cover
Contact Name
Taufik Muhammad Fakih
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrf@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Farmasi
ISSN : 28083121     EISSN : 27986292     DOI : ttps://doi.org/10.29313/jrf.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Farmasi Jurnal Riset Farmasi (JRF) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian farmasi. JRF ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6292 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 115 Documents
Identifikasi Rhodamin B pada Kerupuk Gunung Gunungkidul menggunakan Metode KLT dan Spektrofotometri UV-Vis Rafiqoh Nafisah Mustaqim; Muhammad Alfian; Rizky Gustinanda
Jurnal Riset Farmasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v6i1.9784

Abstract

Abstract. Kerupuk gunung is one of Gunungkidul's typical food products that has a striking red color and potentially uses dangerous synthetic dyes such as Rhodamine B. This study aims to identify and determine the levels of Rhodamine B in red-colored kerupuk gunung circulating in Karangwetan, Semin, Gunungkidul. Qualitative analysis was carried out using the Thin Layer Chromatography (TLC) method, while quantitative analysis was carried out using UV-Vis spectrophotometry at a maximum wavelength of 555 nm. The calibration curve was made in the range of 0.5–2.5 ppm and produced a regression equation y = 0.1536x + 0.0028 with a correlation coefficient (r) of 0.999. Validation parameters showed precision with a CV of 0.18%, recovery of 99.60–100.67%, and LOD and LOQ values ​​of 0.0569 µg/mL and 0.1726 µg/mL, respectively. The TLC test results showed that all samples did not display spots or fluorescence typical of Rhodamine B. Quantitative analysis showed that Rhodamine B levels were in the range of 0.0000–0.1185 µg/mL, all of which were below the LOQ value. Based on these results, it can be concluded that the mountain crackers circulating in the research area were not detected to contain Rhodamine B. Abstrak. Kerupuk gunung merupakan salah satu produk pangan khas Gunungkidul yang memiliki warna merah mencolok dan berpotensi menggunakan pewarna sintetis berbahaya seperti Rhodamin B. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menetapkan kadar Rhodamin B pada kerupuk gunung berwarna merah yang beredar di Karangwetan, Semin, Gunungkidul. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 555 nm. Kurva kalibrasi dibuat pada rentang 0,5–2,5 ppm dan menghasilkan persamaan regresi y = 0,1536x + 0,0028 dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,999. Parameter validasi menunjukkan presisi dengan CV 0,18%, recovery 99,60–100,67%, serta nilai LOD dan LOQ masing-masing sebesar 0,0569 µg/mL dan 0,1726 µg/mL. Hasil uji KLT menunjukkan seluruh sampel tidak menampilkan bercak maupun fluoresensi khas Rhodamin B. Analisis kuantitatif menunjukkan kadar Rhodamin B berada dalam rentang 0,0000–0,1185 µg/mL, yang seluruhnya berada di bawah nilai LOQ. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kerupuk gunung yang beredar di wilayah penelitian tidak terdeteksi mengandung Rhodamin B.
Telaah Metodologis Uji DPPH pada Metabolit Sekunder Bahan Alam Astrid Kusuma Putri; Asti Rahayu; Rina Andayani; Ersanda Nurma Praditapuspa; Yuyun Nailufa; Etik Wahyuningsih
Jurnal Riset Farmasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v6i1.9972

Abstract

Abstract. The 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay is one of the most widely used spectrophotometric methods for evaluating the antioxidant activity of natural product extracts because it is simple, rapid, and cost-effective. However, DPPH assay results are influenced by methodological variations, including solvent selection, initial DPPH concentration and absorbance, reagent-to-sample volume ratio, incubation time, measurement wavelength, and data processing, which may reduce result comparability when experimental conditions are inadequately reported. This study aimed to identify methodological variations in the DPPH assay, evaluate their potential influence on antioxidant activity results, and formulate recommendations for the minimum methodological parameters that should be reported. A structured narrative review following the PRISMA framework was conducted using publications from the Scopus, Google Scholar, and SINTA databases (2004–2025). Sixteen eligible articles were analyzed using a descriptive-comparative approach based on Molyneux's conceptual framework. The review identified methodological heterogeneity and inconsistent reporting as major factors affecting the interpretation and comparability of DPPH assay results. The resulting recommendations aim to enhance methodological transparency, reproducibility, and comparability in natural product pharmaceutical research. Abstrak. Uji 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) merupakan salah satu metode spektrofotometri yang banyak digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan ekstrak bahan alam karena prosedurnya sederhana, cepat, dan ekonomis. Namun, hasil uji aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh variasi parameter metodologis, seperti jenis pelarut, konsentrasi dan absorbansi awal DPPH, rasio volume reagen dan sampel, waktu inkubasi, panjang gelombang pengukuran, serta pengolahan data, sehingga berpotensi menurunkan keterbandingan hasil apabila kondisi eksperimental tidak dilaporkan secara memadai. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi variasi parameter metodologis pada uji DPPH, mengevaluasi potensi pengaruhnya terhadap hasil pengujian, serta merumuskan rekomendasi parameter minimum yang perlu dilaporkan. Penelitian disusun sebagai structured narrative review dengan pendekatan PRISMA terhadap publikasi dari basis data Scopus, Google Scholar, dan SINTA tahun 2004–2025. Sebanyak 16 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-komparatif menggunakan kerangka konseptual Molyneux. Hasil telaah menunjukkan bahwa heterogenitas kondisi eksperimen dan pelaporan parameter reaksi memengaruhi interpretasi dan keterbandingan hasil. Berdasarkan sintesis literatur, artikel ini merumuskan rekomendasi parameter metodologis minimum untuk meningkatkan transparansi metodologis, reprodusibilitas, dan keterbandingan hasil uji DPPH dalam penelitian farmasi bahan alam.
Formulasi Sediaan Hair Tonic Nanoemulsi Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccana L.) Muhammad Izzan Fauzan; Purwaeni; Hanifa Rahma
Jurnal Riset Farmasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v6i1.10109

Abstract

Abstract. Hair loss is one of the most common hair problems. Candlenut seed oil (Aleurites moluccana L.) has long been used to help treat hair loss due to its fatty acid content and bioactive compounds that support hair and scalp health. However, conventional use is limited by poor stability and low penetration of active compounds. Therefore, a nanoemulsion delivery system was developed to improve physical stability and enhance the delivery of candlenut oil. This study aimed to develop a candlenut oil nanoemulsion hair tonic with optimal physical characteristics. The nanoemulsion was formulated using a combination of surfactant and cosurfactant through a high-energy emulsification technique, and optimized using a 2² factorial design followed by quadratic modeling with RStudio. Oil identification was conducted by comparing analytical results with the Certificate of Analysis and relevant literature. The evaluation showed that the preparation was a clear, slightly viscous, colorless, and homogeneous liquid. The transmittance value was 99.678 ± 0.014%, with a pH of 6.47 ± 0.016 and viscosity of 949.333 ± 2.494 cP. The formulation exhibited pseudoplastic flow behavior with a particle size of 20.8 ± 0.216 nm, a polydispersity index of 0.093 ± 0.012, and a zeta potential of −34.300 ± 1.314 mV. Thermodynamic stability testing confirmed that the formulation remained stable during storage. Therefore, the candlenut seed oil nanoemulsion hair tonic exhibited good characteristics and physical stability. Abstrak. Kerontokan rambut merupakan salah satu masalah rambut yang umum terjadi. Minyak biji kemiri (Aleurites moluccana L.) telah lama dimanfaatkan untuk membantu mengatasi kerontokan rambut karena kandungan asam lemak dan senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan rambut dan kulit kepala. Namun, penggunaan secara konvensional memiliki keterbatasan, terutama terkait stabilitas dan penetrasi zat aktif. Oleh karena itu, dikembangkan sistem penghantaran nanoemulsi untuk meningkatkan stabilitas fisik dan efektivitas penghantaran minyak biji kemiri. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formula hair tonic nanoemulsi minyak biji kemiri dengan karakteristik fisik optimal. Nanoemulsi diformulasikan menggunakan kombinasi surfaktan dan kosurfaktan dengan menggunakan metode teknik energi tinggi, kemudian dioptimasi menggunakan desain faktorial 2² dan pemodelan kuadratik berbasis RStudio. Identifikasi minyak dilakukan dengan membandingkan hasil analisis terhadap Certificate of Analysis dan literatur. Hasil evaluasi menunjukkan sediaan berupa cairan jernih agak kental, tidak berwarna, dan homogen. Nilai % transmittan sebesar 99,678 ± 0,014 %, pH 6,47 ± 0,016, serta viskositas 949,333 ± 2,494 cP. Sediaan menunjukkan sifat alir pseudoplastis dengan ukuran partikel 20,8 ± 0,216 nm, indeks polidispersitas 0,093 ± 0,012, dan zeta potensial -34,300 ± 1,314 mV. Uji stabilitas termodinamik menunjukkan formula stabil selama penyimpanan. Dengan demikian, hair tonic nanoemulsi minyak biji kemiri memiliki karakteristik dan kestabilan fisik yang baik.
Metabolit Sekunder dalam Pengembangan Tabir Surya Alami: Tinjauan Sistematis Aktivitas Fotoprotektif Nazwa Aliifah Fachruddin; Arlina Prima Putri; Bertha Rusdi
Jurnal Riset Farmasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v6i1.10110

Abstract

Abstract. The development of natural-based sunscreen formulations continues to increase; however, the most promising types of secondary metabolites and optimal extraction methods have not yet been comprehensively mapped. This study aimed to evaluate the use of natural extracts in sunscreen formulations based on plant species, secondary metabolite content, extraction methods, and photoprotective activity. The method employed was a Systematic Literature Review involving the stages of searching, selecting, and extracting data from the Wiley, MDPI, PubMed, ScienceDirect, and Springer databases within the 2019–2025 publication range. Eight articles met the inclusion criteria. The results showed that Calendula arvensis was the most promising candidate at the extract level, with an SPF value of 193.49 ± 0.24. The best performance at the finished product level was observed in gels containing Sloanea medusula and S. calva (SPF 57–60) as well as Vaccinium varingiaefolium gel (SPF 21.56). Dominant secondary metabolites contributing to the photoprotective effect included polyphenols—such as phenolic compounds, flavonoids, tannins, and anthocyanins—as well as mycosporine-like amino acids, which act as UV absorbers and antioxidants. These findings support the development of effective, safe, and sustainable natural sunscreens. Abstrak. Pengembangan sediaan tabir surya berbasis bahan alam terus meningkat, namun jenis metabolit sekunder paling potensial serta metode ekstraksi yang optimal belum terpetakan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemanfaatan ekstrak alami dalam formulasi tabir surya berdasarkan jenis tanaman, kandungan metabolit sekunder, metode ekstraksi, dan aktivitas fotoprotektif. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review melalui tahapan pencarian, seleksi, dan ekstraksi data dari basis data Wiley, MDPI, PubMed, ScienceDirect, dan Springer pada rentang tahun 2019–2025. Delapan artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan Calendula arvensis sebagai kandidat paling potensial pada tingkat ekstrak dengan nilai SPF 193,49 ± 0,24. Performa sediaan jadi terbaik ditemukan pada gel Sloanea medusula dan S. calva dengan SPF 57–60 serta gel Vaccinium varingiaefolium dengan SPF 21,56. Metabolit sekunder dominan yang berkontribusi meliputi polifenol, yaitu senyawa fenolik, flavonoid, tanin, antosianin, serta mycosporine-like amino acids yang berperan sebagai penyerap UV dan antioksidan. Temuan ini mendukung pengembangan tabir surya alami yang efektif, aman, dan berkelanjutan secara luas.
Optimasi Lip Balm Minyak Geranium (Pelargonium graveolens) Menggunakan D-Optimal Mixture Design Meisya Ghina Shulhani; Budi Prabowo Soewondo; Ratih Aryani
Jurnal Riset Farmasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v6i1.10294

Abstract

Abstract. Angular cheilitis is a lesion occurring at the corners of the lips and is commonly associated with Candida albicans infection. Geranium essential oil (Pelargonium graveolens) has potential antifungal properties and can be developed in lip balm formulations. This study aimed to determine the optimum formulation of a geranium essential oil lip balm stick and to evaluate its physical quality and stability using the D-optimal mixture design method. The lip balm base consisted of beeswax, carnauba wax, candelilla wax, shea butter, castor oil, and olive oil. The optimization results showed that the optimum formulation contained 23.4% beeswax, 3.3% carnauba wax, 3.3% candelilla wax, 20% shea butter, 40% castor oil, 10% olive oil, 0.1% BHT, 0.5% phenoxyethanol, and 0.5% geranium essential oil, with predicted melting point and hardness values of 65.77 °C and 393.83 g, respectively. The optimum formulation produced a homogeneous lip balm with a yellowish-white color and a characteristic geranium aroma without rancid odor. The pH value of the formulation was 5.0, which was within the physiological pH range of the lips. The melting point and hardness values were 66.67±0.29 °C and 406.67±5.77 g, respectively, meeting the physical quality requirements for lip balm preparations. Stability testing over three cycles showed no changes in texture, color, or aroma. Therefore, the geranium essential oil lip balm fulfilled the physical quality and stability requirements for cosmetic preparations. Abstrak. Cheilitis angular merupakan lesi pada sudut bibir yang sering dikaitkan dengan infeksi jamur Candida albicans. Minyak atsiri geranium (Pelargonium graveolens) diketahui memiliki potensi antijamur sehingga berpeluang dikembangkan dalam sediaan lip balm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula optimum lip balm mengandung minyak atsiri geranium serta mengevaluasi mutu fisik dan stabilitas sediaannya menggunakan metode D-optimal mixture design. Basis lip balm diformulasikan dari kombinasi beeswax, carnauba wax, candelilla wax, shea butter, castor oil, dan olive oil. Hasil optimasi menunjukkan formula optimum terdiri atas beeswax 23,4%, carnauba wax 3,3%, candelilla wax 3,3%, shea butter 20%, castor oil 40%, olive oil 10%, BHT 0,1%, fenoksietanol 0,5%, dan minyak atsiri geranium 0,5% yang diprediksi memiliki titik leleh sebesar 65,77 °C dan kekerasan sebesar 393,83 g. Formula optimum menghasilkan sediaan yang homogen, berwarna putih kekuningan, dan memiliki aroma khas geranium tanpa bau tengik. Nilai pH sediaan sebesar 5,0 berada dalam rentang fisiologis kulit bibir. Titik leleh sediaan sebesar 66,67±0,29 °C dan nilai kekerasan sebesar 406,67±5,77 g memenuhi persyaratan mutu fisik lip balm. Uji stabilitas selama tiga siklus menunjukkan tidak adanya perubahan tekstur, warna, maupun aroma sediaan. Dengan demikian, sediaan lip balm minyak atsiri geranium memenuhi persyaratan mutu fisik dan stabilitas sediaan kosmetik.

Page 12 of 12 | Total Record : 115