cover
Contact Name
Taufik Muhammad Fakih
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrf@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Farmasi
ISSN : 28083121     EISSN : 27986292     DOI : ttps://doi.org/10.29313/jrf.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Farmasi Jurnal Riset Farmasi (JRF) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian farmasi. JRF ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6292 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 110 Documents
Studi Penggunaan Antihipertensi Golongan Calcium Channel Blocker pada Pasien Stroke Iskemik Amanda, Anita Tria; Syifa, Nailis; Hasmono, Didik; Badriyah, Rani Nur
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8108

Abstract

Abstract. Ischemic stroke is a leading cause of disability and death in Indonesia, with hypertension as the biggest risk factor. Blood pressure control is key to therapy, one of which is through the use of Calcium Channel Blockers (CCBs) that work by arterial vasodilation. This study aims to determine the pattern of CCB use in ischemic stroke patients at Dr. Saiful Anwar Regional Hospital, including drug type, dose, route, frequency, duration of therapy (>3 days), and length of hospitalization (>7 days). The study used a retrospective descriptive design based on medical records data from 2024. The results showed Amlodipine (1 × 10 mg) po as the most common single therapy (71 patients; 40%). Combinations of two drugs, such as Amlodipine and Valsartan, were used in 23 patients (15%), while combinations of three and four drugs were used in 6 (3%) and 2 patients (1%), respectively. In addition, there were 73 cases (41%) of regimen changes during treatment. These findings emphasize the importance of adjusting antihypertensive therapy based on clinical conditions and evaluating the rationality of drug use to improve therapeutic outcomes. Abstrak. Stroke iskemik merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia, dengan hipertensi sebagai faktor risiko terbesar. Pengendalian tekanan darah menjadi kunci terapi, salah satunya melalui penggunaan Calcium Channel Blocker (CCB) yang bekerja dengan vasodilatasi arteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola penggunaan CCB pada pasien stroke iskemik di RSUD Dr. Saiful Anwar, meliputi jenis obat, dosis, rute, frekuensi, durasi terapi (>3 hari), serta lama rawat inap (>7 hari). Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medis tahun 2024. Hasil menunjukkan Amlodipin (1 × 10 mg) po sebagai terapi tunggal terbanyak (71 pasien; 40%). Kombinasi dua obat, seperti Amlodipin dan Valsartan, digunakan pada 23 pasien (15%), sedangkan kombinasi tiga dan empat obat pada 6 (3%) dan 2 pasien (1%). Selain itu, terdapat 73 kasus (41%) perubahan regimen selama perawatan. Temuan ini menegaskan pentingnya penyesuaian terapi antihipertensi berdasarkan kondisi klinis serta evaluasi rasionalitas penggunaan obat untuk meningkatkan luaran terapi.
Ekstraksi Protein Bungkil Sawit serta Karakterisasinya dengan FTIR dan Uji Kjeldahl Yogananda, Amrina Amalia; Alfian, Muhammad; Hidayati, Listiana; Yulianti, Selvia; Cahyani Irawan, Hisba; Restu Dwi Saputro, Rafly; Cita Cahyani, Anggun
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8207

Abstract

Abstract. Palm kernel cake is a byproduct of the palm oil industry that remains underutilized despite its high content of non-starch polysaccharides and carbohydrate-bound proteins with potential as plant-based biomaterials. This study aimed to extract protein from palm kernel cake and identify its functional groups and protein content using Fourier Transform Infrared (FTIR) spectroscopy and the Kjeldahl method. Protein extraction was carried out using an alkali–acid process involving solubilization with NaOH followed by isoelectric precipitation with HCl. The dried protein extract was analyzed using FTIR to detect characteristic protein absorption bands, while protein content was quantified using the Kjeldahl method. The extraction produced a yield of 9.6%. FTIR spectra showed the presence of Amide I (1650 cm⁻¹), Amide II (1540 cm⁻¹), and Amide III (1230 cm⁻¹) bands, confirming the protein structure within the extract. The Kjeldahl analysis revealed a protein content of 49.27%, which is higher than previously reported values and exceeds the minimum protein requirement of 13% set by the Indonesian National Standard (SNI). These findings demonstrate that palm kernel cake is a promising raw material for the development of plant-derived protein suitable for pharmaceutical and biomaterial applications. Abstrak. Bungkil sawit merupakan produk samping industri minyak sawit yang masih belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun mengandung polisakarida bukan pati dan protein terikat yang berpotensi sebagai sumber biomaterial nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi protein dari bungkil sawit serta mengidentifikasi struktur fungsional dan kadarnya menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) dan metode Kjeldahl. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode alkali–asid dengan pelarutan NaOH dan presipitasi isoelektrik menggunakan HCl. Sampel protein kering dianalisis menggunakan FTIR untuk mendeteksi pita-pita karakteristik protein, sedangkan kadar protein ditentukan secara kuantitatif dengan metode Kjeldahl. Hasil penelitian menunjukkan rendemen protein sebesar 9,6%. Spektrum FTIR memperlihatkan pita Amida I pada 1650 cm⁻¹, Amida II pada 1540 cm⁻¹, dan Amida III pada 1230 cm⁻¹ yang mengonfirmasi keberadaan struktur protein. Uji Kjeldahl menunjukkan kadar protein sebesar 49,27%, lebih tinggi daripada nilai yang dilaporkan pada penelitian sebelumnya dan telah memenuhi standar SNI minimal 13%. Temuan ini menunjukkan bahwa bungkil sawit berpotensi sebagai sumber protein nabati untuk pengembangan aplikasi farmasi dan biomaterial.
Molecular Docking Senyawa Kuersetin sebagai Kandidat Antikanker Paru terhadap Target EGFR Izdihar Arief, Imtiyaz; Fakih, Taufik Muhammad; Yuniarta, Tegar Achsendo
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8275

Abstract

Abstract. Lung cancer remains the leading cause of cancer-related deaths worldwide. One promising therapeutic target in non-small cell lung cancer (NSCLC) is the Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). Quercetin, a flavonoid compound naturally found in various plants, is known for its potential anticancer activity. This study aimed to evaluate the potential of quercetin as an EGFR inhibitor using a molecular docking approach. The EGFR protein structure (PDB ID: 4I23) was obtained from the Protein Data Bank and prepared using BIOVIA Discovery Studio Visualizer. Docking validation was performed through redocking, resulting in an RMSD value of 1.012 Å, indicating a valid docking protocol. The docking results showed a binding affinity of –7.45 kcal/mol and an inhibition constant (Ki) of 3.46 µM. Quercetin formed hydrogen bonds with residues THR790, GLN791, MET793, and GLU762, as well as hydrophobic interactions with LEU718, ALA743, VAL726, LYS745, and LEU844. These findings indicate that quercetin exhibits favorable binding affinity and complex stability with EGFR, supporting its potential as a molecular inhibitor. This study provides a scientific basis for further development of quercetin as a natural anticancer agent. Abstrak. Kanker paru masih menjadi penyebab utama kematian akibat kanker secara global. Salah satu target terapi yang menjanjikan dalam kanker paru non-sel kecil (NSCLC) adalah Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). Kuersetin, senyawa flavonoid yang ditemukan secara alami dalam berbagai tanaman, diketahui memiliki aktivitas antikanker yang potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi kuersetin sebagai inhibitor EGFR melalui pendekatan molecular docking. Struktur protein EGFR (PDB ID: 4I23) diperoleh dari Protein Data Bank dan dipreparasi menggunakan BIOVIA Discovery Studio Visualizer. Validasi metode docking dilakukan melalui proses redocking, menghasilkan nilai RMSD sebesar 1,012 Å yang menunjukkan bahwa metode yang digunakan valid. Hasil docking menunjukkan nilai binding affinity sebesar –7,45 kcal/mol dan konstanta inhibisi (Ki) sebesar 3,46 µM. Kuersetin membentuk ikatan hidrogen dengan residu THR790, GLN791, MET793, dan GLU762, serta interaksi hidrofobik dengan LEU718, ALA743, VAL726, LYS745, dan LEU844. Temuan ini menunjukkan bahwa kuersetin memiliki afinitas pengikatan dan stabilitas kompleks yang baik terhadap EGFR, mendukung potensinya sebagai kandidat inhibitor molekuler. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk pengembangan lanjutan kuersetin sebagai agen antikanker berbasis bahan alam.
Tantangan Implementasi Imunoterapi Chimeric Antigen Receptor T-Cell (CAR-T) pada Lingkungan-Mikro Kanker Prostat Valent, Muhammad Yeoh; Mulyanti, Dina; Wisnuwardhani, Hilda Aprilia
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8311

Abstract

Abstract. Prostate cancer is one of the malignancies with a high mortality rate and a strong tendency to metastasize, particularly to the bones. The main challenge in managing prostate cancer with Chimeric Antigen Receptor T-cell (CAR-T) immunotherapy lies in the characteristics of solid tumors, which are capable of forming a protective microenvironment, expressing autonomous proliferative signals, and evading apoptotic mechanisms. This study aims to analyze the potential and barriers to the implementation of CAR-T immunotherapy in prostate cancer through a Systematic Literature Review (SLR) approach. The findings indicate that prostate cancer cells can evade cell death through the regulation of anti-apoptotic BCL-2 proteins, express self-sustaining proliferative signals via oncogenes and growth factors, and facilitate bone metastasis through complex interactions of signaling factors such as RANKL, TGF-β, and IGF. These barriers need to be considered in the development of more effective CAR-T strategies targeting solid tumors. The results are expected to serve as a foundation for optimizing CAR-T immunotherapy design for prostate cancer and other solid tumors. Abstrak. Kanker prostat merupakan salah satu kanker dengan angka mortalitas tinggi dan memiliki kecenderungan bermetastasis, terutama ke tulang. Tantangan utama penanganan kanker prostat dengan imunoterapi Chimeric Antigen Receptor T-cell (CAR-T) adalah sifat tumor solid yang mampu membentuk mikro-lingkungan protektif, mengekspresikan sinyal proliferatif mandiri, dan menghindari mekanisme apoptosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi dan hambatan implementasi imunoterapi CAR-T pada kanker prostat melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa sel kanker prostat mampu menghindari kematian sel melalui regulasi protein anti-apoptosis BCL-2, mengekspresikan sinyal proliferatif mandiri melalui onkogen dan growth factor, serta memfasilitasi metastasis tulang melalui interaksi kompleks faktor sinyal seperti RANKL, TGF-β, dan IGF. Hambatan ini perlu dipertimbangkan dalam pengembangan strategi CAR-T yang lebih efektif untuk menargetkan tumor solid. Temuan ini diharapkan menjadi dasar untuk optimalisasi desain imunoterapi CAR-T pada kanker prostat dan tumor solid lainnya.
Identifikasi Peptida Hidrolisat Protein Maggot Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly) Zahra, Syadza Syahida; Rahma, Hanifa
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8312

Abstract

Abstract. Maggot BSF (Hermetia illucens) is known as an alternative protein source with high protein content, making it a promising candidate for applications in the food and pharmaceutical industries. This study aimed to determine the highest yield produced from enzymatic hydrolysis using alkalase, pepsin, and trypsin, as well as to identify the resulting peptides using the SDS-PAGE method. The research procedures included dry maggot preparation, defatting, protein isolation, enzymatic hydrolysis, and peptide identification. The results showed that alkalase produced the highest hydrolysate yield at 23.78%, compared to pepsin and trypsin. SDS-PAGE analysis indicated differences in protein bands between samples before hydrolysis (8–270 kDa) and after hydrolysis, with molecular weights of approximately 30 kDa (HPEA), 45 kDa (HPEP), and 20 kDa (HPET), respectively. These results confirmed that the hydrolysis process successfully broke down the proteins into lower molecular weight peptides. In conclusion, alkalase, pepsin, and trypsin were proven effective in hydrolyzing maggot protein into peptides with lower molecular weights, which have potential to be developed as bioactive compounds. Abstrak. Maggot BSF (Hermetia illucens) diketahui merupakan sumber protein alternatif dengan kandungan protein tinggi yang berpotensi untuk diaplikasikan dalam bidang pangan dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rendemen tertinggi yang dihasilkan dari proses hidrolisis menggunakan enzim alkalase, pepsin, dan tripsin, serta mengidentifikasi peptida hasil hidrolisis menggunakan metode SDS-PAGE. Tahapan penelitian meliputi preparasi maggot kering, defatting, isolasi protein, hidrolisis protein secara enzimatik, dan identifikasi peptida. Hasil menunjukkan bahwa enzim alkalase menghasilkan rendemen hidrolisat tertinggi, yaitu sebesar 23,78%, dibandingkan dengan enzim pepsin dan tripsin. Analisis SDS-PAGE menunjukkan perubahan pita protein antara sampel sebelum hidrolisis (8–270 kDa) dan sesudah hidrolisis, masing-masing sebesar ±30 kDa (HPEA), ±45 kDa (HPEP), dan ±20 kDa (HPET). Hasil ini menunjukkan bahwa proses hidrolisis berhasil memecah protein menjadi peptida dengan bobot molekul yang lebih rendah. Hasil akhir menyatakan bahwa enzim alkalase, pepsin dan tripsin terbukti berhasil memecah protein menjadi peptida dengan bobot molekul yang lebih rendah dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai senyawa bioaktif.
Kajian Teknik Modifikasi Metformin HCl Oral dalam Upaya Peningkatan Permeabilitas Yerisy, Linggih Elra; Fitrianti Darusman; Hanifa Rahma
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8343

Abstract

Abstract. Metformin HCl is a biguanide-class antidiabetic drug widely used as a first-line therapy for patients with type 2 diabetes mellitus. Although it has high solubility, metformin is classified as a BCS Class III drug due to its low permeability, which limits its oral bioavailability. This study aims to review various formulation modification techniques developed to enhance the permeability of metformin HCl. The review was conducted through literature analysis of scientific articles obtained from major databases such as Sciencedirect, MDPI, PubMed, and Scopus. Based on the findings, strategies to improve metformin’s permeability include the use of ionic salts, lipid matrices, permeation enhancers, nanoparticles, microparticles and solid dispersions. Each technique demonstrates distinct mechanisms and effectiveness in overcoming permeability limitations. Therefore, selecting the appropriate formulation modification approach has the potential to significantly enhance the oral therapeutic efficacy of metformin. Abstrak. Metformin HCl merupakan obat antidiabetes golongan biguanida yang secara luas digunakan sebagai terapi lini pertama pada pasien diabetes melitus tipe 2. Meskipun memiliki kelarutan tinggi, metformin termasuk dalam  BCS kelas III karena permeabilitasnya yang rendah, yang membatasi bioavailabilitas oralnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai teknik modifikasi formulasi yang telah dikembangkan guna meningkatkan permeabilitas metformin HCl. Kajian dilakukan dengan metode telaah pustaka terhadap artikel-artikel ilmiah dari berbagai database terkemuka seperti Sciencedirect, MDPI, PubMed, dan Scopus. Berdasarkan hasil penelusuran, strategi peningkatan permeabilitas metformin mencakup penggunaan garam ionik, matriks lipid, permeation enhancer, nanopartikel, mikropartikel dan solid dispersion. Masing-masing metode menunjukkan mekanisme dan efektivitas yang berbeda dalam mengatasi keterbatasan permeabilitas metformin. Dengan demikian, pemilihan metode modifikasi formulasi yang tepat berpotensi meningkatkan efikasi terapi oral metformin secara signifikan.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Telang Biru (Clitoria ternatea L.) terhadap Escherichia coli P.H, Dian Pramana; Nur, Amran; Rajih, Muhammad Fakhrur; Fiskia, Ermalyanti
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8530

Abstract

Abstract. Infectious diseases are still the main cause of death in several developing countries, one of which is Indonesia. One of the bacteria that causes infections in humans is Escherichia coli . Butterfly pea flowers (Clitoria ternatea L.) contain various secondary metabolites including alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, steroids, and terpenoids. Flavonoids are secondary metabolites that have the potential as antibacterials. This study aims to determine the antibacterial power and optimal concentration of ethanol extract of blue butterfly pea leaves that can inhibit the growth of Escherichia coli  bacteria. The extraction method used was soxhletation with 70% ethanol solvent and antibacterial testing used the disc diffusion method with several variations in the concentration of blue butterfly pea leaf extract, namely 10%, 20%, 30%, 40%, and 50%.. Amoxicillin was used as a positive control while DMSO was used for the negative control. Antibacterial activity is indicated by the diameter of the inhibition zone which is then measured and grouped according to the categories very strong, strong, moderate, and weak. Research data on 70% ethanol extract of blue butterfly pea leaves has antibacterial activity against Escherichia coli  bacteria which is included in the weak category. The optimum concentration of ethanol extract of blue butterfly pea leaves that can inhibit Escherichia coli  bacteria is at a concentration of 50% with an inhibition zone diameter of 3.33 mm. Abstrak. Penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama kematian di sejumlah negara berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksi pada manusia adalah Escherichia coli. Bunga telang (Clitoria ternatea) mengandung berbagai metabolit sekunder termasuk alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid. Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui daya antibakteri serta konsentrasi optimal dari ekstrak etanol daun telang biru yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.. Metode ekstraksi yang digunakan secara soxhletasi dengan pelaur etanol 70% serta pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan beberapa variasi konsentrasi ekstrak daun telang biru yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Sebagai kontrol positif digunakan Amoxicillin sedangan untuk kontrol negatif digunakan DMSO. Aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan diameter zona hambat kemudian diukur dan dikelompokkan berdasarkan kategori sangat kuat, kuat, sedang, dan lemah. Data penelitian ekstrak etanol 70% daun telang biru memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli yang termasuk dalam kategori lemah. Konsentrasi optimum ekstrak etanol daun telang biru yang mampu menghambat bakteri Escherichia coli yaitu pada konsentrasi 50% dengan diameter zona hambat sebesar 3,33 mm.
Biji Kurma sebagai Sumber Fitokimia dan Antioksidan untuk Minuman Fungsional Bebas Kafein Ningrum, Karina Primatyas; Zulfaidah, Nanda Tsalasani; Jannah, Nadia Miftahul
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8567

Abstract

Abstract. Date seeds (Phoenix dactylifera L.) are abundant agro-industrial by-products that remain underutilized. Numerous studies have reported that date seeds contain phenolic and flavonoid compounds with notable antioxidant activity and are naturally caffeine-free, indicating their potential as functional beverage ingredients and coffee alternatives. However, systematic evidence summarizing the variability of bioactive composition, antioxidant capacity, and the influence of variety and processing methods remains limited and scattered across the literature. This study aimed to comprehensively evaluate the bioactive profile, antioxidant activity, and potential utilization of date seeds as a caffeine-free functional beverage through a systematic literature review. Literature searches were conducted following the PRISMA 2020 guidelines using PubMed, ScienceDirect, DOAJ, and Google Scholar, focusing on articles published between 2020 and 2025. The reviewed studies reported total phenolic contents ranging from 135 to 448 mg GAE and total flavonoid contents of 6.8–7.5 mg CE/g, with antioxidant activity classified as moderate to strong based on DPPH assays (IC₅₀: 28–49 µg/mL). Overall, the findings indicate that date seeds have potential for development as caffeine-free functional beverage ingredients; however, further standardized studies are required to support optimal product development. Abstrak. Biji kurma (Phoenix dactylifera L.) merupakan limbah agroindustri yang melimpah dan hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Berbagai studi melaporkan bahwa biji kurma mengandung senyawa fenolik dan flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang signifikan serta bersifat bebas kafein secara alami, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan minuman fungsional alternatif kopi. Namun, kajian ilmiah yang merangkum secara sistematis variasi kandungan bioaktif, aktivitas antioksidan, serta pengaruh varietas dan metode pengolahan biji kurma masih terbatas dan tersebar dalam berbagai publikasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif profil senyawa bioaktif, aktivitas antioksidan, dan potensi pemanfaatan biji kurma sebagai minuman fungsional bebas kafein melalui pendekatan systematic literature review. Penelusuran literatur dilakukan mengikuti pedoman PRISMA 2020 pada basis data PubMed, ScienceDirect, DOAJ, dan Google Scholar untuk artikel terbitan tahun 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa biji kurma memiliki kandungan total fenolik pada kisaran 135–448 mg GAE dan total flavonoid 6,8–7,5 mg CE/g, dengan aktivitas antioksidan kategori sedang hingga kuat berdasarkan uji DPPH (IC₅₀ 28–49 µg/mL). Secara keseluruhan, biji kurma berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku minuman fungsional bebas kafein, meskipun penelitian lanjutan yang terstandarisasi masih diperlukan untuk mendukung pengembangan produk secara optimal.
Analisis Determinan Ketidakpatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Wava Husada Malang Mardianto, Rudy; Ardyanto, Muhammad Reza; Misgiati
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8589

Abstract

Abstract. Non-adherence to anti-tuberculosis drugs (OAT) remains a major obstacle in controlling pulmonary tuberculosis, especially among patients of productive age. This study aimed to identify the determining factors influencing non-adherence to OAT among pulmonary TB patients at Wava Husada Hospital, Malang. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted involving 113 TB patients. The research instrument consisted of 48 Likert-scale items with high reliability (Cronbach’s Alpha = 0.905). Data were analyzed using Pearson correlation and Exploratory Factor Analysis (EFA). The results showed that seven of eight variables were significantly correlated with non-adherence (p < 0.05), with social support being the most dominant factor (r = –0.52; p = 0.003). EFA extracted five main factors explaining 48.18% of total variance: treatment perception, treatment complexity and accessibility, social and psychological support, healthcare system and communication, and socioeconomic conditions. TB patient non-adherence is multidimensional and requires integrated medical, educational, and social interventions to improve treatment outcomes. Abstrak. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) masih menjadi kendala utama dalam pengendalian tuberkulosis paru, terutama pada pasien usia produktif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhi ketidakpatuhan pasien TB paru di RS Wava Husada Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 113 pasien TB. Instrumen penelitian berupa 48 item skala Likert dengan reliabilitas tinggi (Cronbach’s Alpha = 0,905). Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dan Exploratory Factor Analysis (EFA). Hasil menunjukkan tujuh dari delapan variabel berhubungan signifikan dengan ketidakpatuhan (p < 0,05), dengan dukungan sosial sebagai faktor paling dominan (r = –0,52; p = 0,003). EFA menghasilkan lima faktor utama yang menjelaskan 48,18% total varian, meliputi persepsi pengobatan, kompleksitas dan aksesibilitas, dukungan sosial dan psikologis, sistem pelayanan dan komunikasi, serta kondisi sosioekonomi. Ketidakpatuhan pasien TB bersifat multidimensi dan memerlukan intervensi terpadu mencakup aspek medis, edukatif, dan sosial untuk meningkatkan keberhasilan terapi.
Uji Fisik Sediaan Serum Wajah Ekstrak Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) Febriani, Alik Kandhita; Rejeki, Desi Sri
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i2.8616

Abstract

Abstract. Skin problems have driven the development of safe and effective natural-based skincare products. Cogon grass roots (Imperata cylindrica L.) contain bioactive compounds such as flavonoids, saponins, and tannins, which exhibit antioxidant and antibacterial activities and show potential as cosmetic active ingredients. This study aimed to formulate and evaluate the physical characteristics of a facial serum containing cogon grass root extract. The extraction process was carried out using ethanol as the solvent, and the extract was formulated into three serum formulations with varying extract concentrations. Physical evaluations included organoleptic properties, homogeneity, pH, spreadability, and freeze–thaw stability tests. The results indicated that all formulations exhibited good organoleptic characteristics and satisfactory homogeneity. The pH of all serum formulations was 6, which falls within the safe range for facial skin. Spreadability test results for the three formulations were 5.4 cm, 5.2 cm, and 5.0 cm, respectively, meeting the standard requirements for serum preparations. Freeze–thaw stability testing over six cycles showed no significant changes in color, odor, or consistency. These findings support the potential use of cogon grass root extract as a cosmetic active ingredient and provide a scientific basis for the development of stable and safe facial serum products derived from local natural resources with potential application in the cosmetic industry. Abstrak. Permasalahan kulit mendorong pengembangan produk perawatan kulit berbahan alami yang aman dan efektif. Akar alang-alang (Imperata cylindrica L.) mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, saponin, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan aktif kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi serta mengevaluasi karakteristik fisik serum wajah berbasis ekstrak akar alang-alang. Ekstraksi menggunakan pelarut etanol, kemudian ekstrak diformulasikan ke dalam tiga formula serum dengan variasi konsentrasi. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, serta uji stabilitas freeze–thaw. Hasil pengujian menunjukkan seluruh formula memiliki karakteristik organoleptik yang baik dan homogen. Nilai pH seluruh sediaan berada pada angka 6, sesuai dengan rentang pH aman untuk kulit wajah. Uji daya sebar menunjukkan nilai berturut-turut 5,4 cm; 5,2 cm; dan 5,0 cm, yang memenuhi persyaratan daya sebar serum. Uji stabilitas freeze–thaw selama enam siklus menunjukkan tidak adanya perubahan warna, bau, maupun konsistensi. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan pemanfaatan bahan alam lokal sebagai bahan aktif kosmetik, serta menjadi dasar formulasi produk serum wajah berbasis akar alang-alang yang stabil, aman, dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut pada skala industri kosmetik

Page 11 of 11 | Total Record : 110