cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 232 Documents
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA MASYARAKAT DI DESA DEBOS, KECAMATAN SUAI, KABUPATEN COVALIMA, TIMOR-LESTE Deonísio António do Carmo; Otniel Ketaren; Mido Ester J. Sitorus
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14241

Abstract

ABSTRACT Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health problem with a high prevalence, particularly in areas where environmental conditions and household behaviors are not conducive to good health. This study aimed to analyze the relationship between environmental factors and the incidence of ARI among residents of Debos Village, Suai Subdistrict, Covalima Municipality, Timor-Leste. A quantitative analytical study with a cross-sectional design was employed. A total of 200 respondents were selected using a purposive sampling technique. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the Chi-square test to determine the association between environmental factors and ARI incidence. The results showed that the prevalence of ARI was 79.5%. Variables that were significantly associated with ARI incidence included the use of solid fuels (p = 0.004), household crowding (p = 0.007), smoking inside the house (p = 0.010), and exposure to extreme hot weather (p = 0.004). In contrast, open waste burning and household ventilation were not significantly associated with ARI incidence. The use of solid fuels and exposure to extreme hot weather were the most statistically significant factors associated with ARI. This study concludes that environmental factors and household behaviors play an important role in increasing the risk of ARI. Therefore, environmental health interventions are needed through improving housing quality, promoting the use of cleaner household fuels, and providing community education to support ARI prevention and control. ABSTRAK Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi yang tinggi, terutama pada wilayah yang memiliki kondisi lingkungan dan perilaku rumah tangga yang kurang mendukung kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor lingkungan dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Desa Debos, Kecamatan Suai, Kabupaten Covalima, Timor-Leste. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 200 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-square untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor lingkungan dengan kejadian ISPA. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA sebesar 79,5%. Variabel yang terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA meliputi penggunaan bahan bakar padat (p = 0,004), kepadatan hunian (p = 0,007), kebiasaan merokok di dalam rumah (p = 0,010), dan paparan iklim panas ekstrem (p = 0,004). Sebaliknya, pembakaran sampah terbuka dan kondisi ventilasi rumah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA. Penggunaan bahan bakar padat dan paparan iklim panas ekstrem merupakan faktor dengan tingkat signifikansi tertinggi terhadap kejadian ISPA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lingkungan dan perilaku rumah tangga berperan penting dalam meningkatkan risiko ISPA, sehingga diperlukan intervensi kesehatan berbasis lingkungan melalui perbaikan kualitas hunian, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, serta edukasi masyarakat untuk mendukung pencegahan dan pengendalian ISPA.
DIMENSI SERVQUAL DAN KEPUASAN PASIEN: STUDI PADA PELAYANAN RAWAT JALAN KLINIK BIDDOKKES POLDA LAMPUNG Lina Oktavia; Wayan Aryawati; Khoidar Amirus; Dessy Hermawan; Arifki Zainaro
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14264

Abstract

ABSTRACT Patient satisfaction is an important indicator in assessing the quality of healthcare services, particularly in primary healthcare facilities that serve as the entry point of the healthcare system. This study aimed to analyze the relationship between service quality dimensions based on the SERVQUAL approach, namely tangible, reliability, and responsiveness, with patient satisfaction at the Biddokkes Clinic of the Lampung Regional Police, and to identify the most dominant dimension associated with patient satisfaction. This study used a quantitative research design with an analytical approach. Data were collected using a patient satisfaction measurement instrument based on the SERVQUAL dimensions and analyzed using multiple logistic regression to determine the simultaneous relationship between variables and identify the most dominant factor. The results showed that the tangible dimension was significantly associated with patient satisfaction and was the most dominant factor after controlling for other variables (p<0.05; OR=[OR value]). The OR value indicated that patients who perceived better tangible service aspects had [OR value] times higher odds of being satisfied compared with patients who perceived lower service quality. This study concludes that improving healthcare service quality should prioritize the tangible aspects, including facility conditions, service area comfort, and availability of supporting facilities, as a basis for improving healthcare quality at the Biddokkes Clinic of the Lampung Regional Police. ABSTRAK Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian mutu pelayanan kesehatan, khususnya pada fasilitas pelayanan kesehatan primer yang berperan sebagai pintu masuk sistem kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dimensi mutu pelayanan berdasarkan pendekatan SERVQUAL, yaitu tangible, reliability, dan responsiveness, dengan kepuasan pasien di Klinik Biddokkes Polda Lampung serta mengidentifikasi dimensi yang paling dominan berhubungan dengan kepuasan pasien. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik. Data dikumpulkan melalui instrumen pengukuran kepuasan pasien berdasarkan dimensi SERVQUAL dan dianalisis menggunakan regresi logistik berganda untuk mengetahui hubungan antarvariabel secara simultan serta menentukan faktor yang paling dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi tangible berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien dan menjadi faktor yang paling dominan setelah dikontrol oleh variabel lainnya (p<0,05; OR=[nilai OR]). Nilai OR tersebut menunjukkan bahwa pasien dengan penilaian lebih baik terhadap aspek tangible memiliki peluang sebesar [nilai OR] kali lebih tinggi untuk merasa puas dibandingkan pasien dengan penilaian yang lebih rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan mutu pelayanan perlu diprioritaskan pada aspek tangible, seperti kondisi fasilitas, kenyamanan ruang pelayanan, dan ketersediaan sarana pendukung, sebagai dasar perbaikan kualitas layanan kesehatan di Klinik Biddokkes Polda Lampung.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WERA Radiatul Hasanah; Hairunnisah Hairunnisah; Darmin Darmin; Aris Iwansyah
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14284

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) among pregnant women remains one of the nutritional problems that can increase the risk of pregnancy complications, low birth weight, and stunting. Nutritional knowledge and dietary patterns are factors believed to be associated with the incidence of CED; however, previous studies have yielded mixed results. This study aims to analyze the relationship between levels of nutritional knowledge and dietary patterns and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) among pregnant women in the service area of the Wera Community Health Center. This study employed a cross-sectional design with a population of 559 pregnant women and a sample of 85 respondents determined using the Slovin formula. Data on knowledge levels were collected using a questionnaire; dietary patterns were measured using a Food Frequency Questionnaire (FFQ); and CED status was determined based on Upper Arm Circumference (UAC) measurements. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, including the Pearson chi-square test, with a significance level of α = 0.05. The results showed that the majority of respondents had a “good” level of nutritional knowledge (48.2%), a “good” dietary pattern (61.2%), and did not suffer from KEK (57.6%). The results of the Pearson chi-square test showed that there was no association between the level of nutritional knowledge and the incidence of chronic energy deficiency (p = 0.085), whereas there was an association between dietary patterns and the incidence of chronic energy deficiency (p < 0.001). It can be concluded that dietary patterns are associated with the incidence of chronic energy deficiency in pregnant women, whereas the level of nutritional knowledge is not associated with the incidence of chronic energy deficiency. Therefore, efforts to prevent chronic energy deficiency should focus on improving dietary patterns through ongoing nutrition education and support during pregnancy. ABSTRAK Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi salah satu masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, bayi berat lahir rendah, serta stunting. Pengetahuan gizi dan pola makan merupakan faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian KEK, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan gizi dan pola makan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Wera. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah populasi sebanyak 559 ibu hamil dan sampel sebanyak 85 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Data tingkat pengetahuan dikumpulkan menggunakan kuesioner, pola makan diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan status KEK ditentukan berdasarkan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori baik (48,2%), pola makan kategori baik (61,2%), dan tidak mengalami KEK (57,6%). Hasil uji Pearson Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan kejadian KEK (p = 0,085), sedangkan terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian KEK (p < 0,001). Dapat disimpulkan bahwa pola makan berhubungan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronis pada ibu hamil, sedangkan tingkat pengetahuan gizi tidak berhubungan dengan kejadian KEK. Oleh karena itu, upaya pencegahan KEK perlu difokuskan pada perbaikan pola makan melalui edukasi gizi yang berkelanjutan dan pendampingan selama kehamilan.
HUBUNGAN PERAN KELUARGA DAN TENAGA KESEHATAN DENGAN PEMENUHAN ASUPAN ZAT BESI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS MPUNDA KOTA BIMA Afrina Puspa; M. Noris; Hairunnisah Hairunnisah; Dea Zara Avila
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14285

Abstract

Anemia among pregnant women remains a public health problem that affects maternal and fetal health. One effort to prevent anemia is to ensure adequate iron (Fe) intake, which is influenced by various factors, including the roles of family members and health workers. This study aimed to analyze the relationship between family and health worker roles and iron (Fe) intake adequacy among pregnant women in the working area of Munda Public Health Center, Bima City. This study employed a cross-sectional design with a purposive sampling approach involving 55 pregnant women. Data were collected using questionnaires and a 24-hour food recall and analyzed using the Chi-Square test with a 95% confidence level. The results showed that 61.8% of pregnant women had inadequate iron intake, while 80.0% reported inadequate family support and 76.4% reported inadequate health worker support. The main finding was that both family roles and health worker roles were significantly associated with iron intake adequacy among pregnant women (p<0.001). Pregnant women with inadequate family support had 30.000 times higher odds of having inadequate iron intake (OR=30.000; 95% CI=3.439–261.690), while inadequate health worker support was associated with 17.600 times higher odds of inadequate iron intake (OR=17.600; 95% CI=3.328–93.084). Therefore, strengthening the roles of families and health workers through nutrition education, counseling, and family involvement is necessary to improve iron intake adequacy and support anemia prevention among pregnant women. ABSTRAK Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin. Salah satu upaya pencegahannya adalah pemenuhan asupan zat besi (Fe), yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peran keluarga dan tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan peran keluarga dan peran tenaga kesehatan dengan pemenuhan asupan zat besi (Fe) pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Munda, Kota Bima. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan purposive sampling terhadap 55 ibu hamil. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan food recall 24 jam, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,8% ibu hamil memiliki pemenuhan asupan zat besi dalam kategori kurang, sedangkan 80,0% memiliki peran keluarga dan 76,4% memiliki peran tenaga kesehatan dalam kategori kurang. Temuan utama menunjukkan bahwa peran keluarga dan peran tenaga kesehatan berhubungan secara signifikan dengan pemenuhan asupan zat besi pada ibu hamil (p<0,001). Ibu hamil dengan peran keluarga yang kurang memiliki peluang 30,000 kali untuk mengalami pemenuhan asupan zat besi yang kurang (OR=30,000; 95% CI=3,439–261,690), sedangkan peran tenaga kesehatan yang kurang meningkatkan peluang tersebut sebesar 17,600 kali (OR=17,600; 95% CI=3,328–93,084). Dengan demikian, penguatan peran keluarga dan tenaga kesehatan melalui edukasi gizi, konseling, dan keterlibatan keluarga diperlukan untuk meningkatkan pemenuhan asupan zat besi dan mendukung pencegahan anemia pada ibu hamil.
PENGARUH KINERJA PELAYANAN PUBLIK DAN KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RSUD BATARA SIANG Muh Siddiq Syafri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14301

Abstract

ABSTRACT Patient satisfaction is shaped not only by the quality of clinical care but also by how hospitals organize service delivery and create meaningful patient experiences throughout the healthcare process. Although both aspects are essential, studies integrating public service performance and service quality in regional public hospitals remain limited. This study examined the contribution of these two factors to patient satisfaction at Batara Siang Regional General Hospital, Pangkajene and Islands Regency, South Sulawesi, Indonesia. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed. A total of 100 respondents were selected using simple random sampling, and the data were analyzed using descriptive statistics, the Chi-Square test, and multiple linear regression. The findings indicate that both public service performance and service quality significantly influence patient satisfaction; however, service quality emerged as the more dominant factor (β = 0.633), while public service performance served as the organizational foundation for creating positive patient experiences. The proposed model explained 67.8% of the variance in patient satisfaction (R² = 0.678), demonstrating the substantial contribution of both variables. These findings suggest that improving hospital service quality requires an integrated strategy that combines strengthening public service governance, enhancing service interactions, and continuously improving supporting facilities. ABSTRAK Kepuasan pasien tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan pelayanan klinis, tetapi juga oleh bagaimana rumah sakit mengelola proses pelayanan dan menghadirkan pengalaman yang dirasakan pasien selama memperoleh layanan. Meskipun kedua aspek tersebut sama-sama penting, kajian yang mengintegrasikan kinerja pelayanan publik dan kualitas layanan pada rumah sakit pemerintah daerah masih relatif terbatas. Penelitian ini menganalisis kontribusi kedua variabel tersebut terhadap kepuasan pasien di RSUD Batara Siang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 100 responden dipilih melalui teknik simple random sampling, kemudian data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji Chi-Square, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien, namun kualitas layanan merupakan faktor yang paling dominan (β = 0,633), sedangkan kinerja pelayanan publik berperan sebagai fondasi yang mendukung terbentuknya pengalaman pelayanan yang positif. Model penelitian mampu menjelaskan 67,8% variasi kepuasan pasien (R² = 0,678), yang menunjukkan kuatnya kontribusi kedua variabel dalam menjelaskan kepuasan pasien. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan mutu rumah sakit memerlukan integrasi antara pembenahan tata kelola pelayanan publik, peningkatan kualitas interaksi pelayanan, dan penguatan sarana pendukung secara berkelanjutan.
BAGAIMANA TIPE POLA ASUH BERKAITAN DENGAN STRATEGI ANAK KORBAN BENCANA ALAM? Camelia Aditya Maharani; IGAA Noviekayati; Amherstia Pasca Rina
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14365

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the role of parenting styles on the coping strategies of children affected by natural disasters. The study used a quantitative approach with a survey design. The subjects consisted of 320 students aged 10–12 years from five elementary schools in Munjungan District, Trenggalek Regency, who had experienced natural disasters. The instruments used included a parenting style scale and a child coping strategy scale, which have been tested for validity and reliability. Data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) to evaluate the relationships between variables. The results of the study showed that authoritative parenting tends to suppress maladaptive coping strategies (distraction: r = -71.261; avoidance: r = -91.471), authoritarian parenting increases children's dependence on external support (support seeking: r = 74.59; p < 0.05), while permissive parenting shows a dual effect by increasing adaptive coping strategies (problem-focused: r = 170.700; p < 0.05; positive cognitive: r = 408.054; p < 0.05) as well as maladaptive (distraction: r = 268.256; p < 0.05; avoidance: r = 388.388; p < 0.05). These findings confirm that children's post-disaster coping strategies are the result of an interaction between parenting characteristics and post-disaster situational conditions. This research provides theoretical contributions in developmental psychology and disaster psychology as well as practical suggestions for adaptive parenting for disaster-affected children.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pola asuh orang tua terhadap strategi coping anak korban bencana alam. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Subjek penelitian terdiri dari 320 siswa berusia 10–12 tahun dari lima sekolah dasar di Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, yang pernah mengalami bencana alam. Instrumen yang digunakan meliputi skala pola asuh orang tua dan skala strategi coping anak, yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif cenderung menekan strategi coping maladaptif (distraction: r = -71,261; avoidance: r = -91,471), pola asuh otoriter meningkatkan ketergantungan anak pada dukungan eksternal (support seeking: r = 74,59; p < 0,05), sedangkan pola asuh permisif menunjukkan pengaruh ganda dengan meningkatkan strategi coping adaptif (problem-focused: r = 170,700; p < 0,05; positive cognitive: r = 408,054; p < 0,05) sekaligus maladaptif (distraction: r = 268,256; p < 0,05; avoidance: r = 388,388; p < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa strategi coping anak pascabencana merupakan hasil interaksi antara karakteristik pola asuh dan kondisi situasional pascabencana. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam psikologi perkembangan dan psikologi bencana serta saran praktis untuk pengasuhan adaptif bagi anak korban bencana.
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN PRIMER DAN PROGRAM INDONESIA SEHAT DALAM PENANGGULANGAN STUNTING Farialice Yachquiline Tatogo
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14366

Abstract

Stunting remains a significant public health problem in Paniai Regency, shaped by limited access to health services, challenging geographical conditions, and low community nutritional knowledge. To address this, the government has implemented the Primary Health Care Integration (ILP) policy and the Indonesia Healthy Program with a Family Approach (PIS-PK) to strengthen integrated, family-based basic health services, although their implementation still faces various field challenges. This study aimed to analyze the implementation of the ILP and PIS-PK policies in stunting prevention in Paniai Regency based on George C. Edward III's policy implementation theory, covering the aspects of communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. A descriptive qualitative method with a case study approach was used, involving informants from the District Health Office, health workers at Enarotali and Epouto Community Health Centers, health cadres, community leaders, and mothers of toddlers, selected through purposive and snowball sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed using an interactive qualitative approach. The findings show that policy implementation has generally run fairly well: socialization and coordination proceed in a tiered manner, human resources and facilities are available though still limited, implementers demonstrate strong commitment and motivation, and the organizational structure and oversight system are clearly arranged. Nevertheless, geographical conditions, limited transportation, and low community participation remain challenges that hinder optimal progress in reducing stunting rates in this region. ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Paniai yang dipengaruhi oleh keterbatasan akses layanan kesehatan, kondisi geografis, serta rendahnya pengetahuan gizi masyarakat. Pemerintah menerapkan kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) untuk memperkuat layanan kesehatan dasar yang terintegrasi dan berbasis keluarga, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan ILP dan PIS-PK dalam penanggulangan stunting di Kabupaten Paniai berdasarkan teori implementasi kebijakan George C. Edward III, yang meliputi aspek komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan informan dari unsur Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan Puskesmas Enarotali dan Puskesmas Epouto, kader posyandu, tokoh masyarakat, serta ibu balita, yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan secara umum telah berjalan cukup baik: sosialisasi dan koordinasi berjalan berjenjang, sumber daya manusia dan sarana tersedia meski masih terbatas, pelaksana program menunjukkan komitmen dan motivasi yang tinggi, serta struktur organisasi dan sistem pengawasan telah tertata dengan jelas. Meski demikian, kondisi geografis, keterbatasan transportasi, dan rendahnya partisipasi masyarakat masih menjadi tantangan yang menghambat optimalnya penurunan angka stunting di wilayah ini.
CASE REPORT OF A 60-YEAR-OLD FEMALE WITH RECTOSIGMOID MALIGNANCY POST-ANTERIOR COLON RESECTION IN SEVERE MALNUTRITION: A NUTRITION INTERVENTION Rini Siallagan; Etisa Adi Murbawani; Probosari Enny
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14372

Abstract

ABSTRACT Colorectal cancer is one of the most prevalent malignancies worldwide, with an increasing incidence, particularly among older adults who are more vulnerable to malnutrition due to age-related physiological changes, comorbidities, and surgical interventions. This condition may delay postoperative recovery and impair functional capacity, highlighting the importance of individualized and continuous nutritional management. This case report aimed to describe the implementation of an individualized nutritional intervention in a geriatric patient with severe malnutrition following anterior colon resection and to evaluate changes in functional capacity using handgrip strength. The subject was a 60-year-old woman with rectosigmoid malignancy who was treated at Dr. Kariadi General Hospital, Semarang. The nutritional intervention consisted of a gradual nutrition support program tailored to the patient's requirements, combined with protein and micronutrient supplementation, while clinical status, electrolyte levels, and handgrip strength were monitored throughout hospitalization and outpatient follow-up. The patient experienced no postoperative complications or signs of refeeding syndrome. Handgrip strength improved from 12 kg to 15 kg at discharge, accompanied by enhanced mobility, whereas body weight and mid-upper arm circumference remained stable during the observation period. These findings suggest that individualized nutritional intervention may safely promote functional recovery in geriatric patients following colorectal cancer surgery and should be considered an integral component of multidisciplinary care to optimize clinical outcomes and improve quality of life. ABSTRAK Kanker kolorektal merupakan salah satu keganasan dengan insidensi yang terus meningkat, terutama pada populasi lanjut usia yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap malnutrisi akibat perubahan fisiologis penuaan, penyakit penyerta, dan tindakan pembedahan. Kondisi tersebut dapat memperlambat pemulihan pascaoperasi serta menurunkan kapasitas fungsional sehingga memerlukan intervensi nutrisi yang terencana dan berkelanjutan. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan implementasi intervensi nutrisi individual pada pasien geriatri dengan malnutrisi berat pasca reseksi kolon anterior serta mengevaluasi perubahan kapasitas fungsional menggunakan handgrip strength. Subjek penelitian adalah seorang perempuan berusia 60 tahun dengan keganasan rektosigmoid yang menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Intervensi meliputi pemberian terapi nutrisi bertahap sesuai kebutuhan, suplementasi protein dan mikronutrien, serta pemantauan status klinis, elektrolit, dan handgrip strength selama perawatan hingga tindak lanjut rawat jalan. Hasil menunjukkan tidak ditemukan komplikasi pascaoperasi maupun tanda refeeding syndrome. Nilai handgrip strength meningkat dari 12 kg menjadi 15 kg pada saat pasien dipulangkan, disertai perbaikan kemampuan mobilisasi, sementara berat badan dan lingkar lengan atas tetap stabil selama masa observasi. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang terindividualisasi berpotensi mendukung pemulihan fungsional secara aman pada pasien geriatri pascaoperasi kanker kolorektal, sehingga layak dipertimbangkan sebagai bagian integral dari tata laksana multidisiplin untuk meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup pasien.
SCREENING PASIEN SUSPEK DEMAM TIFOID DENGAN WIDAL TES DAN RAPID TEST IgM ANTI-SALMONELLA DAN RASIO MONOSIT–LIMFOSIT (MLR) Marshanda Pratiwi Miftahurrahma; Evy Diah Woelansari; Museyaroh Museyaroh; Dwi Krihariyani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14375

Abstract

Typhoid fever is an infectious disease caused by Salmonella typhi and remains a major public health problem in Indonesia. The diagnosis of typhoid fever is generally confirmed through serological tests such as the Widal test and the anti-Salmonella IgM rapid test. Both tests are commonly used, but they have limitations in sensitivity and specificity. The monocyte-lymphocyte ratio (MLR) is a hematological parameter that has the potential to serve as a supportive indicator because it reflects both innate and adaptive immune responses. The objective of this study was to analyze the relationship between the monocyte-lymphocyte ratio (MLR) and the Widal test and anti-Salmonella IgM rapid test in patients with suspected typhoid fever. This study was conducted using an observational analytical method with a cross-sectional design. The study sample consisted of 29 patients with suspected typhoid fever at the Klinik Ultra Medica in Tulungagung, selected through purposive sampling. The results showed that MLR values fell into the low category in 79.3% of cases, moderate in 17.2%, and high in 3.4%. The anti-Salmonella IgM rapid test results showed 37.9% positive and 62.1% negative. The Widal test results were dominated by a titer of 1/80 (79.3%) and a titer of 1/160 (13.8%). Spearman's rank correlation test yielded r = 0.200 (p = 0.298) between MLR and anti-Salmonella IgM rapid test, and r = -0.133 (p = 0.490) between MLR and Widal test. In conclusion, there is no significant association between the monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR) and the results of either the Widal test or the anti-Salmonella IgM rapid test in patients with suspected typhoid fever (p > 0.05). ABSTRAK Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penegakan diagnosis demam tifoid umumnya dilakukan melalui pemeriksaan serologi seperti tes Widal dan rapid test IgM anti-Salmonella. Keduanya masih sering digunakan, namun memiliki keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas. Rasio monosit-limfosit (Monocyte-Lymphocyte Ratio / MLR) merupakan parameter hematologi yang berpotensi menjadi indikator pendukung diagnosis demam tifoid karena mencerminkan respons imun bawaan dan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan rasio monosit-limfosit (MLR) dengan tes Widal dan rapid test IgM anti-Salmonella pada pasien suspek demam tifoid. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 29 pasien suspek demam tifoid di Klinik Ultra Medica Tulungagung yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai MLR berada pada kategori rendah 79,3%, sedang 17,2%, dan tinggi 3,4%. Hasil rapid test IgM anti-Salmonella menunjukkan 37,9% positif dan 62,1% negatif. Hasil tes Widal didominasi oleh titer 1/80 sebesar 79,3% dan titer 1/160 sebesar 13,8%. Hasil uji korelasi Spearman Rank antara MLR dengan rapid test IgM anti-Salmonella menghasilkan  ( ), sedangkan antara MLR dengan tes Widal menghasilkan  ( ). Dengan demikian, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasio monosit-limfosit (MLR) dengan hasil tes Widal maupun rapid test IgM anti-Salmonella pada pasien suspek demam tifoid ( ).    
ANALISIS FAKTOR PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN MALARIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SORENDIWERI KABUPATEN SUPIORI Ida Merry Rumanasen; Novita Mediati; Sarce Makaba; Muhammad Akbar Nurdin
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14379

Abstract

Malaria remains a major public health problem in endemic areas, including Supiori Regency, Papua, with pregnant women representing a vulnerable population due to the increased risk of infection and pregnancy-related complications. This study aimed to analyze the association between behavioral factors, including knowledge level, use of insecticide-treated bed nets, nighttime outdoor activities, and mosquito repellent use, and malaria incidence among pregnant women in the working area of Sorendiweri Community Health Center, Supiori Regency. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted involving 43 pregnant women (n = 43) selected through total sampling. Data were collected using structured questionnaires and medical records, then analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test at a 95% confidence level. The strength of association was expressed as the Prevalence Ratio (PR). The results showed that knowledge level (p = 0.971), use of insecticide-treated bed nets (p = 0.665), nighttime outdoor activities (p = 0.343), and mosquito repellent use (p = 0.193) were not significantly associated with malaria incidence among pregnant women. However, nighttime outdoor activities demonstrated a higher tendency of risk (PR = 2.400). It can be concluded that malaria incidence among pregnant women in endemic areas is likely to be more strongly influenced by environmental conditions and vector density than by individual behavioral factors. Therefore, integrated health promotion, vector control, and consistent use of insecticide-treated bed nets should continue to be strengthened. ABSTRAK Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah endemis, termasuk Kabupaten Supiori, Papua, dengan ibu hamil sebagai kelompok yang rentan mengalami komplikasi akibat infeksi malaria. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor perilaku, meliputi tingkat pengetahuan, penggunaan kelambu berinsektisida, kebiasaan keluar rumah pada malam hari, dan penggunaan obat nyamuk, dengan kejadian malaria pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sorendiweri Kabupaten Supiori. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 43 ibu hamil (n = 43) yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%, dengan kekuatan hubungan dinyatakan sebagai Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan (p = 0,971), penggunaan kelambu berinsektisida (p = 0,665), kebiasaan keluar rumah pada malam hari (p = 0,343), dan penggunaan obat nyamuk (p = 0,193) tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian malaria pada ibu hamil. Meskipun demikian, kebiasaan keluar rumah pada malam hari menunjukkan kecenderungan risiko yang lebih tinggi (PR = 2,400). Disimpulkan bahwa kejadian malaria pada ibu hamil di wilayah endemis kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kepadatan vektor dibandingkan faktor perilaku individu. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan, pengendalian vektor, serta peningkatan penggunaan kelambu berinsektisida secara konsisten tetap perlu diperkuat.