cover
Contact Name
debie anggraini
Contact Email
scientificj.id@gmail.com
Phone
+6281277167619
Journal Mail Official
scientific.journal@scientic.id
Editorial Address
Jalan Khatib Sulaiman, Kel. Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Scientific Journal
ISSN : 28100204     EISSN : 28100204     DOI : https://doi.org/10.56260/sciena
Core Subject : Health, Science,
Scientific Journal(SCIENA) published by an official of Scientific.id_considers the following types of original contribution for peer review and publication: Research Articles, Review Articles, Letters to Editor, Brief Communications, Case Reports, Book Reviews, Technological Reports, and Opinion Articles. It Is published six times a year and serves the need of scientific and non-scientific personals involved/interested in Natural Science (Physics, Chemistry, Electronics, Mathematics, Astronomy, Oceanography, Engineering), Social Science, Economics, Biology and Medicine. Each issue covers topics, which are of broad readership interest to personals from General Public, Industry, Clinicians, Academia, and Government. Scientic Journal is a must read journal for every one with curiosity in science.
Articles 216 Documents
Status Vitamin D dan Hubungannya dengan Kadar Kolesterol Total Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Jelmila, Sri Nani; Mutiya Rahmi, Rafiqa; Suharni; Helmizar, Roland; Liana, Nana
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.321

Abstract

Pendahuluan: Defisiensi vitamin D dilaporkan tinggi pada populasi dewasa muda termasuk mahasiswa kedokteran, meskipun berada di negara tropis. Vitamin D diduga berperan dalam metabolisme lipid melalui modulasi inflamasi dan regulasi metabolik.Tujuan penelitian: menganalisis status vitamin D dan hubungannya dengan kadar kolesterol total pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada 61 sampel. Kadar 25-hidroksivitamin D diperiksa dengan ELISA dan diklasifikasikan menjadi defisiensi, insufisiensi, dan sufisiensi, sedangkan kolesterol total diperiksa dengan metode enzimatik kolorimetrik. Hasil: Hasil menunjukkan status vitamin D terbanyak adalah defisiensi (36,1%), rerata kadar kolesterol total adalah 174,16±28,81 mg/dL. Analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara status vitamin D dan kadar kolesterol total (p=0,14). Kesimpulan: defisiensi vitamin D merupakan kondisi yang dominan pada mahasiswa kedokteran, namun tidak berhubungan signifikan dengan kadar kolesterol total.
A Analisis Klaim Ilmiah pada Halaman Produk Ankle Brace untuk Cedera Pergelangan Kaki di Marketplace Global Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.323

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan e-commerce telah memungkinkan konsumen memperoleh akses langsung terhadap alat ortopedi seperti ankle brace. Namun, informasi medis yang tercantum pada halaman produk sering kali tidak melalui proses verifikasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis klaim ilmiah pada deskripsi produk ankle brace untuk cedera pergelangan kaki di Amazon.com sebagai representasi marketplace global. Metode Penelitian: Studi ini dilakukan melalui analisis konten deskriptif terhadap 30 produk yang dipilih secara purposif berdasarkan popularitas dan relevansi medis. Evaluasi mencakup keberadaan klaim ilmiah, rujukan studi, parameter terukur, penggunaan istilah anatomi spesifik, serta kesesuaian dengan panduan klinis. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa 22 produk (73,3%) memuat klaim valid berbasis bukti, lima produk (16,7%) menyampaikan klaim lemah tanpa dukungan data, dan tiga produk (10,0%) mengandung klaim menyesatkan berbasis pseudosains terkait “ion tembaga”. Kesimpulan: Diperlukan regulasi yang lebih ketat terhadap iklan alat kesehatan di platform digital untuk melindungi konsumen dari informasi menyesatkan. Meskipun demikian, sebagian besar produsen profesional umumnya menyajikan klaim berbasis bukti.
Gambaran Komplikasi pada Bayi Prematur yang dirawat di NICU Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Padang Tahun 2024 Alisya, Questa Soundri; Efriza
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.326

Abstract

Latar Belakang: Prematuritas merupakan penyebab utama kematian bayi baru lahir dan anak di bawah lima tahun di seluruh dunia. Sekitar 15 juta bayi lahir prematur setiap tahun, dan lebih dari satu juta di antaranya meninggal akibat komplikasi yang dapat dicegah. Di Indonesia, prevalensi kelahiran prematur mencapai sekitar 10% dan menjadi salah satu penyebab kematian neonatal. Bayi prematur berisiko mengalami berbagai komplikasi seperti Respiratory Distress (RD), Bronchopulmonary Dysplasia (BPD), Apnea, Necrotizing Enterocolitis (NEC), sepsis, ikterus, Intraventricular Hemorrhage (IVH), dan Retinopathy of Prematurity (ROP). Perawatan intensif di ruang NICU diperlukan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Tujuan: Mengetahui dan mengidentifikasi jenis komplikasi yang dialami bayi prematur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan total sampling. Sampel meliputi seluruh bayi prematur dengan usia kehamilan <37 minggu yang dirawat di NICU RSI Siti Rahmah Padang selama 1 Januari–31 Desember 2024. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis secara univariat menggunakan SPSS, kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil: Dari 41 bayi prematur, mayoritas memiliki usia kehamilan 32–<37 minggu (78,0%), berat lahir 1500–2500 gram (95,1%), dan berjenis kelamin laki-laki (51,2%). Sebagian besar ibu berusia 20–35 tahun (85,4%), berstatus gizi normal (36,6%), melakukan ANC adekuat (90,2%), memiliki riwayat obstetri nullipara (43,9%), dan tidak memiliki penyakit (43,9%). Komplikasi terbanyak adalah Respiratory Distress (97,6%), diikuti ikterus (65,9%) dan apnea (14,6%), sedangkan sepsis hanya ditemukan pada satu bayi (2,4%). Kesimpulan: Komplikasi yang paling sering terjadi pada bayi prematur adalah Respiratory Distress, diikuti ikterus dan apnea. Pemantauan ketat serta penanganan cepat terhadap gangguan pernapasan penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas neonatal.
Sindrom Dekondisi pada Pasien dengan Hipotiroidisme: Laporan Kasus Heppy, Fredia; Putri, Mia Eka; Khairina, Tati
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.329

Abstract

Pendahuluan: Hipotiroidisme adalah gangguan endokrin dengan manifestasi multisistem yang dapat menyebabkan penurunan kapasitas fungsional dan kualitas hidup. Salah satu komplikasi yang sering terabaikan adalah sindrom dekondisi, yaitu kondisi penurunan fungsi fisik, kognitif, dan metabolik akibat inaktivitas kronis, umumnya terjadi pada usia lanjut. Identifikasi dini sindrom ini penting untuk mencegah terjadinya perburukan status fungsional, kualitas hidup dan morbiditas jangka panjang. Uraian kasus : Kami melaporkan pasien wanita usia 49 tahun dengan keluhan kelelahan progresif, berjalan lambat, mengantuk berlebihan, konstipasi, sulit menahan kemih, suara berat dan serak, gangguan memori, dan muncul keterbatasan aktivitas sehari-hari yang memberat 2 bulan terakhir. Keluhan sudah dirasakan selama 2 tahun. Pasien sudah dikenal menderita Diabetes Melitus dan Dislipidemia selama 5 tahun. Pemeriksaan fisik didapatkan puffy face, kulit kering, bradikardi (nadi 52x/menit), kelemahan otot (MMT 4/5), dan gangguan fungsional (skor ADL 17). Laboratorium menunjukkan TSH 35,36 mU/L, FT4 0,5 ng/dL, dislipidemia berat (kolesterol total 430 mg/dL, trigliserida 2341 mg/dL), serta gula darah puasa 179 mg/dL. Pasien diberikan levothyroxine 50 mcg/hari, fenofibrat, obat antidiabetes oral, dan terapi simtomatis lainnya. Evaluasi klinis dan laboratorium dilakukan setiap 4 minggu. Pasien menunjukkan perbaikan, aktivitas lebih baik, profil lipid menurun. Pada minggu ke-12 kekuatan motorik 5/5, TSH 3,20 mU/L. Kondisi klinis membaik secara signifikan dengan kualitas hidup lebih baik. Kesimpulan: Sindrom dekondisi dapat muncul sebagai komplikasi hipotiroidisme kronis. Terapi levothyroxine yang adekuat tidak hanya memperbaiki profil metabolik tetapi juga fungsi fisik dan aktivitas harian pasien. Laporan ini menegaskan pentingnya deteksi dan tata laksana dini untuk mencegah penurunan kualitas hidup lebih lanjut.
Subcorneal Pustular Dermatosis Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 dan Dislipidemia: Sebuah Laporan Kasus Gustia, Rina; Muchyar, Mutia Sari; Ashar, Miranda; Imaduddin, Ummul Khair; Intan, Shinta Ayu; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.331

Abstract

Pendahuluan: Subcorneal pustular dermatosis (SPD), atau penyakit Sneddon–Wilkinson, merupakan dermatosis neutrofilik kronis yang jarang, ditandai dengan pustul superfisial berulang. SPD semakin banyak dilaporkan berhubungan dengan penyakit sistemik, terutama gangguan metabolik seperti diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia, yang dapat berkontribusi terhadap onset dan kekambuhan penyakit. Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 36 tahun yang datang dengan keluhan bercak kemerahan berulang disertai pustul superfisial flaksid berwarna kekuningan yang gatal pada daerah perut dan punggung bawah selama dua bulan terakhir. Lesi awalnya membaik dengan kortikosteroid topikal tetapi kambuh kembali dua minggu kemudian dengan cakupan yang lebih luas. Pasien tidak mengeluhkan demam maupun riwayat konsumsi obat sebelumnya. Pasien memiliki penyakit dasar diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia, keduanya dalam kondisi tidak terkontrol dengan baik. Pemeriksaan klinis menunjukkan plak eritematosa multipel dengan pustul superfisial, krusta, erosi, serta makula hiperpigmentasi pada perut dan punggung bawah. Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan multiple yellow-white globule di atas dasar eritematosa yang dikelilingi sisik halus. Evaluasi psikologis menunjukkan tingkat kecemasan sedang dan dampak sedang terhadap kualitas hidup.  Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya mengevaluasi dan menangani komorbiditas sistemik, karena disfungsi metabolik dapat berkontribusi terhadap inflamasi persisten, kekambuhan berulang, dan respons terapi yang kurang optimal pada Subcorneal Pustular Dermatosis.
Suplementasi Zinc Dalam Penatalaksanaan dan Pencegahan Kekambuhan Diare pada Balita Menurut Pandangan Islam Hasti Anugerah, Andi Putri; Djannatun, Titiek; Azmi, Sabrina
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.309

Abstract

Latar belakang: Diare pada balita masih menjadi masalah kesehatan penting karena tingginya angka kejadian, risiko kekambuhan, serta dampaknya terhadap status gizi dan tumbuh kembang. Kekambuhan dipengaruhi oleh faktor host, lingkungan, perilaku, dan ketepatan tatalaksana. Tujuan: Mendeskripsikan peran tablet zinc dalam pencegahan kekambuhan diare pada balita serta menegaskan aspek implementasi pemberian zinc dalam praktik layanan kesehatan. Metode: Artikel ini merupakan tinjauan pustaka naratif yang membahas definisi, klasifikasi, epidemiologi, etiologi, dan manifestasi klinis diare pada balita, serta mekanisme kerja, manfaat, dosis, cara pemberian, dan keamanan tablet zinc sebagai terapi tambahan. Hasil: Pemberian zinc pada diare balita berkontribusi terhadap perbaikan mukosa usus dan peningkatan respons imun, sehingga dapat mengurangi durasi dan keparahan diare akut serta menurunkan risiko diare berulang selama 2–3 bulan setelah episode diare. Rekomendasi pemberian zinc selama 10 hari berturut-turut (10 mg/hari untuk usia <6 bulan; 20 mg/hari untuk usia ≥6 bulan) mendukung tatalaksana diare berbasis bukti bersama rehidrasi oral dan edukasi keluarga. Efek samping jarang dan umumnya ringan. Kesimpulan: Tablet zinc merupakan terapi tambahan penting pada diare balita, terutama untuk pencegahan kekambuhan. Kepatuhan terhadap durasi pemberian serta edukasi kepada orang tua/pengasuh menjadi kunci keberhasilan intervensi.
Efektivitas Metode Ponseti di Daerah Sumber Daya Terbatas: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Hasil, Hambatan, dan Adaptasi Kontekstual Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.313

Abstract

Latar Belakang : Metode Ponseti kini menjadi standar emas global dalam penanganan clubfoot, namun penerapannya di daerah terpencil atau berpenghasilan rendah masih menghadapi tantangan nyata. Tinjauan ini bertujuan mengungkap bagaimana metode ini benar-benar bekerja di lapangan—bukan hanya secara teknis, tetapi juga dalam menghadapi hambatan budaya, logistik, dan sistem layanan. Metode :  Kami melakukan tinjauan literatur sistematis mengikuti pedoman PRISMA, menganalisis tiga studi observasional berkualitas tinggi dari Ethiopia, Zimbabwe, dan pedesaan Amerika Serikat yang dipublikasikan antara 2009–2018. Penilaian kualitas menggunakan checklist JBI. Hasil : Ketiga studi menegaskan satu hal: keberhasilan jangka panjang metode Ponseti bergantung hampir sepenuhnya pada kepatuhan penggunaan brace pasca-koreksi. Di Zimbabwe, 87% anak yang menggunakan brace selama ≥2 tahun mencapai hasil sukses [6]. Di Ethiopia, meski semua kaki berhasil dikoreksi, relaps terjadi pada kasus yang tidak memakai brace [2]. Di New Mexico, anak Native American di pedesaan memiliki risiko relaps 120 kali lebih tinggi akibat ketidakpatuhan brace [7]. Faktor seperti pendapatan rendah, pendidikan orang tua, jarak ke fasilitas, dan kesenjangan budaya dalam komunikasi terbukti menjadi penghambat besar. Selain itu, alat penilaian seperti skor Roye—yang dikembangkan di negara maju—ternyata melewatkan 22,7% kasus yang sebenarnya butuh rujukan ulang, sementara skor ACT hanya melewatkan 7,4% [6]. Kesimpulan : Metode Ponseti memang sederhana dan murah, tetapi tidak cukup hanya mengandalkan casting yang tepat. Ia butuh pendekatan holistik: edukasi visual yang sesuai budaya, sistem follow-up berbasis komunitas, dan alat penilaian yang kontekstual. Dengan itu, setiap anak—bahkan di nagari paling terpencil—bisa mendapatkan kaki yang lurus dan masa depan yang berjalan bebas.
Efektivitas Dekompresi Minimal Invasif Versus Dekompresi Terbuka pada Stenosis Spinal Lumbal: Tinjauan Sistematis Literatur Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.314

Abstract

Latar Belakang: Teknik dekompresi minimal invasif (MIS) kini menjadi pilihan populer dalam penanganan stenosis spinal lumbal (LSS). Namun, banyak literatur kontemporer secara tidak tepat menyebut prosedur MIS—seperti laminotomi mikroskopik dengan tubular retractor—sebagai “laminectomy terbuka”, sehingga menciptakan ilusi perbandingan yang menyesatkan. Tujuan Penelitian: Menilai efektivitas klinis MIS dibandingkan laminectomy terbuka konvensional, yang secara operasional didefinisikan sebagai prosedur dengan insisi midline ≥4 cm, diseksi periosteal otot paraspinal, dan tanpa bantuan alat tubular atau endoskopi. Metode: Tinjauan sistematis ini mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, dan Embase hingga Desember 2025. Hanya studi yang benar-benar membandingkan MIS dengan laminectomy terbuka sesuai definisi ketat yang dimasukkan. Risiko bias dinilai menggunakan ROBINS-I. Hasil: Dari 3.695 catatan, hanya satu studi (Nerland et al., 2015; n=885) yang memenuhi kriteria inklusi [1]. Studi ini menunjukkan bahwa MIS setara secara fungsional dengan laminectomy terbuka (selisih rata-rata ODI: 1,3 poin; batas ekivalensi = 8 poin; p<0,001 untuk ekivalensi) dan memberikan lama rawat inap yang lebih singkat (1,5–2,0 hari lebih pendek; p<0,001). Namun, tidak ada perbedaan signifikan dalam komplikasi setelah propensity matching. Yang lebih penting, tidak ditemukan studi kontemporer lain yang benar-benar membandingkan MIS dengan laminectomy terbuka konvensional, mengungkap kesenjangan bukti besar dalam literatur. Kesimpulan: Meskipun secara fungsional setara dan menawarkan keunggulan perioperatif, bukti komparatif yang valid hampir tidak ada. Klaim superioritas MIS atas “open” sering kali didasarkan pada perbandingan antar teknik minimal invasif, bukan terhadap prosedur terbuka sesungguhnya. Temuan ini sangat relevan untuk pengambilan keputusan klinis, terutama di negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia.
A Augmentasi Biologis dalam Penyembuhan Fraktur Tibia: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Efektivitas Plasma Kaya Trombosit, Konsentrat Aspirat Sumsum Tulang, dan Adjuvan Biologis Lainnya terhadap Pemulihan Radiologis dan Fungsional Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.315

Abstract

Latar Belakang: Fraktur tibia memiliki angka nonunion hingga 30%, terutama pada kasus terbuka atau distal. Augmentasi biologis seperti plasma kaya trombosit (PRP), konsentrat aspirat sumsum tulang (BMAC), dan protein morfogenetik tulang rekombinan (rhBMP) semakin digunakan, namun bukti klinisnya masih terfragmentasi [1,2]. Tujuan: Mensintesis bukti klinis terkini mengenai efikasi, keamanan, dan indikasi optimal adjuvan biologis dalam penyembuhan fraktur tibia. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian di PubMed menghasilkan 27 catatan; setelah penyaringan, 16 studi klinis (10 uji acak terkontrol, 6 observasional) yang melibatkan >1.800 pasien dimasukkan [3]. Hasil: rhBMP-2 (12 mg) mengurangi intervensi sekunder sebesar 44% pada fraktur tibia terbuka, tetapi tidak bermanfaat pada fraktur tertutup [4,5]. rhBMP-7 non-inferior dibanding autograft pada nonunion tibia dan mempercepat penyembuhan fraktur distal [6–8]. PRP dan BMAC mencapai angka penyatuan 90–93% dalam studi kecil dengan prosedur minim invasif [9,10]. Hormon pertumbuhan meningkatkan marker biokimia tanpa manfaat klinis [11]. Tidak ditemukan efek samping mayor.Kesimpulan: Efektivitas augmentasi biologis bergantung pada konteks klinis: rhBMP-2 untuk fraktur terbuka, rhBMP-7 untuk nonunion/distal, dan PRP/BMAC sebagai alternatif berbiaya rendah. Standardisasi protokol diperlukan sebelum adopsi luas terapi seluler.
Laporan Studi Kasus: Gangguan Nutrisi dan Pertumbuhan Sebagai Manifestasi Komplikasi Patent Ductus Urachus pada Anak Fauziyah, Sri; Amalia, Yeni
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.316

Abstract

Urachus adalah struktur tubular yang menghubungkan kubah kandung kemih dengan umbilikus selama kehidupan intrauterin. Setelah lahir, urachus biasanya mengalami obliterasi menjadi ligamentum umbilikalis median. Kegagalan proses ini dapat menimbulkan anomali urachal, seperti urachus paten, sinus urakhal, kista urakhal, atau divertikulum. Kondisi ini dapat bermanifestasi sebagai keluarnya cairan dari umbilikus, pembengkakan, atau ditemukan secara insidental saat pencitraan untuk keluhan saluran kemih. Diagnosis terutama menggunakan riwayat, pemeriksaan fisik, dan ultrasonografi, sementara CT scan atau VCUG jarang diperlukan.  Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan patent ductus urachus dengan risiko malnutrisi dan keterlambatan pertumbuhan. Hasilnya menunjukkan bahwa diagnosis untuk pasien ini adalah paten duktus urachus yang mengakibatkan malnutrisi tipe marasmik, gagal tumbuh, perawakan pendek, sembelit, anemia mikrositer hipokromik, dan keterlambatan motorik kasar.

Filter by Year

2022 2026