cover
Contact Name
Sri Wahyuni Barum
Contact Email
Lppm@stikes.gunungsari.id
Phone
+6285255332550
Journal Mail Official
Lppm@stikes.gunungsari.id
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin No. 293 Kecamatan Rappocini Kota Makassar, Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Berita Kesehatan
ISSN : 23561068     EISSN : 28075617     DOI : -
Core Subject : Humanities, Health,
Jurnal Berita Kesehatan (JBK) merupakan bagian dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari, Makassar. JBK merupakan wadah publikasi illmiah untuk peneliti, dosen, dan praktisi kesehatan secara umum. JBK pertama kali diterbitkan dengan ISSN 2356-1068 Volume 1 No. 1 pada tahun 2014 yang menerbitkan jurnal sebanyak dua kali dalam setahun. Awal JBK saat belum bergabungnya dua nama yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan dan Akademi Kebidanan Gunung Sari Makassar. Saat pertama kali, JBK dibawah naungan STIKPER pada tahun 2014 dan beralih menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari pada bulan Agustus 2019. Saat ini artikel yang diterbitkan oleh JBK telah dilakukan telaah bersama teman sejawat yang memiliki keahlian yang relavan.
Articles 201 Documents
Perbedaan Skala Dismenore Primer Sebelum dan Sesudah Pemberian Minyak Serai pada Siswi SMA Negeri 5 Denpasar IGAM Deva Nimmita Sukma; Ni Wayan Suarniti; Gusti Ayu Marhaeni
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.348

Abstract

Dismenore primer merupakan gangguan menstruasi berupa kram perut bagian bawah yang sangat umum dialami oleh remaja putri akibat kontraksi otot uterus yang berlebihan. Kondisi ini sering kali berdampak negatif pada produktivitas harian, seperti penurunan konsentrasi belajar hingga ketidakhadiran siswi di sekolah. Minyak serai hadir sebagai alternatif terapi nonfarmakologis yang mengandung senyawa aktif seperti sitronelal dan geraniol yang bersifat analgesik, antiinflamasi, serta mampu memberikan efek relaksasi pada otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan skala nyeri dismenore primer sebelum dan sesudah pemberian minyak serai pada siswi di SMA Negeri 5 Denpasar. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan rancangan one group pre-test post-test. Penelitian dilakukan terhadap 30 responden remaja putri yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Prosedur intervensi melibatkan pengolesan minyak serai sebanyak 7 semprotan pada area perut bagian bawah selama 15 detik saat nyeri muncul di hari pertama menstruasi. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian data dianalisis menggunakan uji peringkat bertanda Wilcoxon. Hasil analisis data mengungkapkan adanya penurunan signifikan pada nilai median skala nyeri, yaitu dari 3,00 pada saat pre-test menjadi 2,50 pada saat post-test. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan minyak serai efektif dalam meredakan nyeri dismenore primer. Oleh karena itu, minyak serai sangat direkomendasikan sebagai pilihan penanganan nonfarmakologis yang aman, ekonomis, dan praktis bagi remaja putri.
Hubungan Pola Hidup Dengan Kejadian Hipertensi I Made Sudarta; Abbas Mahmud
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.373

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal, yang berkontribusi besar terhadap angka kesakitan dan kematian. Prevalensi hipertensi di Provinsi Sulawesi Barat berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 sebesar 34,77%, yang lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional sebesar 34,11%. Sedangkan prevalensi hipertensi di Kabupaten Mamuju tercatat sebesar 32,82%. Faktor risiko utama terhadap kejadian hipertensi adalah pola hidup individu. Pola hidup yang tidak sehat seperti konsumsi garam berlebih, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, serta pola makan tinggi lemak telah terbukti secara signifikan berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola hidup seperti aktifitas fisik, pola makan, kebiasaan istirahat, perilaku merokok dan minum alkohol dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Binanga Mamuju. Jenis penelitian ini adalah Survey yang bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional) dan Jumlah sampel sebanyak 77. Dari hasil analisis diperoleh hasil terdapat hubungan yang signifikan antara aktifitas fisik, pola makan, kebiasaan istirahat, minum alkohol dengan hipertensi dan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan hipertensi.
Peran Self-Efficacy Dalam Pelaksanaan Komunikasi SBAR Perawat Di RSUD Labuang Baji Makassar Noyumala Noyumala; Nurnainah Nurnainah; Kordianus Rana
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.375

Abstract

Latar Belakang: Kegagalan komunikasi klinis masih menjadi salah satu penyebab utama insiden keselamatan pasien. Komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) merupakan metode komunikasi terstruktur yang mendukung kejelasan handover dan keselamatan pasien, namun pelaksanaannya dapat dipengaruhi oleh self-efficacy perawat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan self-efficacy dengan pelaksanaan komunikasi SBAR pada perawat di RSUD Labuang Baji Makassar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik cross-sectional ini dilaksanakan pada Desember 2025–Februari 2026. Sampel penelitian berjumlah 135 perawat yang dipilih dengan proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden, self-efficacy, dan pelaksanaan komunikasi SBAR. Nilai validitas instrumen berkisar 0,377–0,999 dan reliabilitas Cronbach’s alpha 0,607–0,998. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (88,9%), berusia 31–40 tahun (71,9%), berpendidikan Ners (49,6%), bekerja di ruang rawat inap (63,0%), dan memiliki masa kerja 6–10 tahun (54,1%). Mayoritas responden memiliki self-efficacy sedang (41,5%), sedangkan pelaksanaan komunikasi SBAR didominasi kategori kurang (42,2%). Uji Spearman Rho menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dan pelaksanaan komunikasi SBAR (p = 0,001) dengan korelasi positif lemah (r = 0,296). Kesimpulan: Semakin tinggi self-efficacy, semakin baik pelaksanaan komunikasi SBAR, meskipun hubungannya lemah. Diperlukan pelatihan SBAR, supervisi, standardisasi handover, dan dukungan sistem untuk meningkatkan komunikasi klinis dan keselamatan pasien.
Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Keluarga Dengan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Pada Ibu Post Partum Sarah Ruth Nikijuluw; Dwi Hartati; Tuti Meihartati; Ida Hayati
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.385

Abstract

Latar belakang: Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada ibu postpartum merupakan upaya penting dalam menunjang keberhasilan ASI eksklusif. Di RSUD Malinau, program IMD belum berjalan optimal karena kurangnya pengetahuan ibu dan lemahnya dukungan keluarga. Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan IMD pada ibu post partum di ruang bersalin RSUD Malinau. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang melahirkan normal di RSUD Malinau berjumlah 30 orang dengan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tervalidasi. Analisis data menggunakan Fisher’s exact test. Hasil: Mayoritas ibu memiliki pengetahuan baik sebanyak 19 responden (63,3%), dukungan keluarga mayoritas mendukung sebanyak 21 responden (70,0%), dan pelaksanaan IMD mayoritas berhasil sebanyak 22 responden (73,3%). Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan pelaksanaan IMD (p = 0,001) dan terdapat hubungan bermakna antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan IMD (p = 0,032). Kesimpulan: Ibu yang memiliki pengetahuan baik dan mendapat dukungan keluarga cenderung berhasil melaksanakan IMD. Diharapkan ibu lebih proaktif mencari informasi tentang IMD sejak masa kehamilan dan tenaga kesehatan meningkatkan edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya pelaksanaan IMD.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Minat Wus Menggunakan Metode Kontrasepsi Di Desa Punan Bengalun Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau Nilta Nilta; Risnawati Risnawati; Sucita Tripertiwi; Dwi Hartati
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.388

Abstract

Latar Belakang: Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya strategis dalam pengendalian jumlah dan jarak kelahiran guna meningkatkan kesejahteraan keluarga serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Meskipun program KB telah lama digalakkan, tingkat penggunaan metode kontrasepsi pada Wanita Usia Subur (WUS) di beberapa wilayah terpencil masih tergolong rendah, termasuk di Desa Punan Bengalun Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau. Dari 56 WUS yang memiliki pasangan, hanya 6 orang (10,7%) yang menjadi akseptor KB. Rendahnya minat penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengetahuan WUS, akses kepelayanan kesehatan, serta dukungan suami. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan minat WUS menggunakan metode kontrasepsi di Desa Punan Bengalun Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi adalah 50 WUS, sampel 38 orang menggunakan teknik accidental sampling. Penelitian dilakukan pada Desember 2025–Februari 2026. Pengukuran variabel dilakukan menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji Likelihood Ratio dan Chi-Square. Hasil: Mayoritas WUS berpengetahuan baik (52,6%), akses kepelayanan sulit (52,6%), dan mendapat dukungan suami cukup mendukung (47,4%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan minat KB (p = 0,000), akses kepelayanan dengan minat KB (p = 0,017), dan dukungan suami dengan minat KB (p = 0,000). Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, akses kepelayanan, dan dukungan suami dengan minat WUS menggunakan metode kontrasepsi.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat) Pada Wanita Usia Subur Di Desa Setulang Kabupaten Malinau Rika Timang; Risnawati Risnawati; Ridha Wahyuni; Siti Raudah
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.393

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks masih menjadi ancaman kesehatan utama bagi perempuan di Indonesia, khususnya pada wanita usia subur (WUS). Deteksi dini melalui pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) merupakan strategi yang efektif, terjangkau, dan aplikatif di layanan kesehatan tingkat pertama. Namun, tingkat partisipasi WUS dalam pemeriksaan IVA masih tergolong sangat rendah. Di Desa Setulang, Kabupaten Malinau, dari 172 WUS hanya 6 orang (3,4%) yang melakukan pemeriksaan IVA pada tahun 2025. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemeriksaan IVA pada wanita usia subur di Desa Setulang Kecamatan Malinau Selatan Hilir Kabupaten Malinau. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi adalah seluruh WUS di Desa Setulang sebanyak 172 orang. Sampel berjumlah 108 responden dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Fisher Exact. Hasil: Mayoritas responden berpengetahuan kurang (40,7%), akses kepelayanan kesehatan kategori sedang (48,1%), dan keluarga tidak mendukung (53,7%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan keikutsertaan pemeriksaan IVA (p = 0,003), hubungan antara akses kepelayanan dengan keikutsertaan pemeriksaan IVA (p = 0,009), dan hubungan antara dukungan keluarga dengan keikutsertaan pemeriksaan IVA (p = 0,008). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, akses kepelayanan, dan dukungan keluarga dengan keikutsertaan pemeriksaan IVA pada WUS di Desa Setulang. Disarankan peningkatan intensitas promosi kesehatan partisipatif dan kolaborasi untuk meningkatkan infrastruktur akses ke Puskesmas.
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Pencegahan Kanker Serviks Pada Wanita Usia Subur Di Wilayah Kerja Puskesmas Setulang Murniyati Murniyati; Suci Tripertiwi; Hestri Norhapifah; Eka Frenty Hadiningsih
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.396

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks merupakan kanker keempat tersering pada perempuan di seluruh dunia. Di Puskesmas Setulang terdapat 2 kasus Wanita Usia Subur (WUS) yang positif kanker serviks, dengan 1 orang meninggal dunia. Masih banyak WUS di wilayah tersebut yang tidak mengetahui tentang kanker serviks dan tidak mau memeriksakan diri karena merasa tidak ada keluhan. Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap WUS tentang kanker serviks dengan perilaku pencegahan kanker serviks di wilayah kerja Puskesmas Setulang. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah WUS yang sudah menikah usia 30–49 tahun di wilayah kerja Puskesmas Setulang. Teknik sampling Proportionate Stratified Random Sampling menghasilkan 144 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas pengetahuan WUS cukup (72 responden, 50%), sikap mayoritas positif (104 responden, 72,2%), dan perilaku pencegahan mayoritas baik (109 responden, 75,7%). Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan perilaku pencegahan kanker serviks (p = 0,005), serta antara sikap dan perilaku pencegahan kanker serviks (p = 0,001). Kesimpulan: Perilaku pencegahan kanker serviks dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap WUS. Diharapkan WUS lebih proaktif dalam mencari informasi tentang pentingnya pencegahan kanker serviks.
Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis Dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Syamsul Alam Natsir; Helmy Rumbo; Eva Kolifatun Khasanah
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.398

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) stadium akhir memerlukan terapi hemodialisis secara rutin serta kepatuhan dalam pembatasan cairan untuk mencegah komplikasi seperti peningkatan interdialytic weight gain (IDWG), hipertensi, dan gangguan kardiovaskular. Namun, kepatuhan pasien masih menjadi tantangan dalam praktik klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien PGK. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 54 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan uji Spearman Rank pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori lama menjalani hemodialisis kategori 1 (61,1%) dan memiliki tingkat kepatuhan pembatasan cairan tinggi (55,6%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama menjalani hemodialisis dengan kepatuhan pembatasan cairan (p = 0,139; r = -0,204). Disimpulkan bahwa lama menjalani hemodialisis tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pembatasan cairan. Faktor psikososial dan dukungan keluarga diduga memiliki peran yang lebih dominan dalam memengaruhi kepatuhan pasien.
Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Perawat Melakukan Monitoring Early Warning Score Pada Pasien Di RS Pelamonia Makassar Nusdin Nusdin; Rosnania Rosnania; Safira S'palayukan; Sri Rahmah Haruna; Afrida Afrida; Achmad Indra Awaluddin
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.409

Abstract

Early Warning Score (EWS) merupakan sistem penilaian fisiologis yang digunakan untuk mendeteksi secara dini kondisi pasien yang mengalami perburukan klinis. Pengetahuan perawat tentang EWS sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan dalam melakukan monitoring pasien sehingga dapat mencegah terjadinya kegawatdaruratan dan meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan perawat melakukan monitoring Early Warning Score pada pasien yang dirawat di ruang perawatan RS Pelamonia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di ruang perawatan RS Pelamonia dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan dan lembar observasi kepatuhan pelaksanaan EWS. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α=0.05. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0.001 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam melakukan monitoring Early Warning Score. Kesimpulan: semakin baik tingkat pengetahuan perawat tentang EWS, maka akan semakin tinggi tingkat kepatuhan dalam melakukan monitoring EWS pada pasien. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan dan supervisi rutin terkait implementasi EWS guna meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit.
Analisis Hubungan Intensitas Penggunaan Gadget Dan Perkembangan Sosial Anak Usia Pra Sekolah Haerani Haerani; Nurul Hidayah Bohari; Husnul Khatimah; Andi Ika Wahyuni
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.410

Abstract

Masa prasekolah dianggap sebagai “masa emas” dalam perkembangan anak, terutama dalam aspek sosial. Namun, penggunaan gadget yang semakin meningkat pada usia dini menimbulkan kekhawatiran serius, karena dapat mengganggu kemampuan komunikasi, empati, dan interaksi sosial anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara durasi penggunaan gadget dan perkembangan sosial anak-anak prasekolah di Taman Kanak-Kanak Fastabiqul Khaerat di Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah 48 anak berusia 4 hingga 6 tahun yang dipilih melalui metode sampling total. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner penggunaan gadget dan kuesioner perkembangan (KPSP). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas anak menggunakan gadget lebih dari 60 menit per hari. Hasilnya terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara durasi penggunaan gadget dan tingkat perkembangan sosial anak-anak dengan p-valeu 0,014<0,05 Penggunaan gadget yang berlebihan cenderung berdampak negatif pada perkembangan sosial anak prasekolah. Penggunaan gadget yang berlebihan cenderung berdampak negatif pada perkembangan sosial anak prasekolah. Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik sangat penting untuk mengontrol durasi penggunaan gadget sekaligus memberikan stimulus sosial langsung guna mencapai perkembangan optimal.