cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
IN-GROUP FAVORITSM PADA MAHASISWA AKTIVIS DITINJAU DARI KONSTRUAL DIRI INDEPENDEN-INTERDEPENDEN Yudi Siswanto
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 1 (2014): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.273 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i1.1779

Abstract

Fenomena ingroup favoritism hampir terjadi dalam setiap kelompok.Individu dalam kelompok memiliki ciri khas tersendiri dalam aspek apapun termasuk salah satunya adalah orientasi nilai-nilai budaya pada ranah individual yang dalam hal ini disebut konstrual diri independen-interdependen.Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengatahui perbedaan ingroup favoritism pada mahasiswa aktivis ditinjau dari konstrual diri independen-interdependen.Penelitian ini menggunakan metode non-tes yaitu skala ingroup favoritismyang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan konsep ingroup favoritism milik Tajfel & Billig dan self construal scale (SCS) karya Theodore M Singelis.Jumlah subjek sebanyak 100 mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas organisasi intra dan ekstra kampus. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata ingroup favoritism pada subjekdengan konstrual diri interdependen lebih tinggi (88,65) dibandingkan konstrual diri independen (80,86). Berdasarkan uji t diperoleh hasil ada perbedaan ingroup favoritism antara subjek dengan konstrual diri independen dan subjek dengan konstrual diri interdependen (t=4,611, p=0,000). Kata kunci: Ingroup favoritism, konstrual diri independen-interdependen In group favoritism phenomenon occurs in almost every group. Individuals in the group has its own characteristics in any aspect, including one of which is the orientation of cultural values ​​in the domain of the individual in this case is called Self construal of independent and interdependent . The purpose of this study is to know the difference ingroup favoritism on student activists in terms of self construal of independent-interdependent. This study uses a non-test the in group favoritism scale and self construal scale. The number of subjects as many as 100 students involved in the activities of intra- and extra-campus organizations. The results showed that the average value of in group favoritism in subjects with interdependent self konstrual higher (88.65) than the independent self construal (80.86). Based onthe results obtained by ttest there are the difference in group favoritism between subjects with self construal independent and interdependent self construal (t =4.611p=0,01). Keywords: ingroup favoritism, independent-interdependent self construal
KECEMASAN SOSIAL KAUM HOMOSEKSUAL GAY DAN LESBIAN Yogestri Rakhmahappin; Adhyatman Prabowo
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.48 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.1997

Abstract

Homoseksualitas di Indonesia, masih merupakan hal yang tabu dan sulit diterima oleh masyarakat. Orientasi seksual yang lazim ada dalam masyarakat adalah heteroseksual, sedangkan homoseksual oleh masyarakat dianggap sebagai penyimpangan orientasi seksual. Stigma negatif dari masyarakat tersebut menyebabkan timbulnya kecemasan sosial pada kaum homoseksual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan sosial yang ada pada individu homoseksual gay dan lesbian. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimen dengan menggunakan skala kecemasan sosial. Jumlah subyek sebanyak 30 orang gay dan 30 orang lesbian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan sosial yang sangat signifikan antara kaum homoseksual gay dan lesbian dengan nilai thitung sebesar -5,906 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Tingkat kecemasan sosial pada kaum lesbian lebih tinggi daripada kaum gay. Kata kunci : Kecemasan sosial, homoseksual, gay, lesbian Homosexuality in Indonesia was still considered taboo and socially unaccepted. The common sexual orientation in the society was heterosexual, while homosexual was considered a form of sexual disorientation. The negative stigma from the society led to social anxiety on the homosexuals. The study aimed at investigating the different levels of social anxiety experienced by homosexuals, gays and lesbians. This non-experimental quantitative study employed social anxiety scale. The subjects were 30 gays and 30 lesbians. The findings revealed that there was a very significant difference between social anxiety levels on gays and lesbians with the t-score -5.906 and the significance value 0.000. In addition, the social anxiety level of the lesbians was higher than the gays. Keywords: Social anxiety, homosexual, gay, lesbian
SIKAP TERHADAP BRANDING PERUSAHAAN DENGAN JOB INSECURITY PADA KARYAWAN Yuliyani Yuliyani
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.918 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.1998

Abstract

Sebuah Brand atau nama besar yang telah dimiliki oleh sebuah perusahaan akan menjadi tolak ukur bagi kualitas kinerja karyawannya. Untuk mencapai kinerja yang bagus pastilah seorang karyawan harus bekerja lebih keras lagi. Saat bekerja tersebut muncul sebuah tekanan terhadap pekerjaannya sehingga akan memunculkan sebuah ketidakamanan kerja atau sering dikenal dengan istilah job insecurity. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara sikap terhadap branding perusahaan dengan job insecurity pada karyawan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang bersifat kuantitatif dengan model skala Likert. Jumlah subjek penelitian sebanyak 100 orang yang bekerja di sebuah perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara sikap terhadap branding perusahaan dengan job insecurity, dengan nilai r sebesar -0,598 dan nilai p=0,000. Hal ini berarti semakin positif sikap karyawan terhadap branding perusahaan, maka akan semakin rendah job insecurity-nya. Sumbangan efektif sikap terhadap branding perusahaan terhadap job insecurity sebesar 35,8% yang artinya masih ada 64,2% job insecurity dipengaruhi oleh variabel lain. Kata kunci: Sikap, brand, job insecurity Company’s brand or trademark was used to measure the quality of the employees’ work performance. To achieve a good work performance, employees were thus required to work harder. This caused the employees to feel pressure at work and thus made them feel Job Insecurity. The purpose of this study was to determine how the relationship between attitudes toward branding the company with job insecurity on employees. This study uses the technique of quantitative data analysis with Likert scale models. The number of research subjects were 100 people working in a company. The results showed there was a significant relationship between attitudes toward branding the company with job insecurity, the r value of -0.598 and p = 0.000. This means that the more positive employee attitudes toward branding the company, the lower its job insecurity. Effective contribution to the company's branding attitude towards job insecurity was 35.8%, which means there are still 64.2% job insecurity is influenced by other variables. Keywords: Attitude, brand, job insecurity
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DENGAN KOMITMEN ORGANISASI KARYAWAN Roziq Humala
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.919 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.1999

Abstract

Pemimpin harus memiliki inovasi untuk memimpin perusahaan sehingga karyawan bisa memunmbuhkan komitmen organisasinya. Apabila komitmen organisasi tumbuh di sebuah perusahaan maka karyawan akan tergerak untuk melaksanakan tugas dengan maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepemimpinan trasformasional dengan komitmen organisasi karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan subjek sebanyak 38 karyawan dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Instrument dalam penelitian ini menggunakan skala kepemimpinan transformasional dan komitmen organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan sangat signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan komitmen organisasi karyawan yang dibuktikan dari hasil perhitungan product moment dengan nilai koefisien korelasi r = 0.550 dan p = 0,000 ; p < 0,01. Hal ini berarti semakin tinggi nilai kepemimpinan transformasional maka akan dibarengi dengan nilai yang tinggi pada komitmen organisasi, begitu pula sebaliknya, dengan sumbangan efektif sebesar 30,3%. Kata kunci : Kepemimpinan transformasional, komitmen organisasi, karyawan. Leaders must have the innovation to lead the company so that employees can memunmbuhkan organizational commitment. The purpose of this study was to determine the relationship trasformasional leadership and organizational commitment of employees. This quantitative-correlational study employed total sampling technique in choosing the subjects: 38 employees of Financial Cooperative. The data were collected using transformational leadership and organizational commitment scales. The findings revealed a significant positive correlation between transformational leadership and organizational commitment with product-moment correlation coefficient r = 0.550 and p = 0.000; p < 0.01. It means that the higher the value of transformational leadership is, the higher the organizational commitment is, and vice versa, with effective contribution as much as 30.3%. Keywords: Transformational leadership, organizational commitment, employees.
RESILIENSI PADA PASIEN STROKE RINGAN DITINJAU DARI JENIS KELAMIN Nourma Ayu Safithri Purnomo
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.304 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2000

Abstract

Resiliensi dapat diartikan sebagai kemampuan merespon secara fleksibel dalam mengubah kebutuhan situasional dan kemampuan untuk bangkit dari pengalaman emosional yang negatif. Setiap orang harus memiliki resiliensi yang baik agar terhindar dari segala permasalahan begitu juga pada pasien stroke yang diketahui rentan mengalami depresi. Subyek penelitian ini adalah 7 pasien stroke ringan di Poli Neurologi RSUD DR. Saiful Anwar Malang. Alat pengumpulan data menggunakan skala resiliensi-14. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji non paramatetrik dengan teknik uji mann-whitney u. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan resiliensi diantara pasien stroke ringan laki-laki dan perempuan dengan nilai asyp sig, (2-tailed) 0,480 > 1/2 &alpha;, &alpha;= 0,01. Kata kunci: Resiliensi, stroke ringan atau TIA Resilience can be defined as the ability to flexibly respond to change situational need and ability to rise from a negative emotional experience. Everyone must have good resilience to avoid problem like happened stroke patients who have known they got depression easily. This research have purpose to know differences of resilience among male and female of minnistroke patients. Subjects of this research were 7 minnistroke patients in Neurology Polyclinic of RSUD DR. Saiful Anwar Malang. Instrument of data collection used resilience scale-14. The data analysis in this research used a non parametric test with white man u technique. The result data analysis showed that there were no differences of resilience among male and female patients of minnistroke with asyp sig value (2- tailed) of 0,480 > 1/2 &alpha;; &alpha;= 0,01. Keywords: Resilience, minni stroke or TIA.
REGULASI EMOSI PADA MAHASISWA SUKU JAWA, SUKU BANJAR, DAN SUKU BIMA Mohammad Alfian
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.349 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2001

Abstract

Regulasi emosi adalah cara individu mengolah emosi yang individu miliki, kapan individu merasakannya dan bagaimana individu mengalami atau mengekspresikan emosi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat regulasi emosi antara mahasiswa dari suku Jawa, Banjar dan suku Bima. Penelitian ini merupakan penelitian deskripstif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 100 orang yang dibagi menjadi 3 kategori. Data penelitian diambil dengan menggunakan skala regulasi emosi. Analisis data menggunakan teknik t-score, diketahui bahwa regulasi emosi pada mahasiswa suku Banjar lebih tinggi dari pada mahasiswa dari suku Jawa dan mahasiswa dari suku Bima. Diperoleh porsentase emosi positif suku Banjar sebesar 53,3% dan emosi negatif sebesar 46,7%. Emosi positif suku Jawa sebesar 50,8% dan emosi negatif sebesar 49,2%, sedangkan suku Bima emosi positif sebesar 40,9% dan emosi negatif sebesar 59,1%. Mahasiswa suku Bima memiliki emosi negatif paling tinggi yaitu sebesar 59,1%, mahasiswa suku Jawa 49,2% dan mahasiswa suku Banjar 46,7%. Kata kunci: Regulasi emosi, mahasiswa, suku Jawa, suku Banjar, suku Bima Emotion regulation is the way individuals process the emotions individuals have, when they feel and how individuals experience or express these emotions. The purpose of this study was to determine differences in the level of emotion regulation between students from the Javanese , Banjar and Bima ethnic . This research is a quantitative deskripstif . The sampling technique used was purposive sampling . These subjects totaling 100 people, divided into 3 categories. The data were taken using a scale of emotion regulation. Analysis of the data using T-score technique, it is known that emotion regulation on student Banjarese higher than the students from the Javanese and students from ethnic Bima. Retrieved porsentase positive emotions Banjarese by 53.3 % and 46.7 % negative emotions. Javanese positive emotions of 50.8 % and 49.2 % of negative emotions, positive emotions while the Bima ethnic rate of 40.9 % and 59.1 % of negative emotions . Bima ethnic Student has the highest negative emotion that is equal to 59.1 % , Javanese 49.2 % of students and 46.7 % of students rate Banjarese . Keywords: Emotions regulation, , student, Java ethnic, Banjar ethnic, Bima ethnic
MENULIS EKSPRESIF SEBAGAI STRATEGI MEREDUKSI STRES UNTUK ANAK-ANAK KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) Marieta Rahmawati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.406 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2002

Abstract

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) banyak dialami disemua negara, di Indonesia kasus KDRT setiap tahun mengalami peningkatan. Siapapun bisa menjadi korban dalam kasus KDRT ini, kebanyakan memang dialami oleh perempuan (ibu) dan anak-anak sebagai korban langsung maupun tidak langsung. Anak-anak sebagai korban KDRT rentan mengalami tekanan secara psikologis. Menulis merupakan salah satu aktivitas yang dapat mengasah kecerdasan dan sebagai wadah positif untuk menyampaikan gagasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari menulis ekspresif dalam membantu anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga sebagai salah satu cara menurunkan tingkat stres. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode pengambilan data menggunakan (pretest-posttest) skala tingkat stres dan analisa lembar self monitoring. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah dua orang dengan jenis kelamin perempuan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa terjadi perubahan tingkat stres antara sebelum dan sesudah terjadi perlakuan berupa menulis ekspresif. Kata kunci: Menulis ekspresif, stres, anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga Cases of domestic violence (domestic violence ) experienced a lot in all countries , in Indonesian domestic violence cases each year has increased . Anyone can be a victim of domestic violence in this case, is experienced mostly by women ( mothers ) and children as victims directly or indirectly. Children as victims of domestic violence are susceptible to psychological distress. Writing is one activity that can sharpen the intellect and as a forum to convey positive ideas. This study aimed to determine the effect of expressive writing in helping child victims of domestic violence as a way to reduce stress levels. This research is quantitative research data collection method to use (pretest-posttest) scale analysis of the level of stress and self-monitoring sheet. The number of subjects in this research were two people with the female gender. Results of this study illustrate that the change in stress levels between before and after treatment in the form of expressive writing. Keywords: Expressive writing, stress, children victims of domestic violence
KECENDERUNGAN PERILAKU CYBERBULLYING DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT Dina Satalina
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.826 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2003

Abstract

Cyberbullying saat ini menjadi sebuah topik yang sedang marak dibicarakan. Cyberbullying merupakan suatu perilaku agresi yang mengacu pada perilaku bullying yang dilakukan oleh seseorang melalui sosial media seperti web, sms, jejaring sosial, chat room, dan lain-lain. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan cyberbullying, salah satunya adalah tipe kepribadian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kecenderungan perilaku cyberbullying jika ditinjau dari tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Penelitian ini menggunakan metode kausal-komparatif dengan menggunakan alat tes kepribadian EPI-A dan skala perilaku cyberbullying. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling dan didapatkan 165 siswa SMAN 1 Purwosari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan kecenderungan perilaku cyberbullying ditinjau dari tipe kepribadian ( t=0,019, p=0,05). Kata kunci: Cyberbullying, tipe kepribadian, remaja, ekstrovert, introvert Cyber bullying is becoming an emerging topic discussed. Cyber bullying is an aggression behavior which refers to bullying behavior by a person through social media such as web, messaging, social networking, chat rooms, etc. Many factors that can influence a person in making cyber bullying, one of which is a personality type. The purpose of this study was to determine differences in behavioral tendencies cyber bullying when viewed from extraversion and introversion personality type. This research used a causal-comparative using EPI-A and cyber bullying behaviors scale. The sampling technique used is stratified random sampling and obtained 165 students of public senior high school of Purwosari. The results showed that there were differences in behavioral tendencies in terms of personality types of cyberbullying (t = 0.019, p = 0.05). Keywords: Cyberbullying, personality types, adolescence, extraversion, introversion
MASA KERJA DENGAN JOB ENGAGEMENT PADA KARYAWAN Irma Dwi Kurniawati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.345 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2005

Abstract

Setiap karyawan memiliki masa kerja yang berbeda-beda. Dari masa kerja tersebut dapat terlihat seberapa besar seorang karyawan memiliki job engagement pada saat bekerja. Seorang karyawan yang memiliki job engagement dapat dilihat dari beberapa faktor seperti: faham terhadap visi dan misi perusahaan, selalu memiliki ide-ide baru, fokus dalam bekerja serta selalu ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah terdapat hubungan masa kerja dengan job engagement pada karyawan. Penelitian ini dilakukan terhadap 399 karyawan PT. Aneka Tambang Pomalaa yang ada di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala UWES (Utrechtn Work Engagement Scale).Untuk analisis data penelitian menggunakan Korelasi Product Moment yang dibantu dengan program SPSS for windows. Hasilnya dapat diketahui bahwa koefisien korelasi antara masa kerja dengan job engagement adalah 0,653. Uji signifikansi menunjukkan hasil 0,000 (p<0,01) berarti bahwa korelasi kedua variabel sangat signifikan. Kata kunci: Masa kerja, keterikatan kerja Every employer has different work time period. It will determine and will show how good an employer job engagement in their work. The one that owned a job engagement can be seen in some factors such as comprehending vision and mission of the company, having some new brilliant ideas, focusing on work and always giving the best to the company. The aim of this research is to find the answer about &ldquo;Is there any correlation between tenure and job engagement?&rdquo; this research done to 399 employers of PT. Aneka Tambang Pomalaa which located in Kolaka, Sulawesi Tenggara. Collecting data done by using UWES (Utrechtn Work Engagement Scale). The result analysis of the research counted by using Product Moment Correlation which supported by SPPS program for windows.The coefficient of the result between the two variables is 0,065 which significance importance results 0,000 (p<0,01). It means that there is a significant correlation between tenure and job engagement. Keywords: Tenure, job engagement
LATAR BELAKANG PSIKOLOGIS KECEMASAN IBU HAMIL USIA 35 TAHUN KE ATAS Diana Savitri Hidayati
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 2 No. 2 (2014): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.433 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2006

Abstract

Kehamilan merupakan salah satu yang menjadi harapan bagi suami istri. Pada peristiwa hamil dengan usia 35 tahun ke atas umumnya bukan pengalaman pertama bagi seorang wanita tetapi seringkali tidak direncanakan. Meskipun pada usia tersebut wanita telah siap menerima anak dan bertugas sebagai ibu, muncul pertanyaan apakah kehamilan tersebut tetap akan menimbulkan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang psikologis kecemasan ibu hamil usia 35 tahun ke atas. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan tes psikologi. Subyek penelitian adalah dua orang ibu hamil yang usianya diatas 35 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang psikologis kecemasan subyek penelitian adalah : (1) bayangan ibu tentang proses persalinan, (2) bayangan tentang terjadinya keguguran, bayi cacat, bayi prematur dan anak kembar, (3) kesehatan ibu, (4) pengambilan keputusan untuk mempunyai bayi lagi, (5) pengalaman pada kehamilan sebelumnya. Kata kunci : Latar belakang psikologis, kecemasan Pregnancy is one of the expectations for husband and wife. The pregnant women who is above 35 years old usually is not the first pregnant for her and sometimes is not planned too. Even women at that age has ready to become a mother, there is a question, Is the pregnant still causes the anxiety for them. The purpose of this research is what is the psychological factor which causes of anxiety inpregnant women who is above 35 years old. Methods this research used a qualitative descriptive method, where data collection using interviews, observation and psychological tests. Methods this research used a qualitative descriptive method, where data collection using interviews, observation and psychological tests. Subjects were two pregnant women whose age is above 35 years. The result of this research shows that the psychological factor which causes of anxiety in pregnant women who is above 35 years old are : 1) mother's imagine of the born, 2) the imagine about abortus, the disables baby, premature and twins, 3) mother's health, 4) the decision to have a baby ones again, 5) the experience of the last pregnant. Keywords : Psychological factor, anxiety