cover
Contact Name
Gesnita Nugraheni
Contact Email
gesnita@gmail.com
Phone
+6281357351183
Journal Mail Official
editorjfk@ff.unair.ac.id
Editorial Address
Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia 60115
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Farmasi Komunitas
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23555912     EISSN : 23555912     DOI : https://doi.org/10.20473/jfk.v9i1.24085
Core Subject : Health,
The aim of Jurnal Farmasi Komunitas (JFK) is to publish exciting, empirical research, recent science development, and high-quality science that addresses fundamental questions in pharmacy practice. JFK publishes articles in pharmacy practice area including: 1. Clinical and Community Pharmacy 2. Public Health 3. Psychology 4. Medicine, and other health related topics.
Articles 164 Documents
Analisis Deskriptif Produk Serum Brightening yang Beredar di Pasaran Berdasarkan Komposisi, Harga dan Bentuk Kemasan Nabila Ariyanda; Nurbaiti Nurbaiti; Putri Thamara Utami; Andhini Pramudina; Rado Justeza; Syafira Atika Putri
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 13 No. 1 (2026): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v13i1.86562

Abstract

Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perawatan kulit mendorong tingginya prevalensi penggunaan sediaan serum brightening wajah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik produk serum brightening yang beredar di pasaran ditinjau dari aspek komposisi bahan aktif, rentang harga, dan jenis kemasan. Metode yang digunakan adalah desain observasi deskriptif melalui survei pasar sistematis pada toko-toko kosmetik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar didominasi oleh produk dengan rentang harga Rp50.000–Rp150.000 (50,0%), yang mencerminkan keseimbangan antara keterjangkauan dan kualitas. Dari aspek pengemasan, terdapat preferensi kuat terhadap botol kaca (75,0%) dibandingkan dengan botol plastik (25,0%) demi menjaga stabilitas bahan aktif sensitif. Analisis bahan aktif mengungkapkan bahwa ekstrak alami merupakan komponen yang paling banyak digunakan (18 unit), diikuti oleh Niacinamide (12 unit) dan Vitamin C (11 unit) sebagai standar utama pencerah kulit. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produsen cenderung memprioritaskan keamanan produk melalui tren "Clean Beauty" dan stabilitas formula menggunakan kemasan inert.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi Batuk pada Pengunjung Apotek di Kecamatan Purwosari Vebriana Savitri; Ach. Syahrir; Novia Maulina
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 13 No. 1 (2026): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v13i1.90793

Abstract

Tindakan mengatasi keluhan kesehatan ringan secara mandiri tanpa resep dokter, atau yang dikenal dengan istilah swamedikasi, kini menjadi pilihan yang umum diambil masyarakat, khususnya untuk meredakan batuk. Bekal literasi yang cukup menjadi penentu apakah aktivitas pengobatan diri tersebut berjalan sesuai kaidah atau justru menimbulkan kekeliruan. Riset ini ditujukan untuk memetakan kondisi pengetahuan, menggambarkan perilaku, dan menelusuri keterhubungan kedua hal tersebut pada pengunjung apotek di Kecamatan Purwosari. Rancangan yang dijalankan ialah observasional analitik berdesain cross sectional. Seratus partisipan dipilih lewat purposive sampling, yakni pengunjung apotek yang sedang menjalankan pengobatan sendiri untuk gejala batuk. Pengumpulan data menggunakan kuesioner berstruktur tertutup yang sebelumnya telah melewati pengujian kelayakan instrumen mencakup validitas dan reliabilitas kuesioner. Hasil uji validitas menunjukan 12 item valid untuk dimensi pengetahuan dan reliabel (Cronbach's alpha = 0,754) dan 14 item valid untuk dimensi perilaku dan reliabel (Cronbach's alpha = 0,828). Penelaahan hubungan antarvariabel ditempuh melalui uji Spearman Rank. Hasilnya menunjukkan bahwa separuh partisipan (50%) berada di kategori pengetahuan menengah, sedangkan praktik swamedikasi batuknya dominan berada di tingkat baik (79%). Analisis korelasi memperoleh p = 0,000 dengan r = +0,467, sehingga teridentifikasi hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan tergolong cukup. Penguatan literasi warga sebaiknya dibarengi dengan pendampingan edukatif berkelanjutan oleh apoteker supaya tindakan pengobatan diri terhadap batuk berlangsung lebih aman serta rasional.
Studi Penggunaan Profilaksis Stress Ulcer pada Pasien Bedah Digestif (Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya) Nadilah Sobrina Zakiroh; Budi Suprapti; Indira Dhany Kharismawati M.; Ismu Nugroho; M. A. Milawati Baay
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 13 No. 1 (2026): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v13i1.90962

Abstract

Pasien bedah digestif umumnya rentan mengalami stress ulcer. Pemantauan penggunaan profilaksis stress ulcer sangat penting karena pemberian yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko perdarahan berat dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis obat, dosis, frekuensi, dan durasi terapi profilaksis stress ulcer pada pasien bedah digestif. Penelitian ini merupakan studi observasional menggunakan data retrospektif. Sampel penelitian semua rekam medik pasien  yang menjalani bedah digestif dengan diagnosis kolelitiasis, apendisitis, kanker kolorektal, hernia, atau hemoroid pada periode Oktober 2024 hingga Maret 2025 di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Hasil penelitian dari 81 pasien bedah digestif menunjukkan bahwa agen profilaksis stress ulcer yang digunakan meliputi penghambat pompa proton (PPI) yaitu omeprazol, pantoprazol, dan lansoprazol; antagonis reseptor H2 (ranitidin); serta sukralfat. Regimen yang paling sering digunakan adalah omeprazol 2 x 40 mg intravena. Durasi penggunaan profilaksis stress ulcer yang 1-10 hari. Terapi diberikan baik sebagai monoterapi maupun kombinasi. Monoterapi PPI merupakan regimen yang paling banyak digunakan, sedangkan kombinasi yang paling sering dijumpai adalah PPI dengan sukralfat. Sebagian besar pasien melanjutkan regimen awal tanpa perubahan, meskipun pada beberapa kasus terjadi peralihan rute pemberian dari intravena ke oral seiring dengan perbaikan kondisi klinis pasien. Ditemukan ketidaksesuaian dosis dengan yang rekomendasikan pada penggunaan PPI dan sukralfat, yaitu lebih besar dari dosis rekomendasi.
Studi Biaya Penyakit Stroke Iskemik Rawat Inap Rumah Sakit “X” di Sulawesi Utara Yemmi Yapiter Yap; Suharjono; Budi Suprapti; Heedy Tjitrosantoso
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 13 No. 1 (2026): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v13i1.91226

Abstract

Stroke iskemik adalah gangguan neurologis fokal yang disebabkan oleh penyumbatan arteri otak yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak. Stroke merupakan penyakit katastropik dengan biaya tertinggi ketiga di Indonesia, sehingga biaya perawatan stroke menjadi beban yang besar bagi sistem kesehatan nasional. Cost of illness merupakan studi farmakoekonomi yang mempelajari beban ekonomi suatu penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran biaya medis langsung dan komponennya, perbedaan biaya medis langsung dan paket tarif INA-CBGs, dan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya medis langsung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif-analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diambil secara retrospektif selama periode 1 Januari hingga 30 Juni 2025 di Rumah Sakit “X” di Sulawesi Utara. Subyek penelitian adalah semua pasien JKN dengan diagnosis utama stroke iskemik yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel penelitian meliputi lama perawatan, komorbiditas, komplikasi, kelas rawat inap, dan total biaya medis langsung. Biaya medis langsung dihitung dengan pendekatan bottom-up menurut perspektif rumah sakit. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan bivariat. Hasil penelitian diperoleh jumlah sampel pasien stroke iskemik sebanyak 95 data rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi. Komponen biaya terbesar pasien stroke iskemik rawat inap adalah biaya tindakan medis sebesar Rp793.383.900  (38,43%) diikuti biaya laboratorium Rp306.736.415 (14,86%), dan jasa pelayanan medis sebesar Rp289.979.000 (14,05%). Total biaya medis langsung stroke iskemik adalah Rp2.064.640.282 dan tarif paket INA-CBGs Rp1.162.143.880. terdapat pengaruh signifikan faktor lama perawatan, komorbiditas, dan komplikasi terhadap biaya medis langsung stroke iskemik (p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa paket tarif INA-CBGs tidak mencukupi untuk membiayai pasien rawat inap dengan stroke iskemik (-Rp902.496.402).