cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
Infektifitas berbagai derajat kematangan proglotida cacing pita hymenolepis diminuta (Rudolphi) pada: 1 Kutu beras tribolium castaneum (Herbst) Elok Budi Retnani; Simon He; Supan Kusumamihardja; Singgih H. Sigit
Hemera Zoa Vol. 76 No. 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.731 KB)

Abstract

Studies on the effect of the level of maturity of proglottids on the infectivity of Hymenolepis diminuta (Rudilphi) in the intermediate host Tribolium castaneum (Herbst) have been carried out in the Helminthology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine Bogor Agrigultural University.The experiment was carried out using 5 groups of 30 Tribolium castaneumeach which were infected with Hymenolepis diminuta prolottids of different levels of maturity. Each Tribolium group was fed 5% length of the posterior proglotids.The data obtained were analized using analysis of variance continued with Duncan test, where necessary, and analysis of reggression. The number of eggs produced by adult Hymenolepis diminuta originated from all 5 groups of 5% pasterior proglottids were positively correlated with the levels of maturity of the proglottids. The number of cysticercoids produced by the experimental Tribolium were also positively correlated with the maturity levels of the proglottids. In contrast the levels of infectivity, in percentage, of the 5 proglottid groups in the Tribolium were not significantly different from each other indicating that the infectivity of Hynlenolepis diminuta eggs in the Tribolium was not affected by the degree of maturity of the proglottid. From the result of the studies it is concluded that more or less 25% of the posterior proglottids of Hymenolepis diminuta in the rats were gravid. 
Kematian mendadak pada broiler Ngepkep Ginting
Hemera Zoa Vol. 76 No. 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.318 KB)

Abstract

Untuk menentukan penyebab kematian mendadak pada broiler, telah diadakan survei pada dua daerah ketinggian dan musim dengan model klasifikasi dua arah pola faktorial 2 (ketinggian) x 2 (musim). Diagnosis ditentukan berdasarkan anamnese, epidemiologi, gejala klinis dan autopsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian mendadak pada broiler sangat nyata (P < 0.01) dipengaruhi oleh musim kemarau dan tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat dan interaksi antara ketinggian tempat dan musim. Gejala klinis tidak tampak pada saat satu menit sebelum mati. Ayam yang terserang menunjukkan kehilangan keseimbangan, konvulsi dan tiba-tiba mau terbang. Pada umumnya ayam mati telentang dengan satu kaki atau keduanya menjulur ke atas akan tetapi kadang-kadang adajuga yang mati pada sisi kiri atau kanan. Pada autopsi tampak keadaan gizi ayam baik dan alat pencemaan bagian depan penuh dengan pakan. Hati membesar, pucat dan kenyal serta kantong empedu kosong.   
Pengaruh iradiasi gama terhadap perubahan bentuk, mortilitas dan ketahanan hidup Trypanosoma evansi Lilik Harsanti; M.Arifin .
Hemera Zoa Vol. 76 No. 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.13 KB)

Abstract

Pengaruh iradiasi gama terhadap perubahan bentuk, motilitas dan ketahanan hidup Trypanosoma evansi. Telah dilakukan percobaan iradiasi terhadap parasit T. evansi. Iradiasi parasit dengan menggunakan sinar gama (Co-60) dengan dosis 300 Gy. Pengamatan dilakukan 1,24 dan 48 jam se telah iradiasi, dan parameter yang diamati adalah bentuk, motilitas dan jumlah parasit. Pengamatan serupa dilakukan terhadap T. evansi tanpa iradiasi sebagai pembanding. Hasil percobaan menunjukkan bahwa iradiasi dapat menurunkan jumlah dan mobilitas serta menyebabkan terjadinya perubahan bentuk tubuh parasit. Kematian yang terjadi selain disebabkan oleh iradiasi, juga akibat pengaruh lingkungan yang tidak sesuai.
Pengaruh pemberian vitamin C dan Vitamin E terhadap tantangan E. Coli Patogen pada ayam Pedaging I Wayan Batan; Bibiana W. Lay; Aisjiah Girinda; Hernomoadi Hoeminto
Hemera Zoa Vol. 76 No. 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.85 KB)

Abstract

This study was undertaken to asses the effects of dietary vitamin C, vitamin E, vitamin C and vitamin E, combined with E. coli bacterin against patogenic E. coli challenge in broiler chickens.The completely randomized design was used, in 4 x 2 factorialexperiment i.e. consisted 4 vitamins and two bacterins. Each treatment combination had 10 chicks as replication, hence 80 broiler chicks were used in this study. Data obtained from the study were analysed using analysis of variance or Kruskal Wallis test in order to identify the influence of treatment factor and their interactions.The chickens were fed standard ration supplemented with 300 mg vitamin E or 330 mg vitamin C or 300 mg vitamin E and 330 mg vitamin C or no vitamin supplement per kg ration as control.E. coli bacterin inactivated by heat, was given to the chickens when they were 2 weeks old. The bacterin was injected directly to the airsacs of the treatment groups.At 4 weeks of age, all of the chickens were challenged with patogenic E. coli given directly to the airsacs.The data showed that the supplemental of either vitamin E, vitamin C, or vitamin E and vitamin C significantly reduced pathological lesions caused by E. coli challenge, whilst the E. colli bacterin alone did not. Suplemental vitamin C, or vitamin C and vitamin E, and also injection of E. coli bacterin significantly reduced chicken body weight.
Pengobatan kudis (Sacroptes scabiei) dengan ivomec pada kambing (laporan kasus) Ngepkep Ginting
Hemera Zoa Vol. 76 No. 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.306 KB)

Abstract

Untuk mengetahui efikasi ivomec terhadap penyakit kudis pada kambing maka telah diadakan penyuntikan terhadap 9 ekor kambing yang terserang kudis dalam dua tahap. Penyuntikan tahap pertama terdiri dari 4 ekor dan tahap kedua terdiri dari 5 ekor kambing. Inomec disuntikkan tiga kali, selang 20 hari di bawah kulit pada leher dengan dosis 1 ml/50 kg berat badan. Ternyata hasil pengobatan tahap pertama dan kedua sama yaituivomec dapat menyembuhkan kudis pada kambing setelah 60 hari. Semua kondisi kambing tampak maju pesat ditandai dengan pertumbuhan bulu dan kulit yang telah kembali seperti semula.
Strategi penanganan anak babi sapih dini sebagai akibat agallactia atau induk mati S. Prawirodigdo .
Hemera Zoa Vol. 76 No. 1 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.669 KB)

Abstract

Keberhasilan budidaya ternak babi dengan pola usaha produksi anak yang dipasarkan pada periode lepas sapih dan bahkan dibesarkan kemudian dijual pada bobot siap potong (60 - 100 kg/ekor), sangat dibatasi oleh jumlah ternak yang dapat dipasarkan. Jumlah ternak babi tersebut dipengaruhioleh jumlah anak/induk/paritas yang bertahan hidup sampaiumur pernasaran yang dikehendaki produsen.Tingkat mortalitas anak-anak babi prasapih merupakan salah satu faktor penentu yang sering kali menjadi suatu masalah yang serius dalam budidaya ternak babi. Walaupun Hutton (1989) berpendapat bahwa periode kritis bagi anak-anak babi terjadi pada umur lepas sapih, tetapi ternyata pada periode menyusui ("suckling period") nasib anakanak babi juga rawanPenelitian-penelitian tentang aspek yang berpengaruh pada penampilan anak babi pada periode menyusui telah banyak dilakukan di negara-negara produsen (Ewbank; 1976; Mabry et al., 1983; King dan Williams, 1984a, b; McGlone et al.. 1988, Prawirodigdo et al., 1990b). Demikian menariknya topik mengenai penampilan anak-anak babi sehingga mortalitasanak babi prasapih telah dievaluasi sejak 51 tahun yang lalu (Donald, 1939) hingga pada dekade akhir-akhir ini (Baxter, 1989; Cronin, 1989a, b; Cutler et al.. 1989; Hartmann et al., 1989). Informasi serupa di negara tropika khususnya di Indonesia sangat diperlukan, lebih-lebih pada saat ini pemerintah Indonesia juga sedang menggalakkan budidaya ternak babi untuk memenuhi salah satu kebutuhan ekspor komoditi nonmigas.Studi ini memberikan ulasan mengenai teknik-teknik yang dapat diaplikasikan untuk mengatasi kematian anak-anak babi prasapih sebagai akibat kegagalan memperoleh susu dari induknya. 
Hymenolepis cantaniana pada ayam buras di Medan Sumatera Utara Panal M. Siahaan; Simon He; Hernomoadi Suminto; Nawangsari Sugiri
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.729 KB)

Abstract

Dari 96 ekor ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitamya untuk keperluan survai cacing parasitik ternyata tiga ekor (3,125%) diantaranya mengandung cacing pita kecil di dalam usus halus dalam jumlah yang sangat banyak. Cacing- cacing tersebut berwarna putih, agak transparan, berukuran panjang 8-20 mm, rataan 15.4± 3.31 mm (SD). Skoleks berukuran panjang 135-180 um dengan rataan 143 ± 12.19 um, lebar 120-150 um dengan rataan 130± 9.91 um tanpa kait-kait. Lubang genital unilateral, terletak diantara anterior dengan pertengahan segmen. Kantung sirus relatif besar dibanding dengan segmen. Di dalam segmen gravid terdapat kantung-kantung telur. Telur berdiameter 45 mm, berbentuk bundar seperti bola, diselubungi tiga membran dan sudah mengandung larva saat akan dikeluarkan. Dari ciri-ciri tersebut disimpulkan cacing ini termasuk jenis Hymenolepis cantaniana. Ini merupakan laporan penemuan pertama kali jenis cacing pita tersebut pada ayam (buras) di Indonesia.
Kasus infeksi cacing saluran pencernaan pada ayam hutan hijau (Gallus varius) yang diperiksa di laboratorium patologi unggas FKH_IPB Agus Setiyono
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.56 KB)

Abstract

Telah ditemukan kasus inifeksi cacing saluran pencernaan pada ayam hutan hijau (Callus varius) yang diperiksa di Laboratorium Patologi Unggas, Fakultas Kedokteran Hewan lnstitut Pertanian Bogor, periode bulan Agustus 1992 - Januari 1993.Dari 62 ekor ayam hutan hijau yang mati, 26 ekor (41,93%) diantaranya positif terinfeksi cacing setelah dilakukan nekropsi. Dari 26 ekor ayam yang dinyatakan positif terinfeksi, 22 ekor terinfeksi oleh cacing pita (Cestoda), 3 ekor terinfeksi cacing gilik (Nematoda) dan 1 ekor ayam terinfeksi oleh kedua macam cacing tersebut.Hasil pemeriksaan terhadap parasit ini menunjukkan bahwa cacing pita yang menginfeksi ayam adalah Raillietina sp. dan cacing gilik yang ditemukan adalah Ascaridia galli. 
Kejadian penyakit gumoro pada ayam ras petelur Ketut Santhia AP; N. Dibia .; D.M.N. Dharma .; S.Amintorogo .
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.54 KB)

Abstract

Telah dilakukan penyidikan penyakit Gumboro di kabupaten Bangli Propinsi Bali dan Sikka, Flores Propinsi Nusa Tenggara Timur.Dalam penyidikan tersebut dilakukan pengamatan epidemiologis, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi agen penyebab.Dari gambaran epidemiologis menunjukkan penyakit menyerang ayam jenis AA Brown CP 909, Superharco CP 306 dan Logman pada umur 32,64 dan 58 hari denganmorbiditas masing-masing 100.0%, 5.97% dan 100.0%, mortalitas 38.48%, 2.24% dan 49.75% atau CFR 38.48%, 37.50% dan 49.75%. Tingkat mortalitas harian pada ayam AA Brown CP 909 menunjukkan paling tinggi terjadi pada hari ke lima sebesar 77.43% sedangkan pada ayam Superharco CP 306 terjadi pada hari ketiga dengan 19.89% dan pada jenis Logman terjadi pada hari ketiga dengan 1.01%. Kesembuhan terjadi pada ketiga jenis ayam tersebut masing-masing pada hari ke-12, ke-10 dan ke-5. Gejala klinis dan perubahan patologis ketiga jenis ayam adalah sama dan khas, serta virusnya mudah turnbuh pada telur ayam berembrio.
Kemungkinan Kehadiran Sistiserkus/cacing taenia saginata taiwanensis di Bali N.S. Dharmawan .; Simon He; S. Geerts .
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.611 KB)

Abstract

Telah dilakukan suatu penelitian pendahuluan untuk mengetahui kemungkinan adanya sistiserkus atau cacing Taenia saginata taiwanensis di Bali. Pengamatan dilakukanterhadap adanya infeksi sistiserkus secara alami pada hati 638 ekor babi yang dipotong di RPH Denpasar , dari bulan Juni sampai Juli 1993.Bintik-bintik kecil kekuningan atau putih susu, yang diduga merupakan kista T.s. taiwanensis, ditemukan pada 146 hati babi (22,88%). Setiap hati yang terinfeksi mengandung 1 - 6 kista, yang menyebar secara acak di masing-masing lobus. Kebanyakan kista yang ditemukan telah mengalami degenerasi (66.43%) atau kalsifikasi (32.8%). Satu kista mature yang ditemukan (0.7%) dari hati yang positif, ternyata mengandung skoleks taenia yang diperlengkapi dengan kait-kait. Temuan ini menunjukkan kemungkinan adanya sisteserkus cacing Ts. taiwanensis di Bali sebab hati babi bukanlah tempat predileksi utama sistiserkus cacing Taenia solium.

Page 5 of 40 | Total Record : 391