cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
KIVSA-1 Framework Evaluasi Titer Antibodi Rabies Ewaldus Wera; Petrus Malo Bulu
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.2 KB)

Abstract

Rabies atau lebih dikenal sebagai penyakit anjing gila masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia pada umumnya dan Pulau Flores khususnya. Menurut data kementerian kesehatan, di Flores, kasus rabies dilaporkan ada di 6 kabupaten dengan jumlah kasus gigitan anjing rabies sebanyak 2000 orang setiap tahun dan 10 orang diantara meninggal dunia. Langkah efektif mencegah rabies pada manusia adalah vaksinasi populasi anjing dengan cakupan 70% (WHO, 2013). Namun seringkali ditemukan dilapangan kasus rabies pada anjing yang sudah divaksinasi. Hal ini disebabkan oleh gagalnya sistem imun anjing membentuk kekebalan yang mampu melawan virus rabies (≥ 0.5 IU/ml) (WHO, 2012). Beberapa faktor potensial penentu dalam proses pembentukan kekebalan seperti ras, umur, jenis kelamin, status vaksinasi, waktu penggambilan darah setelah vaksinasi dan jenis vaksin yang digunakan (Mansfield, et. al., 2004). Kegagalan anjing membentuk kekebalan pasca vaksinasi akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia sebab 98% kasus rabies pada manusia ditularkan oleh anjing (WHO, 2013).Penelitian-penelitian terdahulu terkait respon kekebalan anjing pasca vaksinasi masih sangat terbatas pada daerah perkotaan negara-negara maju (Mansfield, et. al., 2004; Kennedy et al., 2007; Minke et al., 2008; Jakel et al, 2008) yang mana sistem pemeliharaan anjing sangat berbeda dengan situasi di daerah pedesaan negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai contoh, di negara maju anjing umumnya mendapat tempat yang layak dalam rumah sebagai bagian dari keluarga. Sebaliknya di negara yang sedang berkembang terutama di daerah pedesaan anjing dibiarkan berkeliaran baik siang maupun malam hari. Sebagai kosekuensi status gizi anjing dan status kekebalan anjing terhadap penyakit rabies juga akan berbeda dengan sistem pemeliharaan yang berbeda. Vaksinasi pada anjing merupakan langkah utama pencegahan penularan rabies kepada manusia, namun kajian terkait respon kekebalan anjing yang divaksinasi belum pernah dilakukan di Pulau Flores.Untuk mendukung pengembangan strategi pemberantasan rabies yang efektif dan efisien dibutuhkan data lapangan yang akurat antara lain data titer kekebalan pasca vaksinasi. Pengukuran titer kekebalan harus dilakukan secara berseri/berulang, misalnya hari ke-0, 30, 90, 180, dan 360 paska vaksinasi. Hal ini dilakukan untuk melihat trend pembentukan kekebalan tubuh anjing paska vaksiansi. Data yang terkumpul akan di jadikan input terkait waktu yang tepat dalam melakukan vaksinasi ulang (booster).
KIVSA-2 Kajian Retrospektif Endemisitas dan Beberapa Faktor Penyebab Kasus Rabies Periode Tahun 2013 – 2018 di Kota Banjarbaru Propinsi Kalimantan Selatan Rina Parlina; Widodo Pudjiatmoko
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.857 KB)

Abstract

Rabies merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Rabies yang termasuk dalam famili rhabdovirus dan menyerang susunan syaraf pusat dan bersifat menular kepada manusia. Korbannya selalu berakhir dengan kematian jika tidak segera diberikan VAR (Vaksin Anti Rabies). Virus ini hidup pada beberapa jenis hewan yang berperan sebagai perantara penularan (Dharmojono, 2001)Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 4026/ Kpts/ OT.140/ 4/ 2013 tentang 25 jenis Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), Rabies merupakan salah satu PHMS prioritas.Untuk mendukung pelaksanaan program pemberantasan penyakit Rabies, maka kami perlu menyampaikan tentang kejadian kasus Rabies di kota Banjarbaru mulai tahun 2013 sampai dengan 2018 (7 kasus positif dalam waktu 5 bulan terakhir di 6 kelurahan)Untuk mengetahui  dan mempelajari endemisitas Rabies di Kota Banjarbaru Propinsi Kalimantan Selatan berdasarkan uji laboratorium B Vet Banjarbaru dan data dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru.Mengetahui faktor-faktor penyebab penyebaran virus Rabies di Kota Banjarbaru.Sebagai dasar untuk langkah-langkah berikutnya dalam pemberantasan Rabies di Kota Banjarbaru.Sebagai bahan untuk menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan Puskesmas di setiap kecamatan dalam upaya penanggulangan kasus positif Rabies maupun kasus gigitan HPR terduga Rabies.
KIVSA-3 Studi Awal Perbandingan Nilai Hematologi Rutin Anjing Lokal Bali (Canis lupus) dengan Nilai Hematologi Rutin pada Literatur (Swenson, 1984) I Wayan Yustisia Semarariana; A A N D Wisesa; P T E Sucitrayani; M P A Yunikawati; A A N O Pujawan; P S Dwipartha; D A Paranitha
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.084 KB)

Abstract

Anjing lokal Bali atau sering disebut anjing kampung atau “kuluk kacang” merupakan anjing (Canis lupus) yang pertama ada di pulau Bali dan memiliki kekayaan genetik yang perlu diteliti (Sack, 2017). Dewasa ini anjing lokal Bali semakin diminati sebagai hewan kesayangan seiring dengan besarnya kepedulian masyarakat terhadap anjing jenis ini. Kedonganan Veterinary memiliki data pasien anjing lokal Bali yaitu 48,7 % dari total pasien anjing selama tahun 2015 sampai 2017 (Kedonganan Veterinary, 2017 ). Anjing lokal Bali memiliki sedikit profil mengenai kondisi kesehatannya yang benar – benar sesuai dengan kondisi khusus anjing lokal Bali, oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian mengenai profil kesehatan tentang anjing jenis ini. Salah satu parameter kesehatan yang sering digunakan pada anjing adalah profil darah atau profil pemeriksaan hematologi rutin. Penelitian ini membandingkan profil hematologi rutin anjing lokal Bali yang dinyatakan sehat pada pemeriksaan fisik dengan profil hematologi rutin yang ada pada literatur (Swenson, 1984). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai dinamika yang ada antara kondisi nyata anjing  lokal bali dengan referensi yang ada.
SA-3 Haemogram Parameter of 17 Dogs That Have Been Infected by Ehrlichia canis in My Vets Animal Clinic Kemang in 2017 Tri Ayu Kristianty; Ni Nengah Yogiswari Resyana
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.24 KB)

Abstract

Ehrlichiosis is a canine vector-borne disease transmitted by ticks. It is caused by a gram-negative obligate intracellular bacteria of the genus Ehrlichia. Ehrlichia has three different species that can cause canine ehrlichiosis: E. canis, E. chaffeensis, and E. ewingii.Ehrlichia canis causes canine monocytic ehrlichiosis (CME) that is also known as tropical canine pancytopenia, canine rickettsiosis or canine hemorraghic fever. Primary vectors of E. canis are Rhipicephalus sanguineus and Dermacentor variabilis.  CME is characterized by three stages, acute, subclinical, and chronic that can be difficult to definitively distinguish in practice.E. canis form microcolonies within a membrane-lined intracellular vacuole that is also called morula, primarily in monocytes and machrophages of mammalian hosts. The patogen replicates only in cytoplasm of monocytic cells and the formation of morulae is defining characteristic that can be used for diagnosis.A case ehrlichiosis in canine can be diagnosed based on clinical signs, blood smear examination, cell culture, serology test, or molecular detection by polymerase chain reaction (PCR).
SA-4 Treatment in Guinea Pig (Cavy porcellus) for Fracture Left Tibia Fibula Nimas Ayu Pertiwi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.428 KB)

Abstract

Guinea pigs (Cavia porcellus) are South American hystricomorph rodents and monogastric herbivores. They have stocky bodies, delicate short limbs with fragile bones and no tails [1]. The Guinea pig anatomy have short legs and little feet with claws on which front feet have four and back feet have only three. Their charachters active and exploring environment, make some traumas especiallay in joint problem. The injuries such as claws inflammation, musculoskeletal disorder and tibia fibula fractures, which are often oblique and can sometimes be open fractures due to the lack of soft tissue around the bone. This paper reports the case of a complete fracture of the proximal on the left tibia and fibula in a guinea pig treated surgically with an intramedullary pin.
KIVSA-4 Identifikasi Klinis Kristaluria pada Kasus Feline Lower Urinary Track Disease (FLUTD) di Klinik Hewan Maximus Pet Care Arief Purwo Mihardi; Intan Maria Paramita; Sherli Noviaria Pakpahan; Setyo Widodo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.12 KB)

Abstract

Feline lower urinary tract disease (FLUTD) terjadi karena adanya disfungsi dari kantung kemih maupun uretra pada kucing.  Salah satu simptom dari FLUTD yaitu polakiuria tanpa disertai poliuria, adanya stranguria dan hematuria (Gunn-Moore 2003; Westroop dan Buffington 2010).  Menurut Hostutler et al. (2005), hampir kebanyakan kucing yang mengalami LUTD terjadi karena terjadinya feline idiopathic, interstitial cystitis, urolitiasis, infeksi bakterial pada saluran urinari, malformasi anatomi saluran urinari, neoplasia, behavioral disorder, dan gangguan syaraf seperti refleks dysnergia.  Seperti yang dilaporkan Dorsch et al. (2014), dari 302 ekor kucing yang mengalami LUTD terdapat feline idiopathic cystitis (FIC) (55%), infeksi bakterial saluran urinari (18,9%), uretral plug (10,3%) dan urolithiasis (7%).  Kojrys et al. (2017) juga melaporkan 385 kucing yang mengalami LUTD terdapat 60,7% mengalami FIC, 17,4% obstruksi uretra akibat plug, 7,8% infeksi bakterial saluran urinari, 13% mengalami urolitiasis, 1 % terjadinya hiperplasia.Hampir sebagian besar kejadian LUTD diikuti dengan adanya obstruksi.  Menurut laporan Kojrys et al. (2017), FLUTD diikuti terjadi obstruksi uretra pada 229 kucing.  Umumnya obstruksi ini terjadi pada kucing jantan (204 ekor) dan hanya terdapat 25 ekor terjadi pada kucing betina.  Obstruksi ini biasanya terjadi pada kasus FIC yakni 129 ekor dan 67 ekor mengalami urolitiasis.  Menurut Osborne dan Lulich (2006), jenis kristal urin yang sering ditemukan pada kasus urolitiasis seperti struvit, kalsium oksalat, urat, sistin ataupun campuran.  Studi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kristalurin yang terjadi pada 13 ekor kucing yang mengalami LUTD.
SA-5 Case report: Mammary Gland Tubulocarcinoma on Dog Miniature Dachshund at Animal Hospital University of Brawijaya Indonesia Ahmad Fauzi; Albiruni Haryo; Isma Prasthani Hutami Putri; Fajar Shodiq Permata; Nurina Titisari; Anggit Prio Pambudi
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.873 KB)

Abstract

In 1 study of 2000 dogs In America, 23% were found to have died due to cancer [1]. Mammary tumors are one of the most common neoplasms of female dogs [2]. This tumor mainly affects middle-aged dogs (9 to 11 years), with an increased incidence that begins at about 6 years old [3]. Sex steroid hormones are thought to have a major role during the early stages of carcinogenesis due to the presence of estrogen and progesterone receptors in higher proportions in most mammary tumours. [3,4]. In addition to hormonal influences, the use of products containing medroxyprogesterone acetate (progestin and estrogen combinations) to prevent estrus in dogs is also associated with an increased incidence of mammary tumors [5]. Mammary tumors can interfere with the physiological appearance and physiological function of the body. This report aims to describe cases of mammary tumors in dogs supported by hematology laboratory examination, blood biochemistry, cytology and histopathology.
SA-6 Foreign Objects in the Form of Nails Found Inside the Gastrim of a Mixed Breed Dog Patient Handled at Klinik Hewan Jogja Ida Tjahajati; Adellyna Chrissandra; Anggi D Prayitno; Begum F R Aditya; E Rrarindah; L Rifiyanta; M A Candra; Sri Indah Astuti; T A Widiastuti
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.506 KB)

Abstract

Various diseases could affect dogs, including disruptions of the gastrium caused by the presence of foreign objects. The dogs’ habit of consuming miscellaneous objects around them was the common cause for the said objects, which should not exist within their body, to be swallowed and enter the stomach. This kind of case is often found among the growing puppies of large breed dogs [1]. This report aims to reveal the case of foreign objects finding within the gastrium of a dog patient handled at Klinik Hewan Jogja. In this particular case, we found foreign objects in the form of many nails and an assortment of metal wire pieces inside the gastrium of mixed breed dog Messi.
KIVSA-5 Pijat Uretra (Urethral Massage) Alternatif Penanganan Kasus Obstruksi Uretra akibat FLUTD pada Kucing Jantan Intan Maria Paramita; Arief Purwo Mihardi; Sherly Noviaria Pakpahan; Setyo Widodo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.115 KB)

Abstract

Obstruksi uretra merupakan salah satu manifestasi dari kasus Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) yang sering muncul dan bila tidak mendapatkan perawatan yang baik akan menimbulkan kematian. Obstruksi uretra dapat terjadi akibat keberadaan kalkuli, serta urethral plug yang tersusun atas mukoprotein, blood clot, kristal, hingga kalkuli. Obstruksi urethra lebih sering terjadi pada kucing jantan dibandingkan kucing betina (Hostutler et. al. 2005). Hal ini terjadi akibat anatomi uretra kucing jantan lebih panjang dan berbentuk selongsong yang mempermudah kejadian pengendapan kristal dan mukoprotein membentuk plug yang menghambat aliran urin keluar melalui uretra. Kucing yang mengalami obstruksi uretra dapat dikenali dari adanya perubahan frekuensi urinasi dan perubahan tingkah laku urinasi (Gunn-Moore 2002). Beberapa kucing menunjukkan gejala muntah, nyeri di abdomen, lemah, lesu, nafsu makan turun, ulcer di rongga mulut, hingga penurunan bobot badan yang signifikan (Berent 2011). Diagnosa obstruksi uretra dapat dilakukan dengan palpasi kondisi vesica urinaria (VU). Vesica urinaria kucing yang mengalami obstruksi uretra akan teraba besar, tegang, dan keras karena terisi penuh oleh urin. Teknik yang disarankan untuk memperlancar aliran urin adalah dengan memberikan obat obatan yang bersifat antispasmodik seperti atropin untuk merelaksasikan lumen uretra, melakukan pijat uretra atau “milking technique” selama beberapa menit pada uretra yang sudah dilubrikasi, irigasi uretra menggunakan kateter, cystocentesis, hingga urethrostomy (Gaskell 1978). Pemasangan kateter, cystocentesis, hingga urethrostomy merupakan tindakan invasi yang dilakukan apabila tindakan lain tidak berhasil dilakukan. Tindakan invasif memiliki resiko jika tidak dilakukan secara lege artis. Osborne et. al. (1996) menyatakan bahwa tindakan kateterisasi mampu menginduksi terjadinya trauma hingga penyempitan uretra akibat infeksi karena adanya benda asing yang dimasukkan dalam tubuh kucing tersebut.Salah satu alternatif memperbaiki aliran urin adalah dengan melakukan tindakan pijat uretra. Osborne et. al. (1978) menyarankan melakukan tindakan ini sebelum melakukan tindakan invasi lainnya. Tindakan kateterisasi dilakukan apabila pijatan uretra tidak mampu melancarkan aliran urin. Studi ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas teknik pijat uretra dalam menangani kasus obstruksi uretra pada 10 ekor kucing jantan yang mengalami FLUTD.
SA-7 Os Humerus Amputation in Cat with Osteomyelitis E Fitriana; D Ardiansyah; D U Rahmiati; . Gunanti
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.537 KB)

Abstract

Osteomyelitis is bone inflammation caused by infectious agent such as bacteria, fungi, or viruses [1]. Infectious agent attacks part of the bone such as cortical bone, periosteum, and myeloid cavity. Osteomyelitis cases may happen through two causes: hematogenous infection or infection right to the bone after trauma [2]. Staphylococcus sp., Streptococcus sp., and Escerichia coli are bacteria most often cause bone infection [3]. Around 50% of osteomyelitis cases are caused by the bacteria Staphylococcus [1]. Treatment for osteomyelitis cases depends on the severity of the case. If it is still mild, veterinarians may only give antibiotic to curb infection. However, on more severe osteomyelitis cases (usually on chronic osteomyelitis), other than antibiotic treatment, debridement or amputation surgery may be performed [4].                Amputation is a surgical procedure performed to separate a part or entire body part or extremities [5]. This procedure is a last option when problems on one part of the body cannot be treated by any other procedure. Several example cases that put amputation as a treatment option are bad blood circulation which cause no blood to sustain the tissues and thus causing tissue death; severe injury (from accidents); tumor/cancer; congenital or acquired defects that cannot be treated; and serious infection that cannot be treated by any other treatment [6].