cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
Effects of subtanstium estrus cow serum with fetal calf serum on culture bovine embryos produce in vitro M.A. Setiadi .; J. Peli .; K. Schellander .
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.479 KB)

Abstract

The development capacity of bovine oocytes matured in vitro was investigated by replacement culture medium composition from Estrus Cow Serum (ECS) to Fetal Calf Serum (FCS). The experiment was devided into four groups : group (A) culturedin Medium with ECS and groups (B), (C) and (D) cultured 1, 2 and 3 days in ECS, respectively and the rest of the culture period in medium containing FCS. The results of the experiment show that no significant differences on cleavage rates were observedwithin the experimental groups, but blastocyst development showed significant diferences with the highest rates in group D.
Gongylonema ingluvicola ransum, 1904 pada ayam buras di Medan Sumatera Utara Panal M. Siahaan; Simon He; Hernomoadi Huminto; Nawangsari Sugiri
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.757 KB)

Abstract

Dari 96 ekor sampel ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitarnya untuk keperluan survai cacing parasitik ditemukan 42 ekor (43,75%) diantaranya mengandung cacing Gongylonema ingluvicola di dalam temboloknya. Cacing ini ditemukan pada sampel ayam buras dari semua lokasi yang disurvai dengan rataan derajat infeksi 14 ekor cacing per ayam. Cacing ini membentuk rangkaian lipatan-lipatan pada mukosa yang agak teratur dan seragam, berupa terowongan yang melingkar-lingkar dan mengakibatkan penebalan mukosa tembolok ke arah lumen. Panjang cacing jantan antara 16 - 21 mm dengan rataan 19 mm dan diameter 225 - 255 µm; panjang cacing betina antara 31 - 54 mm dengan rataan 4 1,6 mm dan diameter 3 15 - 345 µm. Cacing jantan mempmyai ale (pelebaran kutikula ke arah lateral serupa sayap) pada sisi kiri dan kanan yang tidak simetris. Ale kiri disokong oleh 7 buah papila (tonjolan kutikula berbentuk duri) sedangkan ale kanan disokong oleh buah 5 papila. Pada cacing betina, vulvanya terletak di bagian posterior tubuh.   
Perubahan patologis dan gambaran lekosit pada itik yang diinfeksi Pasteurella multocida Wiwin Winarsih; Ekowati Handharyani; Agus Setiyono
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.912 KB)

Abstract

Enam puluh ekor itik yang berumur lima minggu dipergunakan dalam penelitian ini. ltik dibagi secara acak menjadi dua kelompok yaitu kelompok infeksi dan kontrol.Kelompok pertama diinfeksi dengan Pasteurelhz multocida (Isolat lapangan) secara intramuskular. Itik diambil darahnya dan dinekropsi 1, 2, 4 dan 8 jam setelah infeksi untuk pemeriksaan diferensial lekosit dan perubahan makroskopik.Itik yang diinfeksi mulai menunjukkan lesio empat jam setelah infeksi. Itik yang diinfeksi dan mati menunjukkan gejala septikemi dengan hiperemi umum. Pemeriksaan gambaran lekosit menunjukkan peningkatan jumlah heterofil dan penurunan jumlah limfosit dan monosit 2,4 dan 8 jam setelah infeksi.
Terameres Americana pada ayam buras di Medan Sumatera Utara Panal M. Siahaan; Simon He
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.359 KB)

Abstract

Dari 96 ekor ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitarnya untuk keperluan suwai cacing parasitik terdapat 34 ekor (35,42%) diantaranya terinfeksi cacing gilik Tetrameres americana pada lambung kelenjar (provenhiculus) dengan jumlah cacing yang berkisar antara 4 - 47 ekor dengan rataan 4,5 cacing betina per ayam. Cacing-cacing tersebut berbentuk bundar, yang masih segar berwarna merah cerah seperti darah segar. Ekstrimitas anterior menjulur keluar sepanjang 1 mm. Pada mulut terdapat 3 .bibir kecil, diikuti rongga mulut dan usofagus narnpak sepanjang bagian anterior yang menjulur. Ekstrimitas posterior menjulur sekitar 800 µm. Panjang cacing 3,5 - 4,5 µm dengan rataan 3,98 µm dan lebar 3 - 4 mm dengan rataan 3,53 µm. Badannya mempunyai 4 alur longitudinal. Uterus dan ovarium banyak dan panjang berliku- liku. Vulva terdapat pada bagian posterior. Telur berbentuk oval, panjangnya antara 45 - 52,56 µm dengan rataan 46,5 µm, lebar antara 22,5 - 40 µm dengan rataan 25,25 µm dan sudah mengandung larva saat dikeluarkan. Laporan ini merupakan yang pertama untuk pulau Sumatra.
The use enzyme immuno assay methode for measurement of milk progresterone without extraction for early pregnancy diagnosis in cow Adnin Adnan; M. Agus Setiadi; M. Khoeron .
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.85 KB)

Abstract

An Enzyme Immuno Assay for Progesterone, using horse radish peroxidase as the label, was adapted for direct measurement of progesterone in milk. This was carriedout to detect early pregnancy in cows. The experiment used sixty milking cows divided into three groups, one as a controland two others as treatment groups. In group I (control) milk samples were collected on the day of insemination to 24 days afterward by quartan collection. In group II, milk samples were collected on days 18, 21 and 24 after insemination. In group III, milk samples were collected on days 21 and 24 after insemination. Milk samples were collected from lactating cows at noon from four quarters and preserved with Potassium dichromate (Merck 4858), stored at - 20 degree C until analysed.Pregnancy diagnosis by EIA was confirmed by rectal palpation at 60 to 90 days after insemination. The early pregnancy diagnosis in Group II compared with Group III showed that prolonged the time of sampling indeclinable improved the acuracy.
Berbagai tipe Bangun Anatomi Hati Kancil (Tragulus sp.) Koeswinarning Sigit
Hemera Zoa Vol. 77 No. 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.137 KB)

Abstract

Telah diteliti anatomi hati 9 ekor kancil Indonesia yang terdiri dari 2 ekor Tragulus javanicus dan 7 ekor Tr napu. Dari penelitian ini ditemukan 4 tipe hati. Tipe pertama, satupreparat, hati yang tidak mempunyai processus caudatus dan processus papillaris. Tipe kedua, 3 preparat, yaitu mempunyai processus caudatus yang tumbuh subur dan processus papillaris berujung runcing. Tipe ketiga, 3 preparat, mempunyai processus caudatus dan processus papillaris yang menghadap ke abomasum dan melengkung ke arah lobus kiri. Tipe keempat, tidak mempunyai processus caudatus tetapi mempunyai processus papillaris yang mengapit duodenum pada processus quadratus. Keempat tipe hati ini tidak sesuai dengan spesies kancil yang diteiti, bahkan 2 ekor Tr. javanicus yang diteliti mempunyai tipe hati berbeda. Karena itu perlu diteiiti lebih lanjut tentang subspesies atau spesies kancil di Indonesia, tidak hanya berdasar kepada ukuran tungkai, berat badan, warna bulu dan garis punggung saja, tetapi juga dilengkapi dengan pengamatan anatomi organ, analisis protein dan teknik lain yang mendukung. 
Infektivitas berbagai derajat kematangan proglotida cacing pita hymenolepis diminuta (Rudolphi). 2. Pada Tikus Putih Rattus sp Elok Budi Retnani; Simon He; Supan Kusumamihardja; Singgih H. Sigit
Hemera Zoa Vol. 77 No. 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.477 KB)

Abstract

Lima kelompok tikus putih Ratus sp. yang masing-masing terdiri dari tiga ekor diinfeksi per-oral dengan 2-5 sistiserkoid Hymenolepis diminuta yang diperoleh dari 5 kelornpok Tribolium castaneum yang telah diinfeksi dengan lima macam derajat kematangan proglotida Hymenolepis diminuta (Percobaan 1).Untuk melihat perbedaan pengaruh berbagai derajat kematangan proglotida digunakan analisis ragam yang dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan serta AnalisisRegresi. Infektivitas sistiserkoid H. diminuta pada tikus putih tidak berbeda nyata antar kelompok segmen atau tidak banyak dipengaruhi oleh derajat kernatangan proglotida.
Mikroanatomii testis fetus sapi (Bos taurus) H.Setijanto .; F. SinowatZ .
Hemera Zoa Vol. 77 No. 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1260.106 KB)

Abstract

Empat betas testis fetus sapi dengan perbedaan umur pertumbuhan (CRL 7,0 - 80 cm) diteliti secara histologis, baik secara mikroskopis maupun elektron mikroskopis. Penelitian histomorfogenesis ini bertujuan untuk menentukan pola dasar perkembangan struktural dan perubahan-perubahan morfologis dari testis fetus sapi. Selain itu diferensiasi jaringan dan interaksi yang terjadi antar sel didiskusikan.
Perbandingan pengaruh Escherichia coli dan vaksinasi ND La Sota terhadap bursa fabricus anak ayam pedaging Ekowati Handharyani; Hernomoadi .; Bibiana W. Lay; M.B. Malole .
Hemera Zoa Vol. 77 No. 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.911 KB)

Abstract

Infeksi E. coli pada anak ayam pedaging secara mandiri dapat menimbulkan penurunan jumlah sel limfosit (24.657%). radang interstisial (15.330%), hiperemi (24.811%). serta penurunan berat relatif bursa Fabricius (0.152 gram persen). Vaksinasi ND La Sota (tetes mata). dilanjutkan dengan infeksi E. coli menyebabkan penurunan jumlah sel limfosit (7.314%), edema radang (3.826%). hiperemi (9.569%) dan penurunan berat relatif bursa (0.150 gram persen). Pemberian vaksin ND La Sota (tetes mata) menyebabkan perubahan yang minimal pada bursa Fabricius berupa penurunan jumlah sel limfosit (2.03 1 %), edema (2.348%). hiperemi (2.03 1 %).
Performans reproduksi induk babi di daerah topik: 1 Pertumbuhan anak periode menyusu pada paritas pertama S. Prawirodigdo .; Harianto .; R. Soedarsono .; A. Mujoko .
Hemera Zoa Vol. 77 No. 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.857 KB)

Abstract

Dua-puluh ekor induk babi paritas pertama peranakan Lage White sedang bunting digunakan untuk mempelajari penampilan perturnbuhan anak babi prasapih di daerah tropik (Indonesia). Ternak penelitian dikandangkan secara individu dalam "farrowing crate" dan diberi pakan 2 kg/ekor/hari yang mengandung protein kasar 148 g/kg dengan energi 10.0 MJ GE/kg ransum sampai selama periode laktasi.Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir anak babi jantan (1,33 kg) tidak berbeda nyata dengan rata-rata bobot lahir anak betina (1,29 kg/ekor). Sampai umur 3 minggu rata-rata pertambahan bobot badan anak babi jantan (2,66 kg/ekor/hari) secara statistik juga tidak berbeda nyata dengan anak babi betina (2,77 kg/ekor/hari). Walaupun demikian secara keseluruhan terlihat bahwa bobot anak babi pada urnur 1,2 dan 3 minggu mempunyai korelasi (masing-masing R2 = 0,72; 0.63 dan 0,54) yang sangat nyata (P < 0,0l) terhadap bobot lahir. Kesimpulan yang bisa disampaikan, bahwa tingkat pertumbuhan anak babi sebelumdisapih pada penelitian ini rendah, dan dalam hal ini jumlah konsumsi energi ransum, tingkat pernberian makanan dan genetik induk berpotensi sebagai penyebabnya.

Page 7 of 40 | Total Record : 391