cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2020)" : 8 Documents clear
Tatakelola Ventilasi Mekanik pada Pengangkatan Tumor Metastasis Ekstradura Torakal dengan Teknik Anestesi Satu Paru dan Posisi Lateral Dekubitus Putri, Dini Handayani; Bisri, Dewi Yulianti; Fuadi, Iwan; Harahap, M Sofyan
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2675.83 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.254

Abstract

Spinal adalah lokasi yang paling umum untuk metastasis tulang. Metastasis spine dapat menyebabkan nyeri, ketidakstabilan tulang belakang dan cedera neurologis lainnya. Pada operasi tumor spinal metastasis pendekatan pembedahan menjadi hal penting baik bagi ahli bedah saraf maupun neuroanestesi. Pada kasus ini laki-laki 60 tahun dengan tumor ekstradura metastasis torakal akan menjalani operasi pengangkatan tumor dan stabilisasi dengan pendekatan posterolateralextracavity untuk mendapat akses yang optimal ke bagian ventral spinal bagian torakal atas. Pasien di induksi dengan fentanil 200 mcg dan propofol 100 mg, fasilitasi intubasi dengan rocuronium 50 mg dan pemasangan double lumen tube kiri, posisi lateral dekubitus. Ketika dilakukan ventilasi satu paru pasien mengalami kejadian desaturasi oksigen sampai 93%, dilakukan penyesuaian mode ventilator sebagai penanganannya. Pascaoperasi pasien tidak diekstubasi dan menjalani perawatan diruangan intensif selama dua hari dan dipulangkan pada hari ke 13. Tatakelola kasus ini difokuskan pada penilaian preoperatif, pengaruh posisi lateral dekubitus dan teknik anestesi satu paru terhadap fungsi respirasi dan kardiovaskular. Risiko hipoksemia akibat ketidaksesuaian ventilasi / perfusi yang menyebabkan gangguan oksigenisasi dan perfusi terhadap otak dan medulla spinalis, sehingga diperlukan tatakelola ventilasi mekanik, monitoring intraoperasi yang berhubungan dengan kaidah-kaidah neuroproteksi terhadap otak dan medulla spinalis.Management of Mechanical Ventilation in the Removal of Thoracal Extradura Metastatic Tumors with One Lung Anesthesia Technique in Decubitus Lateral PositionAbstractThe spine is the most common location for bone metastases. Spine metastases can cause pain, spinal instability and other neurological injuries. In spinal metastatic tumor surgery a surgical approach is important for both neurosurgeons and neuroanesthesiologists. In this case, a 60-year-old man with a thoracic metastatic extradura tumor would undergo tumor removal and stabilization with the posterolateralextracavity approach to obtain optimal access to the ventral spinal ventral region. Patients were induced with 200 mcg fentanyl and propofol 100 mg, facilitation of intubation with 50 mg rocuronium and installation of the left double lumen tube, lateral decubitus position. When one lung is ventilated, the patient experiences an oxygen desaturation event of up to 93%, adjusting the ventilator mode as a treatment. Postoperatively the patient was not extubated and underwent intensive care for two days and was discharged on day 13. The case management focused on preoperative assessment, the influence of lateral decubitus position and one-pulmonary anesthetic technique on respiration and cardiovascular function. The risk of hypoxemia due to ventilation / perfusion mismatches that cause oxygenisation and perfusion disorders of the brain and spinal cord, so that management of mechanical ventilation, intraoperative monitoring associated with neuroprotection rules of the brain and spinal cord.
Hubungan Skor GCS dengan Fungsi Kognitif pada Pasien Cedera Otak Traumatik di IGD RSUD Ulin Banjarmasin Kartinasari, Apidha; Fakhrurrazy, Fakhrurrazy; Sikumbang, Kenanga M.
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.27 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.209

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Cedera Otak Traumatik (COT) merupakan cedera yang mempengaruhi tingkat kesadaran serta fungsi neurologis. Pemeriksaan GCS dilakukan untuk mengkategorikan keparahan yang terjadi pada COT. Kondisi pasca COT dapat menyebabkan terjadinya penurunan fungsi kognitif karena terjadi kerusakan pada sel-sel otak serta vaskularisasinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor GCS dengan pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) dan Clock Drawing Test (CDT) pada pasien COT di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ulin Banjarmasin.Subjek dan Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 48 sampel didapatkan secara consecutive sampling.Hasil: Pada COT ringan terdapat 2 pasien (10%) mengalami penurunan fungsi kognitif, COT sedang 15 pasien (83,3%), dan COT berat 9 pasien (90%). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan penurunan fungsi kognitif seiring dengan semakin beratnya COT (p=0,000).Simpulan: Terdapat hubungan antara skor GCS dengan fungsi kognitif menggunakan MMSE dan CDT pada pasien COT.Relationship between Glasgow Coma Scale (GCS) Score with Cognitive Function in Traumatic Brain Injury Patient at Emergency Department of Ulin General Hospital BanjarmasinAbstractBackground and Objective: Traumatic Brain Injury (TBI) is an injury that affects the level of consciousness and neurological function. GCS examination is done to categorize the severity that occurs in TBI. Conditions after traumatic brain injury cause cognitive function impairment due to damage of brain cells and its vascularization. Analyze the relationship between GCS scores and cognitive function test using MMSE and CDT in TBI patients.Subject and Method: This study was observational analytic in design with a cross sectional approach. A total of 48 samples were obtained by consecutive sampling.Result: In mild TBI there were 2 patients (10%) experienced decrease in cognitive function, moderate TBI was 15 patients (83.3%), and 9 patients (90%) in severe TBI. Data analysis used Chi-Square test with 95% confidence level which showed a decrease in cognitive function along with the increasing severity of TBI (p=0.000). Conclusion: There was a relationship between GCS scores and cognitive function using MMSE and CDT in TBI patients.
Tatakelola Anestesi untuk Dekompresi Kraniektomi pada Cedera Otak Traumatik Berat dengan Penyulit Obesitas Morbid Fitri Sepviyanti Sumardi; Iwan Abdul Rachman; Bambang J. Oetoro
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2618.353 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.247

Abstract

Anestesi dan pembedahan mungkin meyebabkan risiko yang cukup besar untuk pasien obesitas, apalagi obesitas morbid. Populasi orang gemuk meningkat, baik di negara maju dan berkembang, sehingga para ahli anestesi lebih sering menghadapi tantangan dalam mengelola pasien obesitas. Trauma multipel bertanggung jawab atas 5 juta kematian per tahun di seluruh dunia dan merupakan penyebab kematian utama bagi orang-orang muda di bawah 40 tahun, mewakili peristiwa akut dan tak terduga. Kami akan melaporkan seorang lelaki 36 tahun dengan obesitas morbid, BMI 48,97 kg/m2, yang mengalami multipel trauma akibat kecelakaan lalulintas, yang akan menjalani operasi evakuasi perdarahan subdural dan dekompresi kraniektomi. Pemilihan obat dan dosis aman sangat sulit pada pasien dengan multipel trauma, karena mungkin status volumenya tidak diketahui secara akurat. Rencana anestesi harus mempertimbangkan status resusitasi dan riwayat penyakit penyerta lain. Peran penting lainnya dari anestesiologis adalah pencegahan cedera sekunder yang disebabkan oleh syok berulang atau resusitasi tidak tepat. Anesthesia Management for Craniectomy Decompression on Severe Brain Traumatic Injury with Comorbid Morbid Obesity AbstractAnesthesia and surgery may cause considerable risk for obese patients, especially morbid obesity. Obese populations increase, both in developed and developing countries, so anesthesiologists more often face challenges in managing obese patients. Multiple traumas is responsible for 5 million deaths per year worldwide and is the leading cause of death for young people under 40, representing acute and unexpected events. We will report a 36-year-old man with morbid obesity, a BMI of 48.97 kg/m2, who experienced multiple traumas due to a traffic accident, who will undergo an evacuation operation for subdural hemorrhage and craniectomy decompression. The selection of drugs and safe doses is very difficult in patients with multiple traumas, because their volume status may not be accurately known. Anesthetic plan must consider resuscitation status and history of other comorbidities. Another important role of anesthesiologist is the prevention of secondary injury caused by recurrent shock or improper resuscitation.
Peranan Hiperventilasi terhadap Penurunan Tekanan Intrakranial dalam Kasus Bedah Saraf Wibowo, Irwan; Harahap, M Sofyan
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.07 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.258

Abstract

AbstrakHiperventilasi telah ditemukan sebagai salah satu cara untuk menurunkan aliran darah otak (cerebral blood flow) (CBF) sejak tahun 1920-an. Pada saat itu telah dilaporkan bahwa penggunaan hiperventilasi dapat mengurangi peningkatan tekanan intrakranial (intracranial pressure/ICP) dengan vasokonstriksi serebral sehingga mampu menurunkan volume darah di daerah serebral. Secara teoritis, manfaat hiperventilasi mungkin lebih khusus diharapkan pada pasien di mana peningkatan ICP terjadi terutama karena peningkatan volume darah otak akibat mekanisme vasodilatasi. Efek vasokonstriksi tersebut akan menghilang setelah pH pada ruang perivaskular kembali normal setelah 24 jam. Yang menjadi perhatian utama dalam metode ini adalah tindakan tersebut mampu menginduksi terjadinya iskemia serebral baik secara regional maupun global. Risiko kerusakan iskemik tersebut bergantung pada sejauh mana dan seberapa lama otak mengalami aliran darah yang rendah. Masih terdapat data yang kontroversial antara yang mendukung ataupun menentang penggunaan terapi hiperventilasi, namun menurut penelitian yang telah dilakukan, tindakan ini mampu menurunkan ICP jika dilakukan dalam jangka pendek. Pemantauan multimodalitas terhadap pasien tetap diperlukan untuk memantau keberhasilan dalam tindakan ini.Hyperventilation Management for Decrease Intracranial Pressure in Neurosurgery CasesAbstractHyperventilation has been found as a way to reduce cerebral blood flow (CBF) since 1920s. At that time it was reported that the use of hyperventilation can reduce the increase in intracranial pressure (ICP) by causing cerebral vasoconstriction and decreasing cerebral blood volume. Theoretically, the benefits of hyperventilation may be more specifically expected in patients which has increasing ICP because of an increasing in blood volume and vasodilation mechanism. The vasoconstriction effect disappears after the pH in the perivascular space returns to normal after 24 hours. The main concern in treating patients with increased ICP using hyperventilation is to induce cerebral ischemia both regionally and globally. As with a stroke, the risk of ischemic damage depends on the extent and how long the brain experiences low blood flow. Controversial data still exists between those that support or oppose the use of hyperventilation therapy, but if hypocapnia monitoring is done to control the increase in ICP in the short term, hyperventilation therapy remains beneficial. Multimodality monitoring is needed so that hyperventilation therapy can be used safely in certain patients who may need this therapy.
Durasi Operasi yang Memanjang pada Pasien dengan Tumor Cerebellopontine Angle (CPA) Harrison, Harrison; Sikumbang, Kenanga M.; Hardian, Rapto
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.204 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.242

Abstract

Tumor Cerebellopontine angle (CPA) merupakan tumor fossa posterior terbanyak dan merupakan 5-10% dari tumor intrakranial. Penatalaksanaan anestesi pada kasus tumor CPA sangat menantang, dan memerlukan perhatian khusus terhadap disfungsi batang otak, posisi pasien, pemantauan neurofisiologi intraoperatif, dan adanya risiko venous air embolism (VAE). Pasien wanita, 16 tahun, 45 kg, suspek CPA tipe schwannoma akustik dengan keluhan sakit kepala selama 2 bulan. Tidak ada riwayat tinitus dan gangguan keseimbangan. CT-scan kepala memperlihatkan massa padat dengan bagian kistik di cerebellopontine angle kanan. Prosedur pembedahan dilakukan dalam posisi prone dan memanjang hingga 13 jam. Rumatan anestesi ditujukan untuk stabilisasi hemodinamik dan pencegahan hipotermia dengan penghangat blower dan infus hangat. Perdarahan selama pembedahan sekitar 1800 ml. Pasien diekstubasi setelah 3 hari di ICU. Prosedur bedah untuk tumor CPA memiliki risiko tinggi dan membutuhkan waktu lama, sehingga meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat risiko hipotermia dan ketidakstabilan hemodinamik yang lebih tinggi. Pada kasus ini dengan keterbatasan alat monitoring, dilakukan observasi ketat untuk kejadian VAE dan pencegahan komplikasi pascabedah dengan menjaga hemodinamik tetap stabil dengan pemberian cairan adekuat dan pencegahan hipotermia dengan penggunaan blower warmer dan infus hangat. Pada kasus ini, lama pembedahan selama 13 jam diantisipasi dengan monitoring yang ketat, pemberian volume adekuat dan pencegahan hipotermi.Prolonged Operation in Patient with Cerebellopontine Angle (CPA) TumorAbstractCerebellopontine angle (CPA) tumor is the most common neoplasms in the posterior fossa, accounting for 5-10% of intracranial tumors. Anesthetic management is very challenging and needs special attention due to brain dysfunction, patient position, neurophysiological monitoring intraoperative, and the risk of venous air embolism (VAE). Female patient, 16 years old, 45 kg, with a suspected CPA acoustic schwannoma presented headache for 2 months. No history of tinnitus and balance disorders. Head CT-scan showed solid mass with cystic sections at right cerebellopontine angle. During procedure patient was in prone position and the operation took 13 hours long. Maintenance anesthesia aims to stabilize hemodynamic with adequate fluid replacement and prevention hypothermia with blower warmer and fluid warmer. Blood loss during the operation about 1800 ml. The patient was extubated after 3 days in the ICU. Surgical procedure in cerebellopontine angle surgery has a high risk and requires a long time. Prolonged duration of surgery will increases mortality and morbidity, because of the higher risk of hypothermia and hemodynamic instability. With limited monitoring equipment, we stabilize hemodynamic and to prevent the risk of VAE by adequate volume replacement. Hypothermia prevention by blower and fluid warmer. In this case, 13 hours long the operation makes us should maintenance hemodynamic by given adequate volume replacement and prevention of hypothermia.
Scalp block untuk Kraniotomi dan Penanganan Nyeri Membandel Pasca Kraniotomi Rahardjo, Sri; Mahmud, Mahmud
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2580.341 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.255

Abstract

Pemberian anestesi lokal dari saraf kulit kepala disebut sebagai Scalp block. Teknik ini telah diperkenalkan beberapa abad lalu, sempat tidak popular kemudian popular kembali pada era anestesi modern dalam manajemen anestesi intra operatif dan post operatif. Indonesia telah memasuki era pelayanan kesehatan dengan universal health coverage melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), menyebabkan pemberi layanan anestesi harus familiar dengan prinsip dasar ekonomi medis dan ikut berperan aktif dalam mengendalikan biaya untuk tata kelola anestesi. Pelayanan anestesi memiliki banyak kesempatan mengendalikan biaya, tentu saja dengan tetap menjaga keseimbangan antara keselamatan dan pembiayaan pasien. Scalp block adalah salah satu teknik pilihan yang dapat dikombinasikan dengan pembiusan umum. Disini akan ditinjau penggunaan Scalp block untuk operasi kraniotomi dan penanganan nyeri membandel pasca kraniotomi dengan dasar anatomi, evolusi histori, teknik yang berkembang saat ini, potensi keuntungan dan kekurangannya. Kami mendukung penggunaan teknik ini untuk penggunaan secara luas pada masa depanScalp Block for Craniotomy and Intractable Pain Management Post CraniotomyAbstract Using local anesthesia of the nerves of the scalp is referred as scalp block. This technique was introduced more than a century ago, but has undergone a modern rebirth in intraoperatif and postoperative anesthetic management. Indonesia has entered the era of health services which universal health coverage BPJS (Heath Social Organizing Agency), this causes the provider to be familiar with the basic principles of medical economics and participate actively in controlling costs for anesthesia service. Providers of anesthesia services have many opportunities to reduce these costs, with the aim of maintaining balance between profit, patient safety and costs. Scalp block is an alternative option that can be combined with general anesthesia. Here, we review the use of scalp block during craniotomy and refractory post craniotomy pain with its anatomic basis, historical evolution, current technique, potential advantages, and pitfalls. We also address its current and potential future applications
Perbedaan Respon Hemodinamik dengan Penambahan Blok Scalp Levobupivakain pada Operasi Kraniotomi Sani, Arya Justisia; Arianto, Ardhana Tri; Husni Thamrin, Muhammad
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2674.141 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.214

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Peningkatan respon hemodinamik yang disebabkan oleh nyeri dapat menyebabkan peningkatan aliran darah otak dan tekanan intrakranial. Blok scalp pada kraniotomi menumpulkan respon hemodinamik karena rangsangan nyeri serta mengurangi penambahan analgesi lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas blok scalp sebagai analgetik pada kraniotomi.Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar ganda pada 36 pasien dengan status fisik ASA 13 dilakukan operasi kraniotomi eksisi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi kelompok I (dengan blok scalp) dan kelompok II (tanpa blok scalp). Blok dilakukan sesaat setelah induksi anestesi. Digunakan levobupivakain 0,375% sebanyak 3 ml tiap insersi, pada masing-masing saraf. Tekanan darah, tekanan arteri rata-rata, detak jantung sebelum intubasi dan setelah intubasi, pemasangan pin, insisi kulit dan insisi duramater serta total kebutuhan fentanyl tambahan dicatat. Data yang diperoleh dianalisis dengan program komputer SPSS versi 17 lalu diuji menggunakan uji Kruskal-Wallis atau One-way ANOVA. Batas kemaknaan yang diambil adalah p 0,05.Hasil: Selama kraniotomi, detak jantung, tekanan darah, tekanan arteri rata-rata secara signifikan lebih tinggi pada pasien tanpa blok scalp terutama pada saat pemasangan pin. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan, penambahan fentanyl pada pasien dengan blok scalp lebih sedikit dibandingkan tanpa blok scalp, p=0,000 (p0,05).Simpulan: Blok scalp levobupivakain efektif dalam menurunkan respon hemodinamik terutama pada saat pemasangan pin. Pasien kraniotomi dengan blok scalp membutuhkan penambahan fentanyl lebih sedikit.Differences on Hemodynamic Response with Levobupivacaine Scalp Block in Craniotomy SurgeryAbstractBackground and Objective: Increased hemodynamic response caused by pain can lead to increased cerebral blood flow and intracranial pressure. Scalp block in craniotomy blunts hemodynamic response due to pain and reduce other analgesics addition. This study aims to determine effectiveness of scalp blocks as analgesic in craniotomy.Subject and Method: This study used a double-blind randomized clinical trial in 36 patients with physical status ASA 1-3 who underwent craniotomy and met inclusion criteria. Samples were divided into group I (with scalp block) and group II (without scalp block). Scalp Block was performed right after anesthesia induction. Using levobupivacaine 0.375% 3 ml for each insertion. Blood pressure, mean arterial pressure, heart rate before and after intubation, during pin placement, skin incision and duramater incision and total need for additional fentanyl were recorded. SPSS version 17 was used and data were analysed using Kruskal-Wallis or One-way ANOVA. Statistical significance was accepted at p 0.05.Result: During craniotomy, heart rate, blood pressure, mean arterial pressure were significantly higher in patients without scalp block especially during pin placement. Statistical test showed significant difference, additional fentanyl in patients with scalp blocks was lesser, p = 0.000 (p 0.05). Conclusion: Levobupivacaine scalp block was effective to blunt hemodynamic response especially during pin placement. Scalp block also decreased additional fentanyl in craniotomy.
Total Intra Venous Anesthesia (TIVA) Target Controlled Infusion (TCI) Propofol Remifentanil untuk Seksio Sesarea Emergensi pada Pasien Meningioma dengan Peningkatan Tekanan Intrakranial Aryasa, Tjahya; Fajar Apsari, Ratih Kumala; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2536.971 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.251

Abstract

Meningioma sangat jarang ditemukan pada kehamilan, tapi kehamilan dapat memicu pertumbuhan meningioma. Ibu hamil yang menjalani seksio sesarea dengan penyulit tumor otak merupakan indikasi anestesi umum dengan kombinasi Target Controlled Infusion (TCI) propofol dan remifentanil. Propofol pada seksio sesarea dapat mengatasi respons simpatis akibat laringoskopi. Remifentanil berhubungan dengan hasil luaran lebih baik pada neonatus dari opioid lainnya. Perempuan 34 tahun, hamil 37 minggu datang dengan keluhan utama nyeri perut hilang timbul disertai kebutaan dan tanda peningkatan tekanan intrakranial tanpa penurunan kesadaran. Tidak dilakukan CT-Scan kepala karena direncanakan seksio sesarea emergensi. Dilakukan seksio sesarea dengan teknik anestesi umum menggunakan TCI propofol mode Marsh dengan target efek 34 mcg/ml dan TCI remifentanil dengan target 23 ng/ml, dan rocuronium dengan dosis 0,7 mg/kgBB. Pada menit kesepuluh, lahir bayi laki-laki, dengan berat badan 2000 gram dan skor APGAR 78. Selama operasi hemodinamik stabil dan tidak ada komplikasi. pascabedah dilakukaan pemeriksaan CT-scan dan ditemukan meningioma yang besar. Teknik ini memberikan hasil luaran pada neonatal dan ibu yang baik.Total Intra Venous Anethesia (TIVA) Target Controlled Infusion (TCI) with Propofol Remifentanil for Emergency Caesarean Section in Meningioma Patient with Increase Intracranial PressureAbstractMeningiomas are very rare in pregnancy, but pregnancy triggers the growth of meningiomas. Pregnant women who undergo cesarean section complicated with brain tumor are an indication of general anesthesia with Target Controlled Infusion (TCI) propofol and remifentanil. Propofol can blunt sympathetic response due to laryngoscopy. Remifentanil has a better outcomes in neonates than other opioids. A 34-year-old woman, 37-weeks pregnant presented with uterine contractions accompanied with blindness and signs of increased intracranial pressure without decreased consciousness. Head CT scan was not performed because an emergency cesarean section was planned. Caesarean section was performed with general anesthesia using Target Controlled Infusion (TCI) Marsh mode propofol with a target effect of 3-4 mcg/ml and remifentanil TCI with a target of 2-3 ng/ml, and rocuronium 0.7 mg/kg. At the tenth minute, a male baby was born, weighing 2000 grams and an APGAR score of 7-8. During surgery, the hemodynamic was stable without complications. Postoperatively, a CT scan was performed and a large meningioma was found. This technique provided good neonatal and maternal outcome outcomes.

Page 1 of 1 | Total Record : 8