cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
Perilaku menyontek: Persepsi terhadap iklim sekolah dengan ketidakjujuran akademik Fitria, Yuli
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4048.658 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i1.7833

Abstract

Abstrak. Perilaku ketidakjujuran akademik bertentangan dengan norma, nilai pendidikan karakter serta agama. Salah satu bentuk perilaku ketidakjujuran akademik yaitu menyontek. Ironisnya pelaku penyontek tidak menyadari perilakunya sebagai kesalahan. Iklim sekolah yang kurang kondusif cenderung dipersepsikan secara negatif, diduga menjadi penyebab siswa leluasa melakukan ketidakjujuran akademik, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahanya. Hipotesis, ada hubungan negatif significan persepsi positif terhadap iklim sekolah dengan perilaku ketidakjujuran akademik. Subjek penelitian siswa kelas XII SMAN Darul Sholah Banyuwangi sejumlah 120 siswa. Teknik sampling purposive sampling. Alat ukur menggunakan Perception School Climate Scale dan Academic Dishonesty Scale. Analisis data korelasi product moment. Hasil menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan (r = -0,129, p = 0,015). Artinya, semakin positif persepsi terhadap iklim sekolah maka semakin kecil kecenderungan perilaku ketidakjujuran akademik dan sebaliknya. Pentingnya menciptakan iklim sekolah yang dipersepsikan secara positif dapat digunakan sebagai upaya mencegah terjadinya ketidakjujuran akademik seperti menyontek.Kata kunci : persepsi; iklim sekolah; ketidakjujuran akademik  Abstract. Dishonest behavior is very contrary to the norm and religion values. One of academic dishonest behavior is cheating. Unfortunately the cheaters do not realize their behavior as an error. A less conducive school climate tends to be perceived negatively and it is suspected to be the reason students are free to cheat when doing academic dishonesty, so necessary to prevent it. The subject is the XII Grade students of Darus Sholah Banyuwangi Senior High school as much 120 students. The sampling technique uses purposive sampling. Instruments used are Perception School Climate Scale and Academic Dishonesty Scale. Data analysis uses product moment correlation. Results is a significant negative (r = -0,129, p= 0,015), the more positive perception of the school climate, the smaller tendency of academic dishonesty behavior and vice versa. The importance of creating a school climate that is perceived positively can be used as an effort to prevent academic dishonesty such as cheating.Key words : perception, school climate, academic dishonesty
BODY DISSATISFACTION TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA KARYAWATI Kartikasari, Nina Yunita
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.649 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1585

Abstract

Psychological well being merupakan suatu keadaan individu yang mampu menerima diri apa adanya sehingga didapat kesejahteraan dalam hidup. Psychological well being pada karyawati dapat dipengaruhi oleh body dissatisfaction. Body dissatisfaction disini lebih pada aspek distress yang disebabkan oleh berat badan dan bentuk tubuh sehingga malu untuk tampil di depan umum. Salah satu faktor yang dapat memunculkan body dissatisfaction merupakan ketidakpuasan yang mendalam terhadap diri sendiri dan kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara body dissatisfaction (yang diukur dengan body shape questionnaire) dan psychological well being pada karyawati (yang diukur dengan psychological well being scale). Pengukuran ini dilakukan pada 140 sampel dengan menggunakan teknik sampling jenuh (total sampling) pada karyawati yang bekerja di Asuransi Bumi Putra cabang Tulungagung dan Trenggalek. Hasil analisis korelasional menunjukkan bahwa adanya nilai hubungan negatif yang signifikan antara kedua variabel ini. Hasil r -.248 dengan nilai signifikansi 0,003 < 0,05. Katakunci : Body dissatisfaction, psychological well being.
PELATIHAN KEBERSYUKURAN UNTUK MENURUNKAN STRES KERJA GURU DI SEKOLAH INKLUSI Leguminosa, Prapti; Nashori, Fuad; Rachmawati, Mira Aliza
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.461 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4563

Abstract

Penelitian ini menguji pengaruh pelatihan kebersyukuran dalam menurunkan stres kerja guru di sekolah inklusi. Hipotesis dalam penelitian ini adalah tingkat stres kerja kelompok yang diberi perlakuan pelatihan kebersyukuran lebih rendah daripada kelompok yang tidak diberi perlakuan pelatihan kebersyukuran. Rancangan penelitian menggunakan untreated control group design with dependent prates and postetst dengan menambahkan tindak lanjut. Responden penelitian sebanyak 14 orang yang terbagi ke dalam 7 orang kelompok eksperimen dan 7 orang kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan alat ukur stres kerja guru dengan koefisien reabilitas sebesar 0,873. Modul pelatihan kebersyukuran disusunberdasarkan tiga aspek kebersyukuran (Al-Munajjid, 2006; Al-Jauziyyah, 2010), yakni niat (hati), ucapan (lisan), dan perbuatan (anggota badan). Data dianalisis menggunakan Anava Mixed Design untuk melihat perbedaan skor dalam kelompok (prates, pascates, dan tindak lanjut) serta perbedaan skor antar kelompok (eksperimen dan kontrol). Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan skor yang signifikan pada prates, pascates, dan tindak lanjut antar kedua kelompok. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor F = 7,393 dan p = 0,003 (p<0,05). Selain itu, terdapat penurunan tingkatstres kerja pada kelompok eskperimen secara signifikan (MD = 13,857 dan p = 0,012), sementara pada kelompok kontrol terjadi peningkatan stres kerja (MD = -6,571 dan p = 0,189). Artinya, kelompok eksperimen mengalami penurunan tingkat stres kerjasetelah diberi pelatihan kebersyukuran sementara kelompok kontrol yang tidak diberi pelatihan kebersyukuran mengalami peningkatan stres kerja. Selanjutnya, skor partial Eta Squared = 0,561 yang berarti bahwa pelatihan kebersyukuran memberikan kontribusi sebesar 56,1 % terhadap penurunan stres kerja guru.Kata kunci: Stres Kerja Guru, Pelatihan Kebersyukuran, Sekolah Inklusi This study examines the effect of gratitude training in reducing teachers work stress in inclusive schools. The hypothesis of this study is the group that given gratitude training has lower work stress than the group that did not receive gratitude training. This study was an experimental research that used the untreated control group design with dependent pretest and postetst added by follow-up. Participants of this study were 14 participants that divided into 2 groups (experimental group and control group). There are 7 participants in each group. This study used teacher stress inventory developed by Fimian (1988) that were modified by researchers with coefficient of reliability at 0,873. Gratitude training manuals were developed based on three aspects of gratitude according to Al-Munajjid, (2006) and Al-Jawziyyah (2010). Those three aspects are intention (liver), speech (verbal), and behavior (physically). The data were analyzed using Mixed Design Anova to determine the differences of pretest, pascates, and follow-up’s score, and the different between experimental and controlled group’s score. The results showed a significant difference in work stress score at pretest, posttest, and follow-up between the experimental and controlled group (F = 7.393, p = 0.003 (p <0.05)). In addition, there was significant changes in work stress at experimental group (MD = 13.857 and p = 0.012), whereas in the control group there was no significant change (MD = -6.571 and p = 0.189). Those findings indicate that there was reduction in the level of work stress in the experimental group. Whereas the increase of work stress showed in the controlled group. Furthermore, a score partial Eta Squared = 0.561 indicates that the gratitude training contributed 56.1% to the reduction of teacher work stress.Keywords: teachers work stress, gratitude training, inclusive school
PENGEMBANGAN MODEL DETEKSI DINI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) PADA TINGKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DI KOTA MALANG Suryaningrum, Cahyaning; Ingarianti, Tri Muji; Anwar, Zainul Anwar
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.178 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v4i1.2878

Abstract

Pendidikan  merupakan hak setiap warga negara tanpa adanya pengecualian, termasuk anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui problematika dan harapan guru PAUD Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan perumusan model deteksi dini. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan Focus Group Discussion. Subjek penelitian sebanyak 249 guru PAUD. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 7 responden (3%) mengetahui asesmen ABK dan sebanyak 242 responden (97%) tidak mengetahui  asesmen untuk ABK. Selain itu, permasalahan para guru PAUD yaitu sulit untuk melakukan deteksi dini saat masuk PAUD dan mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan dengan orang tua, belum memahami cara menangani ABK, dan adanya kesulitan anak ABK masuk sekolah ke jenjang berikutnya. Selanjutnya harapan para guru, yaitu adanya instrumen pendeteksian dini dan panduan wawancara guru pada orang tua, cara penanganan ABK, keterbukaan orang tua pada sekolah, dan sistem sekolah yang mendukung ABK. Selain itu, dibutuhkan  modul deteksi dini yang jelas dan rinci serta mudah dipahami dan diterapkan.
IN-GROUP FAVORITSM PADA MAHASISWA AKTIVIS DITINJAU DARI KONSTRUAL DIRI INDEPENDEN-INTERDEPENDEN Siswanto, Yudi
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.273 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i1.1779

Abstract

Fenomena ingroup favoritism hampir terjadi dalam setiap kelompok.Individu dalam kelompok memiliki ciri khas tersendiri dalam aspek apapun termasuk salah satunya adalah orientasi nilai-nilai budaya pada ranah individual yang dalam hal ini disebut konstrual diri independen-interdependen.Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengatahui perbedaan ingroup favoritism pada mahasiswa aktivis ditinjau dari konstrual diri independen-interdependen.Penelitian ini menggunakan metode non-tes yaitu skala ingroup favoritismyang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan konsep ingroup favoritism milik Tajfel & Billig dan self construal scale (SCS) karya Theodore M Singelis.Jumlah subjek sebanyak 100 mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas organisasi intra dan ekstra kampus. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata ingroup favoritism pada subjekdengan konstrual diri interdependen lebih tinggi (88,65) dibandingkan konstrual diri independen (80,86). Berdasarkan uji t diperoleh hasil ada perbedaan ingroup favoritism antara subjek dengan konstrual diri independen dan subjek dengan konstrual diri interdependen (t=4,611, p=0,000). Kata kunci: Ingroup favoritism, konstrual diri independen-interdependen   In group favoritism phenomenon occurs in almost every group. Individuals in the group has its own characteristics in any aspect, including one of which is the orientation of cultural values ​​in the domain of the individual in this case is called Self construal of independent and interdependent . The purpose of this study is to know the difference ingroup favoritism on student activists in terms of self construal of independent-interdependent. This study uses a non-test the in group favoritism scale and self construal scale. The number of subjects as many as 100 students involved in the activities of intra- and extra-campus organizations. The results showed that the average value of in group favoritism in subjects with interdependent self konstrual higher (88.65) than the independent self construal (80.86). Based onthe results obtained by ttest there are the difference in group favoritism between subjects with self construal independent and interdependent self construal (t =4.611p=0,01). Keywords: ingroup favoritism, independent-interdependent self construal
Kontrol diri pada individu yang orangtuanya bercerai ditinjau dari pemaafan dan religiusitas Alamsyah, Fairuzatul Hakimah; Uzra', Ghea Niasgita F; Rahmalia, Indah Dewanti; Rusdi, Ahmad
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.236 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.5590

Abstract

Abstrak. Individu yang orang tuanya bercerai cenderung mengalami dinamika yang berbeda dengan individu yang orang tuanya memiliki hubungan yang harmonis. Mereka cenderung merasakan pergolakan emosi yang mendalam akibat perceraian kedua orang tuanya yang kemudian berdampak pada bagaimana kemempuan mereka untuk mengontrol dirinya agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif. Beberapa hal yang bisa mendukung kontrol diri dengan baik adalah bagaimana mereka mampu memaafkan peristiwa yang telah tejadi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemaafan dan religiusitas terhadap kontrol diri. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 37 orang yang memiliki orangtua dengan status bercerai. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji regresi berganda dan uji beda. Data dikumpulkan menggunakan skala kontrol diri, skala pemaafan, dan skala religiusitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kontrol diripada individu yang orang tuanya bercerai ditinjau dari pemaafan dan religiusitas. Pemaafan memiliki pengaruh langsung terhadap kontrol diri serta memiliki hubungan positif yang signifikan. Religiusitas juga memiliki hubungan dengan kontrol diri, namun hubungan antar keduanya bukanlah hubungan langsung melainkan melalui pemaafan sebagai mediator.Kata Kunci : kontrol diri, pemaafan, religiusitas  Abstract. Individuals whose parents divorce tend to experience different dynamics with individuals whose parents have a harmonious relationship. They tend to feel a deep emotional upheaval due to the divorce of their parents which then affects how they are able to control themselves so as not to fall into negative things. Some things that can support self-control well are how they are able to forgive the events that have occurred and get closer to Allah SWT. The purpose of this study is to determine the relationship between forgiveness and religiosity towards self-control. Subjects in this study amounted to 37 people who have parents with divorced status. Data analysis used in this study is multiple regression test and different test. Data were collected using a scale of self-control, forgiveness scale, and scale of religiosity. The results showed that there was a significant correlation between controls in the individual whose parents divorced in terms of forgiveness and religiosity. Forgiveness has a direct influence on self-control and has a significant positive relationship. Religiosity also has a relationship with self-control, but the relationship between the two is not a direct relationship but through forgiveness as a mediator.Keyword : self-control, forgiveness, religiosity
GUIDED IMAGERY UNTUK MENGURANGI RASA NYERI SAAT MENSTRUASI Novarenta, Affan
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.677 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1575

Abstract

Guided imagery merupakan teknik untuk membimbing dan mengarahkan orang kepada imajinasi menyenangkan menggunakan audio visual kinestetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah guided imagery efektif untuk mengurangi rasa nyeri saat menstruasi. Desain yang digunakan adalah eksperimen single case study yang dilakukan pada 3 orang subjek. Hasil pengukuran dengan menggunakan skala numeric pain distress menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri menstruasi. Penelitian ini dapat menjadi pengetahuan bagi masyarakat bahwa guided imagery merupakan salah satu alternatif intervensi dalam mengurangi nyeri menstruasi. Katakunci: Guided imagery, nyeri menstruasi
HUBUNGAN SELF CONTROL DENGAN PERILAKU CYBERLOAFING PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL Ardilasari, Noratika
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.247 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3882

Abstract

Terbaginya konsentrasi pegawai negeri sipil bagian administrasi dalam menyelesaikan tugasnya disebabkan oleh fasilitas internet yang tidak terbatas. Perilaku cyberloafing merupakan segala bentuk perilaku pegawai menggunakan internet instansi untuk tujuan pribadi saat jam kerja. Self control adalah salah satu faktor internal individu yang menyebabkan munculnya perilaku cyberloafing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self control dengan perilaku cyberloafing. Metode penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan alat ukur skala perilaku cyberloafing dan skala self control. Jumlah subjek sebanyak 90 orang pegawai negeri sipil bagian administrasi di Dinas Pertanian, Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan dan Dinas Kepemudaan dan Olahraga di Kota Malang yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang terjadi antara self control dengan perilaku cyberloafing (r= -0,206 dan p= 0,049) dibuktikan dari hasil perhitungan product moment pearson. Hal ini berarti semakin rendah self control yang dimiliki pegawai negeri sipil maka semakin tinggi perilaku cyberloafing yang dilakukan. Kata kunci: Perilaku cyberloafing, self control, Pegawai Negeri Sipil administrasi Devided the concentration administration civil servant completing the job caused by unlimited internet facility Cyberloafing is any behaviors of employees that using their companies internet for personal purpose during office hours. Self control is one of the individual internal factor that causes cyberloafing. The purpose of this study was to determine the relationship self control with cyberloafing. Method of the research is quantitative correlation with the instrument about cyberloafing behaviour scale and self control scale. Quantity of subject is about 90 people civil servants of administration from Agricultural department, Education department, Transportation Department, Health department and Youth and sports department in Malang city with purposive sampling technique. The results showed there was a negative correlation between self control with the cyberloafing behavior (r= -0,206 and p= 0,049) from the calculation of product moment pearson. This means the low self control owned civil servant the higher cyberloafing behaviour done. Keywords: Cyberloafing behavior, self control, civil servant of administration
Bagaimana meningkatkan school well-being? Memahami peran school connectedness pada siswa SMA Rahma, Ulifa; Faizah, Faizah; Dara, Yuliezar Perwira; Wafiyyah, Najwa
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.227 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v8i1.9393

Abstract

Objectives: this research was conducted to look at the relationship between school and school - both in high school students.Method: this research is a quantitative study involving subjects consisting of 134 high school students based on the calculation of the application G * Power version 3.1.9.2. Data retrieval is done by connecting two scales, namely the scale of school connectivity and school scale using the accidental sampling method. Test data analysis in this study using Pearson product moment.Findings: There was positive relationship between  school connectedness and school wellbeing variables in the Middle School students is significan (r = 0.77, p = 0.00) t. The results of this study have a positive value. Where there is a positive relationship between variables, the higher the level of student school connection to the school, the higher the school level will be, and vice versa.Conclusions: dimensions of school connectedness related to school wellbeing are related and liked by students, communication and liked by teachers. But belonging does not have an influence on school wellbeing in high school students. The dimension of school connectednes which has the greatest effect size is liked by the teachers then communication and the last is connected and liked by students.
Guide imagery and music (GIM) untuk menurunkan kecemasan kompetitif pada atlet sebelum bertanding Al Amin, Muhamad Febrian; Iswinarti, Iswinarti
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.89 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v8i1.7352

Abstract

Objectives: Anxiety in sports is one of the factors that affect athlete performance when facing a match. Anxiety that arises not only consists of cognitive components, but also involves physiological or somatic components. This study aims to examine the effect of guide imagery and music (GIM) interventions in overcoming competitive anxiety in athletes before competing.Method: The subjects consisted of three experimental groups and one control group of futsal athletes. The questionnaire used was a competitive Anxiety scale that was compiled by the researcher himself for data collection. The research design used was quasi-experimental with non-randomized pretest-posttest control group design. Data analysis used non-parametric analysis, namely the Wilcoxon, Kruskal-Wallis and Mann Whitney Tests.Findings: The results showed the Guide Imagery and music intervention was effective in reducing athletes' competitive anxiety. This result can be seen from the decrease in competitive anxiety scores in the experimental group during the pre-test and post-test. In addition, there was a significant difference in competitive anxiety when a different test was performed with the Mann Whitnney Test between the experimental group and the control group.Conclusions: Guide Imagery and music therapy can be used to reduce competitive anxiety in athletes before a match.

Page 11 of 44 | Total Record : 433