cover
Contact Name
debie anggraini
Contact Email
scientificj.id@gmail.com
Phone
+6281277167619
Journal Mail Official
scientific.journal@scientic.id
Editorial Address
Jalan Khatib Sulaiman, Kel. Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Scientific Journal
ISSN : 28100204     EISSN : 28100204     DOI : https://doi.org/10.56260/sciena
Core Subject : Health, Science,
Scientific Journal(SCIENA) published by an official of Scientific.id_considers the following types of original contribution for peer review and publication: Research Articles, Review Articles, Letters to Editor, Brief Communications, Case Reports, Book Reviews, Technological Reports, and Opinion Articles. It Is published six times a year and serves the need of scientific and non-scientific personals involved/interested in Natural Science (Physics, Chemistry, Electronics, Mathematics, Astronomy, Oceanography, Engineering), Social Science, Economics, Biology and Medicine. Each issue covers topics, which are of broad readership interest to personals from General Public, Industry, Clinicians, Academia, and Government. Scientic Journal is a must read journal for every one with curiosity in science.
Articles 204 Documents
Pengaruh Derajat Miopi terhadap Konsentrasi Belajar pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi dan Tinjauan dalam Pandangan Islam Biantari Meirlan Neva Zefanya; Tri Agus Haryono; Amir Mahmud; Saskia Nassa Mokoginta
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.297

Abstract

Miopi merupakan gangguan refraksi dengan prevalensi tinggi pada kelompok usia belajar dan berpotensi mengganggu kenyamanan visual serta konsentrasi belajar, termasuk pada mahasiswa kedokteran. Dalam perspektif Islam, mata dan pancaindra merupakan amanah Ilahi yang sangat terkait dengan proses pencarian ilmu dan tanggung jawab moral manusia. Artikel ini bertujuan mengkaji secara naratif hubungan derajat miopi dengan konsentrasi belajar pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI serta menelaahnya dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis. Penulisan dilakukan melalui telaah pustaka terhadap literatur oftalmologi, pendidikan, dan studi Islam yang berkaitan dengan miopi, konsentrasi belajar, dan fungsi pancaindra, yang kemudian dipadukan dengan analisis tematik terhadap sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis tentang pendengaran, penglihatan, dan fungsi akal. Telaah menunjukkan bahwa derajat miopi yang lebih berat, apabila tidak terkoreksi dengan adekuat, dapat menurunkan ketajaman penglihatan jauh, meningkatkan kelelahan mata, dan mengganggu pemrosesan informasi visual, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan konsentrasi belajar dan prestasi akademik. Dari sudut pandang Islam, pancaindra—khususnya mata—diposisikan sebagai instrumen untuk mengenali ayat-ayat kauniyah dan qauliyah, sehingga pemeliharaan kesehatan mata serta koreksi miopi merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah dan mengefektifkan proses menuntut ilmu. Dengan demikian, hubungan antara derajat miopi dan konsentrasi belajar perlu direspons melalui skrining refraksi, koreksi penglihatan, edukasi higienitas visual, serta penguatan kesadaran keagamaan mengenai pentingnya menjaga fungsi penglihatan pada mahasiswa kedokteran, khususnya di lingkungan Universitas YARSI.
Analisis Jarak Tempuh dan Estimasi Waktu Transportasi Terhadap Penundaan Operasi pada Kasus Fraktur Femur Emergensi: . Ardian Riza; Noverial; Muhammad Pramana Khalilul Harmi; Mutia Sari
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.298

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi sistemik seperti tromboemboli vena dan pneumonia. Dalam sistem rujukan di Indonesia, pasien sering datang dari wilayah terpencil, sehingga jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi dianggap sebagai faktor potensial yang menunda operasi.Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi terhadap durasi antara masuk IGD hingga pelaksanaan operasi sebagai proksi penundaan operasi pada fraktur femur emergensi. Metode: Studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan terhadap pasien fraktur femur emergensi di sebuah rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024–Juni 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi linier ganda.. Hasil: Dari 98 pasien, hanya 31 pasien (31,6%) yang memiliki data lengkap. Rata-rata jarak tempuh adalah 117,8 ± 113,2 kilometer dan estimasi waktu tempuh 3,5 ± 2,4 jam. Median durasi IGD–operasi adalah 9,8 jam (IQR: 3,0–29,0 jam). Tidak terdapat korelasi signifikan antara jarak tempuh (r = 0,21; p = 0,16) maupun estimasi waktu tempuh (r = 0,18; p = 0,22) dengan durasi IGD–operasi. Model regresi linier ganda menunjukkan R² = 0,046 (p = 0,20), tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Faktor internal rumah sakit seperti ketersediaan ruang operasi dan sistem triase kemungkinan lebih dominan.
Korelasi Kadar Gula Darah Puasa dengan HbA1c pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Lubuk Basung Ika Kurnia Febrianti; Desi Ekawati
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.299

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit dengan komplikasi yang memyebabkan masalah serius di bidang kesehatan secara global. Ketidaksesuaian antara kadar gula darah puasa (GDP) dan HbA1c sebagai standar pemeriksaan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dapat menyebabkan interpretasi klinis yang berbeda. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui korelasi antara kadar GDP dengan kadar HbA1c pada pasien DMT2 di RSUD Lubuk Basung. Metode: Penelitian observasional dengan cross sectional study. Penelitian dilakukan bulan Januari-November 2025. Sampel digunakan sebanyak 120 data pasien DMT2 secara consecutive sampling yang ada di laboratorium patologi klinik RSUD Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Data kategorik ditampilkan dalam bentuk frekuensi dan persentase, data numerik ditampilkan dalam bentuk rerata dan standar deviasi. Dilakukan analisis korelasi antara kadar GDP dengan kadar HbA1c pada pasien DMT2, dinyatakan dalam koefisien korelasi Pearson bila data terdistribusi normal, atau uji korelasi Spearman bila tidak terdistribusi normal. Data diolah dengan SPSS 21.0, dihitung nilai kemaknaannya, bermakna jika p < 0,05. Hasil: Hasil penelitian didapatkan umur rata-rata pasien 59,61±12,53 tahun (termuda 24 tahun, tertua 96 tahun. Kadar GDP rata-rata 191,500 ± 92,218 mg/dl, (minimum 76,00 mg/dl, maksimum 504,00mg/dl). Kadar GDP normal 36 orang (30%), kadar GDP tinggi 84 orang (70%). Kadar HbA1c rata-rata 8,904±3,178 %, ( minimum 4,00%, maksimum 15,00%). Nilai HbA1c normal 5 orang (4,167%), dan HbA1c tinggi 115 orang (95,833%). Terdapat korelasi positif kuat antara GDP dan HbA1c pada pasien DMT2 (r=0,8678, dan p<0,05). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif yang kuat antara kadar GDP dan HbA1c pada pasien DMT2. Kadar GDP yang tinggi cenderung diikuti HbA1c yang tinggi, sehingga GDP dapat digunakan sebagai indikator awal kontrol glikemik, dan HbA1c tetap menjadi pemeriksaan standar untuk evaluasi jangka panjang.
Pengaruh Aktivitas Melihat Dekat pada Media Pembelajaran Terhadap Terjadinya Dry Eye Syndrome (Keratoconjungtivitis Sicca) pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Yarsi yang Ditinjau dalam Pandangan Islam Hafizh Shidqi Wicaksana; Tri Agus Haryono; Amir Mahmud; Saskia Nassa Mokoginta
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.300

Abstract

Latar Belakang Mahasiswa kedokteran memiliki intensitas aktivitas melihat dekat yang tinggi akibat penggunaan media pembelajaran fisik dan digital secara berkelanjutan. Aktivitas ini berpotensi menurunkan frekuensi kedipan mata dan meningkatkan evaporasi air mata, sehingga memicu terjadinya Dry Eye Syndrome (DES) atau keratokonjungtivitis sicca. Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan mata merupakan bagian dari amanah dan implementasi prinsip ḥifẓ al-nafs. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas melihat dekat pada media pembelajaran terhadap terjadinya Dry Eye Syndrome pada mahasiswa kedokteran Universitas YARSI, serta meninjaunya dalam perspektif nilai-nilai Islam. Metode Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan mahasiswa kedokteran Universitas YARSI. Variabel independen meliputi durasi dan jarak aktivitas melihat dekat pada media pembelajaran, baik media digital maupun non-digital. Variabel dependen adalah kejadian Dry Eye Syndrome yang dinilai berdasarkan gejala subjektif. Data dianalisis untuk menilai hubungan antara aktivitas melihat dekat dan kejadian DES. Hasil Aktivitas melihat dekat dengan durasi lama dan jarak yang tidak ergonomis menunjukkan kecenderungan peningkatan gejala Dry Eye Syndrome pada mahasiswa kedokteran. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa fokus visual berkepanjangan dan penurunan frekuensi berkedip berperan dalam ketidakstabilan lapisan air mata. Kesimpulan Aktivitas melihat dekat pada media pembelajaran berpengaruh terhadap terjadinya Dry Eye Syndrome pada mahasiswa kedokteran Universitas YARSI. Upaya pencegahan melalui edukasi ergonomi visual, pengaturan durasi belajar, dan
The Acute Toxicity of Soursop Leaf Kombucha on Male Zebra Fish (Danio Rerio) Dini Sri Damayanti; Andini Tarisa Anwar
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.301

Abstract

Pendahuluan: Kombucha daun sirsak merupakan minuman fermentasi yang mengandung senyawa fenolik dan berfungsi sebagai antioksidan, namun keamanannya belum diketahui. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan LC50 kombucha daun sirsak pada ikan zebra jantan dewasa. Metode: Uji toksisitas dilakukan pada lima dosis berbeda: 12.000 ppm, 25.000 ppm, 50.000 ppm, 100.000 ppm, dan 200.000 ppm, serta kelompok kontrol. Setiap akuarium berisi 10 ekor ikan zebra dalam 2 L air. Pengamatan terhadap perubahan perilaku berenang dan jumlah kematian dilakukan dalam waktu 96 jam setelah pemberian kombucha daun sirsak. Proses pengulangan sebanyak 3 kali. Data dianalisis menggunakan Analisis Probit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan perilaku berenang dan kematian ikan zebra mulai terjadi pada dosis 50.000 ppm. Semakin tinggi dosis, semakin besar jumlah kematian. Nilai LC50 kombucha daun sirsak adalah 58.118 ppm. Kesimpulan: Berdasarkan nilai LC50 ini, dapat disimpulkan bahwa kombucha daun sirsak tidak bersifat toksik
Hubungan Dukungan Sosial dengan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Wilayah Kerja Puskesmas Sememi Yulia Nurlaela Rizkha; Hanna Tabita Hasianna Silitonga; Cempaka Harsa Sekarputri; Hebert Adrianto; Antonius Yansen Suryadarma
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.303

Abstract

- Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Keberhasilan pengendalian vektor, khususnya melalui program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), sangat bergantung pada perilaku masyarakat yang dilakukan secara konsisten. Salah satu faktor eksternal yang berperan dalam membentuk dan mempertahankan perilaku PSN adalah dukungan sosial, yang dapat meningkatkan motivasi serta partisipasi kolektif masyarakat dalam upaya pencegahan DBD. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan perilaku PSN pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sememi, Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar dan tervalidasi untuk mengukur tingkat dukungan sosial dan perilaku PSN dan dihitung menggunakan. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki dukungan sosial yang baik (73,3%) dan perilaku PSN yang baik (81,7%). Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan perilaku PSN (p < 0,05). Kesimpulan: Dukungan sosial memiliki peran penting dalam meningkatkan dan mempertahankan perilaku PSN di masyarakat. Keterlibatan berkelanjutan dari keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan diperlukan untuk memperkuat motivasi sosial dan mendorong tindakan kolektif dalam program pencegahan DBD.
Gambaran Kecemasan pada Pasien yang Akan Menjalani Pembiusan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Rialta Hamda; Fisyanti; Wisda Widiastuti; Annisa Lidra Maribeth
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.304

Abstract

Pendahuluan: Pembiusan digunakan untuk mencegah pasien mengalami rasa sakit selama pembedahan. Tujuan pembiusan adalah untuk menjaga pasien dalam kondisi yang optimal selama prosedur pembedahan dengan menghilangkan semua modalitas nyeri, rabaan, suhu, dan posisi. Kecemasan dapat terjadi akibat pembiusan atau anestesi yang sering disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kurangnya pengetahuan atau informasi, takut akan modalitas nyeri atau rasa sakit saat pembiusan. Tujuan penelitian: Mendapatkan gambaran kecemasan pada pasien yang akan menjalani pembiusan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah. Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif kategorik, menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 70 responden dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information scale). Hasil : Diketahui usia terbanyak adalah dewasa yaitu 55 orang (78,6%). Jenis kelamin responden terbanyak adalah perempuan yaitu 38 orang (45,3%). Pendidikan responden yang paling banyak ditemui adalah SMA yaitu 31 orang (44,3%). ASA responden terbanyak ASA 2 yaitu 50 orang (71,4%). Jenis pembiusan responden terbanyak adalah pembiusan umum yaitu 32 orang (45,7%). Tingkat kecemasan terbanyak adalah tingkat kecemasan sedang yaitu 32 orang (45,7%). Tingkat kecemasan ringan ada 20 responden (28,6%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 10 orang (14,3%) pada pembiusan regional. Tingkat kecemasan sedang ada 32 responden (45,7%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 17 orang (24,3%) pada pembiusan umum. Pada tingkat kecemasan berat ada 13 responden (18,6%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 7 orang (10%) pada pembiusan umum. Kesimpulan : Usia terbanyak adalah dewasa. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan. Pendidikan yang paling banyak ditemui pada tingkat SMA. ASA terbanyak adalah ASA 2. Jenis pembiusan terbanyak adalah pembiusan umum. Tingkat kecemasan terbanyak adalah tingkat kecemasan sedang dan yang paling sedikit yaitu tidak cemas. Hasil kuesioner APAIS, didapatkan tingkat kecemasan banyak didapatkan pada pernyataan tentang pembiusan daripada tindakan operasi. Berdasarkan jenis pembiusan, tingkat kecemasan ringan banyak pada pembiusan regional, kecemasan sedang dan kecemasan berat banyak pada pembiusan umum.
Penggunaan Tabir Surya Berbagai SPF dalam Mencegah Lentigo Solaris pada Kulit yang Terpapar Sinar Matahari Monica Ambarwati Nur Faiza; Stefani Nurhadi; Desy Hinda Pramita; Mellyanawati; Minarni Wartiningsih; Stephen Akihiro Wirya; Antonius Yansen Suryadarma
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.306

Abstract

Pendahuluan: Sinar UV dapat mengaktivasi melanosit sehingga meningkatkan produksi melanin dan memicu terbentuknya hiperpigmentasi pada kulit. Lentigo solaris adalah salah satu hiperpigmentasi kulit yang terjadi akibat paparan sinar ultraviolet (UV) jangka panjang. Lentigo solaris tidak menimbulkan masalah kesehatan serius tetapi dapat mengganggu estetika kulit. Tujuan penelitian: Untuk mengevaluasi hubungan penggunaan tabir surya berbagai SPF terhadap pembentukan lentigo solaris pada individu yang terpapar sinar matahari. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control dengan total 85 responden, terdiri dari 17 responden dengan lentigo solaris dan 68 responden tanpa lentigo solaris. Pengukuran lentigo solaris dilakukan menggunakan skin analyzer berdasarkan parameter UV Spots, sedangkan penggunaan tabir surya dinilai melalui kuesioner terstandarisasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara penggunaan tabir surya dan kejadian lentigo solaris (p = 0,007). Responden yang tidak menggunakan tabir surya memiliki risiko 5,093 kali lebih besar mengalami lentigo solaris dibandingkan responden yang menggunakan tabir surya (95% CI: 1,643–15,785). Beberapa responden yang tidak menggunakan tabir surya tetapi tidak mengalami lentigo solaris, menunjukkan bahwa faktor lain seperti fototipe kulit dan intensitas paparan UV juga berperan. Kesimpulan: Penggunaan tabir surya merupakan faktor protektif penting dalam mencegah pembentukan lentigo solaris.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) oleh Ibu Hamil di Puskesmas Sungai Sarik Erdanela Setiawati; Arief Rinaldy; Rosmaini; Fidiariani Sjaaf; Shadilla Hutri Ananda
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.319

Abstract

Pendahuluan: Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunan angka-kematian-ibu (AKI) adalah melaksanakan Program-Perencanaan-Persalinan dan Pencegahan-Komplikasi (P4K) pada ibu-hamil. Banyak faktor yang mempengaruhi pelaksanaan P4K oleh ibu-hamil seperti: pengetahuan, dukungan suami, dan-sebagainya. AKI di Indonesia dan di Sumatera-Barat masih tinggi dan jauh dari angka target SDG. Tujuan-penelitian: untuk  mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Pelaksanaan P4K oleh ibu-hamil di Puskesmas-Sungai-Sarik Metode: Jenis dan rancangan penelitian adalah penelitian analitik-observasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Wilayah-Kerja Puskesmas-Sungai-Sarik, Kabupaten-Padang-Pariaman, Provinsi-Sumatera-Barat, mulai Juni-2023 sampai-dengan Agustus-2024. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Sampel-penelitian adalah semua ibu-hamil yang datang ke Puskesmas-Sungai-Sarik pada bulan Juli-Agustus 2024. Besar-sampel ditentukan menggunakan metode total-sampling. Dengan teknik  purposive-sampling diperoleh sampel sebanyak 169 ibu-hamil. Variabel-independen: adalah karakteristik ibu-hamil seperti: usia, pendidikan, pekerjaan, usia-kehamilan, paritas, penghasilan-keluarga, dan tingkat-pengetahuan ibu-hamil. Variabel-dependen: pelaksanaan P4K oleh ibu-hamil. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (Uji Chi-Square). Hasil: Analisis-univariat. Dari 169 ibu-hamil di Puskesmas-Sungai-Sarik, mayoritas berusia 20-35 tahun (78,1%), berpendidikan menengah (SMP-SMA) sebanyak 68,6%, dan tidak bekerja (76,3%). Mayoritas hamil trimester-2 (12-28 minggu) sebanyak 55,6% dan kehamilan-multipara (63,8%). Dari penghasilan-keluarga, mayoritas berpenghasilan-sedang (30,8%), berpengetahuan kurang-baik (53,8%), dan memiliki pelaksanaan-P4K baik (84,6). Analisis-bivariat. Hasil uji Chi-Square didapatkan faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan-P4K yang baik adalah faktor pendidikan (p-value=0,028), usia kehamilan (p-value=0,006) dan tingkat-pengetahuan ibu-hamil (p-value=0,038). Sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan pelaksanaan-P4K yang baik adalah faktor usia ibu-hamil (p-value=0,169), pekerjaan (p-value=0,319), paritas (p-value=0,794), dan penghasilan-keluarga (p-value=0,512) Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengn pelaksanaan Program-Perencanaan-Persalinan dan Pencegahan-Komplikasi (P4K) yang baik pada ibu-hamil di Puskesmas-Sungai-Sarik adalah faktor pendidikan, usia-kehamilan dan pengetahuan ibu-hamil.
Hubungan Hasil Ukur Kadar Kortisol Serum dengan Derajat Keparahan Klinis Neuropati Perifer pada Pasien HIV R. Dhea Pratiwi Novrianti; Yuri Haiga; Debie Anggraini
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.320

Abstract

Latar Belakang: Neuropati perifer merupakan salah satu komplikasi neurologis yang paling sering dijumpai pada pasien dengan infeksi HIV dan dapat menurunkan kualitas hidup serta menimbulkan gangguan fungsional yang signifikan. Peningkatan kadar kortisol akibat stres kronik diduga berperan dalam patogenesis neuropati perifer melalui mekanisme perubahan neuroendokrin dan aktivasi proses inflamasi.  Tujuan: Untuk mengetahui hubungan hasil ukur kadar kortisol serum dengan derajat keparahan klinis neuropati perifer pada pasien HIV. Metode: Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf dan Ilmu Biokimia. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2025. Jenis penelitian adalah analitik kategorik. Populasi terjangkau pada penelitian adalah semua pasien HIV dengan neuropati perifer di RSUP Dr. Mdjamil Padang. Sampel serum yang diteliti sebanyak 49 sampel dan dilakukan analisis menggunakan metode ELISA. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji spearman, pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi IBM Statistic 27.  Hasil: Berdasarkan penelitian, paling banyak pasien HIV berjenis kelamin laki-laki (75,5%), kelompok usia terbanyak dewasa (77,6%) dengan kadar kortisol serum kategori normal (57,1%), serta derajat keparahan klinis neuropati ringan (85,7%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara hasil ukur kadar kortisol serum dengan derajat keparahan klinis neuropati perifer pada pasien HIV menggunakan uji korelasi spearman yang diperoleh nilai korelasi (r) = -0,118, sedangkan nilai signifikan (p) = 0,420. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna antara hasil ukur kadar kortisol serum dengan derajat keparahan klinis neuropati perifer pada pasien HIV.