Articles
257 Documents
Pasca-humanisme, Puisi, dan Chat-GPT
Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.187
Ada keyakinan bahwa manusia berada unggul di atas alam, ia penakluk dunia. Tapi kemudian datang pemikiran baru bahwa humanisme yang mengunggulkan manusia itu digugat. Mulai diragukan asumsi manusia sebagai pusat dan sumber sejarah. Manusia itu hasil bentukan wacana yang belum lama umurnya, dan mungkin tak lama lagi bisa berakhir. Namun Transhumanisme merayakan prestasi pengukuhan manusia, dan kemampuan memperkuat dirinya dengan menggunakan teknologi tinggi— sebuah ide yang tersirat dalam imajinasi dan eksperimen cyborg. Dengan bersemangat “para transhumanis” ingin meningggalkan tubuh mereka untuk mereproduksi “manusia” sebagai produk teknologi tinggi.
Kierkegaard – Komunikasi Langsung dan Komunikasi Tidak Langsung
Darmo Suwito
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.188
Tulisan ini dimaksudkan untuk memahami strategi komunikasi Kierkegaard yang memilih menggunakan strategi komunikasi tidak langsung dalam karya-karyanya yang sekular. Apakah ia sekedar menyembunyikan identitas dirinya supaya dia bukan siapa siapa, atau ia memiliki kerangka pemikiran refleksi filsafat yang ingin disampaikan kepada pembacanya? Baginya, strategi komunikasi tidak langsung mempunyai makna dan tujuan yang penting untuk mengutarakan metode Sokrates, yaitu maieutike. Kierkegaard percaya, lewat metode ini, pembaca diajak untuk menjadi mandiri dan “tanpa pengaruh” penulis untuk menemukan kebenaran bagi dirinya. Namun metode ini memiliki keunggulan dan kelemahannya. Tidak ada jaminan bahwa metode ini akan sepenuhnya berhasil.
Prinsip Cedera dalam Hubungan Kebebasan dan Otoritas Menurut John Stuart Mill
Oktavianus M. Yuda Pramana
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.189
Tulisan ini menelaah dinamika tegangan antara kebebasan dan otoritas dalam kehidupan politik. Menemukan prinsip untuk menganalisis tegangan antara keduanya sehingga kehidupan politik tidak jatuh dalam salah satu kutub atau ekstrem. Dalam On Liberty (2003 [1859]), Mill menyatakan perjalanan sejarah manusia dicirikan oleh pertarungan antara kebebasan (liberty) dan otoritas (authority). Dalam pertarungan itu, Mill menaruh perhatian pada kebebasan yang selalu berada dalam tegangan berhadapan dengan otoritas. Mill menyoroti batas yang tepat bagi pelaksanaan otoritas, sebab otoritas yang melampaui batas menjadi ancaman bagi kebebasan. Untuk menganalisis tegangan antara kebebasan dan otoritas, Mill mengajukan prinsip cedera (harm principle). Prinsip ini menegaskan bahwa satu-satunya tujuan pembatasan kebebasan adalah untuk mencegah cedera pada orang lain.
Alam Semesta Sebagai Tubuh Allah (Telaah Atas Pemikiran Eko-Teolog Sallie McFague)
Yosef Fandri Narong
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.190
Krisis ekologis saat ini dan perubahan bio-geologi yang menyertainya menuntut tanggapan yang mendesak dan komprehensif dari komunitas bumi. Kita membutuhkan sebuah paradigma baru, yakni sebuah paradigma teologi dalam kaitannya dengan kisah alam semesta (kosmologi). Paradigma ini, kita temukan dalam pemikir Kristen, Sallie McFague. Dalam The Body of God (1993), McFague menghadirkan model alam semesta sebagai tubuh Allah. Ia mengkritik hubungan Allah-dunia yang antroposentris, hierarkis dan dualistik. Sallie McFague berupaya untuk menemukan ciri sakral alam semesta dengan membangun model tentang alam semesta sebagai tubuh Allah. Melalui model ini, manusia dapat menghargai alam dan memberi kesadaran akan kesatuan manusia dengan ciptaan lain, serta memberdayakan kita untuk hidup dalam jaring kehidupan sebagai pemelihara daripada perusak.
Batik di Jawa
Anna Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.191
Teknologi Batik telah ditemukan di China pada abad ke 7 dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Batik mulai dipoduksi secara massal di zaman Majapahit dan terus berkembang menjadi industri dan motif-motifnya menjadi penanda hirarkhi kekuasaan kerajaan di Yogyakarta dan Surakarta. Namun di pesisir Utara dikembangkan motif Batik alternatif dari pola yang mainstream di pedalaman Jawa, pola seperti itu dilarang dipakai di Keraton. Pengaruh kebudayaan Cina dan Arab ikut mewarnai motif Batik yang ada di Jawa Tengah.
Dialektika Deradikalisasi Quranik Sebuah Tawaran Interpretasi dan Soft Approach Sufisme Perspektif Nasaruddin Umar
Muhamad Al-Muizul Kahfi;
Hisbulloh Huda
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.192
Fokus penelitian ini berupaya untuk membangun argumen deradikalisasi quranik perspektif Nasaruddin Umar. Bahwa deradikalisasi quranik berkaitan erat dengan semangat Islam sebagai agama yang rahmatan lil âlamîn dan juga obsesi untuk mengembalikan manusia sebagaimana fitrah menjadi manusia seutuhnya. Kemudian metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (Library research). Penelitian ini menemukan tahapan pendekatan paradigma dan juga berijtihad mencari instrumentalisasi pesan quranik. Setidaknya ada 2 (dua) instrumen pesan quranik yang hendak ditawarkan: 1). Membongkar paradigma penafsiran yang selalu menjadi andalan para terorisme ihwal ayat jihâd, qitâl, dan kâfir 2). Serta memberikan solusi ajaran tasawuf bersifat (soft approach) sebagai proses deradikalisasi.
Permasalahan Filosofi Seni diantara Keindahan dan Estetika
Tri Aru Wiratno
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.193
Perkembangan jaman menjadi permasalahan keberadaan filsafat seni, di antara keindahan dan estetika. Karena keindahan telah kehilangan makna dalam kesatuan kehidupan yang melingkupi alam semesta, yaitu keindahan sublime, keindahan dari Sang Pencipta langit dan bumi berserta isinya. Mengalami reduksi keindahan sebagai sebuah dialektika yang sublime tampak makna. Menurut Plato, keindahan itu ide, dan menurut Hegel, seni itu roh mutlak, yang semuanya mengidentifikasikannya pada pencipta keindahan seni, yakni Tuhan. Sedangkan estetika bagi Alexander Gottlieb Baumgarten, sebagai pengetahuan yang secara formal melingkupi pembahasan pada seni serta keindahan. Estetika mempunyai perbedaan dalam cara padang dan pemahaman dari segi makna dan nilai yang representasi seni. Hasil analisa keindahan bukan hanya sebatas sebuah karya seni tetapi keindahan yang meliputi alam semesta. Sedangkan estetika sebagai instrumen karya seni, merupakan pengetahuan seni, yang dibatasi formalisme seniman.
Pirous
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.194
Lukisan A. D. Pirous mempunyai periodisasi. Periode awal, yaitu karya-karya lukisnya antara tahun 1960 sampai 1969, adalah periode kubistis. Karya-karya Pirous dengan kaligrafi, baru muncul di tahun 1970an ke atas. Periode lain yang cemerlang adalah karya-karya periode Perang Sabil, yang dibuatnya di sekitar tahun 1998-2000. Memasuki tahun 1970an karya Pirous sepenuhnya masuk ke dunia abstrak. Kaligrafi Islam merupakan pembeda abstrak Pirous dengan abstrak ekspresionisme Amerika pada umumnya. Abstrak ekspresionisme didasarkan pada pemikiran atas keunggulan manusia yang berkuasa dalam menafsirkan karya-karyanya sendiri. Sementara abstrak Pirous adalah abstrak yang menyandarkan diri pada Tuhan, dengan menyitir ayat-ayat yang ada dalam Al Quran, dan Hadits.
Diet Sebagai Keseimbangan Hidup
Yohanes Theo
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.195
Diet menyeimbangkan kualitas-kualitas yang ada dalam tubuh seseorang. Dalam tradisi dietik, prinsip ini diimplementasikan dalam konsep yang lebih spesifik, yakni dalam gagasan campuran. Kita dapat melihat bahwa sebagain besar resep diet itu terdiri dari sesuatu yang mendinginkan, menghangatkan, melembabkan dan mengeringkan tubuh sesuai dengan kebutuhan tubuh saat itu. Teks-teks Hippokrates secara eksplisit memahami nilai preventif dari diet dan membuktikan dapat dilakukan oleh orang biasa. Galen mengatakan bahwa siapapun yang mampu memelihara kesehatannya (συμμετρία), yakni memelihara elemen-elemen penyusun tubuhnya (warm, cold, moist and dry) akan menjadi ‘a good preserver of health’.
Pemikiran Jacques Rancière untuk Seni Emansipatif Indonesia
Hendro Wiyanto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.196
Menurut Ranciere, estetika terkait dengan rezim-rezim pemikiran. Karya seni tidak bisa dilepaskan dari ranah pemikiran. Estetika yang meniscayakan relasi antara estetika dan politik disebutnya sebagai estetika primer. Dalam rezim estetik yang berlangsung selama dua abad belakangan ini, seni telah mengalami perkembangan luar biasa dalam hal wacana, praktik maupun pemahaman perihal seni itu sendiri. Bagi Renciere, bukan otonomi seni yang membebaskannya dari norma dan hierarkhi, melainkan kondisi kesetaraan yang memungkinkan seni menjadi otonom, dan karena itu seni menjadi politis. Otonomi estetik pada seni bukan berarti tanpa makna politis. Sebaliknya otonomi memperoleh maknanya melalui relasinya dengan heteronomi yang membayangkan harapan akan perubahan kehidupan. Estetika kesetaraan memungkinkan kita melihat adanya relasi setara antara seni dan kehidupan. Paper ini memberikan ilustrasi karya-karya yang memiliki otonomi sekaligus menunjukkan gejala heteronomi, seperti pada karya-karya Kazimir Malevich, Tisna Sanjaya, Djokopekik, dan FX Harsono.