cover
Contact Name
Beni Ashari
Contact Email
benyazhary42@gmail.com
Phone
085853240291
Journal Mail Official
mabahits@uas.ac.id
Editorial Address
INAIFAS-Press Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah Jember Jl. Semeru No. 09 Kencong Jember
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Mabahits
ISSN : 27238024     EISSN : 27233421     DOI : -
Core Subject : Religion,
Jurnal Mabahits adalah jurnal kajian tentang studi Ilmu Syariah dan hukum Islam meliputi: ruang lingkup ibadah, hukum tentang keluarga atau hukum badan pribadi (ahkam al-ahwal al-syakhshiyyah, hukum tentang kebendaan (al-ahkam al-madaniyyah, hukum pidana (al-ahkam al-jinaiyayah), hukum acara (al-ahkam al-murafa’at), hukum ketatanegaraan (al-ahkam al-dusturiyyah), dan hukum internasional (al-ahkam al-dauliyyah)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 91 Documents
Dampak Psikologis Pengabaian Nafkah: Kajian Kritis Perspektif Wahbah Zuhaili Rohmah, Lailiyatur
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 02 (2025): NOVEMBER
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i02.2557

Abstract

Nafkah merupakan kewajiban utama bagi seorang suami ketika akad nikah terucap, dan tidak dipungkiri bahwa nafkah adalah sesuatu yang penting untuk bertahan hidup. Namun sebagian suami melakukan pengabaian atas kewajiban tersebut, padahal pengabaian nafkah mampu menimbulkan dampak psikis terhadap seorang istri, dan mampu menimbulkan konflik lebih lanjut. Dalam kitab karya Syekh Wahbah Az- Zuhaili yang berjudul Fiqhul Islam Wa Adillathu, dijelaskan tentang ketentuan nafkah bagi istri dan anak, beliau juga menjelaskan bahkan pengabaian nafkah bisa menjadi pemutus hubungan suami istri oleh pengadilan, dengan tujuan menghindari kemadharatan dengan syarat suami memang melakukan pengabaian, bukan ketidak mampuan sebab kemiskinan. Selain itu, dipandang dari sisi psikologis, pengabaian nafkah mampu memberikan dampak psikologis bagi istri, yang mana luka psikis akan lebih membuat menderita daripada luka fisik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan metode library research, Pendekatan psikologi menggarisbawahi tanggung jawab moral dan legal suami sebagai pemimpin keluarga yang melindungi dan memenuhi kebutuhan keluarga, serta peran strategis istri dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anak.
Analisis Pelaksanaan Kewajiban Suami dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam (Studi Kasus Desa Sarimulyo) Subadar, Muhamad; Zaman, Ahmad Zuhairuz
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 02 (2025): NOVEMBER
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i02.2560

Abstract

Di antara bentuk tanggung jawab utama dalam rumah tangga adalah peran dan kewajiban suami terhadap istri seperti memberikan nafkah, perlindungan, kepemimpinan, serta pendidikan kepada istri dan keluarganya. Pelaksanaan kewajiban ini memiliki peran penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan sakinah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pelaksanaan kewajiban suami terhadap istri dalam aspek nafkah, perlindungan, kepemimpinan, dan pendidikan di Desa Sarimulyo ditinjau dari hukum keluarga Islam. (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kewajiban suami. Jenis penelitian adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif-analitik. Sumber data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan pasangan suami istri dan pihak KUA Kecamatan Cluring, sedangkan data sekunder diperoleh dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dan teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sebagian besar suami di Desa Sarimulyo telah melaksanakan kewajiban rumah tangganya, terutama dalam hal memberikan nafkah dan menjadi pemimpin keluarga. Namun demikian, masih terdapat kekurangan dalam aspek pendidikan keagamaan dan komunikasi emosional. (2) Faktor ekonomi, pendidikan, dan pemahaman agama menjadi pengaruh utama terhadap keberhasilan pelaksanaan kewajiban tersebut. Oleh karena itu, penting adanya bimbingan berkelanjutan dari tokoh agama dan lembaga terkait agar cita-cita keluarga sakinah dapat terwujud.
DEKONSTRUKSI HAK IJBAR WALI DALAM TINJAUAN INTERDISIPLINER HUKUM ISLAM, TRADISI LOKAL, DAN PSIKOLOGI KELUARGA Anam, Mohamad Hoirul; Utomo, Jamik Imam
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 02 (2025): NOVEMBER
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v6i02.2922

Abstract

Penerapan hak ijbar dalam masyarakat beragama kontemporer kerap menyimpang dari doktrin perlindungan fikih Islam klasik dan sebagian besar terkooptasi oleh tradisi lokal patriarkis yang secara sistematis meminggirkan otonomi perempuan. Perkawinan paksa yang dilakukan dengan dalih ketaatan beragama dan pelestarian status sosial secara empiris menimbulkan implikasi psikologis yang destruktif seperti depresi, trauma berkepanjangan, dan disfungsi keluarga yang bertentangan dengan tujuan fundamental hukum Islam atau maqashid asy syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi konsep hak ijbar melalui pendekatan interdisipliner komprehensif yang mencakup hukum keluarga Islam, dinamika budaya lokal di Jember, dan psikologi keluarga klinis. Menggunakan metode kualitatif empiris dengan desain sosio legal, penelitian ini mengumpulkan data primer melalui observasi dan wawancara mendalam yang dipadukan dengan literatur sekunder otoritatif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa penerapan tekstual ijbar yang kaku mutlak harus direkonstruksi menggunakan perspektif mubadalah atau kesalingan guna memulihkan relasi gender yang egaliter di dalam rumah tangga. Melalui paradigma ini, hak ijbar diredefinisi secara ketat murni sebagai kewajiban moral dan administratif wali untuk memfasilitasi dialog. Selanjutnya, parameter kafaah atau kesekufuan diperluas untuk mewajibkan adanya kesiapan psikologis dan kecocokan emosional dari calon pengantin perempuan. Transformasi interdisipliner ini secara niscaya membutuhkan intervensi penemuan hukum progresif dari para hakim peradilan agama serta pembaruan kurikulum yang responsif di institusi pendidikan tinggi Islam guna mewujudkan sistem hukum keluarga yang benar benar memanusiakan perempuan.
Rekontrusi Kesadaran Lingkungan Dalam Perspektif Yusuf al-Qaedawi: Kajian atas Fiqh al-Bi'ah Taufik Ismail al Malusy; Dahyul Daipon
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.2807

Abstract

Penelitian ini membahas pemikiran Yusuf al-Qaradawi tentang fiqh al-bi’ah (fikih lingkungan) sebagai upaya rekonstruksi kesadaran ekologis dalam perspektif hukum Islam. Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya krisis lingkungan global yang disebabkan oleh lemahnya kesadaran moral dan spiritual manusia terhadap alam sebagai amanah Allah. Tujuan utama kajian ini adalah untuk mengungkap konsep dasar dan prinsip fiqh al-bi’ah menurut al-Qaradawi serta relevansinya terhadap krisis ekologi kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), di mana data diperoleh melalui analisis karya-karya al-Qaradawi dan literatur ilmiah terkait hukum Islam dan ekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiqh al-bi’ah menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari maqasid al-syari‘ah dan ibadah sosial, serta memberikan landasan normatif bagi pembangunan kesadaran ekologis umat Islam menuju kehidupan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
LARANGAN PERNIKAHAN DI BULAN TAKEPEK (DZULQA’DAH) PRESPEKTIF 'URF Misnanto misnanto; Abd Qodir Jailani
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.2831

Abstract

Penelitian pada jurnal ini berfokus pada bagaimana Larangan Pernikahan di Bulan Takepek (Dzulqa’dah) Perspektif Urf’, di Desa Bajrasokah Kecamatan Kedungdung Kabupaten Sampang maka dengan demikian pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis dan yuridis, melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dengan Kesimpulan bahwa tradisi larangan pernikahan ini berlangsung secara turun-temurun melalui dogma orang tua sejak dahulu mengharuskan anak-anaknya untuk menjalankan kepercayaan ini tanpa menjelaskan asal-muasalnya, peristiwa ini berlangsung sangat lama hingga menjadi tradisi, larangan ini bersumber dari primbon. Primbon merupakan tuangan telaah berpikir orang Madura jaman dahulu, primbon ini sudah ada sejak zaman pra-islam di Madura. Yang pada saat ini tidak menutup kemungkinan sudah dipadukan dengan nilai-nilai keislaman, sedangkan perpspektif urf’ bahwa Urf memandang tradisi larangan menikah pada Takepek di Desa Bajrasokah ini termasuk kategori ‘urf fasid ketika dalam hati seseorang yang menjalankannya percaya bahwa bulan Takepek adalah bulan pembawa malapetaka. Dan juga sebaliknya, Tradisi ini bisa termasuk ‘urf shohih jika pelakunya menjalankan atas dasar kemaslahatan, dan percaya bahwa Allah maha menjaga alam semesta serta bertanggung jawab atas segala rezeki manusia.
REDUKSI MAKNA KAFA’AH PADA GEN-Z : PERSPEKTIF SOSIO-HUKUM ISLAM DI ERA MEDIA SOSIAL Lina Amalia; Andi Iswandi
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.2918

Abstract

The shifting meaning of kafa’ah among Generation Z has become increasingly evident amid the strong influence of social media as a space for shaping values and partner preferences. This study aims to analyze how Gen Z understands and reinterprets the concept of kafa’ah in marriage and to assess its alignment with classical fiqh through a socio-legal Islamic perspective. Employing a qualitative socio-legal approach with a descriptive-analytic design, this research integrates library research with fieldwork through social media content observation, interviews, and documentation. The findings indicate a significant reduction in the classical meaning of kafa’ah among Generation Z. While classical fiqh traditionally emphasizes religion and morality, Gen Z’s interpretation has shifted toward socio-economic considerations, digital aesthetics, lifestyle compatibility, and visual standards reinforced by TikTok, Instagram, and other social media platforms. Phenomena such as the “Marriage is Scary” narrative, the normalization of consumeristic ideals for partners, and critiques of conventional gender relations contribute to the formation of new perspectives in Gen Z’s partner selection. Although some members of Gen Z still consider religious aspects, the majority tend to interpret kafa’ah more flexibly by prioritizing equality, communication, and emotional readiness. This study concludes that Gen Z’s reinterpretation of kafa’ah does not fully align with classical fiqh, yet it can be understood as a response to rapid socio-cultural changes in the digital era. Therefore, a maqāṣid al-sharī‘ah–based recontexualization of kafa’ah is needed to ensure its continued relevance without undermining the foundational Islamic values of building a harmonious family.
DIALEKTIKA NALAR FILOSOFIS DAN DINAMIKA SOSIAL: REAKTUALISASI HUKUM ISLAM DALAM BINGKAI MAQĀṢID AL-SYARĪ’AH A'isyah A'isyah
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.2973

Abstract

This article develops a philosophical rationale for Islamic law in response to the socio-social changes that plague the contemporary era. As a science that explores the deepest essence of Divine law, Islamic legal philosophy is not merely a tool for theological legitimacy, but also a critical and transformative epistemological instrument. Using the literature study method and the maqāṣid al-syarī’ah approach, this research examines how Islamic legal principles position themselves between the absolute textuality of revelation and relative sociological reality. The study positions Islamic law as a dialectical product of the philosophy of al-tashri’ and the philosophy of al-syarī’ah that gives rise to legal flexibility, namely law based on benefit, maṣlaḥah. The author argues that the reactualization (reduction of long-term conditions) of Islamic law can only occur through philosophical ijtihād that is able to combine transcendental values ​​(the supernatural, beyond reason, beyond reason) with empirical human needs. The article emphasizes that true justice in Islamic law is dynamic, so it prides itself on the renewal of schools of thought to ensure that the law of ṣāliḥ li kulli zamān wa makān is homogeneous.
Beyond Numbers: Tinjauan terhadap Metode Penetapan Asal Masalah dan Tashih al-Mas’alah dalam Fiqh Mawaris Moch Aufal Hadliq Khaiyyul Millati Waddin
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.3000

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meninjau metode penetapan asal masalah (aṣl al-mas’alah) dan tashih al-mas’alah dalam fiqh mawaris, baik dari aspek konseptual maupun aplikatif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), menggunakan pendekatan hukum normatif, konseptual, dan matematis sederhana. Sumber data diperoleh dari literatur klasik dan kontemporer terkait ilmu faraid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan asal masalah berfungsi sebagai dasar dalam menentukan sistem pembagian waris, sedangkan tashih al-mas’alah berperan sebagai penyempurna perhitungan untuk memastikan hasil yang akurat dan aplikatif. Kedua metode ini mencerminkan integrasi antara fiqh dan logika matematis yang sistematis. Namun, dalam konteks kontemporer, penerapannya menghadapi berbagai tantangan, seperti kompleksitas kasus, rendahnya literasi masyarakat, serta keterbatasan metode manual. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi melalui penyederhanaan metodologis dan integrasi dengan teknologi digital agar tetap relevan dan mudah diterapkan tanpa mengurangi ketepatan substansinya.
TRANSFORMASI POLA ASUH DAN TANTANGAN PENGAWASAN ANAK DI TENGAH DISRUPSI DIGITAL MASYARAKAT SUMBERSUKO LUMAJANG Ahmad Muhammad Naseh; Muhimma Aulia Mashuda
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.3022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi pola asuh dalam institusi keluarga di Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, serta implikasinya terhadap praktik hukum hadhanah di era disrupsi digital. Sebagai wilayah transisi rural-urban, Sumbersuko mengalami perubahan struktur sosial dan ekonomi yang memengaruhi interaksi domestik antara orang tua dan anak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sosiologi hukum. Data primer diperoleh melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap sepuluh kepala keluarga dengan latar belakang strata sosial yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan adanya dekonstruksi pola asuh otoriter tradisional menuju pola asuh demokratis-digital yang cenderung permisif. Ditemukan fenomena pseudo-presence, di mana orang tua hadir secara fisik namun secara psikis terfragmentasi oleh tuntutan pekerjaan dan penggunaan gawai, sehingga fungsi hadhanah sebagai instrumen perlindungan akal (hifdz al-’aql) dan moral anak mengalami degradasi. Pengasuhan sering kali didelegasikan kepada perangkat digital tanpa literasi yang memadai, yang dalam perspektif hukum Islam mencederai prinsip maslahah al-thifl. Penelitian ini merekomendasikan perlunya reinterpretasi tanggung jawab hadhanah yang mengintegrasikan literasi digital sebagai kewajiban syar'i bagi orang tua. Pemerintah daerah dan lembaga keagamaan perlu menginisiasi program ketahanan keluarga berbasis literasi digital guna merevitalisasi peran keluarga sebagai madrasatul ula yang adaptif namun tetap teguh pada nilai-nilai syariat di tengah badai perubahan sosial.
ABORSI PADA TRANSGENDER DALAM PERSPEKTIF MAQĀṢID SHARĪ‘AH DAN DIMENSI ETIKA SOSIAL Fahis Nur Rahman Ali Al Chasani; Ahmad Zuhairuz Zaman
Mabahits : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 7 No 01 (2026): MEI
Publisher : UAS PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62097/mabahits.v7i01.3083

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perspektif maqāṣid sharī‘ah terhadap fenomena aborsi pada kehamilan transgender Female-to-Male, serta mengkaji dimensi etika sosial yang melatarbelakangi keputusan reproduksi tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan riset kepustakaan, studi ini menyimpulkan bahwa keputusan aborsi pada transgender hamil sering kali dipicu oleh akumulasi tekanan eksternal berupa stigma masif, marginalisasi sistemik, dan keterbatasan akses layanan kesehatan inklusif yang berdampak pada disforia gender. Namun, ditinjau dari kerangka maqāṣid sharī‘ah, fikih Islam memberikan batasan teologis yang sangat ketat melalui prinsip Ḥifẓ al-Nafs (perlindungan jiwa). Fikih Islam secara mutlak melarang aborsi setelah janin mencapai batasan usia 120 hari (pasca peniupan ruh) karena kedudukannya telah diakui sebagai subjek hukum yang memiliki hak hidup. Oleh karena itu, alasan non-medis tidak dapat dijadikan dasar kedaruratan hukum yang sah untuk meruntuhkan perlindungan hak hidup tersebut. Melalui kacamata etika sosial dan medis Islam, manusia dipandang memiliki martabat (karāmah al-insān) yang menuntut pelayanan kesehatan holistik yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis medis, tetapi juga pada pemulihan kondisi psikologis dan ketenangan batin pasien. Penelitian ini menyarankan bahwa solusi terhadap kompleksitas isu ini memerlukan pendekatan multidimensional yang integratif, melalui reformasi etika medis yang inklusif serta pendampingan spiritual yang humanis berbasis kasih sayang (raḥmah) demi melindungi kemaslahatan manusia secara menyeluruh.

Page 9 of 10 | Total Record : 91