cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
KONTRIBUSI PERSEPSI PADA BEBAN KERJA DAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP STRES KERJA GURU SMP YANG TERSERTIFIKASI Kely Triana; Tuti Rahmi; Yanladila Yeltas Putra
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.647 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2123

Abstract

Pendidikan memerlukan perbaikan dalam beberapa komponen, salah satunya profesionalisme guru. Peningkatan profesionalisme guru dengan mengurus sertifikasi. Untuk mendapatkan mendapatkan tunjangan sertifikasi ini guru dituntut untuk menyesuaikan beban kerjanya. Beban kerja yang dirasakan oleh guru bisa menyebabkan munculnya stress kerja karena aturan-aturannya pada Tupoksi memiliki persyaratan yang cukup ketat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi persepsi pada beban kerja dan kecerdasan emosi terhadap stres kerja guru yang disertifikasi. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional  dengan subjek penelitian berjumlah 80 orang guru SMP di Kec. X dan Kec. Y. Pengambilan subjek menggunakan teknik propotional random sampling. Analisa data menggunakan teknik Analisis Regresi Berganda. Berdasarkan hasil analisa diperoleh hasil ada hubungan persepsi beban kerja guru dan kecerdasan emosi terhadap tingkat stress kerja guru (r2=0,338 ; p=0,000). Kata kunci: Persepsi pada beban kerja, kecerdasan emosi, stress kerja guru, sertifikasi Education requires improvements in several components, one of which the professionalism of teachers. Increased professionalism of teachers to take care of certification. To get an allowance is certified teachers are required to adjust their work load. The work load is perceived by the teacher can lead to the emergence of job stress due to rules on Tupoksi have stringent requirements. The purpose of this research is to find out contribution perception of work load and emotional inteligence to teacher job stress after certification. Type of research used in this research is correlational research with 80 teacher certification on SMP Kec.X and SMP Kec.Y as subject. Subjects were taken by propotional random sampling technique. Data were processed using Multiple Regression Analyisis Technique. The result indicated there is significant correlation between perception of teacher work load and emotional intelligence with stress level to the work of teacher (r2=0,338 ; p=0,000). Keywords: Perception of work load, emotional inteligence, teacher job   stress, teacher certification
EFEKTIVITAS GROUP COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY (GCBT) DALAM MENURUNKAN KECEMASAN MENGHADAPI PELAKU BULLYING DITINJAU DARI HARGA DIRI PADA KORBAN BULLYING Yuliastri Ambar Pambudhi
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.124 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2124

Abstract

Perilaku bullying yang ada pada anak dan remaja saat ini mulai marak terjadi di Indonesia. Dampak yang dialami korban bullying adalah perasaan cemas, takut dan bahkan depresi. Salah satu metode yang dianggap efektif untuk menurunkan kecemasan adalah Group Cognitive Behavior Therapy (GCBT) dan efektivitas penurunan kecemasan ini dipengaruhi oleh harga diri seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas GCBT dalam menurunkan kecemasan yang dialami korban ketika menghadapi pelaku bullying, serta untuk mengetahui perbedaan penurunan kecemasan menghadapi pelaku bullying antara korban yang mempunyai harga diri tinggi dan korban dengan harga diri rendah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dengan desain eksperimen pre-post design. Teknik pengambilan sampel dengan random sampling dengan jumlah subjek penelitian 15 santri yang tinggal di Pesantren Anak Yatim (PAY) Al-Bisri Surabaya. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan Skala Olweus. Berdasarkan data yang diperoleh dilakukan uji-t dan anakova. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa GCBT efektif menurunkan kecemasan menghadapi pelaku bullying pada santri di Pesantren Anak Yatim (PAY) Al-Bisri. Sedangkan variabel harga diri mempengaruhi penurunan kecemasan menghadapi pelaku bullying namun tidak signifikan. Kata kunci: Group cognitive behavior therapy, kecemasan harga diri, korban bullying There are many bullying behavior cases to children and adolescent in Indonesia. The impact to the bullying victims is the feeling of anxiety, afraid and even depression. One of the methods that are considered effective to decrease the anxiety is Group Cognitive Behavior Therapy (GCBT) and the effectiveness of this anxiety decrease is influenced by someone self-esteem. The goals of this research are to review the effectiveness of GCBT implemented in decreasing the anxiety of the bullying victims in facing the bullying subject and also to know the differences of decreased anxiety to bullying subjects from the victims who have high and low self esteem. This research is done by using experimental method, by pre-post design experiment. The sample collection technique is random sampling and total subject 15 student in Pesantren Anak Yatim (PAY) Al Bisri Surabaya. The data collection methods used in this research are observation, interview and Olweus Scale. Based on the data possessed, it is done t-test and anakova, t-test results is 0,644 with a significance 0,01. Based on the data analysis, it can be concluded that the GCBT is effective in decreasing the anxiety in facing bullying subjects to the students in Pesantren Anak Yatim (PAY) Al-Bisri. While, the self-esteem variable influences the decreasing of anxiety in facing bullying subjects, but the influence is not significant. Keywords: GCBT, the anxiety in facing bullying subjects, self-esteem and bullying victims.
GAME THERAPY UNTUK MENINGKATKAN SENSE OF BELONGING ANAK PANTI ASUHAN Muhaeminah Muhaeminah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.936 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2125

Abstract

Sense of belonging dapat diartikan sebagai perasaan seolah berada di &ldquo;rumah&rdquo; dimana seseorang dapat merasakan dirinya dihargai dan diterima seutuhnya serta merasakan kecocokan. Tema ini menjadi menarik untuk dibahas ketika subjek penelitian adalah anak-anak yang bertempat tinggal di panti asuhan, mengingat kondisi keluarga mereka yang sesungguhnya tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan belonging. Kurangnya sense of belonging dapat diatasi, salah satunya dengan pemberian game therapy. Game therapy berdasarkan unsur terapiutiknya secara langsung berkaitan erat dengan aspek yang membangun sense of belonging. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan efektivitas game therapy dalam rangka meningkatkan sense of belonging anak panti asuhan Nurul Abyadh Malang. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain control group pre-test post-test. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat sense of belonging yang signifikan antara kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol setelah diberi perlakuan berupa game therapy dengan nilai Z = -2.759 dan p = 0.006 (p < 0.05). Kelompok eksperimen memiliki tingkat sense of belonging yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Dengan demikian, diperoleh bahwa game therapy dapat digunakan untuk meningkatkan sense of belonging. Kata kunci: Game therapy, sense of belonging, panti asuhan, anak Sense of belonging can be defined as a person&rsquo;s feeling at &ldquo;home&rdquo; whereby a person completely being respected, accepted, and feel fit in. This topic become more interesting because of the subjects in this research are children who live in an orphanage, because the condition of their real family did not good enough to fill their need. The lack of sense of belonging can be covered during game therapy. There are some of more prominent therapeutic facets of game therapy that links to promote sense of belonging&rsquo;s aspects. This research aims to prove the effectivity of game therapy to increase sense of belonging of children who live at Nurul Abyadh Orphanage of Malang. This research is experiment research and categorizing as control group pre-test post-test design. The results show that value of Z = -2.759 and p = 0.006 (p < 0.05), suggesting that there is a significant difference in sense of belonging between experimental group and control group after being given treatment. The experimental group sense of belonging level is higher than the control group. Thus, the research proves that game therapy can be used to increase sense of belonging. Keywords: Game therapy, sense of belonging, orphanage, children
KEPERCAYAAN INTERPERSONAL DENGAN PEMAAFAN DALAM HUBUNGAN PERSAHABATAN Deassy Arifianti Utami
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.139 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2126

Abstract

Masa remaja adalah masa dimana individu mulai mengenal lingkungan dan orang-orang disekitarnya, begitu pula dengan persahabatan. Kepercayaan interpersonal dibutuhkan dalam hubungan persahabatan. Terkadang, di dalam persahabatan ada salah satu individu melakukan kesalahan yang menyakiti sahabatnya. Untuk tetap menjalin persahabatan, dibutuhkan pemaafan kepada individu yang melakukan kesalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepercayaan interpersonal dengan pemaafan dalam hubungan persahabatan. Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah 181 orang dengan rentang usia 18-21 tahun. Pengambilan data menggunakan skala model likert. Metode analisa data menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara hubungan kepercayaan interpersonal dengan pemaafan dalam hubungan persahabatan (r = 0,591; p = 0,000; p < 0,001). Kata kunci: Kepercayaan interpersonal, pemaafan, persahabatan, remaja. Adolescence is a period when people begin to recognize the environment and the people around, as well as friendship. Interpersonal trust needed in friendship. Sometimes, in the friendship theres one individual makes a mistake that hurt his friend. To keep a friendship, forgiveness requires giving to individuals who makes mistake. The aims of this study is understanding the relationship of interpersonal trust with forgiveness of friendship. The number of subjects in this study were 181 persons with an age range 18-21 years old. Retrieval of data using a Likert scale models. The method of data analysis using product moment correlation. The results showed that there was a significant positive correlation between interpersonal trust with forgiveness in friendship. (R = 0.591, p = 0.000, p <0.001). Keywords: Interpersonal trust, forgiveness, friendship, adolescence
PARTISIPASI PERENCANAAN STRATEGIS BERBASIS BALANCED SCORECARD TERHADAP PENINGKATAN KOMITMEN TUJUAN Muhammad Syarif Hidayatullah
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.921 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2127

Abstract

Karyawan yang memiliki komitmen tinggi sangat peduli dengan tujuan organisasi. Sebaliknya, karyawan yang berkomitmen tujuan rendah tidak peduli tujuan organisasi dapat tercapai atau tidak. Partisipasi mempengaruhi komitmen karyawan pada tujuan organisasi. Partisipasi memberikan peluang terjadinya pertukaran informasi dan negosiasi, menciptakan persepsi spesifik, realistis dan perasaan memiliki. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh partisipasi perencanaan strategis berbasis balanced scorecard (BSC) terhadap peningkatan komitmen tujuan dan menghasilkan rencana strategis berbasis BSC di sebuah yayasan. Desain penelitian menggunakan kuasi eksperimen. Penelitian ini melibatkan 16 subjek di sebuah yayasan. Pengukuran komitmen tujuan menggunakan skala komitmen tujuan. Analisa data kuantitatif dengan Repeated Measures ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan yang signifikan pada komitmen tujuan (F = 0,500 dan p = 0,611 setelah mengikuti perencanaan strategis partisipatif berbasis BSC. Kata kunci: Partisipasi, perencanaan strategis, balanced scorecard, komitmen tujuan Employees who have high goal commitment are very concerned with organizational goals. Otherwise, employees who have low goal commitment did not care organization goals can be achieved or not. Participation affect employee commitment to organizational goals. Participation provides opportunities for information exchange and negotiation, creating a perception that the goals has specific, realistic and a sense of belonging to the goals. This study aims to examine the effect of participation in strategic planning based on the balanced scorecard (BSC) to increase goal commitment and to generate strategic plan based on the BSC in a foundation. This study involved 16 subjects in a foundation. Measurement of goal commitment using goal commitment scale. Quantitative data analysis with Repeated Measures ANOVA. The result showed that there was no significant increase of goal commitment (F = .500 and p = .611) after attending a participatory strategic planning based on BSC. Keywords: Participation, strategic planning, balanced scorecard, goal commitment
TERAPI KOGNITIF PERILAKU UNTUK MENGATASI GANGGUAN KECEMASAN SOSIAL Adib Asrori; Nida Ul Hasanat
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.369 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2128

Abstract

Kecemasan sosial adalah tipe gangguan yang banyak terjadi, tetapi diagnosis jarang ditegakkan, sehingga terapi pun jarang diberikan. Individu yang mengalami kecemasan memiliki pemikiran negatif akan evaluasi orang lain, yang akibatnya menimbulkan kecemasan, sensasi fisik seperti gemetar atau keringat dingin dan perilaku menghindar atau perilaku aman. Salah satu terapi yang telah terbukti efektivitasnya untuk mengatasi kecemasan sosial adalah Terapi Kognitif Perilaku. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana Terapi Kognitif Perilaku dalam menurunkan tingkat kecemasan pada gangguan kecemasan sosial. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang memenuhi kriteria kecemasan sosial. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yang lazim digunakan untuk uji efektivitas terapi. Hasilnya menunjukkan bahwa Terapi Kognitif Perilaku dapat menurunkan tingkat kecemasan pada gangguan kecemasan sosial yang dialami oleh kedua subjek, bahkan meningkatkan kepercayaan diri subjek dalam berinteraksi sosial. Kata kunci: Terapi kognitif perilaku, kecemasan sosial Social Anxiety Disorder is a type of disorder that commonly occurs in society, but rarely diagnosed, so the therapy is almost never to be given. An individual undergoing the type of disorder has a negative interpretation of other&rsquo;s evaluation on him/her by which causes anxiety, physical sensations such as trembling/shaking or sweating, and does a kind of avoidance or takes a safer behavior. One therapy that has proved its effective treatment to overcome social anxiety disorder is Cognitive Behavior Therapy (CBT). This research investigated how the Cognitive Behavior Therapy worked on diminishing the level of worry in social anxiety disorder. The subject of the study was college students who were appropriately required for the criteria of social anxiety. Research design used case study design which is suitable to examine the effectivity of therapy. The result showed that the Cognitive Behavior Therapy could, indeed, reduced the level of worry in social anxiety disorder underwent by the two subjects of this research, and even it might raise the subjects&rsquo; self-confidence/self-esteem in having the interaction with other people in certain social environment. Keywords: Cognitive behavior therapy, social anxiety disorder
PERSEPSI SISWA TERHADAP METODE PENGAJARAN KEWIRAUSAHAAN DENGAN TINGKAT MINAT BERWIRAUSAHA SISWA SMA Yasienta Amalia
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.832 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2131

Abstract

Minat berwirausaha pada diri siswa dipengaruhi sebagian besar oleh minat pada siswa yang ditentukan oleh metode pengajaran kewirausahaan yang diperoleh di lingkungan sekolah. Salah satunya yang dapat menarik minat siswa untuk berwirausaha adalah model pengajaran Guru Kewirausahaan. Guru yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, mampu mengelola kelas dengan baik ketika pengajaran dapat menarik perhatian siswa untuk berminat terhadap mata pelajaran yang sedang diajarkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas X SMA Semen Gresik tahun pelajaran 2013-2014 berjumlah 117 siswa. Analisa data menggunakan teknik korelasi Product Moment dengan taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian menunjukkan r hitung = 0,825 yang berarti ada hubungan antara persepsi siswa terhadap metode pengajaran kewirausahaan dengan tingkat minat berwirausaha siswa SMA Semen Gresik. Kata kunci: Minat berwirausaha, persepsi, metode pengajaran kewirausahaan Interest in entrepreneurship on students can be influenced by the majority of students is determined by the interest in entrepreneurship teaching methods gained in the school environment. One thing that can attract students to entrepreneurship is a teacher teaching methods Entrepreneurship. Teachers can create an effective learning environment, fun, able to manage the class well when teaching, it can attract the attention of students to an interest in the subject being taught. This research is a type of quantitavie correlational research. Subject used in this study were Class X students of SMA Semen Gresik 2013-2014 school year 117 student. Data were analyzed using two variables Product Moment correlation with a significance level of 5%. The results showed count r = 0.825, which means a significant. Based on data analysis, it can be concluded that there is a relationship between students' perceptions of teaching methods entrepreneurial to the level of interest in entrepreneurship Semen Gresik high school students. Keywords:Interest in entrepreneurship, perception, teaching
MENILIK PERASAAN TERANCAM BAHAYA KEJAHATAN KRIMINAL Diantini Ida Viatrie
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.805 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2132

Abstract

Ketakutan pada bahaya kejahatan kriminal (fear of crime) tentu mengurangi tingkat kesejahteraan psikologis dan dapat menurunkan intensitas interaksi social. Pada kelompok dewasa, banyak variable lain yang ikut mempengaruhi tingkat fear of crime seperti usia, status social ekonomi dan etnisitas. Penelitian ini menggambarkan ketakutan remaja pada kejahatan kriminal dan kegemaran mereka pada berita kriminal. Subjek penelitian adalah 151 remaja berusia 15 &ndash; 20 tahun di kota Malang. Mereka menjawab lima pertanyaan dimana tiga pertanyaan berupa pertanyaan tertutup dan dua lainnya adalah pertanyaan terbuka.Kelima pertanyaan ini berhubungan dengan perasaan ketakutan. Hasilnya mengindikasikan bahwa sebagian besar informan perempuan merasa ketakutan. Namun pada informan laki-laki, hanya separuh dari mereka yang merasa takut. Informan laki-laki maupun perempuan lebih suka membaca berita non-kriminal. Sekolah yang dalam beberapa waktu belakangan ini dikabarkan menjadi tempat terjadinya banyak kejahatan kriminal dan seksual, ternyata masih dinilai sebagai lokasi yang relatif aman dari bullying. Kata kunci: Perasaan terancam, kejahatan criminal, remaja It has never been clear if today&rsquo;s teenagers have fear of crime or not, in Indonesia. They can be subject of crimes and they can also be the offenders. The murder case of a female student aged about 18 years old showed that the offenders were the victim&rsquo;s ex-boyfriend and his new girlfriend. They were all considered too young to commit such a crime. Research findings tell that the consistent variable found when it comes about teenagers&rsquo; fear of crime was sexes. Crime news on the papers and on tv also found to be influential to teenagers&rsquo; fear of crime. This survey research was held to describe the fear of crime among teenagers in Malang, East Java and their fond of crime news. The informants were 151 teenagers aged between 15-20 years old and they still went to school. There were 5 questions related to fear of crime asked to the informants and this survey found that most female teenagers were fear of crime. Boys were less fear than girls but both boys and girls prefer non-crime news. Despite of crimes and sexual abuses recently happened in schools, the informants thought that schools were still relatively safe place. Keywords: fear, crimes, teenagers.
SIKAP TERHADAP UANG DAN PERILAKU BERHUTANG Muhammad Shohib
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.266 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2133

Abstract

Perilaku berutang telah banyak menjadi pilihan individu dalam menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan. Perilaku berutang tidak hanya dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga dimiliki oleh kalangan menengah ke atas. Hal ini tentunya tidak bisa lepas dari sikap seseorang terhadap uang, dimana perbedaan sikap tersebut akan diikuti dengan perbedaan perilaku seseorang yang berhubungan dengan uang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap uang dengan perilaku berutang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan sampel penelitian sebanyak 227 orang. Metode pengambilan data menggunakan skala sikap terhadap uang (money attitude scale) dan skala perilaku berutang yang dianalisis melalui korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap uang dengan perilaku berutang (p = 0.023, r = 0.150). Sumbangan efektif variabel sikap terhadap uang kepada perilaku berutang sebesar 2.2%. Dalam analisis korelasi parsial ditemukan bahwa dimensi distrus, quality dan anxiety berhubungan dengan perilaku berutang, sedangkan dimensi power-prestige dan retention time tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku berutang. Kata kunci: Sikap terhadap uang, perilaku berutang Debt behavior has an option individuals in resolving issues fulfillment. Debt behavior not only owned by the middle to bottom class to meet basic needs, but also owned by the upper middle class. This certainly can not be separated from money attitude, where the difference in money attitude will be followed by the person's behavioral differences that related to money. This study aimed to determine the relationship between money attitudes to debt behavior. This study is a quantitative correlation with a sample of 227 people. The data collection method using a money attitude scale and debt behavior scale then analyzed through product moment correlation. The results showed that there was a significant relationship between attitudes toward money to debt behavior (p = 0.023, r = 0.150). Effective contribution attitudes toward money to debt behavior by 2.2%. In partial correlation analysis found that distrust, quality and anxiety dimensions associated with the debt behavior, while the power-prestige and retention time dimensions was not significantly related to debt behavior. Keyword : Money attitude, debt behavior
PENERAPAN KONSELING KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN HAPPINESS PADA REMAJA PANTI ASUHAN Zainul Anwar
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.547 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2134

Abstract

Pengasuhan secara masal, seperti halnya panti asuhan membawa dampak tersendiri karena kurang mendapatkan bimbingan pada saat perubahan fisik maupun mental terjadi pada dirinya, sehingga merasa cemas, bingung, tidak percaya diri lebih jauh lagi merasa kurang mendapat kasih sayang, perhatian dan pengawasan, membuat remaja panti asuhan kurang memiliki happiness. Menyimak kondisi tersebut, perlu kiranya dilakukan penanganan terhadap remaja panti asuhan agar memiliki happiness yang lebih baik. Metode yang digunakan yaitu konseling kelompok untuk meningkatkan happiness pada remaja panti asuhan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konseling kelompok dalam meningkatkan happiness pada remaja panti asuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dan standar deviasi happiness antara pre dan post dapat diketahui bahwa pada saat sebelum diberikan konseling kelompok rata-rata tingkat happiness nya adalah 57,38, sedangkan rata-rata happiness setelah diberikan konseling kelompok adalah 55,00. Oleh karena nilai p-value statistic uji t adalah sebesar 0,503 (p> 0,05), maka kesimpulannya adalah hipotesis ditolak, berarti tidak terdapat pengaruh konseling kelompok terhadap peningkatan happiness pada remaja panti asuhan. Kata kunci: Konseling kelompok, happiness Parenting mass rearing, as well as orphanages bring a disparate impact because the current lack of guidance on the physical and mental changes occur to him, so feel anxious, confused, insecure furthermore feel lack of love, attention and supervision, making teens home care have less happiness. Observing these conditions, it would need to do the handling of juvenile orphanage in order to have a better happiness. The method used is group counseling to increase happiness in adolescents orphanage. The purpose of the study was to determine the effect of group counseling in increasing happiness in adolescents orphanage. The results showed that the mean and standard deviation of happiness between the pre and post can be seen that at the time before being given counseling group average of its happiness level is 57.38, while the average happiness after being given counseling group was 55.00. Because p-value of t test statistic is equal to 0.503 (p> 0.05), then the conclusion is the hypothesis is rejected, meaning there is no effect on the improvement of group counseling on adolescent happiness orphanage. Keywords: Group counseling, happiness