Articles
257 Documents
Nishida Kitaro’s Expressive Activity in Katana Sword Making as a Way to Achieve Pure Experience
Mardohar Batu Bornok Simanjuntak
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.197
Western craft and craftmanship have long been taken as complementary or even supplementary – in contrast with high art and artistic explorations. This pejorative approach is quite common from western industrial perspective. An artisan’s work is then taken less seriously than an artist’s oeuvre d’art. Contrary to this, Asian countries have long recognised the mastery of these master craftsmen and gave no different treatment to artists and artisans. This paper examines the concept of expressive activity from Japanese philosopher Nishida Kitaro in his essay “Expressive Activity” written in 1925. In this Nishida proposes that the fulfilment of a state of mind that he called pure experience can only be achieved through an action that is independent from external urges. The author then pursued this line of thought by taking Nishida’s idea to see how this kind of acting – as Nishida addresses it – is present in the ancient craft of katana (Japanese Sword) making performed by veteran swordsmiths. By analysing Nishida’s texts including An Inquiry into the Good and Ontology of Production, the author explains that the old wisdom of “giving life to the steel” can be justified by taking Nishida’s pure experience as the telos of an artisan’s expressive activity.
Siapa Zarathustra dalam Filsafat Nietzsche?
Yohanes Mega Hendarto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.198
Dalam buku Demikian Zarathustra Bersabda, Nietzsche menampilkan satu tokoh yang banyak ditafsirkan oleh para pembaca sebagai seorang nabi. Para penafsir dan komentator teks Nietzsche mengatakan bahwa Nietzsche terinspirasi dari seorang nabi zaman dahulu, tapi ada pula yang menuliskan bahwa Zarathustra tidak lain ialah Nietzsche itu sendiri. Penulis akan membahas mengenai tokoh Zarathustra menurut tradisi sejarah dan kebudayaan Persia. Lalu dilanjutkan dengan latar belakang Nietzsche hingga akhirnya terinspirasi dari kebudayaan tersebut dan memilih menggunakan Zarathustra dalam karyanya. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan memasukkan beberapa penafsiran dari Martin Heidegger, Peter Levine, Gilles Delluze, dan Mazzino Montinari mengenai tokoh Zarathustra yang dimaksud Nietzsche. Di bagian akhir, penulis memberikan pertimbangan tafsiran kepada pembaca teks Nietzsche bahwa Zarathustra adalah bahasa atau selubung yang digunakan Nietzsche untuk menyampaikan gagasannya mengenai Kekembalian yang Sama Secara Abadi dan Manusia yang Melampaui (Übermench).
Keadilan dalam Pandangan Dekonstruksi
Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.199
Artikel ini akan menunjukkan cara memahami keadilan dari sudut pandang dekonstruksi. Sumber utamanya adalah makalah Derrida berjudul Force of Law: The “Mystical Foundation of Authority” (1989). Pada makalah itu, Derrida tidak menjelaskan tentang ketiadaan dari keadilan atau ketidakadilan hukum, tapi menunjukkan perbedaan antara keadilan dan hukum. Oleh karenanya, keadilan merupakan sebuah kemustahilan untuk dikalkulasi dalam cara apapun, tapi di satu sisi keadilan bisa menjadi sebuah kemungkinan di dalam hukum. Untuk itu, artikel ini ditulis bukan hanya untuk mereka yang mempelajari filsafat secara formal maupun informal, tapi juga untuk pembelajar maupun praktisi di bidang hukum.
Salam Redaksi Vol. 10.1
Syakieb Sungkar
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.207
Mengungkapkan intisari dari jurnal volume 10 nomor 01 tahun 2024.
Pentingnya Pendidikan Sebagai Edifikasi dalam Sistem Demokrasi Indonesia
Engelbertus Viktor Daki
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.208
Tujuan penulisan ini adalah mengurai persoalan demokrasi Indonesia dan menawarkan konsep pendidikan sebagai edifikasi dari Richard Rorty sebagai salah satu jalan untuk mewujudkan masyarakat demokrasi yang terbuka, penuh hormat, dan tidak kejam. Metode utama dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan studi kasus. Penelitian ini bersumber dari telaah penulis atas persoalan demokrasi di Indonesia, pendidikan, dan pembahasan mengenai pendidikan menurut Rorty dalam artikel Khosrow Bagheri Noaparast “Richard Rorty’s Conception of Education of Philosophy of Education Revisited,” dan Patricia Rohrer. "Self-Creation or Choosing the Self: A Critique of Richard Rorty’s Idea of Democratic Education". Penelitian ini menemukan bahwa dalam penerapan sistem demokrasi modern di negara yang plural dan multikultural seperti Indonesia, pendidikan sebagai edifikasi yang bertujuan memperluas kosa kata dan mewujudkan manusia ironis, tidak kejam (less cruelty) amatlah penting agar tercipta kehidupan demokrasi sehat. Demokrasi yang terbuka, penuh penghormatan terhadap sesama, kritis, dan terbuka memungkinkan perbedaan menjadi sumber kekayaan dan bukan perpecahan. Edifikasi adalah salah satu jalan menuju demokrasi yang sehat.
Khôra: Kata yang Melampaui Namanya
Gerardus Evam Dwibala
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.209
Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan pembacaan Jacques Derrida terhadap Kata Khôra dalam karya Platon di Timaeus dan keterkaitannya dengan konsep différance. Tulisan Derrida yang berjudul Khôra dalam buku On The Name menjadi rujukan utama. Dalam Karya tersebut Derrida menunjukkan pembacaan ber-genre dekonstruksi dengan menunjukkan pemaknaan unik terhadap Khôra. Dalam bacaan Derrida, Khôra merupakan sebuah kata yang melampaui namanya. Khôra tidak dimaknai secara harafiah maupun metafora, melainkan ia ada untuk menunjukkan ketidakstabilan makna dalam teks. John D Caputo dalam bacaannya terhadap Derrida memperlihatkan bahwa kisah mengenai Khôra seperti sebuah alegori untuk ‘différance’, keduanya membahas mengenai namelessness; sesuatu yang memang tidak dapat diartikan. Dengan demikian, dalam bacaan Derrida, Khôra dengan segala keistimewaannya menunjukkan sebuah kata yang melampaui namanya.
Keadilan Menurut Axel Honneth
Helena E Rea
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.210
Tulisan ini ingin menunjukkan pandangan Axel Honneth tentang keadilan. Berbasis pada teori pengakuan dan kebebasan sosial, Honneth mendorong manusia mencapai moral etis dan nilai keadilan. Hidup bersama yang harmonis mensyaratkan terpenuhinya tiga unsur dalam teori pengakuan, yakni cinta, hukum, dan solidaritas. Masyarakat berhak membatasi kebebasan seseorang, sejauh tujuannya adalah menjamin hak-hak anggota masyarakat lainnya dan demi kepentingan dan kemajuan bersama. Sayangnya, institusi etis masih dipandang sebagai ‘penjara’ bagi individu terkait dengan kebebasan. Berbasis pada norma etis dan kebebasan sosial, suatu masyarakat dapat mencapai kondisi keadilan sosial. Masing-masing individu yang berada dalam komunitas etis menyadari motif unik dan intensi dalam mengakomodasi peran dan obligasi sosialnya.
Manusia-tindakan sebagai Manusia Politik: Sebuah Autentisitas dari Teori Politik Hannah Arendt
Jacqueline Tuwanakotta
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.211
Dalam bukunya “The Human Condition,” Hannah Arendt menulis tentang tiga aktivitas mendasar yang menjadi prasyarat manusia di bumi. Prasyarat tersebut adalah kerja, karya, dan tindakan. Prasyarat ini dikenal juga dengan istilah vita activa. Dunia yang difungsikan vita activa tidak hanya terdiri dari benda-benda yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, tetapi juga benda-benda yang menampakkan keberadaannya kepada manusia lain yang pada gilirannya mencerminkan pencipta umat manusia itu sendiri. Sejak lahir manusia mempunyai kapasitas dalam dirinya yang diasah, dikembangkan, dan diaktualisasikan melalui tindakan. Melalui tindakan dan perkataannya, manusia mengambil sikap politik di ruang publik untuk mewujudkan keunikan eksistensinya.
Filsafat Melalui Kultur Pop I - Übermensch dan Sublimasi dari Nietzsche dalam Serial "The Umbrella Academy"
Richard Handris P
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.212
Membaca dan mencoba untuk menafsirkan Nietzsche bukanlah sebuah perkara yang mudah, terutama untuk masyarakat awam. Penulis akan memberikan penafsiran terhadap Übermensch (Superman/Overman/Adi Manusia/Manusia yang Melampaui) menggunakan medium kultur pop sebagai bahan refleksi filosofis. Kultur pop yang dipilih adalah sebuah serial yang cukup populer melalui media streaming Netflix berjudul The Umbrella Academy. Tulisan ini hendak melihat apa yang dimaksud Nietzsche mengenai Übermensch dan sublimasi dengan menggunakan The Umbrella Academy sebagai medium filosofis. Tulisan ini akan dimulai dengan pendahuluan singkat mengenai film sebagai filsafat dan sinopsis The Umbrella Academy. Dilanjutkan dengan pengertian Übermensch dan sublimasi dalam The Umbrella Academy. Ditutup dengan sebuah kesimpulan reflektif.
Perbandingan Konsep Kesucian dalam Kristen dan Hindu: Analisis Filosofis dan Teologis
Timotius
Dekonstruksi Vol. 10 No. 01 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i01.213
Studi ini melihat konsep kesucian dalam agama Hindu dan Kristen dari perspektif teologi perbandingan. Sebagai dua agama yang berbeda, Hinduisme dan Kekristenan memiliki perspektif dan praktik yang berbeda tentang kesucian dalam hal ibadah dan kehidupan spiritual. Studi ini akan menganalisis aspek teologis dari kesucian dalam kedua agama ini, dengan penekanan pada kitab suci dan teks penting, serta praktik keagamaan yang terkait. Studi ini akan menemukan persamaan dan perbedaan dalam konsep kesucian antara Hindu dan kristen dengan menggunakan teknik analisis teologis perbandingan. Fokus utama penelitian ini adalah: apa arti kesucian dalam ajaran Hindu dan bagaimana para pemeluknya menginterpretasikan dan menerapkannya? Bagaimana keyakinan Kristen tentang kesucian dan praktiknya berdampak pada kehidupan rohani umat Kristen? Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan dan persamaan teologis antara Hindu dan Kristen, serta bagaimana konsep kesucian berdampak pada kehidupan dan praktik keagamaan masing-masing orang.