cover
Contact Name
NI NYOMAN MESTRI AGUSTINI
Contact Email
nyoman.mestri@undiksha.ac.id
Phone
+6281933048631
Journal Mail Official
nyoman.mestri@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jalan Udayana no 11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
GANESHA MEDICINA
ISSN : -     EISSN : 27978672     DOI : -
Core Subject : Health,
Ganesha Medicina Journal is open access; double-blinded peer-reviewed journal aiming to communicate high-quality research articles, case report, reviews and general articles in the field. Ganesha Medicina Journal publish articles that encompass all aspects of basic research/clinical studies related to the field of medical sciences. The Journal aims to bridge and integrate the intellectual, methodological, and substantive diversity of medical scholarship, and to encourage a vigorous dialogue between medical scholars and practitioners.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2024)" : 10 Documents clear
STRATEGI ANTIPLATELET DAN ANTIKOAGULAN PADA PASIEN STEMI DENGAN TROMBOSITOPENIA PADA RUMAH SAKIT NON-PCI CENTRE Komang Gede Adhyaksa Dharma Kusuma; I Gusti Agung Raka Mahasadhu; I Ketut Susila
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.70632

Abstract

Tatalaksana STEMI dengan onset yang timbul dalam 12 jam adalah reperfusi. Tatalaksana reperfusi apapun membutuhkan pemberian antiplatelet, terutama dual antiplatelet dengan kombinasi aspirin dan P2Y12 reseptor antagonis. Manajemen terapi antiplatelet pada pasien STEMI dengan trombositopenia memberi tantangan karena pasien memiliki resiko tinggi terjadinya perdarahan dan iskemia. Dilaporkan kasus pasien laki laki berusia 45 tahun dengan keluhan dada kiri terasa berat yang terasa sejak 2 jam lalu saat pasien sedang menyiram tanaman, keluhan dada kiri tidak menjalar ke hingga ke lengan kiri maupun dagu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, namun beberapa tanda vital meningkat. Hasil laboratorium menunjukkan penurunan trombosit dan hasil dari pemeriksaan enzim jantung didapatkan peningkatan dari Troponin-l. Pada hasil pemeriksaan ekokardiografi didapatkan hipokinetik pada mid anterolateral, apikal lateral, dengan kontraktilitas ventrikel kiri menurun dengan ejection fraction 48% dan TAPSE 2,1. Pasien didiagnosis STEMI inferior dengan trombositopenia dan pasien diberikan terapi berupa pilihan antikoagulan fondaparinux 2,5 cc dengan cek darah lengkap serial setiap hari. Pasien dipulangkan di hari ke-5 dengan terapi ramipril 1 x 5 mg, bisoprolol 1 x 5 mg, clopidogrel 1 x 75 mg, atorvastatin 1 x 40 mg dan spironolakton 1 x 25 m, dengan nilai PLT saat dipulangkan adalah 78 x 103 /uL.
PENDERITA ELIZABETHKINGIA MENINGOSEPTICA SEPTICEMIA PADA PASIEN TERKONFIRMASI COVID-19 KONDISI KRITIS DENGAN KOMORBID SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS Luh Komang Widnyani Wulan Laksmi; Sukmawati, Dewi Dian
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.73125

Abstract

Elizabethkingia meningoseptica merupakan spesies bakteri Gram-negatif oportunis yang biasanya ditemukan di air dan tanah. Bakteri ini secara intrinsik resisten terhadap banyak antibiotik yang umumnya digunakan sebagai antibiotik empiris di rumah sakit, bahkan di Intensive Care Unit (ICU) dengan tingkat resistansi hingga 100% terhadap kategori karbapenem. Pada laporan kasus ini terdapat seorang wanita berusia 49 tahun dengan riwayat lupus eritematosus sistemik, hipertensi, dan asma terkontrol yang mengalami infeksi COVID-19 dengan kondisi kritis. Pasien awalnya dalam kondisi sedang dengan oksigenasi yang memadai, namun kemudian memburuk selama perawatan di Unit Perawatan Intensif COVID dengan pneumonia yang didukung secara klinis oleh foto rontgen thorax. Kultur darah dilakukan dan ditemukan pertumbuhan Elizabethkingia meningoseptica. Quinolone kemudian diberikan selama total 14 hari dengan hasil yang memuaskan meskipun dengan waktu perawatan di rumah sakit yang lebih lama.
MODIFIKASI MANUVER VALSALVA UNTUK KARDIOVERSI TAKIKARDIA SUPRAVENTRIKULAR DI DAERAH RURAL Putra, Ngurah Agung Reza Satria Nugraha; I Nyoman Kurniawan Agratama; Ni Luh Eka Sriayu Wulandari; I Ketut Susila
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.74069

Abstract

Takikardia supraventrikular adalah takiaritmia yang melibatkan jaringan atrium atau persimpangan atrioventrikular yang disertai dengan gejala klinis seperti palpitasi, sesak napas, atau bahkan tanpa gejala. Seorang wanita berusia 54 tahun dan seorang pria berusia 59 tahun datang ke UGD dengan keluhan berdebar tiba-tiba. Tidak ada aktivitas berat sebelumnya yang menjadi pemicu awal. Hasil EKG kedua pasien menunjukkan takikardia supraventrikular. Modifikasi Manuver Valsalva dilakukan pada kedua pasien, dan observasi selama 45-60 detik menunjukkan adanya pemulihan irama menjadi irama sinus. Modifikasi Manuver Valsalva bekerja dengan meningkatkan tonus vagal. Peningkatan tekanan intratoraks mencegah aliran balik vena perifer ke jantung kanan ketika pasien melakukan ekspirasi paksa. Ini akan mengaktivasi sistem saraf simpatis. Manuver Valsalva yang dimodifikasi telah menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan konversi SVT dapat mencapai 43%, yang jauh lebih tinggi daripada Manuver Valsalva konvensional (17%) serta jauh lebih hemat biaya dan aman.
DIABETES INSIPIDUS PADA PASIEN DENGAN CEDERA KEPALA SEDANG S., Hantono; Gotera, Wira; Suastika, Ketut; Budhiarta, Anak Agung Gde; Saraswati, Made Ratna; Dwipayana, I Made Pande; Semadi, I Made Siswadi; Nugraha, Ida Bagus Aditya
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.75553

Abstract

Diabetes Insipidus (DI) adalah suatu sindrom yang ditandai dengan ekskresi urin dalam jumlah besar yang tidak normal (poliuria) disertai peningkatan asupan cairan sebagai kompensasinya (polidipsia). Hal ini disebabkan oleh penurunan sekresi (DI sentral/neurogenik) atau kerja (DI nefrogenik) dari Hormon Antidiuretik. Hormon ini diproduksi oleh neuron hipotalamus di nukleus supraoptik dan paraventrikular dan disekresikan ke sirkulasi bila ada rangsangan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas terbanyak pada generasi muda terutama laki-laki. Salah satu dampaknya adalah disfungsi hormonal pada hipofisis anterior dan posterior. Angka kejadian DI setelah cedera kepala berkisar 1-2,9%. Dalam kasus tertentu, keadaan ini hanya terjadi sementara namun dapat juga menjadi permanen. Dalam laporan kasus ini, dilaporkan laki-laki berusia 28 tahun dengan DI setelah mengalami cedera kepala. Pasien menjalani kraniektomi dekompresi dengan osteoplasti. Selama perawatan, pasien didiagnosa dengan Diabetes Insipidus dari gejalanya, osmolalitas urin yang rendah, osmolalitas plasma yang tinggi, dan hipernatremia, kemudian ditangani dengan rehidrasi dan pemberian injeksi vasopresin 5 IU secara intramuskular serta pemantauan ketat terhadap keseimbangan cairan setiap hari. Selama beberapa hari berikutnya, setelah keseimbangan cairan normal, vasopresin dihentikan dan keseimbangan cairan masih dalam batas normal.
INFEKSI STREPTOCCOCUS SUIS DENGAN PRESENTASI KLINIS MENINGOENSEFALITIS: SEBUAH LAPORAN KASUS Maharani, Risma; Agustini, Ni Nyoman Mestri; Kamelia, Luh Putu Lina; Kesanda, I Made Phala; Kapakisan, I Ketut
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.77094

Abstract

Meningoensefalitis adalah proses inflamasi dan infeksi di daerah meningens otak hingga mempengaruhi jaringan parenkim otak dan dianggap sebagai keadaan darurat neurologis. Manifestasi klinis yang dihasilkan dari meningoensefalitis dapat berupa kombinasi dari gejala meningitis dan ensefalitis seperti demam, nyeri kepala, kaku kuduk, serta defisit neurologis fokal. Laporan kasus ini melaporkan pasien laki-laki berusia 71 tahun dengan penurunan kesadaran disertai demam, kaku kuduk (+), riwayat gangguan pendengaran. Diagnosis didukung dengan hasil pemeriksaan penunjang analisa CSF yang menunjukkan hasil keruh dengan peningkatan WBC serta pada uji kultur darah postitif ditemukan adanya bakteri Streptoccocus suis. Tatalaksana yang diberikan pada pasien berupa antibiotik empirik seperti ceftriaxone dan dexamenthasone serta pemberian kortikosteroid dan tatalaksana lain menyesuaikan keluhan pasien. Prognosis pada pasien mengarah ke baik dengan tatalaksana yang tepat, pasien dipulangkan setelah 18 mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan kondisi baik.
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA ERITRODERMA ET CAUSA DERMATITIS KONTAK IRITAN Sari, Ida Ayu Diah Purnama; Agatha Viviane
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.77127

Abstract

Eritroderma merupakan salah satu kegawatdaruratan di bidang dermatologi yang terjadi dikarenakan proses inflamasi dari penyakit yang mendasari, oleh karena itu patofisiologi dari eritroderma sangat bergantung pada penyebabnya. Penyebab eritroderma umumnya psoriasis dermatitis atopik, dermatitis kontak iritan dan dermatitis seboroik. Manifestasi klinis dari eritroderma adalah terdapat makula eritema yang saling menyatu sehingga menutupi hampir seluruh permukaan kulit >90% body surface area (BSA), yang nantinya diikuti oleh skuama berwarna putih kekuningan. Secara umum eritroderma dapat didiagnosa melalui anamnesis dan temuan klinis. Laporan kasus ini membahas seorang perempuan 69 tahun yang datang dengan keluhan kulit mengelupas disertai nyeri dan gatal diseluruh tubuh setelah mandi dengan obat herbal berisikan lengkuas, serai dan kunyit dengan manifestasi klinis didapatkan lesi berupa makula eritema disertai skuama diatasnya. Pasien diberikan terapi medikamentosa berupa kortikosteroid, antihistamin, kompres basah dan pelembab beserta terapi non medikamentosa untuk menghindari iritan. Setelah diberikan terapi tersebut kondisi pasien berangsur membaik.
STUNTING: FAKTOR RISIKO, DIAGNOSIS, TATALAKSANA, DAN PROGNOSIS Apriastini, Ni Komang Tri; Adnyani, Ni Putu Tia; Selvyani, Putu Onik; Setiawan, Komang Hendra
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.77137

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan adanya deviasi pada indeks tinggi badan per umur atau TB/U anak berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dari median WHO untuk populasi referensi yang sama dan jenis kelamin yang sama. Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia dengan prevalensi mencapai 24,4% pada tahun 2021. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting, faktor-faktor tersebut, yaitu praktik pemberian ASI eksklusif, pola pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), riwayat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), riwayat penyakit infeksi kronis, keadaan sanitasi, kondisi sosial dan ekonomi keluarga, serta tingkat pendidikan ibu. Diagnosis stunting ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anak dengan hasil TB/U <-2 SD dapat dinyatakan stunted perlu dievaluasi lebih lanjut mengenai status gizi anak dengan pemeriksaan berat badan, lingkar kepala, kecepatan tumbuh, dan potensi tinggi genetik. Tatalaksana stunting dimulai dengan tindakan pencegahan dan melakukan tindakan kuratif pada anak stunting. Prognosis stunting adalah baik apabila terdeteksi dan mendapat intervensi gizi lebih dini.
DISTRIBUSI KASUS PASIEN BENDA ASING PADA TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROKAN INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD KABUPATEN BULELENG Aristhagoza, I Gede Agustian; Susantini, I.G.A Dwi
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.77229

Abstract

Kasus benda asing yang terjadi di hidung, telinga, dan faring merupakan salah satu insiden yang cukup umum terjadi dalam masyarakat. Diagnosis pada pasien seringkali mengalami keterlambatan karena penyebabnya tidak terlihat secara langsung, gejalanya tidak khas, dan terdapat risiko kesalahan diagnosis diawal. Sehubungan dengan itu, sebuah gambaran distribusi pasien kasus benda asing diperlukan sebagai data epidemiologi suatu penyakit yang nantinya diharapkan berimplikasi terhadap penganggulangan kasus ini di daerah tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi pasien kasus benda asing pada THT IGD RSUD Kabupaten Buleleng periode Januari 2022-Desember 2023. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dengan jumlahnya sebanyak 82 sampel. Hasil penelitian menunjukkan kasus benda asing dominan terjadi pada pasien balita (0-5 tahun) dengan jumlah 38 kasus (46,3%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 45 kasus (54,9%). Lokasi corpus alienum paling banyak ditemukan pada KAE yaitu 35 kasus (42,7%) yang jenisnya berupa corpus alienum organik sejumlah 46 kasus (56,1%) dengan mayoritasnya merupakan serangga sejumlah 22 kasus (26,8%). Hasil penelitian ini pun sejalan dengan literatur dan mayoritas penelitian sebelumnya sehingga dapat menjadi dasar edukasi kepada orang tua agar lebih mengawasi anaknya ketika bermain.
HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA DENGAN STRES KERJA PADA USAHA DODOL DESA PENGLATAN Wijaya, I Made Kusuma; Wibowo, IP Adi
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.77266

Abstract

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan pada UMKM dodol karena terdapat berbagai risiko yang dapat menimbulkan kecelakaan/penyakit pada pekerja sehingga menurunkan produktivitas perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor lingkungan dan beban kerja terhadap stress pekerja dodol. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di desa Penglatan. Sampel penelitian adalah pekerja dodol di desa Penglatan, sebanyak 60 orang yang dipilih secara purposive sampling. Data penelitian dikumpulkan menggunakan angket dan observasi. Analisis data menggunakan model analisis regresi logistik ganda yang disajikan dalam grafik dan tabel. Hasil analisis data menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara beban kerja dengan stress kerja pekerja dodol di desa Penglatan. Hasil sebaliknya ditemukan pada lingkungan kerja dimana hasil analisis data menunjukan terdapat hubungan yang secara statistik signifikan antara lingkungan kerja dengan stress kerja pekerja dodol di desa Penglatan. Berdasarkan atas hasil tersebut disarankan kepada pengusaha dan pemerintah secara bersama-sama untuk selalu memperhatikan lingkungan kerja pada UMKM sehingga akan meningkatkan kinerja dan produktivitasnya.
KEJANG BERULANG PADA BAYI USIA 34 HARI DENGAN HIPERPARATIROID : SEBUAH STUDI KASUS Masta, Gusti Ayu Amalindasari Prabayastita; Romy Windiyanto
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang adalah kondisi neurologis yang umum ditemui pada neonatus, bayi dan anak-anak. Kejang dapat terjadi karena adanya depolarisasi berlebihan dari neuron otak. Etiologi kejang dapat dibedakan menjadi intracranial dan ekstrakranial. Pada laporan kasus ini kami melaporkan bayi usia 34 hari datang dengan keluhan kejang berulang tanpa demam, kejang dikatakan seluruh tubuh mata mendelik ke atas dengan durasi kurang lebih 1 menit pada setiap kejang, setelah kejang pasien menangis. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukannya defisiti neurologis dan adanya tanda infeksi. Pemeriksaan darah didapatkan hipokalsemia (1.21 mmol/l) dan hiperparatiroid (132.7 pg/mL). Pemeriksaan CT- Scan kepala tanpa kontras dalam batas normal. Pasien kemudian didiagnosis dengan hipokalsemia akibat hiperparatiroid, dengan tatalaksana koreksi kalsium glukonas 550 mg dalam 50 Normal Saline habis dalam 2 jam, cairan rumatan kalsium glukonas 5 cc dalam IVFD Tridek 100 (500cc) diberikan dalam 18 tpm mikro, fenobarbital, fenitoin dan antibiotic. Pada hari ke 11 pasien mengalami perbaikan klinis sehingga dipulangkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10