menarik perhatian medis, antara lain kejadian penyakit mata ini lebih sering menyerang pada sapi simmental dengan gejala klinis awal berupa bola mata yang mengalami konjunctivitis mata, rongga mata mengalami peradangan, semakin lama mata menjadi melepuh,  terdapat sekresi terus menerus cairan nanah dan air mata, berbau busuk , terjadi ganrene bola dan rongga mata, dan sering terdapat myasis (luka berbelatung) pada rongga mata serta biasanya terdapat abses pada bagian pipi. Penyebab kerusakan bola mata pada sapi belum diketahui secara pasti. Beberapa dugaan penyebab kerusakan mata sapi yang pertama oleh infeksi kuman pathogen, yang kedua  oleh non infeksius seperti terkena cairan kimiawi (ascarisida), terkena serbuk rumput, atau partikel-partikel debu (polutan), yang ketiga oleh carsinogen yang menyebabkan tumor atau kanker mata. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan studi kasus pada sapi Simmental dengan notel 1628.
KIVFA-5 Analisis Manfaat Biaya Pengendalian dan Pemberantasan Hog Cholera di Provinsi Nusa Tenggara Timur Ewaldus Wera; Joko Daryono; Rian Nurcahyono; Cons Joel Tukan; Ferdinandus Rondong; Rivanda Ansori
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.396 KB)

Abstract

Hog cholera masih merupakan ancaman bagi kelangsungan produksi ternak babi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Paling kurang 10,000 ekor ternak babi mati karena Hog Cholera pada tahun 2017. Wabah ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi peternak dan pemerintah daerah. Hal ini mendorong pemerintah menetapkan Penyakit hog cholera sebagai salah satu penyakit strategies yang mendapat prioritas dalam pemberantasanya (Peraturan Dirjen Peternakan No. 59/Kpts/PD610/05/2007). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengambil langkah-langkah konkrit dalam mengendalikan dan memberantas penyakit hog cholera antara lain vaksinasi, stamping out policy, biosekuriti dan pengetatan lalu lintas ternak. Pemberantasan hog cholera pada ternak babi melalui vaksinasi massal telah dilakukan di seluruh daerah endemik hog cholera di Indoensia. Walaupun pemberian vaksin pada ternak telah terbukti mampu menurunkan kasus hog cholera pada ternak babi (Ahrens et al., 2000; Bouma et al, 2000; 1999; de Smit et al 2001) namun cakupan vaksinasi pada populasi ternak babi di Indonesia umumnya dan NTT khususnya masih sangat rendah. Salah satu faktor pemicu rendahnya cakupan vaksinasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terutama pemilik ternak terkait akan biaya dan manfaat program vaksinasi hog cholera. Oleh karena itu analisis manfaat biaya investasi pada program vaksinasi hog cholera perlu dilakukan sebagai acuan dalam menyusun rencana strategis pengendalian dan pemberantasan hog cholera dimasa yang akan datang.