cover
Contact Name
Irzum Farihah
Contact Email
fikrah@stainkudus.ac.id
Phone
+6282331050629
Journal Mail Official
fikrah@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo Bae Kudus Po Box. 51 Phone: +6282331050629
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan
ISSN : 23546174     EISSN : 24769649     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/fikrah
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Aqidah: including religion thought, religion sectarian, Theology. Religious study: including inter-religion study, Islamic Islamic philosophy: Islamic philosopher thought, Islamic philosophy development. Religious sociology: including religion in civilization, religion and modernity/globalization, religion and media. Religious Anthropology: including culture and religion on civilization.
Articles 244 Documents
MEWUJUDKAN TRADISI ISLAM DALAM MANIFESTASI HARMONI KEBERAGAMAAN UMAT Mas'udi, Mas'udi
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.303

Abstract

Islam adalah agama misi yang diwahyukan Allah swt., kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw. Dalam perjalanannya pula, Islam berjalan beriringan dengan dinamika kehidupan umat sehingga menjadikannya kadang dipertentangkan dan di diteladani. Plus minus keberadaan ini tidak menjadikan Islam surut dalam usahanya mengentaskan keberadaban umat manusia. Islam terus menjalankan misi sucinya dengan memberikan uraian keilmiahan hidup sehingga pada akhirnya masyarakat mulai mengerti akan hakikat dari keharmonisan hidup bersama dalam lintasan keyakinan. Tuntutan utama yang diajarkan oleh Islam adalah menyadarkan masyarakat akan arti penting tradisi sebagai perekat utama doktrin keislaman dengan perjuangan Rasulullah saw. Tradisi dalam Islam dengan pengertian akan eksistensi keanekaragaman sosial, budaya, dan bahkan agama itu sendiri menjadikan Islam sebagai jalan tengah bagi masyarakat. Islam memberikan beberapa deskripsi realistis tentang hakikat hidup setiap pribadi yang mustahil dinafikkan kebersandarannya kepada nilai-nilai suci masing-masing agama. Di atas kenyataan inilah, tuntutan untuk menghadirkan harmoni Islam sebagai pemersatu kehidupan umat niscaya dikedepankan. Kata Kunci: Tradisi, Jalan Tengah (middle roader), al-Sunnah, Ritual, Keberagamaan
Subuh Orchestra of Religious Harmony of Baitunnur Mosque and Santo Yusuf Catholics Church in Pati Central Java Zahra, Fathimatuz -; Basri, Muhammad Hasan; Arifin, Zainul -; Surachman, Anista Ika
FIKRAH Vol 10, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.257 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v10i1.12065

Abstract

This article discusses religious harmony in Pati, Central Java, related to mosques and churches in one location. This harmony was awakening through the combination of the sound of church bells and the sound of the recitation in the mosque using loudspeakers to create harmony between the two houses of worship. Purposing of this article was to narrate and discuss the harmony that occurred in Pati by conducting interviews with Catholic religious leaders, Muslim religious leaders, and residents of Arab, indigenous, and Chinese descent. This study focuses on three questions (a) How are religious symbols in religious harmony; (b) How to build harmony with religious symbols in the form of church bells and adhan); (c) How the Subuh orchestra as a symbolic sacred call for people who perform rituals in the mosque called the call to prayer and in churches use church bells to signify the morning sacrament. The result of this research was that religious people build religious harmony through the dawn of this orchestra, making this simple culture a unifying tool for diversity in society.
Religion in Television: Mediated Religious "Kuliah Subuh” Program in Indonesia Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3845.921 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2638

Abstract

In this contemporary life, television becomes an effective media of the da’wa or proliferation. The flourishing some of Islamic programs also effects to the order of the religious public life in Indonesian society. Using the descriptive analytical research, this essay investigates the process of religious proliferation program who become popular in society. It is started from the objective of some television channel to show “kuliah subuh”, a religious speech from an expert people that understand about Islamic religion or ustad after the dawn. Then the writer tries to find an effect of the media especially television to the audiences from the message of the program and their daily life expressions. Finally, “kuliah subuh” appears as a mediated religion which produces certain effects on religion in order to adapt it to television formats. It make the birth of transformations and paradoxes within the institutional model of religiosity.
Teologi Persuasif Ayat-Ayat Makkiyah; Sebuah Tafsir Relasi Umat Beragama Muhtador, Moh
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.703 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.1513

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir konflik antara agama di Indonesia kembali muncul  setelah  lama  tidak  terdengar  dan  sunyi  dari  pemberitaan  media.  Kasus terakhir yang mendapat perhatian nasional ialah pembakanran masjid di Tolikara Papua yang terjadi pada 23 juli 2015. Agama sebagai sebuah keyakinan merupakan hal sensifit bagi pemeluknya, membincangkan agama sama halnya berbicara tentang Tuhan. Seorang pemeluk agama tertentu berani mengambil resiko ketika agama yang diyakini  dilecehkan.  Pada  posisi  tersebut  keagamaan  seorang  menjadi  superior dengan resiko yang melekat. Oleh sebab itu, beragama tidak cukup hanya mendahulukan fanatisme, tetapi dalam beragama seorang dituntut juga untuk memahami ajaran yang terkandung dalam kita suci agama. Dengan demikian, memahami dan mengaplikasikan nilai Qurani bagi umat Islam adalah sebauh keniscayaan. Sejarah telah mencatat adanya toleransi beragama yang terkandung dalam  ayat-ayat   makkiyah.   Dengan   bahasa   yang   mudah  dipahami,   ayat-ayat makkiyah telah mengajarkan umat Islam tentang relasi beragama serta menghormati agama lain tanpa harus memaksa dan menimbulkan konflik dalam beragama. Ajaran yang selama ini dipandang oleh sebagian muslim sebagai kelemahan umat  Islam awal, tetapi kandungan ayat-ayat Makkiyah cendrung menarasikan tentang universalitas ajaran Islam.Penulis menyadari bahwa tulisan tentang ayat-ayat makkiyah telah banyak yang meneliti dan mengkaji. Ayat makkiyah telah lama dikaji oleh ulama-ulama terdahulu dan sampai sekarang, namun kecendrungan kajian yang berkembangan tentang ayat makkiyah cendrung bersifat teknisi yang bersifat Ulum al-Quran dan kurang melihat aspek sosio-histori. Dengan demikian, pada posisi tersebut penulis mencoba  untuk  mengisi  kekosongan  wacana  tentang  ayat  Makkiyah  kaitannya dengan relasi umat beragama dengan pendekatan sosial-histori. Sehingga besar harapan tulisan tersebut tidak hanya membaca ayat makkiyah secara teknisi ulum al- Quran tetapi juga memuat analisa sosio-keagamaan.Pendekatan      sosial-histori       dengan      menganalisa      keagamaan      yangberkembangan pada saat turunnya ayat makkiyah memberikan gambaran, bahwa ayat makkiyah mempunyai tiga pesan pokok terkait dengan relasi agama. Pertama, ajaran tentang toleransi beragama, kedua, kemanusiaan, dan ketiga relasi antara umat beragama. Ketiga hal tersebut adalah ajaran umum yang terdapat dalam ayat makkiyah, beragamanya redaksi dan ungkapan tentang ketuhanan dan kemanusiaan yang terdapat pada ayat makkiyah memberikan indikasi, bahwa ayat makkiyah adalah ayat yang mengajarkan tentang kerukunan umat beragama.
Religi Masyarakat Periferi: Analisis Rites of Passage Atas Ruwatan Rambut Gimbal di Dieng Hamsah, Ustadi
FIKRAH Vol 8, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.07 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v8i2.6912

Abstract

This article aims to see the traditions associated with the existence of the Absolute which will give birth to a unique and distinctive ritual system in the ritual of ruwatan dreadlocks in Dieng. Perception of myths and cultural phenomena with a sublimated perspective and is an innovation for the central tradition in the Ngayogyokarto Hadiningrat Palace. There was a "movement" of the central culture that pulled over (periphery) and manifested itself into a "religious" ritual carried out by the community. The problem that arises is how the ritual tradition of ruwatan dreadlocks is interpreted as a religiosity that is not practiced in the palace, as well as what it means for the people of Dieng. Data were collected using participatory observation methods, in-depth interviews, document studies, and focus group discussions. The analysis uses techniques of deep analysis by applying the perspective rites of passage from Arnold van Gennep and Victor Turner. The result and analysis are that there is a positive compromise between the concept of holiness and more worldly concepts such as economic interests (tourism) which is a form of cultural reaggregation in Dieng. AbstractThis article aims to see the traditions associated with the existence of the Absolute which will give birth to a unique and distinctive ritual system in the ritual of ruwatan dreadlocks in Dieng. Perception of myths and cultural phenomena with a sublimated perspective and is an innovation for the central tradition in the Ngayogyokarto Hadiningrat Palace. There was a "movement" of the central culture that pulled over (periphery) and manifested itself into a "religious" ritual carried out by the community. The problem that arises is how the ritual tradition of ruwatan dreadlocks is interpreted as a religiosity that is not practiced in the palace, as well as what it means for the people of Dieng. Data were collected using participatory observation methods, in-depth interviews, document studies, and focus group discussions. The analysis uses techniques of deep analysis by applying the perspective rites of passage from Arnold van Gennep and Victor Turner. The result and analysis are that there is a positive compromise between the concept of holiness and more worldly concepts such as economic interests (tourism) which is a form of cultural reaggregation in Dieng.Keywords: Dieng, periphery, rambut gimbal (clump hair), rites of passage AbstrakArtikel ini bertujuan untuk melihat tradisi yang terkait dengan eksistensi Yang Maha Mutlak akan melahirkan sistem ritual yang unik dan khas pada ritual ruwatan rambut gimbal di Dieng, yang merupakan wilayah terpencil dan periferi dari tradisi dan budaya Jawa yang berpusat di Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Mempersepsi mitos dan fenomena budaya dengan cara pandang yang mengalami sublimasi dan merupakan inovasi bagi tradisi pusat di kraton. Terjadi “gerak” budaya pusat yang menepi (periferi) dan termanifestasi menjadi sebuah ritual “religius” yang dilakukan oleh masyarakat. Persoalan yang muncul adalan bagaimana tradisi ritual ruwatan rambut gimbal dimaknai sebagai sebuah religiusitas yang tidak dilakukan di pusat tradisi (kraton), serta bagaimana makna bagi masyarakat Dieng. Dengan menggunakan perspektif rites of passage artikel berikut ini menguraikan fenomena tersebut. Hasil dan analisis adalah adanya kompromi positif antara konsep kesucian dengan konsep-konsep yang lebih duniawi seperti kepentingan ekonomi (pariwisata) yang merupakan bentuk reagregasi budaya di Dieng.Kata kunci: Dieng, periferi, rambut gimbal, ritus peralihan
PANCASILA SIMBOL HARMONISASI ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA: EDISI MELAWAN LUPA ulya, ulya
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.389 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1609

Abstract

Disepakati Pancasila sebagai dasar NKRI tidaklah melalui jalan mulus. Para founding father berdiskusi sampai terjadi debat intelektual seru yang menyebabkan mereka hampir berada di ambang perpecahan. Akhirnya disepakati Piagam Jakarta yang di dalamnya memuat Pancasila sebagai dasar negara. Ternyata dengan Piagam Jakarta tidak lantas menyurutkan perselisihan, terutama berkaitan dengan statemen ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kemudian dicapai solusi harmonis yang mempertimbangkan sensitivitas pluralitas di Indonesia dan statemen di atas tergantikan dengan pernyataan Ketuhanan Yang Maha Esa.Yang terjadi kini, semenjak lengser pemerintahan Orde Baru dan ditabuh genderang reformasi seakan-akan telah menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengaktualisasikan diri sebebasnya yang sebelumnya terpasung di bawah sendi-sendi otoritarianisme. Momentum itu dimanfaatkan oleh sekelompok muslim tertentu yang tidak disadari justru menyulut kembali api permusuhan melalui ungkapan yang disuarakannya, seperti: dirikan khilafah Islamiyah, kembali kepada Islam kāffah, dan seterusnya. Tampaknya atau jangan-jangan mereka ini lupa sejarah terbentuknya Pancasila sebagai dasar negara.Dalam kerangka hermeneutika, Pancasila adalah teks yang dibentuk dan disepakati  para founding father, disampaikan kepada bangsa Indonesia, baik yang muslim maupun non muslim; tetapi setelah Pancasila sampai kepada bangsa Indonesia, para founding father tidak bisa mengendalikan sepenuhnya agar bangsa Indonesia mengikuti pembacaan yang diinginkannya. Kenyataannya bangsa Indonesia meresponnya berbeda sesuai dengan pra-pemahamannya masing-masing meskipun  sama-sama berasal dari kelompok muslim sendiri. Namun demikian sampai sekarang, Pancasila tetap sakti dan tegak di Indonesia. Itu karena kekuatan dan peran masyarakat Indonesia secara keseluruhan, bukan yang lain.       
Yang Kotor yang Menyucikan: Sakralitas Darah Menstruasi Perempuan dalam Jejaring Kultural (Pela) di Maluku Oita, Stevanus; Lattu, Izak Y.M; Nuban Timo, Ebenhaizer I
FIKRAH Vol 7, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5305.701 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v7i1.5021

Abstract

This article aims to describe and explain the culture of pela blood or cultural networking in the people of Lumahpelu and the Sohuwe Country indigenous community on Seram Island, Maluku. Interviews, documentary studies and literature studies are used to obtain data. During this time the stigma that appears in society about menstrual blood is something that is dirty and unclean, thus separating individuals from the community. But this article reveals that menstrual blood integrates the people of the home country and the country of Sohuwe as a pela bond. Pela bonds live through the sacrality of menstrual blood which is the implementation of the ceremonies of the period of cultural transition (pinamou). This article concludes that blood circulation is a collective identity that contains the value of solidarity.
MENGKONSTRUK AKHLAK KEMANUSIAAN DENGAN TEOLOGI KEPRIBADIAN HASAN HANAFI (Perspektif Teologi Antroposentris) *, Manijo
FIKRAH Vol 1, No 2 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.898 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v1i2.546

Abstract

Partisipasi Pesantren Luhur Al-Husna dalam Perdamaian Nasional: Studi tentang Peran Pesantren di Surabaya Setianingsih, Dwi; Yusuf, M.
FIKRAH Vol 9, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.567 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v9i2.9365

Abstract

This article aims to discuss and see further how big the role of the students of the Luhur Al-Husna Islamic Boarding School when facing plurality, both related to religious differences and certain sects. To answer these objectives, this article uses qualitative research with the type of phenomenology with analysis using the theory of Peter L. Berger and Thomas Luckman which includes externalization, objectification, and internalization. In instilling the value of peace in students, the Luhur Al-Husna Islamic Boarding School has two directions: namely, through the dawuh of Kiai Ali Maschan and through the customization ethics of the pesantren. Both of these are part of verbalization. While the teachings of the yellow book, have a secondary influence or role in cultivating the value of peace for Al-Husna students. These two things are external aspects in the pesantren that are understood and objectified into a general truth, that the Luhur Al-Husna Islamic Boarding School is a pesantren of "Peace." Then the value of peace is internalized in morals and behavior which leads to activities and taking roles in peace organizations and groups.
Argumentasi Tauhidik Dalam Perilaku Sosial-Agama Hadining, Hasanain Haikal
FIKRAH Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5300.005 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v5i1.2439

Abstract

Humans need religion as a hand of living. Islam is a religion of the majority that adopted of the society in Indonesia. Islam increasingly faces heavy challenges, an example are materialism and the doctrine of terrorism which many interesting sympathy from lay of people. Threfore the knowledge of the true of tawhid understanding needs to be communicated to the public, in order that the society can be strong to grip of life. Th people with knowledge of true tawheed can reach safety in the world of life and in the hereaftr. Tawheed is the subject of faith, God should not be like a creature (mujassimah or musyabbihah), and the existence of God is without place and without direction. Th research method in this article is descriptive qualitative usting library research approach supported by historical and sociological studies.