cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
SELF-REGULATED LEARNING (SRL) DALAM MENINGKATKAN PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA Siti Suminarti Fasikhah dan Siti Fatimah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 1 (2013): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.137 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i1.1364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan self-regulated learning terhadap peningkatan akademik (IP) pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan dua kelompok secara random. Subjek penelitian berjumlah 54 mahasiswa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah self-report dan dokumentasi. Analisa data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kelompok yang diberi pelatihan SRL memiliki prestasi akademik lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak diberi pelatihan SRL dengan nilai p< 0,003. Dimana kelompok yang diberi pelatihan memiliki nilai rata-rata indeks prestasi (IP) lebih tinggi dengan mean = 2,78 dibandingkan kelompok yang tidak diberi pelatihan dengannilai mean = 2,47.Kata kunci: Self-Regulated Learning, Prestasi AkademikThis study aimed to know the effect of SRL training on developing students' academic achievement. The subject were 54 students. The methods of collecting data were self report and documentation. The data analysed by Independent sample t-test. The findings showed that the group who trained SRL have higher academic achievement than those who were not given SRL training with p<0.003. The group who were given training of SRL have higher grade point average by mean=2,78 if it's compared to the group who were not given training of SRL by mean=2,47.Keywords: Self-Regulated Learning, Academic Achievement
STUDI EKSPLORATIF PERILAKU KOPING PADA INDIVIDU DENGAN CEREBRAL PALSY Siti Maimunah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 1 (2013): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.427 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i1.1365

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji lebih dalam bagaimana strategi koping, bentuk perilaku koping dan sumber koping yang dilakukan oleh individu dengan cerebral palsy. Informan penelitian diperoleh dengan teknik purposif, dengan karakteristik informan: Individu dengan cerebral palsy, tidak disertai retardasi mental, dan tidak disertai kecacatan lain. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan dari 6 informan terdapat 5 informan yang menggunakan strategi problem focused coping dan 1 informan menggunakan emotional focused coping. Perilaku koping yang dilakukan adalah berusaha santai atau tidak terbebani dengan kondisi fisiknya serta merasa dirinya normal seperti orang lain. Sumber koping yang paling banyak digunakan adalah keyakinan positif dan dukungan sosial. Temuan menarik dalam penelitian ini adalah semua informan selalu memiliki "rasa syukur" atas kehidupannya meskipun mereka mengalami keterbatasan fisik.Kata kunci: Perilaku Koping, Individu dengan Cerebral PalsyThis research aimed to investigated and examined deeply how the coping strategies, coping behavior and the source of coping conducted by individuals with cerebral palsy. Informants were obtained by purposive technique, with the characteristics of the informants: individuals suffer cerebral palsy without mental retardation, and other disabilities. Data collection techniques used in-depth interviews, observation and documentation.The results of this study indicated that 5 of 6 informants use problem focused coping strategies and one informant uses emotional focused coping. Coping behavior that used by informants are trying to relax or not being burdened by his physical condition and felt they are normal like everyone else. Source of the most widely coping uses by the sufferer is positive beliefs and social support. Interesting findings of the research revealed almost all the research informants always have a "sense of gratitude" for his life even though they have physical limitations due to cerebral palsy that they experienced.Keywords: Coping Behavior, Individual with Cerebral Palsy
PERILAKU ASERTIF DAN KECENDERUNGAN MENJADI KORBAN BULLYING Novalia dan Tri Dayakisni
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 1 (2013): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.079 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i1.1366

Abstract

Bullying merupakan masalah penting yang perlu diperhatikan di lingkungan sekolah, biasanya dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelas atau orang yang lebih kuat. Salah satu faktor yang menentukan intensitas kecenderungan menjadi korban bullying adalah perilaku asertif pada siswa. Penelitian menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasional, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dengan kecenderungan menjadi korban bullying. Penelitian dilakukan terhadap 60 siswa MA NU Lekok Pasuruan. Pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling populasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala perilaku asertif dan skala kecenderungan menjadi korban bullying. Analisis data menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara perilaku asertif dengan kecenderungan menjadi korban bullying pada siswa MA NU Lekok Pasuruan. Nilai koefisien dengan (r) = (-0,430), koefisien determinasi (r2) = 0,185 dan probabilitas kesalahan (p) = 0,001. Hal ini berarti semakin tinggi perilaku asertif siswa maka semakin rendah kecenderungan menjadi korban bullying, demikian juga sebaliknya, semakin rendah perilaku asertif maka semakin tinggi kecenderungan menjadi korban bullying. Sumbangan efektif perilaku asertif terhadap kecenderungan menjadi korban bullying sebesar 18,5%, sisanya 81,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.Kata kunci: Perilaku Asertif, Kecenderungan Menjadi Korban BullyingBullying is an important issue to be noticed in school environment. It commonly do by senior to junior or stronger person. One factor that determines the intensity of a tendency to be a victim is assertive attitude. The research used correlational research to examine correlation between assertive attitude and tendency to be a victim of bullying. Sixty students of MA NU Lekok High School of Pasuruan participated in this study. Sampling technique that used in this researh was population technique. Instrument used to collect the data were assertive attitude scale and tendency to be victim of bullying scale. Data analyzed by product moment correlation. The result revealed significant negative correlation between assertive attitude and tendency to be victim of bullying on participant with coefficient value (r) = (-0,430). Coefficient determinant (r2) = 0,185 and probability of error (p) = 0,001. It means that the higher assertive score, the lower tendency to be victim of bullying, and vice versa. While effective contribution of assertive attitude to tendency to be victim is 18,5%, the rest of 81,5% influenced by other variables which were not examined in this study.Keywords: Assertive Attitude, Tendency to be Victim of Bullying
GUIDED IMAGERY UNTUK MENGURANGI RASA NYERI SAAT MENSTRUASI Affan Novarenta
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.677 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1575

Abstract

Guided imagery merupakan teknik untuk membimbing dan mengarahkan orang kepada imajinasi menyenangkan menggunakan audio visual kinestetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah guided imagery efektif untuk mengurangi rasa nyeri saat menstruasi. Desain yang digunakan adalah eksperimen single case study yang dilakukan pada 3 orang subjek. Hasil pengukuran dengan menggunakan skala numeric pain distress menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri menstruasi. Penelitian ini dapat menjadi pengetahuan bagi masyarakat bahwa guided imagery merupakan salah satu alternatif intervensi dalam mengurangi nyeri menstruasi. Katakunci: Guided imagery, nyeri menstruasi
KESIAPAN MENGHADAPI MASA PENSIUN DITINJAU DARI PERAN GENDER KARYAWAN Bintang Rahmannisa Safitri
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.828 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1577

Abstract

Kesiapan pensiun adalah hal penting yang harus dimiliki karyawan demi keberlangsungan hidup di masa tua setelah pensiun. Pada kenyataanya setiap karyawan memiliki orientasi peran gender masing-masing dengan sifat atau karakteristik yang berbeda, sehingga kesiapan karyawan dalam menghadapi pensiun tentunya berbeda pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan kesiapan karyawan menghadapi pensiun ditinjau dari peran gender. Penelitian ini dilakukan terhadap 92 karyawan yang sedang dalam Masa Persiapan Pensiun (MPP) di PT. Krakatau Steel. Pengumpulan data dilakukan dengan skala peran gender (BSRI) dan skala kesiapan pensiun. Terdapat 18 karyawan yang termasuk kategori orientasi peran gender feminim, 28 karyawan dengan kategori orientasi peran gender maskulin, dan 46 karyawan dengan kategori orientasi peran gender androgini. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan kesiapan karyawan dalam menghadapi masa pensiun ditinjau dari peran gender, bahwa karyawan yang masulin lebih siap dibandingkan dengan karyawan yang feminim dan androgini.Katakunci: Kesiapan, masa pensiun, peran gender
KECEMASAN ANTARA SISWA SMP DAN SANTRI PONDOK PESANTREN M. Afif Aminullah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.85 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1578

Abstract

Banyak dijumpai remaja usia sekolah yang mengalami kecemasan terutama ketika mengikuti proses belajar di sekolah, termasuk siswa SMP dan santri Pondok Pesantren kelas I yang baru memasuki sekolah baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan antara siswa SMP dan santri pondok pesantren kelas I. Desain yang digunakan adalah desain non-experimen deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) yang terdiri dari 50 item. Sampel penelitian ini sebanyak 84 orang. Analisis penelitian menggunakan Uji-T. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan antara siswa SMP dan santri pondok pesantren kelas I dengan nilai sangat signifikan (t=4,64, p=0,000). Kecemasan santri pondok pesantren kelas I lebih tinggi (39,3%) dibanding siswa SMP kelas I (20,2%).Katakunci: Kecemasan, santri pondok pesantren, siswa SMP
VIRGINITY VALUE DITINJAU DARI BIG FIVE PERSONALITY Patmawati Patmawati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.859 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1579

Abstract

Virginity value merupakan suatu keyakinan tentang keperawanan yang berfungsi sebagai pedoman untuk membantu individu membuat keputusan apakah akan tetap perawan atau perjaka sebelum pernikahan. Virginitas lebih menekankan pada purity, yaitu sejauh mana seseorang menjaga kemurnian dirinya dan memandang aktivitas seksual sebagai aktivitas sakral yang hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan virginity value ditinjau dari big five personality. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala virginity value dan skala big five personality. Pengukuran ini dilakukan pada 378 sampel dengan menggunakan teknik sampel insidental pada mahasiswa dengan rentang usia 17-23 tahun. Hasil analisis Anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua variabel ini. Hasil F 2.349 dengan nilai signifikansi 0,054 > 0,05. Artinya, tidak ada perbedaan virginity value ditinjau dari big five personality. Katakunci: Virginity value, big five personality
KEFUNGSIAN KELUARGA DAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA REMAJA Firra Noor Nayana
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.501 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1580

Abstract

Kefungsian keluarga menjadi salah satu faktor dalam penentuan kondisi well-being seseorang. Terutama di masa remaja, hal ini disebabkan seorang individu sedang mengalami masa tidak stabil dalam pertumbuhannya, mengalami banyak konflik dan tekanan sehingga tetap membutuhkan perhatian dan dukungan orang tua dan keluarganya untuk dapat melewati masa-masa sulit dan memiliki kepuasan dalam hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kefungsian keluarga dan subjective well-being pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas 1 dan 2 di SMA Muhammadiyah 1 Malang dengan jumlah subjek 79 siswa. Skala yang digunakan ialah Family Functioning Scale (FFS) dan Subjective well-being Scale (SWBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kefungsian keluarga dengan subjective well-being pada remaja dibuktikan dengan hasil perhitungan korelasi product moment. Semakin tinggi tingkat kefungsian keluarga maka semakin tinggi pula subjective well-being pada remaja (r=0,387; p=0,000; p<0,01). Katakunci: Kefungsian keluarga, subjective well-being, remaja
REGULASI DIRI MAHASISWA DITINJAU DARI KEIKUTSERTAAN DALAM ORGANISASI KEMAHASISWAAN Arini Dwi Alfiana
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.427 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1581

Abstract

Regulasi diri merupakan kemampuan seseorang mengontrol diri dalam mencapai tujuan, sehingga mahasiswa meregulasi diri demi tercapai tujuan berkuliahnya. Adanya kegiatan organisasi yang tidak diwajibkan menjadikan perbedaan kegiatan mahasiswa. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan tingkat regulasi diri mahasiswa jika dikaji dengan keikutsertaan dalam organisasi kemahasiswaan. Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Malang dengan jumlah sampel 200 mahasiswa, diambil dengan teknik accedental sampling (nonprobability sampling). Teknik pengambilan data adalah menyebarkan skala SRQ (Self Regulation Questionaire), yang diadaptasi dari skala yang disusun Miller dan Brown (1991). Hasil try out terhadap 50 mahasiswa menunjukan nilai validitas bergerak dari 0.324-0.714 dengan reliabilitas sebesar 0.825. Hasil penelitian menyatakan mahasiswa yang mengikuti organisasi memiliki tingkat regulasi diri yang lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan hasil analisis dengan metode t-test, di mana nilai t = 4,952 dengan p < 0,01. Katakunci: regulasi diri, mahasiswa, organisasi kemahasiswaan
SIKAP TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR DENGAN BURNOUT PADA KARYAWAN Zasyatin Rizka
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 2 (2013): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.958 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1582

Abstract

Burnout memang sangat gampang dirasakan oleh siapapun yang cenderung melakukan pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan sama yang berlangsung tahunan, sehingga karyawan beranggapan bahwa pekerjaan yang dilakukan kurang menantang atau kurang berarti. Burnout ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, ada karena faktor situasional dan ada faktor individual. Salah satu faktor individual yang menyebabkan seseorang burnout yaitu sikap terhadap pengembangan karir. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah memberikan jawaban apakah ada hubungan antara sikap terhadap pengembangan karir dengan burnout yang dirasakan oleh karyawan. Penelitian ini dilakukan terhadap 136 karyawan perusahaan PT. Multi Gemilang Indonesia yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan skala sikap terhadap pengembangan karir dan burnout. Hasilnya dapat diketahui bahwa koefisien korelasi antara sikap terhadap pengembangan karir dengan burnout adalah -0,654. Uji signifikansi menunjukkan hasil 0,000 (p<0,01) berarti bahwa korelasi kedua variabel sangat signifikan. Katakunci: Sikap terhadap pengembangan karir, Burnout, karyawan