cover
Contact Name
Gesnita Nugraheni
Contact Email
gesnita@gmail.com
Phone
+6281357351183
Journal Mail Official
editorjfk@ff.unair.ac.id
Editorial Address
Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia 60115
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Farmasi Komunitas
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23555912     EISSN : 23555912     DOI : https://doi.org/10.20473/jfk.v9i1.24085
Core Subject : Health,
The aim of Jurnal Farmasi Komunitas (JFK) is to publish exciting, empirical research, recent science development, and high-quality science that addresses fundamental questions in pharmacy practice. JFK publishes articles in pharmacy practice area including: 1. Clinical and Community Pharmacy 2. Public Health 3. Psychology 4. Medicine, and other health related topics.
Articles 150 Documents
PENGETAHUAN MAHASISWA UNIVERSITAS AIRLANGGA MENGENAI DISPEPSIA, GASTRITIS, DAN GERD BESERTA ANTASIDA SEBAGAI PENGOBATANNYA Friesca Surya Nurhaidah; Shafira Dwita Anugrah; Annisa Febriani Putri; Wiwin Dwi Rahmadani Tukloy; Salsabila Khairunnisa; Luthfia Hany Primadani; Tri Wahyudi; Aisyia Aisyia; Abby Rahmat Kamaruzzaman; Kambarwati Nur Shofa; Yunita Nita
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.693 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v8i2.24116

Abstract

Peningkatan kasus penyakit tidak menular terjadi dalam 5 tahun terakhir di Indonesia, salah satunya adalah Indigestion yang merupakan sekumpulan gejala saluran pencernaan atas meliputi rasa nyeri atau tidak nyaman di area gastro-duodenum. Yang termasuk dalam indigestion diantaranya dispepsia, gastritis, dan GERD dimana seringkali antasida digunakan sebagai terapi pengobatan pada ketiga penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan mahasiswa fakultas kesehatan dan non-kesehatan Universitas Airlangga mengenai dispepsia, gastritis dan GERD dan penggunaan obat antasida. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei cross sectional, dengan instrumen kuesioner online. Sejumlah 102 orang, mahasiswa fakultas kesehatan sebanyak 30 orang dan non kesehatan sebanyak 72 orang diambil dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan semua orang mengenai dispepsia, gastritis dan GERD yang baik sebesar 12 (11,8%) orang cukup sebesar 40 (39,2%) orang, dan kurang sebesar 50 (49%) orang. Tingkat pengetahuan semua orang pada aspek pengobatan yang baik sebesar 8 (7,8%) orang, cukup 35 (34,3%) orang, dan kurang sebesar 59 (57,8%) orang. Adanya perbedaan bermakna (p=0.000) tingkat pengetahuan antara sampel mahasiswa kesehatan dan sampel mahasiswa non-kesehatan. Upaya promosi kesehatan merupakan hal penting untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai perbedaan dispepsia, gastritis, GERD beserta antasida sebagai pengobatan.
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Masker dan Hand Sanitizer saat Pandemi COVID-19 pada Generasi Milenial di Jawa Timur Afifatul Qur'ana; Ais Amalia Tsani; Ardian Lestari Judoko; Filzah Firzanah Ramadhanti; Hikmah Ayu Suryani; Maulidany Rifkha D.A; Nanda Intan Aulia; Qory Hanifa; Rina Dwi Anggraina; Salsabila Salsabila; Wahyu Utami
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.84 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24117

Abstract

Sejak pandemi COVID-19, personal care product seperti masker dan hand sanitizer menjadi produk yang banyak dicari dan dibutuhkan generasi milenial. Masker digunakan untuk mencegah transmisi virus melalui droplet dari orang yang terinfeksi. Pencegahan penularan COVID-19 lebih efektif jika diiringi kebiasaan mencuci tangan dengan sabun. Namun penggunaannya kurang praktis ketika berpergian, sehingga hand sanitizer dipilih sebagai alternatif. Berdasarkan survei sosial demografi, generasi milenial cenderung lebih tidak taat dalam berperilaku menggunakan masker dan hand sanitizer dibandingkan kelompok usia lain karena mereka menganggap lebih tahan terhadap COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku penggunaan masker dan hand sanitizer pada generasi milenial. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling dengan kriteria inklusi laki-laki/perempuan berusia 16-30 tahun, bukan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, dan berdomisili di Jawa Timur. Penelitian dilakukan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring melalui google form. Berdasarkan hasil penelitian pada 128 responden didapatkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik terkait masker dan hand sanitizer namun sikap dan perilakunya masih kurang terutama dalam penggunaan hand sanitizer yang benar. Perlu dilakukan promosi kesehatan mengenai pentingnya menggunakan hand sanitizer dan masker dengan benar untuk memperbaiki sikap dan perilaku dalam mencegah penyebaran COVID-19.
Pemilihan Produk Anti Acne di Media Sosial pada Remaja di Beberapa Kota/Kabupaten di Indonesia Salsabila Aprilia Rizqi; Anak Agung Istri Yuliandani; Wikal Rizky Yudheansyah; Emirsyalnuary Emirsyalnuary; Khairunnisa Andini; Trisiyana Sholika Sari; Anak Agung Freda Suksma Carira; Ade Dwiki Lusiana; Rizka Aulia Rahma; Davin Mahendra Duwiri; Liza Pristianty
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.256 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24121

Abstract

Acne vulgaris adalah penyakit kulit kronis multifaktorial yang ditandai adanya peradangan dan banyak terjadi pada remaja. Munculnya konten-konten di media sosial mengenai produk anti acne dapat menimbulkan kesalahan dalam pemilihan produk anti acne. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemilihan produk anti acne di media sosial pada remaja di beberapa kota/kabupaten di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan instrumen berupa kuesioner yang disebar secara online melalui google form. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Survei diikuti oleh 259 responden dengan rentang usia 12-20 tahun. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 91,9% responden pernah menjumpai konten anti acne di media sosial, 33,6% responden cukup terpengaruh konten media sosial dalam pemilihan produk anti acne, 43,6% responden ingin membeli produk anti acne setelah melihat konten media sosial, dan 60,6% responden beralasan membeli produk anti acne setelah melihat review produk yang bagus. Sebagian besar remaja pernah menjumpai konten produk anti acne dan memiliki keinginan membeli produk setelah melihat konten produk anti acne di media sosial. Promosi kesehatan serta edukasi mengenai anti acne perlu dilakukan agar masyarakat khususnya remaja dapat memilih dan menggunakan anti acne dengan tepat.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI TERHADAP PENGETAHUAN KELUARGA TERKAIT DAGUSIBU ANTIBIOTIK DI DAERAH SURABAYA DAN SIDOARJO Sarah Mahmudatun Nabila; Ifa Shintia Irianti; Salsabila Salsabila; Aufa Hamidah; Fina Rahmawati; Mohamad Khoirul Faizin; Muhamad Ninjar; Iva Ladzdzah Malikhah; Steffi Ordelia Valentina; Devi Nur Zafirah; Metha Beriana; Andre Alwi Azhari; Abdul Rahem
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.603 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v8i2.24125

Abstract

Antibiotik merupakan golongan obat yang digunakan untuk mengobati pasien yang mengalami infeksi bakteri. Antibiotik harus digunakan secara rasional, tepat, dan aman. Obat antibiotik seharusnya diperoleh dengan resep dokter. Namun masyarakat banyak yang memperolehnya tanpa menggunakan resep dokter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi terkait Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang (DaGuSiBu) antibiotik di daerah Surabaya dan Sidoarjo. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik non probabilitas yaitu dengan purposive sampling menggunakan kuesioner google form. Kuesioner ini berisi 19 pertanyaan dengan skor maksimal 19. Dari 178 responden, dengan 95 kelompok kontrol dan 85 kelompok perlakuan didapatkan hasil pada uji Mann-Whitney nilai p value sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hal ini membuktikan bahwa pemberian edukasi terkait Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang (DaGuSiBu) antibiotik memberikan pengaruh terhadap pengetahuan responden.
Pengetahuan Mahasiswa Non-Kesehatan tentang Penggunaan Obat Antipiretik secara Swamedikasi Nursanti Arya Pratiwi; Aanisah Nabiilah; Ajeng Ambar Sari; Andyko Ismareka Putra; Cordellia Calista Amelia; Hana Sofiana Maghfira; Nada Aprilliya; Rizdamaya Lintang Herfadanti; Virnanda Syafira Hartatiningrum; Yunita Nita
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.5 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24127

Abstract

Swamedikasi merupakan upaya pengobatan sendiri tanpa resep dokter. Antipiretik menempati posisi pertama sebagai obat yang paling banyak dibeli dalam pelaksanaan swamedikasi. Swamedikasi juga banyak dilakukan oleh mahasiswa. Namun, kesalahan dalam swamedikasi masih banyak ditemukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang penggunaan dan praktik pemilihan obat antipiretik secara swamedikasi oleh mahasiswa non- kesehatan Universitas Airlangga. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan cross-sectional dengan cara survei. Responden dipilih menggunakan metode purposive sampling. Instrumen pengambilan data adalah kuesioner yang disebarkan secara online melalui google form. Survei diikuti oleh 111 responden yang merupakan mahasiswa non-kesehatan Universitas Airlangga yang pernah melakukan swamedikasi obat antipiretik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 13 (11,71%) responden memiliki pengetahuan rendah, 74 (66,67%) memiliki pengetahuan sedang, dan 24 (21,62%) memiliki pengetahuan tinggi tentang penggunaan obat antipiretik secara swamedikasi. Mayoritas pengetahuan mahasiswa non-kesehatan Universitas Airlangga tentang penggunaan obat antipiretik secara swamedikasi masuk dalam kategori sedang. Pengetahuan penggunaan dan praktik yang benar dalam pemilihan obat antipiretik secara swamedikasi perlu ditingkatkan agar terwujud keberhasilan dalam pengobatan.
Pengetahuan, Kesadaran, dan Praktik Apoteker di Komunitas di Masa Pandemi COVID-19 di Beberapa Wilayah di Indonesia Gabriella Wilhelmina Targanski; Aprilia Nur’aini Rizma Putri; Putri Rizqiyah; Annisa Septiana Ahmad; Jeremy Moses Prawadi; Yaniar Nur Hidayah; Shafira Muti Ardiana; Muhammad Jabbar Falih; Farisa Firosyida; Isrini Qaidatul Ilmi; Wahyu Mega Tri Susanty; Alvira Eka Widyasari; Elida Zairina
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.326 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24131

Abstract

Peningkatan jumlah pasien COVID-19 menjadi perhatian utama para tenaga kesehatan, termasuk apoteker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan, kesadaran, dan praktik apoteker komunitas di beberapa wilayah di  Indonesia terhadap wabah COVID-19. Penelitian ini didesain secara cross-sectional dengan pengambilan data dilakukan secara daring. Data diambil melalui survei menggunakan kuesioner yang terdiri dari delapan pertanyaan mengenai demografi dan 32 pertanyaan mengenai pengetahuan, kesadaran, dan praktik apoteker tentang pandemi COVID-19. Kuesioner disebarkan kepada apoteker yang memiliki Surat Ijin Praktik Apoteker  (SIPA) aktif dan bekerja di komunitas. Sebanyak 116 apoteker di komunitas berpartisipasi pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 99,14% (n=115) responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai COVID-19 dan sebanyak 68,10% (n=79) responden memiliki kesadaran yang baik terkait COVID-19. Meskipun sebagian besar reponden menunjukkan  nilai skor pengetahuan dan kesadaran yang tinggi, hanya 62,93% (n=73) responden yang selalu mempraktikkan protokol kesehatan saat memberikan layanan kesehatan di masyarakat. Mayoritas apoteker komunitas telah menunjukkan pengetahuan dan kesadaran yang tinggi terhadap wabah COVID-19. Diperlukan peningkatan implementasi protokol kesehatan di apotek sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.
Profil Pengetahuan Wanita Menikah Usia Subur tentang Kontrasepsi Oral Charolyn Menaisa Sembiring; Diah Ayu Laraswati; Fakhma Ainuliza; Jovangga Dwika Pradarma; Mazhar Ardhina Silmi; Mirza Aprilia; Nadya Khadijah Wibowo; Ni Putu Cintyadewi; Nimas Rizqi Firdausy Haq; Qothrin Nada; Rizki Amalia Arifiani; Wanda Brillianty Putri; Arie Sulistyarini
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.903 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24134

Abstract

Laju pertumbuhan penduduk menjadi masalah yang sedang dihadapi pemerintah Indonesia. Upaya pemerintah dalam mengatasi masalah ini adalah melalui program Keluarga Berencana (KB) dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan alat kontrasepsi. Metode kontrasepsi oral merupakan kontrasepsi yang banyak digunakan. Namun, angka kegagalan metode kontrasepsi ini tergolong tinggi. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan akseptor kontrasepsi oral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengetahuan wanita menikah usia subur tentang kontrasepsi oral. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dengan metode survei. Kriteria inklusi yaitu wanita menikah usia subur yang sedang atau pernah menggunakan kontrasepsi oral di Jawa Timur. Metode sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tervalidasi berdasarkan instrumen penelitian ini yang terdiri dari pertanyaan tentang data demografi responden (usia, pendidikan, pekerjaan) dan 15 pertanyaan terkait pengetahuan tentang kontrasepsi oral. Survei diikuti oleh 70 responden. Hasil penelitian menunjukkan 42,86% responden memiliki pengetahuan baik, 48,57% responden memiliki pengetahuan sedang, dan 8,57% responden memiliki pengetahuan kurang tentang kontrasepsi oral. Edukasi tentang kontrasepsi oral masih perlu ditingkatkan terutama mengenai faktor yang menyebabkan kegagalan metode tersebut
PELAYANAN KEFARMASIAN DI BEBERAPA APOTEK DI INDONESIA PADA ERA PANDEMI COVID-19 Muhammad Muamar Fathoni; Rizella Fitriani; Fidya Dwi Lestari; Vita Maulinda Asa Angembani; Amalia Tusholecha; Winda Fatmasari; Alyajilan Alyajilan; Shafa Azaria; Yuliana Yuliana; Nadya Amaliah; Safira Izza Maharani; Elida Zairina
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 8 No. 2 (2021): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.092 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v8i2.24135

Abstract

Latar Belakang: COVID-19 telah mempengaruhi aspek kesehatan. Apoteker perlu merumuskan strategi dan inovasi dalam menghadapi pandemi ini untuk memberikan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak, pelayanan kefarmasian, dan inovasi pelayanan kefarmasian di apotek komunitas Indonesia pada masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian dilakukan dengan cara observasional dan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Sebanyak 96 apoteker berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dianalisis secara deskriptif dan distribusi data ditampilkan berdasarkan frekuensi dan persentase dari hasil kuesioner. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 ini berdampak pada (60,4%) pelayanan apotek di Indonesia karena terjadi peningkatan permintaan beberapa produk farmasi (suplemen, vitamin, dan alat kesehatan) yang dapat menekan sistem rantai pasokan obat. Pelayanan kefarmasian saat COVID-19 sudah diterapkan oleh beberapa apotek di Indonesia (31,25%, n=30) sesuai Pedoman Kemenkes RI terkait Pedoman Kesiapsiagaan COVID-19 Rev 02 Tahun 2020. Selain itu, beberapa apotek di Indonesia (71,88%, n=69) telah menerapkan E-pharmacy, pembayaran nontunai, layanan resep dan swamedikasi secara daring, serta pengiriman obat ke rumah pasien di masa pandemi COVID-19. Kesimpulan: Dampak pandemi COVID-19 pada pelayanan kefarmasian di apotek komunitas yakni penerapan e-pharmacy dan sebagian besar apotek telah menerapkan prosedur operasional yang sesuai.Kata Kunci: apotek komunitas, COVID-19, pelayanan kefarmasian, apoteker, Indonesia
Pengaruh Media Komunikasi terhadap Kesesuaian dan Penggunaan Suplemen di Masyarakat Kota Surabaya Saat Pandemi COVID-19 Firda Arifatu Rizkia; Mareta Putri Anugrahswari; Nurhalima Nurhalima; Paskalis Yosna Priyambudi; Rahma Khoirunnisa Wirabuana; Elok Dzul Afifah; Naomi Tri Handayani; Abid Ananta Yuwawira; Lailatul Nuraini; Aisyah Nabila Ramadhanty; Gusti Noorrizka Veronika Achmad
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.56 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24139

Abstract

Pola perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, keyakinan dan sarana kesehatan. Paparan iklan pada media komunikasi akan mempengaruhi perilaku dalam konsumsi suplemen. Adanya informasi yang tidak tepat dan tidak lengkap pada iklan obat dapat menyebabkan kesalahan penggunaan obat hingga berpengaruh pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media komunikasi terhadap kesesuaian penggunaan suplemen dan peningkatan penggunaan suplemen saat pandemi COVID-19. Penelitian ini termasuk penelitian survei dengan metode analitik dan pendekatan kuantitatif yang dilakukan di Kota Surabaya dengan instrumen kuesioner yang disebarkan secara online dengan platform google form. Penelitian menggunakan teknik non-random sampling. Dalam pengujian terhadap hubungan antar variabel atau hipotesis peneliti menggunakan uji Kendall’s Tau. Hasil penelitian dari 322 responden menunjukkan tidak ada pengaruh media komunikasi terhadap penggunaan suplemen dengan p = 0,122 (α >0,05). Mayoritas responden (252 responden; 78,3%) memiliki kesesuaian penggunaan suplemen saat pandemi COVID-19 dalam hal frekuensi, jumlah, dan indikasi yang baik. Pada uji beda mengenai penggunaan suplemen didapatkan p = 0,000 (α <0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan penggunaan suplemen sebelum dan saat pandemi COVID-19. Terdapat peningkatan konsumsi suplemen saat pandemi COVID-19. Kesimpulan pada penelitian ini adalah media komunikasi tidak berpengaruh terhadap kesesuaian dan penggunaan suplemen saat pandemi COVID-19 serta terdapat peningkatan penggunaan suplemen sebelum dan saat pandemi.
Identifikasi Pengetahuan Masyarakat Usia Produktif mengenai Obat Tradisional sebagai Imunomodulator di Masa Pandemi COVID-19 Muhammad Nashrullah; Siti Umi Anisah; Salsa Lina Agustin; Brenda Norton Sudjaya; Muhammad Nur Fathoni; Febe Harum Asmoro; Luh Karlina Febriyani Putri Angkasa; Elsa Safira Prameswari; Muhammad Aji Syahbana; Syarifa Dyfianti; Hanni Prihhastuti Puspitasari
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 9 No. 1 (2022): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.935 KB) | DOI: 10.20473/jfk.v9i1.24142

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang menjadi krisis kesehatan dunia dikarenakan penyebarannya yang sangat cepat. COVID-19 bisa dicegah dengan kondisi imun yang baik. Imunitas yang baik juga dapat mempercepat penyembuhan pasien COVID-19. Salah satu upaya untuk meningkatkan imunitas ialah dengan menjaga pola hidup sehat. Selain itu, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi imunostimulan yang bisa meningkatkan imunitas tubuh. Imunostimulan juga dapat diperoleh dari tanaman herbal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan masyarakat usia produktif mengenai obat tradisional sebagai imunomodulator di masa pandemi COVI-19. Metode yang digunakan yaitu survei menggunakan kuesioner. Hasil survei yang dilakukan pada 133 responden menunjukkan bahwa pengetahuan responden mengenai pengertian jamu secara umum dan jamu sebagai imunomodulator masih kurang. Frekuensi konsumsi jamu selama pandemi COVID-19 lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi terutama dalam bentuk jamu racikan. Sementara itu, pengetahuan masyarakat terkait pengolahan jamu dinilai cukup.

Page 4 of 15 | Total Record : 150