cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Hemera Zoa
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 391 Documents
Konsumsi Feses lunak pada ternak kelinci S. Prawirodigdo .; E. Rianto .; B. Rustomo .
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1105.462 KB)

Abstract

Konsumsi feses lunak yang dikenal dengan sebutan "coprophagy" atau "caecotrophy" biasa dilakukan oleh berbagai hewan termasuk diantaranya tikus kangguru ("Kangaroo rat"), Dipodomys microps, tikus dan mencit (Bjornhag dan Sjoblom, 1977.)  Bjornhag dan Sjoblom (1977) yang menyiasati beberapa peneliti sebelumnya (Harder, 1950; Barnes et al, 1957; Geyer et al, 1974, juga mengidentifikasi Lemnus-lemnus ("Scandinavian lemning"), Chinchilla lanigera (Chincilla) dan Cavia cobaya (marmut) sebagai hewan yang melakukan "coprophagy". Di samping itu, kelinci (Orictolagus caniculus) merupakan ternak yang secara meluas sudah dikenal melakukan "coprophagy" (Jilge,1974; Bjornhag dan Sjoblom, 1977; Jilge, 1978; Cheeke et al, 1982; Gidene et al, 1988; Fraga et al, 1991) 
Menelusuri asal usul sapi bali dengan menggunakan metoda analisis sitogenetik Mustandi Surjoatmodjo
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.872 KB)

Abstract

In order to study the origin of Bali cattle, the cytogenetic analyses of several breed of cattle (the Bali, Madura, Rambon, Bali-Taurus and Bos-Taurus) were carried out. The relative length of chromosome pairs were compared each other, and the values obtained from them were analysed by t test.The Bali cattle have much more chromosome pairs wich differ with the Bos taurus than other local cattle breed. It means that the Bali cattle have the longest genetic distance in relation to Bos taurus compared with the other domestic cattle (Bos). Hitherto, it has been understood that the Bali cattle had been domesticatedfrom banteng.
Brucellosis in Yogyakarta Slaughterhouse Workers Setyawan Budiharta
Hemera Zoa Vol. 75 No. 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purposes of the study were (1) to measure the serological prevalance of brucellosis among Yogyakarta slaughterhouse workers, (2) to compare rapid blood test (RBT) and complement fixation test (CFT) for serologically detecting brucllosis, and (3) to evaluate the repeatability of both tests.A total of 52 blood samples, 26 from each beef and swine slughtering plants were used for the investigation. These samples cocsist of occupation from administration to blood collection, and missed only 4 workers in both plants. The samples were tested against brucllosis using RBT and CFT and read both differentially and paralelly. Both tesis were compared using McNemar's X2(kuadrat). for evaluating the repeatability of the technician.The result revealed that the RBT prevalence was 13,46%, CFT 3,85% and pararel prevalance was 15,38%. Seven of 8 reactors detected were from swine plants but did not show any significant prevalance different (P>0,05) between the two plants. The highest prevalance was found among dressing workers, however, the highest risk (50%) was found in blood collecting workers.McNemar's X2(kuadrat) did not show any prevalance difference between RBT and CFT (p>0,05) although the odds of being RBT positive was 6x as high as CFT.The repeatability of CFT and RBT was found to be 92.68% and 37.80%, respectivrly, suggesting that CFT is more stable than RBT.
Prospek penggunaan biotin dan (atau) copper dalam ransum kelinci sedang bunting S. Prawirodigdo .; D. Utomo .; D. Andayani .
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1223.058 KB)

Abstract

Suatu penelitian untuk mempelajari prospek pemberian biotin dan (atau) copper (Cu) telah dilakukan dengan menggunakan 28 ekor kelinci dara (umur ± 7 bulan) keturunan Flemish Giant x New Zealand White dengan rata-rata bobot badan 3148.70 g. Sehari setelah dikawinkan, ternak penelitian secara acak diberi salah satu diantara ransum R1 (Ransum basal dengan kandungan protein 14% dan energi ±  2450 kkal/kg, R2 (ransum basal ± 0.1 mg biotin/kg), R3 (ransum basal ±  50 mg CuS04SH2O/kg) atau R4 (ransum ±  0.1 mg biotin ± 50 mg CuS045H2O/kg).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum R2 belum secara statistik mampu meningkatkan jumlah anak sekelahiran, sedangkan ransum R3 menghasilkan rata-rata jumlah anak sekelahiran (7 ekor/induk) sangat nyata (P > 0.01) lebih banyak dari pada jumlah anak (4.80 ekor) dari induk yang diberi R,, tetapi tidak berbeda nyata dengan yang menerima R2 (5.75 ekor/induk). Ransum R4 menghasilkanjumlah anak sekelahiran (8 ekor/induk) sangat nyata (P < 0.01) lebih banyak dari pada R1 maupun R2, tetapi tidak berbeda nyata dengan ransum R3. Rata-rata bobot  lahir anak secara individu dan bobot lahir anak sekelahiran yang dihasilkan dari perlakuan R1, R2, R3 dan R4 (masing-masing 50.30 g, 48.02 g, 41 .O1 g, dan 40.95 g serta 242.00 g, 273.63 g, 281 .SO g dan 325.50 g) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi jumlah anak sekelahiran banyak dan bobot lahir individunya cenderung lebih ringan.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian Cu dalam ransum induk kelinci sedang bunting lebih diperlukan dari pada pemberian biotin secara tunggal, tetapi pemberian secara kombinasi keduanya menunjukkan prospek yang lebih memuaskan. Studi ini juga mengingatkan bahwa penelitian mengunakan kelinci dara yang melibatkan evaluasi penampilan reproduksi seharusnya minimum dilakukan sampai paritas kedua.
Survei Serologis antibodi Blue Tongue pada ternak sapi di Propinsi Bali; NTB; NTT; dan Timor Timur Ketut Santhia A.P.; N.Dibia .; N.Sutami .; N.Purnatha .; I.G.P. Suka Ardana
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.996 KB)

Abstract

Telah dilakukan survei serologis terhadap Blue Tongue (BT) di Propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur. Pada survei tersebut telah diambil 1562 serum sapi yang kemudian diuji dengan agar gel precipitation (AGP).Sero positif Blue Tongue telah ditemukan di Propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur. Di Propinsi Bali ditemukan di 7 kabupaten meliputi 10 kecamatan dengan prevalensi antibodi rata-rata 8.80 persen. Di Propinsi NTB ditemukan di 6 kabupaten tersebar di 7 kecamatan dengan rata-rata prevalensi antibodi 4.17 persen. Di Propinsi NTT ditemukan di 4 kabupaten tersebar di 4 kecamatan dengan prevalensi rata-rata 6.25 persen dan di Timor Timur hanya ditemukan di kecamatan Meliana, kabupaten Babonaro dengan prevalensi 0.93 persen.
Survei Serologis antibodi bovine viral diarrhea pada ternak sapi di Propinsi Bali; NTB; NTT; dan Timor Timur Ketut Santhia A.P.; N. Dibia .; N. Purnatha .; N. Sutami .; I.G.P. Suka Ardana
Hemera Zoa Vol. 76 No. 2 (1993): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.005 KB)

Abstract

Telah dilakukan sumei serologis terhadap Bovine Viral Diarrahea (BVD) di wilayah kerja BPPH Wilayah VI Denpasar. Pada survei tersebut telah diambil 1562 serum sapi yang kemudian diuji dengan Agar Gel Precipitation (AGP).Bovine viral Diarrhea telah ditemukan di Propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur. Di Propinsi Bali tersebar di 8 Kabupaten dengan prevalensi 13.49 persen, NTB tersebar di 6 Kabupaten dengan prevalensi 14.17 persen, NTT hanya di Kabupaten Sikka dengan prevalensi 3.23 persen dan Timor Timur terdapat di Kabupaten Bobonaro dengan prevalensi 9.26 persen.
Aktifitas dan pola makan, minum dan memamah biak kancil (Tragulus javanicus) di kebun binatang Ragunan Jakarta dan Surabaya Nurhidayat Said; Adi Winarto; Arief Boediono; Ita Djuwita; Chairun Nisa; Tutik Wrediati; Heru Setijanto; Mohamad Fakhrudin
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.711 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pada kancil (Tmgulus javanicus) di Kebun Binatang Ragunan - Jakarta dan Kebun Binatang Wonocolo - Surabaya untuk mendapatkan jenis makanan yang disukai, dan aktifitas makan, minum dan ruminasi dari kancil yang dikandangkan.Pada penelitian ini, disediakan 10 jenis makanan dan empat jenis diantaranya yaitu pisang, kacang panjang, kangkung dan pepaya lebih disukai. Aktifitas makan dilakukan pada siang dan malam hari, dan pada saat istirahat kancil melakukan aktifitas ruminasi. Perilaku makan dan ruminasi ini berbeda dengan perilakunya di habitas asalnya. Sedangkan aktifitas minum, jarang dilakukan, hal ini mungkin disebabkan oleh tingginya kadar air di dalam makanan yang disediakan. Aktifitas makan dari kancil yang dikandangkan telah berubah menjadi diurnal dan nokturnal.
Beberapa Aspek Makro dan Mikroanatomi otak tikus (Rattus sp.) yang mengalami hipotiroid Nurhidayat Said; Ita Djuwita; Koeswinarning Sigit
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.713 KB)

Abstract

Perlakuan hipotiroidosme maternal dan fetal pada tikus sampai berurnur 10 minggu, memberikan dampak pada perkembangan somatis dan otak. Secara kuantitatif, hasil penelitian ini menunjukkan penurunan bobot tubuh dan otak, volume otak. Berdasarkan berat relatif otak terhadap bobot tubuh, pertumbuhan otak tetap menjadi prioritas dalam keadaan hipotiroidisme. Beberapa parameter mikroskopik, menunjukkan penurunan tebal korteks, kepadatan serabut syaraf subkortikal, dia metersel syaraf korteks dan hipokampus juga jumlah sel syaraf dan penunjang pada korteks serebri.
Beberapa penyakit mikotik penting pada unggas di Indonesia Riza Zainuddin Ahmad; Sukardi Hastiono
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.348 KB)

Abstract

Penyakit mikotik pada unggas di Indonesia masih diabaikan dan dianggap kurang penting dibandingkan dengan penyakit unggas oleh penyebab lain. Hal ini disebabkan oleh bermacam-macam faktor, antara lain karena pertimbangan ekonomi, baik dari segi diagnosis yang masih kurang efisien, pengobatan yang masih belum efektif maupun prioritas yang dewasa ini masih menduduki posisi ke-4 setelah penyakit viral, bakterial dan parasitik. Namun demikian, beberapa mlkosis seperti aspergillosis dan kandidiasis, serta kontaminasi pakan oleh kapang toksigenik, yang pada gilirannya akan menimbulkan mikotoksikosis atau aflatoksikosis pada ternak yang mengkonsumsinya, merupakan beberapa contoh penyakit mikotik penting yang tidak dapat diabaikan begitu saja, mengingat iklim di Indonesia yang tropis basah merupakan wilayah yang subur bagi pertumbuhan cendawan. Hal ini terbukti dari hasil pemeriksaan beberapa sampel yang diperoleh dari berbagai lokasi di Indonesia, dengan sering dapat diisolasinya beberapa cendawan patogenik seperti Aspergillus spp. dan Candida sp. dari sampel organ tubuh, serta kapang toksigenik seperti Aspergillus spp., Penicillium spp. dan Fusarium spp. dari sampel pakan unggas dan komponennya. 
Dirofilaria Immitis (Leidy, 1856) dalam jantung anjing yang diseksi di fakultas kedokteran hewan institut pertanian bogor Simon He; Fadjar Satrija
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.551 KB)

Abstract

Di dalam ventrikel kanan jantung anjing berbagai ras yang diseksi di laboratorium Patologi Fakultas kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor sejak awal 1970-an hingga tahun 1993 acap kali ditemukan cacing Dirojilaria immitis. Cacing-cacing tersebut berwarna putih, panjang, langsing dengan mulut tanpa bibir. Usofagus yang pendek terdiri atas dua bagian yaitu bagian anterior yang muskuler dan bagian posterior yang glanduler. Cacing betina panjangnya 20 - 29 cm dengan rataan 24,1 cm mempunyai ekor yang lurus dan berujung tumpul; vulvanya terletak di belakang ujung posterior usofagus. Cacing jantan panjangnya 14 - 20 cm dengan rataan 16,7 cm mempunyai ekor yang melingkar membentuk spiral yang dilengkapi lateral alae yang sempit; mempunyai dua spikulum yang asilnetrik tanpa bursa kopulatriks maupun gubernakulum. Didekat ujung ekor terdapat enam buah papila kaudal yang berbentuk kerucut. 

Page 6 of 40 | Total Record : 391