Jurnal Psikologi Wijaya Putra (Psikowipa)
Jurnal Ilmiah PSIKO WIPA merupakan jurnal ilmiah yang terbit secara on-line dan menerbitkan artikel atau karya ilmiah hasil penelitian dalam bidang psikologi yang terkait tentang peikologi pendidikan, psikologi sosial, spikologi klinis, psiklogi perkembangan dan psikologi industri organisasi dan ilmu lain yang berkaitan dengan ilmu psikologi.
Articles
136 Documents
PERAN MOTIVASI KERJA DALAM MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN
Florencia Sidharta;
Debora Basaria;
Reza Fahlevi
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 1 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i1.141
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan di PT. X, sebuah perusahaan di sektor Agribisnis di Jakarta. Penelitian ini didasarkan pada urgensi motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja karyawan dan bagaimana motivasi kerja dapat menjadi faktor kunci, sebagaimana didukung oleh beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan positif antara motivasi kerja dan kinerja. Hasil observasi awal menunjukkan tingkat motivasi kerja yang tinggi di antara karyawan, dengan mayoritas responden menunjukkan komitmen tinggi terhadap pekerjaan dan kepuasan dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui survei daring yang disebarkan kepada 180 karyawan PT. X. Alat ukur yang digunakan meliputi Motivation at Work Scale (MAWS) untuk mengukur motivasi kerja dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) untuk mengukur kinerja karyawan. Dengan menggunakan analisis regresi sederhana, ditemukan bahwa motivasi kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT. X di Jakarta, dengan kontribusi sebesar 37,2% dan taraf signifikansi p < 0,01.
ANALISIS PENGARUH EMPLOYEE ENGAGEMENT TERHADAP INOVASI KERJA KARYAWAN DI JAKARTA
Vania Amanda;
Debora Basaria;
Reza Fahlevi
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 1 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i1.143
Organisasi merupakan entitas bisnis terstruktur yang memiliki tujuan, namun perkembangan zaman menjadi tantangan bagi organisasi dalam mencapainya. Oleh karena itu, organisasi membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas melalui tingkat employee engagement yang tinggi untuk menciptakan innovative work behavior. Innovative work behavior adalah minat karyawan dalam mengeksplorasi ide atau pemecahan masalah baru hingga mengimplementasikan untuk keuntungan organisasi. Employee engagement diartikan sebagai karyawan yang memaksimalkan kemampuan fisik, kognitif, dan emosional dalam melaksanakan aktivitasnya untuk mencapai kesuksesan organisasi. Dengan SDM yang memiliki sikap employee engagement dan innovative work behavior, organisasi dapat mempertahankan relevansi produk atau jasa di tengah perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara employee engagement dan innovative work behavior pada karyawan di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan kuesioner yang disebarkan kepada 155 karyawan di wilayah Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara employee engagement dan innovative work behavior pada karyawan di Jakarta, dengan nilai r= 0.423, p < 0.05. Temuan ini menegaskan pentingnya meningkatkan employee engagement untuk mendorong perilaku kerja inovatif dalam organisasi, khususnya di wilayah yang dinamis seperti Jakarta.
GAMBARAN CITRA TUBUH PADA REMAJA LAKI-LAKI
Eclesia Charista Dannelle;
Stefanus Seojanto Sandjaj
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 2 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i2.144
Kepuasan terhadap penampilan fisik dan bentuk tubuh ideal hingga saat ini masih menjadi dua hal yang sangat berpengaruh bagi kehidupan remaja. Esensinya kepuasan fisik atau citra tubuh akan terus berkaitan dengan cara seseorang memandang, merasakan, dan memikirkan penampilan tubuhnya. Citra tubuh sendiri sering dipahami sebagai suatu penilaian terharap ukuran, evaluasi, dan respon seseorang terhadap penampilan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran citra tubuh pada remaja laki-laki. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 400 partisipan dengan kriteria remaja laki-laki usia 18 - 22 tahun yang berdomisili di DKI Jakarta dan gemar berolahraga dengan menggunakan teknik purposive sampling. Skala citra tubuh berisi 32 item dan di ukur menggunakan teknik korelasi item total dengan nilai validitas sebesar 0.3400-0.7233 dan reliabilitas diukur menggunakan conbrach alpha dengan nilai reliabilitas sebesar 0,855. Hasil analisis deskriptif pada penelitian menunjukan bahwa citra tubuh pada remaja laki-laki tergolong dalam kategori sedang. Artinya remaja laki-laki dengan usia 18-22 tahun dapat memaknai dan menilai dirinya secara positif, tetapo belum merasa puas terhadap penampilan diri yang dimiliki.
STUDI FENOMENOLOGI DINAMIKA PSIKOLOGIS REMAJA WANITA YANG MENJALANI TRADISI KARIA (PINGITAN) DI WILAYAH PESISIR KAB. MUNA SULAWESI TENGGARA
Wisnu Catur Bayu
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 1 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i1.145
Karia merupakan wadah atau momentum untuk membentuk kematangan pribadi seorang gadis, karena dalam ritual karia ini gadis ditempah dengan pendidikan kebersihan, pendidikan kesucian, sikap mental dan pendidikan akhlak serta para peserta karia akan melewati atau melalui beberapa tahapan dalam ritual tersebut. Salah satu tahapan ritual yang dilakukan oleh remaja adalah membatasi gerak, makan, dan berdiam diri di dalam ruangan khusus yang tertutup dan gelap. Remaja yang menjalani prosesi ini tidak diperkenankan untuk membawa hand phone dan melakukan aktifitas seperti biasa. Kondisi yang dijalani remaja ini tentunya memberika dampak baik secara fisik maupun psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika psikologis yang dialami remaja wanita yang menjalni prosesi karia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan yang terlibat pada penelitian ini yaitu 3 orang remaja wanita yang pernah menjalani prosesi karia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dan selanjutnya dilanjutkan dengan triangulasi data. Penelitian ini menghasilkan 4 tema besar diantaranya: 1) Perasaan Cemas 2) Pendewasaan; 3) Kesepian; 4). Kebahagiaan. Ttradisi karia merupakan warisan kebudayaan yang perlu dipertahankan dan dilestarikan. Secara umum prosesi karia yang dijalani memberikan dampak yang positif bagi remaja wanita. Selain sebagai bentuk pendewasaan, prosesi karia juga dapat memberikan pembelajaran yang cukup berarti khususnya dalam melatih kesabaran dan ketenangan hati.
DISTRESS PSYCHOLOGY PADA KARYAWAN YANG MENGALAMI MUTASI OLEH PERUSAHAAN BANK X AKIBAT KASUS MONEY LAUNDRY OLEH PIHAK PIMPINAN
Calvin Jonathan Fernanda De Nalla;
Satiningsih Satiningsih
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 2 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i2.146
Stres kerja seringkali dialami karyawan perbankan, khususnya dalam situasi di mana pimpinan bank terlibat dalam kasus pencucian uang. Karyawan yang tidak terlibat dalam kasus tersebut sering kali menjadi korban mutasi, yang berdampak negatif terhadap kondisi fisik dan psikologis mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui sejauh mana mutasi yang dilakukan oleh pimpinan bank berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik karyawan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi, serta melibatkan dua karyawan bank yang mengalami mutasi terkait tuduhan pencucian uang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang dimutasi mengalami behavioral distress, emotional distress, dan physical distress. Distres perilaku ditandai dengan kesulitan fokus pada pekerjaan dan kesulitan beradaptasi di lingkungan kerja baru. Distres emosional mencakup perasaan cemas, marah, frustasi, serta relasi yang terganggu. Sementara itu, distres fisik meliputi perubahan nafsu makan, gangguan tidur, sakit kepala, dan detak jantung yang tidak berirama. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan menyediakan dukungan psikologis dan program manajemen stres untuk karyawan, serta memastikan proses mutasi dilakukan secara transparan dan adil untuk mengurangi dampak negatif terhadap kesejahteraan karyawan.
ANALISIS PERAN ANONIMITAS TERHADAP MANIFESTASI AGRESI PADA PENGGUNA MEDIA SOSIAL TWITTER
Malvin Olaf Anggoro;
Rizky Putra Santosa
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 2 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i2.147
Penelitian ini meneliti peran anonimitas dalam mempengaruhi agresi di antara pengguna Twitter. Dengan meningkatnya perilaku agresif di dunia maya, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi. Anonimitas sering dianggap menurunkan hambatan pengguna, yang mendorong ekspresi agresi lebih sering dan intens. Menggunakan pendekatan fenomenologi dengan analisis kualitatif dan wawancara, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana anonimitas memengaruhi perilaku pengguna secara mendalam. Ini merupakan pendekatan baru dalam studi perilaku online, khususnya di Twitter, yang belum banyak diteliti. Hasil menunjukkan bahwa pengguna anonim lebih cenderung bersikap agresif, menyoroti pentingnya platform mempertimbangkan dampak anonimitas dalam kebijakan mereka. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang pengaruh anonimitas terhadap perilaku agresif di Twitter, serta menawarkan dasar untuk strategi mitigasi di berbagai platform media sosial.
KETERIKATAN KERJA DAN KINERJA KARYAWAN DI PERUSAHAAN PADAT KARYA DI INDONESIA
Dennis Wildan Al azzam;
Doddy Hendro Wibowo
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 5 No 2 (2024): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v5i2.148
Keberhasilan organisasi bergantung pada kinerja karyawan, dan peningkatan keterikatan kerja menjadi fokus utama bagi pengusaha, terutama di perusahaan padat karya di Indonesia. Banyak perusahaan ini menghadapi tantangan dalam mempertahankan keterikatan kerja staf manajemen karena tingginya beban kerja dan lingkungan kerja yang kurang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab sejauh mana keterikatan kerja berhubungan dengan kinerja di sektor ini, menggunakan 129 responden staf manajemen sebagai sampel. Analisis data dilakukan dengan korelasi Spearman menggunakan dua skala, yaitu skala keterikatan kerja dan skala kinerja. Hasil menunjukkan hubungan positif dan signifikan (r = 0,559, p = 0,000), mengindikasikan bahwa semakin tinggi keterikatan kerja, semakin tinggi kinerja karyawan. Hal ini menekankan pentingnya keterikatan kerja sebagai elemen penting dalam strategi peningkatan kinerja, memberikan panduan bagi perusahaan padat karya untuk meningkatkan keterikatan kerja guna mendorong produktivitas yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mendukung keberhasilan organisasi secara keseluruhan.
Work–Family Conflict in Working Women: The Role of Time Management
Dini Karunia Putri;
Yanto Prasetyo;
Hikmah Husniyah Farhanindya
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 6 No 1 (2025): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v6i1.169
Women's participation in the workforce often leads to work-family conflict due to role incompatibility and interrole pressure, which can negatively impact individual and organizational well-being. Effective time management behavior can be a crucial factor in mitigating these negative effects. This study aims to determine the relationship between time management and work-family conflict among married female workers at RSUD X. The research subjects consisted of 100 female administrative staff across various units and installations, using a saturated sampling technique. Normality, linearity, and Spearman's rho correlation analyses were conducted. The results indicate a highly significant negative relationship, meaning better time management among female workers correlates with lower work- family conflict, and vice versa. This research found that time management effectively contributed 19.4% to work-family conflict. Furthermore, female workers at RSUD X experienced work-family conflict in the moderate category on average. These findings provide significant data within the context of female healthcare workers and affirm that time management behavior is an effective intervention strategy to reduce work-family conflict.
Emotion Focused Coping And Its Role In Alleviating Loneliness Among Adolescents With Working Parents
Enisa Zahrotunnikha;
Sandra Adetya
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 6 No 1 (2025): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v6i1.178
The phenomenon of dual-career families in Indonesia, which accounts for 87.05% of households, has the potential to affect adolescents’ mental health. Indonesia ranks second highest in adolescent loneliness prevalence in the ASEAN region, at 9.6%, following the Philippines. This study is a correlational quantitative research involving 105 adolescents aged 10–19 years with working parents, aiming to analyze the relationship between emotion-focused coping and the level of loneliness. The instruments used were the Loneliness Scale and the Emotion-Focused Coping Scale. The results indicated a significant but weak negative correlation (r = -0.230; p = 0.018), suggesting that higher use of emotion-focused coping is associated with lower levels of loneliness. The majority of respondents reported a moderate level of loneliness (39%) and a very high use of emotion-focused coping strategies (38.1%). These findings indicate that while emotion-focused coping may contribute to reducing loneliness, other factors are likely to have a stronger influence on the level of loneliness experienced by adolescents.
Employee Burnout in the Banking Sector: The Role of Psychological Capital and Social Support
Hikmah Husniyah Farhanindya;
Awiananda Elang Perdana;
Yanto Prasetyo
PSIKOWIPA (Psikologi Wijaya Putra) Vol 6 No 1 (2025): PSIKOWIPA
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wijaya Putra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38156/psikowipa.v6i1.179
Burnout is a syndrome of physical and mental fatigue that can cause changes in attitudes and behavior in a negative direction. Psychological Capital as an internal factor and social support as an external factor can reduce the potential for Burnout in bank employees. This research aims to examine the relationship between Psychological Capital and social support on Burnout in bank employees. This research is quantitative, involving the entire population consisting of 158 bank employees. The data collection instrument uses a Likert scale with five answer choices. Data were analyzed using the Spearman's Rho correlation test. The results of the correlation test between the Psychological Capital variable and Burnout show that there is a very significant negative relationship between Psychological Capital and Burnout, which means that the higher the Psychological Capital, the lower the level of Burnout, and vice versa. The results of the correlation test between the social support variables and Burnout show that there is a very significant negative relationship between social support and Burnout, which means that the higher the social support, the lower the level of Burnout, and vice versa.