Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KEJADIAN NEUROPATI DAN VASKULOPATI PADA PASIEN ULKUS DIABETIK DI POLIKLINIK KAKI DIABETIK Christia, Srisabrina; Yuwono, Agus; Fakhrurrazy, Fakhrurrazy
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 11, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v11i1.181

Abstract

Diabetic ulcer is a diabetes mellitus (DM) complication, where its growth is affected by many factors such as neuropathy and vasculopathy. The aim of this study was to identify the incidence number of neuropathy and vasculopathy on diabetic ulcer patients at RSUD Ulin Banjarmasin and RSUD Dr. H. M. Ansari Saleh Banjarmasin from June to August 2014. This is an observational descriptive study with cross sectional approach. A total of 100 diabetic ulcer patient samples were chosen using purposive sampling method. Neuropathy was assessed using Michigan neuropathy screening instrument (MNSI) and vasculopathy was assessed using Ankle Brachial Index (ABI). The results showed that from 100 samples, 100 (100%) persons were neuropathic, while 31 (31%) of them were vasculopathic hence they suffered from both neuropathy and vasculopathy, a condition commonly known as neuroischemia. Keywords: diabetic ulcer, neuropathy, vasculopathy
CLINICAL AND RADIOLOGICAL APPROACH OF POSTERIOR REVERSIBLE ENCEPHALOPATHY SYNDROME ON ECLAMPSIA Fakhrurrazy, Fakhrurrazy; Surdhawati, Herly Maulida
Malang Neurology Journal Vol 3, No 2 (2017): July
Publisher : Malang Neurology Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.214 KB) | DOI: 10.21776/ub.mnj.2017.003.02.6

Abstract

Posterior reversible encephalopathy syndrome (PRES) is rare clinico-neuroradiologic condition and not commonly reported in the literature, a recently recognized syndrome characterized clinically by headache, confusion, seizure and visual loss associated, with imaging findings of bilateral cortical and subcortical oedema, predominantly posterior cerebral lesions (mainly occipito-parietal). Posterior reversible encephalopathy syndrome is an uncommon complication of severe preeclampsia/ eclampsia. The objective of this study is to report PRES case on eclampsia with clinical and radiological approach. We report a case of woman, 34 years old woman, with chief complaint tonic clonic general seizure and sudden headache previously. This patient had pregnancy 8 gestational month and had pregnancy termination with cesarean section recently. Patient had loss of consciousness, vision disturbance, and weakness of right extremities, all this symptom become well during treatment. The result of laboratory examination was HELLP syndrome (haemolysis, elevated liver enzymes and low-platelets). Head CT scan showed hypodense lesion in left parietooccipital region and MRI on T2W and T2FLAIR ADC MAPS found hyperintens lesion in right and left parietooccipital. Then it can be concluded that it have been reported cases of eclampsia with PRES with symptom of headache, seizure, mental status disturbance, visual disturbances. The pathological association between PRES and HELLP syndrome in a patient with eclampsia is poorly described.
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Fungsi Kognitif pada Lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Kalimantan Selatan Sesar, Dede Marizal; Fakhrurrazy, Fakhrurrazy; Panghiyangani, Roselina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 19, No 1: January 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.190125

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada golongan lanjut usia adalah gangguan fungsi kognitif. Penurunan tingkat aktivitas fisik diduga menjadi faktor menurunnya fungsi kognitif pada lansia. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian adalah lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Sejahtera Kalimantan Selatan. Sampel penelitian sebanyak 39 responden dengan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi adalah usia 60 tahun, laki-laki, bersedia menjadi responden. Lansia yang mengalami gangguan neuropsikiatrik, gangguan pendengaran dan pengelihatan tidak diikutkan sebagai responden. Tingkat aktivitas fisik dinilai menggunakan kuesioner General Practicioner Physical Activity Questionaire (GPPAQ), sedangkan untuk mengetahui nilai fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Analisis data menggunakan uji Fischer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72% tingkat aktivitas fisik aktif dan 28% pasif. Sebesar 59% fungsi kognitif buruk dan 41% fungsi kognitif baik. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna p 0,05. Disimpulkan bahwa sebagian besar lansia laki-laki memiliki tingkat aktivitas fisik tergolong aktif (72%), namun 59% memiliki fungsi kognitif tergolong buruk. Secara statistik terbukti bahwa tingkat aktivitas fisik tidak berhubungan dengan fungsi kognitif.
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Fungsi Kognitif pada Lansia di Panti Sosial Tresna Wredha Kalimantan Selatan Dede Marizal Sesar; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Roselina Panghiyangani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 19, No 1 (2019): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.190125

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada golongan lanjut usia adalah gangguan fungsi kognitif. Penurunan tingkat aktivitas fisik diduga menjadi faktor menurunnya fungsi kognitif pada lansia. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian adalah lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Sejahtera Kalimantan Selatan. Sampel penelitian sebanyak 39 responden dengan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi adalah usia 60 tahun, laki-laki, bersedia menjadi responden. Lansia yang mengalami gangguan neuropsikiatrik, gangguan pendengaran dan pengelihatan tidak diikutkan sebagai responden. Tingkat aktivitas fisik dinilai menggunakan kuesioner General Practicioner Physical Activity Questionaire (GPPAQ), sedangkan untuk mengetahui nilai fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Analisis data menggunakan uji Fischer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72% tingkat aktivitas fisik aktif dan 28% pasif. Sebesar 59% fungsi kognitif buruk dan 41% fungsi kognitif baik. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna p0,05. Disimpulkan bahwa sebagian besar lansia laki-laki memiliki tingkat aktivitas fisik tergolong aktif (72%), namun 59% memiliki fungsi kognitif tergolong buruk. Secara statistik terbukti bahwa tingkat aktivitas fisik tidak berhubungan dengan fungsi kognitif.
KEJADIAN NEUROPATI DAN VASKULOPATI PADA PASIEN ULKUS DIABETIK DI POLIKLINIK KAKI DIABETIK Srisabrina Christia; Agus Yuwono; Fakhrurrazy Fakhrurrazy
Berkala Kedokteran Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.927 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v11i1.181

Abstract

Diabetic ulcer is a diabetes mellitus (DM) complication, where its growth is affected by many factors such as neuropathy and vasculopathy. The aim of this study was to identify the incidence number of neuropathy and vasculopathy on diabetic ulcer patients at RSUD Ulin Banjarmasin and RSUD Dr. H. M. Ansari Saleh Banjarmasin from June to August 2014. This is an observational descriptive study with cross sectional approach. A total of 100 diabetic ulcer patient samples were chosen using purposive sampling method. Neuropathy was assessed using Michigan neuropathy screening instrument (MNSI) and vasculopathy was assessed using Ankle Brachial Index (ABI). The results showed that from 100 samples, 100 (100%) persons were neuropathic, while 31 (31%) of them were vasculopathic hence they suffered from both neuropathy and vasculopathy, a condition commonly known as neuroischemia. Keywords: diabetic ulcer, neuropathy, vasculopathy
EDUKASI PERAN TANAMAN OBAT DALAM PENGOBATAN DIABETES MELLITUS PADA PASIEN DI KLINIK IDI BANJARMASIN Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Husnul Khatimah; Farida Heriyani
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.168 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1199

Abstract

Gambaran analisis situasi di Klinik IDI Banjarmasin adalah angka kunjungan pasien yang berkurang pada tahun 2020, kunjungan pasien diabetes mellitus pun berkurang. Hal ini disebabkan karena kecemasan pasien terhadap covid 19. Adanya angka kunjungan yang berkurang menyebabkan program kegiatan olahraga dan edukasi pada pasien juga terhambat. Penanganan diabetes mellitus selain obat adalah diet dan olahraga, dapat juga dibantu dengan tanaman obat. Tujuan dari PKM ini adalah memberikan edukasi mengenai diabetes mellitus, peran diet, olahraga dan tanaman obat dalam pengobatan diabetes mellitus dan diharapkan kegiatan pengabdian masyarakat ini bisa dilaksanakan berkesinambungan kepada pasien yang ada di Klinik IDI. Metode yang digunakan adalah penyuluhan secara online dengan sasaran pasien diabetes mellitus yang terdaftar di Klinik IDI Banjarmasin. Hasil dari kegiatan adalah didapatkan lebih dari 75% mitra sasaran paham mengenai diabetes mellitus dan tatalaksananya serta peran tanaman obat.
Hubungan Status Nutrisi Saat Masuk Rumah Sakit dengan Outcome pada Pasien Stroke Iskemik. Aditya Purnama Meidarahman; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Triawanti Triawanti
Homeostasis Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.436 KB)

Abstract

Abstract: Determination of nutritional status in ischemic stroke patients is very important because the condition of malnutrition is one of the risk factors that can affect outcomes in ischemic stroke patients. The purpose of this study was to determine the relationship of nutritional status at hospital admission to outcome in ischemic stroke patients. This study was an observational analytic study conducted in a cross sectional manner. Samples were selected based on inclusion criteria and also exclusion through history taking and viewing the patient's medical records so that 37 samples were obtained. assessment of nutritional status using a Mini Nutritional Assessment (MNA) after that a week later the patient will be examined for outcome values using a modified Rankin Scale (mRS). The analysis of results is carried out using the spearmans rho correlation test. The results of this study obtained a p= 0.00  and the value of r= -0.704. In conclusion, there is a relationship between the nutritional status of patients at the time of hospital admission and outcome in ischemic stroke patients in the Ulin Hospital Banjarmasin. Keywords: ischemic stroke, mini nutritional assessment (MNA), outcome  Abstrak: Penentuan status nutrisi pada pasien stroke iskemik  sangat penting untuk dilakukan karena kondisi malnutrisi merupakan salah satu faktor risiko yang dapat mempengaruhi outcome pada pasien stroke iskemik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status nutrisi saat masuk rumah sakit dengan outcome pada pasien stroke iskemik. Penelitian ini bersifat observasional analitik yang dilakukan secara cross sectional. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan juga ekslusi melalui anamnesis serta melihat rekam medik pasien pada 37 sampel. Penilaian status nutrisi menggunakan Mini Nutritional Assessment (MNA) dan setelah seminggu kemudian pasien akan diperiksa nilai outcome menggunakan modified Rankin Scale (mRS). Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi spearman’s rho. Hasil dari penelitian didapatkan nilai p=0,00  serta nilai r= -0,704.  Kesimpulannya terdapat hubungan antara status nutrisi pasien saat pertama kali masuk rumah sakit dengan outcome pada pasien stroke iskemik di RSUD ulin Banjarmasin. Kata-kata Kunci: Stroke Iskemik, mini nutritional assessment (MNA), outcome
Karakteristik Pasien Hidrosefalus di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2018-2020 Muhammad Ananda Putera; Agus Suhendar; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Ardik Lahdimawan; Istiana Istiana
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.429 KB)

Abstract

Abstract: Hydrocephalus is a disorder or disease caused by increased intracranial pressure which is characterized by an increase in cerebrospinal fluid, caused by tumors, congenital, vascular disorders, infections, and head injuries. Hydrocephalus can cause seizures, neurological deficits, headache, fever, and paralysis, which causes a decrease in quality of life. This study aims to determine the characteristics of hydrocephalus patients at Ulin Hospital Banjarmasin in 2018-2020. This type of research is a descriptive retrospective research. The highest number of hydrocephalus cases was in 2018 namely 143 patients (49.14%). The 46 - 55 years old age group is the most patient age group. Males were found the most among hydrocephalus patients. The majority of patients came from South Kalimantan. Islam is the religion of most of the patients. The majority of patients are BPJS participants. Family history was found in 81 patients (29.56%) and a history of allergies was found in 19 patients (6.52%). Patients with headache and loss of consciousness are the majority of clinical symptoms in patients. Vascular abnormalities, tumors, and congenital are the most common causes in patients. Communicating hydrocephalus is the most common classification. The category of GCS scores in and out of patients that are often encountered is GCS 13-15. The majority of patients' length of stay was 15 days. The majority of patients improved after undergoing treatment. So, it can be concluded that most of them were in 2018, Islam, South Kalimantan, BPJS participants, male, with headache, 46-55 years old, communicating hydrocephalus, with GCS 13-15, length of treatment 15 days, and improving. Keywords: Characteristics, Hydrocephalus  Abstrak: Hidrosefalus adalah suatu kelainan atau penyakit yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan adanya peningkatan cairan serebrospinal, yang disebabkan oleh tumor, kongenital, kelainan vaskular, infeksi, dan cedera kepala. Hidrosefalus dapat menimbulkan kejang, defisit neurologis, nyeri kepala, demam dan paralisis yang menyebabkan penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien hidrosefalus di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2018-2020. Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif. Jumlah kasus hidrosefalus paling banyak terdapat pada tahun 2018 yaitu 143 pasien (49,14%). Kelompok usia 46-55 tahun merupakan kelompok usia pasien terbanyak. Laki-laki ditemukan paling banyak diantara pasien hidrosefalus. Mayoritas pasien berasal dari Kalimantan Selatan. Islam merupakan agama terbanyak dari pasien. Mayoritas pasien adalah peserta BPJS. Ditemukan riwayat keluarga pada 81 pasien (29,56%) dan untuk riwayat alergi ditemukan pada 19 pasien (6,52%). Pasien dengan nyeri kepala dan penurunan kesadaran merupakan gejala klinis mayoritas pada pasien. Kelainan vaskular, tumor, dan kongenital merupakan penyebab paling banyak pada pasien. Hidrosefalus komunikans merupakan klasifikasi terbanyak. Kategori skor GCS masuk dan keluar pasien yang sering ditemui adalah GCS 13-15. Mayoritas Lama perawatan pasien adalah ≥15 hari. Mayoritas pasien membaik setelah menjalani pengobatan. Maka dapat disimpulkan paling banyak terdapat pada tahun 2018, islam, Kalimantan Selatan, peserta BPJS, laki-laki, dengan nyeri kepala, usia 46-55 tahun, hidrosefalus komunikans, dengan GCS 13-15, lama perawatan 15 hari, dan membaik. Kata-kata Kunci: Karakteristik, hidrosefalus
Hubungan Letak Lesi dengan Derajat Spastisitas pada Pasien Stroke Iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin Andi Ari Sandy; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Didik Dwi Sanyoto
Homeostasis Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.769 KB)

Abstract

Abstract: Ischemic stroke occurs due to decreased blood flow due to emboli or thrombosis that is temporary or permanent in the cerebral arteries. Stroke has several symptoms such as facial paralysis, limbs or spasticity and can cause death. Spasticity is affected by the location of the lesion. The purpose of this study was to analyze the relationship between the location of the lesion with the degree of spasticity in ischemic stroke patients at Banjarmasin District Hospital based on the Modified Ashworth Scale (MAS). This research is an observational analytic and cross-sectional approach. The MAS examination is carried out after the respondent fulfills the inclusion and exclusion criteria. A total of 30 samples obtained by purposive sampling obtained 6 cortical lesions in the patient, 16 subcortical lesions in the patient, and 8 in the basal ganglia lesion in 8 patients. The degree of MAS in patients was found with the normal category of 6 patients, the moderate category of 19 patients, and the weight category of 5 patients. Analysis using the Kormogorov-Smirnoff correlation test showed an insignificant value of p = 0.841. The conclusion that there is no relationship between the location of the lesion with the degree of spasticity in ischemic stroke patients at Ulin Hospital Banjarmasin. Keywords: Ischemic stroke, location of the lesion, spasticity, Modified Ashworth Scale. Abstrak: Stroke iskemik terjadi akibat penurunan aliran darah karena emboli atau trombosis yang bersifat sementara atau permanen di arteri serebral. Stroke memiliki beberapa gejala seperti kelumpuhan wajah, anggota badan atau spastisitas dan dapat menyebabkan kematian. Spastisitas dipengaruhi oleh letak lesi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara letak lesi dengan derajat spastisitas pada pasien stroke iskemik di RSUD Banjarmasin berdasarkan Modified Ashworth Scale (MAS). Penelitian ini bersifat observational analitik dan pendekatan cross-sectional. Pemeriksaan MAS dilakukan setelah responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sebanyak 30 sampel didapatkan secara purposive-sampling didapatkan lesi pada kortikal sebanyak 6 pasien, lesi pada subkortikal sebanyak 16 pasien, dan lesi pada ganglia basalis sebanyak 8 pasien. Derajat MAS pada pasien ditemukan dengan kategori normal 6 pasien, kategori sedang 19 pasien, dan kategori berat 5 pasien. Analisis menggunakan uji korelasi Kormogorov-Smirnoff  menunjukkan nilai tidak signifikan p=0,841. Kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan letak lesi dengan derajat spastisitas pada pasien stroke iskemik di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata kunci: Stroke iskemik, letak lesi, spastisitas, Modified Ashworth Scale.
Literature Review: Korelasi Kadar Malondialdehid dengan Ansietas Pada Lanjut Usia Muhammad Ramazali; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Fujiati Fujiati
Homeostasis Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.142 KB)

Abstract

Abstract: The global population of elderly is estimated continue to increase every year. Elderly can get various kinds of physical and psychological disorders related to the degenerative process. One of the disorders that can be occur by elderly is anxiety disorder. Pathogenesis of anxiety is still unclear, but it is believed to be the accumulation of various factors such as environmental influences, life experiences, problematic mindset, genetics and oxidative stress. One of the oxidative stress marker compounds that are often associated with anxiety is malondialdehyde. Through this literature review, the author aims to provide an explanation of the correlation between malondialdehyde levels and anxiety in elderly. Writing this review performed with analyzing related literature obtained from search results on databases in Google Scholar, PubMed, and Science Direct for the last 20 years (2000-2020). The results of this literature review show a correlation between malondialdehyde levels and anxiety in elderly. Keywords: malondialdehyde, anxiety, elderly, oxidative stress Abstrak: Populasi lanjut usia(lansia) secara global diperkirakan akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Lansia dapat mengalami berbagai macam gangguan fisik maupun psikis yang berkaitan dengan proses degeneratif. Salah satu gangguan yang dapat dialami lansia adalah gangguan ansietas. Patogenesis ansietas masih belum jelas, namun diyakini merupakan akumulasi berbagai macam faktor seperti pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, pola pikir yang bermasalah, genetik dan stres oksidatif. Salah satu senyawa penanda stres oksidatif yang sering dikaitkan dengan kejadian ansietas adalah malondialdehid (MDA). Melalui literature review ini, penulis bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai korelasi kadar MDA dengan ansietas pada lansia. Penulisan review ini dilakukan dengan menganalisis literatur terkait yang didapatkan dari hasil pencarian pada database berupa Google Scholar, PubMed, dan Science Direct selama 20 tahun terakhir (2000–2020). Hasil dari literature review ini terdapat korelasi antara kadar MDA dengan ansietas pada lansia. Kata-kata kunci: malondialdehid, ansietas, lansia, stres oksidatif